[LAY BIRTHDAY PROJECT] Zhang Yixing

myhome

 

[LAY BIRTHDAY PROJECT] Zhang Yixing – kim hyomi
Zhang Yixing | Zhang Liyin (OC)
Family | PG-17


Aku bisa apa selain duduk dengan tangan memeluk lututku sendiri? Aku kedinginan tapi tak ada yang bisa membuatku hangat, bahkan pelukanku sendiri.

Hujan dan seluruh tubuhku basah. Aku menggigil. Gemeletuknya bahkan lebih keras dari runtuhan air dari atas sana. Tidak ada yang melindungiku.

“Hei.”

Kurasakan ada yang menaungiku. Sepasang sepatu terlihat mataku. Kepalaku mendongak, seorang wanita. Berdiri tepat di hadapanku dengan sebuah payung yang dia condongkan ke arahku. Dapat kulihat sebagian tubuhnya basah karena tak terlindungi. Wajahnya tak terlihat karena dia membelakangi pencahayaan.

“Kau kedinginan?” teriaknya diantara hujan. Aku diam tak menjawab. Membiarkan dia berjongkok di depanku, membuatku melihat wajah itu. Cantik, dengan senyum lembut yang membuatku menghangat.

“Ayo ikut berteduh bersamaku!” Sekali lagi dia berteriak.
Aku masih diam. Dia masih terus tersenyum dengan sabar. Tidak peduli pakaiannya yang sudah basah juga tubuhnya yang gemetar kedinginan. Aku melihat itu tapi aku masih diam.

“Dingin, ayo!”

Ketika bibirku masih saja tak mau mengeluarkan suara, dia menarik tanganku. Memaksaku berdiri mendekat padanya. Senyumnya semakin lebar ketika sebelah lengannya melingkar di pinggangku, seakan buta akan tubuhku yang kuyup.

“Mendekatlah nanti basah.” Nyatanya tidak ada bagian tubuhku yang kering. Justru dia membuat tubuhnya semakin basah.

Dia melangkah, membuatku mau tak mau ikut melangkah. Pelan namun lebar. Entah kenapa aku merasa dia tahu jika aku tak punya cukup tenaga untuk berlari, atau berjalan lebih cepat daripada ini.

“Namaku Zhang Liyin.”

Aku menoleh, dia masih menatap lurus ke depan. Aku menimbang, haruskah ku beritahu namaku?

“Aku bekerja di dekat sini. Baru saja aku pulang.” Kembali dia bicara ketika aku masih berpikir. Aku bisa melihat dia tersenyum. Nampak begitu cantik.

“Aku lelah sekali. Hari ini aku lembur. Banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan.” Dahiku berkerut. Untuk apa dia menceritakan itu padaku? Kita bahkan tak saling kenal. Namun sepertinya dia tidak peduli. “Oh, kita sudah sampai.”

Kami berhenti. Tepat di depan sebuah rumah sederhana. Dia menarikku masuk. Hujan sudah sedikit reda namun masih cukup membuat kami basah. Aku memperhatikan rumah itu. Sederhana namun nyaman, itu kesan pertama yang aku dapat. Atau mungkin karena aku merasa familiar dengan rumah ini.

Dia meletakan payungnya di tempat yang tersedia. Tangannya beralih menggenggam sebelah tanganku. Dia membawaku masuk semakin dalam. Tetes air membasahi lantai. Dia melepas tangannya hanya untuk berlari ke dalam dan mengambil selembar handuk.

“Kamar mandi di sebelah sana. Mandilah!”

Mataku menatap selembar handuk yang dia ulurkan padaku. Otakku berpikir, apa ini benar. Tapi dia berdecak, menyampirkan handuk itu di leherku lalu mendorongku masuk ke kamar mandi.

“Mandilah cepat, kau bisa sakit jika terlalu lama basah karena hujan.” Tersenyum dengan amat manis sebelum menutup pintu kamar mandi. Aku terdiam. Menatap kosong pada pintu yang tertutup sempurna.

.

Aku mencium aroma sedap ketika keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuh bagian bawahku. Rasa malu menyergapku. Bajuku basah jadi aku tak bisa memakainya. Dan sekarang hanya selembar handuk yang kupakai. “Pakai ini. Kurasa cocok untukmu.”

Sebuah kaos juga celana training, lengkap dengan celana dalam. Wajahku merona tapi dia sepertinya biasa saja.

“Cepat nanti kau masuk angin.”
Kembali dia mendorongku masuk ke kamar mandi. Aku mengerjap dan segera memakai pakaianku. Setelah itu aku keluar. Mendapati dia sedang menata sesuatu di meja makan.

