[LAY BIRTHDAY PROJECT] Catatan Fangirl

myhome

 

[LAY BIRTHDAY PROJECT] Catatan Fangirl – Shinshin
Cast : Lay, Si Pendek (OC)
Genre : Romance, Comedy
Rating : PG-17
Length : Oneshot

“Menjadi seorang Fangirl adalah suatu kebanggaan, tapi menjadi seorang pacar dari Idolamu itu adalah hal yang mustahil, seperti saat kau melihat awan tapi kau tidak bisa menggenggamnya.”

Sungguh aku ini seperti keledai yang bodoh, melihatnya seperti wortel yang menggantung di depan kedua mataku, mengikutinya terus menerus tanpa henti sampai aku bisa mendapatkannya. Dia yang begitu sempurna, tampan dan kaya raya, hanya dengan melihat bayangannya hatiku sudah menjerit, aku tahu aku mungkin sudah tidak waras, tapi aku tidak tahu kenapa aku yakin bahwa dia adalah jodohku.

Sekolah sudah sangat sepi, karena satu jam yang lalu bel pulang sudah berbunyi, tapi itu tidak berlaku bagiku, karena selama Lay belum pulang maka aku juga akan tetap tinggal. Sekarang dia tengah sibuk melakukan drible sendirian, bermain basket setiap sore adalah ritual rutin yang dia lakukan, dan aku? Kalian tahu apa yang kulakukan? Melihatnya dari bangku penonton, menjaga tas perlengkapan miliknya. Bukan… aku bukan sekretaris klub basket, aku hanya pesuruh ulung baginya. Tapi kegiatan ini seakan menjadikanku pacarnya >.<, tentu karena aku mengaguminya, andai kata dia menyuruhku membasuh keringatnya dengan senang hati akan kulakukan.
Ya Tuhan melihatnya terengah-engah seperti itu dengan penuh peluh yang bercucuran, aku malah membayangkan yang tidak-tidak, demi kapal terbang! Aku rela menjadi pesuruhnya selama hidupku!

“Yak! Pendek! Apa yang kau lihat hah?! Aku haus, apa kau menyuruhku meminum keringatku sendiri?!” Teriakan itu menghancurkan imajinasiku.
“Ah ye… mian, ini minumanmu.” Aku memberikan botol minumannya dengan wajah tertunduk.
“Lima menit lagi aku akan mandi, siapkan handuk dan baju gantiku!” Lay melemparkan botol minumannya setelah meneguk beberapa kali cairan yang ada di dalamnya. Lalu apalagi yang bisa kulakukan selain menuruti perintahnya? Entah apa yang kurasakan terhadap laki-laki ini, dia begitu kasar, sombong dan sering memerintah orang yang kastanya jauh di bawah dari dirinya, yang aku tahu rasa sayang dan cinta tidak perlu memerlukan sebuah alasan, jika ada maka mudah pula untuk kau membenci orang itu.

Setelah beberapa menit dia keluar menggunakan kaos polos hitam dan celana training berwarna abu gelap, dengan rambut yang masih agak basah memperjelas kesan seksi yang ada pada dirinya. Entah aku sudah berapa kali menelan ludahku. Tak ada kata yang terucap darinya dia berjalan di depanku dan aku selalu di belakangnya, jauh di belakangnya.
“Apa? Kau mau?” Dia mendekatkan kaleng bir itu ke bibirku, entah sengaja atau hanya menggoda dia selalu melakukan hal tidak terduga.
“Tidak, hanya saja… kau ingin minum lagi? Setelah kejadian itu?” Ah sial! Kenapa aku mengingatnya lagi?! Jelas-jelas aku sudah berjanji pada Lay untuk tidak mengingatnya walau satu detik. Kejadian paling indah dalam dunia seorang Fangirl. Khayalan, impian, angan-angan yang selalu ada dalam otak seorang Fangirl.
“Siapa kau? Hah! Berani mengaturku, dan ingat! Waktu itu aku sedang mabuk, dan kebetulan kau satu-satunya wanita yang ada didekatku, jadi jangan salah paham!” Kemudian Lay meneguk minuman kaleng yang memabukan itu. Ya aku sih tidak masalah jika kejadian itu terulang lagi, hahaha. Kalau bisa kau mabuk saja Lay selamanya! Aku rela serela-relanya.

