[EXOFFI FREELANCE] Café Latte (Chapter 4)

photogrid_1473564360429

Café Latte

 

Tittle                           : Café Latte (Chapter 4)

Author                       : Dancinglee_710117

Main Cast                 :

  • All EXO member
  • Ji Hae Young (OC)
  • Park Misun (OC)
  • Jung Jae Rim (OC)
  • Rae In Sung (OC)
  • Tae Kyura (OC)
  • Jo Na Ri (OC)
  • Moon Hyera (OC)
  • Lee Minyeo (OC)
  • Go Muyeol (OC)
  • Lee Haeri (OC)

Genre                        : Romance, Comedy (a little bit), and other

Rating                        : T

Length                       : Chapter

 

~Happy Reading~

 

-Can’t Stop Us Now-

 

 

“AKU TIDAK BISA!”

 

Hari masih pagi, cerah, dan terlalu indah untuk mengawalinya dengan sebuah kekacauan. Namun itulah yang terjadi pada Haeri. Di rumahnya, setelah bangun tidur dan baru mencuci muka, dia sudah berteriak keras dalam kamar mandinya. Rambutnya yang sudah acak-acakan semakin kusut karena frustasi. Ibu dan adik perempuannya berkali-kali mengetuk pintu, khawatir dengan keadaannya yang agak memburuk belakangan ini.

 

Eonni!, ada apa denganmu?” seru adiknya tak sabaran.

 

Sementara gedoran nyonya Lee terhadap pintu kamar Haeri semakin menggebu. Wajahnya penuh dengan emosi namun terdapat sedikit kekhawatiran di dalamnya.

 

“Aku baik-baik saja!” akhirnya terdengar teriakan Haeri. Adiknya mulai lega namun tidak dengan ibunya.

 

“Buka pintunya sekarang juga!” titah wanita itu dengan tegas. Minyeo -adik Haeri- melongo, ini kali pertamanya melihat sang ibu begitu marah dengan sikap aneh anaknya. Yah, dia mengakui kalau seluruh saudaranya merupakan anak menyebalkan dengan sikap yang aneh, konyol dan menjengkelkan. Tapi ibunya selalu sabar, sekarang yang dia dapati adalah hal langka yang baru terjadi.

 

Pintu kamar Haeri terbuka, “Apa?” oleh sang empunya.

 

Minyeo ganti menatap kakaknya. Hal langka yang baru terjadi dan disebabkan oleh Haeri!, pikirnya cemas.

 

“Dua hari yang lalu kau pulang kerja dengan wajah suram. Ditanya tidak menjawab, berjalan sempoyongan seperti orang mabuk. Kemarin kau juga berkelakuan sama, belum lagi sikap pemarahmu yang muncul lagi seperti manusia berkepribadian ganda!. Dan sekarang?, sekarang apa yang kau lakukan hingga HARUS BERTERIAK TAK MASUK AKAL SEPERTI ITU?!”

 

Minyeo jatuh terduduk dengan ekspresi kaget, takut, bercampur dengan kebingungan. Matanya terus menatap ibunya tanpa berpaling atau bahkan berkedip sekalipun.

 

‘Ibuku yang manis…ibuku yang penyabar…kemana hilangnya dikau?’ tanya Minyeo dalam hati dengan dramatis.

 

Eomma… aku hanya punya sedikit masalah di tempat kerja.” Jelas Haeri menyesal.

 

Nyonya Lee melipat kedua tangan di depan dada, ekspresinya masih belum berubah. “Kalau ada masalah di tempat kerja, jangan dibawa ke rumah. Adikmu sedang belajar untuk ujian kelulusan. Jika dia gagal, kau yang akan aku usir dari rumah!” setelah bicara begitu, beliau pergi ke dapur untuk melanjutkan kegiatan memasaknya yang sempat terhenti karena teriakan konyol Haeri.

