[LAY BIRTHDAY PROJECT] FORGETFUL YOU

picsart_10-05-05-13-35

FORGETFUL YOU

A collaboration between Gecee & Audrey_co

.

Starring EXO’s Lay with OC’s Jung Mirae

.

Specially made as Lay’s 26th (Korean age) special birthday

.

The cast(s) aren’t ours. We just own the plot

.

Ini adalah kisah tentang Lay yang merutuki sifat buruknya.

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Lay terduduk di lantai kamarnya, gelisah. Pada wajahnya terpancar benar ekspresi bingung. Keningnya berkerut dalam, Sesekali diulurkannya tangan untuk memijat pelipis, mengusir rasa berdenyut-denyut yang menyerang kepalanya. Isi tas ransel hitamnya berserakan di sekeliling. Headphone, buku musik, alat tulis, beberapa kertas-kertas, dompet, serta ponsel.

 Sambil menyandarkan kepala pada tepi tempat tidur, lelaki 25 tahun itu mencoba menggali ingatannya akan sebuah benda perak kecil. Flashdisk. Ya, alasan dari semua barang yang berserakan di lantai kamar kost-nya itu adalah sebuah flashdisk. Mungkin orang lain akan mengatakan padanya untuk melupakan, atau untuk membeli yang baru dan merelakan semua file yang tersimpan di dalamnya. Toh flashdisk adalah benda yang amat mungil yang sekali hilang mustahil untuk ditemukan.

Tetapi tidak bagi Lay. Baginya, benda berukuran dua kali tiga sentimeter itu amat berarti. Bukan soal harga, tetapi lebih kepada apa yang tersimpan di dalamnya. File yang berukuran hanya beberapa ratus kilobyte itu tak bisa diganti seenaknya. Sebuah lagu yang telah ia gubah hingga mengorbankan waktu tidur malam. Apakah itu bisa tergantikan?

Oh! Terkutuklah sifat pelupa ini! Lay mengusap surai hitamnya kasar. Ia kesal. Hatinya merutuki sifat pelupanya yang kebangetan yang bahkan tak mampu mengingat di mana terakhir ia meletakkan flashdisk tersebut. Seingatnya terakhir ia sempat mencolok ke CPU komputer di studio musik kampusnya, hendak memeriksa komposisi lagunya, menyunting kalau-kalau masih ada bagian yang kurang. Kemudian Jung Mirae, gadis rambut ikal kecoklatan yang kerap pulang bersama dengannya itu masuk. Lay bercakap beberapa saat dengan sang sahabat, lalu kemudian memutuskan untuk pulang begitu tahu Mirae akan menggunakan studionya.

Masalahnya, otaknya yang mempunyai kemampuan mengingat amat minim tak ingat apakah ia sudah mencabut kembali flashdisk-nya dari slot CPU atau belum. Seingatnya sih sudah, tetapi buktinya tidak ada. Hal itu membuat Lay makin frustrasi.

Setelah terdiam beberapa saat, pemuda itu akhirnya memutuskan untuk kembali membongkar tasnya. Menilik setiap kantong yang tersedia. Kalau perlu ia juga akan memeriksa kantung celana atau kantung mantelnya. Flashdisk itu tidak boleh tercecer di sembarang tempat. Tidak boleh.

***

Dalam perjalanan pulang, Jung Mirae tak henti-hentinya menatap benda perak aluminium dalam genggamannya. Benda itu kecil, hanya berukuran dua kali tiga sentimeter. Tetapi tulisan 32 GB yang tertera  membuat benda kecil itu terlihat hebat karena mampu menampung data yang amat banyak. Dirundung rasa penasaran, gadis bertubuh mungil itu pun mempercepat langkahnya menuju apartemen tempat tinggalnya.

Sampai di hadapan laptop, Mirae menimbang-nimbang sejenak apakah hal yang hendak ia lakukan ini pantas atau tidak. Memang, ia penasaran. Dan Jung Mirae adalah sosok yang berbahaya bila ditinggalkan dalam keadaan penasaran. Ia akan uring-uringan dan membahayakan orang lain. Tetapi di sisi lain, tampaknya agak sedikit lancang membuka dokumen orang begitu saja tanpa izin. Bagaimana kalau data yang tersimpan di dalamnya ternyata adalah sesuatu yang bersifat rahasia? Bukankah itu namanya melanggar privasi?