Dan benar saja kan, omongannya sudah mulai tidak jelas, membicarakan ini, membicarakan itu, yang pasti dia tidak membicarakan tentangku. Kalau sudah begini mau bagaimana lagi, aku yang tingginya seratus empat puluh enam senti harus memapah dirinya yang tingginya seratus tujuh puluh delapan senti. Aku hanya membayangkan sedang jalan saling merangkul seperti sepasang kekasih, membuat semuanya jadi terasa mudah, padahal tubuhnya berat, ditambah lagi tas perlengkapannya yang penuh dengan barang-barang pribadinya. Ya Tuhan, kenapa cinta begini sekali sih! Tidak masuk di akal.

Tanpa sadar aku memperhatikan wajahnya, walaupun sulit harus mendongak ke atas, tapi sayang untuk dilewatkan.
“Apa? Dasar pendek, mata bulat, pipi tebal, lehermu bisa patah jika kau memperhatikanku terus, aku tahu aku memang tampan maksimal.” Dia mencubit pipi kiriku, tentu dia sedang mabuk.
“Kau ini! Kalau polisi melihat kita entah apa yang akan terjadi.” Aku menghempaskan tangannya kasar, padahal aku ingin disentuhnya.
“Pura-pura saja sedang pacaran.” Kelima jarinya kini terselip di sela-sela rambutku.
“Seperti ini…..” dan dia melakukannya lagi! terasa hangat dan manis. Membuatku sulit untuk melepaskannya, menikmati setiap lumatannya. Mataku terus terpejam, pikiranku kacau, seperti efek mabuk menular terhadapku dari dirinya.
“Emmppphhhah” Aku mendorongnya kuat, sampai ia jatuh tersungkur.
“Akh!” hanya ringisan kesakitan yang keluar dari mulutnya.
“Mian, tapi kau tidak bisa seperti ini, kau yang menyuruhku untuk melupakannya, bahkan aku sudah memperingatkanmu.” Kini aku berjongkok di depannya.
“Apa kau sengaja? Bersikap seperti itu hanya untuk….” Apa yang aku bicarakan ini?! Mana mungkin Lay?
“HAHAHAHA ketahuan ya?!” Tawanya meledak di tengah lapangan basket yang beratapkan awan senja.
“Mwo?” Mataku membulat.
“Ayo bangun pendek.” Dia membersihkan debu yang ada di celananya kemudian berdiri.
“Apa maksudmu? Jadi sebelumnya?” Alisku tak lagi santai.
“Tidak… itu murni karena aku mabuk, tapi… sialan! aku selalu mengingatnya saja, jadi kupikir…”
Wah! Daebak! Apa kan kubilang, perasaanku tidak pernah salah. Kau memang tidak bisa memegang awan itu, tapi yakinlah bahwa kau bisa menembusnya!

Kini kami terduduk berdua di tengah-tengah lapangan basket, menatap langit luas yang mulai gelap. Sungguh sangat kikuk saat ini. Aku tidak tahu harus berkata apa dan kurasa dirinya juga begitu. Aku sadar aku hanyalah fangirl, aku tidak berharap terlalu banyak.
“Ya… kurasa aku harus mengatakannya sekarang, tapi aku takut kau jadi besar kepala, kan aneh jika kepalamu besar tapi tubuhmu pendek.” Aku tidak mengerti apa yang ingin dia katakan.
“Ya… terus saja menghinaku…” Aku berdecak kesal.
“Berhentilah jadi pesuruhku.”

