[Lay Birthday Project]

95

Rain – Neen
Cast : Zhang Yixing x Jung Yuji (OC)
Genre : Romance
Rating : General

Zhang Yixing.
Lelaki menyebalkan. Lelaki yang suka menari. Menyukai hujan. Lelaki yang suka menari di tengah hujan. Kadang dibawah shower. Sungguh, Yuji tidak mengerti.
Bukan sekali dua kali Yuji mengingatkan. Dari mereka kecil, selalu begitu. Yuji yang cerewet dan Yixing yang tidak mau mendengar.
Yixing tidak akan jatuh sakit hanya dengan menari dibawah shower atau gerimis. Tapi ia demam tinggi hari ini karena hujan deras kemarin.

“Aku bosan menunggu bus yang terlambat datang, hujan deras dan aku tergoda. Lalu, aku harus diam saja?’

Demi Tuhan, Zhang Yixing. Berhentilah terobsesi dengan hujan. Tubuhmu perlu diperhatikan.

Yuji kini tengah mengacaukan dapur Yixing, memasak bubur. Lelaki itu tidak keluar kamar sejak semalam, kamarnya berantakan seperti biasanya ketika Yuji memeriksa.

“Yixing, bangun. Cepat makan buburmu, kuhitung sampai tiga jika tidak bangun kupukul kau” Yuji berseru setelah meletakkan mangkuk bubur di nakas.
“Satu” Yuji menyibak korden di kamar Yixing.
“Dua” kini ia nenunduk memungut satu persatu tisu bekas ingus yang berceceran di lantai.
“Tiga” Yuji berseru agak keras setelahnya. Menyibak selimut tebal yang membungkus tubuh lelaki itu.
Yixing tak bergerak sama sekali. Tubuhnya diam, nafasnya terburu. Detik selanjutnya, ia mengingau, tubuhnya menggeliat, menunjukkan kaus bagian belakangnya yang sudah basah oleh keringat. Yuji mendekat, telapaknya menyentuh kening Yixing. Ia hampir terlonjak setelahnya. Oh, Zhang Yixing kau pasti menyesal kali ini.

“Bagaimana dok?” Yuji bertanya.
Dokter Lee tersenyum sambil merapikan peralatannya. “Dia hanya kelelahan. Terlalu banyak menari? Itu bisa termasuk. Kurang tidur dan saat hujan kemarin tubuhnya sedang tidak fit. Istirahat dua tiga hari dan minum obat serta vitamin yang saya berikan”

Yuji sedikit lega mendengarnya. Ia melirik Yixing sekilas, nyaris mengumpat sebelum dokter Lee ijin pamit.
Yuji kembali ke kamar setelah mengantar dokter Lee sampai di pintu depan. Kali ini ia disuguhkan pemandangan yang membuatnya ingin memukul kepala lelaki di hadapannya.
Yixing tengah bersandar, menyendok banyak-banyak bubur buatan sahabatnya. “Lalu dokter bilang apa?”
Yuji mendekat, duduk di pinggir ranjang tempat lelaki menyebalkan itu menatapnya dengan wajah polos tanpa rasa bersalah.
Yuji menghela nafas, menatap lelakinya yang tidak jauh beda tingkahnya seperti 20 tahun yang lalu. Makan belepotan disana sini. Ia meraih tisu, membersihkan mulut Yixing yang penuh bubur dan membuangnya.
“Besok-besok, cium sajalah. Aku tidak suka tisu, kasar” keluh Yixing.
“Jangan hujan-hujanan lagi, kau bukan anak kecil, Yixing” balas Yuji.
“Aku akan istirahat Yuji, diam saja. Kau berisik. Serius” Yixing meletakkan mangkuknya di nakas. “Aku mau tidur” lanjutnya. Ia menarik selimut sampai bahunya, membelakangi Yuji.
“Habiskan dulu—”
“—aku kenyang” sela Yixing.
“Aku sudah susah payah—”
“—besok besok tidak usah buat. Aku tidak memintamu untuk membuatkannya juga. Tambahan, buburmu tidak enak” ujar Yixing.
Yuji menghela nafas, Yixing selalu begini setiap kelelahan, marah marah tidak jelas, bicara seenaknya setiap sakit.
“Pulang saja Yuji, aku tidak membutuhkanmu jika kau hanya mengomel”
Yang ini menyakitkan. Tidak tahu kenapa, Yuji sakit hati.
“—aku tidak membutuhkanmu—”
Yixing selalu jujur setiap marah, setiap sakit, setiap kelelahan. Astaga, tapi ini—
Yuji beranjak, meraih mangkuk sisa bubur, menatap punggung Yixing sekilas, lalu keluar.

