[EXOFFI FREELANCE] Our Handsome Cat (Chapter 7)

large-1

Our Handsome Cat

Tittle                           : Our Handsome Cat (Chapter 7)

Author                       : Dancinglee_710117

Main Cast                 :

  • Kim Junmyeon / Suho (EXO)
  • Huang Zi Tao / Tao (EXO)
  • Byun Baekhyun (EXO)
  • Park Chanyeol (EXO)
  • Gong Kyujin (OC)
  • Hyun Ah Jin / Kimberly (OC)
  • Ryu Jung In (OC)

Other Cast                :

  • Lee Taeyong (SM Rookies)
  • Kim Jong Dae / Chen (EXO)
  • Kim Namjoon / Rap Monster (BTS)
  • Xi Luhan (EXO)
  • Song Naeun (A Pink)
  • Tuxedo (Secret cast)
  • And other you can find in the story

Genre                        : Romance, Fantasy, Friendship, School Life and other

Rating                        : T

Length                       : Chapter

~Happy Reading~

 

*Author POV*

 

Jung In sudah duduk di sebelah pria bernama Jhonny yang berhadapan langsung dengan Watanabe. Hening sejenak sampai sang ayah membuka suara.

 

“Jhonny baru datang dari Kanada. Kalian sangat dekat saat masih sekolah dasar dan kini sudah sama-sama dewasa.” Kata Watanabe seraya menyeruput teh hijaunya.

 

Jung In mengikuti sang ayah dengan meminum sedikit teh yang sudah turun temurun menjadi minuman favorit keluarganya. Sementara Jhonny tertawa kecil menanggapi ucapan Watanabe.

 

“Tuan, tuan Osaka sudah datang.” Dari luar pelayan keluarga memberitahukan dengan bahasa Jepang kalau orang yang sedari tadi Watanabe tunggu sudah datang dan meminta persetujuan untuk memasuki ruangan pribadi tersebut.

 

“Persilahkan dia masuk.” Perintah Watanabe menggunakan bahasa Jepang pula.

 

Pintu masuk tergeser dan masuklah Osaka, pria yang Watanabe tunggu. Osaka membungkuk memberi hormat lalu segera duduk di belakang Jung In dan Jhonny membuat kedua orang itu harus berbalik.

 

“Langsung saja Osaka.”

 

Osaka mengangguk lalu mengeluarkan selembar kertas dari balik jas coklatnya.

 

“Ini adalah perjanjian yang sudah ditanda tangani oleh pimpinan mereka. Dengan ini kita bisa bebas menjual barang tersebut tanpa halangan dari pihak berwajib.”

 

Watanabe tersenyum puas, “Kerja bagus Osaka!” kemudian beralih pada dua anak muda di depannya. “Jhonny! Yukari!”

 

Kedua orang yang dipanggil berbalik, menunggu apa yang akan Watanabe katakan.

 

“Yukari, aku ingin kau dan Jhonny menikah.”

 

Seketika sorot mata Jung In berubah, menunjukkan rasa keterkejutannya. Belakangan ini hidupnya sudah terlalu banyak mengalami kejutan yang aneh dan menyusahkannya. Kali ini dari ayahnya sendiri, harus bagaimana dia mengekspresikan diri sekarang?.

 

***

 

Sudah sekitar sepuluh menit lamanya Kyujin berdiam diri tanpa melakukan apapun di meja belajarnya. Semuanya karena soal matematika yang begitu sulit, apalagi banyak sekali masalah-masalah yang berkeliaran di otaknya. Membuat Kyujin susah fokus hingga sekarang melamun seperti orang bodoh.

 

“Aish!, aku menyerah!”

 

Dia mengacak rambut frustasi dan memutuskan untuk tidak lagi berurusan dengan soal-soal tersebut untuk saat ini sampai pikirannya kembali tenang. Hippo, kucing berbulu keemasan itu naik ke mejanya dan membuat perasaan Kyujin sedikit lebih nyaman. Kyujin mengelus bulu kucing tersebut lembut. Tanpa sengaja dia melihat ada seberkas cahaya di ujung meja belajarnya.

