[EXOFFI FREELANCE] YOU CAN’T BLAME ME (Chapter 3)

cover-ff-fix

YOU CAN’T BLAME ME

Chapter 3

Author             : ADiamond

Lenght             : Chapter

Genre              : Romance, Friendship

Rating             : PG-17

Cast                 : Jung Shian

                           Byun Baekhyun

Other Cast       : Oh Sehun, Jeon Jungkook, Kwon Jiyong, Park Chanyeol etc.

Summary         : “I believe everyone, but not the devil inside them.”

Desclimer        : This story is mine and based on my imagination.

Author’s note  : Hai readers^^  Balik lagi nih author membawa Chapter 3 ff author ini…Jangan lupa like n comentnya sebagai penyemangat author. Okay deh sekian dari author. So enjoy and hope you like it

 

Percikan air di danau berkilauan tertimpa cahaya bulan bulat sempurna malam ini. Hamparan rumput menghijau nan luas bagai permadani. Angin sejuk menari-nari membawa aroma bungan tulip di sekitar danau yang mengitari. Bintang berkerling seakan ditaburkan Tuhan membentuk rasi.

“Shian-aa?” Sehun tak bosan-bosan menatapku lekat yang kini tengah berada di depannya. Hanya terhalang sebuah meja dengan sebuah lilin dan beberapa tangkai mawar merah di dalam vas kaca transparan.

“Hemm?”

“Kau menyukainya?”

“Kau mau aku bicara jujur atau?”

“Tentu saja jujur.”

“Baiklah. Aku… sangat… menyukainya… Oh Sehun.” Aku masih tak bisa berhenti tersenyum sejak sepuluh menit lalu saat Sehun memberikan kejutan romantis ini. Ini bahkan lebih romantis dari semua restoran mewah di daerah Gangnam sekalipun. Dan Sehun adalah pria pertama yang melakukannya.

“Benarkah? Ah ya, aku masih ada sesuatu lagi untukmu.” Ujar Sehun sembari merogoh saku jasnya.

“Oh no, please no more surprise. Kenapa kau suka sekali memberi kejutan?”

Wae? Kau tidak suka kejutan?”

“Tentu saja aku suka. Aku hanya tidak suka jika seorang pria terlalu mengerti tentang diriku.”

“Kebanyakan wanita justru ingin dimengerti Shian-aa.”

Well, berarti aku bukan seperti wanita kebanyakan. Tapi baiklah, apapun kejutannya aku pasti suka. Kau terlalu mengerti tentangku Tuan Oh Sehun.”

Berikutnya, Sehun menghampiri kursiku dan dengan kedua tangannya yang kekar menyentuh tanganku dan sedikit menariku berdiri. Ia lantas membuka sebuah kotak perhiasan kecil dan memasangkan sebuah kalung di leharku. Sebuah kalung emas berwarna putih dengan liontin berlian berbentuk tetesan air. Sangat indah dan berkelas seperti yang kuinginkan. Tapi tak mungkin aku menerima perhiasan mahal ini begitu saja.

“Sehun..ini?”

“Jadilah kekasihku Shian. Aku tahu kita belum cukup lama mengenal, tapi aku sangat yakin bahwa kau adalah wanita yang tepat untukku. Dan aku juga akan menjadi pria yang tepat untukmu. Jadi kau bersedia?” Sehun mengenggam tanganku dan sesekali mengusapnya. Mata itu, yang kulihat tak ada sedikit keraguan di dalamnya.

“Aku bersedia.” Kami berdua tersenyum dan perlahan Sehun mencondongkan wajahnya padaku. Bibirnya yang terpahat sempurna menyentuh bibirku, mengecupnya manis dan sangat lembut.

 

 

INCHEON AIRPORT, 20.00

“Apa semua sudah siap?” Tanya Jiyong oppa mengamati koper dan barang yang kubawa.

“Sudah oppa. Semuanya beres.”

“Ingat jangan membuat masalah di sana! Sekali kali kau harus merasakan hidup mandiri tanpa bergantung padaku tahu!” Itu benar, Jiyong oppa tidak akan ikut bersama kami ke Chicago. Ia hanya mengantarku sampai bandara. Aku pasti akan merindukan oppaku yang suka mengomel ini walau bagaimanapun. Dan yah, aku juga pasti akan merindukan Sehun selama seminggu ke depan. Hemm, bahkan dia tidak bisa mengantarku lantaran ada jadwal operasi malam ini.

“Tenang saja oppa, aku sudah dewasa jangan khawatir masalah itu. Apa kau tidak ingin minta oleh-oleh dariku eoh?”

