[LAY BIRTHDAY PROJECT] Fallin for Rainy Day

myhome

 

[LAY BIRTHDAY PROJECT] Fallin for Rainy Day – softandsmooth
EXO’s Lay & f(x)’s Krystal || Romance || G
Aku resah. Hujan sedang turun dengan derasnya. Selalu. Setiap kali guyuran dari langit turun, aku tak akan jadi nyaman.

Seperti saat ini. Air hujan yang menggenang membuat lalu lintas tersendat. Hasilnya, macet di sana sini. Mobil yang kutumpangi jadi satu dari entah berapa banyak kendaraan yang tak kunjung bergerak meski bisa kutangkap satu titik sinar hijau di depan sana.

“Sabar, Sayang.” Ujar Lay sambil menatap wajahku.

“Ini nih, yang paling engga aku suka. Hujan. Gara-gara hujan, jadi macet ‘kan!?” Balasku yang masih memandang keluar jendela, “Aduh, jangan sampai nanti pas hari pernikahan kita turun hujan…” Sambungku dengan kedua tangan saling berpelukan kutempatkan di depan dada.

Lay tersenyum mendengar ocehanku lantas dia mengacak pelan ujung kepalaku. Aku hanya membalasnya dengan ekspresi unmood-ku: menautkan alis, mengempiskan hidung, dan mengerutkan bibirku. Dan itu malah memancing kedua tangan Lay menyarangkan cubitannya di pipiku. Aku menepis tangan namja itu sambil meringis, meski rasanya tak seberapa sakit.

Beberapa saat kemudian, kulirik Lay. Dia membuat gambar hati dari embun pada kaca di samping kirinya. Dia baru saja ingin memamerkan ‘hasil karyanya’ itu padaku namun bersamaan dengan itu mobil di depan sudah bergerak menjauh. Akhirnya, namja itu mengurungkan niatnya dan kembali fokus di depan stir.

Setengah jam kemudian, kami sampai di tempat tujuan: butik gaun pengantin. Yup, hari ini aku akan fitting gaun pengantinku. Setelah mengulur waktu dan membatalkan janji fitting beberapa kali, akhirnya aku bisa fitting dengan ditemani Lay hari ini. Kenapa lagi kalau bukan karena kesibukannya yang seakan tak ada habisnya itu. Sebenarnya aku bisa saja fitting ditemani eomma, hanya saja, aku ngotot ingin calon suamiku-lah yang menemaniku mencoba gaun pengantin dan jadi yang pertama melihat aku berbalut wedding dress itu. Ekekekek, mianhe eomma!

Sialnya, nasib buruk masih datang seiring rintik hujan yang masih tersisa. Tempat parkir di butik penuh. Alhasil, Lay menurunkanku dahulu di depan butik lalu dia pergi mencari tempat parkir di sekitar sini. Aku pun menunggunya di teras sempit di depan butik yang terlindungi dari air hujan.

Sambil menunggu, aku memandang gaun-gaun cantik yang terbentang membalut dengan anggun manekin-manekin jenjang dari balik kaca. Ah, nomu yeppudaaa… Aku jadi tidak sabar untuk mencoba gaun pengantinku lalu berdiri di hadapan Lay. Tiba-tiba saja imajinasiku terbang ke saat tirai terbuka dan Lay menatapku dalam balutan gaun pengantin. Reaksi dia akan bagaimana, ya? Aih, membayangkannya saja aku jadi tersipu. Ah, aku jadi semakin tak sabar.

Hujan yang tadi turun rintik-rintik kini berganti deras lagi. Ini menyadarkanku akan Lay yang tak kunjung muncul. Aish, kemana sih dia? Cari tempat parkir kemana sih?

Ditengah kekhawatiranku pada sosok Lay yang tak kunjung hadir, seorang namja kecil datang menghampiriku. Dia tampak kewalahan membawa payung besar dengan badannya yang mungil itu. “Payungnya, Noona?”

