[LAY BIRTHDAY PROJECT] Soul (Oneshot) – Shaekiran

picsart_09-29-02-10-07

SOUL

A Fanfiction by Shaekiran

Dedicated for Zhang Yixing a.k.a Lay’s Birthday

Cast

Zhang Yixing (EXO), Moon Jin Sung (OC)

Genres Campus life, Romance, Angst, AU , etc

PG-15 | Oneshot

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Warning, typos bertebaran.

Happy reading!

Summary

“Lelaki itu tidak tau siapa dia, apa tujuannya atau apa yang harus dia lakukan sekarang. Yang dia tau hanyalah bahwa dia ada di Seoul, di atas atap salah satu gedung pencakar langit tertinggi di kota itu sambil ditemani angin sepoi khas musim gugur. Tidak, sebelum akhirnya dia bertemu gadis itu dan sadar apa yang sebenarnya terjadi sekarang.”

 

“Maaf, aku pergi duluan. Pastikan kau baik-baik saja saat aku pergi, arraseo?”

 

Author’s Side

 

Lelaki itu berdiri tegak, tidak berkutik sama sekali. Kedua lengan tangannya masuk ke dalam saku celana jeans hitam yang tengah dia pakai dengan santai. Matanya terpejam nikmat, sementara bibir mungilnya kini mulai membentuk sebuah lengkungan tipis. Dia tersenyum.

 

Beberapa sekon kemudian lelaki itu membuka kelopak matanya perlahan. Dia menatap pemandangan di depannya singkat, kemudian beralih memandang jam dengan kaca retak yang melingkar di lengan kirinya yang berbalut jaket kulit hitam, senada dengan celana yang dia pakai.

 

“Ukh, rusak.”, batinnya sambil memandangi jarum jam yang hanya berhenti di tempat, tidak bergerak sama sekali.

 

Dia menggumam lagi, kemudian lebih memilih mengganti posisinya menjadi duduk. Lelaki itu menyentuh rambutnya yang sedari tadi bergerak-gerak tertiup angin. Lagi-lagi dia hanya tersenyum tipis.

 

“Pantas saja, sepertinya ini sudah musim gugur.”, gumammnya kemudian. Lelaki itu tersenyum lagi, namun kali ini sedikit masam.

 

“Sudah berapa lama aku di sini?”, batinnya kemudian, kesal dengan keadaannya kini.

 

“Haruskah aku turun ke bawah kemudian melihat-lihat?”, pikirnya kemudian saat rasa bosan mulai menghinggapinya yang hanya duduk di ujung atap gedung sambil memandang pejalan kaki yang lalu lalang di bawah sana. Sekon selanutnya dia berdiri, kemudian berjalan ke arah pintu keluar di atap tempatnya berada sekarang. Berjalan-jalan mungkin membuatnya mood-nya sedikit membaik.

 

 

 

 

“Kapan ada banner di sana? Pemilihan calon presiden?”

 

“Oh, kenapa ada toko Kue di sini? Bukannya dulu di sini adalah toko bunga?”

 

“Hei, ternyata sekarang sudah ada café di dekat SMA itu.”

 

Lelaki itu terus mengoceh mengenai pemandangan yang dia lewati. Mulutnya seakan tidak bisa diam saat dia mendapati sebuah pemandangan baru di matanya. Refleks, dia akan mulai berkomentar panjang lebar. Anehnya, tidak ada satu pejalan kaki pun yang mengomel pada lelaki cerewet namun berparas tampan dengan lesung pipit yang setia menghiasi pipinya setiap kali dia tersenyum itu. Yah, mungkin mereka sibuk dengan dunianya sendiri.

 

Brukkk

 

Refleks, lelaki itu menoleh ke arah belakangnya ketika telinganya tak sengaja mendengar suara tubrukan. Matanya melebar saat mendapati seorang gadis yang tengah membungkuk berkali –kali meminta maaf pada pejalan kaki lain sambil memunguti buku-buku bawaannya yang berserakan di trotoar.

 

“Tsk, sepertinya dia sedang melamun tadi.”, komentar lelaki serba hitam itu lagi.

 

“Maaf, maafkan aku.”, lagi-lagi gadis itu terus membungkuk, padahal tidak ada pejalan kaki yang memperhatikannya. Lelaki tadi menatapnya nanar. “Untuk apa membungkuk padahal dia tidak salah? Lagian tidak ada yang peduli.”, lanjut lelaki itu mengoceh, kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Masa bodoh dengan gadis tadi, toh tidak ada hubungannya dengannya.