“Ah, benar juga. Bawakan saja aku gadis Amerika, pasti aku sudah sangat senang.”

Ya, dasar playboy oppaku ini yah. Kukira kau lebih menyukai gadis Jepang.”

“Kau ini menyebalkan sekali. Sudah sana pergi!” Oppa lalu berusaha menjitak kepalaku tapi aku berhasil mengelak. Dia memang akan menjadi sensitif jika aku meledeknya tentang gadis Jepang yang adalah mantan kekasih oppa. Aku tidak tahu mengapa mereka putus, tapi yang pasti Jiyong oppalah yang memutuskan gadis itu terlebih dulu.

“Shian kau jangan nakal di sana! Jika kau bertemu Theo James dan dia mengajakmu berkencan, kau harus menolaknya. Ingat, kau sekarang sudah Sehun arra?” Itu Seonyoo yang juga mengantarku bersama Yeonghan dan Chanyeol.

Arraseo Seonyoo-ya. Lagipula aku tidak akan bertemu Theo James di Chicago. Kalau begitu aku berangkat dulu yah.” Kupeluk mereka berempat satu persatu.

“Shian-aa, apa kau tidak ingin menitip salam pada Sehun?” Tanya Chanyeol sebelum aku sempat beranjak.

“Tentu saja. Salam untuk Sehun kalau begitu Chanyeol-aa. Bye semuanya.”

Kulangkahkan kakiku yang terbungkus oleh sepatu boots selutut karya Stuart Weitzman ke dalam pesawat. Kukenakan atasan Topshop warna putih dipadu dengan blazer motif leopard berwarna velvet dan sebuah rip jeans. Di tanganku adalah sebuah leather bag merk Prada berwarna biru tua seharga tujuh juta won. Dan sebuah ROLEX hitam metalic melingkar di tanganku yang lain. Aku akan ke Amerika dan tentu saja tak boleh kalah modis dari Kim Kardashian sekalipun.

Tiba-tiba moodku hancur seketika saat ternyata kursi no 12A yang kutempati adalah sebuah kursi di sebelah kursi Baekhyun. Benar-benar menyebalkan. Selama 13 setengah jam yang panjang harus kuhabiskan dengan duduk di sebelah orang paling kubenci di kantor.

Ia tersenyum dan mempersilahkanku duduk. Ada apa dengannya malam ini? Sedang mengasah kemampuan aktingnya?

“Kudengar kemarin kau dan Sehun hyung resmi berpacaran.”

“Bukan urusanmu.”

“Tentu saja urusanku Jung Shian sii. Sehun adalah kakakku bagaimanapun.”

“Jadi sekarang kau mulai mencampuri urusan pribadi kakakmu Baekhyun ssi?”

“Aku hanya tidak menyukai kalau kalian berdua bersama.” Aku hampir tersedak saat tengah meminum orange juiceku mendengar pernyataan Baekhyun barusan. Entah mengapa Baekhyun selalu bersikap blak-blakan di depanku.

“Kenapa? Kenapa kau tidak menyukai hubungan kami? Apa kau menyukaiku sebenarnya?” Jika dia ingin berbicara frontal, maka aku juga tak akan kalah frontal darinya.

“Yang benar saja? Apa akau tidak salah dengar?” Baekhyun tertawa sinis.

“Kau tidak salah dengar. Sehun sendiri yang mengatakan bahwa kau adalah fansku. Byun Baekhyun adalah fanboy seorang Jung Shian.”

“Cih…Aku tegaskan bahwa aku bukan fansmu apalagi sampai menyukai gadis sepertimu Jung Shian ssi. Kau bisa memegang ucapanku.”

Wae? Ada apa dengan gadis sepertiku?” Aku benar-benar merasa tersinggung dan ingin sekali rasanya menyiram muka Baekhyun dengan orange juice di tanganku. Pasti hal tersebut akan membuat eyeliner yang dipakainya luntur ke mana-mana.

“Kau bukan tipeku, sesimpel itu.” Masih mempertahankan senyum sinisnya Baekhyun berucap. Lalu apa yang dia lakukan di ruanganku dua hari lalu kalau aku bukan tipenya? Benar-benar mengesalkan pria ini. Dia juga bukan tipeku sedikitpun dan aku bersumpah tidak akan menyukai Baekhyun barang sedetikpun.

 

 

Pukul 06.40 malam waktu setempat, pesawat Korean Air 37 yang kami tumpangi mendarat tepat di landas pacu bandara O’Hare Chicago Interntional Airport. Selanjutnya setelah mengambil koper dan barang masing-masing, sebuah mobil jenis mini bus menjemput rombongan kami yang terdiri dari 14 orang.

