[LAY BIRTHDAY PROJECT] A Chance

myhome

 

[LAY BIRTHDAY PROJECT] A Chance – Rin

Cast; Zhang Yixing, Shin Rin Hwa.
Genre; Romance, Sad, Angst.
Rating; PG-13
POSTER; BYUNHYUNJI@POSTERCHANNEL

Korea, 7 Oktober 2009

“Hubungan kita berakhir sampai disini.”

Suara pria itu menusuk gendang telinganya. Rin Hwa menoleh, menatap pria itu tak percaya. Tak ia hiraukan angin yang berhembus membelai kulitnya. Ia tertawa. Menertawakan pria itu. Menertawakan apa yang telah mereka lalui dahulu.Menertawakan hal yang dianggapnya lelucon.

“Hei, jangan bercanda.”

Pria itu bergeming. Masih menatapnya dengan tatapan yang sama. Menusuk. Begitu dingin. Tidak seperti YIxing yang ia kenal.

“Kenapa?” tanya Rin Hwa. Air matanya menggenang di pelupuk matanya. Pandangannya menjadi blur. Ia tak bisa melihat pria itu dengan benar. Namun pria itu tak kunjung menjawab. Membuatnya kian bimbang. Tapi kenapa?.

Ah, mungkin Yixing bosan dengannya.

Rin Hwa beringsut mengambil tasnya. Ia beranjak berdiri, menatap sekejap pria itu. “Aku mengerti Zhang Yixing. Kita tidak perlu bertemu lagi,” ucap Rin Hwa lantas melenggang pergi. Ia menyesal pernah menyukai pria itu. Pernah memberikan cintanya untuk pria itu. Sangat menyesal bila akhirnya hanya perpisahan tanpa alasan, tanpa kejelasan apa yang membuat Yixing begini padanya. Tanpa adanya penjelasan.

Ia merasa bodoh.

Korea, 28 September 2016

Masa Lalu adalah paradoks. Zhang Yixing meyakini hal itu. 7 tahun yang lalu, ia pergi meninggalkan Korea ke China bersama keluarganya. Meninggalkan segala hal yang ia sukai disini. 3 hal yang membuat masa lalunya menjadi paradoks; Rin Hwa, Pantai, dan 7 oktober. Zhang Yixing tidak pernah bisa melupakan ketiga hal itu walau telah bertahun-tahun lamanya. Shin Rin Hwa, masih menjadi salah satu dari sekian banyak hal penting dalam paradoks kehidupannya.

Gluk.

Yixing meneguk cairan bening di dalam gelasnya. Mendesah lega kala cairan dingin itu melepas dahaganya.

“Apa rencanamu hari ini?”

Suara serak khas bangun tidur itu sukses membuat Yixing menoleh pada asal suara.Ia tersenyum miring kala melihat gerakan pria berambut coklat eboni itu. Jemari lentik pria itu menggenggam gelas, menoleh singkat padanya.

“Jangan menatapku seperti itu. Kau terlihat seperti akan jatuh cinta padaku,” ujar Byun Baekhyun kemudian meneguk cairan bening dalam gelasnya.

Yixing terkekeh. “Kalaupun kau seorang wanita, aku tidak akan menyukaimu.” Baekhyun mengedikkan bahunya. “Terserah.”

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” desak Baekhyun.

“Aku ingin menemui Rin Hwa.” Baekhyun mengangkat salah satu alisnya. “Yang kuingat, kau sudah putus dengannya,” ujar Baekhyun, bibir bawahnya maju 2 sentimeter. Yixing memukul pelan lengan pria itu.

“Kau benar. Tapi kau tahu ‘kan, selalu ada kesempatan kedua. Aku akan menemuinya. Doakan aku Baek.”

Yixing mendapat banyak informasi dari teman lamanya bahwa Rin Hwa bekerja di suatu perusahaan. Jadi ia menemui Rin Hwa di tempat wanita itu bekerja. Wanita itu menjadi manager marketing perusahaan.