Setelah bergelut dengan diri sendiri kurang lebih dua menit, rasa penasaran Mirae mengalahkan semuanya. Yah, toh flashdisk itu bukanlah milik orang asing. Itu adalah milik dari sahabatnya, Lay. Kalau pun sampai Mirae menemukan sesuatu yang bersifat rahasia, ia hanya perlu menutup mulutnya dengan tidak berkata apa-apa, lalu mengembalikan flashdisk kepada yang empunya. Dengan yakin dimasukkannya flashdisk ke dalam slot pada laptop-nya. Tak sampai satu sekon sebuah kotak dialog muncul, menampilkan isi dari flashdisk tersebut. Sebuah lagu, tanpa judul yang jelas selain sebuah nama file yang terdiri dari tanggal dan jam yang tertulis dalam angka.

Jemari Mirae bergerak, mengarahkan kursor untuk memilih lagu tersebut, kemudian menekan tombol enter pada keyboard laptop-nya, memberi perintah untuk memainkan lagu tersebut.

Melodi dari sebuah permainan piano mengalun lembut. Kedua sudut bibir Mirae terangkat begitu alunan musik mengusik gendang telinganya, bahkan sampai meresap dalam batinnya. Entah apa judul lagu ini, tetapi baru mendengarnya pertama kali sudah berhasil membuat Mirae jatuh cinta.

Begitu suara vokalis muncul dan mulai bernyanyi, senyum Mirae makin mengembang. Hatinya benar sudah terpaut pada sang lagu, dibawa mengayun ke sana kemari mengikuti suasana yang tercipta dalam lagu. Apalagi begitu mendengar dan meresapi liriknya.

    Tak mampu banyak berkata
Cukup hati yang kujadikan sandera
Hingga mata dan lidah kelu merana
Sampai hati cinta membuatku menderita

    Rindu memuncak
Menara kesunyian menjulang membelah langit pertemuan
Dalam harapan dan doa
Diantara sebalik rinai perjumpaan
Ada harapan dalam indah kebersamaan

    Dalam diam kusimpan cinta dalam hati
Yang tak seorang pun dapat mengerti
Bahwa ini cinta yang kujaga tetap suci
Bukan sekedar ingin memiliki

“Sejak kapan Lay belajar kata-kata romantis seperti itu?” gumam Mirae dalam hati sesaat setelah lagu berhenti mengalun. Lay yang ia ingat adalah Lay yang polos, Lay yang terkenal dengan wajah tak berdosanya yang mempunyai sifat lupa amat besar. Menurutnya, agak sedikit aneh ketika menemukan sisi lain dari seorang Lay yang tahu-tahu membuat lagu dengan melodi lembut serta kata-kata puitis-romantis seperti ini.

Sebuah pikiran terbersit dalam benak Mirae, membuat gadis itu terkikik untuk beberapa saat. Makin dipikirkan, makin rasanya menggelikan.

“Kira-kira, ia jatuh cinta pada siapa, ya?”

***

Esoknya, Lay berjalan menuju kampus yang terletak tidak jauh dari kost-nya. Ia tampak seperti zombie yang berjalan terseok dengan wajah tanpa minat untuk hidup. Tak memperhatikan orang sekitar yang kini sedang asyik dengan sebuah perbincangan hangat yang bahkan Lay tidak tahu.

Baiklah, ini terlihat konyol – tapi saat ini Lay sedang membenturkan kepalanya di dinding tembok ruang kelasnya. Beberapa rekan yang melihatnya hanya bisa menggeleng kepala dan terkekeh, semuanya sudah tahu itu berarti Lay baru saja melupakan sesuatu – dan yah, ia lupa dimana terakhir kali flashdisk-nya ia simpan.

Tuk tuk tuk

Bunyi benturan tersebut berasal dari Lay. Pria berlesung pipi itu masih saja merutuki sifat pelupa yang sayangnya sangat parah. Hingga di benturan terakhir, temannya datang dan menghentikan tindakan konyol pria itu.

Kali ini apa lagi yang kau lupakan?” tanya pria itu sembari tersenyum geli. Si pria dimple mengerucutkan bibirnya. “Flashdisk.”

Kemudian wajah sang kawan terlihat panik.

Flashdisk-mu? Bagaimana bisa hilang? Bukankah di dalamnya ada lagu untuk – “

Ssst … Diamlah! Bagaimana jika ada yang mendengar? Kau mau membuatku malu, eoh?” tegur Lay sambil membekap mulut temannya. Si teman pun melepas paksa bekapan Lay dan tersenyum lucu.

