[LAY BIRTHDAY PROJECT] Just One Night ― ARRYLEA’s VERHAAL

jon

A fan fiction with,
Slice of Life
Staring by Zhang Yixing’s of EXO and Fang Meilin as Author’s OC
Author’s Point of View
PG-15 for rating & Oneshot for length

DISCLAIMER

Cerita fan fiksi ini murni milik saya yang kebetulan sedang lancar berimajinasi. Zhang Yixing miliknya sendiri, disini saya hanya meminjam namanya. Ini hanyalah sebuah fan fiksi, bukan untuk laba fan work. Jika ada kesamaan nama, cerita, waktu dan tempat harap maklum karena faktor ketidak sengajaan. Segala upaya penjiplakan harap dipikir dua kali karena ide tidak muncul sembarang dan semudah copy-paste. Terimakasih.

2016© ARRYLEA’s Presents All Rights Reserved ―

SUMMARY

Haruskah menyesal sudah menolongnya?

⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛ Selamat Membaca! ⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛

o

JUST ONE NIGHT
ARRYLEA’S

o

Malam sudah mulai memasuki waktu tenggatnya. Sebentar lagi pukul duabelas akan menghiasi setiap pemilik jam. Yang berarti waktunya untuk pulang dan menutup café. Sebagai karyawan teladan yang tentunya sudah berbaik hati dan rela menukar jadwal shift-nya dengan Luhan karena masalah keluarga, Yixing terpaksa menunggu selama enam jam dari waktu seharusnya ia bekerja.

Sebelum benar-benar menutup café, Yixing sedang asyik bermain dengan gelombang sabun dan gelas-piring di atas wastafel, plus dengan kucuran air dari kran yang mengalir hangat. Beijing sudah mulai memasuki musim panas, beberapa kran air jadi ikut-ikutan menghangat karena panasnya suhu dan terangnya sinar matahari.

Kadang kala Yixing terkekeh, kenapa gelombang sabun ini jadi terlihat lucu baginya?

Ah mungkin Yixing kena demam musim panas.

“Sudah selesai belum, Yi?” suara Yifan terdengar di balik tirai penghubung dapur dengan table bar yang biasa digunakan bartender untuk memulai permainan mixology-nya.

Yixing menolehkan kepala sedikit, tangannya masih betah di dalam wastafel, sesekali terdengar decitan hasil percikan sabun dan air darinya, lagi-lagi ia tertawa sebelum menjawab.

“Sebentar lagi, Ge.”

Yifan yang penasaran dengan lamanya seorang Zhang Yixing mencuci piring, memajukan langkah kakinya mendekat dan kemudian berkacak pinggang, “Astaga, apa yang kau lakukan satu jam yang lalu sebenarnya, Yi? Kau benar-benar mencuci piring atau tidak, sih?” seru Yifan sedikit kesal.

Laki-laki tinggi tegap itu tadinya hendak menutup café, tapi mendadak tidak jadi gara-gara menunggu Yixing menyelesaikan urusannya dengan gelas dan piring kotor. Pasalnya ada beberapa barang yang harus di cek ulang untuk besok dan Yifan tak tahu menahu urusan store keeper, makanya ia menunggu Yixing dulu.

Tapi yang ditungguinya malah berbuat konyol. Memainkan gelembung sabun tanpa henti sampai bak wastafel penuh karenanya. Terkadang Yifan ingin mengumpat dan menoyor kepala laki-laki ber-marga Zhang itu.

“Aku betulan mencuci piring, Ge. Tidakkah kau lihat aku sedang apa?” todong Yixing.

Yifan mengerjapkan matanya berkali-kali tak percaya, apa yang dilakukan Yixing benar-benar jauh dari usianya yang asli.

“Tapi ini…, ah sudahlah! Biar aku saja yang mencuci. Kau ke gudang saja mengecek barang untuk besok. Tahu begini, dari tadi aku yang cuci piring!” Yifan menggeser posisi Yixing yang masih anteng di depan wastafel dengan paksa.

Tapi Yixing enggan bergerak, Yifan geram. “Hey! Yixing! Jangan membuatku marah! Aku sudah mengantuk, nih!”

“Sebentar dulu, aku mau cuci tangan. Sabar sedikit kenapa….” Balas Yixing kalem kemudian mencuci tangannya.

Yifan malu sendiri, ia diburu-burui rasa kantuk yang tak jelas begini.