Pemberhentian selanjutnya Sofitel Water Tower Hotel yang berada di Jalan Chestnut no 20E pusat kota Chicago. Sangat strategis karena letaknya di tengah-tengah pusat perbelanjaan dan hiburan kelas atas kota terbesar ketiga di Amerika Serikat tersebut. Hotel bintang lima yang adalah tempat di mana rombongan kami akan menginap seminggu lamanya selama kompetisi. Ternyata bukan hanya tim dari Korea Selatan saja, melainkan beberapa negara seperti Jerman, Australia, Republik Cheko, Brazil dan Thailand juga baru melakukan chek in malam ini.

Aku cukup terkesan dengan design hotel ini. Mewah dan klasik. Lobinya super luas dengan cat dan nuansa emas di sana sini. Enam buah tiang beton raksaksa dicat warna krem pada sudut-sudut ruangan. Lantainya terbuat dari marmer coklat mengkilat dengan motif elips memanjang. Terdapat  beberapa kursi dan sofa beludru yang semuanya berwarna merah, sangat kontras dengan dinding dan lantainya. Tepat di tengah, menggantung empat buah lampu kristal yang di sususn vertikal ke bawah. Meja resepsionisnya pun tak kalah mewah dengan tepiannya disepuh emas dan berukir gambar penari Bali. Dan yang menarik perhatianku adalah dua buah tangga dengan pegangan berwarna emas di sisi kanan dan kiri ruangan. Meskipun tidak begitu sering difungsikan mengingat terdapat lima buah lift di sini, namun tangga tersebut justru membuat kesan mewah semakin terpancar.

Setelah melakukan chek in kami pun mendapatkan key card yang digunakan untuk akses masuk ke kamar masing-masing. Sayangnya semua anggota tim kami harus menempati kamar yang terletak di lantai yang berbeda-beda. Aku sendiri menempati kamar 2078 di lantai 20.

Seperti bayanganku, kamarnya pun tak kalah mewah dari bagian lobi. Dindingnya bercat putih gading dengan sebuah ranjang cukup besar tertutup bedcover dan bantal berwarna senada. Di masing-masing sisinya, terdapat dua buah lampu duduk yang juga berwarna putih bertatakan nakas berbahan kayu dicat cokelat. Di samping jendela dengan tirai abu-abu tua, adalah sebuah sofa panjang yang terlihat cukup nyaman. Di sudut kiri kamar terdapat sebuah meja dan kursi dengan sebuah cermin besar dikelilingi berbagai jenis batu mulia yang mungkin difungsikan sebagai meja rias. Serta lemari besar dengan desain elegant di samping cermin yang juga berwarna putih. Lampu kristal di tengah ruangan dan sebuah TV LED yang menghadap langsung ke tempat tidur.

Well, kesan pertama yang sangat baik dan hal tersebut membuatku semakin bersemangat untuk memenangkan kompetisi tahun ini. Kurasa semua akan berjalan lancar dan hebat seperti semestinya.

 

 

Hari kedua, ketiga dan keempat kami disibukkan dengan berbagai proses editing dari beberapa bahan yang telah kami persiapkan di Korea. Karena tema kali ini “Nature and Culture Makes The World Become One” Mulai dari kebudayaan, bahasa, K-Pop, makanan sampai tempat-tempat ikonik di Korea menjadi bahan kami.

Dalam tiga hari tersebut kami hanya bertemu pada pagi hari saat sarapan dan malam hari saat kembali ke hotel. Sebenarnya aku maupun Jungkook tidak begitu terbebani oleh hal ini karena kami baru akan mengadakan liputan besok pada hari ke lima. Selama ini aku dan Jungkook  hanya membantu tim editor, selebihnya kami berdua bisa kembali ke hotel lebih awal.

“Apa kalian menikmati Chicago?” Tanpa sengaja kami bertemu Baekhyun yang tengah mengobrol dengan seorang pria bule di salah satu kursi yang disediakan di lobi. Malas sekali aku menanggapi Baekhyun sebenarnya.

“Ya Chicago sangat luar biasa. Aku sangat menyukainya kalau boleh jujur.” Jawab Jungkook.

“Bagaimana denganmu Jung Shian?”

“Aku juga menyukainya Baekhyun ssi. Apalagi hotel ini juga benar-benar nyaman.” Karena ada orang lain di sini, maka aku juga harus sedikit berakting agar mereka berpikir tidak terjadi apa-apa padaku dan Baekhyun.

