[EXOFFI FREELANCE] Hadphone (Oneshot)

img-20160930-wa0000

HEADPHONE

Author: Lible Lander

Length: Oneshoot

Genre: Fluffy

Rate: PG-17

Cast: Oh Se Hun (EXO)-Lee Hyun Ki(OC)

“Sehun selalu memakai headphone, bahkan saat di sekolah. Dan Hyunki kesulitan mencarinya hanya untuk mengumpulkan tugas.”

EXO belongs to SM, but this story and OC is MINE!

A/N: FF debut aku di fandom EXO! Salam kenal semuanya~

Happy reading!!

.

.

.

“Baiklah, rapat selesai. Terima kasih sudah bekerja keras.”

“Baik!”

Hyunki merapikan file dan kertas-kertas di depannya. Gadis itu menumpuk semuanya, lalu memasukkannya ke dalam lemari.

“Hyunki! Pulang, yuk!”

“Ayo” balasnya, lalu membungkuk. “Terima kasih! Aku duluan!”

Beberapa orang menjawabnya, lalu Hyunki berlari menghampiri Baekhyun yang sudah berdiri di ambang pintu. “C’mon, bro!”

“Ah, aku lelah sekali..” Baekhyun merenggangkan tangannya. “PR dan tugas saja belum kukerjakan, masa aku sudah harus mengumpulkan data? Ketua sialan.”

“Jangan begitu. Kalau dia dengar, bisa-bisa kau di smack down! Lagipula, kalau kau tidak mau, kau bisa keluar dari Osis dan biarkan orang lain mengisi jabatanmu” Hyunki tertawa.

“Tidak jadi. Aku mendapatkannya dengan susah payah, kenapa aku harus menyerahkannya?” Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ah, aku duluan, ya! Hyunki, hati-hati!” serunya saat berbelok ke gang.

“Ya, kau juga!” balas Hyunki, lalu ia berjalan seorang diri.

“Pulang, mandi, makan, tidur, bangun, ah tidak, nonton dulu baru tidur.”

“Harusnya kerjakan prmu dulu.”

Hyunki memekik. Dengan nafas memburu, ia memutar tubuhnya dan mendapati seseorang tengah berdiri di belakangnya.

“Hei, tau tidak kalau jantungku baru saja terjun bebas? Bisakah kau muncul tanpa tiba-tiba?” cerocosnya.

“Aku hanya mengingatkan soal tugas sekolahmu” Sehun mengangkat bahu. “Harusnya kau berterima kasih padaku.”

“Ya, ya. Terima kasih.”

Pemuda itu memasang headphone yang dikalungkannya, lalu berjalan melewati Hyunki begitu saja. Gadis itu terdiam di tempatnya selama beberapa menit hingga punggung Sehun menghilang di perempatan jalan.

“Sialan. Untung kau tampan.”

***

“Lihat, aku menyelesaikannya tepat waktu, kan?”

Baekhyun memamerkan map di tangannya dengan bangga, “Ini, ketua! Sudah kukerjakan!”

Sehun mengalungkan headphonennya. Ia mengambil map dari Baekhyun, lalu membolak-balik beberapa kertas. “Grafik bulan April? Total dana bulan Juni?”

“G-grafik? Total dana? Bu-bukannya-“

“Bercanda, Byun. Laporanmu sudah lengkap” Sehun tertawa kecil.

“Bocah sialan! Padahal aku sudah mencatat semua perkataanmu dengan detail tapi kau malah mengerjaiku? Aku sudah panik membayangkan tak bisa tidur nanti malam, tau!” teriaknya kencang, lalu melempari Sehun dengan benda apapun didekatnya.

“Hentikan, Baek-argh! Maaf, maaf!”

Baekhyun melompat, lalu mencekik Sehun dengan sepenuh hatinya, “Tiada maaf bagimu, Hunnie! Bahahahah!”. Tawanya terhenti. “Hei, menerutmu Hyunki sudah selesai dengan kerjaannya, belum?”