Hehehe, maaf. Kau sudah mencarinya?” ujar pria itu. Lay diam sebentar dan mengangguk pelan.

“Lalu, kau mendapatkannya?”

“Aku tidak akan membenturkan kepalaku jika flashdisknya sudah ditanganku sekarang,” sahut Lay gemas. Terkadang teman pendeknya ini begitu bodoh jika berada dalam keadaan genting seperti sekarang.

“Benar juga sih.”

Astaga, jangan ada yang menahan Lay untuk membenturkan kepalanya kali ini.

Si pria tadi sedikit tersentak. “Oh ya. Kau sudah mendengar kabar terbaru?” tanyanya mencoba mencuri atensi Lay.

“Tentang apa? Aku tak membuka ponsel semalaman,” ujarnya sedikit penasaran.

Si pria pendek mengeluarkan ponslenya dan men-scroll pemberitahuan di suatu aplikasi yang Lay yakin adalah Line.

“Mirae semalam mengunggah video di grup. Dan ini begitu banyak dibicarakan oleh mahasiswa lain, karena Mirae menandai akunmu.”

Lay mengerutkan kening, bingung akan maksud perkataan teman pendeknya. Sedikit pemberitahuan, selain ia pelupa, ia juga seorang pria dengan daya tangkap yang lemah. Sungguh disayangkan sekali, bukan?

“Kau tidak mengerti? Cepat lihat kiriman ini.”

Lay mengambil alih benda persegi itu dan melihat sebuah video. Video yang berdurasi 45 detik bergambarkan layar laptop yang menyala, namun dengan suara yang ia paham betul milik siapa. Matanya membulat tidak percaya, bagaimana bisa lagu itu ada pada Mirae? Lay tercengang untuk beberapa saat.

“Suho-ya … ”

Si pria pendek tadi merasa terpanggil dan langsung memberi atensi lebih kepada Lay.

“Kenapa?”

“Itu laguku.”

Gantian kali ini Suho yang mengernyit.

“Lagumu? Maksudmu itu lagu untuk – “

Rupanya keterkejutan yang sama juga dirasakan oleh Suho. Ya, ia baru tahu jika lagu itu adalah lagu buatan Lay. Irisnya menatap Lay yang terlihat terkejut.

“Bagaimana ini, Suho-ya? Matilah aku! Apa yang harus aku katakan? Astaga, kenapa aku bisa ceroboh begini? Seharusnya aku juga tahu kalau kemungkinan flashdisk itu ada padanya. Haissh! Suho, beri aku jalan keluar,” ujar Lay panik.

“Tenanglah dulu, biarkan aku berpikir,” balas Suho dengan nada sama paniknya.

Lay menghela nafas kasar dan membuang wajah. Habislah ia. Apa yang harus ia lakukan jika Mirae datang dan bertanya tentang lagu itu? Ugh, sifat pelupanya sungguh menjengkelkan.

Ekhem!”

Suara deheman itu berasal dari belakang Lay. Pria itu menatap Suho yang terlihat tegang sembari menatap sesuatu. Lay mengikuti arah pandangan kawan pendeknya dan seketika ia terkejut bukan main. Astaga, itu Mirae! Tamatlah riwayatmu, Zhang Yixing!

“Wah, sepertinya Yixing kita sedang jatuh cinta. Kira-kira siapa gadis beruntung itu?” goda Mirae sembari menaik-turunkan alisnya jahil. Si pria dimple hanya mendengus kesal.

“Berhenti memanggilku Yixing. Aku tidak suka,” tegur Lay kesal, sementara Mirae hanya terkekeh pelan.

“Kenapa? Apa nama Yixing terlalu imut untukmu?” goda Mirae lagi. Kali ini Lay hanya diam menahan kesalnya. Tidak mungkin ‘kan dia marah pada Mirae? Alasannya? Sudah bisa diterka.

Suho yang merasa terasingkan hanya mendengus kesal, “Sudahlah, pacaran saja kalian. Bukankah kalian sudah saling mengenal cukup lama?” ujarnya yang kemudian mendapat tatapan tajam dari Lay.

“Tapi Lay sudah punya gadis yang dia suka,” celetuk Mirae dengan nada kecewa-yang dibuat-buat. Lay mengulum bibirnya. Oh, jika saja sang gadis tahu siapa sebenarnya yang telah memiliki hatinya.