“Kebetulan sekali kalau begitu. Let me introduce you guys, Mr Travis Daniel Wood the owner of Sofitel Water Tower Hotel.”

Good afternoon. Nice to meet you miss.” Pria yang mungkin berusia tiga puluh tahunan bernama Travis tersebut menyalamiku.

Good afternoon Mr Travis. Nice to meet you too. You have such a great hotel.” Aku tersenyum yang memang tulus mengatakannya.

Thank you. I’m so glad if thought so.” Mr Travis balas tersenyum sebelum akhirnya ia menyalami Jungkook.

“Kalian ikutlah bersama kami. Mr Travis baru saja membuka sebuah coffeeshop di lantai 30.”

“Tentu saja sajangnim kami pasti ikut, bukan begitu Shian?”

I’m sorry, i have to take some rest for tomorrow. Aku mungkin tidak bisa ikut dan akan kembali ke kamar kalu begitu.” Aku hanya merasa kurang nyaman jika berada di sekitar Baekhyun. Meski sebenarnya aku sangat ingin bergabung bersama Mr Travis.

Oh c’mon miss, you guys are the first who i invited directly to see the lauching of my coffeeshop.” Aku benar-benar merasa tidak enak saat sang pemilik hotel mengundangku secara langsung dan aku menolaknya.

Okay fine, i’m in.

Setibanya di coffeeshop setelah menaiki lift menuju lanti tiga puluh, kami berempat langsung disambut oleh beberapa pelayan, barista dan chef di depan pintu masuk yang memberi salam dan tersenyum ramah.

Aku tidak meragukan sedikitpun selera Mr Travis yang berkelas saat melihat dan mengamati coffeshop ini. Ternyata ruangannya sangat luas dan terhubung langsung pada sebuah galeri seni yang hanya dibatasi dinding.

Lantas beberapa orang pelayan menggiring kami pada sebuah meja di sebelah jendela yang memaparkan sunset dengan cahaya orange yang menyapu Kota Chicago. Kami berempat duduk di setiap sisi meja dengan Baekhyun yang berada di hadapanku.

This is the best angle to enjoy the sunset in Chicago.”

Yes, so beautiful Mr Travis.” Tiba-tiba saja perasaanku menjadi lebih damai melihat matahari keoranyean yang lambat laun bergerak turun menuju horizon. Sangat indah dan membuatku relaks.

Entah mengapa aku jadi teringat Sehun. Biasanya di momen-momen romantis seperti sekarang, selalu kuhabiskan bersama Sehun beberapa hari ini. Tapi mau bagaimanapun, kami harus menanggung urusan pekerjaan masing-masing yang memaksa kami berpisah berhari-hari. Ah, sungguh aku sangat merindukan Sehun.

Lantas kami berempat mulai memesan saat perlahan Kota Chicago berubah malam sepenuhnya. Aku memesan Espresso con pana dengan whipe cream di atasnya. Baekhyun memesan secangkir Americano cofee, Espresso latte untuk Jungkook dan secangkir Macchiato pesanan Mr Travis.

Saat seluruh kopi pesanan kami telah datang, dengan perlahan kuseruput Espresso con pana yang kupesan. Begitu pula yang lain, mulai menikmati kopinya masing-masing.

“Uhuk…uhukk..” Aku tersedak mengakibat kopi di mulutku bermuncratan mengotori meja dan pakaian yang kukenakan saat kurasakan kaki seseorang masuk ke dalam rok yang kukenakan.

I’m sorry.

“Shian gwaenchana?” Jungkook? Dia orang yang sopan. Pasti bukan dia yang dengan kurang ajarnya mengelus paha di balik rokku dengan kakinya.

You didn’t like the coffee miss?” Apalagi Mr Travis pria terhormat tidak mungkin melakukan hal rendahan.

No, the coffee is good.” Aku berucap sambil mencoba membersihkan kemeja putihku dengan tisu yang diberikan Jungkook. Aku merasa malu bukan main karena mengacaukan acara minum kopi yang tenang bersama Mr Travis.

“Shian, kau harusnya minum dengan perlahan karena mungkin kopinya masih panas.” Pasti dia. Si bajingan mesum sialan, Byun Baekhyun. Dia terlihat lebih santai dari yang lain, menguatkan tuduhanku padanya. Benar-benar kurang ajar pria ini. Bagaimana dia bahkan memliki pikiran demikian ketika ada Jungkook dan Mr Travis di sini? Rasanya aku ingin sekali melempar Baekhyun dari lantai tiga puluh saat ini juga. Awas saja, aku pasti akan membalasnya.