Padahal sore itu cerah, begitu banyak burung berterbangan, tapi kenapa seperti ada halilintar menghantam tepat di jantungku. Aku tahu saat seperti ini akan tiba, dimana dia bosan dan akan membuangku kapan saja sesuka hatinya. Saat kau berhasil menembus awan itu, tapi ternyata sebuah gunung besar yang ada di baliknya, menghancurkan pesawatmu berkeping-keping, membuatnya tidak bisa terbang lagi.
“Baiklah.. aku mengerti, aku sadar aku tidak bisa menjadi pesuruh yang baik, kerjaku juga lambat.” Senyum ketir terpasang di wajahku.
“Itu karena kaki dan tanganmu pendek, makanya kau butuh ini.” Hinanya sambil memberikan sebuah kotak dengan bungkusan bermotif hati merah jambu. Sangat manis untuk pesuruh sepertiku.
“Hadiah perpisahan? Gomawo.” Dengan senang hati kuterima. “Bukan pendek! Kau tidak ingat ini hari ulang tahunmu?” Lay dengan indahnya menoyor kepalaku, membuatku tersadar bahwa aku sudah mempersiapkan sesuatu untuknya.
“Ya ampun, kau mencari informasi tentangku?” Rasa percaya diri mulai meninggi, tanganku sibuk mencari sesuatu di tasku.
“Tentu saja! Ji jika kau punya catatan kriminal, aku dalam bahaya kan? Jadi aku harus tahu segalanya tentangmu!” Jelas dia hanya alasan saja.
“Ini… kita punya tanggal kelahiran yang sama, golongan darah yang sama, zodiak yang sama, semoga kau menyukainya, tidak mahal, tapi cukup bermanfaat.” Seperti mimpi saja bisa bertukar kado seperti ini.
Dia menerimanya dengan wajah yang merah. Apa-apaan dia? Seperti baru pertama kali saja menerima hadiah dari seorang perempuan. Padahal banyak siswi penggermarnya yang selalu memberikan hadiah kepadanya, seakan dia berulang tahun setiap hari.
“Mari kita buka bersama-sama.” Suaranya terdengar sangat lembut dan tulus, sangat berbeda dari biasanya.
Kemudian kami membukanya bersama-sama, terlihat dia sangat senang atas pemberianku. Sebuah handuk kecil bertuliskan namanya. Aku tahu dia sangat suka berolahraga membuatnya sering berkeringat.
“Eh tunggu! Jangan dibuka sekarang!” Dia menghentikan aktifitasku membuka kotak hadiah pemberiannya.
“Katanya buka bersama-sama? Aku akan membukanya sekarang!” Aku tetap melanjutkannya. Lay sialan! jadi ini maksudnya “Kau butuh ini?”, Aku menatapnya tajam.
“Ku pikir obat peninggi itu bisa membantumu.” Lay terdengar merasa bersalah.
“Aku tidak butuh ini, yang aku butuhkan hanya kau!”

CUP!!

Aku tidak peduli lagi apa reaksi yang akan dia berikan kepadaku. Aku mencium bibirnya dengan kilat. Aku sudah bukan pesuruhnya lagi, aku sudah bebas, jadi aku bisa melakukan apa saja tanpa ijin darinya.
“Yak! Apa-apaan kau ini! Kemari kau!” Lengan panjangnya menarikku hingga tubuhku menabrak tubuhnya, membuat kami menjadi dekat.
“Ingat! Aku bukan pesuruhmu lagi! Jadi jangan memerintahku seenaknya ya!” Aku menunjuk hidungnya yang mancung. “Memang! Tapi sekarang kau adalah milikku! Mengerti!” Dengan kesadaran tinggi, tanpa efek mabuk, dia menciumku dengan mesra, kedua tangannya yang panjang berhasil merangkulku ketat, seakan tidak ingin membiarkanku pergi. Setelah semua mimpi buruk itu, kau sadar dan bangun, jika di balik awan itu terdapat suatu pemandangan yang indah dan penuh warna. Kini statusku naik level secara drastis dari pesuruh menjadi “penyemangat”, aku tidak lagi melihatnya di bangku penonton, tapi ikut memainkan bola bundar berwarna oranye di lapangan basket sekolah, tenang, kami tidak mandi bersama kok, hahaha. Lebih tepatnya mengeringkan rambut bersama, lucu sekali. >///< kami juga memakai baju, celana dan sepatu yang sama.
Apa? Baik-baik cerita ini akan ku tutup, aku mengerti perasaan kalian “Fangirl”. Hahaha. Jangan bawa perasaan, ini hanya “Catatan Fangirl” bukan kisah nyata ^▼^.

The End

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s