 

Kyujin menatap buku yang dia dapat di depan pintu rumahnya. Buku dengan judul ‘Simple Love Stroy For You’ kembali menarik perhatiannya. Soal cahaya tadi dia anggap lampu dari mobil yang barusan lewat di depan rumahnya. Gadis itu beranjak untuk mengambil buku yang sejak pertama kali dapat belum dibuka sama sekali.

 

Dia bolak-balik buku merah jambu itu, hendak memutuskan untuk dibaca atau tidak. “Dipikir-pikir daripada tidak ada pekerjaan lain… yasudah aku baca saja!”

 

Pelan-pelan dia membuka buku tersebut. Hippo sudah ada di pangkuannya. Baru membaca sebaris isi dari buku Kyujin memilih untuk membacanya sambil bersantai di kasur. Dia mengangkat tubuh Hippo dan merebahkan diri di kasur. Mencari posisi pas untuk melanjutkan acara membacanya, setelah merasa nyaman dia kembali membuka buku tersebut dengan Hippo tiduran di sampingnya.

 

‘Simple Love Story For You’

 

‘Stage one : prolog’

 

‘Cerita ini bermula saat pemeran utama sedang sibuk memikirkan segala permasalahan yang terjadi pada kehidupannya akhir-akhir ini. Dia tengah gundah sampai akhirnya menemukan sebuah buku yang dia dapatkan dari orang tak dikenal. Buku yang katanya bisa menyuguhkan sebuah cerita manis dan romantis dimana akan terasa begitu nyata’

 

“Cih konyol sekali!” ledek Kyujin mengenai cerita tersebut. Tapi dia tetap melanjutkan membaca.

 

‘Dia pikir cerita tersebut sangat konyol, tapi dia tetap membacanya, sekedar untuk hiburan diri. Gadis itu -sang pemeran utama- memutuskan untuk membacanya sambil tiduran diatas kasur dengan ditemani anjing pudel kesayangannya. Lama kelamaan dia mengantuk dan bosan dengan cerita tersebut, hingga dia menguap’

 

Kyujin menguap entah kenapa, padahal sekarang bukan jam tidurnya.

 

‘Dari luar terdengar ketukan pintu, ternyata ibunya masuk untuk memberikan segelas susu hangat untuknya. Beliau juga mengatakan untuk tidak lupa membawa gelas ke dapur besok’

 

Pintu kamar Kyujin diketuk, gadis itu mempersilahkan siapapun diluar sana untuk masuk. Ternyata ibunya datang dengan membawa segelas susu hangat kesukaannya. Ibu Kyujin meletakkan susu tersebut di nakas.

 

“Kyujin, jangan lupa besok bawa gelasnya ke dapur ya?”

 

Tanpa mengalihkan pandangan dari buku Kyujin menjawab, “Iya, bu.”

 

Sang ibu menggeleng lantas tersenyum kecil melihat kelakuan anaknya. Dia kemudian pergi setelah memberikan ciuman di kening. Kyujin masih fokus membaca tanpa sadar apa yang sudah terjadi.

 

‘… kemudian dari arah jendela terdengar ketukan berkali-kali. Awalnya dia pikir itu hantu, namun rupanya pria yang dia kagumi sejak lama datang dan masuk lewat jendela kamarnya’

 

Kini pintu jendela Kyujin yang diketuk. Gadis itu tersentak, matanya melotot. Malam-malam begini siapa yang bertamu?, lewat jendela lagi!. Kyujin takut, tapi dia memberanikan diri untuk melihat kearah jendela. Pintu jendela digeser dan sosok seseorang masuk melalui jendela tersebut. Kyujin makin terkejut saat tahu siapa orang tersebut.

 

“Cha… Chanyeol?!” pekiknya tertahan.

 

Chanyeol tersenyum kemudian duduk diatas pinggir kasur Kyujin. Gadis itu masih belum bisa berfikir rasional akan apa yang sudah terjadi, tapi gerakan tangan Chanyeol yang menyuruhnya kembali membaca membuatnya menurut begitu saja.

 

‘Kini, pembaca yang harus memilih, apa yang akan terjadi dengan sang pemeran utama dengan pria yang dikaguminya sekian lamanya…’

 

“A-apa?!, ini buku apa?”

 

“Sudah pilih saja.”

 

Suara lembut Chanyeol bagaikan hipnotis untuknya. Tapi dia bingung harus memilih apa karena ada tiga pilihan untuk kelanjutan cerita tersebut.