Excuse me, i need to go to the toilet right now.”

 

 

Pagi pukul 08.00, hari kelima di Kota Chicago yang mendung dan berangin. Cuacanya sedikit tidak bersahabat dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Kueratkan coat yang kukenakan saat meninggalkan kamar menuju lobi.

Suara dentingan lift terdengar saat pintunya terbuka dan kulangkahkan kaki masuk ke dalam. Syukurlah masih longgar dan hanya kudapati diriku dan seorang pria asing yang juga menuju lobi.

Do you from South Korea, aren’t you?” Aku cukup kaget saat pria di sebelahku tiba-tiba saja mengajukan pertanyaan.

Yes. How do you know?

I saw you and your Korean team every morning in the breakfast time.

Oh, My name is Shian. Shian Jung.” Aku tersenyum.

My name is Releigh Feuer and i’m from Germany.” Ia balas tersenyum dan dengan cepat menjabat tanganku.

Glad to see you Releigh.

Glad to see you too Shian from Korea. So you’re my competitor right?” Releigh memandangku dan tertawa kali ini. Ia masih muda dan sepertinya tipekal pria yang ramah. Boleh kuakui bahwa pria Jerman ini tampan. Giginya benar-benar putih saat ia tertawa dan memiliki sedikit jambang tipis di sekitar pipinya. Tingginya mungkin sama dengan Sehun dan tubuhnya pun cukup atletis. Senang sekali bisa mendapat teman baru yang tampan dan menyenangkan.

Yes, i am.

Dentingan dan terbukanya lift berikutnya menandakan bahwa kami telah mencapai lobi. Dan kulihat beberapa negara termasuk rombonganku yang tengah berkumpul.

Auf wiedersehen.” Kuucapkan salam perpisahan pada Releigh menggunakan Bahasa Jerman ketika kami berdua menuju rombongan masing-masing.

“Apa semua sudah siap?”

“Kami hanya tinggal menunggu sajangnim Shian ssi.”

“Apa sajangnim masih berada di kamarnya?”

“Dia bilang sedang menuju kemari.”

Tak begitu lama muncullah sosok yang sudah kami nantikan. Ia lantas tersenyum yang membuat kami membalas senyum manisnya. Entah mengapa aura Baekhyun benar-benar bersinar di tengah langit yang gelap tertutup awan. Meski belum melupakan kejadian di coffeeshop kemarin, tapi pria di balik coat abu-abu itu kuakui tampak segar dan tampan pagi ini.

Kuperhatikan beberapa wanita di tim kami sangat terpesona dan beberapa kali mencoba mencari perhatian Baekhyun. Ck, mereka hanya belum mengetahui siapa Byun Baekhyun yang sebenarnya. Jika boleh kubilang, Baekhyun ibaratkan sebuah apel merah mengkilat yang menggoda di luar, namun busuk dan beracun di dalam.

“Baiklah sekarang kalian bisa langsung menuju mini bus. Dan jangan sampai ada yang tertinggal mengerti?” Baekhyun memberi instruksi.

Ne sajangnim.

Liputan kali ini memang akan diadakan di beberapa tempat terkenal di Chicago. Seperti beberapa kawasan di Millenium Park, ikon Kota Chicago The Bean, Jay Pritzker Pavillion dan Maggie Delay Garden.

“Shian sii, tunggu sebentar.” Kubalikan badan dengan malas saat suara Baekhyun dicapai indraku. Semua rombongan pun ikut menghentikan langkahnya karena mungkin penasaran mengapa Baekhyun memanggilku.

Waeyo Baekhyun ssi?”

“Kau akan berangkat bersamaku menggunakan mobilku. Karena aku ingin kau menemaniku ke suatu tempat sebentar.”

“Tapi Baekhyun ssi aku bisa saja terlambat jika harus ikut denganmu.”

“Jangan khawatir, hanya sebentar. Lagipula bukankah kita masih memiliki waktu satu jam.”

“Kalau begitu kau bisa mengajak yang lain.”

“Benar sajangnim, hari ini adalah yang terpenting bagiku dan Shian.” Jungkook mendukungku.

“Aku berjanji hanya sebentar. Ikutlah Shian ssi.” Baekhyun memasang senyum terbaiknya saat berusaha membujukku.

“Baiklah kalau kau memaksa.” Aku mengiyakan kemauan Baekhyun dengan antisipasi pada setiap kemungkinan terburuk yang mungkin Baekhyun lakukan.