Setelah selesai, Yixing langsung bergegas meninggalkan Yifan dengan cucian kotor dan wastafel penuh gelombang sabun menyenangkan itu. Menuju gedung belakang lewat jalur depan.

Yixing berjalan menuju counter dekat table bar, keluar dari jarak aman staff only. Sambil bersiul ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana yang sedikit tertutup celemek. Matanya menyipit ketika menemukan sosok yang seharusnya tidak di sini. Yixing langsung menghentikan langkahnya.

Hantu?

Bukan.

Itu orang.

Yixing semakin menyipitkan lagi kelopak matanya, memastikan.

Baiklah, ia menyerah. Kenapa tidak mendekatinya saja? Yixing yakin itu bukan hantu. Lagi pula café ini tidak pernah ada sejarahnya dihuni hantu, apalagi hantu ini seorang perempuan, cantik pula.

Sekali lagi ia melangkahkan kakinya, kali ini beda tujuan. Menuju pojok ruangan yang sedikit err–, berantakan.

Yixing ingin mendumal kala melihat keadaan meja nomor duapuluh yang dihuni gadis itu. Apa yang dilakukan gadis ini sampai-sampai membuat kekacauan seperti HULK mengamuk?

Ia mematung, melipat kedua tangannya di depan dada. Berdeham sedikit untuk menyadarkan si gadis yang kelihatannya sedang melamun. Apa dia sakit? Atau mungkin belum makan dan kelaparan? Tapi dilihat dari mejanya, ada tujuh piring tertumpuk, dua gelas tinggi, satu gelas pendek untuk Huangjiu1 dan tentu saja satu botol Huangjiu-nya.

Selera makanmu buruk sekali, nona. Makan tujuh piring itu bisa mengaruh pada berat badanmu. Ditambah lagi kau minum sendirian, gadis malang.’ Gumam Yixing dalam hati.

Tadinya Yixing berniat untuk memarahi, tapi melihat botol yang memang dijual di sini tergeletak di sana, ia urung. Pasalnya, tidak semua warga China suka minum, biasanya mereka akan minum di waktu-waktu tertentu, semacam perayaan dan hari besar. Tapi kalau ditilik lagi, gadis ini sendirian, merayakan ulang tahun mana mungkin, jadi Yixing asumsikan saja, gadis itu sedang galau.

Lama Yixing menatap si gadis yang tiba-tiba saja tertidur sambil duduk, kepalanya menunduk ke bawah terkantuk-kantuk. Sesekali ia melenggakan kepalanya ke atas, kemudian jatuh lagi. Kadang juga mengigau hal tidak-tidak. Setelah gelombang sabun, sekarang mainan baru Yixing untuk ditertawakan berganti, seorang gadis yang sedang mabuk.

“Sudah selesai mengecek barangnya belum? Kenapa kau ma—hey! Aku sudah selesai cuci piring, kenapa jadi tambah lagi cucian kotornya?!” Yifan lagi-lagi mengumpat. Dia baru saja selesai dari dapur dan mendekati Yixing yang mematung memandang si gadis.

Hari ini bukan hari yang baik untukmu, Wu Yifan.

“Kasihan dia, Ge.” Tutur Yixing polos.

Yifan berdecak, matanya sudah merah menahan kantuk. Ia melirik jam yang tertempel di dinding café. Pukul duabelas lebih limabelas menit. Oke, waktunya menutup café jadi terhambat gara-gara Yixing. Dan parahnya masih ada pelanggan di sini. Yifan tak kuasa harus apa lagi.

“Kenapa barusan kau tidak bawa sisa piring yang ini juga, Yi?” tanya Yifan mencoba untuk sesabar mungkin. Masalahnya tetap pada cuci piring, tak merasa empati sedikit pun pada si gadis yang sudah tak berdaya.

“Aku tidak tahu. Yang bawa piring-piring itu ‘kan Tao. Sedari tadi juga aku di belakang counter.” Yixing membela diri. Kali ini mengalihkan tatapannya pada Yifan.

Pasrah, Yifan menggaruk kepalanya. Dengan terpaksa ia membereskan satu-satunya meja yang masih berantakan. Kemudian kembali ke belakang counter, mencuci piring.

Yixing ikut membantu, mengambil botol Huangjiu dan gelasnya, dan beberapa piring untuk meringankan beban yang dibawa Yifan. Dan berlaju mengikuti sang Gege ke belakang counter.

 

 

Ge, sudah jam satu lewat lima.” Peringat Yixing.

