[EXOFFI FACEBOOK] Birtday gift

1512507_498697776914278_167115607_n-1

 

Birtday gift

Author : CandraChan233 (@Evilspirit98)

Main Cast :

* Kim Jongdae a.k.a Chen (EXO-M)

* Jang Hyunchan (OC)

Other cast : find by your own

Genre : romance, friendship, school life

Length : oneshoot

Rated : T

“It’s the best birthday gift in my life. Thank you Chen. I love you,”

Happy reading!:)

———————————–

-Author POV-

Siang itu suasana kantin di Junghwa High School tidak seperti biasanya. Hal itu dikarenakan ada seorang siswa yang melakukan hal yang bisa dibilang fantastis. Bunuh diri? Tidak mungkin. Menyatakan cinta? Yah bisa jadi.

“Saengil Chukkae, Yoora-ya, kau mau jadi yeojachinguku?” tanya seorang namja pada yeoja yang duduk didepannya, sembari memberikan sebuah kado untuk yeoja itu.

“WHOAA!” teriak seluruh siswa Junghwa High School yang berada di kantin. “TERIMA! TERIMA!” teriak mereka lagi.

“Ne, Suho sunbae,” jawab sang yeoja, Kang Yoora, malu-malu. Hal itu membuat sang namja, Kim Junmyeon atau Suho, langsung menegakkan kepalanya yang semula menunduk menatap Kang Yoora, yeojachingunya.

“Gomawo, Yoora-ya, gomawo. Panggil aku oppa, ne?” kata Suho sembari menyunggingkan senyum malaikatnya, yang berhasil membuat wajah Yoora memerah.

“Ne, Suho oppa.”

“CIEE!” seluruh siswa dikantin kembali bersorak.

“Saengil chukka hamnida, saengil chukka hamnida, saranganeun uri Yoora, saengil chukka hamnida~” tiba-tiba datang beberapa yeoja sambil membawa kue ulang tahun untuk Yoora.

“Omo, gomawo chinguya,” kata Yoora.

Tak jauh dari situ, ada beberapa siswa yang hanya duduk sembari memperhatikan Yoora dan Suho.

“Wah beruntung sekali Yoora, bisa jadi yeojachingu Suho sunbae” komentar salah satu dari mereka, Kim Namjoo.

“Kau benar Namjoo-ya, Suho sunbae itu orangnya romantis, bahagia sekali Yoora,” tambah Hyesung.

“Yak, Hyesung-ah. Kau menganggap aku ini tidak romantis eoh?” protes seorang namja, Byun Baekhyun.

“Benar, kami ini namjachingu kalian,” tambah seorang namja lagi, Park Jimin.

“Arraseo, kami kan hanya berkomentar,” jawab Namjoo.

“Chan-ah, kau tidak iri melihat mereka eoh? Kau tak ingin punya namjachingu?” goda Hyesung pada Hyunchan yang dari tadi sibuk memakan makanannya tanpa peduli keadaan sekitar.

“Ani, “ jawab Hyunchan singkat, yang berhasil membuat seorang namja mengalihkan perhatiannya dari buku yang dibacanya pada Hyunchan.

“Tiidakkah kau menginginkan hadiah ulang tahun dari orang yang sangat spesial?” goda Namjoo yang berhasil membuat Hyunchan diam sesaat.

KRING!

“Ani,” jawab Hyunchan akhirnya, “Kajja, kita ke kelas. Baekhyun-ah, Jimin-ah, yeojachingu kalian aku bawa dulu ne?” kata Hyunchan sembari menarik tangan Namjoo dan Hyesung.

-Hyunchan POV-

“Tiidakkah kau menginginkan hadiah ulang tahun dari orang yang sangat spesial?”

Hah, pertanyaan Namjoo tadi terus berputar dikepalaku. Ya, tentu saja aku menginginkannya. Sebab, tak ada yang pernah mengingat ulang tahunku, bahkan orang tua serta Namjoo dan Hyesung saja tidak ingat. Mereka baru akan memberiku selamat jika aku memberi tahu mereka kalau aku berulang tahun. Selama 17 tahun hidupku, aku tak pernah menerima yang namanya hadiah ataupun kue ulang tahun. Haha, miris bukan? Aku hanya berbohong tadi, aku tak ingin mereka heboh menyuruhku mencari namjachingu. Ah bagiku, itu sangat konyol. Lagipula, kalau berjodoh pasti ketemu kan?

