[LAY BIRTHDAY PROJECT] Love Letter

myhome

 

[LAY BIRTHDAY PROJECT] Love Letter – agyumrn
Lay & Jo Su Ah (OC) || Romance || G


“Aku mencarimu kemana-mana. Ternyata kau disini.”

Lay hampir saja mencoret kata yang sedang ia tulis di lembaran kertas warna merah muda di pangkuannya. Ketika ia mendongak, seorang gadis anggota klub sastra tengah berdiri di hadapannya, bersama sebuah amplop cokelat di tangan. Gadis itu juga tak lupa menyertakan sebuah senyum di wajahnya yang mungil itu.

“Eoh? Ada perlu apa?” tanya Lay sambil menyembunyikan kertas merah muda itu di balik kertas lain.

Seakan baru teringat tujuannya datang ke taman belakang gedung sekolah ini, gadis itu memberikan amplop yang dipegangnya ke arah Lay. “Itu foto-foto saat acara pekan budaya di kampus kita kemarin. Aku diminta ketua klub fotografi untuk memberikannya padamu. Tolong sampaikan ke anggota klub musik yang lain, ya?”

“Baiklah, terimakasih.” Lay mengangguk mengerti.

Gadis bernama Su Ah itupun ikut mengangguk. “Kalau begitu aku duluan. Sampai jumpa.”

Tanpa Lay duga, kertas merah muda yang ia sembunyikan di antara tumpukan kertas kosong itu terjatuh dari atas pahanya. Sialnya, kertas itu mendarat tepat di atas sepatu Su Ah yang baru hendak melangkah meninggalkan Lay.

“Hei, kertasmu jatuh.” Su Ah merunduk untuk mengambilkan kertas merah muda itu. Tapi tanpa sempat Su Ah mencuri lihat isi kertas itu, secara spontan Lay lebih dulu merebutnya dengan gerakan terburu.

Menyadari tindakannya yang mungkin membuat gadis itu tersinggung, Lay terkekeh hambar untuk mencairkan suasana. “Maafkan aku, tapi kau tidak boleh melihatnya.”

“Kenapa?” Su Ah dengan cepat bertanya dengan alis terangkat heran. “Memangnya apa yang sedang kau tulis?”

“Hanya menuliskan apa yang sedang kupikirkan” tandas Lay seolah tidak ingin memperpanjang pembicaraan.

Su Ah mengangguk paham dengan gelagat Lay yang terganggu oleh kehadirannya. “Kalau begitu aku minta maaf. Mungkin kau terganggu karena ada aku disini.”

“Bukan masalah.” Lay menanggapi datar. Tidak ada jawaban lagi dari gadis itu. Su Ah memutuskan segera pergi daripada harus terjebak kecanggungan lebih lama dengan Lay.

Lay mengetuk-etukkan ujung sepatunya gelisah. Sudah hampir pukul 5 sore, tapi orang yang dirinya tunggu belum kunjung datang. Jam pulang sekolah sudah berdentang 2 jam yang lalu, tapi Lay yakin orang itu belum pulang karena jadwal kegiatan klub sastra yang membuatnya sering pulang terlambat.

“Permisi, bisa geser sedikit? Kau menghalangi pintu lokerku.”

Lay berbalik dan menemukan Su Ah muncul setelah sekian jam ia berdiri di depan loker gadis itu. Su Ah mengernyit setelah menyadari siapa yang ada di depannya saat ini.

“Lay-ssi? Sedang apa disini?”

“Eem…” Lay menggaruk tengkuknya salah tingkah.

“Ada yang ingin kau bicarakan? Katakan saja” ucap Su Ah lagi.

Lay merogoh saku celana seragamnya dan mengeluarkan secarik kertas merah muda yang telah dilipat dua. “Ini. Tolong diterima.”

Setelah menyambutnya dari tangan Lay, Su Ah langsung mengenali kertas itu setelah sekilas melihatnya tadi siang. Lantas, gadis itu mengernyit lagi. Tak tahu harus berbuat apa dengan kertas ini. Su Ah tersenyum canggung saat ia menatap Lay.

“Ini surat ya? Surat apa?” Tanya Su Ah, kemudian meringis setelah sadar ia kehabisan bahan untuk bertanya.

“Surat cinta dariku.” Lay mati-matian menahan diri untuk tidak langsung menepuk dahinya berkali-kali karena jawabannya yang terlewat jujur. Seharusnya ia bisa berbasa-basi dulu dengan gadis itu, bukannya langsung berterus terang.

“Hah?” Su Ah melotot. Kertas merah muda di tangannya hampir saja jatuh kalau saja Su Ah tidak cepat menguasai dirinya. Rasanya, kepala Su Ah mendadak seperti tidak ada isinya.

“Awalnya aku ingin menaruhnya di lokermu saja, tapi lokermu terkunci.” Lay membawa telunjuknya ke arah pintu loker Su Ah, lantas mata pria itu mengerling kertas di tangan Su Ah. “Kau tidak berniat ingin tahu apa isinya?”

Selesai melotot, Su Ah memperhatikan kertas tersebut dan mulai membukanya sementara dalam hati sibuk menduga apa saja yang Lay tulis. Tapi, yang ia temukan hanyalah nama lengkapnya (Jo Su Ah) yang ditulis berulang-ulang hingga memenuhi satu halaman kertas. “Ini… maksudnya apa?”

“Tadinya aku ingin membuat surat dengan kalimat romantis, tapi aku payah. Tidak ada satupun kalimat yang terpikirkan olehku,” Lay memperlihatkan wajah merana. “Seharian ini, yang terbayang di kepalaku hanya kau dan reaksimu nanti saat menerima surat itu. Selama berpikir, tanpa sadar aku terus menuliskan namamu di kertas, tahu-tahu sudah sampai satu halaman.”

Su Ah mengulum bibirnya ke mulut, berusaha untuk tidak tersenyum terlalu lebar demi mendengar kekonyolan Lay mengenai surat cintanya. Jadi, seharian ini Lay cuma memikirkannya? Duh!

“Kau tidak menyukainya, ya? Kalau begitu, beri aku waktu sampai besok untuk menulis ulang suratnya. Aku janji isi suratnya akan sama seperti surat cinta pada umumnya.”

“Siapa bilang aku tidak suka?” Su Ah melipat kembali surat tersebut sambil tersenyum. “Namaku yang kau tulis sebanyak ini sudah menjelaskan semuanya. Terima kasih banyak karena telah memikirkanku.”

“Jadi?”

“Jadi apanya?

Lay merengut. “Kau masih belum paham juga, untuk apa aku memikirkanmu seharian ini? Aku menyukaimu, tahu!”

“Aku tahu,” cengiran Su Ah menggantikan senyumnya. “tapi, aku belum bisa menjawabnya sekarang. Mungkin besok.”

“Baiklah,” Lay menaikkan tas punggungnya yang sempat melorot. “Paling tidak, nanti malam gantian kau yang memikirkan aku. Jadi adil.”

Belum sempat Su Ah berkomentar, pria tersebut sudah berlari menyusuri koridor. Su Ah tertawa pelan sambil mengeluarkan kunci loker dari saku jas seragamnya.

“SU AH-YAAAAA!”

Su Ah melongok dari balik pintu lokernya yang terbuka. “Ya?”

“Dibalik kertas merah muda itu ada nomor ponselku. Telpon aku kalau kau tiba-tiba merindukanku. Bye.”

Su Ah menggeleng tak habis pikir. Masih tidak menyangka pria pendiam seperti Lay bisa bertingkah menggelikan juga.

FIN.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s