 

“Kenapa aku yang disalahkan?!” protes dari Haeri diacuhkan karena ibunya sudah berada jauh, di dapur. “Aissh! Eomma!” sekali lagi ia mengacak rambutnya yang sudah berantakan dari awal.

 

Eonni!” panggil Minyeo yang sudah bangkit dari keterkejutannya. “Memang ada masalah apa?”

 

“Bukan urusanmu!” sentaknya seraya menutup pintu dengan keras.

 

Eomma!, eonni membentakku!”

 

“LEE HAERI!”

 

“AARGGG -AKU BISA GILA!”

 

***

 

“Ha? -Ha…hahahaHAHAHAHAHA!”

 

Orang pertama yang tertawa setelah mendengar curahan hati Haeri tentang kejadian tadi pagi adalah sahabat baiknya, Ji Hae Young. Dan setelah ini, Haeri putuskan untuk menobatkannya sebagai sahabat paling kejam, tak berperasaan, dan tidak mengerti keadaan, Ji Hae Young.

 

“Tertawalah sepuasnya!” ujar Haeri menyindir.

 

Tapi Hae Young kesulitan menghentikan tawanya walau muka sahabatnya itu sudah terlihat sangat kesal. Cerita Haeri terlalu lucu untuk diabaikan begitu saja. Setidaknya Jae Rim dan Na Ri bisa menahan tawa mereka untuk alasan kesopanan.

 

Café masih sepi karena para pegawai belum datang semua dan baru akan dibuka setengah jam lagi. Na Ri adalah orang pertama yang datang satu jam lebih awal dari jam masuk kerja, disusul Jae Rim dengan selisih waktu lima belas menit. Keduanya membereskan peralatan dapur dan bartender di ruang tengah sampai Hae Young datang bersama Haeri yang berwajah masam. Setelah dipaksa bercerita -dan akhirnya memang menceritakannya- dia malah ditertawai oleh rekan dan sahabatnya. Maka semakin kesal-lah seorang Lee Haeri.

 

“Terima kasih atas perhatian kalian.” Katanya sarkatis.

 

Jae Rim berdehem agar tidak kelepasan tertawa. Ia tersenyum tulus untuk meminta maaf pada Haeri. “Maaf.” Katanya singkat dengan backsound suara tawa Hae Young yang terpingkal-pingkal di bawah meja.

 

“Serius sedikit Hae Young!” lama-lama ia tak bisa mentolelir kawannya itu. “Setidaknya berikan aku solusi dan arahan, kau kan yang paling pandai soal drama dan semacamnya.”

 

Hae Young berhasil meredakan tawanya. Ia mengusap air mata lalu kembali duduk bersama ketiga temanya. “Not too smart.” Elaknya.

 

But, I Think, you’re the one who can do this in here. This café.” Na Ri mengingatkan. “Kau pernah jadi pemeran utama dalam drama sekolah.”

 

“Ya, tapi itu drama tentang detektif, Sherlock Holmes. Bukan drama percintaan remaja sekolah!”

 

Haeri mendengus, “Kau kan pernah jadi remaja juga. Malah baru setahun lalu lulus sekolah. Kau tentu tahu bagaimana percintaan remaja di sekolah. Dan lagi, drama ini bukan hanya berisi adegan romansa, tapi juga mengenai kehidupan sekolah.”

 

“Kau kan juga remaja dan baru lulus tahun kemarin!” balas Hae Young.

 

“Tapi kau membuat banyak cerita bagus mengenai kehidupan sekolah bukan?. Kau penulis yang cukup baik menurutku.” Timpal Jae Rim sekaligus memuji keahlian Hae Young.

 

“Itu Fanfiction!, hanya cerita imajinasi mengenai seorang penggemar dengan idolanya!” Hae Young masih tak mau kalah.

 

“Sebuah cerita selalu bercampur dengan imajinasi. Ada yang nyata, itu biografi ataupun auto-biografi. Tapi cerita lain kebanyakan mengandung unsur imajinasi.” Sahut Na Ri seraya bertopang dagu.