Dan akhirnya kini kami berada di parking area Bugatti Veyron Vivere milik Baekhyun. Mobil mewah dengan jumlah terbatas tersebut tampak garang dan dinamis dengan warna hitam yang semakin menegaskan betapa bukanlah sembarang orang yang bisa memilikinya. Aku tidak tahu kalau Baekhyun benar-benar sekaya itu hingga berani mengeluarkan jutaan dollar hanya demi sebuah mobil.

“Masuklah! Apa kau masih betah memandangi mobilku terus eoh?” Dengan gaya sok parlentenya, Baekhyun membukakan pintu mobilnya untukku.

“Kau pasti jauh lebih dari apa yang kubayangkan.” Aku berucap saat Baekhyun turut memasuki mobilnya dan memegang kemudi.

“Kaya maksudmu?”

“Aku tidak mengatakannya.” Lantas dengan kecepatan sangat tinggi, Baekhyun memacu mobilnya membelah kabut tipis jalanan di Chicago. Aku sedikit tersentak karena ini pertama kalinya menaiki mobil dengan kecepatan yang membuat seluruh adrenalin memuncak. 300 km/jam, Baekhyun benar-benar seperti orang kesetanan.

“Sebuah tunggangan mencerminkan pengemudinya Shian ssi. Kau tahu, mobil ini adalah salah satu incaran para kolektor di dunia.”

“Oh begitukah? Aku bahkan mengenal seseorang yang juga memilikinya Baekhyun ssi.” Balasku masih dengan detak jantung yang berpacu lebih dari biasanya.

“Kim Joonmyeon?”

“Bagus kalau kau tahu.”

“Hemm… Setahuku milik Joonmyeon hyung adalah Bugatti Chiron yang harganya masih di bawah Bugatti Veyron Shian ssi.” Oh sial, harus kuakui Baekhyun menang kali ini. Dia menang lagi dan lagi. Benar-benar sial!

“Kalau begitu, kau akan membawaku ke mana dengan Bugatti Veyronmu yang mahal Baekhyn ssi?”

“Kau juga akan mengetahuinya nanti.” Seakan ingin menunjukan kehebatan mobil kebanggaannya, Baekhyun menambah kecepatan hingga 420 km/jam adalah angka yang tertera di speedometer.

Selanjutnya aku memilih diam sambil masih membiasakan diri untuk menit-menit berikutnya. Sementara Baekhyun juga lebih fokus pada jalanan di depannya.

“Turunlah!”

“Apa kita sudah sampai?”

“Sebenarnya aku harus menemui seorang klien penting, jadi kau bisa menunggu di sini Shian ssi.”

Mwo? Tidak bisa. Kau tidak boleh meninggalkanku sendirian di sini. Kalau saja kau menurunkanku di semua jalanan yang ada di Seoul, mungkin aku bisa pulang dengan mudahnya. Tapi ini di Chicago Baekhyun ssi, aku tidak mau.”

“Hanya sepuluh menit, setelah itu kita akan menyusul rombongan bersama.” Tanpa menghiraukan protesku, Baekhyun lantas keluar dari mobil dan membukakan pintu mobilnya yang membuatku mau tak mau ikut keluar.

Ya Byun Baekhyun! Kalau ini adalah salah satu trik bodohmu untuk mengerjaiku, maka sebaiknya kau menyimpannya kembali ketika kita sudah berada di Korea. Ini sama sekali tidak lucu.”

“Shian percayalah! Aku hanya akan menemui seorang klien, membereskan urusanku kemudian menjemputmu di sini.”

“Kenapa kau tidak membiarkanku ikut bersamamu? Kenapa dari awal kau memaksaku kalau pada akhirnya hanya akan meninggalkanku di sini?” Aku mengamati keadaan sekitar. Adalah sebuah halte bus yang tidak begitu ramai. Aku benar-benar tidak ingin berakhir di sini.

“Tidak bisa. Ini sangat pribadi sehingga tidak ada seorangpun yang bisa ikut. Aku tidak akan mengerjaimu seperti sebelumnya. Lagipula bukankah kau membawa ponselmu? Kau bisa menelponku saat aku sudah melewati sepuluh menit. Atau kau bisa menelpon Jungkook atau siapapun untuk menjemputmu jika aku memang mengerjaimu.” Aku sungguh tidak bisa membedakan antara kesungguhan atau tipuannya yang lain kali ini. Baekhyun benar-benar tampak meyakinkan.

“Entahlah. Aku tidak tahu harus percaya padamu atau tidak.” Aku merasa putus asa. Hal tersebut karena perasaan takut jika memang ini hanyalah sebuah tipuan.

