[LAY BIRTHDAY PROJECT] 28TH DECEMBER

myhome

 

[LAY BIRTHDAY PROJECT] 28TH DECEMBER – JASONB

ZHANG YIXING & AHN SEUL BI || SAD, ROMANCE || T

.

.

.

Zhang Yixing Side

Cinta pertama itu seperti apa? Aku bahkan aku bahkan tak pernah merasakannya. Jika kata Baekhyun, rasanya seperti kupu-kupu berterbangan di perutmu. Pepatah apa itu? Logikanya mana mungkin ada kupu-kupu yang bisa terbang di perut. Ah, lupakan. Ini hanya sekedar lelucon – penghibur semata – saat perjalanan dari rumah nenek di Ilsan ke Seoul – sekedar menghilangkan rasa penatku.

Netraku menatap langit malam yang diselubungi kabut hitam tanpa bulan maupun bintang. Sebenarnya aku lelah, rasanya ingin menutup mata sekedar lima menit. Sesuatu yang menawan – mampu mengubah atensiku – turun dari langit. Cukup aneh, tapi aku terpesona padanya untuk pertama kali. Jantungku berdetak pada keadaan yang tidak normal – begitu cepat – rasanya darahku berdesir. Aku membuka kaca mobil lantas menengadah merasakan dinginnya sentuhannya untuk pertama kali.

Ahn Seulbi – nama yang indah untuknya – yang menemaniku setiap tanggal 28 Desember dimana aku terpesona akan keindahannya. Aku tak pernah berbicara padanya, kami hanya saling menatap, saling merasakan – lebih tepatnya diriku. Aku terhanyut oleh dirinya, ya, ia cantik sangat cantik tanpa cacat sedikitpun.

.

.

.

Ini sudah satu tahun semenjak pertemuan pertama kami. Ia – Seulbi – tak datang sejak satu tahun lalu. Ia mungkin melupakanku, ia mungkin lupa tanggal 28 adalah pertemuan kami. Walau kami tak saling berbicara, setidaknya ia menyambangiku – membiarkan aku menyalurkan rasa rinduku melalui sentuhan lembutnya.

Meski demikian, terkadang ia datang saat aku tak menyadarinya. Rasanya seperti ia menyebarkan virus rindu padaku – membuatku harus menunggu satu tahun lagi untuk menyapanya. Seperti malam ini, di awal tahun. Ia datang, namun hanya serpihan-serpihan yang ia berikan. Ia tidak menyapaku, netraku hanya menatapnya – yang dibatasi kaca bening berbingkai – jatuh mengenai tanah pekarangan rumahku.

“Aku merindukanmu, Seulbi.” gumamku pelan menatap serpihan yang ia jatuhkan – sekedar memberitahu bahwa ia masih mengingatku – kala tubuhku merebah pada ranjang.

Serpihanya seolah mengatakan padaku – “Tidurlah malam ini, aku berjanji akan datang dan menyapamu tahun depan tepat tanggal 28 Desember.” – sesaat kala aku membayangkan visualisasinya.

.

.

.

Kehidupanku berjalan senormal seperti kebanyakan orang. Aku masih merindukannya hingga setiap malam aku terjaga – lebih parahnya ia muncul dalam mimpiku dengan visualisasinya.

Ini menyiksaku – hati ini terus menerus berteriak merindukannya. Masih dipertengahan tahun – yang artinya ia tak akan memberi tanda kedatanganya.

Terkadang terbesit dalam pikiranku untuk beralih darinya, namun hati ini seolah menolak keras. Aku mungkin gila – ya, aku mengakuinya. Hanya saja, aku tidak bisa menolak perasaanku. Aku ingin berbicara dengannya – mengatakan perasaanku padanya – untuk menyudahi cinta tak nyata ini, sebab aku tak ingin larut dalam fantasi dan delusi yang kuciptakan sendiri.

Aku tengah termenung menatap pemandangan kota Seoul yang sedikit padat. Jam-jam kerja – menghambat pulangku – memang paling menyebalkan. Jika situasinya seperti ini, setidaknya perlu waktu lima belas menit untuk tiba di cafe milik Baekhyun.

Aku mulai resah, mobil di depan tak bergerak sama sekali. Jika terus seperti ini, aku lebih baik turun lantas berlari dengan jarak tujuh kilometer. Anak itu tidak puas jika sehari saja tak mengusikku.