-Chen POV-

Aku menatap punggung yeoja itu yang perlahan menjauh, Jang Hyunchan. Ya, aku menyukainya, ah ani, aku mencintainya sejak masuk ke sekolah ini. Aku pertama kali bertemu saat upacara penerimaan siswa baru 6 bulan yang lalu. Dan beruntungnya sekarang kami sekelas. Mungkin ini konyol, aku baru mengenalnya selama 6 bulan, dan aku sudah berani bilang kalau aku mencintainya. Well, memang begitu kenyataannya. Selama ini aku hanya berani melihatnya dari jauh saja, aku bahkan tak berani mengajaknya bicara, aku ini pengecut bukan? Aku ini sangat berbeda

dengan hyungku Kim Himchan, ia sangat terkenal di kalangan yeoja, tampan, pintar. Ah ia itu memang namja impian setiap yeoja, beda sekali denganku yang hanya seorang namja culun, satu-satunya yang bisa dibanggakan dari diriku hanya suaraku saja. Yah, saat menyanyi memang aku lebih baik dari Himchan hyung, tapi tetap saja aku seorang namja culun, jadi tak mungkin seorang Jang Hyunchan menyukaiku.

-Author POV-

“Nah, sekarang saya akan mengacak tempat duduk kalian, agar kalian bisa lebih saling saling mengenal,” kata Yoo songsaenim.

“Nee,” seluruh siswa hanya bisa pasrah, karena jika Yoo songsenim sudah membuat keputusan maka tak bisa diganggu gugat. Kemudian Yoo songsenim mengeluarkan dua kotak berisi beberapa kertas.

“Silakan, bagi yang nomor absennya ganjilnya ambil 1 kertas di kotak biru ini, bagi yang nomor absennya genap ambil yang disebelah sini,” kata Yoo songsaenim lagi. Para siswa mulai mengambil kertas mereka. Kemudian, Yoo songsenim mulai menggambar denah tempat duduk mereka dengan angka di papan tulis.

“Nah, sekarang buka kertas itu,” perintah Yoo songsaenim lagi.

“Aku dapat nomor 3, kau berapa Namjoo-ya?”

“3, yeay, kita duduk bersama lagi,” sorak Namjoo girang. Siswa lain pun begitu, mereka senang bisa duduk bersama sahabat ataupun kekasih mereka.

“Kau dapat nomor berapa, Chan-ah?” tanya Namjoo pada Hyunchan yang sejak tadi menoleh kesana kemari.

“Na? 23, “ jawab Hyunchan.

“23? Yah, kita terpisah,” kata Namjoo dan Hyesung dengan wajah sedih yang dibuat-buat. Hyunchan hanya menggeleng.

“Kalian ini terlalu berlebihan,” komentar Hyunchan pendek, kemudian berjalan menuju kursi yang terletak dibelakang kelas. “Nomor 23, berarti disini,” gumam

Hyunchan sembari sesekali melihat denah yang digambar Yoo songsenim di papan tulis, kemudian ia meletakkan tasnya disamping seorang namja.

Chen yang menyadari ada seseorang yang duduk disebelahnya, menoleh. Ia terkejut, seorang Jang Hyunchan duduk disebelah seorang namja culun sepertinya, mimpi apa aku semalam? Batin Chen.

“Oh, Chen-ssi,” sapa Hyunchan ramah. Chen hanya terdiam.

-Chen POV-

Oh my god, apa ia baru saja bicara padaku? Ha, mimpi apa aku semalam?

“Chogiyo, Chen-ssi, gwenchanayo?” kata Hyunchan sembari menepuk pundakku, yang membuatku kembali tersadar.

“Ah, nan gwenchana,” jawabku sembari menyunggingkan senyum termanisku.

1 week later~

-Author POV-

“Kerjakan tugas Biologi ini bersama teman sebangku kalian, kumpulkan lusa dimeja saya, selamat siang,” ucap Park songsaenim mengakhiri pelajaran hari itu.