Mereka hanya tinggal berdua sejak Luhan masuk di shift pagi dan Tao yang pulang lebih dulu dari jam seharusnya tutup. Beberapa karyawan yang lain juga sudah pulang sejak jam sebelas.

Shift malam memang Yifan yang pegang, makanya ia sudah biasa menutup café itu sendiri. Kadang ditemani Luhan. Sayangnya kali ini ia ditemani Yixing yang…, ah sudahlah, mungkin ini efek terlalu lelah sampai-sampai ingin marah-marah terus pada laki-laki berlesung pipit itu.

Maafkan aku, Yi. Aku mengantuk.’ Batin Yifan.

Ge, bagaimana ini?” Yixing menyadarkan Yifan yang sudah hampir melepaskan seluruh nyawanya masuk ke dalam mimpi.

Gelagapan, Yifan hampir terjatuh dari keseimbangan kakinya. Menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian berbalik menghadap wastafel yang ada di belakangnya. Mencuci muka.

“Kita harus bagaimana, Ge? Kalau begini kita tidak bisa pulang.” Seru Yixing—lagi.

Yifan menghela nafasnya, Yixing sedikit bawel ya ternyata.

“Diam dulu sebentar, Yi. Aku mengantuk, demi Tuhan. Coba kau tanya saja sesuatu padanya, biasanya orang mabuk itu bicara jujur. Siapa tahu dia membawamu ke rumahnya untuk diantar pulang.” Usul Yifan.

Yixing diam, mencerna. Kemudian eskpresinya mendadak berubah, takut dan terkejut.

“Aku yang mengantarnya?!”

“Tidak, Yi—astaga. Berdua denganku. Aku bawa mobil.”

Merasa lega, Yixing mengangguk-anggukkan kepalanya. Setidaknya ia tidak dibebani oleh gadis mabuk itu sendirian.

“T-tapi, Ge. Tadi bilang kau mengantuk, jangan menyetir mobil kalau begitu.” Lanjut Yixing lagi.

Yifan menggeleng, “Tidak apa-apa. Aku sudah lumayan segar, kok, Yi. Sudah sana dekati gadis itu, tanya di mana rumahnya!”

Yixing menatap sekali lagi Gege-nya, kemudian mengangguk mantap. Seolah-olah ia adalah volunteer terakhir sebagai satu-satunya harapan. Ditambah ekspresi Yifan yang meyakinkan bahwa memang Yixing-lah harapan terakhir.

Dengan bangga, ia segera bergegas keluar dari dapur dan mendekat menuju tempat kejadian perkara. Menelan ludahnya sedikit sebelum meyakinkan diri mampu mengatasi seorang gadis mabuk.

Lagipula ia pikir pasti akan terlihat mudah, gadis itu pasti sedang membual atau berceloteh tidak jelas tentang masalahnya. Pasti itu.

“P-permisi…,” sahut Yixing sopan. Well, dia masih bisa saja bertingkah sopan di hadapan orang mabuk. Konyol sekali.

Yixing kemudian duduk di samping si gadis, menggoyangkan sedikit collarbone gadis itu untuk sekedar memastikan keadaan. Tapi si gadis refleks mengelak.

“Jangan sentuh!” ucapnya.

Tertohok, Yixing salah tingkah. Sebisa mungkin bersikap seolah-olah ini wajar.

“Anu, nona, café kami akan segera ditutup. Jadi di mana rumahmu? Biar aku antar.” Tawar Yixing.

Tidak menjawab seperti sebelumnya, gadis itu malah menolehkan kepalanya, menatap sosok Zhang Yixing di sampingnya penuh kekesalan.

Yixing taluk. Kenapa ini tak semudah dugaannya.

Belum, ini belum seberapa. Ini baru awal percobaan, Yixing. Berusahalah sedikit lagi.

“Jangan ganggu aku!”

“T-tapi, no—”

“Diam!!” gadis itu membentak Yixing.

Menurut, Yixing diam. Ia aku-akui, daripada berhadapan dengan perempuan mabuk, lebih baik berhadapan dengan wanita PMS yang meraung-raung dan marah-marah tak jelas sepanjang waktu. Yah, setidaknya masih bisa dibujuk apa dan kenapanya daripada seperti ini.

“Kau tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kau cintai ‘kan? Diam kau!! Diam! Kenapa dia begitu brengsek? Kenapa? Kenapa?!” teriak gadis itu yang langsung menarik-narik akar rambutnya dan menatap Yixing sekaligus.