 

 

 

 

Lelaki itu duduk diam di kursi taman sambil memandangi beberapa anak kecil yang asyik berlari-larian. Dia tersenyum bahkan hingga tertawa tatkala anak-anak tadi terjatuh atau berkelahi satu sama lain. “Tsk, dasar bocah.”, lagi-lagi komentarnya.

 

Beberapa saat kemudian matanya membulat penuh saat orangtua anak-anak itu datang lalu melerai perkelahian kecil mereka. Lelaki itu tersenyum masam. “Setidaknya mereka masih punya orang yang peduli. “, gumammnya kemudian sambil mengalihkan pandangan matanya dari anak kecil tadi.

 

Lelaki itu memperbaiki posisi duduknya, mencari angle paling tepat sekaligus nikmat untuk bersantai setelah dari pagi hingga siang mengelilingi Seoul sambil berjalan kaki. Dia memejamkan matannya, menikmati angin sepoi khas musim gugur yang kini menghambur ke arahnya.

 

Berbicara tentang musim, lelaki cerewet itu agaknya mengingat sesuatu yang penting. Yah, musim. Sudah 2 musim berlalu sejak dia terbangun di sebuah atap gedung pencakar langit di tengah Kota Seoul tanpa tau apa-apa. Bagaikan tanpa identitas, dia mulai tinggal di atap itu tanpa tau siapa dirinya atau apa tujuannya hidup. Yang dia lakukan hanya bangun di pagi hari, berkeliling Seoul dari pagi hingga malam, kemudian terlelap. Terus begitu, berulang hingga tanpa sadar sekarang sudah memasuki musim ketiga.

 

“Ukh..Lelah sekali.”

 

Lelaki itu membelalakkan matanya saat suara seorang gadis terdengar begitu dekat. Dia memalingkan kepalanya ke kanan, kemudian mendapati seorang gadis yang tengah duduk di sebelahnya sambil bersandar ke pegangan kursi. Gadis itu menghela nafasnya berulang-ulang sambil memijit pelipisnya yang terasa pening.

 

“Aish!”, pekik gadis tiba-tiba, membuat Lelaki yang sedari tadi duduk di sebelahnya kaget.

 

“Kenapa dengan gadis ini? Tiba-tiba duduk di sebelahku kemudia berteriak-teriak tidak jelas.”, batin lelaki itu sambil menatap gadis yang tengah memasang ekspresi kecut itu tajam, barulah setelah sekian menit memandangi wajah gadis itu dia sadar.

 

“Bukannya dia gadis di trotoar tadi? Gadis buku jatuh?”, tebaknya, dan dia tiba-tiba yakin dengan ingatannya setelah melihat beberapa buah buku tebal yang diletakkan begitu saja di bawah kursi dengan keadaan sampul berdebu.

 

“Tsk, dia benar-benar si gadis trotoar.”, komentarnya kemudian.

 

 

Sudah lebih setengah jam kedua insan itu duduk diam di sebuah kursi di pinggir taman. Si gadis asyik sendiri dengan dunianya. Sebuah earphone terpasang manis menyumbat telinganya yang kemudian berakhir dengan si gadis tertidur di kursi taman. Lelaki itu memandang gadis yang tengah terlelap itu heran. Dia masih ingat bagaimana 10 menit lalu gadis itu mulai mengumpat tentang dosen pembimbing yang menolak skripsinya untuk ke 5 kalinya tanpa mempedulikan kehadiran lelaki itu sama sekali.

 

“Omo, tadi dia mengumpat dengan sangat menggebu-gebu, bahkan tidak peduli denganku yang sudah duduk di bangku ini lebih dulu. Lalu sekarang dia tidur? Ck, gadis ini benar-benar..”

 

“ASTAGA! Aku terlambat.”, sebuah teriakan kasar terdengar menusuk telingan lelaki yang bahkan belum menyelesaikan kalimat sinisya itu. Si gadis yang tadi tertidur ternyata sudah terbangun. Gadis itu kemudian berdiri, memasukkan handphone dan earphone-nya ke saku kemudian mengambil bukunya di bawah kursi lalu segera melesat berlari keluar dari taman. Lagi-lagi si lelaki menatap kepergian gadis itu dengan wajah cengo sekaligus takjub. “Cepat sekali.”, komentarnya karena gerak si gadis yang memang sangat cepat, sebelum akhirnya matanya beralih ke kursi dan medapati sebuah buku kecil tergeletak di sana.