 

Hae Young kalah telak. Ia merasa terpojokkan. Dengan terpaksa dia menyetujui untuk membantu Haeri dalam berperan sebagai Go Eun Byul dan Lee Eun Bi. Meskipun…

 

“Aku juga tidak tahu bagaimana menjadi Kang So Young.”

 

***

 

‘Kring!’

 

“Selamat datang di Our’s Café!. Mari saya antar ke meja yang kosong.”

 

Sekarang sudah jam makan siang, café mulai ramai dengan para pekerja kantoran yang hendak mengisi perut serta mengistirahatkan diri mereka dari pekerjaan yang melelahkan. Haeri agak kewalahan sebagai pelayan karena Sehun yang tidak masuk dengan alasan sakit. Beruntung Minseok yang belum memulai sebagai barista café bersedia membantu sebagai pelayan tambahan. Hae Young juga membantu sebagai penjaga counter cake sementara Jae Rim bertugas sebagai kasir, menggantikan Misun yang lemah dan sekarang beristirahat di lantai dua.

 

“Terima kasih atas kedatangannya.”

 

“Hei, pelayan!”

 

Haeri menoleh begitu seorang gadis berseragam sekolah menghampirinya dan bertanya, “Apa pelayan pria itu tidak masuk?” dengan wajah penasaran.

 

“Ah, maksud anda Oh Sehun?. Dia hari ini tidak masuk karena sakit, katanya mungkin lusa akan kembali bekerja.” Jawab Haeri sopan meskipun gadis itu nampak lebih muda darinya, sepertinya masih SMP.

 

“Apa dia mengatakannya langsung padamu?”

 

Sedikit bingung dengan pertanyaan itu namun Haeri masih menjawab dengan sopan.

 

“Tidak, dia menelpon langsung pada leader kami.”

 

Gadis itu mengangguk paham. Tapi masih belum berhenti bertanya. “Aku melihat papan mengenai jabatan pegawai café ini, dan ada empat leader disini. Siapa leader yang kau maksud? -maksudku leader yang mana yang ditelpon olehnya?” dan Haeri baru menyadari kalau gadis itu bicara informal dengannya.

 

“Ah…” bagaimanapun Haeri bersabar untuk seorang remaja labil yang masih berstatus sebagai pelanggan. “…leader dalam urusan properti dan makanan, Ji Hae Young. Yang sedang menjaga counter cake disana.” Haeri menunjuk Hae Young yang sibuk melayani dua pelanggan.

 

Gadis itu berbalik untuk melihatnya. Tak sengaja Haeri melihat gadis muda itu tersenyum sinis, entah dalam maksud apa. Dia kembali menghadap Haeri.

 

“Apa Oh Sehun sangat dekat dengannya?”

 

“Ji Hae Young maksud anda?, entahlah, mereka cukup akrab sejak Sehun yang mengantar Hae Young pulang. Dan hanya Hae Young yang punya nomor telepon Sehun. Yah, kecuali manajer kami.”

 

Gadis itu terdiam beberapa saat sampai akhirnya pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Haeri menahan emosinya kuat-kuat agar tidak terlihat oleh pelanggan lain dan membuat image dari Our’s Café menjadi café yang buruk. Namun dia menyadari sesuatu tapi masih tidak mengerti. Tentang segala maksud dari pertanyaan gadis itu, serta senyumannya pada Hae Young tadi.

 

Lamunannya terhenti saat seorang pelanggan hendak keluar dari café.

 

“Terima kasih atas kedatangannya.”

 

Tapi pekerjaannya masih menumpuk, tidak membiarkannya beristirahat dulu bahkan sekedar untuk memikirkan hal sepele seperti gadis muda tadi.