Eoh, tak apa. Aku selalu mendukungmu. Atau haruskah aku turun tangan membantumu?”

Mirae tersenyum manis dengan alis yang sengaja ia sunggingkan. Gadis itu membuat Lay terkejut sekaligus bingung. Kenapa masalahnya menjadi tambah rumit? Kenapa gadis itu ingin membantunya? Kenapa? Rasanya Lay ingin lenyap dari muka bumi ini.

Suho menahan tawanya. “Ide bagus, Mirae-ya! Bantu saja pria yang sedang kasmaran itu.”

Lay membulatkan matanya dan menatap Suho garang. Tawa pria itu akhirnya lepas. Suho langsung pergi meninggalkan Lay dan Mirae berdua.

“Awas saja kau, Suho … ” gumam Lay kesal.

Pfft, tenang saja Suho-ya!” balas Mirae dengan teriakan. Lay benar-benar ingin bersembunyi sekarang. Ia sungguh merasa malu karena Mirae. Untuk kesekian kalinya, terkutuklah sifat pelupanya ini.

***

Hari demi hari terasa semakin sesak, entah sudah berapa kali pria itu mengacak rambutnya kurun waktu seminggu ini. Bingung dan frustasi, bahkan ia sempat memarahi Suho karena memakai ponselnya tanpa izin. Reaksi Suho? Pria itu tertawa puas setelah mengirimi pesan singkat kepada Mirae yang berisi:

Kau ingin tahu gadis itu, kan? Kalau begitu bantu aku mempersiapkan kencan pertamaku dengan gadis itu,. Mala mini.

“Astaga! Terkutuklah kau, Kim Joonmyeon!”

Sudah sepuluh kali ia bergumam kesal, dan itu semua karena Suho — yang sialnya adalah sahabat dekatnya selain Mirae. Rasanya Lay ingin mengambil cuti kuliah saja dan kabur kembali ke China bersama orangtuanya. Tapi, ia kemudian berpikir kembali,

Bagaimana dengan gadis pujaan hatinya?

Ugh, benar-benar rumit. Kenapa Lay harus hidup seperti ini? Kenapa ia ditakdirkan memiliki penyakit pelupa akut ini? Untuk mengingatkan kembali, kejadian ini bermula saat ia lupa mengambil flashdisk-nya di studio musik kampus. Lebih sial lagi, dimana yang menemukan flashdisk itu adalah Mirae — gadis yang sebenarnya adalah pujaan hati Lay sejak lama.

“Lay!”

Seruan nyaring itu berasal dari arah kiri, meski ia tahu siapa itu tapi Lay tak berani menoleh. Memilih melangkah lebar dan tergesa daripada harus menahan degupan luar biasa di depan orang yang memanggilnya.

“Lay!”

Kembali, orang itu berseru, menyebabkan gemaan suara yang terdengar jelas di koridor kampus yang cukup sepi. Lay masih terus melangkah, bahkan tangannya sampai berkeringat karena gugup. Kenapa orang itu membuat tubuh Lay berkontraksi begini? Hingga kegugupannya makin menjadi, tak kala orang itu menggapai jemari lentiknya dengan kasar. Orang itu dengan lancang memutar badan Lay agar menatap dirinya. Dan seketika aura tidak enak menyelimuti keduanya.

“Apa?!”

Jujur, Lay tak bermaksud untuk membentak orang itu. Namun kegugupan kini terlalu menguasainya.

“Kenapa tidak berbalik saat aku memanggil? Kenapa tidak membalas pesanku? Kenapa tidak mengangkat teleponku? Kenapa kau menghindariku? Kenapa? Apa aku berbuat salah padamu?” ungkap orang itu sekali nafas. Matanya kini mulai berkaca-kaca, emosinya campur aduk antara kesal dan sedih.

Dan, yah, orang itu adalah Jung Mirae.

Satu hal yang Lay benci adalah fakta bahwa ia telah meremukkan hati orang lain — dan terlebih lagi itu adalah Mirae. Pria itu ingin meminta maaf, tapi ia sungguh malu. Terlalu malu bahkan rasanya ia ingin menenggelamkan diri di samudra Hindia saja. Hanya perlu dua detik untuk Lay kembali dari acara melamunnya, karena sekarang Mirae sedang terkekeh pelan.

