[EXOFFI FREELANCE] My Strong Daddy (Chapter 3)

my-strong-daddy-3

[EXOFFI FREELANCE] My Strong Daddy#3 – (Chaptered)

Tittle                : My Strong Daddy #3

Author             : Angestita

Length             : Chaptered

Genre              : Family and romance

Rating             :  PG – 13

Main cast         : Oh Sehun (EXO) – Leo William – Kim Na Na (OC)

Sumarry           : Sejak kali pertama pertemuannya dengan anak laki-laki itu hatinya telah dicuri olehnya. Tidak hanya itu ayahnya –Oh Sehun- yang penuh misteri memberikan kedamian. Akankah dia jatuh cinta pada Sehun?

Diclaimer         : Ini hanya FF tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan idol. Ini murni karya aku, tidak mencontoh milik orang lain. Aku harap kalian tidak melakukan hal yang sama. Apabila ada kesamaan judul, alur, tokoh dan cerita itu mutlak unsure ketidak sengajaan. Aku harap kalian dapat meninggalkan jejak.

Na Na terlihat sibuk memandangi murid-muridnya namun dia tidak menemukan anak laki-laki itu ada di antara mereka. Hatinya tiba-tiba resah. Kemana perginya bocah pencuri hati itu? Kemarin tampaknya Leo dalam kondisi baik-baik saja. Jadi apa mungkin sekarang dia sakit? Anak-anakkan mudah sekali terserang penyakit. Ditenangkan perasaannya, ini masih terlalu pagi untuk bergelisah ria. Na Na tersenyum ikut berbaur bersama murid-muridnya yang sibuk berceloteh. Tapi kegiatannya terhenti karena ada seseorang yang memanggilnya.

“Bunda Na Na…” panggil seorang wanita dari samping wanita itu.

Na Na menoleh dan tersenyum ketika melihat ibu Kepala Sekolah yang sudah ada di sampingnya tanpa dia sadari. Na Na segera menyapa wanita itu dan menanyakan tujuan keberadaannya di ruang kelas miliknya itu.

Wanita itu tersenyum tipis,  “Bisakah anda mencari tahu alasan ketidak berangkatan Leo? Aku sudah menghubungi rumahnya namun tidak ada yang menjawab, nomer HP ayahnya juga. Aku takut dia mengalami sesuatu.” kata wanita itu prihatin.

Na Na tak tahu harus menanggapinya seperti apa. Di dalam hatinya ada gelombang hangat serta angin musim dingin yang berhembus. Yang dia mampu lakukan adalah mengangguk setuju. Ibu Kepala Sekolah itu menyerahkan secarik kertas yang berisi  alamat rumah Leo dan nomer HP yang dapat di hubungi. Na Na diberi izin untuk meninggalkan kelas terlebih dahulu dan memulai pencariannya.

Di dalam taxsi hatinya bergumam pelan, menanyakan kepada dirinya apa yang harus dia lakukan pertama kali apabila bertemu dengan Sehun nanti? Mampukah dia berbicara di depan pria itu. Dan apabila dia tidak menemukan Sehun dan putranya, apakah yang akan dia lakukan nanti? Halusinasinya terhenti ketika sopir taxsi itu memanggilnya.

“Apa ini tempatnya paman?” tanya Na Na tak percaya. Kini dia sedang berada di sebuah bangunan tinggi dengan dinding berlapis kaca. Atapnya bahkan mampu menjadi tempat mendarat helicopter.

“Iya Nona, apakah anda jadi berhenti di tempat ini?” paman sopir taxsi itu balik bertanya kepada Na Na.

Na Na mengangguk ragu-ragu, dia masih tidak yakin bahwa ini kediaman Leo. Murid-muridnya memang berasal dari keluarga mampu tetapi dia tidak pernah tahu bahwa ada muridnya memang berasal dari keluarga yang benar-benar mampu seperti Leo ini. Wanita itu keluar dengan ragu-ragu dari dalam taxsi setelah membayar.

