[EXOFFI FACEBOOK] Snowflake

1517621_498675493583173_1103218378_n

 

Snowflake

Skinny Sky

R : Teen

Romance , Fiction And Love

Xi Luhan | Zheng Liu

OneShoot

I was dreaming about you. Sweety dream and delight, wonderfull.

You holding my hand and said ‘ It’s will be come true’

***

Sebuah Album bersampul merah.

Rak buku yang telah lama terabaikan dalam beberapa tahun terakhir ini kembali menjadi secerah dulu. debu-debu yang menempel bagai terbang dibawa angin, sejuk—entah sejak kapan kata itu terulang kembali untuk mendeskripsikannya. Tak ada apapun di dalam rak sana, hanya buku-buku tua koleksi Zheng Liu yang menumpuk serta sebuah album photo berwarna merah yang teronggok sudah terlalu lama.

Gadis berambut coklat itu mencoba menggapainya, menarik asal pada satu sisi album itu agar terjatuh mengikuti gravitasi. Dia ingat ukiran pertama pada sampulnya— ‘Our Moment 2L’. Senyuman manis itu kini menghiasi ujung bibirnya dengan sekali tarikan, membahagiakan saat ia mengingat masa lalunya yang terulang kembali. Mengingat kembali bagaimana lelaki bernama Xi Luhan itu datang dan memberikan kecerahan serta warna baru bagi hidupnya.

‘Tess’

Bulir air mata turun berjatuhan melalui sela-sela pipinya. Bahagia, hanya kata satu kata itu yang dapat mewakili seluruh perasaannya saat ini.

“Terima kasih telah menjadi bagian dalam hidupku”

***

Jemari lentik Liu bergerak menyusuri setiap sudut di sisi halaman albumnya. Sesekali ia tersenyum, dan sesekali ia tertawa geli sendiri saat memandangi pajangan foto yang berderet itu. matanya tetap menerawang tajam, mencoba untuk sedikit saja mengingat secara penuh memori indah dalam sudut pikirannya.

Satu foto tercuat begitu saja saat ia mencoba membuka halaman terakhir. Replika dirinya yang bersweater hijau tengah bersandar pada lengan pria yang kini memenuhi seluruh rongga perasaannya. Keduanya tersenyum manis sambil mengacungkan kedua jari mereka membentuk huruf ‘V’ yang menjadi pose favorit Luhan—Pria yang amat ia cintai.

“Haahhh…” desahan panjang. Liu mengedarkan pandangannya menerawang sisi langit-langit yang ia tempati. Disini, 5 tahun lalu tepat saat perayaan kelulusan mereka di tahun ketiga sekolah menengah.

***

Hari itu, tepat saat salju menggunung dengan lebatnya mengisi ruang-ruang kosong pada jalanan. Malam tahun baru yang akan selalu dingin seperti sebelumnya. Lampu-lampu pada kisaran gedung tinggi yang menjulang mulai berkelip. Mungkin sebentar lagi akan ada kembang api yang bergeledak diatas kepalanya.

Xi Luhan, pria dengan topi rajutannya kini tengah berjalan perlahan menuju sebuah mension di kawasan pinggir Beijing. Lengkap dengan segala macam kain hangat yang menempel pada tubuhnya.

“Uhuk..Uhuk!!” sebuah kepulan asap putih menyeruak keluar dari arah mulutnya, tapi dia mencoba untuk tidak peduli. Luhan hanya berusaha merapatkan jaket bulu kecoklatannya untuk mencegah angin malam musim dingin menyentuh pori-porinya.

Dua langkah lagi, hingga akhirnya sebuah mension bercat merah tua itu terlihat. Bangunan kecil bertingkat lima dengan setiap kamar yang menyusunnya—agak mirip dengan rumah susun yang bertingkat. Luhan tersenyum tipis, beruntung sekali saat ia mengingat Zheng Liu tinggal di lantai bawah. setidaknya untuk saaat ini ia tidak perlu lagi susah payah menapaki tangga licin yang menjulang itu untuk menemui kekasihnya.

“Tok..Tok..Tok” tidak lama, hanya perlu menunggu belasan detik agar pintu itu terbuka. Zheng Liu—gadisnya, membuka sedikit pintu mensionnya saat ketukan itu terdengar.

