[EXOFFI FREELANCE] The Wolves and Soulmate – (Prolog)

IMG_20160117_121538.jpg

Tittle : The Wolves and Soulmate

Author: candypinknet

Length: Multichapter

Genre: Fantasy—Romance—Drama—Family

Rating: Teenager

Main Cast : Oh Sehun & Ahn Nina (Original Cast)

Additional Cast : EXO member—Ahn Sojin—Ahn Edison—Kang Aurora—and many more

Summary: Setelah meniup lilin ulang tahunnya yang ke-19, hidup Ahn Nina perlahan-lahan mulai berubah. Berawal dari mimpi setiap malam tentang serigala abu-abu, lelaki berparas tampan yang tak ia kenal dan perang keluarga Canis Lupus.

Disclaimer : The story is belong to me.

Note : Cerita ini udah gue publish di wattpad & cover by @penguin_guard

Sorry for any typo(s) and nice to meet you guys!

PROLOG

Nina meniup lilin terang yang bertuliskan angka 19nya dengan diiringi oleh nyanyian sahabat-sahabatnya dan tepuk tangan meriah dari mereka. Hari ini adalah hari kelahirannya, dan pukul 12 malam lewat ini, para sahabatnya memberikan kejutan untuknya. Wajah lelah setelah mengerjakan tugas kuliahnya tidak bisa ditutupi dan rambut hitamnya berantakan. Diam-diam dalam hati, Nina bersyukur bahwa kamarnya sudah ia bersihkan sore tadi.

“Apa kau menyangka akan mendapat kejutan seperti ini?”

Well,” Jawab Nina sambil menaruh kue ulang tahunnya ke meja. “Aku tidak menyangka. Aku bahkan lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku.”

“Untung saja kami semua ingat ulang tahunmu.” Kata Joe yang disetujui oleh sahabat-sahabatnya yang lain. Nina tersenyum mendengarnya. “Terimakasih semuanya.”

“Kau pilih kasih. Mengucapkan terimakasih, tapi hanya memandang Joe,”

“Aku tidak-”

“Jangan seperti itu, Zoe. Kau ini, kenapa tak biarkan mereka berdua saja?” Kata Karen kesal. Zoe cemberut mendengarnya. “Aku tidak mau Nina dengan saudara kembarku. Dia kan cantik dan juga pintar, dia bisa mencari laki-laki yang lain lebih dari Joe.”

Semuanya tertawa tak terkecuali Joe yang sedang diejek oleh saudara kembarnya sendiri, Zoe. Nina menghentikan tawanya dan melihat kearah jam dindingnya. “Ini sudah larut malam. Apa kalian ingin pulang atau-”

“Menginap, please. Besok hari libur, kita bisa berpesta malam ini.” Saut Kevin sambil mengeluarkan beberapa botol minuman beralkohol. Semuanya mulai duduk dilantai dan membentuk lingkaran tak terkecuali Nina yang masih ragu. “Aku-”

“Setidaknya kau harus mencoba ini dulu,” Kata Evan sambil memberinya gelas yang berisikan minuman tersebut. “Jika kau tidak bisa, kami juga tidak memaksa.”

Nina mengambil gelas tersebut, “Oke. Kalau ada kejadian memalukan, tolong jangan disebar. Oke?”

“Oke.”

“Kecuali kalau itu sangat lucu.”

“Orang-orang harus mengetahuinya.”

Lalu semuanya tertawa, termasuk Nina. Mereka mulai bercerita satu sama lain; kuliah, pacar, pekerjaan sampai masa depan. Zoe bercerita bahwa dia menyukai salah satu seniornya dan Joe menghalangi dirinya untuk mendekati senior tersebut yang katanya hanya suka meniduri para Wanita, Karen bercerita tentang hubungannya dengan Evan yang sudah berpacaran, dan Kevin bilang bahwa sampai sekarang dia hanya fokus dengan pelajaran dan juga uang yang membuat lainnya menceramahinya, karena Kevin seharusnya bisa bersenang-senang sedikit.

“Lalu, bagaimana denganmu, Nina?”

“Aku,” Balas Nina dengan kepalanya yang sedari tadi mulai pusing. “Biasa saja. Hidupku tak terlalu banyak berubah dari lulus SMA kemarin. Aku seperti Kevin, hanya fokus dengan pelajaran dan juga uang.”

“Keluargamu kan salah satu pengusaha kaya. Kenapa kau masih memikirkan uang?” Tanya yang lain heran. Nina tertawa mendengarnya yang membuat Zoe mengernyitkan dahinya. “Apakah dia mulai mabuk?”

“Sepertinya.”