Ia merasakan jantung berdebar kencang kala melihat wanita yang sangat dikenalnya dalam balutan kemeja warna toska yang dilapisi kardigan warna hitam. Wanita itu masih cantik. Debaran jantungnya tak kunjung berhenti, ia merasa seperti jatuh hati lagi. Kupu-kupu berterbangan dalam perutnya.

Ia gugup setengah mati kala wanita itu melihat ke arahnya. Alisnya mengkerut kebingungan namun melangkah pasti ke arahnya membuat Yixing gelagapan. Saat wanita itu tepat berada di hadapannya, Yixing tersenyum miring.

“Senang bertemu denganmu lagi Rin Hwa-ya.”

Kedua atensi wanita itu membola, ia tampak terkejut. “Zhang Yixing?”.

Dua mug berjejer rapi di atas meja. Yixing sama sekali tidak melepas pandangannya dari Shin Rin Hwa. Wanita itu sibuk menatap hujan yang menetes di permukaan jendela. Rin Hwa menoleh ke arahnya, lantas tersenyum kecil.

“Lama sekali kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?” tanya Rin Hwa. Yixing mengerti, ada perubahan pada wanita itu. Menjaga jarak, berkata dengan formal. Ia tahu, wanita itu berubah.

Yixing menggumam kecil. “Yahh, aku baik, seperti yang kau lihat. Tapi aku kesepian tanpamu.” Wanita itu tertawa. “Begitukah? Seharusnya kau tidak meninggalkanku sepihak pada saat itu. Lihat, sekarang kau kesepian,” ujar Rin Hwa kemudian terkekeh kecil.

Yixing tersenyum. Ia yakin, Rin Hwa juga menunggunya.

“Rin Hwa-ya, boleh aku mendapat kesempatan kedua bersamamu?” lirih Yixing. Wanita melunturkan senyumnya, menatap lekat kedua atensi Yixing. Tiba-tiba saja, air mata telah menggenang di pelupuk mata wanita itu.

“Kau, aku menunggumu. Aku menunggumu mengatakan alasan mengapa kau ingin mengakhiri hubungan kita. Aku selalu menunggu. Tapi yang kudapat, kau pergi. Meninggalkanku tanpa alasan. Kau pikir, mudah untukku menerima hal itu? Aku tersiksa. Lalu saat kita bertemu setelah bertahun-tahun lamanya, kau dengan mudah meminta kesempatan kedua bersamaku? Kau pikir itu logis?”

Yixing bungkam. Ia menatap mug berisi kopi yang telah dingin dihembus air conditioner ruangan. Hujan kian menderas. Suasana semakin tegang, namun Yixing masih bungkam. Wanita itu mengusap air matanya.

“Aku sudah bertunangan.”

Bak disambar petir, Yixing merasa dihujam belati tajam. Ia menatap wanita di hadapannya dengan pandangan tak percaya.

“Kau…”

“Aku sudah bertunangan Zhang Yixing. Aku sudah bahagia. Cukup bagiku selama ini menunggumu. Jangan berharap apa-apa lagi dariku.”

Yixing menatap nanar wanita itu. Rin Hwa menggasak tas jinjingnya, mengeluarkan sebuah undangan dengan ukiran emas dan merah marun.

“Ini undangan pernikahanku. Aku ingin kau datang.”

Yixing menatap undangan dihadapannya nanar, ia bungkam. Bahkan ketika wanita itu meninggalkannya tanpa meminum kopi yang telah ia pesan. Di balik jendela, ia bisa melihat Rin Hwa bersama lelaki lain dalam satu payung. Senyum wanita itu lebar sekali.

Lantas, Yixing tersenyum getir.

“Tidak ada kesempatan kedua, sekali kau menghancurkan kesempatanmu. Maka kau tidak akan pernah mendapat kesempatan lain. Semoga bahagia Shin Rin Hwa.”

Yixing menyabet undangan tersebut, beranjak dari tempatnya, meninggalkan dua cangkir kopi yang tak tersentuh.

-end

Rin note’eu;

Berharap sekali fanfiction ini layak baca :’v. Mungkin sedikit retjeh tapi ini adanya.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s