Beralih dari konversi kecil dengan otakku, aku memilih turun dari bus. Aku berlari tergesa-gesa, membelah kerumunan orang di depan. Dua puluh menit setelahnya, diriku telah berdiritepat di depan cafe miliknya – yang memang ramai dijam-jam istirahat kerja.

“Byun Baekhyun, tak bisakah kau berhenti mengusikku sehari saja?” protesku kala langkahku beradu dengan lantai putih porselen cafe-nya.

Ia menoleh – melayani pelanggan – menampakan senyum khas miliknya padaku. Ia menyuruhku duduk sembari menunggunya selesai. Aku menduduki bangku kosong yang tak berpenghuni – mengetuk pelan meja di depanku – di sebelah kaca besar yang menyuguhkan keadaan luar.

Ia berjalan mendekati – yang kuketahui dari ekor mataku – membawa secup coklat dingin ditangannya. Coklatnya ia letakkan di depanku lantas ia duduk menghadap padaku.

“Kau pikir aku bisa setiap hari datang ke sini?” ujarku kala menatapnya.

Ia melontarkan senyumnya, “Maafkan aku, kau tahu’kan aku butuh setidaknya satu teman yang datang ke sini sekedar mengobrol denganku.”

Nafasku berderu pelan, “Bukannya, aku tidak ingin datang, hanya saja jadwal kuliahku terlalu padat hingga aku tidak bisa membagi waktu.”

“Lupakan, kita bahas hal lain saja.” ia menyudahi pertikaian kecil kami. “Kau masih belum menemukan kekasih?”

Netraku membulat, pertanyaan yang selalu ku hindari mendadak berhasil mengalihkan atensiku pada pertikaian kami. “Belum,” aku menggeleng menyahuti pertanyaannya.

“Aish…” ia menepuk pundakku keras, “Kau…lelaki berusia 21 tahun yang belum punya kekasih selama hidupnya.” ujarnya yang lebih bisa disebut sebagai ejekan bagiku. “Bagaimana jika kukenalkan pada seseorang?” tawarnya cukup membuatku semakin mengalihkan atensiku.

“Hentikan Baekhyun, ku pikir aku bisa mencari sendiri,” tolakku halus. Aku menatap jam tangan yang tersemat di tanganku, sepuluh menit lagi aku harus sudah sampai di rumah. “Aku harus segera pulang. Aku harus mengirim barang ke rumah nenek di Ilsan.”

Ia mencekal lenganku, “Bawa coklatnya, kau bahkan tidak menyentuhnya sama sekali.”

Aku terkekeh, “Kau yang menghalangiku meminumnya.” lalu meraih secup coklat di meja. “Terima kasih coklatnya.” ujarku kemudian meninggalkan cafe.

.

.

.

Aku terjaga kembali, Seulbi berjanji akan datang. Sudah hampir jam dua belas malam, namun ia belum menampakan keberadaanya. Mungkinkah ia lupa? Mungkinkah ia mengingkari janjinya?

Alih-alih tak mempercayainya aku yakin ia pasti datang. Netraku terus-terusan menatap dari jendela yang kacanya kubuka untuk sekedar menjulurkan tangan merasakan sentuhannya.

Sepuluh menit berikutnya, kurasakan tanganku mulai merakan sentuhannya. Ia datang, batinku – yang membuatku mengulum senyum.

“Kau tahu aku merindukanmu, ‘kan?” tanyaku menggenggam tanganya.

“Aku tahu, Yixing. Kau pasti sangat merindukanku, maaf.” ia mengelus pelan tanganku – menenangkan.

“Aku ingin mengatakan sesuatu malam ini,” ujarku mengeratkan genggamanku pada tangannya.

“Biarkan aku berbicara lebih dulu, Yixing.” ia menyela. Aku mengangguk, “Kita harus berpisah…setelah salju terakhir turun, aku tidak akan datang lagi. Maafkan aku, karena datang sesaat padamu lalu menghilang selama – mungkin – darimu.”

Aku ingin menangis, namun kutahan. Kau benar Seulbi. Tak seharusnya kita bertemu – lebih tepatnya aku yang menempatkanmu dalam hatiku. Kau hanyalah delusiku, Ahn Seulbi. Sebab kau tak pernah nyata di dunia ini.

Ia kemudian pergi terbawa angin, sepersekian detik salju di tanggal 28 Desember hilang – tak akan datang lagi. Aku tersenyum – bahagia dan sedih – menatap hitamnya malam yang menyelimuti. Karena aku orang gila yang jatuh cinta pada salju yang menganggapnya sebagai sesuatu yang nyata.

.

.

.

END

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s