Sehun mengerang, berusaha merasakan oksigen dengan menepuk-nepuk dadanya. “Mana kuta-uhuk! Tau!”

Ia memalingkan wajah, lalu mendapati Hyunki yang tengah bertopang dagu menghadap jendela yang terbuka. Semilir angin menerbangkan beberapa helai rambutnya, dan Sehun menyadari sesuatu.

“Apa dia tidak tidur semalaman?”

“Ckckck..” Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. “Apa kau tidak lihat seberapa hitam kantung matanya?”

Sehun tak bergeming, masih memandangi Hyunki yang kelopak matanya tertutup. Akhirnya Baekhyun menghela nafas, “Iya, iya. Biar kutanya saja.”

“Hyunki? Hei, Hyun? Apa kau tidur?”

Gadis itu masih bertopang dagu. “Permisi sebentar” kata Baekhyun pada seseorang, lalu menduduki kursi didepan Hyunki.

“Hei, Hyunki!” Baekhyun menjentikkan jarinya, namun tetap tak ada reaksi. Ia menoleh, bertemu pandang dengan Sehun. Ia mengerutkan dahi, namun Sehun mengangkat bahunya cuek. Baekhyun kembali memalingkan wajahnya, memandangi Hyunki yang masih terduduk kaku, tak ada pergerakan sama sekali.

“LEE HYUN KIII!!”

Ia tersentak. Kelopak matanya terbuka dengan cepat. Didepannya, Baekhyun tengah membentuk corong di sekitar mulutnya dengan kedua telapak tangan yang terbuka lalu meneriakkan namanya heboh.

“BERISIK!”

PLAK!

“Akh!” Baekhyun mengaduh. “Apa-apaan!”

“Kau yang apa-apaan! Jangan membangunkanku seperti itu, sialan!” seru Hyunki. “Kau mau apa, hah?!”

“Iya, iya, maaf..” samar-samar, ia mendengar tawa Sehun dan beberapa orang. Sialan. “Aku cuma mau tanya, laporanmu sudah selesai?”

“Laporan?”

“Osis.”

“Oh itu.. Yah, ada beberapa data yang tidak kutemukan, jadi nanti saat pulang sekolah, aku akan mencarinya.”

“Sebanyak itu?” Baekhyun melotot. “Mau kubantu?”

“Tidak usah” Hyunki menguap. “Banyak yang harus kubaca. Kalau ada kau, aku malah jadi bingung apa yang harus kukerjakan. Paling satu-dua hari lagi selesainya. Sekarang pergilah jauh-jauh, aku mau tidur.”

“Perempuan sinting” umpat Baekhyun rendah.

“APA?!”

“E-eh, bukan apa-apa!” pemuda itu gelagapan, lalu secepat kilat menghampiri Sehun yang masih tertawa.

“Lihat? Dia mengerjakan bagiannya dengan baik, tau. Apa kau tidak kasihan?”

“Aku sengaja.”

“Sengaja?!” pekiknya.

“ Kapan dia ke ruang Osis?” tanya Sehun. Matanya tak lepas dari Hyunki yang menguap lebar, lalu menumpukan tangan di meja dan menelusupkan wajahnya.

“Uh.. yah, pulang sekolah.”

Sehun tak menjawab. Ia memakai headphonenya lagi, membiarkan Baekhyun yang menggerutu di tempat.

***
“Juni, Juli, Agustus, Oktober… Ah, September belum.”

Hyunki berjinjit, berusaha meraih tumpukan map di rak paling atas. Apa daya, tubuhnya tak sampai. Ia tetap mengulurkan tangannya, sampai melompat-lompat kecil demi menjangkau rak atas. Mendadak, sebuah tangan terulur di atasnya, membuat Hyunki terdiam.

“Arsip September.”