 

‘Satu, sang gadis akan melakukan hubungan intim dengan sang pria idaman. Dua, mereka akan tidur bersama setelah melakukan ciuman panas. Dan yang ketiga, mereka akan makan malam romantis berdua saja’

 

“Gila!” respon Kyujin terhadap pilihan yang disediakan. Terang saja, pilihan untuk kelanjutan ceritanya terlalu bahaya untuk gadis remaja seumurannya. Walau pilihan yang ketiga lebih aman dan menyenangkan pastinya.

 

Kemudian dia berfikir apa saja yang sudah terjadi. Cerita dalam buku itu benar-benar terjadi padanya, mulai dari mengantuk, ibunya yang mengantar susu, Chanyeol yang masuk lewat jendela, dan jika dia tidak salah menebak, apa yang dia pilih untuk kelanjutan cerita pasti akan terjadi juga padanya!.

 

***

 

Udara malam itu makin dingin. Rumah keluarga Watanabe sudah mulai sepi karena memang ini waktu istirahat bagi seluruh penghuni rumah. Kecuali Jung In dan pria bernama Jhonny itu. Keduanya tengah berjalan beriringingan menikmati pemandangan langit malam penuh bintang di halaman belakang kediaman Watanabe. Tak ada percakapan yang muncul, entah karena begitu mengagumi langit yang indah atau memang sama-sama canggung karena baru bertemu, meski Watanabe bilang mereka dekat saat kecil tapi Jung In tak ingat pernah berteman dengan seorang lelaki bernama Jhonny.

 

“Long time no see.” Jhonny tiba-tiba bersuara.

 

Jung In menoleh, “Yah, atau… entahlah. Jujur aku tak ingat siapa kau.” Katanya polos. Dia melipat kedua tangan di depan dada saat mendengar kekehan kecil Jhonny.

 

“Kau benar-benar berubah, Yukari yang ku kenal dulu sangat manis dan anggun.”

 

“Jadi menurutmu aku berubah tomboy dan urakan begitu?”

 

Kembali ucapan Jung In membuat Jhonny tertawa, tawa ala bangsawan yang mampu menyihir setiap wanita untuk tertarik padanya. “Bukan begitu, kau jadi lebih pemberani dan terbuka. Aku lebih suka Yukari yang seperti ini.”

 

“Yah, terima kasih.”

 

Kemudian kembali hening. Mereka terus berjalan mengelilingi bagian belakang rumah dan sampai di taman kecil dimana terdapat air mancur berukuran sedang kesukaan Yuta, kakak Jung In yang kedua. Namun tak sesuai dengan harapan gadis itu, Yuta sedang tidak berada disana seperti malam-malam biasanya. Jhonny menarik tangan Jung In lantas membawanya untuk lebih dekat pada air mancur. Pria tersebut nampak begitu antusias sampai menggenggam tangan Jung In, berbeda dengan Jung In yang sudah terbiasa, malah merasa risih karena Jhonny belum melepas tautan tangan mereka.

 

“Bisa kau lepas tanganku?”

 

Dengan canggung Jhonny melepas tangannya kemudian beralih menatap air mancur setelah memandang Jung In sekilas.

 

“Aku menyukaimu.”

 

Alis Jung In terangkat sebelah, menatap lelaki di sebelahnya. Tidak terkejut sama sekali karena dia sendiri sudah memikirkan tipe pria seperti apa Jhonny itu.

 

“Lalu?”

 

“Maka dari itu kuharap kau menerima perjodohan ini. Aku sudah lama suka padamu Yukari. Please accept my love.”

 

“Ada yang sedang berakting disini.”

 

“Maaf?”

 

Jung In tertawa lepas, dan Jhonny tidak mengerti dengan respon yang dia dapat atas pernyataan cintanya. Beberapa saat berlalu sampai Jung In bisa berhenti dari tertawa. Ia kembali bersedekap dan menyeringai pada Jhonny yang bergidik dibuatnya.

 

“Kau menginginkan aku atau kekuasaan ayahku?”

 

“Huh?”

 

“Cih!, jangan pura-pura bodoh tuan Jhonny yang terhormat. Dengan alasan perjodohan, kau hendak mengambil alih kuasa yang ayahku punya. Karena tidak mungkin untuk melenyapkan Yuta dan Hansol begitu saja, kau harus punya rencana dan akulah umpannya.”