 

“Moon Jin Sung?”, batinnya saat membaca nama di buku itu.“ Jadi nama gadis trotoar itu Moon Jin Sung? Tsk, menarik juga.”, batinnya sambil memandangi buku yang sudah ada di genggaman tangannya itu.

 

 

Kaki-kaki panjang lelaki itu bergerak cepat mengejar langkah Jin Sung yang agaknya boleh mendapat predikat gadis pendek namun melangkah super cepat. Bagaimana bisa gadis yang bahkan tak sampai setinggi bahu lelaki yang tengah mensejajari langkahnya itu bisa bergerak secepat ini? Bahkan lelaki itu sulit mengejar langkah gadis bermarga Moon itu.

 

“Hei nona, pelanlah sebentar. Aku hanya ingin..”, belum selesai si lelaki berbicara, toh si gadis Moon nyatanya sudah masuk ke dalam sebuah toko Kue berukuran cukup besar. Lelaki itu berdiri cengo di luar toko. “Gadis ini benar-benar …”, komentarnya terputus, bingung ingin melanjutkan kalimatnya bagaimana karena dia sendiri bingung.

 

Tak lama kemudian gadis yang diyakini bernama Jin Sung itu keluar dari dalam toko sambil menenteng sebuah plastik berukuran cukup besar yang nampaknya berisi kue. Lelaki itu masa bodoh dengan apa yang tengah di tenteng, toh sekarang dia hanya ingin menemui gadis itu dan mengembalikan bukunya. Namun naas, ternyata gadis itu sudah melesat lagi dengan langkah cepat, meninggalkan lelaki yang kembali menyejajarkan langkanya dengan susah payah sambil memanggil-manggil nama gadis itu. Naasnya lagi, si gadis sama sekali tidak menggubris. Poor him.

 

“Ya! Kenapa kau berjalan secepat ini?”, pekik lelaki itu kelelahan saat akhirnya Jin Sung berhenti di depan sebuah toko bunga yang tadi pagi dia komentari karena dulunya adalah toko kue. Jin Sung sama sekali tidak menggubris teriakan si lelaki, dia hanya sibuk dengan aksi memilih-milih bunga sementara si lelaki sudah panas karena sedari tadi diacuhkan begitu saja.

 

“Ya! Setidaknya jawab aku. Kau tau, aku mengejarmu dari taman ke mari dan itu sama sekali tidak mudah bodoh.”, kata lelaki itu lagi sambil berkacak pingggang. Si gadis masih sama, tidak mengggubris. Kesal, si lelaki kemudian menegakkan langkahnya, lalu melangkah menjauhi si gadis trotoar. Toh, gadis itu masih tidak menggubrisnya. Biarkan saja bukunya itu, mungkin dia akan membuangnya ke tempat sampah saja nanti.

 

“Ini untuk Yixing.”

 

Lelaki itu reflex menghentikan langkahnya saat mendengar sebuah nama yang sangat familiar di telinganya keluar dari mulut Jin Sung yang tengah berbincang dengan pemilik toko bunga.

 

“Yixing?”, ulang lelaki itu lagi sambil memegangi kepalanya yang mulai berdenyut tak karuan. Sebuah memori terlintas absurd di kepalanya. Aneh, terpotong-potong, dan ambigu.

 

“Apa ini? Apa ini ingatanku? Jadi gadis itu ada hubungannya denganku?”, batin lelaki itu kemudian. Dia memutar arahnya, kemudian melesat secepat mungkin untuk mengejar langkah kaki Jin Sung yang sudah bergerak cepat meninggalkan toko bunga tadi.

 

“Tidak, aku harus menemukannya. Dia, dia sumber ingatanku..”, putus lelaki itu kemudian saat sadar dia sudah kehilangan jejak Jin Sung yang bergerak terlalu cepat. Lelaki itu menghela nafasnya kasar. Dia harus bisa menemukan gadis itu lagi.

 

“Aku harus menemukannya!”, pekik lelaki itu kemudian. Denyutnya mulai berdetak tak normal, kepalanya nyeri dan potongan gambar acak kembali muncul di kepalanya. Nafasnya mulai tak beraturan, dan beberapa saat kemudian pandangannya mengabur sebelum akhirnya berubah total menjadi gelap gulita tanpa cahaya sama sekali.

 

 

 

 

 

The boy’s Side

 

“Yixing.”