“A-ah.. Terima kasih” Hyunki membalik badan, lalu mengambil setumpuk map dari pemuda didepannya.

“Apa yang kau lakukan? Bukankah sudah lewat jam pulang?” tanya Sehun.

“Aku tidak menemukan banyak data, jadi aku mencarinya” jawab Hyunki. “Kau sendiri? Kenapa selalu muncul seperti hantu? Lalu apa yang kau lakukan disini?”

Si ketua osis mengangkat bahu, “Entahlah. Aku hanya kebetulan lewat dan aku mendengar suara gaduh dari dalam. Ternyata kau yang berusaha mengambil arsip, sampai lompat-lompat segala.”

Hyunki merasa wajahnya memanas, “Ah.. Daripada aku tidak mendapatkannya?”

“Kalau kau jatuh bagaimana?”

Gadis itu kehilangan kata-katanya.

“Laporan bulan ini tidak akan ada yang mengerjakan.”

Sialan! Kupikir dia khawatir, ternyata…

“Dan juga..” Sehun mendekatkan wajahnya. “Jangan tidur terlalu larut, Lee.”

Hyunki merasakan ibu jari Sehun menelusuri kantung matanya. Pemuda itu menatapnya intens. “Pastikan kau tidur lebih awal malam ini.”

Gadis itu terpaku. Bahkan saat Sehun sudah keluar dari ruang Osis, ia masih terdiam di tempat. Tak berapa lama, ia menyeret tubuhnya ke belakang, bersandar di rak. Kakinya terasa lemas, hampir tak kuat menopang tubuhnya.

Bibirnya terbuka, namun tak ada sepatah katapun yang keluar. Tangannya yang gemetar memegang dadanya, tepat di daerah dimana jantungnya berpacu cepat. Perkataan Sehun membuat kepalanya terasa kosong.

“Ah…”

Hyunki berusaha mengisi paru-parunya dengan oksigen sebanyak mungkin. Ia menyentuh kantung matanya, lalu wajahnya memerah. Sentuhan ibu jari Sehun masih sangat terasa di kulitnya.

Aku menyukainya..

Gadis itu mengerjap-ngerjap. Dan dengan satu tarikan nafas, Hyunki meyakinkan dirinya.

Sangat menyukainya..

***

“Astaga, apa yang terjadi dengan wajahmu?!”

Hyunki memutar bola matanya. Gara-gara perlakuan Sehun kemarin, ia malah tak bisa tidur semalaman. Dan sekarang, Baekhyun dengan suaranya yang cempreng itu sudah heboh melihat kondisinya.

“Huh, aku bahkan baru datang..” desisnya. “Minggir, aku mau tidur.”

“He-hei, Hyunki! Lee Hyunki!”

“Lihat, ini semua ulahmu!” tunjuk Baekhyun pada Sehun yang juga baru datang.

“Hei, apa kau mendengarku?”

Sehun berjalan ke arah kursinya, masih dengan headphone di telinganya.

“Sialan, bahkan dia tidak tau kalau aku berteriak padanya? Astaga, apa yang harus kulakukan dengan bocah ini?” umpat Baekhyun tanpa henti.

Hyunki (yang sebenarnya sudah pulas) terbangun mendengar celoteh pemuda cerewet itu. Ia ingin memarahi Baekhyun, namun sadar bahwa segala amukannya tertuju pada Sehun yang sedang memakai headphone dan bersandar pada dinding. Matanya terpejam.

“Headphone?” gumam Hyunki. “Apa dia tidak bisa hidup tanpa headphone sebentar saja? Bahkan dia tetap tampan dengan benda itu.”

Hyunki yang merasakan wajahnya memanas, memilih untuk memalingkan wajah ke jendela, lalu melanjutkan tidurnya.

Ia bahkan tak sadar kalau Sehun membuka matanya, lalu memandanginya sekilas sebelum tersenyum tipis.