 

Mata Jhonny membulat sempurna, “A-aku tidak bermaksud demikian, Yukari!.”

 

“Siapa Yukari?” seringai Jung In terlihat makin kejam, “Namaku Ryu Jung In.”

 

“Kau sudah mencemarkan nama baik Jhonny Lee!”

 

“Lantas apa peduliku?. Aku akan tetap menerima perjodohan ini, untuk melihat seberapa kuat ambisimu itu tuan Jhonny Lee yang terhormat.”

 

Tangan Jhonny mengepal kuat kemudian melayangkan tinju ke udara. Ia berjalan dengan cepat meninggalkan Jung In, meninggalkan kediaman milik keluarga Ryu Watanabe. Melihat hal tersebut Jung In tertawa puas, tidak, sebenarnya tak ada satupun kalimat yang ia lontarkan pada Jhonny adalah apa yang dia ketahui. Jung In tidak tahu apa Jhonny memang menginginkan kekuasaan sang ayah atau memang mencintainya. Terserah saja, Jung In hanya ingin menghibur dirinya dengan membuat pria tampan itu marah.

 

Noona!”

 

Seruan itu terdengar dari balik pohon besar tak jauh dari air mancur. Jung In berbalik dan mendapati adik-adiknya berlari kecil menuju tempatnya berada.

 

“Apa?” tanya Jung In dingin.

 

“Kau hebat noona!, pria tadi kelihatan sangat-sangat-sangat-sangat marah!” anak lelaki dengan rambut sedikit bergelombang mengacungkan kedua jempol pada Jung In.

 

“Tapi noona, kenapa kau melakukan itu?. Kudengar dia adalah calon suami noona, kenapa?” anak lelaki lain yang berambut lurus bertanya, wajahnya menunjukkan kalau dia anak yang baik bahkan senyumnya begitu manis seperti seorang malaikat.

 

Jung In kini menatap anak laki-laki terakhir yang lebih muda dari anak laki-laki sebelumnya. Bibirnya tebal dan matanya sayu, dia adalah adik kesayangan Jung In walau mereka bukan saudara sedarah. Adik kesayangan karena anak lelaki itu lebih pendiam dan tidak banyak komentar. Tipikal kesukaan Jung In.

 

“Jeno, Jisung, ayo masuk kedalam. Jika ayah tahu kalian ada diluar beliau bisa marah.” Ajak Jung In pada kedua adiknya meninggalkan anak laki-laki yang berambut sedikit gelombang.

 

“Yak!, noona!, kenapa kau selalu pilih kasih terhadapku!” seru anak itu seraya mengejar ketiga saudaranya.

 

Anak laki-laki berambut lurus yang dipanggil Jeno tersenyum manis, “Donghyuk Hyung sedang merajuk, hehehe…”

 

Jung In ikut tersenyum walau samar. Jisung yang sedari tadi diam memperhatikan kakak-kakaknya ikut bersuara, “Hobinya hanya merajuk, mungkin hanya itu kemampuannya.”

 

Dengan tiba-tiba Donghyuk menjewer telinga Jisung, “Beraninya kau terhadap Hyung-mu sendiri eoh?!” membuat Jisung meringis kesakitan. Jeno berusaha melepas tangan Donghyuk dari telinga Jisung walau masih dengan terkekeh melihat kelakuan saudaranya itu.

 

Jung In tertawa sambil menyerukan nama setiap adik-adiknya, seolah mengadu mereka bertiga dan memberi semangat atas pertikaian kecil ketiga anak lelaki itu. Terus terjadi sampai mereka sampai di ruang tengah dan berhenti oleh panggilan Yuta pada keempat orang tersebut.

 

“Sudah malam, sebaiknya kalian segera tidur.” Kata Yuta dengan dingin. Jung In mengelus setiap puncak kepala adik-adiknya sebelum mereka berangkat tidur. Kini tinggal Jung In dan Yuta berdua di ruang tengah.

 

“Kau juga segera ke kamar.” Perintah Yuta.

 

Jung In menarik tangan kakaknya, “Kau tidak mengelus kepalaku?” tanyanya dan langsung mendapat gelengan dari Yuta. “Kau berbeda sekali dengan Hansol.” Lanjutnya sesaat sebelum Yuta menghilang dari ruang tengah.