Sekali lagi Yixing menelan ludahnya, bingung harus apa.

“Linjie brengsek!”

“Dasar laki-laki tidak tahu diuntung!”

“Linjie gila! Harusnya dia masuk rumah sakit jiwa saja!”

“Arghhhhhhhhhhh….”

Gadis itu terus merutuk dan mengumpat pada Yixing. Bahkan gadis itu berani memeluk Yixing yang sekarang sedang mematung.

“Kenapa Linjie jahat sekali padaku…,” ucapnya terisak memeluk Yixing.

Yixing kalap sendiri, kenapa jadi dia yang dijadikan sandarannya? Ah sial, baiklah tak apa. Kasihan gadis ini, pasti Linjie-Linjie yang disebutnya itu baru dipergoki selingkuh.

“Nona…,” panggil Yixing pelan.

“Linjie jahat…,”

“Nona…,”

“Apa?!” gadis itu menyahut kasar sekali.

Kalau saja gadis ini bukanlah seorang gadis patah hati, demi setan yang bersemayam dalam peti mati, Yixing lebih memilih meninggalkan dan menguncinya saja di sini.

“Kalau kau memang kesal dan ingin menangis. Menangis saja. Tapi jangan membentakku. Aku tak tahu apa-apa urusanmu.”

Mata gadis itu mengerjap, merasa tertohok dengan kata-kata yang Yixing keluarkan. Benar, kenapa ia jadi malah membentak laki-laki baik yang sudah mau memberinya sandaran dan pelukan ini.

“M-maaf…,” katanya.

Yixing menggeleng, tersenyum dan mengusap punggung gadis itu. Mendekapnya lebih dalam demi menenangkan perasaannya. Bukankah gadis ini tengah mabuk barusan?

“Tak apa. Daripada kau tak berdaya di sini, lebih baik kita pulang saja. Di mana rumahmu, nona?” tanya Yixing.

Tentu saja tujuannya menenangkan gadis ini adalah membawanya pulang ke rumah bersama Yifan—

GEGE?! Kau mau kemana?” teriak Yixing spontan dari dalam ketika melihat sosok Yifan ada di luar menuju mobil yang terparkir di depan café. Si gadis sontak terkejut, tapi dia tak berani mengatakan apa-apa dengan memilih tetap berada dipelukan Yixing.

“Sial! Apa dia mabuk juga?!” keluh Yixing.

Laki-laki itu ingin marah, ingin mengumpat, ingin menonjok, ingin berkata-kata kasar pada Yifan. Bagaimana bisa pria berumur seperempat abad itu meninggalkannya sendiri di sini setelah berjanji akan menunggunya dan membawa gadis ini bersama-sama?

Sial, Wu Yifan kini sama kurang ajarnya dengan Linjie-Linjie yang si gadis sebutkan.

Otak Yixing berulang kali berputar. Sesekali ia menelan salivanya yang sudah jadi kebiasaan ketika gugup. Ia sudah ditinggalkan. Jika saja Yixing bisa berlari mengejar Yifan, rasanya ingin sekali melakukan itu. Sayangnya gadis ini malah tertidur di pelukan Yixing.

Apa?

Tertidur? Yang benar saja!

“Argh demi peti mati sialan!” umpat Yixing tak kira-kira menyumpahi.

Tarik nafas…

Tahan…

Keluarkan…

Oke.

Tenangkan dirimu Zhang Yixing.

Kau tinggal menutup café dan membawa gadis ini pulang ke rumahnya dengan selamat.

Yixing mengangguk, setuju dengan pemikiran normal, netral dan positif-nya yang selalu datang tepat di saat-saat genting. Masa bodoh dengan dirinya yang ditinggalkan Yifan di sini sendirian. Dia harus segera membawa pulang gadis ini ke rumahnya.

Well…,

Dimana kunci café itu?

Iris mata Yixing mulai merayang mencari keberadaan kunci café. Laki-laki itu yakin kalau Gege-nya tidak akan mungkin meninggalkannya begitu saja.

Satu persatu jajaran kunci yang biasa diletakkan di dekat table bar Yixing selasari. Senyumnya tak henti mengembang ketika mendapatkan apa yang ia cari. Kunci berbentuk hati dengan gantungan tali dari kain bekas itu ada di sana.