Na Na benar-benar terlihat seperti orang hilang berdiri dengan bodoh di depan rumah itu. Langkahnya ragu-ragu mendekati tempat post satpam. Ada dua orang pria berseragam rapi disana. Mereka terlihat terkejut dengan kehadiran wanita itu semakin memojokkan tubuh kecil Na Na kedalam jurang. Setelah menjelaskan alasan kedatangannya dan niat bertemu dengan Sehun, Na Na tak lantas diperbolehkan masuk. Kedua pria itu terlihat sibuk berbisik barang sebentar.

“Maaf Nona, Tuan Sehun dan Tuan muda tidak bisa di temui sekarang. Mereka sedang tidak di rumah.” jelas salah satu dari kedua orang tersebut.

“Lalu, dapatkah anda memberi tahu apa yang menjadi alasan Leo tidak berangkat sekolah? Maksud saya apakah mereka pergi berlibur?”

Salah seorang satpam tampak menghela nafas, “Tuan muda Leo kemarin malam jatuh sakit. Dia sekarang dibawa kerumah sakit.”

Na Na terlihat terkejut dengan sedikit tidak sopan dia bertanya letak rumah sakit tempat Leo dirawat. Setelah mendapatkan apa yang dia mau, wanita itu segera pergi mencari taxsi dan menuju rumah sakit itu. Di dalam perjalanan dia merasa hatinya berdebar pelan. Perasaan khawatir yang datang tanpa dia mampu tahan.

Tidak mudah menemukan ruang inap Leo tetapi setelah mencari-cari ruangan itu selama dua puluh menit wanita itu sudah berada di tempat yang tepat. Ragu-ragu dia mengetuk pintu bercat putih itu. Seseorang membukakan pintu untuknya. Na Na segera membungkuk hormat sembari menyapa sopan wanita tua itu.

“Hallo, ini siapa?” tanya dia dengan nada ramah.

“Hallo, Nyonya saya Kim Na Na gurunya Leo.” Jawab Na Na sopan.

Wanita itu segera mengajak Na Na masuk kedalam  ketika tahu Na Na adalah guru dari cucunya. “Saya neneknya Leo. Mari masuk nak. Leo kesepian di dalam.” Ajaknya ramah. Dengan sungkan Na Na masuk kedalam kamar itu. Dia kembali  di buat terjengang ketika melihat kamar  inap Leo yang terlihat seperti taman bermain anak-anak namun lebih bersih dan wangi.

“Silahkan duduk. Leo sedang tidur, tapi mungkin sebentar lagi dia terbangun.” Kata wanita itu. “Jadi, anda gurunya Leo? Seharusnya anda tidak perlu repot-repot datang kesini. Leo besok sudah pulang.”

Na Na tertawa kecil, “Tidak apa-apa Nyonya. Saya sebenarnya tidak tahu bahwa Leo kerumah sakit. Dia tidak datang tanpa keterangan tadi pagi jadi saya mencari di rumahnya. Satpam memberitahu saya bahwa Leo masuk kerumah sakit, makanya  saya kesini.” Na Na berkata pelan.

Nyonya Oh terlihat sedikit kaget mendengar penjelasan wanita di hadapannya. “Ahh… Sehun pasti belum meminta izin kalau Leo sakit. Papanya Leo itu daritadi yang paling khawatir. Dia saja tidak berangkat kerja hari ini padahal Leonya sudah baikan.” Tutur Nyonya Oh dengan bangga, seolah sedang mempromosikan Sehun kepada Na Na.

Na Na tersenyum tipis, paham dengan kondosi yang sedang Sehun alami. “Leo sakit apa memangnya kenapa harus sampai kerumah sakit?” kini Na Na balik bertanya.

Nyonya Oh terlihat berubah expresi wajahnya,  wanita itu terlihat sedih. “Leo menangis semalaman karena dia rindu ibunya.” Jawab wanita itu dengan suara sarat akan keprihatinan.

Na Na merasa tidak seharusnya menanyakan keberadaan ibu kandung Leo tetapi bibirnya tidak bisa di tahan dengan baik. Wanita itu kelepasan bicara. “Maaf sebelumnya nyonya, memangnya ibunya Leo pergi kemana?” hati-hati sekali dia bertanya.

