[LAY BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in HUNAN — IRISH’s Story

irish-holmes-in-hunan

HOL(M)ES

[  TRAITOR in Hunan  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with EXO`s Lay aka Zhang Yixing

An adventure, dystopia, family and politic story  rated by Teen served in vignette length with series type

2016  ©  IRISH in association with EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan. Salam penulis, IRISH.

This story was created and dedicated for:

Zhang Yi-Xing (Lay of EXO)

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

—Hunan, Gold Crown City Hotel—

In Author’s Eyes…

“Lama tidak bertemu, Jia.”

Atensi gadis berparas cantik—pemilik jemari lentik yang sedari tadi sibuk bermain di atas kertas—kini beralih, sepasang manik kelamnya kini bersarang pada kehadiran seorang pemuda yang berdiri di ujung pintu, menatapnya dengan senyuman di wajah.

“Apa yang kau lakukan di sini, Yixing?” tanya gadis tersebut, jemarinya benar-benar menghentikan aktivitasnya di atas kertas—padahal sedari tadi ia sibuk menulis barisan kalimat di atasnya—saat menyadari siapa yang datang.

“Tentu saja, melihat sepupuku. Apa lagi?” ujar pemuda bernama Zhang Yixing tersebut, melangkah ke arah si gadis sementara senyum yang sama masih terpasang di wajahnya.

“Apa yang sedang kau lakukan?” lagi-lagi Yixing berucap.

Si gadis, menatap sekilas ke arah kertas di depannya dan menggeleng pelan.

“Hanya menulis beberapa barang yang perlu kubawa lain kali saat akan singgah di hotel.” jawabnya, jemarinya kini bergerak merapikan anak rambut yang terjuntai ke sisi wajahnya.

“Bertengkar dengan Ayahmu lagi?” tanya pemuda Zhang tersebut melenceng jauh dari jawaban si gadis. Tapi ya, pertanyaannya cukup tepat sasaran. Terbukti dengan bagaimana sekarang gadis itu menghela nafas panjang, menumpukan kedua sikunya di meja, menatap pemuda yang sudah duduk di hadapannya.

“Dari yang kupahami kau memang benar-benar anak dari Ayahmu.” ucap gadis itu, terkekeh kecil kala didapatinya wajah Yixing memerah, tersipu malu karena sudah disamakan dengan seorang jenderal yang tak lain adalah ayahnya.

“Kau selalu terlihat khawatir seperti ini jika ada masalah dengan Ayahmu, Jia.” Yixing berucap, seolah berusaha menolak argumen si gadis—Wang Jia-yi—tentang dirinya yang menurun persis ayahnya.

Jia-yi tidak lantas menyahut. Kedua netranya kini lekat menatap manik Yixing, seolah ingin mengutarakan semua yang ada di dalam benaknya melalui adu pandang itu.

“Kalau saja kau tidak menikah dengan Jenny, aku mungkin sudah meminta Ayah untuk menjadikanmu menantunya.” ucapan Jia-yi berhasil membuat tawa Yixing meledak. Pemuda tampan itu tertawa—dengan cara yang menurut Jia-yi begitu berwibawa—dan sempat mengalihkan pandang ketika menyadari makna dari ucapan Jia-yi sebelum akhirnya ia kembali menatap si gadis.

“Jangan bercanda, Jia. Kau tahu sendiri bagaimana perasaanku pada Jenny.” ucap Yixing menetralisir ucapan Jia-yi, meski sebenarnya ia tidak perlu melakukannya. Tentu Yixing tahu kalau Jia-yi hanya bercanda tentang ucapannya.

“Mengapa kau kemari, omong-omong? Aku ingat Ayah tidak memberikan undangan makan malam untuk keluargamu. Dan juga, rapat kenegaraan sudah selesai pekan lalu. Jenny juga tidak bisa kau jadikan alasan untuk ada di sini.” Jia-yi kemudian berkata, diamatinya gerak-gerik Yixing dari sudut mata.

Mengetahui dirinya tengah menjadi sasaran kecurigaan si gadis, Yixing akhirnya menyerah. Ia kenal baik siapa Wang Jia-yi. Dan jelas, ia tidak bisa membohongi gadis satu ini meski ia sudah mencoba.