Ah, dia anak-penawar-jasa-peminjaman-payung.

“Ani.” Tolakku pada anak itu. Kurasa aku sempat tersenyum sekilas padanya.

Namja kecil itu pun pergi. Tubuh kurusnya yang basah kuyup, padahal dia membawa payung teramat besar, menghilang dari jangkauan mataku.

Ah, hujaaan… kapan kau berhenti??? Dan Lay… dimana dia??? Ah, Jinjja! Kakiku bisa kram karena terlalu lama berdiri di tengah hujan begini.

Apa aku tunggu di dalam saja? Call! Mari kita tunggu di dalam saja. Kajja!

Aku pun melangkah menuju pintu masuk yang berada tak jauh dariku. Namun, tiba-tiba kudengar ada yang memanggilku. Meski samar-samar tapi itu sukses membuatku refleks membalikkan badanku. Mataku menangkap bayangan kecil di bawah payung besar dan tengah berlari ke arahku.

Aku terkejut. Datang lagi ‘anak berpayung’ menghampiriku. Kali ini seorang yeoja kecil. Dia mendekat dan memberiku sebuah kertas.

“Ige mwo ya?”

Alih-alih menjawab pertanyaanku, gadis itu malah pergi dan berlari menerjang hujan lagi bersama payung besarnya yang berwarna pelangi.

Aku membuka lipatan kertas lusuh yang baru saja gadis berpayung berikan padaku.

Aku membaca isinya.

‘Maukah kau jadi istriku?’

Apa ini? Dari siapa?

Belum selesai aku mencerna kalimat itu, dua namja kecil yang baru kulihat wajahnya muncul dan memberiku benda yang sama dengan gadis sebelumnya. Keduanya pergi sebelum sempat aku memeriksa apa yang mereka berikan.

‘Kalau kau mau jadi istriku, aku akan menghujanimu dengan cinta dan kasih sayang selama sisa hidupku…’

‘Tapi kalau kau menolak… aku akan menghujanimu dengan jutaan kali poppo sampai kau mau menikah denganku!’

Sambil terkekeh karena isi kedua surat itu, aku berpikir. Eum, hokshi…

Aku langsung menebar pandang ke sekitarku. Dalam hitungan detik, seorang anak lelaki yang lebih besar dari anak-anak sebelumnya berlari ke arahku. Seakan sudah mengantisipasinya, aku langsung mengulurkan tanganku. Dari balik payungnya, namja itu menyerahkan kertas juga. Dan sama seperti yang sudah-sudah, anak itu pergi meninggalkanku tanpa kata apapun.

‘Mau kan, Krystal-ssi?’

Aku tak bisa menahan senyumku. Sudah pasti dia. Aku yakin seratus persen.

Lantas aku mengangkat pandanganku dan di seberang jalan, persis di seberangku, Lay tengah berdiri sambil tersenyum padaku. Dia menggenggam payung dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggandeng tangan namja kecil yang belakangan kukenali dia sebagai anak yang pertama kali mendatangiku. Empat anak lainnya, yang sebelumnya menjadi ‘pengantar pesan’ tampak berdiri di belakang Lay. Mereka menyeberangi jalan bersama-sama. Hingga akhirnya mereka berhenti tak jauh di depanku.

Aku yang masih senyum-senyum tak karuan, kini malah dibuat terkikik geli dengan pemandangan di hadapanku: Lay bak pangeran yang dikawal oleh pasukan berpayung.

“Narang kyeorun na jullae?” Tanya Lay, dari bawah naungan payung berwarna hijau yang sudah agak kusam.

Aku terpaku di hadapan seorang namja tampan yang telah lama mengisi bagian terdalam hatiku. Namja ini juga yang sukses membuatku menyerah pada kesendirian karena tak mampu lepas darinya lebih lama lagi. Ya, namja itu. Namja yang baru saja mengatakan kalimat lamarannya padaku, diantara sorot matanya yang tajam namun penuh kasih sayang.

