(Lay Birthday Project) Naration

img_20160928_191134

Naration | Zhang Yi Xing & Wang La Yi

Written by Nidhyun (@nidariahs)

Inspired from Kdrama : Signal

 

***

Zhang Yi Xing kecil hanya mengenal ibunya. Zhang Yi Xing kecil hanya tahu menangis dan ketakutan saat sang ibu mulai berteriak, merusak semua barang yang ada di rumah kecil mereka, kemudian wanita yang harus dipanggil ‘ibu’ oleh Yixing itu akan mengutu ayahnya yang beberapa bulan lalu pergi dengan seorang wanita lain –entah siapa, Yixing tidak mengenalnya. Dan sejak hari itu, ibunya masuk ke rumah sakit, dan semua orang mengatakan bahwa ia sakit meskipun ibu Yixing terlihat sangat sehat.

Dia masih bisa bergerak dan tertawa –meskipun ia tertawa tanpa alasan.

Dia masih bisa beteriak dan sesekali menangis setelah mengutuk ayah Yixing berulang kali.

Dia masih bisa melempar dan merusak semua barang.

Mungkin, hati ibunya yang sedang sakit. Bukan fisiknya. Yixing tahu rasanya sakit di dalam hati, mungkin rasanya sama persis ketika ia melihat ibunya mulai mengamuk tanpa alasan. Dan yang lebih menyakitkan, ketika ibunya mulai menarik Yixing agar mendekat. Kemudian dia akan berbisik pelan, “Kita miskin, kita tak memiliki apapun, kita dikhianati pria tengik itu, apa kau merasa bahagia sekarang?” suaranya datar dan halus. Seolah tak ada yang pernah terjadi meskipun Yixing masih bisa melihat sisa-sisa air mata di pipi ibunya.

Yixing tidak tahu sampai kapan sang ibu akan terus bertingkah seperti itu. Yixing tidak bersekolah, bahkan untuk makan pun dia harus memunguti makanan yang diberikan tetangga karena iba.

Yixing juga tidak tahu kenapa sang ibu mulai nekat melukai dirinya sendiri, hingga satu hari dia menarik Yixing dan mulai memukuli Yixing tanpa ampun, “Hidup itu sangat sulit, sayang…. Jika kau menangis hanya karena hal sekecil ini, jika kau menangis hanya karena kayu ini menyakiti kulitmu, kau takkan pernah bisa menjadi kuat di masa depan ketika seluruh dunia menyakitimu,” katanya sambil menarik sudut bibirnya kecut. Tapi Yixing tahu mata wanita itu berbinar bahagia, kontras dengan kesakitan yang Yixing rasakan.

Yixing tidak punya teman, dan karena sifat ibunya yang berbeda dengan orang lain, semua orang menjauhinya tanpa Yixing tahu alasannya. Ia juga tidak begitu memusingkannya, ia hanya cukup bermain sendiri di taman dekat rumahnya, dan berbagi makanan dengan seekor anak anjing imut berwarna putih.

“Siapa yang menyuruhmu membawa binatang ke rumah?” tanya sang ibu suatu hari.

Yixing sangat terkejut karena ibunya mendapati Yixing membawa anak anjing itu ke rumahnya. Tidak sampai masuk ke dalam, sih…tapi anak anjing itu mengikutinya sampai ke rumah dan Yixing tak sampai hati mengusirnya.

Anak anjing itu sama kesepian seperti dirinya…

Yixing pikir, ibunya akan mengusir anjing itu atau memukulinya. Tapi ternyata tidak, ibu Yixing justru menggendong anak anjing itu dengan hati-hati dan memberi seulas senyum yang sudah lama sekali tidak Yixing lihat.

“Pria tengik itu, ayahmu, baru saja datang dan memberi uang untuk kita,” suara ibunya berhasil menarik perhatian Yixing. Tubuh Yixing tiba-tiba saja langsung menegang, biasanya ibu Yixing akan langsung memukulinya, atau merusak barang di rumahnya dan menangis sejadi-jadinya. Tapi kali ini dia justru tersenyum…

“Belilah daging untuk makan malam kita hari ini, juga untuk bayi manis ini,” Yixing ikut tersenyum ketika sang ibu mengecup anak anjing itu.