“Baiklah, aku menyerah, Nona Wang. Tidak perlu melihatku seolah aku adalah kriminal.” ucap Yixing, menyandarkan tubuhnya di bantalan empuk kursi, sementara maniknya menatap sekeliling, memperhatikan ukiran-ukiran kayu yang menghiasi kusen pintu dan jendela yang ada di ruangan kecil tempatnya dan Jia-yi sekarang duduk.

“Lalu, apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa Ayahmu dan Ayahku bertemu?” tanya Jia-yi tidak sabaran. Jelas ia tahu siapa ayah Yixing, seorang panglima perang yang selama hampir tiga puluh tujuh tahun mengabdi untuk negara.

Sementara Ayahnya sendiri sekarang berkedudukan sebagai seorang menteri di parlemen negara, dan dari yang Jia-yi dengar, Ayahnya tengah bekerja sama dengan beberapa pihak luar negeri untuk melakukan kudeta.

“Pengkhianatan.” tatapan Jia-yi membulat kala di dengarnya kata itu meluncur dari bibir Yixing. Benar dugaannya, bukan? Pasti ada yang tidak beres di sini, Jia-yi sudah menduga hal itu, tentu saja.

“Kulihat Tuan Arshavin ada di ruang rapat, bersama ayah kita dan beberapa petinggi negara lainnya—termasuk Ayah Jenny juga—tapi mereka tidak bicara tentang kudeta, kurasa.” Yixing mengusap tengkuknya dengan kikuk, sementara Jia-yi menatap lekat-lekat.

“Jika mereka tidak bicara tentang kudeta yang belum sempat terealisasi beberapa tahun lalu, kemudian apa yang mereka rencanakan?” tanya Jia-yi.

“Korea. Mereka bicara tentang Korea.” ucap Yixing.

Kini, tatapan Jia-yi berubah bingung. Setahunya, tidak ada masalah apapun antara negaranya juga Korea. Selama ini semuanya baik-baik saja, ya terkecuali tentang bagaimana Korea menguasai pasar internasional dan merebut panjang tempat di ranking saham internasional, tentu saja. Tapi apa hal itu menjadi permasalahannya sekarang?

“Mengapa?” tanya Jia-yi kemudian.

Yixing terdiam sejenak, menatap Jia-yi dengan tatapan menerawang. Seolah pemuda itu sudah tahu benar apa yang akan terjadi kemudian hari tanpa bisa pemuda itu mencegah atau membayangkan hal yang bisa ia lakukan.

“Mereka mengatakan hal yang cukup mengerikan.” ucap Yixing.

“Apa itu?” tatapan Jia-yi menyipit, penasaran.

Hembusan nafas panjang Jia-yi dapatkan sebagai jawaban, sebelum akhirnya Yixing menumpukan kedua sikunya di meja, menopang kepalanya di antara kedua telapak tangan sementara tatapannya ia tujukan pada meja porselen tempatnya menumpukan siku.

“Ingat tentang masalah perdagangan internasional delapan lalu yang menjatuhkan kurs mata uang negara kita hingga uang tidak lagi bernilai lebih dari sampah?” pertanyaan Yixing membuat Jia-yi terdiam.

Tentu Jia-yi ingat jelas apa yang dulu terjadi. Bagaimana orang-orang hidup dalam kemiskinan karena tidak mampu membeli barang apapun secara impor dan tidak juga mendapatkan keuntungan apapun dari mengekspor barang. Jia-yi ingat bagaimana orang-orang ditemukannya membakar uang hanya karena kertas yang selama ini menghidupi mereka itu tidak lagi berarti apa-apa karena nilainya telah anjlok dengan drastis dan menjadikan negaranya sebagai negara termiskin nomor empat di dunia.

“Aku ingat,” Jia-yi menggumam, “Ibu bahkan meninggal di tahun yang sama, karena sahamnya dimakan habis oleh pajak internasional.” sambung Jia-yi, memejamkan matanya sejenak akibat memori mengerikan yang muncul secara tiba-tiba saat pembicaraan mengenai kejadian delapan tahun lalu muncul di dalam benaknya.