Secara pelan-pelan Yixing menidurkan gadis yang masih tidak diketahui namanya ini di atas mejanya. Dan bergegas segera mengambil kunci keramat itu. Berlalu ke counter sebentar untuk membereskan barang-barang miliknya sebelum benar-benar pergi.

 

 

“Ugh…,”

Nafas Yixing terengah-engah kala berjalan sambil menggendong seorang gadis yang bahkan ia sendiri tak tahu siapa di belakang punggungnya.

“Astaga, berat sekali…,”

Berkali-kali Yixing membenarkan posisi si gadis yang selalu melorot dari gendongannya. Membuat Yixing ingin segera sampai ke apartemennya.

Tak ada pilihan lain. Itu yang ada dipikiran Yixing. Ia tak tahu harus membawa kemana gadis ini, meninggalkannya di café tentu saja tidak mungkin, apalagi membuangnya seenak jidat di jalanan seperti barang. Karena terpaksa dan kondisi yang benar-benar di luar dugaan, Yixing akhirnya memilih membawa gadis ini ke apartemennya saja.

“Maaf ya, aku harus membawamu ke apartemenku. Salah sendiri malah tertidur.” Sahut Yixing.

Gadis itu tak bergeming. Benar-benar tak sadarkan diri.

Yixing terkekeh lagi.

“Seharusnya kau tak perlu menangisi apalagi sampai mabuk-mabukan hanya karena laki-laki brengsek seperti katamu itu.”

Yixing berhenti sejenak mengambil nafas.

Hosh…, hosh….

Erangan nafasnya sendiri membuat Yixing terkekeh lagi. Ia lelah tapi masih saja tersenyum seperti itu.

“Kau itu…, cantik,” tutur Yixing masih tetap melanjutkan ceramahnya. “Laki-laki itu akan menyesal, percayalah.”

Tersadar akan perkataannya yang sedikit tidak masuk akal. Ia terkekeh lagi. Apa ini efek terlalu lama men-jomblo sampai-sampai ia sok-sok-an memuji gadis yang sedang dalam gendongannya ini? Gila. Yang benar saja Zhang Yixing! Makanya cari pacar!

“Lupakan perkataanku barusan.” Sahut Yixing tiba-tiba.

Entah kenapa ia malah merasa malu pada dirinya sendiri, padahal sudah jelas gadis itu juga belum tentu akan mendengarnya.

Jantungnya juga tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat. Sampai-sampai Yixing mempercepat langkahnya agar segera sampai.

Dengan susah payah ia menggendong gadis yang selalu saja melorot. Susah payah pula ia melangkahkan kakinya untuk mencapai tempat tujuan sambil menahan beban yang membuat pinggangnya encok.

Sabar sekali seorang Zhang Yixing menggendongnya. Perjalanan yang seharusnya ditempuh sepuluh menit berjalan kaki itu rasanya jadi satu jam bagi Yixing. Yah, meskipun tidak benar. Yixing sampai di apartemen tigapuluh tiga menit kemudian setelah keluar dari café.

Masuk ke dalam elevator menuju lantai sepuluh, belok kanan, kanan dan kiri, berjalan sedikit sampai di pintu bernomor 306. Sesegera mungkin membuka pintu dan menguncinya lagi.

Tergopoh-gopoh menidurkan si gadis di atas ranjang dan menyelimutinya. Yixing bernafas lega sekarang.

“Akhirnya…,”

Yixing menolehkan kepalanya ke dinding depan ranjang. Jam dinding berbentuk kotak pemberian ibunya terpajang menunjukkan pukul 02.35. Terlalu larut bagi Yixing untuk tidur sekarang.

Ia berbalik kembali menatap si gadis yang tertidur nyenyak. Melihat wajah polos gadis itu, refleks saja Yixing tersenyum. Ini gila. Yixing baru pertama kali bertemu dengannya. Mana mungkin ia tiba-tiba jatuh cinta padanya. Bodoh, ini bodoh.

Segera saja Yixing menyadarkan diri. Mengusap wajahnya yang sudah lelah. Berjalan keluar kamar dan langsung membaringkan diri di sofa. Yixing terlelap di sana.

 

 

Esok paginya, Yixing terbangun karena suara bising yang mendadak mengganggu lelap. Masih setengah sadar ia memicingkan mata, menelisik satu sudut tak tahu sopan santun di rumah orang.

Yixing segera sadar dan langsung terduduk. Ia hampir memaki orang yang membuat kekacauan di rumahnya.

Sudah mabuk, mengganggu tidur pula.