Raut wajah Nyonya Oh kian keruh membuat Na Na semakin tak enak hati. “Dia meninggal dua minggu yang lalu. Tetapi Leo tidak tahu ke adaan itu.” Balasnya dengan nada yang kini terlihat sekali tidak  suka.

Na Na merasa harus segera memperbaiki ke adaan. Dia mencoba tersenyum lembut, “Mohon maaf atas kelancangan saya.  Saya ikut prihatin atas apa yang terjadi dengan Leo.” Imbuh wanita itu. Nyonya Oh tersenyum tipis. “Saya juga merasakan hal yang sama. Ibu saya meninggal karena sakit diusia saya yang ke lima tahun. Saat itu saya hanya berfikir saya hanya ingin menangis.”

Wajah Nyonya Oh berubah simpati, “Oh ya? Kamu pasti merasa berat waktu itu.”  Na Na tertawa pelan sebagai jawaban.

Tiba-tiba sebuah suara memecah obrolan mereka. Leo terbangun dengan wajah sedikit pucat. Dia tersenyum lebar ketika melihat  Na Na. Anak itu bahkan menyerukan nama Na Na antusias. “Bunda Na Na.”  panggil Leo.

Na Na mendekati anak itu, dia tersenyum lebar ketika Leo memeluknya hangat. Dapat dia rasakan suhu badan Leo yang sedikit hangat. Diusapnya Leo dengan penuh kasih sayang layaknya dia anaknya sendiri. Nyonya Oh memandangi keduanya dengan senang. Dia merasa perlakuan Na Na kepada Leo layaknya ibu kepada anaknya. Wanita itu bersyukur dalam hati, Leo –cucunya- dapat bertemu dengan wanita seperti Na Na.

Na Na dan Leo segera terjebak obrolan hangat yang diselingi tawa. Bahkan keduanya tampak tidak sadar bahwa ada Nyonya Oh disana. Na Na tak segan membiarkan Leo duduk dalam pangkuannya. Wanita itu beberapa kali mencium pipi Leo sayang dan Leo tak segan meringkuk dalam pelukan hangat wanita itu. Mereka terlihat sangat dekat dan hangat.

Tiba-tiba Nyonya Oh mendapat telefon dari suaminya yang mengharuskan diapergi saat itu juga. Dengan berat hati dia meninggalkan cucunya dan menitipkan Leo kepada Na Na. Na  Na dengan senang hati menyetujui tawaran itu. “Sehun akan datang sebentar lagi. Dia sedang bertemu dengan seseorang.” Ucap Nyonya Oh sebelum pergi.

Sepergian Nyonya Oh, Na Na dan Leo memutuskan menonton film kartun yang wanita itu simpan di tabletnya. Mereka kadang-kadang tertawa kecil ketika tokoh utama dalam cerita bertingkah lucu. Tanpa mereka sadari sudah ada seseorang di ambang pintu tengah memandangi mereka dengan senyum tipis.

Leo terlihat bergumam pelan sembari memegangi perutnya, Na Na yang menyadari tingkah Leo bertanya dengan khawatir. Dengan tingkah lucu si kecil meminta jatah makan siang. Tentu itu membuat Na Na khawatir. Wanita itu segera turun dari tempat tidur tetapi gerakannya terhenti ketika matanya menemukan seseorang tengah berdiri diambang pintu. Na Na sedikit terkejut dia segera membungkuk hormat ketika menyadari itu adalah Sehun.

Sehun yang menyadari keberadaannya diketahui segera beranjak mendekat. Leo yang melihat papanya terlihat senang. “Papa Sehun.” Panggilnya antusias.

Sehun tersenyum tipis menyadari perubahan dari putranya. Tadi putranya terlihat sangat sedih dan tidak mau menayapanya terlebih dahulu tetapi sekarang Leo berubah. Anak itu terlihat sudah baik-baik saja. “Hallo, sayang…” Sehun mengusap lembut rambut putranya dan mendaratkan sebuah ciuman di pipi kanan-kirinya. “Anak papa sudah sembuh sepertinya.” Gumam Sehun senang.