Yixing tersenyum muram. Well, ia juga sama hancurnya seperti Jia-yi saat itu. Jika Ibu Jia-yi—Nyonya Melanie—harus terenggut nyawanya karena serangan jantung setelah mendengar bagaimana sahamnya ludes di perdagangan, maka Yixing mengalami hal serupa yang sama mengerikannya.

Ibunya—Nyonya Hwang—adalah seorang pengacara berdarah Korea dan menjadi salah satu korban pembantaian mengerikan yang dilakukan orang-orang negara yang merasa murka pada warga Korea.

Yixing ingat bagaimana ia temukan ibunya tergeletak tidak bernyawa di pinggir jalan, diinjak-injak dan dipukuli oleh orang-orang sesaat setelah ia keluar dari pengadilan dan menyelamatkan nyawa seorang terpidana mati.

Ibunya yang saat itu bahkan tidak tahu menahu tentang bagaimana Korea berhasil menghancurkan negaranya dalam hitungan menit hanya karena uang. Bahkan jika sekarang Yixing ditanyai tentang bagaimana pendapatnya mengenai rencana antara Rusia dengan negaranya, Yixing sebenarnya ingin menjadi orang pertama yang bertepuk tangan dan mengangguk antusias atas rencana itu.

Tapi sekali lagi, Yixing bukan seorang egois seperti itu. Ia membenci Korea, tapi tidak membenci orang-orangnya. Ia tahu dengan benar siapa yang patut ia benci dan ia jadikan pelampiasan dendam. Dan kehidupan orang-orang di Korea, bukanlah sasarannya.

“Kau tahu aku juga mengalami hal yang sama.” Yixing berucap, dipandanginya Jia-yi sejenak sebeum ia tersenyum masam. “Tapi sepertinya mereka semua sudah setuju tentang pemberontakan itu. Memangnya kau pikir kenapa ada banyak warga kita yang tinggal di Korea?”

Pertanyaan itu menyadarkan Jia-yi. Memperingatkannya bahwa sebuah bahaya tengah terjadi di hadapannya. Well, sebagai salah seorang yang cukup dekat dengan beberapa staff kenegaraan, Jia-yi tentu tahu perkiraan tentang berapa banyak orang negaranya yang berimigrasi ke Korea—hal yang dulu Jia-yi katakan sebagai pengkhianatan.

“Apa yang mereka rencanakan?” pertanyaan itu terlontar mulus dari bibir Jia-yi saat ia sadar bahwa ia tidak seharusnya duduk santai di sini saat keadaan mengerikan tengah terjadi.

Yixing mengedikkan bahunya. “Aku tidak tahu, Jia. Tapi yang jelas mereka tengah menjalankan rencananya. Kupikir kita sudah terlambat tahu tentang informasi ini. Dan dari yang kuperkirakan, Korea mungkin akan hancur.”

Awalnya, Jia-yi terdiam. Tapi sekon kemudian gadis itu mematung. Lekas ia bereskan semua kertas yang berserakan di mejanya sebelum ia berdiri, membuat Yixing menyernyit bingung karena tindakan tiba-tiba yang gadis itu lakukan.

“Mau kemana kau?”

“Korea.” jawab Jia-yi.

“Apa?” Yixing terperanjat, haruskah ia mengatakan pada Jia-yi untuk duduk dengan tenang saja di rumah? “Apa yang akan kau lakukan?” tanya pemuda itu lagi.

Jia-yi menatap Yixing dengan ketegasan di sepasang maniknya.

“Jin-yi ada di Korea, Yixing. Adikku, Jin-yi. Dan aku harus membawanya kembali ke sini karena Ayah bahkan tidak peduli padanya.” ucap Jia-yi, mengingat bagaimana empat tahun lalu Jin-yi—adiknya—memutuskan untuk menempuh pendidikan dan karir di Korea, dan hal itu membuat ayahnya bahkan berkeras ingin mencoret Jin-yi dari daftar anggota keluarga, Jia-yi tahu, ayahnya tidak cukup peduli untuk mengirim seseorang ke Korea guna menjemput adiknya.