“Aku berjanji.” Kutatap mata Baekhyun dalam dan cukup lama. Yang kulihat adalah sebuah kejujuran yang pada akhirnya meyakinkanku. Baiklah lagipula jika dia memang berniat meninggalkanku, bukankah aku masih bisa kembali ke hotel menggunakan bus?

“Kau boleh pergi.”

Cicitan ban mobil mewah itu menerbangkan debu-debu di sekitarnya saat Baekhyun mulai memacu mobilnya meninggalkanku. Kududukkan tubuhku sambil beberapa kali menggosok-gosookkan tangan berharap mendapat sedikit kehangatan.

Udara berubah menjadi semakin dingin diiringi suara rintikan hujan dan kesunyian di sekitarku. Satu per satu orang mulai menaiki bus dan meninggalkan halte dengan aku yang hanya bisa menatap ke arah langit memandang hujan yang turun semakin deras.

Annyeong. Nona apa kau berasal dari Korea?” Seorang wanita tiba-tiba mendekat dan duduk di sampingku. Dia wanita muda dan cantik, namun raut wajahnya penuh dengan ketakutan dan kekhawatiran. Aku tidak sadar dari mana dia datang dan bagaimana dia tahu kalau aku adalah orang Korea. Bahkan dia bisa berbahasa Korea. Apa dia juga Orang Korea sepertiku?

“Bagaimana kau tahu?” Tanyaku menyelidiki.

“Aku mendengarmu berbicara dengan pria tadi. Dan kalau tidak keberatan, aku juga ingin memperkenalkan diri. Namaku Arlette, aku Orang Korea juga seperti nona.”

“Aku Jung Shian, jangan panggil nona!”

“Sebenarnya, aku ingin meminta bantuanmu karena aku tidak tahu harus minta bantuan pada siapa lagi.” Beberapa kali wanita bernama Arlette ini menggoyang-goyangkan lenganku dan rautnya pun berubah semakin panik dari saat pertama ia datang.

“Bantuan? Katakanlah!” Aku hanya merasa iba dan mungkin bisa sedikit membantunya. Apalagi dia berasal dari negara yang sama denganku.

“Ibuku akan melahirkan sekarang tapi aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku sudah mencoba meminta bantuan tapi mereka tidak mengerti apa yang kukatakan karena aku tidak bisa Bahasa Inggris. Lalu aku melihatmu dan berharap kau bisa membantuku karena hanya kau satu-satunya yang mengerti ucapanku Shian.”

“Kau di Chicago tapi kau tidak bisa Bahasa Inggris? Bagaimana mungkin?”

“Sebenarnya aku baru tiba kemarin dan saat tengah berjalan-jalan, tiba-tiba saja ibuku bilang bahwa ia merasa akan melahirkan sebentar lagi.”

“Kau baru tiba kemarin? Dari Korea?” Aku mencoba sedikit mengetesnya. Siapa yang tahu kalau dia berkata jujur atau tidak?

“Bukan dari Korea. Jadi begini sejak usiaku 18 tahun, kedua orang tuaku memutuskan pindah ke Paris. Dan baru kemarin kami tiba di Chicago, tentu saja dari Paris. Aku sudah berusaha meminta bantuan menggunakan Bahasa Perancis dan Bahasa Korea, tapi tidak ada yang mengerti kecuali kau Shian.”

“Jadi begitu?”

“Apa kau sudah selesai?”

“Oh maaf. Sekarang di mana ibumu?”

“Dia di Gereja Holy Name. Ayo Shian, cepat sedikit.” Dengan terburu-buru, Arlette menarik lenganku.

“Tunggu sebentar! Aku mungkin tidak bisa terlalu lama dan hanya akan memanggil ambulans agar segera membawa ibumu ke rumah sakit.”

“Tidak masalah Shian. Aku sudah sangat senang karena kau sudah mau repot-repot menolongku.”

Menerobos derasnya hujan, aku dan Arlette bergerak menuju gereja yang dia maksud. Tidak terlalu jauh rupanya. Kami berdua pun masuk lewat pintu utama gereja bergaya gothic tersebut.

“Di sebelah sini.” Kami sedikit berlari saat Arlette menunjukkan di mana ibunya berada.

 

 

Kurasakan kepalaku pening bukan main saat bau alkohol kembali mencuat. Beberapa kali kukibaskan tanganku yang masih terasa lemas guna meminimalisir bau yang membuatku semakin pening ini.