“Hey! Sedang apa kau?!” teriak Yixing yang sontak membuat gadis semalam melotot menatapnya.

Mata gadis itu seolah mengatakan bahwa ia sedang dalam bahaya di sini. Lagipula siapa yang tidak terkejut mendapati diri yang kemarin malam berada di café mendadak pindah ruang di kamar yang sama sekali asing bagi tubuhnya.

Bagaimana jika hal-hal buruk terjadi padanya semalam?

Bagaimana jika laki-laki itu meracuni dan memperkosanya?

Bagaimana jika—

“Tenanglah. Aku bukan orang jahat.”

Gadis itu tertegun, Yixing mendekat padanya dan kemudian…,

Tersenyum.

What the heck this boy doin’?!

“S-siapa kau…?” tanya gadis itu.

“Zhang Yixing. Aku yang membawamu kemari semalam.” Balasnya kalem.

Gadis itu reflek menyentuh setiap tubuhnya, tangannya mendadak menjadi sensor yang meraba keutuhan tubuh. Melihat tingkah gadis itu, Yixing sontak terkekeh, “Aku tidak melakukan apapun padamu. Kau pikir aku orang jahat?”

Merasa malu sendiri, gadis itu langsung menurunkan kedua tangannya. “K-kenapa aku ada di sini?”

Sebelum menjawab, Yixing menaikkan bahunya dan menatap sekeliling rumahnya, —berantakan sekali, pikirnya.

“Kau mabuk semalam. Aku tak tahu dimana rumahmu, jadi aku bawa kau ke sini saja.”

“Ah…, itu…,” sahut si gadis terpotong, ingatannya sudah mulai pulih. Ia juga sudah tidak lagi mencoba merusak pintu apartemen Yixing yang barusan sudah limabelas menit ia coba untuk membukanya namun tak kunjung berhasil.

“Omong-omong, siapa namamu?”

“Fang Meilin.”

Yixing mengangguk, satu informasi yang ia dapatkan dari seorang wanita asing di rumahnya sudah terpenuhi.

Well, mau teh? Atau kopi…, mungkin?” tawar Yixing.

Meilin bingung, haruskah ia mengiyakan? Tapi laki-laki ini sudah terlalu banyak direpotkan olehnya.

“Aku mau pulang saja.”

Yixing yang barusan sudah duluan berjalan meninggalkan Meilin di depan pintu menuju dapur mendadak berhenti, ia berbalik menghadap si gadis. “Secepat itu?”

“U-um…, yah…,”

“Santai saja, aku bukan orang jahat. Aku hanya karyawan café yang semalam kau datangi. Sebelum aku antar kau pulang, ada baiknya sarapan dulu. Yah, sekalipun aku belum mengenalmu, setidaknya kau tamuku, ‘kan?” ungkap Yixing langsung meneruskan lagi perjalanannya.

Meilin diam menatap sosok jangkung di depannya. Bahu lebar yang dilapis kemeja cokelat itu terlihat menggoda.

Tunggu, apa semalam dia tidak ganti baju dan tidur dengan pakaian formal seperti itu?

Merasa tidak enak juga karena sudah mengganggu tidur laki-laki itu, Meilin terpaksa menurut. Sekalian berbalas budi sudah mau menyelamatkan dirinya dari laki-laki tak bertanggung jawab—jika saja bukan Yixing yang membawanya, maksud Meilin.

 

 

Dua buah pancake dengan sirup maple plus cherry sudah siap dihidangkan. Dua teh hijau sebagai penetralisir sekaligus penenang suasana juga sudah terpampang di atas meja makan.

Meilin aku-akui, laki-laki bernama Zhang Yixing ini tidak buruk soal memasak. Bisa dibilang, dia seperti seorang ahlinya. Yah…, dibandingkan dengannya yang memasak telur dadar saja gosong. Yixing jauh lebih hebat darinya.

“Anu…, terimakasih sebelumnya. Maaf kalau aku mengganggu dan juga merepotkanmu.” Tutur Meilin membuka percakapan di atas meja makan.

Yixing yang baru memotong pancake-nya tersenyum kemudian menatap mata bulat milik Meilin, “Tidak masalah. Aku mengerti.”

“Aku akan melakukan apapun, maksudku, yah…, untuk membalas budi padamu.”

Alis Yixing langsung terangkat, sirat wajahnya terlihat tidak menyukai apa yang Meilin katakan. Lagipula tanpa dibalas pun baginya ini seperti sebuah kewajiban sesama manusia untuk saling tolong-menolong.