“Aku tidak mabuk,” Bantah Nina sambil menggelengkan kepalanya. “Walaupun keluargaku kaya, tetap saja aku tidak bisa seenaknya. Ayah dan Ibuku adalah Orangtua yang keras, yang tidak seperti kalian pikirkan.”

“Ya, dia sudah mabuk.”

“Aku tidak!” Kata Nina dengan nada tinggi. “Kenapa kalian tidak percaya denganku?”

“Tentu saja tidak kami percaya, bodoh,” Balas Joe sambil menghampirinya dan memandangnya. “Sepertinya kau harus tidur.”

“Aku tidak-”

Kepala Nina semakin pusing, dia ingin muntah tapi tidak punya tenaga lagi. Seingatnya, dia baru hanya minum berapa gelas, tapi dia sudah tidak bisa menahannya. Penglihatannya semakin lama semakin kabur. Dia mencoba untuk fokus, tapi tidak bisa. Dirinya tidak bisa menolak ketika Joe menggendongnya kekasur. Matanya masih belum tertutup rapat ketika Joe menyelimuti dirinya dengan selimut pink kesayangannya. Dan semakin lama, semuanya semakin gelap.

  • ••

Dia terbangun dan menguap dengan lebar. Angin yang melewati dirinya benar-benar membuatnya merasa nyaman. Dia mulai mengusap matanya dan maniknya memandang sekitarnya. Hamparan taman hijau adalah hal yang pertama ia lihat. Dan dia mulai menikmati suasananya. Suasana hembusan angin yang melewati setiap tubuhnya, percikan suara air terjun yang terdapat tidak jauh dari tempatnya, dan juga sunyinya tempat tersebut.

Haruskah aku berkeliling? Sudah lama sekali aku tidak bermimpi.

Nina bangun dari duduknya dan mulai mengitari taman hijau tersebut. Aneh, batinnya. Semuanya terasa nyata, tidak seperti mimpi. Dirinya menikmati setiap waktu yang ia habiskan disana; memandang taman, menikmati angin, menyentuh air dingin dari kolam. Tapi, dia semakin heran.

Apa tidak ada mahluk hidup lainnya? Apa hanya aku yang disini?

Nina semakin penasaran. Dan dia melanjutkan perjalanannya sampai akhirnya menuju gerbang ke sebuah hutan yang berkabut. Dia memandangnya dari luar. Masih ragu untuk melanjutkan perjalannya ke hutan yang sedikit menakutkan tersebut. Tapi, dia penasaran. Dan rasa penasarannya itu berhasil mengalahkan rasa takutnya.

Gadis itu mengambil satu langkah kedepan. Dan suara langkah dibelakangnya membuat dirinya berhenti melangkah. Dia semakin takut. Suara tersebut semakin lama semakin mendekatinya. Nina tanpa sadar menelan ludah dan dia mulai berbalik.

Matanya bertemu dengan mata mahluk hidup yang ia tidak pernah bayangkan disini. Tanpa sadar dia mengambil langkah mundur dan gemetar. Dia ingin bergerak lagi, tapi tidak bisa. Seperti terkunci. Untuk beberapa waktu, matanya hanya melihat ke mata Serigala yang sedang memandangnya tersebut.

Ya, serigala. Serigala abu-abu, dengan badan yang besar, manik tajam, bulu tebal dan sedang berdiri didepan Nina dengan tenang.

“Kau bisa mati jika masuk kesana,”

Nina mulai berkeringat dingin ketika melihat ada laki-laki dibelakang serigala tersebut. “Kau siapa?”

“Kau hanya menanyakanku?” Tanya Laki-laki itu. Tubuhnya tinggi, pastinya sekitar 180cm lebih, parasnya tampan, bibirnya tipis, maniknya tak kalah tajam dengan Serigala disampingnya, dan ada aura aneh disekitarnya. “Aku tidak mengerti apa maksudmu.”

“Dia tidak mengerti,” Kata Laki-laki itu berbisik kesampingnya. Nina mengernyitkan dahinya heran. “Serigala itu, bisa mengerti?”

“Menurutmu?”

“Tentu saja tidak bisa.”

Dia membalas Nina dengan tersenyum. “Pada kenyataannya adalah ia bisa.”

“Aku lupa,” Balas Nina enteng. “Ini mimpi, semua hal bisa terjadi.”

“Menurutmu ini mimpi?”

Tiba-tiba jantung Nina berdetak lebih kencang. “Apa maksudmu?”

“Apa aku harus menjelaskannya,”

“Menjelaskan apa?” Kata Nina semakin lama semakin frustasi. “Ini mimpi. Aku tahu-”

“Kalau begitu coba tengok kananmu,”

Nina menengok kekanannya dan menemukan bahwa dirinya sedang berada dikamarnya. Bukan ditempat indah tadi yang berada dimimpinya.