 

“Memang beda.” Balas Yuta santai.

 

“Dasar kakak menyebalkan.” Gerutu Jung In yang lantas berbalik menuju kamarnya. Sebelum dia benar-benar masuk ke kamar, sebuah tangan mengelus puncak kepalanya lembut. Hanya sebentar tapi Jung In tahu tangan siapa itu. Begitu terdengar pintu digeser, barulah Jung In bersuara. “Arigatou, Yuta.”

 

***

 

Tangan Kyujin tergerak untuk mematikan alarm diatas nakasnya. Tertera pukul 07.00 pada jam digital tersebut. Ia regangkan sedikit tubuhnya saat terlintas bayangan tadi malam yang terjadi padanya. Kyujin kembali menyelimuti tubuhnya begitu merasakan pipinya memanas. Kejadian tadi malam seolah benar-benar terasa nyata, atau memang itu benar?. Entah, Kyujin tidak bisa memastikan yang jelas dia ingin berterima kasih pada orang yang sudah memberikannya buku ajaib tersebut.

 

Mengingat bagaimana dia dan Chanyeol menghabiskan malam berdua dengan romantis. Diawali dengan makan malam berdua di dapur, yah memang tempatnya begitu biasa tapi dengan siapa kali itu Kyujin makan membuat semuanya terlihat indah. Makan dengan hanya diterangi lilin, berdua, dengan senyuman manis Chanyeol sudah cukup untuk membuat Kyujin melayang. Apalagi pria itu sesekali memegang serta mengelus tangannya lembut.

 

Tak berhenti sampai disitu, mereka juga menghabiskan malam berdua dengan menonton drama yang mampu menguras air mata. Tidak, air mata mereka tidak benar-benar habis, itu hanya kiasan saja. Tapi menangis berdua bersama Chanyeol, mendapat pelukan dari pria itu saat adegannya terlalu menyedihkan, malam yang begitu indah bagi Kyujin. Sayangnya malam itu harus dihentikan saat Chanyeol harus pergi.

 

“Dimana buku itu?” Kyujin menyingkap selimut kemudian turun dari kasur untuk mencari dimana keberadaan buku ajaib bersampul merah jambu itu.

 

“Meong~” Hippo masuk ke kamar Kyujin, menghampiri gadis itu seolah bertanya apa yang sedang tuannya lakukan. Tapi Kyujin tak mengatakan apapun, terus mencari keberadaan buku yang membuatnya bahagia semalam.

 

“Hippo-ya!” Kyujin berjongkok seraya mengelus kepala Hippo, “Kau melihat dimana buku merah jambu kemarin?. Aku merasa menaruhnya di meja belajar, tapi sekarang hilang. Hippo bantu cari ya?”

 

“Meong~” entah itu jawaban ‘iya’ atau ‘tidak’ tapi Kyujin menganggap itu sebagai persetujuan. Dia berbalik dan kembali mencari setelah memberikan kecupan singkat di kepala Hippo sebagai tanda terima kasih. Sementara Hippo tak membantu, dia keluar dari kamar Kyujin entah kemana tujuannya.

 

*Junmyeon POV*

 

Bagaimana aku bisa menjelaskan semuanya pada Kyujin?. Buku itu sudah hilang, karena memang hanya satu kali buku itu dapat berfungsi seperti apa yang Mr. Tuxedo bilang. Yah, buku itu aku dapat atas perjuanganku memohon pada tuan bertuxedo itu. Walau sempat ragu tapi aku ingin menghadiahkan sesuatu untuk Kyujin yang tengah mengalami banyak masalah.

 

Dan buku itu berhasil membuat Kyujin sangat bahagia malam itu. Namun dia tidak tahu kalau buku itu hanya dapat digunakan sekali saja dan konsekuensi apa yang dia dapat setelah menggunakan buku tersebut. Dasar Junmyeon bodoh!, bisa-bisanya membuat orang baik seperti Kyujin kembali mengalami kesulitan. Setelah ini aku harus bagaimana?!.

 

“Oy! KIM JUNMYEON!”

 

Aku menoleh dengan terkejut, siapa yang memanggil namaku?. Apa ada seseorang yang mengenaliku dalam sosok kucing atau ada orang lain bernama sama denganku?.