“Hyunchan-ssi, bagaimana kalau kita kerjakan ini dirumahku saja, aku akan minta Himchan hyung mengajari kita,” tawar Chen pada Hyunchan.

“Ah, apa tidak merepotkan hyungmu?”

“Aniyo, tidak sama sekali.”

“Baiklah, kajja Chen,” kata Hyunchan, Chen hanya terdiam. Hyunchan memanggilnya tanpa embel-embel ssi ataupun semacamnya?

“Wae? Ah kau tak suka ya aku memanggilmu begitu,” kata Hyunchan, Chen buru-buru menggeleng.

“Aniyo.”

“Syukurlah, ah iya, kau juga cukup panggil aku Chan saja, biar tidak canggung, nah kajja Chen-ah,” kata Hyunchan lagi sembari menarik tangan Chen.

@ Chen’s house

“Wah, tak kusangka rumah kita hanya berjarak 2 blok,” komentar Hyunchan begitu tiba di rumah Chen.

“Ya, begitulah. Tunggu, aku panggil hyungku sebentar,” kata Chen kemudian mendatangi hyungnya yang mungkin sedang asyik menggambar pulau jeju dikamarnya.

-5 minutes later-

“Maaf lama, salahkan hyungku ini,” kata Chen. “Hyung, ini Hyunchan.”

“Ah, inikah yeoja yang sering kau ceritakan padaku? Manis juga, kau tau tidak Hyunchan kau adalah orang pertama yang diajaknya kerumah ini,” komentar Himchan yang langsung mendapat hadiah cubitan dari adiknya tercinta.

“Hyung, “ protes Chen. “Jangan buat aku malu.”

“Jinjjayo?” kata Hyunchan penasaran.

“Geure, anak ini pemalu sekali. Berbeda jika dirumah,” tambah Himchan, yang lagi-lagi mendapat hadiah cubitan dari Chen. “Ah arra-arra, geumanhae, ah iya Hyunchan, panggil saja aku oppa, anggap aku kakakmu sendiri, ne?”

“Ne.”

“Nah, ayo kita mulai sekarang saja, oh ya Chen, sebelum itu, buatkan minum dulu,” perintah Himchan pada Chen.

“Shirreo! Hyung saja yang buat,” protes Chen kemudian naik tangga menuju kamarnya.

“Aish, anak itu. Kau lihat sendiri kan Hyunchan-ah? Dia memang begitu,” kata Himchan.

“Kau benar oppa, disekolah ia begitu pendiam, tapi ia terlihat lucu,” komentar Hyunchan seraya tersenyum kecil.

“Neol nabakke mollasseotdeon igijogin naega~”

“Wah, aku tak tahu kalau suaranya sebagus itu oppa,” komentar Hyunchan begitu mendengar suara Chen yang sedang menyanyi dikamarnya.

“Bocah itu hanya terlalu malu untuk menunjukkannya didepan orang, padahal suaranya menakjubkan.”

“Kau benar oppa.”

“Ah, aku sampai lupa membuat minuman untukmu, tunggu sebentar ne?” kata Himchan lembut, kemudian ia menarik nafas panjang, “YAK! KIM JONGDAE! CEPAT TURUN!” teriakan Himchan menggelegar diseluruh rumah.

“ARRASEO!”

1 year later~

-Chen POV-

Tak terasa sudah 1 tahun aku kenal dengan Hyunchan. Yah, sekarang kami bisa dibilang seperti sahabat. Tapi aku ingin menjadi lebih dari sahabat bagi Hyunchan. Ya, aku masih menyukainya, ani aku mencintainya, ah bahkan sekarang rasa cintaku makin besar untuknya. Oh ya, sekarang aku sudah tidak kuper seperti dulu. Yah, Hyunchan berhasil mengubahku sedikit demi sedikit menjadi seorang namja yang tidak kuper.

-Author POV-

Hyunchan terus memperhatikan sahabatnya, yang tengah asik membaca.

“Chen-ah,” panggil Hyunchan pelan.

“Chen-ah,” panggil Hyunchan lagi, yang berhasil membuat Chen menoleh padanya.

“Wae?” Hyunchan tak menjawab pertanyaan Chen, ia malah melepas kacamata yang selalu menghiasi wajah Chen.