Ah, benar. Pasti kau sibuk dengan gadis itu, ‘kan? Makanya kau tak mengangkat telponku atau membalas pesanku. Baiklah, aku mengerti.”

Gadis itu, Lay sungguh tidak mengerti dirinya. Hanya perasaannya saja, atau memang gadis itu sedang cemburu? Terbukti dari perkataannya tadi. Lay menghela nafasnya, terlalu lelah untuk memikirkan masalah percintaannya.

“Aku … aku memanggilmu tadi karena ingin menanyakan sesuatu,” ucap Mirae setelah mengusap air matanya yang mengalir. Gadis itu tersenyum, senyum yang sangat dipaksakan — Lay paham itu. Mirae mencoba tegar di depannya padahal ia tahu hati gadis itu sangat rapuh dan lembut. Tergores sedikit saja menyebabkan luka perih dengan sakit yang teramat sangat.

“Jadi kan malam nanti? Aku sudah menyiapkan semuanya. Kau tinggal bersiap dengan baik agar gadis itu terpukau dengan ketampananmu.”

“Tentu saja, dan aku ingin kau berdandan cantik pula.”

“Apa?”

Astaga, apa yang baru saja ia katakan? Batinnya. Iris Lay bergerak kesana-kemari, ia salah bicara tadi. Kenapa mulut, hati, dan otak lambannya tak bisa berkompromi sekarang? Ayolah Zhang Yixing! Tanggung jawab atas perkataanmu.

“D-Dandan y-yang cantik.”

Akhirnya, Lay memilih pasrah dengan keadaan. Toh ini semua salahnya, lantas kenapa selama ini ia bersikap bodoh seperti sekarang? Meninggalkan Mirae, bahkan mengabaikan gadis itu selama kurun waktu seminggu ini. Menyesal? Ia tidak tahu pasti. Semoga saja ekspektasi yang beberapa detik ia buat itu terlaksana dengan mulus.

Mirae meneguk salivanya, masih tak percaya dengan ucapan pria dimple di depannya. Hal yang bisa ia lakukan hanyalah mengangguk. “Ba-Baiklah … kita bertemu di taman – “

“Jangan!”

Untuk kedua kalinya, Mirae tercengang. “Kenapa jangan?”

Lay terlihat gelagapan. “I-Itu … Aku akan menjemputmu jam 7 nanti, karena … ”

“Karena?”

Oh ayolah. Tatapan penasaran itu mengganggu fokus Lay.

“Karena … aku tidak tahu jalannya.”

Baiklah, ini adalah alasan bodoh. Apa pria itu tinggal di Korea baru kemarin? Nyatanya pria itu menetap di Korea selama 3 tahun lamanya.

“Oh, baiklah. Tapi tunggu, bukannya kau – “

“Sudah, jangan bicara lagi. Aku pergi dulu,” Lay menyudahi pembicaraan dan benar-benar pergi dari hadapan Mirae. Gadis itu tak bisa menahan senyum mirisnya, mengetahui bahwa Lay, sahabat dekatnya itu tak ingin terlihat kurang dimata gadis pujaannya. Bahkan temannya sekali pun.

***

Pukul tujuh malam kurang lima menit. Mirae menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya, itu adalah sentuhan terakhir dari acara dandanannya. Gadis itu tampil dengan cantik dan anggun, balutan gaun putih gading lengan panjangnya sangat cocok dengan model rambut ikal miliknya. Mirae ingin berpenampilan terbaik untuk Lay, setidaknya agar tidak memalukan di depan gadis pujaan sahabatnya itu.

Sebenarnya masih beberapa menit lagi, tetapi gadis Jung itu sudah memilih untuk berpamitan kepada orang tuanya dan menunggu Lay di teras rumah. Sambil menanti, beberapa hal mengusik benaknya. Pertama, ia penasaran dengan wajah gadis yang berhasil memikat hati Lay. Apa gadis itu cantik? Pintar? Apa suaranya merdu? Apa latar belakangnya sangat baik sehingga membuat Lay terpikat?

Oh, satu hal lagi. Agak menggelikan, memang.

Apakah gadis itu akan tahan dengan sifat pelupa Lay? Semoga saja.

Bunyi klakson mobil dua kali membuyarkan pikiran semu Mirae. Kepala Lay yang melongok dari jendela mobil disertai dengan senyum yang merekah membuat gadis itu mendadak bersemangat. Meski agak kesulitan dengan sepatu hak tinggi lima sentinya, setengah berlari Mirae berusaha menghampiri mobil Lay.

