[LAY BIRTHDAY PROJECT] No More Letters

myhome

 

[LAY BIRTHDAY PROJECT] No More Letters – Febi Elita
Zhang Yixing, Yin (OC) || Romance || G

– No More Letters –

Hari ini aku pulang kuliah lebih lama dari biasanya. Pukul delapan lewat lima, aku baru sampai di rumah dan segera duduk di sofa sambil meluruskan kakiku yang bahkan masih memakai kaus kaki.

Beberapa detik kemudian, ibuku datang dan langsung duduk di sofa yang lebih kecil. Beliau menatapku dengan tatapan yang menyejukkan sekaligus membuatku merasa tenang.

“Kau masih sibuk?” tanyanya ketika aku merubah posisiku menjadi duduk.

Aku menggeleng. Semua tugas di kampusku sudah mulai teratasi dan rasanya sebentar lagi aku dapat sedikit bersantai.

“Memangnya ada apa?” tanyaku pada beliau seraya memandangnya dengan sebuah senyuman.

“Ada surat untukmu,” ujarnya hingga membuatku sedikit kaget dan memandangnya dengan mata bulat sempurna.

Surat? Rasanya sudah lama sekali aku mendapat surat dari seseorang. Jika diingat-ingat, terahir kali aku mendapat surat itu sekitar enam bulan yang lalu. Itu pun dari sepupuku yang sekolah di Inggris.

“Surat?” tanyaku dengan tatapan tidak percaya.

Ibu hanya terkekeh pelan melihat reaksiku yang mungkin terlihat aneh. Ia pun memberikan sebuah amplop berwarna merah dengan pita biru di ujungnya. Terlihat sangat cantik dan menarik.

Tak butuh waktu lama, aku segera mengambil amplop itu dan merabanya. Terasa sangan em … lembut, mungkin? Entahlah, rasanya aku jatuh cinta pada surat ini ketika pertama kali melihatnya.

“Dari siapa?” kataku setelah mengambil dan membolak-balikkan amplop itu.

Ibu hanya tersenyum, ia tidak langsung berbicara melainkan berdehem sebentar.

“Buka saja, nanti juga kamu pasti tahu,” tukasnya seraya berdiri dari sofa. “Ibu mau ke dapur dulu, kamu mau makan apa?” lanjutnya beberapa detik berikutnya.

Aku bergeming sejenak, mencoba menebak siapa pengirim surat ini. Namun, sepertinya pikiranku sedang buntu dan butuh istirahat, sehingga aku lebih memilih untuk menebak pengirim surat itu nanti. Dan, aku tidak mau membiarkan Ibu menunggu jawabanku.

“Apa saja yang ibu masak, aku pasti suka.”

Ibu terkekeh lagi, sepertinya hari ini ia sedang gembira. Mungkinkah ayah akan pulang hari ini? Entah, rasanya ia akan pulang beberapa hari lagi dari Korea karena masih ada urusan dengan kolega bisnisnya.

“Aku mau mandi dulu,” ujarku seraya pergi ke kamar dan lekas membersihkan diri.
<<>>
Tak sampai dua puluh menit, aku sudah rapi dengan piyama tidurku. Setelah mandi, rasanya badanku menjadi segar. Semua kepenatan dan beban di pikiran tentang tugas kampusku seolah sirna dan hanyut. Meskipun aku tahu bahwa mandi lewat pukul tujuh malam itu tidak baik dan bahkan mengundang penyakit. Namun, sesekali tidak ada salahnya kan? Haha.

Begitu selesai, aku segera pergi ke ruang makan dan makan malam bersama Ibu. Ya, hanya ada kami berdua di sana. Mengingat kakaku sudah memiliki pekerjaan di luar kota dan akan pulang beberapa bulan lagi.

“Kau sudah membaca suratnya?” tanya Ibu ketika kami selesai makan.

Seketika aku teringat tentang surat itu. Tadi, sebelum mandi, aku meletakkan surat itu di nakas tanpa peduli untuk membukanya, padahal sebelumnya aku sangat tertarik sekali dengan surat itu.

“Aku lupa!” sahutku sembari menepuk jidat. “Memangnya surat itu sangat penting sehingga Ibu sampai mengingatnya?” tanyaku kemudian.

“Untukmu sepertinya penting,” katanya.

Beberapa saat kemudian, aku segera berlari ke kamar dan mengambil surat itu. Rasa penasaran kembali hadir dalam benakku. Pikiranku pun dipenuhi dengan bayangan orang-orang yang sempat kutebak sebagai pengirimnya. Merasa frustrasi, mungkin sebaiknya aku langsung membuaka surat ini untuk mengetahui isi juga siapa orang yang megirimnya.

Dengan perlahan, aku melepaskan pita biru itu dan dengan singkat, aku segera menemukan lipatan kertas berwarna rose-gold bertuliskan “ZYX”.

Aku sempat memandang tulisan itu cukup lama, mencoba kembali menebak siapa orang berinisial huruf tersebut.

