[Lay Birthday Project] Bad Perception by ShanShoo

51abed30d1d59a8e77a16f7dcacdefb1

credit picture here

ShanShoo’s present

Lay x OC

(http://ikhsaniaty.wordpress.com/)

Disclaimer : I just own the plot!

-o-

“Hai, bolehkah aku meminjam pulpenmu yang lain? Punyaku sudah habis, dan aku lupa membeli lagi yang baru.”

-o-

“Hai, bolehkah aku meminjam pulpenmu yang lain? Punyaku sudah habis, dan aku lupa membeli lagi yang baru.”

Permintaan itu kelihatannya bukanlah sebuah masalah bagimu, kan?

Kalau kau bertanya padaku pun, aku pasti akan menjawab hal serupa, selama kau masih punya cadangan pulpen yang lain, tentu. Tapi, bagaimana bisa aku menganggap permintaan itu bukanlah masalah kalau Zhang Yixing, laki-laki yang barusan ingin meminjam pulpen padaku ini terus-terusan meminta ini-itu?

Oke, biar kujelaskan padamu jika kau masih kurang mengerti.

Hari pertama pelajaran tambahan, Yixing bilang, “Hai, boleh minta dua lembar isi bindernya? Punyaku habis, nih, belum sempat membeli lagi.” Dan aku memberinya secara cuma-cuma. Lagi pula, isi binder harganya tidak seberapa, kok.

Hari kedua pelajaran tambahan, Yixing berujar, “Hai, boleh lihat catatan les yang kemarin? Aku tidak sempat menulis semuanya, tanganku terlanjur pegal.” Sambil menyengir lebar. Dua detik tak kutanggapi, hanya menatapnya, kemudian aku menyerahkan catatan lesku padanya untuk ia salin.

Hari kelima pelajaran tambahan, Yixing datang tergopoh-gopoh ke dalam kelas, lalu segera duduk di sampingku, seperti biasa. Selang beberapa detik, ia berbicara, “Wah, gerah sekali! Bawa buku lebih? Boleh pinjam, tidak? Aku benar-benar kegerahan.” Oke, Guys! Ini hari kelima! Hari kelima setelah satu-dua-tiga-empat hari pelajaran tambahan dilalui dan Yixing masih dengan teganya meminta ini-itu padaku! Tapi aku masih berlaku baik padanya, meski dada sudah dilalap api amarah. Lekas saja aku mengeluarkan sebuah buku catatan tipis―karena lembarannya sudah banyak kusobek untuk hal-hal tertentu―padanya. Ia mulai mengipasi diri dengan tempo cepat sembari menyeka bulir-bulir keringat di pelipis.

Nah, ini adalah hari keenam. Iya, hari ini. Kau sudah tahu, kan, Yixing meminta apa padaku? Ya, dia ingin dipinjamkan pulpen karena punyanya sudah habis dan tak sempat membeli yang baru. Nih, ya, jujur saja, jujur sejujur-jujurnya deh, aku sudah sangat muak mendengar suara Yixing yang tertuju padaku kalau ada butuhnya saja! Sumpah! Kesal rasanya! Sampai-sampai aku ingin melempar dia saja lewat jendela kelas, syukur kalau sampai ke planet tetangga. Tapi, seperti yang sudah-sudah, meski dada sudah diliputi kejengkelan, aku masih tetap memberi segala apa yang ia inginkan.

Kuserahkan salah satu pulpen milikku dari dalam tempat pensil padanya, ia menerimanya sambil tersenyum kecil lalu mulai menulis sesuatu di atas bindernya.

Rasanya kesabaranku sudah habis! Selain karena permintaan Yixing yang tak pernah berhenti setiap kami berada dalam satu bangku untuk mengikuti pelajaran tambahan―berhubung ini adalah aturan duduk yang ditetapkan guru pengajar kami, laki-laki itu juga tidak pernah sekali pun mengucapkan kata ‘terima kasih’ atau setidaknya seucap kata setelah ia menerima apa yang diinginkannya. Hanya seulas senyum kecil sehingga membentuk lesung di pipi kanannya―oke, kuakui, senyumannya sungguhlah menawan. Tapi tetap saja, aku kesal setengah edan!

Akan tetapi, ketika aku teringat bahwa hari ini adalah terakhir bagi kelas kami untuk mengikuti pelajaran tambahan, amarahku yang bergejolak bagaikan lenyap diguyur berliter-liter air dingin. Begitu menyejukkan sekaligus melegakan!

Ha-ha! Itu artinya, Yixing tak akan lagi menjadi sebuah beban bagiku! Segalanya telah berakhir!

Jadi, biar kumaafkan saja sikapnya ini. Lagi pula, besok aku tidak akan berada satu bangku lagi dengannya. Ha-ha!

-o-

Menghirup udara pagi di dalam kelas terasa begitu menenangkan, apalagi di saat semua teman-teman sekelas belum berdatangan. Rasanya, sesuatu yang menimpa kedua bahuku seolah merosot dan tak akan kembali lagi. Aku jadi bisa tersenyum kembali, tidak seperti seminggu sebelumnya yang hanya merengut kesal lantaran sosok teman sebangkuku, Zhang Yixing selalu mengganggu ketenanganku dengan segala macam cara.