***

Istirahat pertama, Hyunki menghampiri Sehun. “Ini, sudah selesai” Hyunki meletakkan map tebal di meja Sehun, lalu menarik kursi dan duduk didepannya.

Sehun membukanya tanpa suara, membaca setiap halaman dengan teliti. Sementara Hyunki menatapnya cemas. Apa ada yang kurang? Apa ada yang belum kukerjakan? Hyunki pasrah. Ia lebih memilih memperhatikan Sehun yang sedang membaca pekerjaannya.

Caranya membalik halaman, matanya yang fokus pada tiap baris rangkaian kata, bibirnya yang terkatup rapat, keningnya yang kadang mengerut, tubuhnya yang bersandar santai pada kursi, Hyunki menyukai semuanya.

Ya, dia menyukai Sehun. Jauh sebelum sekarang, ia sudah menyukai Sehun sejak Masa Orientasi dimana Sehun ditunjuk untuk berpidato mewakili murid kelas sepuluh. Ia rajin belajar, mempelajari make-up, bahkan masuk ke Osis demi menyejajarkan dirinya dengan Sehun.

Dan tak sia-sia. Hyunki sudah berada sedekat ini dengan Sehun, meskipun hanya sebatas teman sekelas dan satu organisasi.

“Kerja bagus.”

Hyunki terpaku pada netra hitam didepannya. Astaga, ia menatapmu lurus sekarang.

“Hyunki?”

Bahkan Sehun memajukan kepalanya, memandang Hyunki bingung.

“Hei, Lee Hyunki?”

Ia tersentak. Sehun menaikkan sebelah alisnya, “Kau tidak apa-apa?”

“Ah..” Hyunki merasa wajahnya merona, “Maaf.. aku kurang tidur. Kau bilang apa?”

“Kubilang, kerja bagus” Sehun kembali bersandar pada kursinya. “Laporanmu rapi dan lengkap. Tidak seperti Baekhyun, memang lengkap tapi berantakan. Tapi lumayan, lah.”

“Benarkah? Baguslah, aku bisa tidur nyenyak nanti malam” Hyunki tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Kantung matanya yang menggembung jadi terlihat jelas. Sehun memicingkan matanya.

“Apa kau tidak tidur?”

JLEB

“Ah, yah.. aku.. mm..” mati aku. “Insomnia.”

“Insomnia?” sela Sehun. Ia kembali memajukan wajahnya. “Kau sangat kelelahan dan kau bilang insomnia?”

Aduh.

Berbohong pada Sehun bukanlah keputusan yang tepat.

“Yah, aku…” Hyunki menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia merasa kehilangan kata-katanya. Sebenarnya, ia bukannya tak mau tidur. Justru kelakuan Sehunlah yang membuatnya seperti itu. Jantungnya terus berdebar dengan cepat, hingga ia tak merasa mengantuk sama sekali.

“Lee Hyunki, sekarang jujur padaku.” Sehun menatapnya tajam. “Apa kau-”

KRIIINGG

“Ah, nanti lagi, ya!” Hyunki cepat-cepat berdiri dan berlari ke kursinya. Beruntungnya, guru pelajaran selanjutnya masuk kelas dengan cepat.

Aku selamat.. Pak penjaga, diberkatilah kau! batinnya girang.

Sayang, kegembiraannya hanya berlangsung sesaat. Guru sejarah memberikan tugas yang harus diselesaikan hari itu juga.

“Kumpulkan pada sekertaris, lalu bawa ke ruang guru. Sekian untuk hari ini” katanya, lalu keluar kelas bersamaan dengan bel istirahat.

Sialan.

“Selamat bekerja, nona Lee!” Baekhyun tertawa dan meletakkan bukunya di meja Hyunki.

“Awas kau nanti” desisnya, lalu menghitung jumlah buku di mejanya. “34? Siapa yang belum mengumpulkan?” ia membuka buku absen, lalu menandai beberapa nama.