“Yixing kemarilah, aku menyiapkan sup rumput laut.”

Tunggu! Kenapa dia memanggilku dengan Yixing? Apa dia salah sebut? Kenapa caranya memanggilku seakan kami sudah bersama terlalu lama?

“Hei melamun lagi.” Tanganku ditarik. Dia membuatku duduk di kursi meja makan.

“Makan yang banyak dan biarkan aku mengganti pakaianku. Sedikit dingin ternyata.”

Aku terpaku. Dia mengusap kepalaku sebelum berlalu ke sebuah pintu lain di rumah itu. Sepertinya kamarnya. Tak berapa lama dia keluar membawa sebuah handuk dan beberapa lembar baju dan berakhir di kamar mandi. Aku terus bertanya pada otakku, apa aku mengenalnya? Sepertinya tidak. Aku bahkan baru pertama bertemu dengannya. Atau mungkin, kami memang saling mengenal? Entahlah kepalaku pening ketika memikirkan ini.

Terlalu lama berkutat dengan pikiranku, aku melupakan semangkuk sup di hadapanku. Aku meneguk ludah. Perutku berontak. Sup rumput laut, entah kenapa aku begitu bahagia melihatnya.
Sedetik kemudian aku meraih sendok dengan tangan gemetar. Menyendok kuah sup perlahan lalu mengarahkannya ke mulutku. Kuah hangat itu masuk dalam mulutku. Aku melebarkan mataku, tersentak akan sensasi rasa yang diterima lidahku.

Familiar!

Tanganku semakin gemetar. Menyendok lagi, lagi dan lagi. Ada rindu yang tak bisa dijelaskan disetiap suapanku. Ada sesak yang memenuhi dadaku. Ada bulir bening yang secara paksa melesak melewati pelupuk mataku.

Ada apa ini?

Rasa apa ini?

“Kau sudah selesai? Apa enak?”

Aku menoleh. Senyum itu. Aku merasa semakin sesak. Air mata semakin deras mengalir. Dia menampakan keterkejutannya sekilas lalu kembali tenang. Jemarinya dengan lembut mengusap pipiku yang basah.

“Apa tidak enak?” Refleks kepalaku menggeleng, entah kenapa. “Kalau begitu, apa kau masih lapar Yixing-ah?”

Kenapa? Kenapa aku justru semakin ingin menangis? Kenapa kalimat itu membuatku semakin sesak? Kenapa aku berdiri dan medekap wanita itu? Kenapa aku seakan merasa benar akan tindakanku? Kenapa? Kenapa?

“Aigoo, kau lapar sekali eoh? Baiklah, kita masih punya banyak sup untuk dimakan.”

Dia melepas pelukanku perlahan. Kembali dia membuatku duduk di kursiku. Sekali lagi mengusap pipiku dan juga kepalaku. “Lain kali, jangan melewatkan makanmu Yixing-ah.”

Deg!

Jantungku bertalu. Menggila. Sesak. Sakit.

Bibirku terbuka lalu menutup. Aku berusaha untuk mengeluarkan suaraku, tapi sulit. Tapi aku ingin mengatakan sesuatu.

“Jangan main hujan seperti tadi. Nanti kau sakit.”

Ada apa? Kenapa aku seakan terbiasa dengan kalimat itu?

“Jangan membuatku khawatir.”

“Noo-na.” Aku terkejut dengan suaraku sendiri, sama seperti dia. Dengan cepat dia berbalik. Ketenangan di matanya hilang entah kemana. Aku merasakan emosinya berlomba untuk keluar, seperti bulir bening di sudut matanya.

“Ap-apa yang … coba ulangi.”

“Noo-na.” Terbata namun sesakku perlahan menghilang ketika kata itu terucap.
Tanpa kata dia memelukku. Rasanya hangat. Lebih hangat daripada ketika aku mendekapnya tadi. Aku merasa, aman. Dan nyaman.

“Yixing-ah. Kau ingat?”

Ingat? Ingat apa?

Aku terdiam cukup lama. Dapat aku rasakan pelukannya melonggar lalu terlepas begitu saja. Dia mengusap wajahnya lalu tersenyum. Tidak ada lagi emosi yang tadi sempat kulihat.
“Ah, maafkan aku. Baiklah, makan lagi, oke?”

Aku hanya mengangguk. Tiba-tiba aku semakin lapar. Ketika satu mangkuk sup tersaji di hadapanku, aku langsung memakannya. Aku melirik dia yang tengah menatapku. Rasanya kembali sesak tapi aku tetap melanjutkan makanku. Sup ini sangat enak.