 

***

 

Baekhyun menjadi orang terakhir yang membereskan ‘stasiun’ nya (maksudnya tempat bekerjanya di café; counter cake, dapur, ruang tengah, kasir, meja bartender, dan yang akan datang, meja barista disebut ‘stasiun’ di Our’s Café) sementara pegawai lain -kecuali Misun dan Sehun- menunggu di tengah ruangan untuk berlatih peran sebelum hari selasa datang. Setelah selesai, Baekhyun menghampiri mereka sambil membawa dua gelas parfait. Yang satu untuk dirinya, satunya lagi pesanan Hae Young.

 

“Terima kasih.” Ucap Hae Young tanpa menoleh. Sibuk menatap catatan yang dibuat oleh Na Ri. Baekhyun segera mengambil tempat duduk di sebelahnya.

 

“Jadi, aku jelaskan lagi. Kita akan berlatih dengan peran masing-masing dahulu. Lalu kemungkinan kita akan melayani pelanggan dengan karakter tokoh tersebut. Itu yang paling mungkin terjadi.” Jelas Na Ri mengenai catatannya.

 

Kyungsoo yang sedari tadi menyimak tak tahan untuk tidak mengeluarkan pendapat. “Bagaimana kalau kita hanya akan memakai kostum sesuai tokoh kemudian akan ada pementasan drama?. Mungkin di jam istirahat atau menjelang café tutup. Menurutku seperti itu.”

 

Kedua orang yang paling suka menganalisis itu saling bertatapan, seolah berbicara dengan mata mereka. Haeri yang tidak paham semakin tidak mengerti, kebingungannya memuncak namun ia tak bisa mengatakan apapun karena terlalu ‘blank’. Minseok, Jae Rim dan Baekhyun menatap Kyungsoo serta Na Ri dengan malas -tapi Jae Rim masih terlihat antusias untuk alasan kesopanan, lagi. Beda lagi dengan Hae Young yang sibuk bermain game di ponsel seraya menghabiskan segelas parfait buatan Baekhyun.

 

“Kenapa kalian tidak berpacaran saja sih?”

 

Celetukkan Minseok membuat Kyungsoo terbatuk bersama Na Ri dan menghentikan aksi ‘tatap-menatap’ mereka. Dengan pipi bersemu merah Na Ri berseru tak terima lantas akhirnya memalingkan muka. Marah dan enggan untuk melanjutkan analisisnya. Alhasil Minseok mendapat ‘reward’ yaitu tatapan menusuk dari Jae Rim serta Baekhyun. Pria itu sendiri santai, tak begitu mempedulikannya.

 

“Aku kan hanya bertanya.” Ucapnya yang lalu bertopang dagu.

 

“Dimana Misun?. Jam tutup café sudah lewat dan dia masih tidur di lantai dua?”

 

Tak ada yang menjawab pertanyaan Jae Rim, karena memang tak ada yang berani untuk berurusan dengan Misun. Setidaknya untuk saat ini, dimana kondisi sangat tidak memungkinkan untuk mengajaknya diskusi bersama. Yang ada gadis itu malah emosi atau mungkin memasang ekspresi dingin selama diskusi berlangsung.

 

“Coba kau lihat.” Usul Hae Young asal. Yah, dia tak sungguh-sungguh soal idenya tadi. Tapi sepertinya Jae Rim bisa menggunakannya karena ia khawatir terjadi sesuatu yang tidak dia ketahui.

 

“Aku akan naik. Kalian lanjutkan diskusi.” Pamitnya sebelum benar-benar menaiki tangga menuju lantai dua.

 

“Jadi…” Hae Young menaruh ponselnya dan menatap setiap orang intens, “…aku punya ide.”

 

Baekhyun merasa tak enak dengan senyuman rekan kerjanya tersebut. Seperti de javu dimana dia bisa merasakan sesuatu yang aneh.

 

“Apa? Ide apa? Kau akan membantuku untuk mendalami peran Go Eun Byul atau Lee Eun Bi kan?”

 

Namun Haeri tak menyadarinya, dia justru menanti ide itu dengan semangat juga penuh antusias.