“Tinggal Sehun? Oke, tapi dimana dia sekarang?” Hyunki mengedarkan pandangannya. Kelas sangat sepi, hanya ada beberapa orang.

“Bagus, nak. Pekerjaanmu bertambah” ia menghela nafas, lalu keluar kelas. Hyunki menyusuri segala penjuru sekolah, kantin, perpustakaan, ruang Osis, bahkan laboratorium, tapi nihil. Sementara waktu istirahat hampir habis.

Gadis itu terduduk kelelahan di pinggir lapangan. Ia meneguk air mineral yang dibelinya tadi, lalu menarik nafas panjang.

“Sialan, kau kemana, hah?!” teriaknya kencang. Beberapa orang menatapnya aneh, namun Hyunki tak peduli. Ia merasakan angin berhembus di sekitarnya, menerbangkan beberapa helaian rambutnya.

“Oke calm down, Lee. Santai saja, santai… Fyuh… Santai… Sekarang ayo berpikir. Kalau aku jadi Sehun, tempat yang akan kudatangi adalah?”

Hyunki berpikir keras. Ia memejamkan matanya kuat-kuat. Tak berapa lama, ia terkejut. Ada satu tempat yang belum ia datangi. Gadis itu berdiri, lalu belari ke arah tangga. Hyunki tak berhenti berlari hingga dia sampai ke lantai empat.

Pelan, ia mendorong pintu didepannya, lalu mengedarkan pandangan.

“Tidak ada…”

Hyunki menghela nafas kecewa. “Kalau begitu dia kemana?”

Angin berhembus kencang, membuat gadis itu memejamkan matanya untuk beberapa saat. Menyadari waktu istirahat hampir habis, Hyunki memutuskan kembali ke kelas. Namun saat ia berbalik, siluet seseorang mengejutkannya.

Salah satu kaki yang ditekuk, tubuh yang bersandar pada tembok, headphone di telinga dan mata terpejam.

“Se-s-sehun?”

Hyunki ingin menampar wajahnya sendiri. Yang benar saja! Ia mati-matian mencari pemuda itu tapi yang dicari malah sedang tidur? Kesal, Hyunki melangkahkan kakinya mendekati Sehun.

“Hei, tukang tidur” panggilnya. “Sehun!”

Tak ada jawaban. Si ketua osis masih tetap pada posisinya semula, tak bergerak. Hyunki menghela nafas, lalu berjongkok di depan Sehun. “Hei, aku mencarimu ke semua tempat yang aku tau hanya untuk mengambil bukumu tapi kau malah enak-enakan tidur disini?”

Angin kembali berhembus, menerbangkan helai-helai rambut Hyunki. Gadis itu memejamkan mata sesaat. Saat matanya terbuka, pandangannya tertuju ke helaian rambut hitam didepannya yang ikut melambai. Tanpa sadar, Hyunki mengulurkan tangannya. Mengelus surai orang di depannya.

“Halus sekali..” gumamnya.

Gadis itu memandangi Sehun yang masih terlelap dengan wajah damainya. Sesaat kepalanya terasa kosong dan dunianya seakan terfokus pada satu titik.

“Kau tau?” Hyunki menarik tangannya. “Aku mengalami hal yang aneh.”

“Awalnya tak begitu terasa, tapi lama-lama aku menyadarinya. Ada yang tidak beres denganku. Dan ada hubungannya denganmu.”

Gadis itu terdiam sejenak, lalu melanjutkan kata-katanya, “Aku… Selalu ada sesuatu yang membuatku memikirkanmu. Bahkan perlakuan kecil darimu saja sudah membuatku tak karuan. Wajahku memerah, kepalaku rasanya kosong, dan disini” Hyunki menekan dadanya, “Selalu berdetak dengan cepat sampai kupikir aku terkena serangan jantung.”