“Luhan..? Aku kira kau tak akan datang”

***

Zheng Liu—gadis yang saat ini tengah mengaduk secangkir teh hangat untuk kekasihnya itu menengok ke belakang. Mendapati wajah Luhan yang memucat karna salju di dataran China ini. Perlahan ia mendekatkan langkahnya menuju tempat duduk pria itu, sebuah sofa merah dengan lilitan karpet bercorak di sekitar sisinya.

“Hari ini sangat dingin. Seharusnya kau tidak usah datang.” Luhan mendongak dan menatap gadisnya kesal.

“Jadi kau tidak suka aku datang?”

“Bu-bukan begitu. Aku hanya merasa khawatir, aku takut kau sakit karna berjalan ditengah salju seperti ini” raut wajah Zheng Liu terlihat serius. Dia meletakkan cangkir berisi teh itu di sisi sebelah kanan Luhan. Berharap pria itu segera menenggak habis minumannya agar rona pipinya berubah menjadi merah lagi seperti sebelumnya.

“Entahlah.. aku hanya sangat merindukanmu hari ini” alisnya sedikit terangkat keatas, bingung pada sikap Luhan yang tiba-tiba berubah.

“Eh?”

‘Greb’ Luhan melingkarkan kedua lengannya kearah punggung Zheng Liu. Menyalurkan kehangatan yang lebih baik dibanding nyala api perapian di sudut mensionnya.

1 detik

2 detik

Hingga Zheng Liu membiarkan posisi mereka tetap seperti itu hingga lima menit lamanya.

“Lu..?”

“Wo Ai ni..” Sebuah kata sederhana yang dapat membuat pipi keduanya merona. Zheng Liu menatap iris coklat milik pria-nya dalam-dalam. Mencoba meresapi setiap perasaan yang Luhan berikan padanya.

`Chu~` pipi Zheng liu memerah sempurna saat luhan menyudahi kecupan singkatnya. Membuat pria itu terpana dalam beberapa detik setelahnya.

“kau manis sekali” ucapnya merayu. Liu mengangkat kedua alisnya bersamaan. Sikap apa ini? Bukankah Luhan sama sekali tidak termasuk dalam daftar pria romantis?

“kau sakit? Aku merasa kau agak aneh hari ini” Luhan tersenyum getir mendengar pernyataan itu. Entahlah, untuk sesaat yang lalu ada sebuah perasaan kuat yang mengisyaratkan jika ia akan merindukan wanita yang kini berada tepat dihadapannya. “aku memiliki firasat” sejenak Liu berpikir, mungkin ia juga memilikinya karna akhir-akhir ini pikirannya sering sekali mengarah pada pria bernama Xi luhan itu.

“Aku juga.. terkadang aku merindukanmu” gumamnya pelan hingga pipinya merona lagi. Luhan tertawa girang dan merangkulkan salah satu lengannya pada sisi bahu Liu.

‘Klik’ cahaya blitz singkat yang memenuhi ruangan. Zheng Liu terbelalak kaget, bahkan untuk sesaat tadi ia benar-benar belum siap untuk bergaya di depan kamera.

“Hahaahaha… Liu, wajahmu aneh sekali!!”

“Yak!!! Luhan!! Hentikan.. berikan fotonya padaku” lidah luhan memelet panjang. Dia senang sekali menggoda gadis itu—seperti sebuah heroin yang dapat membuatnya melayang saat ia melihat ekspresi Liu ketika ia menggembungkan pipinya.

“Aku bohong kau sangat cantik disini” Liu tersenyum kecut sambil memukul dada luhan dengan pelan.

“haha.. baiklah. Malam ini kita akan berpesta sampai pagi’kan?” Luhan melanjutkan kalimatnya dengan mata berbinar. “Aku membawa kue coklat yang kau suka itu” Zheng Liu tertawa kecil lalu kemudian mengangguk.

“Ya.. kita akan kita akan berpesta malam ini”

Flashback end..

***

Untuk sesaat tadi, Zheng Liu terlarut pada pikirannya sendiri. air matanya mengalir membentuk sebuah sungai kecil di pipinya. Kenangan yang indah, pikirnya.