“Ya Tuhan!” Yuji mundur selangkah setelah melihat lelaki apartemen sebelah masuk tanpa permisi—walau selalu begitu—ke kamarnya.
“Lama sekali, sudah kuhabiskan. Kau buat lagi saja ya?” Yixing menunjuk ke arah panci yang tadinya berisi sup ayam gingseng. Sekarang tak ada sisa.
Yuji mengangguk, merapikan meja kecil tempatnya biasa makan di kamar. Yang tadinya penuh berisi makanan, sekarang bersih tak ada jejak. Tapi pelakunya tengah tersenyum kekanakan disampingnya.
“Disini saja, sedang hujan.” Yixing meraih lengan Yuji.
Si gadis menoleh, “Dapurku bukan diseberang sana, jangan konyol.” Yuji melepaskan tangan Yixing dan dagunya menunjuk ke gedung seberang.
“Ini hujan, bagaimana jika aku hujan hujanan dari sini, lalu sakit lagi? Kau mau merawatku?” Cecar Yixing.
Yuji terpaksa menurut walaupun hal itu tak masuk akal. Mereka duduk di ranjang Yuji, disamping jendela kecil, disekitarnya dipenuhi foto foto mereka berdua.
“Sebegitunya suka padaku?” Yixing mengelus punggung tangan Yuji dengan ibu jarinya. Pandangannya diedarkan ke foto foto tersebut.
“Pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban, kau tahu itu.” Jawab Yuji sekenanya.
“Kau datang bulan, ya? Sensitif sekali hari ini.” Gumam lelaki itu. Kini tangannya membuka jendela perlahan. Membiarkan hawa dingin menyapa mereka berdua.
“Yah, mungkin iya, mungkin tidak.”
Yixing mengecup punggung tangan Yuji, “Aku keterlaluan, maafkan aku. Sungguh, harusnya aku tak berkata seperti itu ketika kau sedang sensitif—”
“—dan kau akan tetap mentakannya di lain waktu.” Sela Yuji.
“Kau tahu aku, Yuji.”
“Untuk beberapa saat saja, aku benar benar ingin jadi orang asing yang baru bertemu denganmu.”
“Yuji—”
“Aku tidak apa apa jika kau memuntahkan, menghina, membuang makanan buatanku. Lalu, kau bilang tidak membutuhkanku? Yixing, aku melakukannya karena aku peduli, aku teman kecilmu, aku sahabat—”
Yuji termenung, Yixing mengecup bibirnya.
“Kau lebih dari itu Yuji. Kau tahu itu.” Ujar Yixing.
Yuji membuang muka, “Aku tidak tahu.”
“Maafkan aku, sungguh, aku pusing sekali tadi. Lebih dari tadi, aku ingin membentakmu Yuji. Jika terjadi? Kau menangis lagi.” Jelas Yixing.
Yuji diam saja. Matanya terfokus pada kelap kelip lampu perkotaan, ditambah guyuran hujan.
“Yuji, maafkan aku” pinta Yixing. Lengannya melingkar di perut Yuji.
“Yuji-ya”
“Aku tidak akan hujan hujanan lagi.” Ujar Yixing.
Yuji tak menoleh.
“Aku janji” kini suaranya nyaring seperti anak kecil.
“Aku tidak akan bilang begitu lagi, jika kau tidak bawel. Ah jangan, bawel saja, aku cinta” jelas Yixing.
“Ya Yuji-ya?” Yixing nyaris kesal, baru kali ini gadisnya marah selama ini.
“Oh diamlah, aku akan memukulmu, Yixing.”
Yixing memeluk Yuji, “Aku mencintaimu, jangan mengeluh”
“Yixing” panggil Yuji.
“Hm?” Gumam lelakinya.
“Selamat ulang tahun. Aku mencintaimu.”

Ulang tahun paling hangat karena Yixing demam tinggi. Ulang tahun paling dingin karena seharian hujan. Dan ulang tahun Yixing ke 25 bersama Yuji, sahabat kecil yang merangkap jadi kekasihnya.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s