“Apa kau bersungguh-sungguh?” tahan Yixing ketika gadis itu akan beranjak pergi meninggalkannya sendirian, seolah penjelasan dari Yixing saja sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan apa yang akan terjadi.

“Aku tidak bisa lebih serius lagi.” tandas Jia-yi.

Yixing menyerah, dilepaskannya lengan si gadis sementara ia sendiri menghela nafas panjang. Ia kenal Jia-yi sejak mereka sama-sama belajar berjalan, dan itu artinya, Yixing sudah benar-benar tahu segala hal tentang Jia-yi. Tentu, Yixing memahami bagaimana perasaan gadis itu sekarang.

“Apa kau membutuhkan bantuan?” tanya Yixing kemudian.

“Tidak perlu, Yixing. Aku sudah cukup dewasa untuk mengatasi semuanya sendirian. Aku akan memesan sebuah tiket ke Korea besok pagi. Jika kau ingin membantu, sediakan mobil untuk membawaku ke bandara tanpa sepengetahuan orang tua kita.” ucap Jia-yi, bisa Yixing tebak gadis itu sudah siap dengan puluhan rencana di dalam benaknya.

“Baiklah. Aku akan menyiapkan mobil untukmu jam tujuh pagi.”

“Tidak, jangan jam tujuh.” Jia-yi berucap, dipandanginya Yixing sementara ia merapikan mantel yang ia kenakan.

“Apa? Lantas jam bera—ah, baiklah. Jam dua dini hari.” ucap Yixing, menyunggingkan sebuah senyum kecil, pertanda bahwa ia paham benar tentang apa yang sedang Jia-yi rencanakan saat ini.

“Bagus. Aku akan menghubungimu lagi nanti, dan juga, berikan salamku pada Jenny. Semoga kalian berdua lekas diberi seorang penerus.” Jia-yi berucap.

“Jia-yi,” lagi-lagi Yixing membuat langkah gadis itu terhenti—padahal tadinya ia sudah akan melangkah meninggalkan Yixing di ruangan tersebut.

“Ada apa?” tanya Jia-yi.

“Pastikan kau kembali sebelum akhir bulan ini.” ucap Yixing.

“Memangnya kenapa?” tnaya Jia-yi curiga.

Yixing terdiam sejenak. “Karena dari yang kudengar, mereka ingin melenyapkan Korea dari peta dunia.” ucapan Yixing kali ini membuat Jia-yi terdiam, hanya sepersekian sekon sebelum akhirnya gadis itu mengangguk mantap.

“Aku pasti akan kembali.” ucapnya sembari mengukir sebuah senyum di wajah. Ya, wajah yang Yixing kenal sebagai wajah gadis angkuh yang enggan memamerkan senyum itu kini menunjukkan sebuah ekspresi yang langka.

Dan Yixing berani bersumpah, ia punya perasaan tidak enak tentang rencana gadis ini. Meski sebenarnya di saat yang bersamaan, Yixing yakin jika sebuah petualangan menantang telah menanti Jia-yi.

Ya. Sebuah petualangan yang mematikan.

please wait for the next story: Hol(m)es in Namdaemun

FOREWORD

Halo!

Kembali diriku menyambut kalian semua di sebuah cerita series lainnya yang aku buat dalam rangka merayakan ulang tahun member EXO—di cerita awal ini, untuk Lay—dan ya, aku enggak lagi membawa cerita thriller, guys. Jadi tenang aja karena cerita ini sendiri dasarnya aku angkat dari issue politik antar negara yang sudah membuat diriku geregetan sampe seringkali mengumpat karena kadang aku menduga-duga negara mana yang pengen ngelenyapin negara mana, karena apa, dan lain-lain.

Weits, tapi jangan menuduh aku sebagai pelaku pencemaran nama baik negara, ya. Karena di disclaimer di atas sudah aku jelaskan dengan sejelas-jelasnya kalau penyebutan satu atau dua atau lebih negara di dalam cerita ini semuanya semata-mata hanya bertujuan sebagai hiburan dan tidak ada sedikit pun niat untuk menjelek-jelekkan salah satu negara atau instansi terkait.