Leo mengangguk antusias, “Papa, Leo minta maaf karena Leo nakal sama papa semalam. Sekarang Leo nggak bakal manggil-manggil bunda lagi.” Celoteh Leo pelan. Sehun tampak terkejut dan ingin mengucapkan sesuatu tetapi segera di dahului oleh Leo. “Kata bunda Na Na, bunda Irene sedih kalau Leo manggil bunda terus. Leo nggak mau bunda sedih. Leo ingin bunda bahagia. Jika Leo kangen bunda kata bunda Na Na, Leo tinggal manggil Tuhan nanti Tuhan yang akan nyampein  deh ke bunda.” Imbuh bibir tipis itu.

Sehun memandang anaknya tak percaya, dia tidak tahu siapa yang mengajari bahasa seperti itu. Sehun merasa itu bukan ibunya. Na Na yang mengajari itu sedikit merasa bersalah ketika melihat expresi Sehun yang berubah tidak suka. Sehun memandang Na Na dengan tatapan dingin seolah ingin membekukan wanita itu. Na Na sedikit terhuyung kebelakang ketika mendapati tatapan itu.

“Papa… papa juga nggak boleh sedih ya? Bunda Irene pasti sedih kalau lihat papa sedih. Kan papa kesayangannya bunda. Papa senyum ya, biar bunda senang.” Celotehan Leo berlanjut, kini tatapan Sehun sudah beralih ke arah putranya.

Dia mencoba tersenyum lebar, tangannya mengusap rambut hitam milik Leo. “Papa akan tersenyum… kamu juga ya sayang.”  Sehun mencium kening Leo dengan amat sayang.

Na Na yang masih terdiam terlihat tersenyum haru, matanya mulai berkaca-kaca. Sehun melepaskan ciumannya ketika Leo mulai bicara, “Papa Leo sama bunda Na Na kelaparan. Papa cari jajan di luar ya buat Leo.” Sehun tertawa kecil menyentuh hidung mungil anaknya dengan gemas.

“Kamu atau bunda Na Na yang kelaparan?” goda Sehun, Leo tertawa kecil. Na Na merinding ketikamendengar Sehun memanggil dia dengan sebutan bunda. Hatinya menghangat merasakan kedamian. Sehun menatapnya dengan tatapan yang lunak kea rahnya, “Aku akan membelikan makan untuk Leo kamu ada titipan?” tanya Sehun ramah.

“Tidak… tidak  ada…” jawab Na Na kaku. Sehun mengangguk dan pergi tanpa berkata-kata lagi. Di dalam ruang inap Na Na terduduk di sofa dengan lemas, efek ucapan Sehun memanggil bunda di depan namanya meninggalkan jejak yang sangat membekas. Selama menunggu Sehun Leo sibuk dengan tablet di tangannya dan Na Na terlihat lebih sibuk dengan hatinya.

Sehun kembali dengan dua tas plastic putih. Leo tampak senang ketika ayahnya membawakan makanan kesukaannya. “Ice cream, pa?” tanya Leo ketika Sehun mengeluarkan makanan yang dia beli di atas kasurnya.

Sehun menggeleng tegas, tidak ada ice cream. Dia tidak ingin kejadian kemarin malam terulang lagi. Memang Leo sudah baikan tetapi siapa tahu tubuh kecil putranya tidak sejalan? Anak-anakkan sedikit sensitive ketika sedang sakit. “Tidak ada ice cream sayang. Besok kalau Leo udah keluar dari rumah sakit papa belikan.”

“Janji?” Leo mengajukan kelingkingnya ke arah Sehun. Sehun mengernyitkan alis, merasa asing dengan tindakan putranya. Leo jarang bertingkah seperti itu. “Kata bunda Na Na, kelengking adalah tanda janji.”