 

Lagi-lagi suara gadis itu. Kenapa dia terus memangil nama Yixing, eoh? Lantas, kenapa nama itu menggangguku di tengah gelap seperti ini?

 

“Yixing-ah..”

 

Lagi, kenapa nama itu sangat mengganggu? Siap sebenarnya aku ini?

 

“Jangan pernah menemuiku lagi Moon Jin Sung, aku muak denganmu.”

 

Tunggu, suara siapa itu tadi? Kenapa suaranya, nadanya, helaan nafasnya itu, benar-benar mirip dengan caraku berbicara?

 

“Yixing-ah, kau salah paham. Bagaimana mungkin aku ada main dengan adik kelas eoh? Park Chanyeol bukan tipeku sama sekali.”

 

Itu suara Jin Sung, yah..aku yakin itu. Siapa katanya tadi? Park Chanyeol? Ada main? Maksudnya, berselingkuh?

 

“Tidak katamu? Lalu kenapa kalian hanya berduaan saja kemarin di perpustakaan kampus, eoh? Kau pikir pacarmu ini buta apa?!”, balas seseorang yang kuyakini bernama Yixing itu dengan nada marah. “Ah, kalau kau masih menganggapku pacar.”, lanjutnya seakan menyindir Jin Sung dengan telak. Jadi Yixing adalah nama pacar si gadis trotoar? Dan si gadis trotoar itu ketahuan selingkuh, begitukah?

 

Plakkk

 

Aku membelalakkan mataku saat beberapa sekon kemudian sebuah pemandangan tak asing muncul di depan mataku. Jin Sung menampar Yixing. Dan anehnya, rupa Yixing itu sama persis denganku. Mata sipit dengan iris hitam kelam itu, lesung pipit yang selalu bertengger kala tersenyum, surai hitam legam halus dengan poni yang hampir menyentuh alis. Bagaimana mungkin? Jadi aku ini ….Yixing?

 

Bagaikan menonton layar bioskop, sekarang mataku menatap pemandangan perkelahian antar insan di depan mataku. Jin Sung menangis, sementara Yixing yang bagaikan pinang dibelah dua denganku itu hanya menatapnya tanpa ekspresi, sungguh lelaki tidak berperasaan.

 

“Ukkhh…”, refleks, aku mengerang pelan saat sebuah rasa sakit kembali menghujam jantungku.

 

“Kenapa? Kenapa rasanya panas sekali?”, aku menggerang lagi. Kenapa jantungku seperti ini lagi? Kenapa semuanya hitam lagi?

 

Brughhh!

 

Beberapa sekon kemudian keadaan kembali seperti semula, semuanya terang. Namun anehnya, kini aku berada di tempat yang berbeda dan dalam kondisi yang jauh berbeda pula. Sekarang bukan hanya Jin Sung yang ada di bioskop itu, tapi ada seorang lagi yang agaknya familiar di mataku meski aku masih tidak tau siapa dia. Wajahnya lebam. Bisa kulihat Yixing dengan muka marah dan tangan mengepal keras, sementara Jin Sung nampak kaget dengan bogem mentah yang baru saja dilayangkan Yixing kepada lelaki tinggi itu beberapa detik yang lalu.

 

“Kau, jauhi pacarku!”

 

Ah, jadi dia si Park Chanyeol itu rupanya. Lumayan juga, pantas Yixing merasa was-was. Harus kuakui, lelaki itu tampan.

 

“Yixing-ah, Chanyeol tidak salah sama sekali. Kami hanya kebetulan bertemu di perpustakaan kemarin.”, bela Jin Sung masih dengan wajah syok dan ketakutan.

 

Aku terdiam. Kenapa jantungku semakin terasa menusuk saat mendengar kalimat gadis itu? Dasar gadis bodoh, itu akan semakin membuat pacarmu panas Moon Jin Sung.

 

“Jadi sekarang kau lebih membelanya?”

 

Benar kan kataku, itu hanya akan memperkeruh…

 

“Ukkh..Panas , panas…Tubuhku, tubuhku..kenapa seperti terbakar ?”

 

“Yixing-ah..”

 

“Yixing-ah..”

 

Deg.

 

Dimana, dimana aku sekarang?

 

 

 

 

Author’s Side

 

 

Lelaki itu terbangun di sebuah ruangan bernuansa serba kecoklatan yang nampak tak asing di matanya. Dia yakin, dia pernah ke tempat ini sebelumnya meski dia sendiri tidak yakin kapan itu. Lelaki itu mengerjapkan matanya lagi, kemudian memandangan ruangan tempatnya berada ini dari ujung ke ujung. Huh, ruangan mungil itu penuh berisi hiasan balon dan pita berwarna-warni, seperti acara ulang tahun kanak-kanak saja.