 

Hae Young menggerakan tangannya, seolah meminta seluruh rekannya untuk lebih mendekat dan dia bisa membisikkan idenya. Sepertinya ada sesuatu yang rahasia dibalik pemikirannya tersebut.

 

***

 

Hari selasa datang dengan cepat. Seperti perintahnya, Suho datang ke café lebih awal dan meminta para pegawai untuk menunjukkan hasil kerjanya. Cukup baik. Itulah yang dapat manajer café tersebut komentari soal peran tiap-tiap orang. Walau jelas masih banyak kekurangan, namun setidaknya mereka serius dan tidak bermain-main atau bermalas-malasan. Tapi kedatangan Suho tidak berlangsung lama, ia hanya datang untuk memeriksa serta menunjukkan apa yang harus mereka siapkan untuk selasa depan. Dimana acara akan dilangsungkan.

 

“Oh iya, Sehun!” panggil Haeri begitu teringat akan satu hal, “Ini minggu terakhir liburan sekolahmu kan?”

 

Sehun yang tadinya fokus mengelap meja jadi mendongak lantas mengangguk pelan. Dia sendiri juga baru ingat kalau minggu depan dia sudah harus kembali sekolah. Hal itu berarti jam kerjanya harus dirombak ulang agar tidak menyulitkan dirinya sendiri dan café.

 

“Biar Jae Rim yang mengaturnya!” celetukan Hae Young mendapat hadiah berupa lemparan kain lap di kepalanya oleh Jae Rim.

 

“Maaf ya, aku sibuk mendesain baju untuk butik tempat kerjaku!” protes Jae Rim tak terima.

 

Na Ri yang sempat mentertawai Hae Young ikut menimpali, “Lagipula, itu kan tugasmu untuk mengatur jam kerja karyawan.”

 

“Hah? Aku? Sejak kapan?!” Hae Young pura-pura lupa, tapi sebelum sapu yang dipakai Haeri melayang kearahnya, dia buru-buru tersenyum kikuk sambil bergumam, “Sorry.”

 

“Misun datang!”

 

Seruan tidak penting dari Minseok membuat yang lain kaget. Mereka tahu kalau kedatangan gadis itu bisa merusak suasana bahagia karena kemarahannya sekarang, tapi apakah Minseok harus bersuara keras untuk memperingatkan yang lain?. Toh dengan gerak tubuh saja mereka sudah mengerti. Jika berseru seperti itu bukannya Misun juga bisa dengar dan malah merasa tersinggung?.

 

“Kau tak harus melakukan itu, hyung.” Kata Sehun datar lalu kembali mengelap meja. Minseok sendiri tak acuh, setelah mengendikan bahu dia pergi ke kamar mandi.

 

“Kenapa?”

 

Akhirnya! Setelah beberapa hari tak mendengar suara Misun, gadis itu kembali berbicara. Yah, bukannya tidak bicara sama sekali, hanya saja Misun yang sedang dalam kondisi buruk akan jarang bicara. Kalaupun mengeluarkan suara atau berdialog, kata-katanya terdengar suram dan menyeramkan untuk di dengar. Berlebihan, memang. Tapi begitulah adanya. Jadi tak heran kalau sekarang, saat dimana wajah imut nan manis itu kembali muncul, suara yang kekanakan itu bertanya satu kata, membuat perasaan setiap orang di café menjadi lega.

 

“Bu-kan…apa-apa…” jawab Haeri dengan nafas tercekat, terasa seperti dia hendak memuntahkan kebahagiaan namun tertahan di tenggorokan.

 

“Serius?, kok sepertinya ada banyak hal yang aku lewatkan?”

 

Jae Rim mendengus, tangannya dilipat di depan dada. “Tentu saja!, berapa hari kira-kira gadis bermarga Park ini berdiam diri di lantai dua?” ia bertanya pada pegawai lain. Sontak, Hae Young mengancungkan tiga jarinya keatas seperti murid yang menjawab pertanyaan guru. Penuh antusias.