“Hmm. Tampan,” gumam Hyunchan, yang membuat wajah Chen memerah. “Wah, wajahmu memerah.”

“Ya, museun soriya?” tanya Chen sambil berusaha mengambil kacamatanya dari tangan Hyunchan, tapi ia tak berhasil. “Chan-ah, kembalikan,” rengek Chen.

“Ya, apakah kau tak bisa melihat dengan baik tanpa ini?” tanya Hyunchan sembari menggoyang-goyangkan kacamata Chen.

“Bukan begitu, kembalikan kacamataku,” protes Chen.

“Hmm padahal kau cukup tampan, jangan gunakan ini lagi, arra? Mintalah Himchan oppa untuk merubah penampilanmu, annyeong,” kata Hyunchan, kemudian meraih tasnya dan beranjak pergi, Chen hanya terdiam.

“Aku? Tampan? Benarkah?” gumam Chen.

@Chen’s house

“Hyung, apa menurutmu aku ini tampan?” tanya Himchan yang sedang menonton tv.

“Wae?”

“Jawab sajalah,” sahut Chen tak sabar.

“Karena kau dongsaengku, tentu saja kau tampan, wae?”

“Rubahlah penampilanku.”

“Mwo? Kau serius? Wah, tampaknya seorang Jang Hyunchan berhasil merubah seorang Kim Jongdae yang culun dan kuper menjadi seperti ini ya,” kekeh Himchan.

“Hyung!” protes Chen.

“Arra-arra, now let’s do it! Kajja uri dongsaeng!” seru Himchan semangat.

Besoknya~

“Wah benarkah? Aku tak sabar melihatnya,” komentar salah satu siswa Junghwa High School, saat Hyunchan lewat.

“Nugu?” batin Hyunchan sambil terus berlalu.

“Wah, kau benar, dia sangat tampan!” jerit seorang siswi, sambil terus memandang seseorang yang ada dibelakang Hyunchan.

“Chan-ah,” sapa seseorang, yang membuat Hyunchan menoleh kebelakang.

“Ya, ini benar kau Chen-ah?” tanya Hyunchan kagum. “Wah, Himchan oppa memang hebat.”

“Yak, aku ini memang tampan. Himchan hyung hanya membantu sedikit,” jawab Chen.

“Lihat bahkan sekarang kau sama narsisnya dengan hyungmu,” komentar Hyunchan.

“Ah, sudahlah. Kajja kita ke kelas.”


“Chan-ah, Himchan hyung menyuruhmu kerumah, dia mencoba resep baru” kata Chen.

“Himchan oppa suka masak?”

“Begitulah.”

“Wah, sepertinya ada yang berulang tahun,” komentar Chen saat melihat ada beberapa anak kecil yang membawa balon di taman. “Kita ke sana, ne?” ajak Chen, Hyunchan hanya menurut.

“Aku jadi ingat saat aku kecil dulu,” gumam Chen. “Ulang tahunmu waktu kecil dulu bagaimana Chan-ah?”

“Aku tak pernah merayakannya.”

“Eh?”

“Orang tuaku selalu lupa dengan ulang tahunku, mereka baru ingat jika aku yang memberi tahu mereka, mereka terlalu sebuk,” terang Hyunchan. Chen hanya diam. “Selama 17 tahun hidupku, aku tak pernah mendapat kue ataupun hadiah ulang tahun, miris sekali bukan?”

Setelah itu, mereka terdiam cukup lama.

“Kajja Chen, kita kerumahmu. Kasian Himchan oppa terlalu lama menunggu,” ajak Hyunchan pada Chen.

“Ne, kajja.”

Malamnya~

“Hyung, bantu aku, ne?” pinta Chen pada Himchan.

“Wae?”

“Aku ingin menyatakan cinta.”

“Aigoo, uri Jongdae sudah besar ruapanya,” kekeh Himchan kemudian mengacak rambut Chen.

“Aish, hyung,” protes Chen.

“Haha, pada siapa? Jang Hyunchan eoh?”

“Ne.”

2 months later~

Hyunchan’s birthday

March 23rd

-Hyunchan POV-

Aku memandang kalender, hah ini hari ulang tahunku. Tak ada yang mengingatnya.