 

“Yixing-ah.”

 

Dia memalingkan wajahnya tatkala nama itu kembali disebut seorang gadis –Jin Sung -yang kini sedang berjalan ke arahnya sambil membawa sebuah kue tart yang diyakini berasal dari toko Kue tadi siang. Gadis itu masih tidak menggubris kehadiran si lelaki yang ntah kenapa bisa ada di ruangan itu. Jin Sung melewati lelaki itu begitu saja, kemudian meletakkan kue di atas sebuah meja pendek yang ada di tengah ruangan. Disana sudah ada lilin dan pisau plastik pemotong kue. Oh, jangan lupa bunga lili kuning segar yang tertata rapi di dalam sebuah vas yang juga diletakkan di atas meja itu.

 

Jin Sung menghela nafasnya. Wajah kusamnya kini berganti dengan senyum sumringah sambil memasang lilin-lilin ke atas kue tart. Senyumnnya tak pernah pudar. Barulah setelah semua lilin selesai terpasang sempurna, sebuah bulir air jatuh dari sudut mata si gadis.

 

“Yixing-ah, maafkan aku.”

 

Dan ntah kenapa, hati lelaki itu teriris melihat pemandangan di depannya -Jin Sung yang menangis-

 

“Mungkin aneh kalau aku masih mengungkit ini sekarang, tapi percayalah, aku tidak pernah berpaling sedetikpun darimu Yixing-ah.”, isak gadis bermarga Moon lagi, dan kali ini bulir senada jatuh di pipi lelaki itu. Dia menangis tanpa tau alasan kenapa air mata itu bisa ada di wajahnya.

 

“Oh iya, bukankah ini ulang tahunmu? Hmm, apa aku harus menyanyian lagu selamat ulang tahun?”, lanjut Jin Sung lagi setelah menghapus air mata yang tadi jatuh tanpa permisi. Dia tersenyum, kemudian meraih gitar di ujung ruangan.

 

Gadis itu mulai memetik gitar coklat itu. Lantunan melodi terdengar apik, nikmat di telinga. Si lelaki terpaku dalam diam. Seakan pernah mendengar nada yang tengah dilantunkan si gadis itu.

 

“Ah maaf. Sepertinya aku salah kunci Yixing-ah. Padahal aku sudah belajar selama 2 musim ini, tapi aku malah hanya ingat kunci nada yang sering kau mainkan saat peringatan anniversary per bulan kita. Tsk, gadis bodoh.”, gumam gadis itu lagi.

 

Si lelaki itu terpaku. Hatinya seakan teriris. Sebuah pemadangan tak asing kembali terlintas di depannya. Yixing yang marah kemudian meninggalkan Jin Sung begitu saja. Lelaki itu memacu sepeda motornya dengan cepat dan semua itu terjadi, bahkan jauh lebih cepat dari kecepatan motor itu. Potongan absurd itu akhirnya lengkap. Lelaki itu terpaku, air matanya kembali turun. Sekarang dia tau siapa dirinya sekarang. Dia Yixing itu sendiri, lelaki brengsek yang tidak mempercayai gadisnya dan seharusnya dia sadar itu dari awal.

 

“Jin Sung –ah.”, panggil Yixing kemudian sambil berdiri, hendak menghampiri gadisnya yang duduk sambil memangku gitar.

 

“Jin Sung..”, tangan Yixing bergerak ingin membelai rambut gadisnya, namun miris. Tangannya tak bisa menyentuh gadis yang asyik memetik melodi itu. Jemarinya kini hanya bisa menembus jemari gadisnya yang dulu selalu dia genggam erat. Semuanya berubah. Dia bukan Yixing yang bisa memeluk Jin Sung lagi meski sekarangpun raganya ingin memeluk gadis itu secepat yang dia bisa.

 

“Yixing –ah, kau tau kan. Aku sangat mencintaimu.”, kata Jin Sung kemudian, masih memainkan melodi di gitar yang dulunya adalah gitar milik Yixing sendiri.

 

“Iya, aku tau. Aku tau Jin-ah. Maafkan aku. Maaf..”, isak Yixing kemudian, tapi apadaya, si gadis tak akan pernah mendengar atau melihat Yixing yang tengah menangis itu.