“Sungguh aku akan—”

“Makan saja dulu. Itu urusan belakangan.” Potong Yixing.

Meilin langsung patuh. Ia menunduk sambil memakan pancake-nya. Padahal dia hanya berniat baik untuk membalas kebaikan Yixing. Meskipun memang Yixing tahu, Meilin merasa merepotkan dirinya.

Mereka makan ditemani sepi. Hanya suara  pisau dan garpu saja yang mendominasi.

Yixing berdeham, setelah sebelumnya ia merapikan garpu dan pisau di atas piring serta meminum seperempat teh hijaunya. Hendak mengatakan sesuatu.

“Di mana rumahmu?” tanya Yixing.

“Zuojiazhuang.”

“Lumayan jauh dari sini. Kau ke sini sendirian?”

Meilin mengangguk, “Habis aku tak tahu harus kemana lagi setelah memergoki pacarku selingkuh. Aku merasa ingin mati saja semalam.”

Tangan Meilin sontak beralih memangku dahinya. Memijit pelipis sambil menunduk. Kenangannya dengan Linjie kemarin sore saat dipergoki tengah selingkuh seperti kaset usang di kepalanya, berputar terus menerus.

“Laki-laki itu memang tidak tahu berterimakasih. Untung juga semalam aku tidak nekat bunuh diri. Coba kalau iya? Memalukan bukan mati konyol karena laki-laki itu?” lanjut Meilin lagi.

“Hidupmu sia-sia kalau sampai mati karena dia.” Kata Yixing datar.

Meilin langsung mendongkak, ia mengangkat sebelah bibirnya, tersenyum picik yang berarti setuju dengan perkataan Yixing.

“Kau benar.”

“Sudahlah. Laki-laki itu tidak pantas diberi maaf, terbukti selingkuh saja sudah meyakinkan bahwa dia bukan laki-laki baik.” Yixing berasumsi.

Seketika Meilin terkekeh, ia merapatkan kedua jemarinya sambil menopang meja. “Lalu kau anggap dirimu sebagai laki-laki baik setelah membawa gadis asing ke rumahmu?”

Yah…, sudah mabuk, mengganggu orang tidur, dan sekarang malah berlaku tak sopan. Kalau saja dia bukan gadis cantik, Yixing jamin mana mau membantunya.

“Sialan…,” gumam Yixing.

“Aku bercanda, tuan Zhang.” Aku Meilin sambil tersenyum. Tangannya langsung bermain dengan garpu dan pisau di atas piring, mensejajarkannya.

“Lagipula aku percaya kau memang orang baik. Terimakasih banyak atas tawaran sarapan paginya, tuan tampan.”

Well…, yeah…, dengan senang hati.” Balas Yixing malu-malu sambil memalingkan wajah.

“Aku boleh pulang ‘kan sekarang?” tanya Meilin sambil bersiap-siap merapikan diri.

Yixing mengangguk, “Aku akan mengantarmu.”

“Tidak usah, aku tidak mau merepotkanmu lagi.”

“Aku tidak keberatan, nona. Aku juga tidak menerima penolakan, omong-omong.” Gombal Yixing.

“Basi, kau sama saja seperti laki-laki lain.” Maki Meilin kesal, segera saja ia mendahului Yixing pergi menuju pintu. Meninggalkan Yixing yang terkekeh.

“Bagaimanapun juga aku tetap seorang laki-laki tulen, nona.”

Mendengar itu netra Meilin langsung berpaling, jengah dengan gombalan basi seperti yang Yixing katakan barusan.

“Jadi mengantarku atau tidak?” tanyanya sudah di ambang pintu, “Dari tadi aku coba membuka pintu laknat ini tapi tak bisa-bisa. Kau pakai mantra apa menguncinya? Padahal aku sudah berkali-kali mengatakan alohamora tapi tidak terbuka juga!”

Yixing semakin terkekeh. Memang Meilin pikir dia ini siapa sampai mengunci pintu menggunakan mantra? Harry Potter saja bukan.

 

 

“Aku bisa sendiri dari sini, terimakasih dan maaf merepotkan.” Kata Meilin sambil membungkuk. Padahal tadinya Yixing kira bisa mengantarnya sampai rumah, meskipun hanya via bus, bukan kendaraan pribadi.