Yixing pun langsung berdiri dan mengikuti apa yang disuruh oleh ibunya. Ia terlampau senang karena hari ini ibunya tidak lagi marah dan tidak memukuli apapun. Mungkin ibunya senang karena ada anak anjing itu.

Tapi…sepulang dari mini market di ujung gang, Yixing justru mendapati ibunya tengah tertawa sambil mengusap sebuah pisau dapur yang sudah lama sekali tidak disentuhnya. Dan yang menarik perhatian Yixing, adalah bercak darah pada pisau itu.

“Mana si putih?” tanya Yixing ketika menyadari anjing putih kecilnya tak ada di dalam rumah. Seketika ia merasa panik. Ibunya selalu tak merasa segan untuk menyakiti atau merusak apapun, dan Yixing merasakan tubuhnya gemetar hebat karena takut anjing putih tak berdosa itu tanpa sengaja dilukai oleh ibunya.

Yixing belum smepat bertanya lebih jauh dan langsung berlarian ke seluruh ruangan di rumahnya, mencari satu-satunya teman yang ia miliki. Ia yakin anjing putih itu hanya ketakutan karena ibunya sangat suka melakukan hal aneh, salah satunay memegang pisau.

Zhang Yixing kecil sangat yakin ibunya takkan tega menyakiti bayi anjing yang bahkan sempat diciumnya…

Tapi tubuh Yixing langsung terjatuh ke tanah ketika ia mendapati sebuah kantung plastik hitam dengan ujung kaki anjing yang muncul ke luar. Yixing hanya tahu bahwa selama ini ia menangis karena rasa sakit ketika sang ibu memukulinya, Yixing juga hanya menangis saat ketakutan ketika ibunya mulai mengamuk…

Tapi untuk pertama kalinya, Yixing menangis karena hal lain…. Sesuatu yang ia tidak tahu apa namanya, dan yang ia pahami pada situasi itu hanyalah rasa sesak karena ia tahu bahwa anjing putihnya telah mati.

“Kenapa ibu melakukannya?” tanya Yixing tanpa memutar kepalanya ke arah sang ibu yang justru tersenyum melihat anjing putih yang sempat dipujinya itu telah menjadi bangkai.

“Itu karena aku mencintainya. Aku kasihan padanya, dan aku akan mengakhiri kesedihannya, kesepiannya, dan semua luka yang dimilikinya akan berakhir dengan kematiannya.” Kemudian, ibu Yixing mendekat ke arah Yixing dan mengusap kepala Yixing, “Dan aku rasa, sekarang aku tahu bagaimana cara mengakhiri kesakitanku dan menjemput bahagiaku.”

Yixing masih belum mengerti apa yang dikatakan oleh ibunya, tapi belu sempat Yixing bertanya dan berusaha mengeluarkan amarahnya, sang ibu justru menusukkan pisaunya berkali-kali ke arah tubuhnya sendiri.

Ah…ibunya baru saja memberi tahu bahwa ia baru saja menjemput kebahagiannya.

Hingga 15 tahun kemudian…Yixing kecil telah berubah menjadi pemuda biasa yang hidup sendiri dan hanya berbekal keinginan bertahan hidup yang tersisa pada dirinya. Bekerja di mini market ujung gang dekat rumahnya, dan membeli makanan juga pakaian seadanya. Dan…ia ingin membahagiakan orang lain, dengan cara yang sama seperti yang ibunya lakukan.

Mungkin, itu bisa mengobai kesakit hatiannya?

 

***

 

[Pembunuhan berantai si ‘tali merah’ masih berlanjut. Polisi masih belum menemukan penjahat utama dari kasus pembunuhan berantai yang telah terjadi sejak lima tahun lalu. Dan kini, total jumlah korban mencapai 12 orang. Polisi mengatakan bahwa keseluruhan korban memiliki cirri yang sama : depresi.

Entah atas motif apa, namun polisi meyakini bahwa pembunuh hanya akan membunuh orang-orang yang memiliki depresi, dan tersangka sangat detail mengetahui masalah pada korban. Meskipun begitu, polisi masih berusaha untuk menangkap pembunuh yang akan mengikat tangan korban dengan menggunakan tali bewarna merah setelah dibunuh

Masyarakat diminta agar tetap waspada agar tidak adanya korban yang terus berjatuhan]

Wang Layi membaca dengan ngeri berita singkat yang muncul di timeline-nya. Pembunuhan berantai si ‘tali merah’ seolah menjadi ancaman bagi semua orang di Korea Selatan. Layi pun menaruh ponselnya ke dalam saku dan mengambil sebuah ramen dan membayarnya ke kasir. Pada seorang lelaki yang mencuri perhatiannya selama dua bulan terakhir ini.