 

“Apa kabar huh?”

 

Sialan!, tahu begini aku diam saja dirumah daripada bertemu kucing hitam ini. aku lari semampu yang kubisa untuk menghindar. Ini bukan waktu yang tepat untuk meladeni kemarahan seorang Huang Zi Tao. Baik, baik, memang aku punya salah padanya, tapi sebagian besar kesalahan bukan karena diriku!. Ini semua berkat kebodohan Luhan dan Jong Dae!.

 

Sambil mengatur nafas aku bersembunyi dibalik tempat sampah di dekat gang kecil yang agak gelap. Semoga Tao tidak menemukanku disini, semoga saja.

 

“Tidak mudah bersembunyi dariku, Hyung.”

 

Sial!, bagaimana bisa dia menemukanku?. Dan sudah berapa banyak aku mengumpat untuk hari ini?.

 

“Baiklah Tao, apa kau ingin kita berkelahi selayaknya kucing disini?” tanyaku pasrah, tapi yang jelas dia tak akan mau dnegan tawaranku. Tao adalah seseorang -atau kucing?- yang sangat menjaga image.

 

Dia menyeringai dengan wajah kucingnya, “Tidak seperti itu, Hyung. Aku ada ide yang bagus dimana bisa menguntungkan kita.” Katanya membuatku bertanya-tanya.

 

“Apa kau hendak mengajakku mencari Jong Dae dan Luhan?”

 

Tao tersenyum semakin lebar seraya mendekatiku. Bagaimana cara mencari mereka jika tubuh kami saja masih berbentuk kucing?!.

 

“Kau pasti bertanya caranya kan Hyung?”

 

Dia tidak sedang membaca pikiranku kan?.

 

“Aku punya cara yang bagus karena aku sendiri sedang mengalaminya. Hanya saja ada kelemahannya yang bisa menyulitkan kita juga, tapi jika berusaha aku yakin kita bisa menemukan Luhan dan Jong Dae kemudian melenyapkan kutukan gila ini.”

 

Apa benar apa yang Tao bilang?, dia tidak sedang menghasutku agar masuk dalam perangkapnya kan?. “Apa kau serius tahu caranya?” tanyaku akhirnya.

 

“Aku benar-benar serius.” Ujarnya dengan nada meyakinkan. Aku tak menemukan kebohongan di mata kucingnya. Kurasa dia sangat serius akan ucapannya.

 

“Baiklah, apa itu?”

 

“Aku tahu bagaimana cara kembali menjadi manusia, walau hanya setengahnya.”

 

“Maksudmu?”

 

Aku harus mendapat penjelasan lebih. Jong Dae dan Luhan, tunggu saja kami akan jemput kalian dan meminta pertanggung jawaban atas kutukan konyol ini.

 

*Author POV*

 

Hyung!, coba lihat dua kucing itu!” Jisung menarik ujung kaos Donghyuk yang sedang memakan ice cream.

 

Jeno yang berjalan di belakang mereka ikut menoleh kearah yang Jisung maksud bersamaan dengan Donghyuk. Mereka memperhatikan dua ekor kucing berbulu hitam dan satunya keemasan yang tengah bercengkrama itu.

 

“Apa mereka sedang dalam masa kawin?” celetuk Donghyuk seraya terus menjilati ice cream-nya.

 

“Mereka sesama jantan.” Sanggah Jeno, “Munkin mereka sedang mengobrol sesuatu yang penting.”

 

Kemudian ketiganya lanjut berjalan membiarkan dua kucing itu melakukan apa yang ingin mereka lakukan.

 

“Aku pikir hanya manusia yang seperti itu.” Donghyuk terdiam sebentar, “Atau jangan-jangan… mereka kucing gay?”

 

“Jisung ayo jalan denganku.” Jisung yang tadinya berjalan beriringan dengan Donghyuk langsung ditarik menjauh oleh Jeno, “Semoga dewasa nanti kau tidak seperti Donghyuk.” Gumam Jeno pelan menghiraukan tatapan penuh tanya dari Jisung dan seruan memanggil Donghyuk.

 

***

 

“Kau akan pergi?”