“Sudah menunggu lama?” Lay membuka percakapan, seraya memajukan mobilnya.

“Lima belas menit. Bukan waktu yang lama, kan?”

Untuk sejenak dwimanik Lay terpaku pada dress yang Mirae kenakan. Rambutnya tergerai. Meski dengan pencahayaan minim, Lay bisa melihat polesan yang Mirae kenakan di wajahnya.

Hari ini, Mirae terlihat … cantik.

“Apa?” celetuk Mirae tiba-tiba.

Seketika Lay mengatupkan mulutnya. Ya Tuhan, mengapa bibirnya bergerak sendiri tanpa bisa ia kendalikan? Mengapa sekarang ia mengatakan apa yang ia pikirkan?

Tepat saat itu sebuah melodi terdengar dari audio mobil. Melodi piano yang familiar di telinga kedua insan tersebut. Tangan Lay cepat-cepat bergerak untuk memindah lagu, tetapi kalah cepat dengan respon Mirae.

“Oh, ini lagumu!” celetuk Mirae. “Kau sengaja memasangnya? Untuk mempersiapkan acaramu kelak?”

Ah, itu … Aku sendiri lupa kapan aku memasangnya.” Lay terkekeh pelan.

Mirae melayangkan sebuah pukulan kecil pada kening Lay. “Aigoo, sifat pelupamu itu sudah keterlaluan, tuan Zhang. Apa kabar gadis yang akan menjadi kekasihmu kelak?”

Lay tercenung. Mirae-ya, benarkah kau tidak menyadari apa yang kurasakan?

Mobil Lay menepi di seberang sebuah taman. Lay pun meminta Mirae untuk turun dari mobilnya, lalu mengikutinya menuju ke taman.

“Dimana gadismu?” tanya Mirae, mengalihkan atensi Lay.

Huh?”

“Kau berjanji untuk bertemu dengannya di sini kan?”

Lay menyunggingkan sebuah senyum tipis. “Gadis itu sudah hadir.”

Mirae mengernyitkan kening. “Maksudmu?”

“Kau adalah gadis yang kumaksud, Mirae-ya,” ujar Lay. “Aku menyukaimu.”

Seketika, segala kata-kata yang ingin Mirae ucapkan menguap begitu saja. Lidahnya kelu, mulutnya terbuka lebar, tetapi tak ada satu frasa pun yang keluar. Kedua maniknya membola.

“Aku … aku … “ Mirae tak habis mengerti. “Mengapa harus aku?”

“Kau adalah gadis yang paling mengertiku, Mirae-ya. Segala yagn kita lakukan bersama, aku menikmatinya. Aku menikmati setiap kebersamaan yang kita jalani. Kau membuatku bisa menikmati hidup. Kau memang menertawakan sifat pelupaku, tetapi kau menerimaku apa adanya.” Lay masih tersenyum, mengekspos lesung pipinya. “Kau membuatku tahu apa rasanya mencintai dan dicintai.”

Mirae mengerjapkan kedua bola mata, masih tak percaya. “Lalu, tentang lagu itu – “

“Ya.” Lay memotong perkataan Mirae. “Lagu itu berkisah tentangmu.”

Ya Tuhan … Katakan bahwa semua ini hanyalah mimpi. Tetapi tidak. Begitu Mirae mencubit kecil lengannya, tetap saja terasa sakit. Ini nyata, bukanlah sebuah mimpi.

“Karena itu … “

Lay menggamit kedua tangan Mirae, lalu memberikan tatapan lembut.

“Jung Mirae, maukah kau menjadi kekasihku?”

 

– fin –

Gecee’s Note:

HAPPY BIRTHDAY TO THE OWNER OF THE CUTE DIMPLE ZHANG YIXING! Thanks for your appearance, for everything that you gave, for every dance, every smile, every song … Wishing you nothing but the best, and may you have blast year ahead!😀

.

Audrey_co’s Note:

Happy icing day. Wahahaha Lay ultah, betewe beda sehari sama ultah aku loh ini :v Oh ya, doaku buat bang icing semoga dia langgeng di EXO dan semakin banyak karya yang dia ciptakan. Bangga loh aku sama bang icing /ehehehehe.

 

© 2016 Gecee’s & Audrey_co’s Story

3 thoughts on “[LAY BIRTHDAY PROJECT] FORGETFUL YOU

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s