“OH?!” pekikku sejurus kemudian.

Betapa girang sekaligus kagetnya aku ketika mengetahui siapa pengirim surat ini. Dan … betapa bodohnya kenapa aku lupa kepadanya. Dia yang kulupakan karena aku terlalu fokus pada semua tugas kuliahku. Dan bahkan, aku merasa menyesal karena tidak mengingatnya.

Zhang Yi Xing.

Dia, laki-laki yang selalu membuat jantungku berdegup kencang, dia juga yang selalu membuatku merasa nyaman, pun dengan segala halangan yang sering kami temui. Dan dia, yang mungkin akan jadi cinta terakhirku.

“Dear, a piece of my heart.”

Aku terharu kala membaca kalimat pertama itu. Rupanya dia masih bisa membuatku senyum sendiri seperti orang gila meski hanya dengan sebuah tulisan.

“Kuharap kau membaca surat ini ketika sendirian, karena kau pasti akan tertawa bahkan saat membaca kalimat pertama ini.”

Dia benar, aku tertawa lepas sambil mengangguk-anggukkan kepala.

“Bagaimana kabarmu? Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihatmu. Bahkan di zaman canggih seperti ini, aku terlalu sibuk dengan karirku dan tidak punya waktu untuk sekadar menelepon atau vid-call denganmu. “Padahal, banyak sekali hal yang ingin aku bicarakan dan kulakukan bersama denganmu. Sungguh, aku sangat rindu suaramu, rindu perkataanmu, rindu wajahmu dan semua yang ada pada dirimu.”

Aku tersenyum sambil sesekali tertawa karena menahan rasa geli yang sekarang menyerang perutku.

“Kau tidak lupa denganku, kan? Hanya ingin kau tahu, di sini, aku selalu mengingatmu. Terkadang, saat aku berada di panggung dan tampil di beberapa acara, wajahmu tiba-tiba hadir menutupi pandanganku. Saat itu pula aku selalu tersenyum.

“Yin, kau masih ingat bahwa aku berjanji jika suatu hari nanti aku akan berada di dekatmu, membuatmu nyaman dan selalu menjagamu? Aku masih memegang janji itu. Tenanglah … aku pasti akan kembali padamu. Aku berjanji bahwa aku akan menepati janjiku sebelumnya.”

Aku kembali tertawa–dia terlalu banyak berjanji—pekikku. Namun, aku akan terus memercayainya karena aku yakin, dia tidak akan menyakitiku.

“Kau telah mengambil separuh hatiku, Yin. Jadi … aku tidak pernah benar-benar sendiri di sini. Dan kuharap kau pun begitu. Kurasa suratku ini terlalu panjang. Jika aku memaksakan untuk terus menulis karena aku betul-betul rindu denganmu, rasanya satu lembar kertas tidak akan cukup, haha.”

Di saat seperti ini, lagi-lagi dia berhasil membuatku tertawa terbahak-bahak.

“Kurasa surat ini harus aku akhiri. Dan aku berharap kau tidak membalas surat ini. Tapi yang ku inginkan adalah bertemu langsung denganmu dan tidak ada lagi surat untuk menyampaikan sebuah kerinduan.”

Aku menghela napas sambil berkata “Yah …” dengan nada panjang ketika surat itu hanya tinggal satu kalimat.

“From, a piece of your heart.”

Bersamaan dengan kalimat terakhir itu, aku lekas menutup surat itu dan meletakkannya di laci nakas dengan sangat rapi dan hati-hati. Malam ini sungguh menyenangkan, dikala tugas kuliah yang mulai menipis, surat dari Yixing pun hadir dan membuatku terasa terbang di angkasa dengan pikiran tanpa beban.

Mengingat angkasa, entah kenapa rasanya aku ingin melihat bintang. Saat itu pula, aku lekas menuju balkon dan berdiri di sana untuk beberapa menit sambil memandang langit tanpa awan yang berawarna biru gelap. Awan-awan itu seolah hilang dan digantikan oleh beberapa bintang yang tersebar dengan cahaya masing-masing.

Sangat indah dan mempesona.

Setelah merasa puas melihat bintang-bintang itu, aku berniat untuk kembali ke kamarku dan pergi tidur, namun … seketika netraku menangkap sebuah objek yang hampir membuat jantungku lompat ke luar.

Di gerbang rumahku, berdiri seorang laki-laki berperawakan tinggi dengan setelan serba hitam dari atas sampai bawah, pun dengan topi yang berawrna hitam hingga menutupi matanya.

Aku mengamati laki-laki itu untuk beberapa detik. Merasa diperhatikan, laki-laki itu menoleh dan terkejut begitu melihatku berada di balkon. Ia pun menyibak topinya hingga wajahnya terlihat jelas oleh kedua mataku.

Saat itu, mata kami saling bertemu. Bahkan aku sampai tidak bisa menahan air mata haru ini. Dia … laki-laki yang telah memberi separuh hatinya untukku.

[]

-fin

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s