“Dan kau tau? Kemarin, saat kau menyentuh kantung mataku, rasanya seperti ada listrik ribuan volt yang mengaliri tubuhku. Aku bertanya-tanya, apa yang terjadi padaku? Apa terjadi komplikasi dan apa aku harus dibawa ke UGD? Tanpa sadar aku selalu memperhatikanmu, dan sedikit demi sedikit mengubah diriku agar bisa sejajar denganmu.”

“Apa kau tau bagaimana rasanya?” Hyunki membasahi bibirnya, “Tidak enak. Ya, tidak enak. Tapi aku menyukainya. Saat aku terpaku pada matamu, menahan nafas saat jarakmu sangat dekat dengaku, aku menyukai perasaan aneh itu.”

“Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku membicarkannya. Rasanya, aku sangat ingin kau tau apa yang terjadi padaku. Nah, aku terlihat sangat bodoh sekarang, tapi a-”

Hyunki merasa gravitasi menjadi dua kali lebih kuat saat itu juga. Tanpa ia sadari, sebuah lengan telah melingkari pinggangnya dan menariknya kuat. Ia menubruk tubuh Sehun dan terperangah. Terlalu bingung mencerna semuanya.

“Bodoh..”

Matanya membulat. Otaknya memproses rangkaian peristiwa yang dialaminya dengan cepat.

“Kau benar-benar bodoh. Tidak perlu bingung sampai seperti itu.”

Hyunki merasa ingin lari saat itu juga. Sehun… Berarti Sehun mendengar semuanya! Gadis itu panik, malu, bingung, kaget, dan semuanya bercampur aduk.

“Yang kau alami itu wajar, toh aku juga merasakannya. Sekarang tidurlah, tadi malam kau belum tidur, kan?” tangan kanan Sehun menekan kepala Hyunki lembut, menyamankan posisi gadis itu di tubuhnya.

“A-a-apa?” Hyunki tergagap. “Ti-tidur?”

“Hn.”

“Apa maksudmu dengan tidur?! Hei, aku mencarimu untuk mengambil bukumu! Aku mau mengumpulkannya ke ruang gu-”

Sehun membuka matanya, melepaskan headphonenya lalu dengan cepat menatap Hyunki di depannya, “Kubilang tidur. Jangan pikirkan hal lain.”

“Hah?”

“Kau ini..” Sehun menyipitkan matanya. “Kau tidak sadar dengan kata-katamu tadi?”

Hyunki terbelalak.

“Tidak usah kaget begitu. Aku memang tidak tidur, dan aku sangat berterima kasih atas kejujuranmu” tatapan matanya melembut. “Tidak usah ragu. Bukan hanya kau, aku juga merasakannya.”

“Ap-apa?”

“Kau. Aku. Kita berdua sama. Jadi, jangan menakut-nakuti dirimu dengan pikiran serangan jantung atau UGD” Sehun tersenyum geli.

“Tunggu dulu. Jadi, ja-jadi.. Kau ini…”

Sehun memutar bola matanya, “Apa perlu kukatakan dengan jelas? Apa perlakuanku masih belum cukup meyakinkanmu?”

“Aku, menyukaimu. Sangat menyukaimu, Lee Hyunki.”

Hyunki merasa tubuhnya seperti diguyur air es. Sehun tersenyum dan bilang kalau dia menyukainya. Tubuhnya melemah dan tangannya tanpa sadar mencengkram lengan pemuda itu.

“Sekarang tidurlah. Waktunya istirahat” Sehun kembali menyandarkan tubuhnya di tembok, lalu menyamankan posisinya dengan Hyunki. Matanya kembali terpejam.

Hyunki yang masih tidak percaya, hanya bisa bersandar di tubuh pemuda itu. Matanya masih membulat, dan ia masih mencengkram lengan Sehun.

“Apa kau serius?”

Sehun kembali membuka matanya, lalu menatap tajam Hyunki. “Perlu kubuktikan?”