Sehun tersenyum tipis, menyerahkan kelingkingnya dengan senang hati. “Janji sayangku.” Na Na membantu Leo menata makanannya, dengan sabar dia juga ikut menyuapi Leo makan. Sehun duduk di sebelah Na Na, diam-diam dia memandangi Na Na yang terlihat bahagia menyuapi Leo. Wanita itu tidak terlihat putus asa ketika Leo berontak tidak mau menghabiskan makannya. Dia selalu aja ada akal.

Walaupun hati pria itu masih diselimuti perasaan jengkel menyadari kelancangan Na Na dalam memberikan penjelasan kepada Leo tetapi dia tidak bisa menipu hatinya yang merasa damai ketika Na Na bersama Leo.  Mereka terlihat sangat pas dan dekat, seolah ada benang merah tak kasat mata yang  mengikat keduanya. Sehun tanpa sadar tersenyum tipis. “Papa…” panggil Leo pelan, Sehun menoleh ke arah putranya. “Nanti malam bunda Na Na menginap disini ya?” Sehun tahu itu adalah permintaan yang sangat tidak mungkin dia turuti. Na Na hanya guru Leo di sekolah bukan keluarga atau calon bunda Leo. Na Na adalah orang asing dan Sehun tidak ingin ada orang asing bermalam di tempat yang sama dengannya. Panggilan bunda saja karena di sekolah begitulah anak-anak memanggil guru mereka.

“Leo… tidak boleh seperti itu sayang. Bunda, nggak bisa menginap disini.” Ucap Na Na lembut. Leo terlihat cemberut matanya mulai berkaca-kaca, Na Na segera menghibur anak itu dengan menawari besok akan berkunjung kesini lagi. Setelah Sehun ikut membujuk anaknya akhirnya Leo setuju dan membiarkan Na Na pulang setelah makan.

Leo tampak masih sedih ketika Na Na berpamitan pulang padahal wanita itu sudah memberikan kecupan di kedua pipinya. “Bunda janji ya…” ucap Leo lagi. Na Na mengangguk setuju. Dia akan menepati janji untuk datang kesini lagi besok. Dia akan menghabiskan waktu dengan pria kecil itu.

Sehun mengantarkan Na Na hingga ke ambang pintu. Pria itu melepas wanita cantik itu sembari tersenyum tipis, “Terimakasih.” Ucap Sehun lembut.

Na Na mengangguk, “Sama-sama. Aku pulang terlebih dahulu Pak Sehun.” Sehun tertawa kecil mendengar panggilan yang Na Na selipkan di depan namanya. Na Na sedikit canggung dengan tawa itu.

“Panggil aku Sehun… aku tidak setua yang kamu pikirkan.”

Na Na merasa pipinya memerah ketika Sehun berbicara seperti itu. Di dalam perjalanan pulang di dalam hati dia memanggil Sehun. “Sehun… Oh Sehun… kenapa perjalanan hidupnya menyedihkan?”

To be continued

 

 

 

22 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] My Strong Daddy (Chapter 3)

  1. Leo gemesin deh… tp Sehun garang jg… padahal kan Nana nyelesein masalah Sehun… dia bantu njelasin klo Irene udah meninggal…

  2. cepet ya updatenya..hahahaha asikkkk

    ahhh leo gemesin deh… sehun appa jg mempesona..aduh ayah idaman bngt sehun itu…
    sehun udah mulai luluh… gegara leo ngomongin bunda nana mulu..sehun jdi ikut”an…hehehe
    aduhhh gk tau mau ngomong apa lg.. gemes efek dari leo

  3. Yeeyyy…cepet banget di postnyaaaa.

    Kayanya sehun udah mulai luluh & mulai nerima nana nihh, sedikit deg degan saat sehun.panggil nana pake sebutan bunda, seakan-akan tuh nana istrinya sendiri

  4. Daebakk., entah kenapa aku kok sempet nangiss yahh???
    Sehun., daddy idaman 😍
    Leo bener” ngegemesin 😊😊
    Bingung mau ngomong apa lagi 😂

    Ditunggu klanjutanya…
    Next juseyo^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s