.

“Sudah selesai?”
Aku mengangguk dan dia langsung mengambil mangkuk kosongku untuk dicuci. Aku diam memperhatikan. Seperti memang aku terbiasa melakukannya.

“Tidurlah, ini sudah malam. Kau pasti mengantuk.”

Mataku memang sudah ingin terpejam. Bagaimana dia bisa tahu?

Selesai dengan piring kotorku, dia menarikku berdiri. Mendorong tubuhku lagi ke sebuah kamar. Ada tulisan Zhang Yixing di pintunya. Keningku mengernyit.
“Tidur Yixing-ah.”

Pintu kamar terbuka dan aku bisa melihat kamar yang rapi. Seprei biru laut, aku suka. Dan aku langsung merebahkan tubuhku disana. Dia menatapku dengan senyum yang sama. Kakinya mendekat lalu tangannya bergerak menyelimuti tubuhku.
“Tidur nyenyak Zhang Yixing.”

Ketika dia mengusak kepalaku, aku merasakan hangat disekujur tubuhku. Rasanya nyaman dan aku tersenyum dibuatnya.
Setelahnya dia berjalan menuju saklar lampu, mematikannya. Lalu dia berjalan keluar dan menutup pintu. Aku masih menatapnya bahkan sampai pintu tertutup. Seperti sebuah kebiasaan.

Aku bangun, menyingkirkan selimutku lalu berjalan ke sebuah meja belajar di sudut kamar. Mataku menemukan sebuah buku bersampul biru. Ketika kubuka, ada fotoku dan dia yang sedang tersenyum.

“Namaku Zhang Yixing. Umurku dua puluh lima tahun tepat tanggal 7 Oktober 2016. Liyin noona akan memasakan sup rumput laut untukku. Aku tidak boleh keluar rumah. Tidak boleh bermain hujan. Tidak boleh membuatnya khawatir. Karena jika aku melakukan itu, Liyin noona akan sedih. Aku tidak ingin Liyin noona bersedih.”

Aku melirik kalender di sudut meja. Sekarang tanggal 7 Oktober tahun 2016. Aku melihat note di samping lampu kamar. Banyak sekali.

“Namaku Zhang Yixing.”

“Liyin noona adalah noonaku.”

“Aku lahir 7 Oktober.”

“Aku tidak boleh melupakan Liyin noona.”

Aku diam. Mataku sudah basah. Aku menyadari sesuatu. Terlalu banyak tulisan. Terlalu banyak kenangan yang tertulis. Harusnya aku mengingatnya. Harusnya aku tidak lupa.

Satu note terakhir, dengan warna yang berbeda. “Selamat ulang tahun adikku, harapan terbesarku adalah ingatanmu tentangku. Aku menyanyangmu.”

Dan kepalaku terasa dihantam batu besar. Pening lalu semua kenangan dalam setiap tulisan itu melintas di otakku seperti kereta api. Terlalu cepat dan buram namun aku mengingat semuanya.

Aku mengusap wajahku. Mengambil pena lalu menuliskan sesuatu di lembar lain buku itu.

“Aku kembali melupakan noonaku. Hari ini ulang tahunku dan dia membuatkanku sup rumput laut seperti yang dia janjikan. Aku bermain hujan dan membuatnya khawatir tapi dia tetap memelukku. Aku menyanyanginya. Liyin noona, maafkan aku yang melupakanmu. Mungkin besok aku akan melupakanmu lagi. Mungkin besok aku akan membuatmu khawatir lagi. Tapi, terima kasih untuk harapan terbesarmu. Juga, terima kasih untuk selalu mengingatku. Aku menyanyangimu noona.”
End

One thought on “[LAY BIRTHDAY PROJECT] Zhang Yixing

  1. Huaaaaa ada Zhang liyin! Iya sih oc tapi aku mbayanginnya masih Zhang liyin yg ‘itu’ hehe dan jadi noonanya Yixing aaaaa aku lemah aku lemah
    Dan di sini Yixing nya jadi adik kecil yg manis bgt! Aku suka flow eventnya, juga note2 di kamar Yixing itu nyesek sekali…
    Kekurangannya mungkin cuma paragraf2 di akhir yg jadi agak berantakan dan byk typo trs aku juga agak krg sreg sama kata ‘noona’ di sini … Mgkin Krn aku masih melihat mereka sbg org cina bkn Korea, hehe
    Keep writing!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s