Baru saja aku akan mengambil binderku dari dalam loker meja, ketika kudengar suara Zhang Yixing menyapa lagi indra pendengaranku,

“Hai!” aku mendongak dan menatapnya horror. “Aku ingin―”

“Apa lagi?! Kau ingin meminjam atau meminta apa lagi dariku, huh? Mau meminjam pulpen?! Penggaris? Buku buat mengipasi wajahmu lagi?” benar, kesabaranku telah terkikis habis hanya karena aku mendengar Yixing akan mengoarkan permintaannya lagi padaku. Peduli amat dengan wajah inosennya yang kini menatapku dengan kening mengerut samar. Tapi itu tak lama, karena raut itu segera tergantikan dengan ekspresi ceria serta senyuman yang dua kali lipat lebih lebar, pun dengan kekehan pelan yang menguar dari celah bibirnya.

“Kenapa kau marah begitu?” itu katanya. “Aku hanya ingin …” selagi aku terdiam dengan kedua bahu yang turun-naik, Yixing merogoh isi tasnya, lantas meletakkan beberapa peralatan menulis di atas mejaku, meja yang kami pakai bersama seminggu yang lalu. “… mengembalikan segala apa yang telah kaupinjamkan padaku.”

Aku tak lagi dapat mengendalikan ekspresiku sendiri setelahnya, selain kedua mataku yang berpendar menatap satu pulpen bertinta hitam, lembaran isi binder yang kuperkirakan lebih banyak dari yang kuberikan pada Yixing kala itu, serta peralatan menulis lainnya.

Kudengar, Yixing membuang napas lewat celah bibirnya yang masih tersenyum lebar. “Satu lagi,” manikku bergulir mengikuti pergerakan Yixing yang kini merogoh saku celana seragamnya, lantas sebelah tangannya menarik tanganku dan menaruh beberapa butir permen di telapak tanganku. “Permen rasa kopi, biar kau tidak mengantuk saat belajar.” Jeda sejenak, hingga ia berbicara lagi. “Soalnya kalau aku perhatikan, kau lebih banyak mengantuk daripada mengikuti pelajaran tambahan kemarin-kemarin,”

Tiba-tiba saja, aku merasa kedua pipiku memanas, tapi aku tak bisa menyentuhnya, seakan-akan tubuhku membeku hanya dalam sepersekian detik. “Ke-kenapa kau―”

“Aku hanya ingin membalas kebaikanmu, itu saja.” Selanya, diikuti dengan kekehan kecil. “Oh, iya, sampai lupa.” Katanya dengan raut wajah jenaka. “Terima kasih,”

Tak hanya panas, aku juga merasa pipiku mulai menguarkan rona merah, serta jantungku bertalu begitu cepat.

“Kalau permennya kurang, bilang saja, ya, nanti aku belikan lagi.”

Mampus sudah! Aku sungguh mendadak edan kalau begini ceritanya.

Apalagi di saat Yixing memamerkan senyuman manisnya lagi sambil mengusak belakang tengkuknya, sebelum akhirnya ia meninggalkan mejaku dan duduk di kursinya yang berjarak dua bangku dariku.

Oh, sepertinya aku tidak butuh banyak permen. Tapi … aku butuh buku yang besar untuk menutupi mukaku yang sepertinya sudah menyerupai kepiting rebus.

Iya, jujur saja, aku malu sekaligus senang bukan main.

Untung saja tadi aku tidak jadi melemparkan buku milikku ke wajahnya, kalau tidak ….

Ah, Yixing, maafkan aku, ya?

end

ShanShoo’s note :

  1. Makasih buat yang udah bacaaa … maaf kalau ceritanya enggak jelas seperti orangnya /ga/😀
  2. Fanfiksi ini dibuat tanpa kubetain lagi, efek mayeeeessss /eheheh/
  3. Jujur aja, fanfiksi ini juga aku buat di awal bulan Oktober, sehari sebelum aku mulai praktek di RSJ. Ini semua karena aku juga ingin turut meramaikan hari lahirnya bang Icing di blog EFFI tercintah :”)

Oh iya, selamat ulang tahun, ya, Yixing Oppa! Doanya yang terbaik aja buat dirimu, Oppa! Kusayang padamu! Kucinta padamu! Kudemen padamu! /xoxo/❤❤❤

13 thoughts on “[Lay Birthday Project] Bad Perception by ShanShoo

  1. Aduh kakak!!! Aty malu sendiri bacanya!😀😀😀 mau ditaro di mana tuh muka? Gila! Malu sendiri ihh, main sewot aja. Bang icing sih yang minta ini itu mulu. Jadi gitu kan si aku nya. Ahahahahaha😀😀 suka lah. Apalagi sambil ngebayangin bang zhang lagi senyum, berasa fly ke planet venus😀 . Tapi, kenapa ingetnya donal bebek mulu kalau liat bang lay? Ahahahahaha/ditampar😀

    • Inget donal bebek berarti inget sama chen dongs?😄
      Haha iya ih coba kalo yixing enggak begitu, atau seenggaknya bilang makasih, mungkin ceweknya gak bakal sensian xD
      Makasih ya ty udah komen ^^

  2. Anjayy feelnya dpt banget sumpah bikin baper gila… entahlah aku ngomong apaan ini >_< yixingnya keliatan ngegemesin. Author, aku suka karyamu.

  3. Iiih iiih iiih ak jadi setengah edan juga bacanya. Senyum2 ndiri tau gaaak. …
    Cing kalo senyum bisa gak dimplenya di simpen aja. Ku takut berpaling niiih.
    Saengil chukaeyo oppa. . Gpp terlambat sehari kaan?? Ehehe

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s