[LAY BIRTHDAY PROJECT] Sincerity Of Love

myhome

 

[LAY BIRTHDAY PROJECT] Sincerity Of Love – bebebaek_

 

lay & oc || romance, angst || G

Author : bebebaek_

Main Cast : Zang Yixing/Lay (EXO) & Kim In Young (oc).

Genre : romance, marriage life, sad-(mybe).

Rating : general.

Murni hasil karya sendiri. Jangan di plagiat ya^^

Sorry typo bertaburan.

***

-jika cinta adalah sebuah ujian, maka ketulusan adalah jawabanku-

~

Rindangnya pohon pinus melindungiku dari terik matahari yang mulai naik ke singgasananya. Dari kursi panjang taman aku duduk dengan menatap lurus ke depanku.

Senyum teduh ini selalu setia terpatri di bibirku setiap kali seseorang disana menatap ke arahku.

Ia balas tersenyum. Senyum yang mampu membuat jantungku berdetak kencang terlebih saat lesung pipi itu ikut menghiasi.

“Aku akan tiba kurang dari 30 menit. Pastikan kau menyambutku dengan hangat. Aku merindukanmu” suara dari sembungan telepon itu membuat senyum seketika terukir di bibirku.

Setelah menutup sambungan itu dengan segera aku beranjak menuju dapur untuk menyiapkan air hangat. Ku tau ia pasti lelah di kantor seharian. Saat semuanya telah siap begitupun dengan makanan yang sudah tertata rapi di atas meja. Aku menatap jam dinding. Sudah lebih dari 30 menit. Mengapa ia terlambat ? Biasanya ia selalu tepat waktu.

Aku kembali duduk pada sofa di depan tv ruang tengah rumah kami. Berusaha tidak berpikir negatif. Ya, mungkin saja jalanan di luar sana sedang ramai dan ia terjebak macet.

Perasaan resah kembali merambatiku saat mata ini lagi-lagi menatap jam dinding itu. Lebih dari satu jam. Ku raih ponselku kembali dengan perasaan yang entah mengapa terasa menyesakkan. Ku tekan tombol hijau itu saat kontaknya ku temukan.

Tidak aktif. Dan kini perasaan menyesakkan itu semakin menyiksaku. Sudah tak terhitung berapa kali aku berjalan mondar-mandir di depan layar persegi yang telah terbaikanku.

Aku tersentak kala ponsel di tanganku berdering nyaring. Refleks langkahku behenti. Segera ku liat layar persegi itu berharap ia lah yang menghubungi.

Kedua alisku mengernyit saat mendapati nomer asinglah yang tertera di sana. Dengan perasaan yang bercampur aduk tu geser tombol hijau lalu menempelkan benda persegi itu pada satu telingaku.

“Apa ?” Hanya kalimat lemah itu yang mampu keluar dari bibirku saat mendengar setiap kata dari orang di seberang sana. Tubuhku melemah, semuanya terasa tidak seimbang di sekitarku.

Aku terus berlari mengabaikan setiap orang yang meliatku dengan tatapan anehnya. Lorong itu ku lalui cepat meski beberapa kali pundak ini menambrak pundak orang lain.

Dan di sinilah aku berdiri. Di balik pintu kaca ini aku membatu. Kakiku tidak lagi dapat ku gerakkan. Seluruh tenagaku seakan hilang. Tubuhku abruk bersamaan dengan menetesnya bulir bening ini dari sudut mataku.

Pemandangan di depanku benar-benar membuatku kehilangan kendali akan diriku. Pikiranku kacau dan semuanya menjadi gelap.

“In young-ssi”

“In young-ssi, apa yang kau lihat ?” Suara itu mengusikku, menyadarkanku akan lamunan yang kembali membawaku pada ingatan di hari itu.

“In young-ssi. Apa kau mendengarku ?” Ocehnya mengguncang lenganku gusar. Terlihat ia begitu khawatir aku abaikan.