Dan juga, seperti cerita-cerita series sebelumnya, Hol(m)es ini hanya akan muncul di perayaan ulang tahun member EXO saja, dengan bonus: di beberapa cerita, aku akan menggandeng (mengajak kolaborasi) beberapa penulis fanfiksi yang sudah setuju untuk melakukan kolaborasi di cerita ini. Ah, bayangkan gimana sulitnya buat aku mengajak mereka ~

Cukup sekian dariku di foreword, jadi… setelah ini ulang tahun Kris aka Wu Yifan, coba tebak siapa rekan yang akan aku ajak kolaborasi? LOL. Yang jelas dia ngebiasin Yifan, tentu aja. Terus Chanyeol, Chanyeol? Kira-kira siapa yang aku ajak? LOLOLOLOL.

Dan karena foreword disempilin di dalem cerita, aku engga akan nyempilin cuap-cuap lagi, kok. Tenang aja, LOLOLOL.

See you on November, guys! Happy weekend!

.

.

.

BANTU AKU MENEMUKAN CINTA DI SINI → HELP! I NEED YOUR VOTE [3]

| MY SHOW |

| Instagram | Line | Twitter | Wattpad | WordPress |

31 thoughts on “[LAY BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in HUNAN — IRISH’s Story

  1. Kak rish pas itu ane mau baca gak sempet mele, baru sempet sekarang

    Ini ff yang ekhem ya kak :’v asik udah mulai😄😄 aku kira kakak bakal ngangkat isu tentang komunis sama nasionalis (inget gimana CH itu cs banget sama Korut yang notabene musuh bubuyutan Korsel ditambah Rusia juga komunis) ternyata kakak angkat tema tentang perdagangan inter dan menurunnya kurs uang.

    Coba ane tebak, kak Len ye yang diajak kolab buat bang Yipan😄😄 kalo Chanyeol sih ane kagak tau. Jarang ff political kak dan ane ada sih ide ff political dari lama tapi belum sempet nulis lol :’v

    Ditunggu series lainnya ~~~

    • 😄 buakakakakakakakakakka ff ekhem apaaan coba els😄 wkwkwkwkwkwk duh kalo ke bagian sana diriku belum sampai otaknya els, yang simpel-simpel macem ini dulu aja😄 masalah uang, wkwkwkwkwk😄 EH PLIS ELS, JAN DI SPOILER NAPA FEATURINGNYA MAU SAMA SIAPA…

  2. Wkt liat awal jdl’ny dah sdkt worry klo ni ff bday project yg thriller berdarah darah >.< /jd aga takut gt mo bc'ny/ alhamdulillah trnyt bukan. Spt'ny stlh ff bday series yg historical Chen, Irish jd 'ktagihan' bikin yg serupa ya. Kyaa~ next month bakal colab sm Len?! Aakh.. can't wait..!! sblm bc notes Irish di bwh, dah ngarep bakal ada yg bwt Kris jg, tp ga brani bnyk brhrp cz Kris ga msk bias list kamu, eh.. trnyt bakalan ada bneran, bhkn colab sm Len jg😀 gomawo ya🙂 I'll wait passionately.
    Oh, jd Lay blastran Korea ya, kirain Chinese tulen. kshn bgt ibu'ny Lay /ky tragedi '97 yg etnis cina di 'bantai' org pribumi/ deg2an bgt bc crita ni, moga Jia bs sgera nyelametin ade'ny.

    • 😄 enggak kaaakk ya Allah suudzon sama aku masa😄 wkwkwkwkwkwkw ini lagi demen bikin yang berbau kenegaraan😄 biar sedikit nikung dari biasanya😄 Kris ada dooong ~ otewe dikit-dikit projectnya😄 eh kaaakk, perasaan diriku engga ngemention nama Len di atas tapi kotau ya?😄

      • Kan di challenge u/ nebak, jg krn diriku & dirinya sesama pens’ny Kris & diri ini awal2 mendarat di Planet WP Exoffi lngsng nemu & sk bgt sm ‘semua’ karya2ny Len, even yg di blog tetangga jg sudah saya lahap semua. Maaf ya ga mksd u/ su’udzon, cm worry-ketar-ketir bkl da scene ky yg Chanyeol jd topping ice cream tu kbayang jelas >.<