 

Misun tersenyum canggung, “Maaf, maaf.” Katanya tulus. Dia mendatangi counter cake yang masih dijaga oleh Hae Young.

 

“Aku minta cheese shouffle ya?” pinta Misun dengan wajah imut yang kelaparan.

 

Tangan Hae Young terulur untuk mengambilkan pesanan kawannya itu sampai dia ingat sesuatu. “Bukannya kau sedang dalam masa diet ya?” katanya sinis.

 

“Aaaahhh, tolonglah! Satu saja ya? Ya?” rengek Misun.

 

Gelengan kepala dan wajah tegas Hae Young tak membuat Misun menyerah. Ketika Hae Young lengah dengan memperhatikan Baekhyun yang meletakkan segelas milkshake di atas etalase kue, Misun mengambil dua buah cheese shouffle dan satu cupcake coklat dengan cepat dan segera meninggalkan counter cake menuju salah satu meja kosong. Jae Rim yang tergiur ikut bergabung dengan Misun dan akhirnya makan bersama.

 

“Yak!” seru Hae Young agak kesal, “Kalau berat badan kalian naik jangan salahkan aku ya!” imbuhnya. Kemudian ia mengambil potongan kecil brownies lantas memakannya dengan lahap.

 

“Lihat apa yang kau sendiri lakukan!” ujar Baekhyun membalikkan kata-kata Hae Young.

 

“Aku tak pernah bilang sedang diet, aku makan apapun yang ingin aku makan dan berhenti saat kenyang.”

 

“Pantas saja badan noona seperti itu.”

 

Hae Young melotot pada Sehun, “Apa? Memang kenapa dengan badanku?”

 

“Ckckck, lihat berapa banyak lipatan lemak di tubuhmu itu.” Kata Baekhyun lagi.

 

“Pipi noona terlihat sangat bulat, dan kakimu juga pendek.”

 

PENDEK.

 

Adalah kata terlaknat yang tidak ingin Hae Young dengar.

 

“APA?!. YAK OH SEHUN! CEPAT KAU KEMARI DAN AYO BERKELAHI DENGANKU HUH!!”

 

Kata-kata yang dapat membuat Hae Young mengamuk layaknya singa kelaparan.

 

“Minseok hyung!, bantu aku hentikan dia!”

 

“Siapa maksudmu? Sehun?”

 

“Bukan!, tapi Ji Hae Young. Aku tidak ingin Sehun mati muda!”

 

“Apa?!, yak! aku bisa mengalahkan noona dengan mudah. Dia kan hanya wanita.”

 

“APA?!!!! GRAWWLL!”

 

Dan diskriminasi pada wanita hanya akan memperkeruh suasana.

 

“Ya ampun Hae Young!, tenanglah sedikit!”

 

“Kyungsoo! Cepat bantu kami!”

 

“I-iya…eh tapi, aku takut!”

 

“Kau itu pria!, dia hanya wanita -ops!”

 

“GRRRAAAAA!!”

 

Misun dan Jae Rim tertawa melihatnya, bukannya Hae Young malah Sehun yang harus dijaga oleh tiga orang pria sekaligus. Na Ri dan Haeri ikut terbahak di ujung meja bartender, sungguh konyol kelakuan Hae Young, mungkin begitu komentar mereka dalam hati. Dan tanpa mereka sadari, Misun mulai kembali bergabung dengan kebahagiaan mereka. Tertawa tanpa canggung bersama rekannya yang lain dengan tulus.

 

Dari luar café, Suho tersenyum tipis. Tangannya yang sudah memegang gagang pintu dan hampir membukanya, jatuh. Satu hembusan nafas panjang setelah itu dia pergi meninggalkan café. Menunggu hari selasa yang akan datang adalah saat-saat yang ia tunggu, dimana dia dapat melihat para pegawainya dan…

 

Misun.

 

~TBC~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s