“Eoh, kenapa lay-ssi ?” Suaraku balas menatapnya.

“Aku bosan bermain sendiri. In young-ssi bermainlah denganku” suaranya polos seperti sorang anak di usia belasan tahun.

“Kau ingin bermain apa ?” Tanyaku padanya dan ia tersenyum. Lalu kedua tangannya naik memamerkan benda dari kertas itu padaku.

“Aku ingin bermain layangan. Bisakah in young-ssi menaikkannya untukku ?” Tanyanya lagi.

Aku tersenyum. Bangkit lalu mengambil layangan itu dari tangannya. “tentu saja” ucapku sukses membuat senyumnya semakin lebar. Senyum itu. Senyum yang begitu mirip dengan seseorang yang ku cintai. Senyum dari suamiku.

Zang yixing pemuda yang lebih di kenal dengan sebutan lay. Pemuda yang ku cintai, suamiku yang mengajarkan ku banyak tentang manisnya cinta. Pemuda yang selalu menghujaniku dengan kasih sayang. Pemuda yang selalu tersenyum dengan lesung pipi indah di wajahnya.

Hari demi hari selalu terasa indah bersamanya. Tapi setelah hari itu. Hari yang selalu ingin ku lupakan. Hari dimana tepat dua bulan setelah pernihakan kami.

Sebuah kecelakaan besar menimpa suamiku. Mobil yang ia lajukan menabrak sebuah truk membuat kondisinya-, aku tidak ingin mengingatnya. Terlalu menyakitkan saat mengingat tubuh yang selalu hangat memelukku itu di penuhi noda darah dimana-mana.

Ketakutanku berakhir. Doa yang ku panjatkan setiap saat seakan di dengar oleh tuhan. Lay membuka matanya setelah beberapa minggu ia mengalami koma. Namun, aku harus puas sampai di situ karena ia tidak mengenalku.

Entah apa namanya. Sebuah diagnosis sebagai efek dari benturan keras yang menciderai kepala suamiku itu. Ia kehilangan ingatannya. Tidak secara penuh, ia masih bisa mengingat segalanya dalam batas usia sepuluh tahunnya.

Terasa begitu mengiris hati ini saat ia memanggil kedua orang tuanya, menatapnya penuh kerinduan tapi tidak denganku. Ia menatapku dengan tatapan asing.

Beberapa bulan ku lalui dengan terus berada di sisinya. Menempatkan diri sebagai orang lain, berusaha menjadi teman untuknya. Tidak mudah untukku dapat di terima olehnya. Pernah beberapa kali kedua orang tuanya menemuiku, menggenggam tanganku dan berujar jika tidak mengapa bagiku untuk meninggalkan suamiku.

Tidak. Aku tidak ingin kehilangannya. Pemuda itu segala bagiku. Tidak mengapa jika ia tidak mengingatku karena aku akan berusaha membuatnya kembali mengingatku meski dengan sosok yang berbeda untuknya.

Tidak peduli jika ia hanya menganggapku seorang teman, kakak baginya atau apapun itu. Asalkan aku dapat melihat indah senyum itu, cukup bagiku untuk mengingat cintanya.

Jika dalam dua bulan rumah tangga kami, ia mengajarkan begitu banyak arti cinta padaku. Maka dalam dua tahun yang terlewati ini aku melalui cinta itu dengan sebuah arti yang selalu ia tanyakan. Sebuah ketulusan.

Ku toleh ia yang tengah fokus menatap layang-layang yang ku pegang di atas sana. Sesekali ia tersenyum tidak menyadari jika aku tengah memperhatikannya.

Aku ikut tersenyum melihatnya. Senyum dengan lesung pipi itu, aku bersumpah aku tidak ingin kehilangannya.

Fin

One thought on “[LAY BIRTHDAY PROJECT] Sincerity Of Love

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s