Sehun tiba-tiba mendekatkan wajahnya dengan Hyunki, hingga hidungnya nyaris bersentuhan. Gadis itu kaget, lalu buru-buru menelusupkan wajahnya ke dada Sehun. “Bo-bodoh!”

Pemuda itu tertawa, lalu kembali menyandarkan kepalanya ke tembok. “Tidurlah” tangan kanannya mengelus kepala Hyunki.

Gadis itu tak merasakan apapun selain kelegaan luar biasa yang menyusupi hatinya. Wangi tubuh Sehun dan elusan di kepalanya membuatnya mengantuk dengan cepat. Dan dengan ciuman di puncak kepalanya, Hyunki terlelap.

Sehun menghirup dalam-dalam harum rambut gadisnya, lalu kembali menyandarkan kepalanya ke tembok. Tak berapa lama, ia juga terlelap dengan senyum tipis di wajahnya.

.

.

.

END

A/N:

OMAIGAT APAAN NIH! *nyakar tembok.

Um, halo. Aku author newbie di exo fanfiction *bungkuk-bungkuk. Tadinya, aku berencana buat debut disini lebih cepet, tapi ternyata butuh waktu lama buat ngumpulin kepercayaan diri. Mungkin beberapa orang sadar kalo gaya bahasa aku mirip-mirip sama author-author ff dari negeri sakura, dan emang bener. Tadinya aku author di ffn, tapi seiring bertambahnya usia jadi ngalamin yang namanya puber dan ngidolain EXO, akhirnya banting setir kesini *senyum tujuh senti. ^^”

Anyway, aku berterima kasih banget sama seorang temen baik di sekolah yang udah banyak bantuin aku dalam proses pembuatan cerita ini (lapyu broh!). Udah ngasih saran, ngedengerin imagine aku sampe kaki lemes, hehehe..

Nah, nggak mau panjang lebar, ah. Karya ini masih banyak banget cacatnya, jadi saran, kritik, semuanya aku terima dengan tangan terbuka. Kalau responnya bagus, aku bakal mikir-mikir buat bikin karya selanjutnya disini. Makasih banyak yang udah ngeluangin waktu buat baca fluffy picisan dari author newbie ini. Sekali lagi,

GOMAWOOO~ \(^o^)/*tereak pake toa.

***

“Sialan. Untung aku orang baik.”

Baekhyun, dengan setumpuk buku di tangannya, menatap kesal pada sejoli yang tengah terlelap di depannya.

“Enak-enakan bolos pelajaran dan tidur disini, bahkan dia lupa ke ruang guru!” wajahnya yang sudah cemberut tambah ditekuk. “Tapi kenapa harus aku yang menggantikannya?!”

“Fyuh… Tahan Baek, tahan… Fyuh… Sabaarr…” ucapnya, lalu meninggalkan atap sekolah dan… menguncinya.

***

END (2)

9 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Hadphone (Oneshot)

  1. Sukaaaaa, cerita ini ringan dan aku suka thor baca cerita kaya gini buat isi waktu luang hehe. Gaya bahasanya juga aku suka, enak ya dibales perasaannya sama sehun. Jadi baper kan haha. Well keep writing author:)

  2. ya ampun haruskah ada ff yg kayak gini?
    keren banget sih. rasany tu ada hujan gula yg lagi guyur malam ni. manis amat sih
    keep spirit tho
    rasanya aku gak mau end

  3. Aaaa baper, sweet bangeet:”3 coba di sekolah ada yang kayak sehun ya /eh
    Authorr baru pertama debut tapi udah bagus banget ff nya 😂
    Semangat authorr, keep writing yaa

  4. Kyaaa…. Aku sukaa bangetttt, ternyata sehun diem-diem mengejutkan juga yaaa. Hyunki nya gak pekaa padahal sehun udah ngekodein diaa. Ciee, akhirnya jadian juga nihhh, selamat yaa~hehe

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s