 

“Jadi, meski aku sangat….sangat…mencintaimu, tapi kau tau kan nilai bahasa Mandarinku benar-benar jelek?”, sambung gadis itu lagi. Untunglah tidak ada manusia lain di ruangan itu –selain sosok Yixing-, kalau tidak mungkin mereka akan merasa kalau Moon Jin Sung sudah gila. Atau mungkinkah gadis itu benar-benar gila karena Yixing-nya?

 

“Ya, aku tau. Nilaimu selalu E saat ujian Mandarin Jin-ah. Kau bodoh dalam bahasa.” jawab Yixing sambil menyeka air matanya. Seakan mendengar jawaban Yixing, Jin Sung mulai bicara lagi.

 

“Aish, jangan meledekku begitu Yixing-ah.”, tawa gadis itu pelan, membuat hati Yixing semakin teriris saja.

 

“Jadi aku akan bernyanyi dengan bahasa Korea saja, arraseo?”, lanjut gadis itu, kemudian mulai mengubah melodi pelan gitarnya menjadi lebih cepat dan ceria. Dia mulai membuka mulutnya, kemudian mulai bernyanyi dengan riang.

 

“Saengil chukka hamnida..saengil chukae hamnida..saranghaneun uri Yixing, saengil chukae hamnida…”

 

Jin Sung menyelesaikan lagunya dengan baik. Dia terdiam sebentar, lalu beberapa sekon selanjutnya meniup lilin yang bahkan sudah meleleh mengenai kue itu tanpa sadar kalau Yixing juga ikut meniupnya. Dia tersenyum nanar, sama seperti ekspresi Yixing yang juga sama nanarnya.

 

“Selamat ulang tahun Yixing-ah. Semoga kau bahagia di sana.”, ucap Jin Sung pasti dengan mata berkaca-kaca. Dan lagi-lagi air mata turun tanpa permisi. Jin Sung tak bisa berpura-pura bahagia lagi. Ini menyesakkan. Dia hanya ingin menangis, dia hanya ingin Yixing-nya kembali kemudian menghapus air matanya seperti dulu, berkata Gwenchana seperti biasanya, kemudian tertawa lepas seakan semua bebannya terangkat. Gadis itu meringis, Yixing-nya sudah pergi.

 

“Terima kasih Jin-ah, terima kasih masih mengingatku.”, jawab Yixing kemudian meski dia yakin Jin Sung tak akan bisa mendengarnya. Dia mengelus rambut gadisnya penuh sayang meski tangannya kini tak bisa menyentuh Jin Sung lagi. Dia tersenyum.

 

“Moon Jin Sung, gadisku yang paling cantik sedunia. Ku Mohon, berbahagialah. Cari saja lelaki baik yang bisa melindungimu, menyayangimu dan mencintaimu. Satu lagi, jangan mengumpat Profesor Park terlalu sering karena mungkin saja itu akan membuatnya semakin sering menolak skripsimu, hiduplah dengan baik, arra?”, pesan Yixing sambil tersenyum tulus. Yang dia inginkan sekarang hanyalah gadisnya bahagia, melupakannya kemudian hidup dengan baik dengan seseorang yang bisa mencintainya setulus mungkin meski jujur Yixing tak sanggup bila melihat gadis itu tertawa bersama lelaki lain. Dia menepis semua ego itu, dia hanya ingin gadisnya bahagia.

 

“Yixing-ah, kau tidak mau mengucapkan kalimat itu? Dulu kau bilang kau akan mengatakannya saat hari ulang tahunmu.”, kata Jin Sung tiba-tiba. Yixing tersenyum lagi. Bagaimana mungkin dia lupa?

 

“Aku mencintaimu Jin-ah, sekarang dan sampai kapanpun. Semoga kita bertemu di kehidupan selanjutnya. Sayonara, Maaf aku pergi terlalu cepat.”

 

Bagaikan merasakan kehadiran Yixing-nya, Jin Sung menggangguk mengiyakan. Perlahan, tangan Yixing yang semula mengelus rambut kecoklatan gadis itu semakin menghilang, mulai mengabur semakin tidak jelas. Yixing tau apa artinya ini. Dia tersenyum tipis sambil menatap gadisnya lekat untuk terakhir kalinya. Saatnya dia pergi, benar-benar pergi.

 

“Selamat tinggal Moon Jin Sung. Salam, Zhang Yixing yang selalu menyayangimu.”

 

 

 

[ FIN ]

One thought on “[LAY BIRTHDAY PROJECT] Soul (Oneshot) – Shaekiran

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s