Aku merasakan wajah ini memanas. Suhu dingin dikala hujan ternyata hanya sanggup membuat lidahku kelu tapi tak sanggup menjadikan sumber air mataku tetap beku. Nyatanya, kini, tanpa sanggup mengucap sepatah katapun, aku malah berlinang air mata.

“Sayang, narang kyeorun na jullae, eoh?” Tanya Lay sekali lagi, memaksaku untuk menjawabnya.

Bocah-bocah personil ‘pasukan berpayung Lay’ itu tampak tertawa geli melihat tingkah Lay. Ada juga yang berteriak ‘Ne!’, seakan mewakiliku.

“Ah, ne?” Sambil menyeka air mata, aku merespon Lay.

Saat kumenebar pandangan, ternyata orang-orang di sekitar mulai banyak yang memperhatikan kami. Perasaan malu mulai menjalariku.

“Definitely, yes. Yes, yes, yessss. Aku mau banget, Oppa!” Pekikku akhirnya. Aku segera menutup wajah dengan tas kecil yang sejak tadi kuselendangkan di bahu.

Lay dan pasukannya bersorak sorai. Mereka ber-high five-ria dan juga bertepuk tangan. Seperti sedang merayakan satu kemenangan. Lay kemudian mendekat dan mendekapku ke dalam pelukannya. Dan ini malah membuat kami benar-benar menjadi pusat perhatian.

Aku, yang masih berada dalam dekapan Lay, berusaha menutupi wajahku dengan kedua telapak tangan. Ini benar-benar membuatku malu. Malu bercampur haru bahagia. Rasanya ini seperti lamaran yang pertama kalinya. Lamaran Lay padaku di hadapan eomma dan appa yang dulu sudah ia utarakan, jadi terlupakan beberapa saat karena indahnya kejutan yang baru saja dia berikan.

“Sayang?” Kata Lay sambil melepaskan pelukannya.

“Eum?”

“Sekarang kamu masih benci hujan?”

“Ani.” Aku menggeleng.

“Waeyo?”

“Karena hari ini.” Jawabku, “Aku engga akan lagi benci hujan. Karena setiap hujan turun, aku pasti akan ingat hari ini.”

Lay menatapku. Lesun pipinya tergambar jelas berbarengan dengan gurat senyum yang hadir menghiasi wajahnya. Ah, tampan sekali priaku ini!

“Gomawo.” Ujarku dengan sedikit menunduk.

“Aniyo. Aku yang seharusnya berterima kasih. Karena kau sudah sabar menghadapiku selama ini dan sudah mau bersabar lebih lama lagi untukku. Gomawo. Jeongmal gomawo, Krystal-ya.” Dia mengakhiri ucapan manis itu dengan mengecup lembut punggung tanganku.

OMO! Kenapa hari ini dia begitu romantis? Ah, ini terlalu manis… Aku bisa mati kena diabetes kalau dia bersikap manis seperti ini terus!

“Poppohae… poppohae!!!” Orang-orang yang sejak tadi memperhatikan kami mendadak kompak berteriak. Tak ketinggalan para bocah berpayung juga. Aku jadi malu dan bingung. Lay juga tampak salah tingkah.

Aku berdoa supaya Lay ‘tidak’ melakukannya. Namun, belum selesai doa kupanjatkan, Lay lebih dulu menarikku ke arahnya lantas dia mengecup lembut bibirku.

Aku buru-buru menarik diri dan menutup wajahku saking malunya. Mianhe, Oppa. Bukannya aku tak menghargaimu, tapi ini benar-benar membuat aku malu. Dihadapan orang banyak seperti itu, kau bisa-bisanya… aisshh…

Tapi, Oppa. Percayalah. Dihari ini, di hari dengan hujan yang deras ini, kau berhasil membuatku jatuh cinta pada hujan. Dan lebih dari itu, kau berhasil membuatku jatuh cinta padamu untuk kesekian kalinya.

— END —

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s