 

Jung In mengangguk tanpa melihat siapa yang bertanya. Dia tahu itu Yuta, jelas sekali dari nada dinginnya. Entah memang keturunan atau bagaimana, semua anak dari Ryu Watanabe mewarisi sikap dari sang ayah. Dingin dan tegas, apalagi tatapan tajam itu, benar-benar mirip dengan tuan Watanabe sendiri. Tapi tidak dengan ketiga adik Jung In. Terang saja, mereka mewarisi sifat dari masing-masing ibunya. Yah, Ryu Watanabe sudah lebih dari sekali menikah.

 

“Berangkat hari ini?”

 

Kembali Jung In mengangguk. Setelah selesai beres-beres Jung In membawa tas besar berisi keperluannya selama berkemah. Dia keluar dari kamar, melewati Yuta yang sedari tadi berdiri di depan pintu. Gadis itu mencari keberadaan ayahnya di sekitar ruang tamu atau ruang keluarga dimana ayahnya sering terlihat menghabiskan waktu disana. Tapi yang ada dia malah bertemu Osaka, sang paman yang baru datang dari Jepang kemarin lusa.

 

“Yukari!, lama tak bertemu!” kata pria paruh baya itu dengan logat Jepang yang kental seraya memeluk Jung In. Gadis itu membalas pelukan sang paman.

 

“Kemarin kan kita bertemu, paman.” Canda Jung In.

 

Osaka cemberut, “Kan kita bertemu secara formal, dan paman belum disambut sebagai keluarga olehmu.” Lantas tersenyum senang. Matanya beralih pada tas besar di punggung Jung In. “Kau mau kemana?”

 

“Oh ini, aku mau ke perkemahan paman.”

 

“Perkemahan mana?”

 

“Perkemahan Nanji. Paman mau ikut?” tanya Jung In seraya tersenyum, tapi pamannya menggeleng lesu, “Masih ada banyak pekerjaan yang harus paman selesaikan dengan ayahmu. Oh iya, kau sudah berpamitan dengannya?”

 

“Ini aku sedang mencari ayah, paman melihat dimana beliau?”

 

Osaka terdiam sebentar. Kemudian menjentikkan tangannya tanda dia tahu keberadaan Watanabe.

 

“Tadi aku melihatnya di taman depan. Ayo aku antar!”

 

Osaka membawa keponakannya ke taman depan dan benar saja Ryu Watanabe sedang memberi makan ikan-ikan di kolam kecil. Pria itu mendongak saat mendengar langkah kaki yang mendekat kearahnya, kemudian tersenyum sekilas saat mendapati anak ketiganya dan Osaka datang menghampiri.

 

“Ada apa Yukari?” tanya Watanabe, Jung In hendak menjawab sampai sang ayah memotongnya, “Bagaimana Jhonny?, dia menyenangkan bukan?”

 

Jung In yang sempat tersenyum berubah memasang ekspresi datar andalannya. “Ya ayah.”

 

Barulah Watanabe sadar dengan keberadaan tas besar di punggung Jung In. “Mau kemana kau?”

 

“Saya ada perkemahan sekolah dan harus berangkat hari ini. Maka dari itu saya hendak pamitan pada ayah sebelum berangkat.”

 

“Bagaimana kau bisa sangat yakin aku akan mengizinkan?”

 

“Ini bisa menambah nilai sekolah ayah.”

 

Watanabe terdiam, “Baiklah.” Katanya kemudian. “Aku mengizinkan asal kau pergi di antar Jhonny.”

 

“Tidak perlu ayah, saya sudah ada teman untuk pergi bersama.”

 

“Teman?” Jung In mengangguk sebagai jawaban. “Laki-laki atau perempuan?”

 

Sebelum Jung In menjawab, suara gaduh diluar rumah menginterupsi pembicaraan mereka. Osaka orang pertama yang keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi, diikuti Jung In dan Watanabe. Yuta menjadi yang terakhir keluar.

 

“Sunbae…” lirih Jung In namun masih bisa di dengar anggota keluarga Ryu yang lain.

 

“Noona!, kau mengenal Hyung ini?” pertanyaan Donghyuk membuat yang berada disana menatap Jung In penuh tanya. Sementara pria yang duduk di jalan dengan sepeda menimpanya itu tertawa canggung.

 

“Maaf pagi-pagi mengganggu.”

 

~TBC~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s