[LAY BIRTHDAY PROJECT] No More Make-up On You — Joongie

nmmoye

No More Make-up On You

Storyline by Joongie © 2016

Lay & Yuko || Fluff, Marriage Life || PG – 17

Disclaimer : This is a work of fiction. This is a fictional story about fictional representations of real people. No profit was made from this work. All cast belongs to God, their parents, and their agency. But this storyline is mine. No plagiarism—create your own story and publish it—and don’t be silent reader, please.

.

.

Punya istri cantik itu bukannya tanpa resiko, Lay memahaminya betul. Saking ingin sempurnanya, Yuko sampai hati berlama-lama menyiksa sang suami. Rangkaian warna di palet yang berserakan di meja rias itu begitu menggoda, ingin dipoleskannya dalam sekali waktu. Oh Tuhan, tolong selamatkan Lay dari kebosanan eternal ini.

❤ Happy Reading❤

“Sayang, masih berapa lama lagi?”

Lay melongok dari arah pintu kepada sang istri, Yuko nan asyik bersolek. Sudah dua jam istrinya duduk di depan cermin, memoles, menabur, dan melukis wajahnya dengan segala benda yang berserakan di meja. Namun, Yuko belum jua menemui kata puas. Pasang, copot, lukis, hapus, terus begitu sampai mukanya jadi berlepotan seperti badut.

“Ayolah, kita bisa terlambat,” keluh Lay sembari memandang arloji omega-nya, lantas mengernyit samar. “Acaranya akan dimulai tiga puluh menit lagi, belum lagi dimakan waktu perjalanan.”

Yuko mendesis panjang, berbalik sambil menunjuk alisnya dengan jengkel. “Lihat? Ini masih belum simetris. Belum lagi shading, eyeliner, dan blush-on. Sayang, kumohon mengertilah kalau mempercantik diri itu butuh konsentrasi.”

Tampang Lay kian masam, gemas akan tingkah istrinya yang seolah dirasuki jin pesolek. Seingatnya wanita yang dinikahinya awal tahun lalu itu bukanlah seorang yang gemar berlama-lama di meja hias. Lantas kenapa Yuko tiba-tiba berubah begini?

Jadilah Lay mengayunkan tungkainya, kemudian berdiri persis di belakang Yukojuga menepuk-nepuk pelan bahunya. Istrinya masih sibuk melengkungkan alis, sedang dirinya tak dianggap. “Perlu kubantu? Aku lumayan ahli dalam menggunakan pensil.”

“Tidak usah,” ketus Yuko. Ia memberengut, mengodekan Lay agar beranjak dengan bibir kerucutnya. “Sayang, minggirlah kau menghalangi cahayanya.”

Sebenarnya Lay sudah tidak tahan lagi melihat Yuko berkutat dengan alisnya yang tak kunjung selesai. Pesan berantai menyerbu inbox-nya, menanyakan keberadaan dirinya dan sang istri yang tak kunjung tampak batang hidungnya. Bagaimana bisa datang kalau jiwa Yuko saja terjebak di cermin?

“Kakak Ipar dan yang lainnya sudah menunggu. Mereka bahkan sudah siap untuk berfoto bersama. Kau sudah cantik, Sayang. Ayo bangun, masih sempat kalau kita berangkat sekarang,” bujuk Lay yang kini merengkuh mesra pundak Yuko, lalu mengecup keningnya sekilas.

Segala aktivitas Yuko kontan berhenti. Maniknya terlihat gundah kala pelukan Lay dikendurkan. “Justru karena itu aku ingin tampil cantik. Aku masih ingat bagaimana semua orang memuji penampilan Kakak Ipar waktu itu. Ayahmu juga memujinya, padahal beliau jarang sekali berkomentar.”

“Kalau disandingkan dengannya, aku merasa jadi cumiah, sudahlah. Daripada buang-buang waktu mengoceh begini, lebih baik aku selesaikan riasanku,” imbuh Yuko yang tergesa menggoreskan lipstik di bibirnya.

Lay tersenyum mafhum. “Jadi begitu?”

Setidaknya sekarang ia mengerti mengapa istrinya mendadak mati-matian memermak wajah. Yuko iri sekaligus ingin mendapatkan perhatian dari keluarganya, begitu yang disimpulkan Lay. Itu menggelikan sekaligus manis. Sudut bibir Lay kian terangkat tinggi, sekon berikutnya ia secara sengaja menyiku lengan Yuko, lantas berlagak innocent.

“Sayang!” pekik Yuko seketika. Alur lipstiknya yang seharusnya searah dengan garis bibir malah melenceng sampai ke pipi. “Astaga! Apa yang harus aku lakukan? Lipstik merah begini susah sekali dibersihkan. Ah, kepalaku mau pecah rasanya!”

