[Lay Birthday Project] The Princess of Pierrepont: Zhang’s Tragedy

20160816_233044

Twelveblossom (Twelveblossom.wordpress.com | Lay & Lianna Park (OC) | Hurt, Romance, and Fantasy | PG 15 | Series: The Pierrepont | Line@: @NYC8880L

“They never know a completely diffrent world, only we can feel it.” ―They Never Know. EXO

-oOo-

Gadis itu mengenakan jubah hitam, ia pun memakai tudung untuk menyembunyikan paras. Ada gaun putih khas bangsawan Pierrepont yang tersembunyi di balik penyamaran. Jarum beracun sepanjang dua puluh sentimeter juga sengaja ia selipkan di balik lengan baju.

Tungkainya terus berayun menuju kegelapan yang terdalam. Gadis itu bahkan enggan mengakui rasa takut. Tubuh berusia sembilan belas tahunnya baru berhenti, saat ia sampai pada anak tangga terakhir yang mengantarkan dirinya ke penjara bawah tanah. Ada sekitar belasan tahanan di sana dan puluhan prajurit penjaga.

Benak si gadis terus menghitung berapa prajurit yang mampu ia lumpuhkan. Tangannya meraih lima pisau kecil yang sengaja disembunyikan pada lekukan gaun. Ia memosisikan kelima pisau itu di sela jari-jari, lalu kembali berjalan.

Si gadis pemberani pun melemparkan pisau pada lima penjaga yang mendekat. Dia tidak berniat membunuh. Ia hanya ingin melumpuhkan. Pisau yang menancap pada bahu kelima penjaga sudah diberi obat bius racikannya.

Netranya menatap tajam tubuh penjaga yang berbaring tak sadarkan diri. Ia mengambil pedang mereka, kemudian berjalan lagi ke arah paling berbahaya. Ada sekitar lima belas penjaga lagi yang berpatroli. Si gadis mampu melumpuhkan mereka dengan pisau lain yang dilapisi ramuan.

“Siapa kau?” tanya salah satu penjaga yang berdiri di depan pintu sel.

Gadis itu tak lantas menjawab. Matanya mencuri pandang pada tahanan yang berada di kurungan, seorang pria berpakaian hitam tengah meringkuk. Ia yakin pemuda yang kepalanya ditutup oleh kain―sehingga tidak dapat melihat daerah sekitar―sedang menderita sebab dia bisa melihat noda darah yang merembes dari tubuh tahanan. Hatinya mendadak perih mendapati kenyataan bahwa semua karena dirinya.

“Tuan Putri Lianna,” ucap penjaga tersebut dengan hormat, ketika si gadis melepas tudung. “Apa yang membuat Anda kemari?” tanyanya sopan.

“Aku ingin bicara dengannya,” ujar Lianna tegas.

“Paduka Raja menitahkan agar tak ada satu pun orang yang menemui Panglima―“

Ucapan sang penjaga terhenti, akibat bidikan jarum Lianna yang mengenai organ vital mereka. Lianna melewati penjaga yang terpaksa ia bunuh kali ini. Gadis itu tanpa penyesalan, menggeledah tubuh mereka untuk mencari kunci.

Lianna masuk ke dalam sel, setelah menemukan kunci. Ia menggigit bibir, ketika melepas kain yang membekap wajah si pemuda. Tubuh Lianna lemas hingga bersimpuh di samping pria itu, saat mengetahui seberapa parah sang pujaan hati terluka.

“Lay,” bisik Lianna. Tuan Putri Pierrepont mulai tersedu. Ia memeluk tahanan itu, seakan bisa menyembuhkan seluruh sakit yang terlanjur menjerat.

Lay pun mulai membuka mata, ia terkejut sekaligus bersyukur dapat melihat Lianna, meskipun hidupnya kini berada di ujung tanduk.

Lay ialah panglima muda yang berbakat. Sebelumnya, dia mengemban tugas untuk menjaga putri bungsu Pierrepont. Kendati demikian, kedekatan mereka setiap hari memunculkan rasa yang tidak biasa. Andai saja gadis yang dicintainya bukan tuan putri negeri Pierrepont, tentunya ia bisa mendapatkan kekasihnya dengan mudah. Namun, ia melandaskan kasihnya pada seseorang yang tak tersentuh. Akibat dari gelora perasaan tidak sampai, mendorongnya berkhianat.

“Yang Mulia, apa yang Anda lakukan?” ucap Lay. Ia menghapus air mata yang menggenang di raut gadisnya. “Anda tidak seharusnya berada di sini,” imbuhnya sembari menerima pelukan dari Lianna.

“Kau harus lari dari sini. Semua bukti memberatkanmu, panglima lain yang mengincar jabatanmu justru mengimbuhkan berbagai perkataan yang tak patut.” Si gadis berusaha mengendalikan diri. Ia membekap isakan agar tak terlalu nyaring. “Kau dijatuhi hukuman mati. Aku mohon, larilah. Aku akan membantumu,” katanya.

Lay menjungkitkan ujung bibir. Pemuda bersurai hitam pun terbatuk darah, sebelum memulai perkataannya. “Saya memang pengkhianat, Yang Mulia. Saya yang memimpin pemberontakan di Sutherland supaya bisa membangun kerajaan baru. Sebab itu satu-satunya jalan agar saya layak untuk Anda.”