“Totalnya 1500 Won,” katanya dan melirik singkat Layi.

Layi tidak mengatakan apa-apa dan hanya buru-buru memberikan uang pada si kasir dnegan name-tag “Zhang Yi Xing” tersbeut. Ia harus menyembunyikan kegugupannya jika tidak ingin ketahuan bahwa sebenarnya Layi terlalu memerhatikan pria tersbut.

“Xiexie…” lirih Layi di detik berikutnya, Layi langsung menggigiti lidahnya –ia sangat takut jika ia salah kata ataupun salah tingkah. Gadis introvert sepertinya memang menyedihkan….

Layi pun menyeduh ramen tersbeut dengan tangan yang agak gemetar. Jantungnya belum mau berkompromi dan justru membuat tangannya gemetar seperti sekarang ini. Sial sekali…

Layi pun kembali mencuri pandang ke arah kasir dan mendapati pemuda itu juga melirik ke arahnya. Layi buru-buru mengalihkan pandangannya dan berjalan menuju meja terdekat. Ah…jatuh cinta ternyata rasanya bisa seaneh ini. Menyenangkan…

Layi pun mengeluarkan botol obat anti-depressannya, meminumnya cepat dan langsung memakan ramen yang dibelinya. Dan Layi sama sekali tidak bisa berkonsentrasi karena ternyata lelaki di balik kasir itu masih memerhatikannya. Jika boleh geer, Layi ingin berprasangka bahwa laki-laki itu juga menyukainya.

 

***

 

Gadis itu bernama Wang Layi, Yixing bisa mengetahuinya lewat buku catatan kecil milik gadis itu yang sering ia pegang. Dia suka musik sendu, musik tanpa lirik dan mendnegarkannya dengan volume keras sehingga Yixing bisa mendengarnya. Gadis itu akan datang setiap hari dan terus melirik ke arah Yixing. Gadis itu tak pernah ditemani siapa-siapa, dia terlihat sangat pemalu dan…dia meminum obat yang sama dengan obat yang diminum ibunya dulu.

Yixing tidak suka mengakui ini, tapi Yixing sangat merasa bahagia ketika ia telah berharil mengakhiri masa kesedihan orang-orang yang meminum obat-obat sejenis dengan milik ibunya dulu. Dan Yixing tidak tahu kenapa, ia justru merasakan perasaan aneh saat ketika ia melihat gadis itu. Ada sebagian dari dirinya yang tak ingin menusukkan benda tajam ke arah tubuh gadis itu, dan justru ia ingin melindungi dan memeluk gadis yang selalu terlihat kesepian di sudut matanya.

Tapi Yixing semakin ingin mengakhiri masa kesepian gadis itu ketika ia mengetahui gadis itu –Layi—justru sering membuntutinya saat pulang kerja, memperhatikannya terus menerus dan berlama-lama di mini market.

Hingga…pada akhirnya, Yixing memutuskan untuk menjadikan Layi gadis ke-13 yang ia akhiri rasa kesepiannya.

Sialnya, Yixing justru meneteskana ir mata lagi setelah 15 tahun ia tak pernah menangis lagi. Kali ini, ia merasakan sakit yangteramat di dadanya, hingga ia rasanya ingin menusukkan pisau itu ke arah dadanya.

Yixing ternyata tak ingin kehilangan Layi. Dan…Yixing tidak pernah tahu, air mata karena kehilangan akan lebih menyakitkan.

 

.

.

Hingga…narasi terakhir hidup Yixing, mengakhiri masa penyesalannya karena telah membiarkan Layi menangis ketakutan, membiarkan tubuh Layi yang penuh luka terikat tali merah dan mengambang di permukaan sungai.

Seperti ibunya, Yixing pun mengakhiri masa kesedihannya, dengan mengikat lehernya sendiri menggantung tubuhnya…

Siapa tahu, Yixing bisa meminta maaf pada Layi…

 

-the end-

20161004 PM0956

One thought on “(Lay Birthday Project) Naration

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s