Sewaktu Yuko panik mencari tisu, Lay malah memanfaatkan kealpaannya untuk memutar pinggang Yuko dengan dramatis. Dekat, semakin dekat, sampai wajah mereka hanya terpisahkan satu helaan napas. Tanpa diberi aba-aba pun, kedua labium itu seakan memiliki pikiran sendiri, tahu arah yang tepat untuk saling berpagutan.

“Kau cantik seperti adanya dirimu, menyihirku seutuhnya. Dan kau akan selalu jadi yang tercantik di mataku,” bisik Lay sesaat sebelum melanjutkan permainan intensnya di bibir Yuko.

Tak puas hanya berkutat di sana, Lay turut menyapu noda lipstik di pipi Yuko dengan lembut, juga menghadiahi beberapa kecupan manis di mata serta dahi istrinya. Rasanya tak seinci pun dari wajah Yuko yang luput dari jamahan bibirnya. Sementara yang dikecup hanya bisa pasrah sekaligus menikmatinya. Lembut bibir Lay serasa memabukkan, sampai otot-ototnya jadi melemah. Pelan tapi pasti, Yuko seakan terseret arus surga.

“Jadi, apa gunanya berdandan heboh untuk mencari perhatian orang lain? Sementara suamimu ini sudah tergila-gila akan pesona dalam kesederhanaanmu. Hm?” gurau Lay, memandang lekat istrinya yang sudah dimabuk kepayang.

“Aku hanya ingin lebih dekat dengan keluargamu,” aku Yuko yang merasa wajahnya sudah seperti udang rebus, karena niatnya terlanjur ketahuan. “Apa aku salah?”

Lay menggeleng, kemudian dengan lembut membawa Yuko dalam pelukannya. “Tentu tidak. Aku justru bersyukur memiliki istri sepertimu, yang tidak hanya mencintaiku, tapi keluargaku juga. Sayang, aku lebih suka kau jadi dirimu sendiri. Tidak perlu meniru orang lain.”

Yuko bergeming. Terbius kemanisan kalimat suaminya, sehingga lupa akan pakem berbahasa. Jantungnya memompa cepat, meledakkan panas nan mampu melelehkan hatinya. Di sisi lain, kupu-kupu mulai berterbangan dari perutnya menuju hujan bunga di kepalanya. Ya Tuhan, ia bersumpah akan menjadi hamba yang taat sebagai balasan kebaikan Tuhan yang telah menghadiahkan suami seperti Lay.

“Aku mencintaimu.” Lay mengecup bibir Yuko selayang.

Yuko yang tersipu berusaha mengalihkan fokus dengan melirik wajahnya di cermin. “Ya ampun, dalam sekejap kau berhasil menghapus semuanya. Usahaku untuk tampil beda jadi sia-sia karena ulahmu,” ocehnya sambil mencubit gemas pinggang Lay.

Lay tidak berusaha menghindar, malah terkikik mengakui kehebatan bibirnya. Dan tiba-tiba, pria itu melancarkan serangan kepada Yuko yang lengah. Ia menarik tangan Yuko berguling di ranjang dan mengunci gerakan sang istri dengan tubuhnya.

“Tunggu! Tidak, jangan sekarang, Sayang. Bagaimana dengan acara keluarganya? Kita bisa terlambat,” cegah Yuko sembari berusaha melepaskan sergapan Lay. “Ayolah, kita harus buru-buru.”

Tapi apa yang didapat Yuko malah seringai lebar di wajah Lay. Bukannya berhenti, suaminya malah semakin menjadi-jadi sambil sesekali tergelak manja. Astaga, kalau begini tinggal hitungan menit sampai penampilannya jadi acak-acakan.

“Bukan lagi ‘bisa’, tapi kita sudah benar-benar terlambat. Ya sudahlah, kupikir keluargaku juga akan mengerti alasan mengapa kita tidak bisa menghadiri pertemuan keluarga hari ini. Karena kita… sedang berusaha membuat keluarga kita sendiri.”

“KYAAAAA!”

FIN

 

7pkfye

I have a cake, I have a candle ugh… Icing Birthday ♫

^ sedikit hiburan, yang tau Piko-Taro bakal langsung nyanyi nih😄

 

Selamat hari lahir Mas Icing, semoga berbahagia dan selalu dalam lindungan Tuhan \(^0^)/

Mau dong diromantisin kaya Yuko, biar lahir Icing-Icing Junior huakaka😄😄

Okay bagi yang sudah baca dan menemukan typo silakan beritahu aku, juga jangan jadi silent reader aja ya❤

8 thoughts on “[LAY BIRTHDAY PROJECT] No More Make-up On You — Joongie

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s