“Kau melakukan kesalahan besar―“

“―Karena itu saya harus dihukum,” sela Lay. Manik gelap Lay menatap lekat mayat penjaga yang dihabisi oleh sang putri. “Anda dapat dituduh sebagai pengkhianat juga. Anda membunuh tiga prajurit―“

“―Aku tidak peduli.

Lay menatap si gadis. Ia mampu menyelami pikiran Lianna hanya dengan sorot mata saja. Banyak duka yang tersembunyi di sana. Akan tetapi, Lay enggan membuat Lianna menderita sepertinya. “Tapi, saya peduli. Anda harus hidup dengan baik, melupakan semua hal mengenai kita.” Lay menyelesaikan ucapannya sembari berusaha berdiri.

“Aku tidak akan sanggup melupakanmu,” ucap Lianna pelan.

“Anda pasti mampu karena Lianna Park selalu berhasil melakukan segala hal apabila dia benar-benar ingin,” bujuk Lay. Ia memerhatikan pedang prajurit Pierrepont yang tadi dirampas oleh Lianna.

Si gadis hanya tertegun, saat melihat Lay meraih pedang di sampingnya. Lalu, Lay mengulurkan tangan agar Lianna berkenan berdiri di hadapannya.

Lianna menerima tautan jari-jari mereka. “Aku tidak akan bisa hidup jika melihatmu seperti ini,” bisik Lianna.

Lay tersenyum miring. Dia menarik pedang dari sarung. Ia mengarahkan benda itu pada Lianna. “Anda tidak akan pernah melihat saya lagi,” gumam sang panglima sendu. Lay mengayunkan pedang untuk menghunus lengan Lianna yang sontak membuat si gadis tersungkur.

“Lay!” pekik Lianna. Gadis itu memegangi lengannya yang mulai mengucurkan darah. Goresannya dalam, pandangan Lianna mulai meremang. Dia tidak mengira bahwa Lay akan menyakitinya.

Tak berselang lama, si pemuda bersurai perunggu membersihkan percikan darah Lianna yang tertinggal di badan pedang. Dia menutup sepasang matanya. Perlahan-lahan Lay mengangkat pedang hingga ujungnya yang runcing mengarah tepat ke jantung pemuda itu.

“Dengarkan saya, Yang Mulia. Saat penjaga datang, Anda harus bersaksi bahwa saya yang melukai Anda karena Anda mendapati saya hendak melarikan diri. Anda juga harus berkata bahwa saya yang membunuh para prajurit agar tindakan Tuan Putri tidak dikategorikan sebagai pengkhianatan. Ini permintaan saya.” Bersamaan dengan berakhirnya perkataannya, Lay menusuk jantungnya sendiri dengan pedang. Lay lantas terkulai. Lagi-lagi pemuda itu memuntahkan darah.

“Lay, apa yang kau lakukan? Kenapa kau bertindak sebodoh ini?” cecar Lianna, tertatih menyeret tubuhnya mendekati pria yang dicintainya.

Lay berusaha membasuh raut si gadis yang berlinang air mata. Ia sempat berbisik lembut, melupakan bahasa formal yang harus ia lantunkan pada seorang putri. “Aku mencintaimu, Lianna Park. Berjanjilah untuk hidup bahagia,” tutup Lay sebelum menghembuskan napas terakhirnya.

-oOo- 

a/n: HUAAA LAY ULANG TAHUN. Ini sebenernya bagian seri dari The Pierrepont. Setelah sebelumnya cerita soal si Putri Sulung (The Princess of Pierrepont: Rebecca Park), nah kali ini beranjak ke Putri Bungsu Pierrepont hehehe. Ini masih berseri ya. Seharusnya aku nggak ngepost ini dulu, tapi ini bertepatan dengan ultahnya Lay.

13 thoughts on “[Lay Birthday Project] The Princess of Pierrepont: Zhang’s Tragedy

  1. Wew cerita romance beda status ini polanya ga biasa ya haha aku suka pola berpikirnya lay yg pingin bikin negara sendiri biar bisa setara sama Putri Lianna * dont you know how it feels ketika nyebut namamu sendiri yg jadi oc ff kak hahaha* tapi akhirnya lay mati huhuhu gitu amat.
    Tapi yah, entahlah scene matinya kurang greget…
    Gpp, bagus kok. Aku juga suka perubahan sikap Lianna yg dingin waktu dia bunuh2 prajurit dan berubah jd manis waktu di hadapan lay
    Keep writing!
    PS aku pingin baca punya Rebecca, itu sama siapa ya btw?

  2. Hiksssss. . . Panjang umur lay. .. seharusnya kamu panjang umur di hari ultah ini tapi kenapa laynyaaa. . . Huweeeee
    Semoga si lay gak mati beneran yaa. . . Ya kan????/ngarep/
    Met ultah buat lay prince of changsa. Ogep boy. Unicorn Lay. Zhang Yixing!!!!!

  3. wew keren~ aku gak nemuin typo sama sekali, bahasanya juga rapi, nah jadi termanjakan kan yg baca hehe 🙂 eh apakah ini settingnya perancis zaman dulu? (nebak aja sebenernya dr nama pierre /wks) daan awal baca judul kupikir ini ada hubungan seperti kisahnya Jonathan-Sarah Pierrepont wkwk tp sepertinya bukan =,=a duh, aku jdi penasaran sama seri pierrepont lainnya 😀 btw, ini ff lay BD project kedua yg aku baca dan entah kenapa semuanya berakhir kematian….Ching, sabar ya :3 yup, keep writing~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s