“Chan-ah, annyeong,” sapa Chen seperti biasanya.

“Eo, annyeong,” balasku.

Hah, bahkan Chen tidak mengingatnya.

-Chen POV-

Aku melihat wajah Hyunchan, ia cemberut. Aigoo neomu kyeopta!

Aku tak sabar menunggu nanti malam.

Malamnya

-Hyunchan POV-

From : Chen:3

Chan-ah, bisa pergi ke taman dekat rumah kita sekarang? Aku tunggu, palliwa.

Aku membaca sms itu sekali lagi, ke taman? Malam-malam begini? Apa dia gila? Hah, turuti sajalah Jang Hyunchan.

Aku meraih jaketku dan pergi keluar setelah berpamitan pada appa dan eomma.

@Park

Aish dimana bocah itu? Katanya dia sudah menunggu. Dasar aneh. Yah meskipun aneh, aku menyukainya. Ne, aku menyukai seorang Kim Jongdae seorang namja culun disekolahku. Awalnya aku biasa saja, namun sejak aku pertama kerumahnya saat itu, aku rasa aku mulai menyukainya. Bahkan kurasa sekarang aku mencintainya.

“Aish, aku akan membunuh bocah itu,” gerutuku, aku meneleponnya tapi tidak diangkat. Aku rasa aku akan betul-betul membunuh namja itu.

Tiba-tiba terdengar suara gitar. Hah, siapa yang bermain gitar malam-malam begini?

Listen babe, I’ll dedicate this song for you.

neomu haengbokan moseub nae yeope itneun neo oneureul gidaryeosseo neoui saeng ireul

nal boneun neoui misoga oh neomu neomu nuni busyeo neol wihaeseo nan jeo byeoreul ttada jugo sipeo

Happy birthday to you areum daun nae sarang Baby, only for you niga isseo haengbokae Happy birthday to you oneul cheoreom yeongwonhi Baby, only for you urin hamkke hal geoya

nuneul tteugo nuneul gameul ttae kkaji haru on jongil niga saenggagna oerowo neo eobtneun bami chang gasairo bichi neun haetsal gateun neo neon nal kkaeugo utge hae teugbyeorhae neon jom dareun geol

sesang mueot boda deo naege sojung han neo neol wihae junbi han mam badaju getni

nal boneun neoui misoga oh neomu neomu nuni busyeo neol wihaeseo nan jeo byeoreul ttada jugo sipeo

Happy birthday to you areum daun nae sarang Baby, only for you niga isseo haengbokae Happy birthday to you

oneul cheoreom yeongwonhi Baby, only for you urin hamkke hal geoya

Omo! Chen? Dia keren sekali. Tunggu sebentar, ini kan lagu kesukaanku, aku tak pernah bilang padanya tentang ini. Ia tahu darimana?

alkong dalkong gakkeum urin datu gido hae torajin neoege eojjeo myeon joheulkka bamsae gominhae hogsina niga nal miwo halkka gaseum jorineun nae maeum ara? naege neo bakken eobtneun geol neomani nal utge handa neun geot

niga dareun geon su manheun saram deul soge seodo boyeo banjjag georineun nun, ibsul niga yeope isseu myeon maeumi nohyeo

areum daun geol neol naeryeo jun sinkke nan gamsa hae hang sang idaero isseojwo nae ane i will kiss you baby saengil chugha hae

Happy birthday to you areum daun nae sarang Baby, only for you niga isseo haengbokae Happy birthday to you oneul cheoreom yeongwonhi Baby, only for you urin hamkke hal geoya

(B.A.P-Happy Birthday)

Chen menyelesaikan lagunya dengan sangat apik, aku bertepuk tangan pelan. Ia mendatangiku sambil terus tersenyum.

“Saengil Chukkae,” katanya. Aku terkejut.

“Kau ingat,” kataku pelan, nyaris berbisik. “Gomawo, Chen. Gomawo,” kataku sembari tersenyum manis.

“Oh ya, hampir lupa. Kajja ikut aku,” ajaknya sembari menarik tanganku. Ia mau membawaku kemana?