Dia baru menyadarinya jika saat ini dia begitu merindukan pria itu—lelaki yang selalu membuatnya merasa beruntung pernah dilahirkan di dunia yang indah ini.

“Drrrrttttt…” ponselnya bergetar cepat. Zheng Liu sedikit berdeham untuk membuat suaranya terdengar tidak bergetar.

“ya?”

“……….”

“baiklah, aku akan datang hari ini”

Air matanya ia usap kasar menggunakan jemarinya. Kini pandangannya beralih lagi kearah foto dalam genggamannya saat ini.

“Luhan.. aku merindukanmu”

***

Disinilah dia—Zheng Liu. Berdiri seorang diri sambil di terpa hembusan angin yang membawa dedaunan kering di sekitarnya. Rumput hijau pada pijakannya bergoyang semiir-semilir. Tak ada gerakan disana, tenang karna memang sewajarnya seperti itu.

Langkah kakinya terhenti tepat di depan sebuah batu nisan hitam di ujung bukit.

‘Xi Luhan’ nama itu tertera disana. Zheng Liu tersenyum pahit setelah ia membungkuk untuk mensejajarkan dirinya.

“Ni hao.. masih mengingatku?” suaranya bergetar. “Aku membuka album lama kita dan menemukan ini, kau ingat?” gadis itu menunjukan photo yang ia bawa sambil berbicara sendiri seolah batu nisan itu dapat mendengarkannya dan menyahut balik.

“Sehari sebelum kecelakaan itu’kan? Kau masih ingat? Padahal saat itu aku juga melarangmu pergi” air matanya mengalir turun, bahkan kali ini lebih deras dari sebelumnya. Zheng Liu sedikit terisak saat mengingat kejadian lima tahun lalu. tepat setelah perayaan pesta tahun baru itu Luhan pergi meninggalkannya melalui kecelakaan tragis.

“kau bilang kau akan kembali.. tapi kau tidak pernah datang lagi. Dasar pembohong!” bulir air mata gadis itu sudah membasahi setiap inci pada pipinya. tangannya merengkuh pelan batu nisan dihadapannya lalu mengecup pelan batu itu.

“Aku merindukanmu, Lu”

“Bukankah sudah kubilang jangan menangis sebelum aku datang?” sebuah suara berat mengintrupsinya untuk membalikkan badan. Wu Yi fan—seseorang yang baru-baru ini mengisi hatinya lagi dengan sesuatu bernama cinta dan kebetulan juga dia adalah sepupu pria yang saat ini tengah tidur dalam pembaringannya itu. Wu yi fan mendekatinya dan mendekap hangat tubuh Zheng Liu. Tak ada penolakan disana, hanya beberapa isakan-isakan kecil yang saat ini membasahi kemejanya.

“Maafkan aku karna masih tetap merindukannya” Yi fan tersenyum tipis. “Tak apa, kita semua merindukannya” sedikit merubah raut wajahnya saat ia mengingat wajah sepupunya itu—Xi Luhan ketika ia tersenyum.

Hari ini langit tampak cerah, walau titik-titik salju tetap bertebangan di sekitar kepala mereka. Zheng Liu menghentikan tangisnya lalu menengadahkan pandangannya keatas.

“Sudah lama sekali, salju turun setitik sepeti saat ini”

“Ya.. bukannya ini kesukaan pria itu?” Zheng Liu menatap pria dihadapannya dengan alis bertautan.

“Si rusa itu. kau tidak tahu?” dia tersenyum sambil terkekeh kecil.

“kau benar, aku hampir lupa jika ini kesukaannya”

***

Aku tidak pernah menyesali semuanya.

Kau, aku dan dia yang saat ini mengisi hari-hariku.. aku sangat berterima kasih.

Terima kasih telah datang dan memberi warna pada hidupku.

Tak ada apapun lagi selain kata itu.

Andai tuhan dapat mengabulkan satu permintaanku, aku ingin kita diberikan waktu lebih lama lagi sebelum perpisahan ini.

Karna merindukanmu lebih menyiksaku dari pada perasaan kehilanganmu.

aku harap kau akan menunggu disana, seperti aku yang selalu menunggumu disini walau aku tahu kau tidak akan pernah kembali..

Zheng Liu

END

One thought on “[EXOFFI FACEBOOK] Snowflake

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s