“Padahal aku bisa mengantarmu sampai rumah, kalau kau mau, sih.” Usul Yixing sambil menggaruk kepalanya, malu.

Meilin tersenyum, “Tidak usah. Maaf juga aku lancang. Malah sempat melempar humor garing seperti alohamora, kau tahu ‘kan itu tidak benar-benar kulakukan, hahaha.”

Melihat gadis itu tertawa, Yixing ikut tertawa juga. Ia tidak mengenal dengan baik gadis ini, tapi rasanya Yixing nyaman berkomunikasi dengannya. Seolah ada magnet kuat yang membuatnya tertarik untuk mendengarkannya berbicara.

Yah…, selama perjalanan Meilin membicarakan banyak hal memang.

“Aku tahu, santai saja.”

Meilin dan Yixing menunggu kendaraan yang membawanya pulang, lebih tepatnya mengantar kepulangan gadis itu. Tak banyak hal mereka bicarakan, setelah selesai dengan berbagai cerita yang Meilin lontarkan sebelum mereka sampai di halte ini, si gadis jadi lebih pendiam.

Terhitung sepuluh menit mereka diam dan menunggu. Kendaraan besar yang akan membawa Meilin pergi akhirnya sampai juga.

Gadis itu langsung berdiri, ia berbalik kemudian membungkuk. Berkata maaf dan terimakasih untuk kesekian kalinya.

Yixing hanya mematung dan tersenyum kaku. Atmofsir mendadak mengharukan baginya. Seolah ia takkan pernah bertemu lagi dengan gadis aneh nan nyentrik itu.

Pintu bus terbuka, Meilin segera kembali berbalik memasuki bus. Tapi tangan Yixing menahannya.

Iya.

Yixing menahannya.

Meilin sontak menoleh. Dilihatnya raut wajah Yixing yang seolah berat kehilangan dirinya. Perasaan macam apa ini? Mereka baru saja bertemu tapi kenapa rasanya berat saling meninggalkan satu sama lain.

“Kapan-kapan, datang lagi ke apartemenku. Kita sarapan bersama lagi.” Kata Yixing samar dan langsung melepaskan genggamannya.

I’ll…, see you, tuan tampan.” Balas Meilin tak kalah samar dan langsung memasuki bus.

Setelah Meilin masuk, pintu bus langsung menutup. Bayang-bayang Meilin di dalam bus terlihat tengah tersenyum padanya dan ia membalasnya. Beriringan dengan perginya bus yang membawa Meilin pergi. Yixing meringis.

.

.

.

Just one night stay over, but you trapped me, girl.

.

.

.

—FIN

 

arrylea’s note;

TAU GAJE KOK TAUUUUUU. KETERBATASAN MENULIS KARENA EFEK KEYBOARD RUSAK. HURUF “E”, “D”, “C” DAN ANGKA “3” & “4” BUTUH SEKUAT TENAGA BUAT MIJITNYA :(( DAN ITU NGESELIIIIIIIIIN BANGET. MESKIPUN PADA AKHIRNYA TETEP NULIS SAMPE 3600+ WORDS HAHAHA.

WELL, MAAFKAN KEGAJEAN. GANTUNG GAJELAS AKU JUGA GATAU LAH-_-

SELAMAT ULANG TAHUN MAS LAY. TELAT SEHARI HABIS KEMARIN MASIH KESEL SAMA KEYBOARD SAMPE PUNDUNG BERHARI-HARI GAMAU NGERJAIN :((

Huangjiu1 : merk alkohol dari sulingan beras di China. Semacam sake atau soju-nya Jepang-Korea

8 thoughts on “[LAY BIRTHDAY PROJECT] Just One Night ― ARRYLEA’s VERHAAL

  1. Hm, jadi pengen nyanyi just one day nya bts.
    Kok ada bang yipan sih? Kan aku jadi baver 😞
    Yang sabar aja ya mas ipan kalo ngadepin iching, dia emang gitu. Si iching itu lugu-lugu bangsadh.

    Cie meilin, yang baru putus langsung dapet calon…
    Btw, keep writing and fighting

    • Wkwk. Itu saya juga kepikirannya karena lagu Just One Day-nya BTS tapi beda versi dan cerita :’v
      Iya yipan sabar selalu :’)
      Enak ya, calonnya ganteng berlesung pipit cem iching😦 dd juga mau😦

      Yep, terimakasih sudah mau mampir. Maaf ceritanya absurd sekali dan tidak memikat jiwa(?) eak hehehe

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s