“Cha, sudah sampai,” katanya riang, aku melihat sekeliling, kemudian pandanganku beralih pada Chen yang terus tersenyum sejak tadi. “Kau suka?” tanyanya. Aku mengangguk, air mataku pun jatuh.

“Yak, uljima, kau belum meniup lilinnya,” protes Chen, ia membawa sebuah kue ulang tahun. Air mataku semakin tak bisa kutahan.

“Chen, kau bahkan melakukannya sampai sejauh ini, gomawo,” kataku tulus.

“Eh, ini belum apa-apa, cepat tiup lilinnya dulu. Jangan lupa make a wish, ne?”

Aku memejamkan mataku. ‘Tuhan, terima kasih. Kau telah kirimkan Chen untukku.’ Kemudian aku meniup lilin.

“Chan-ah, coba lihat,” katanya sembari menunjuk langit.

“Whoa, kembang api, keren sekali, gomawo Chen.”

-Chen POV-

Inilah saat paling menegangkan bagiku. ‘Ayolah Chen, kuatkan dirimu’

“Chan-ah.”

“Ne?”

“Igeo,” kataku pelan sembari memberikan sebuah kotak pada Hyunchan.

“Ige mwoya?” ia membuka kotaknya. “Chen-ah ini..” ia tak mampu berkata-kata.

-Hyunchan POV-

‘I love you. Would you like to be my girlfriend?”

Aku terkejut melihat tulisan yang ada di perut boneka beruang ini. Aku memandang Chen cukup lama.

“Wae? Kau menolakku ya?” tanyanya sembari menundukkan kepalanya.

“Aku tak bilang begitu Chen-ah,” aku tersenyum manis padanya.

“Jadi?”

“I do,” jawabku mantap. “I love you too,” kataku lagi.

-Chen POV-

“I do,” jawabnya mantap, “I love you too.” Katanya lagi yang membuatku merasa bagaikan namja paling beruntung di dunia ini. Tanpa berkata lagi, aku langsung merengkuhnya dalam pelukanku. Kucium bibirnya lembut, ia tampak terkejut.

“Gomawo Kim Hyunchan. Saranghae,” kataku seraya tersenyum.

“Yak, itu first kiss ku, dan lagi kenapa kau mengganti margaku seenaknya?” protesnya, aigoo, neomu kyeopta. Aku jadi ingin menciumnya lagi.

“Itu juga first kiss ku, yak, biar saja, lagipula juga nanti kau akan menikah denganku,” jawabku enteng.

“Siapa juga yang mau menikah denganmu? Kau itu namja aneh, arra.”

“Kalau begitu, kau adalah yeoja aneh yang mau menerimaku,” balasku lagi. Hahaha, aku menang, ia tak dapat membalas kata-kataku.

“Yak, neo..”

-Author POV-

“YAK! KALIAN BERDUA, SUDAH PUAS EOH? AKU KEDINGINAN!” protes Himchan, yang ternyata sejak tadi duduk disemak-semak, untuk menyalakan kembang api dan menyiapkan semuanya demi dongsaengnya tercinta.

“Hehehe, hyung mian,” kata Chen sambil nyengir kuda. Himchan hanya mendengus kesal.

“Hah, sudahlah mari kita lihat kembang api ini bersama,” kata Himchan, kemudian menyalakan kembang api yang masih tersisa.

”Whoaa, kembang api ini keren sekali, apalagi jika dilihat bersama adik iparku yang cantik ini,” puji Himchan.

“Hyung, aku ini dongsaengmu,” protes Chen.

“Hahahaha,” Himchan dan Hyunchan hanya tertawa melihat tingkah Chen yang sangat childish itu.

“Hyung, minggir. Aku mau duduk disebelah Chan.minggir-minggir,” usir Chen.

“Yak, dasar dongsaeng kurang ajar.”

“It’s the best birthday gift in my life. Thank you Chen. I love you,” batin Hyunchan. Acara malam itu akhirnya dihiasi dengan pertengkaran kecil antara Himchan dan Chen.

~Fin~

——————————————————————

Gomawo ya readers, udah baca sampe abis:D

Mian kalo fanfic ini rada gaje, banyak typo, dsb. Author masih belajarJ

Annyeong~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s