Dia melihat para sahabatnya sedang tertidur nyenyak. Karen dan Zoe tidur disofa kamarnya, sedangkan Kevin, Joe dan Evan tertidur dilantai dalam keadaan yang Nina tebak, sangat mabuk. Lantai kamarnya penuh dengan botol beralkohol yang berserakan dan juga beberapa bungkus makanan ringan. Mata Nina berhenti memperhatikan keadaan kamarnya ketika menemukan tubuhnya yang sedang tertidur pulas dikasur.

“Apa maksudmu ini? Bagaimana ini bisa terjadi?”

“Terlalu rumit untuk dijelaskan,” Balas laki-laki itu tepat dibelakangnya. “Apa yang harus kujelaskan-sepertinya tidak ada.”

“Kau harus menjelaskannya padaku.” Balas Nina. laki-laki itu menyengir mendengarnya. “Apa yang harus kujelaskan padamu, Nina? Kau harusnya tahu sendiri.”

“Apa?”

“Kau yang melakukan ini.”

“Hah? Apa maksudmu-”

“Sepertinya aku harus pergi sekarang,” Potong laki-laki tersebut sambil mengecek jam tangannya. “Seseorang sudah menungguku dan aku tidak ingin dia marah, karena aku sedang bersamamu sekarang.”

“Siapa namamu? Bagaimana kau tahu namaku?”

“Yang harus kau tahu adalah bukan namaku, tapi nama seseorang yang lain.”

Nina memandang Laki-laki tersebut tidak mengerti. “Siapa?”

Laki-laki itu mendekatinya dan membisikan sebuah nama ketelinganya. “Oh Sehun.”

 

  • ••

Nina bangun dari mimpinya. Dia duduk ditepi kasur dan mengusap keringatnya. Kamarnya dingin, tapi dirinya kepanasan. Nafasnya terengah-engah seperti habis berlari. Dia tidak mengerti dan semakin pusing ketika mengingat kembali mimpinya.

“Oh Sehun.”

Siapa dia? Kenapa aku harus mengetahui namanya?

Nina mulai mendengar suara langkah kaki yang mendekati kamarnya. Dirinya tiba-tiba takut. Para sahabatnya masih tertidur pulas dan tidak ada yang keluar kamar sama sekali. Pintu kamarnya terbuka dan dia diam-diam menghela nafas lega ketika melihat siapa yang mendatangi kamarnya.

“Ayah? Kenapa Ayah kesini?”

“Ayah,” Balas Ayahnya sambil memperhatikan keadaan kamarnya dengan khawatir. “Kamu tidak apa-apa?”

“Aku?” Balas Nina tiba-tiba sedikit canggung, karena Ayahnya melihat keadaan kamarnya. “Aku tidak apa-apa. Dan sungguh, kita semua hanya mabuk. Kita semua tidak apa-apa.”

“Panggil Ayah kalau ada terjadi sesuatu.” Katanya sambil keluar dari kamar Nina. Nina menghela nafas lega lagi dan mulai memandang langit-langit. Dia masih memikirkan mimpinya. Jika itu mimpi, kenapa sangat terasa nyata? Kenapa ada Serigala dan Laki-laki itu tadi disana? Kenapa dia harus mengetahui seseorang yang bernama Oh Sehun? Siapa dia? Terlalu banyak pertanyaan dipikirannya yang masih belum bisa terjawab.

Dia mulai mencoba tidur lagi. Dia mencoba untuk mengusir mimpi tadi dan memikirkan hal-hal lainnya yang lebih menyenangkan. Tapi, tiba-tiba dia menyadari sesuatu.

Kenapa Ayah datang dan bertanya seperti itu?

BERSAMBUNG

  • ••

Semoga kalian suka, ya! Dan saya butuh saran atau kritik yang membangun, karena saya adalah penulis yang masih jauh dari kata bagus. Thankyou & see ya in next chapter!

 

 

6 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] The Wolves and Soulmate – (Prolog)

  1. Wih leh ugha nih ceritanya, itu bukan mimpi? Itu nyata kah? Serigala sama cowok itu siapa? Yg cowok itu kukira ohseh
    Bapaknya knp nanya kek gitu…
    Ditunggu next chapnya

  2. Mungkinkah Ayah Nina mengrtahui sesuatu tentang mimpinya, terus laki-laki yang bersama srigala itu siapa? Oh Sehun?
    Terlalu bikin penasaran. Semoga next chapternya bisa cepet di update🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s