  3. ngebaca ini sambil selimutan
    uwaaah sensasi degdegannya makin kerasa

    bikos pemainnya abangku tercinta
    aku jadi suka cerita ini berkali kali kali lipaaat

    dan jelas banget aku nungguin kelanjutannya

    aku sih berharap si jiayi bisa nyelametin jinyi dan mereka selamat dari pelenyapan korea ituuu, kalo bisa sih jangan kembali ke cina kkkkkk minggat gitu

    tapi kalo kak irish yang buat,biasanya melenceng jauh dari perkiraanku :V mwehehehe

    yoweslah kalo gitu,ditunggu yaaaapz

    • ceritanya si abang icing tercinta ya ceritanya😄 wkwwkkwkw bismillah semoga petualangannya bisa berujung pada sebuah kebahagiaan😄 wkwkwkwkwkwk BUAKAKAKAKAKAKAKA AKU KEMUDIAN TERTAWA LAGI DI BAGIAN MELENCENG DARI EKSPEKTASI😄

  4. Omo!!!!!! Ige mwoya??? Aaaakkkk kak irish keren😀 ciyee.. Mau belajar mupon ye kak? Xixixixi~ aseeeek detektif2an. Ehhh.. Tapi ngomong2 yg jadi detektifnya siapa kak? Jia kah? Dari keseluruhan series ini?

  5. keraskeraskeraskeras irish mainannya sdh perang korea-china huoooo
    kyknya daripada fantasy kamu skrg lebih sering main sejarah dan politik ya, kamu mau pindah haluan?
    keren seperti biasanya, keep writing! dan maap blm nyelesaikan switch aku kelewatan krn sibuk ;-;

  6. Chanyeoll? Chanyeol?? LOLLOLLOL..😂 /PLAKK/KOK NYIMPANG KOMEN ENTE?😂
    Kak, aku kaget lo ini tetiba nongol, eki kira mulainya di bang yifan, ternyata di babang icing.😂
    Jia-yi oh Jia-yi~~~~……😆😆
    Hwaiting kak!!😆

  7. Riiisssh. . Apa iniiii??? Ak ngerasa asing sumpah bacanya. Kan biasa baca cerita kamu yg thriller, physic, fantasy daaan iniiiiiiiiii. . . Wahay!!! Beda rasanya euuuy… .pa lagi bang icing yg maen hadeeuh. Nyeesss. Ahaha apalh komenku iniih. . .
    Good job riissh!! Kamu bisa segala genre!!!!!
    Kakanda ipan bakal maen jg niih??? Ditunggu novembernyaa

  8. Waw, walaupun gk ngerti politik”an Tapi cerita ini sepertinya menantang/?
    Bakal perang perangan nih? Wah ku menanti :v
    Kutunggu kelanjutannya 😃😃

  9. Demi kulit pisang, aku gak bisa mengeluarkan angka-angka(maksudnya kata)*abaikan
    Kak irish ini tau aja ya kesukaanku*geer* aku kan paling penasaran sama perang dingin antar dua kubu itu. Kadang kalo di sekolah, gak mau pindah ke bab yang lain, pengen belajar tentang perang dingin, atau pun perang dunia. *curhat
    Ditunggu nextnya. Tapi ngomong-ngomong, itu emaknya si jia-yi namanya Melanie ya? Hm, seperti kenal…(itumah nama lo sendiri coeg, pake pura-pura gak kenal lagi)*abaikan
    Btw, keep writing and fighting kak irish!!^^

    • Demi kulit pisang saoloh perumpamaannya😄 wkwkwkwkwkk kata-kata atau angka atau umpaatan ini yang ingin dikeluarkan?😄 wkwkwkwkwkkw diriku juga sejujurnya merasa genre ini begitu berat seberat beban hidup, tapi gimana lagi aku penasaran apa diriku mampu buat bikin genre semacem ini😄 wkwkwkwk bismillah aja keknya

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s