“Uhuk..uhukk..uhukk..” Di mana ini? Tidak ada cahaya sedikitpun dan debu-debu di sekitar membuat napasku sesak.

Dengan memijit pelan keningku dan sisa tenaga yang kupunya, kucoba berdiri dari posisiku yang semula tergeletak di lantai. Ternyata sebelah kanan jangkauanku adalah dinding batako kentara dari teksturnya. Kuraba benda dingin tersebut yang menuntunku pada sebuah pintu kayu.

“Sial pintunya terkunci!” Dengan masih mengeluarkan segala jenis umpatan, kucoba merogoh saku coatku yang sedikit basah. Namun sungguh sial karena tak kudapati ponselku yang terakhir kali kuletakkan di sana.

“Oh tentu saja dia mengambilnya. Oh sialan, sial, benar-benar sial…”

Ya benar gadis yang mengaku bernama Arlette itu ternyata telah membohongiku. Entah apa yang terjadi, namun karenanya kini aku berakhir di tempat yang mungkin adalah sebuah loteng atau gudang. Dingin dan pengap.

Ternyata dia juga mengambil jam tangan bahkan sepatu bootku. Kalung itu? Kuraba leherku dan ternyata kosong. Oh tidak, gadis sialan itu juga mengambil kalung pemberian Sehun. Jadi dia Orang Korea di Chicago yang berprofesi sebagai pencuri? Sungguh memalukan.

Tak ingin berlama-lama di tempat ini, kucoba keberuntungan mendobrak pintu di depanku dengan satu dorongan.

BRAKK…

Berhasil. Pintu kayu tersebut sudah rapuh rupanya. Keluar dari loteng, berikutnya aku dihadapkan dengan ribuan anak tangga yang melingkar terjal ke bawah. Bahkan tangga tersebut tidak mempunyai pegangan di sisi manapun. Tanpa menggubris pijakkan kayu yang beberapa kali berderit memperingatkan, kututup mataku dan berlari secepatnya mengikuti arah tangga tersebut.

GGREEKKK…

“Ahhh…” Aku berteriak saat anak tangga yang kupijak tiba-tiba saja patah yang menyebabkan tubuhku jatuh terperosok. Beruntung tanganku berhasil meraih anak tangga yang lain dan kini tubuhku menggantung di udara.

Help me… anybody here please help me!” Aku menangis saat kudengar pegangan pada tanganku berderit semakin sering. Kulirik ke bawah, mungkin lima belas meter menuju lantai. Oh Tuhan, aku tidak ingin terjatuh dan mati di sini. Oh Tuhan tolonglah kumohon.

Help…help me please!” Kurasakan kedua tanganku sangat perih seperti tersayat. Bahkan setetes darah melucur dan jatuh tepat di wajahku. Aku sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi.

Angin yang entah masuk dari mana mulai menerpa tubuhku yang masih menggantung antara hidup dan mati. Suara deritan kayu yang menggema terdengar mengerikan. Darah yang menetes semakin deras dari tanganku yang terluka. Aku tidak pernah membayangkan bagaimana caranya aku mati kelak. Tapi aku sungguh tidak ingin jika jatuh dari lantai kayu gereja di Chicago adalah takdirku.

Miss hold on!” Serasa doaku terkabul, seorang pria melihatku.

Please help me…” Tangisku semakin menjadi ketika beberapa serpihan kayu menancap di telapak tanganku saat aku berusaha mengeratkan pegangan.

Wait miss i’ll come there.” Dia tidak akan berhasil. Terlalu lama jika pria itu menaiki tangga satu persatu. Bahkan yang ada dia juga akan bernasib sama sepertiku mengingat betapa rapuhnya anak tangga ini.

No we don’t have a time. I can’t hold this anymore.” Rasanya semakin perih saat mau tak mau kueratkan peganganku yang membuat lukaku semakin dalam.

Okay i’ll be back. Just holding on!

Tak berapa lama, pria tadi kembali sambil mendorong sebuah matras dengan kedua tangannya dan meletakkan matras tersebut tepat di bawah tubuhku.

So you want me to jump?

Yes.

Are you sure?

Yeah we don’t have any choice! I’ll be right down here.”

Okay..okay.

Tanpa pikir panjang, kulepaskan pegangan yang terasa menyiksa yang membuat tubuhku meluncur bebas di udara. Lagipula tidak ada pilihan lain, aku akan tetap jatuh ketika kayu yang menopang bebanku tak lagi cukup kuat

Are you okay?” Semakin jelas wajah pria tadi. Lebih tepatnya seorang kakek yang telah menyelamatkan hidupku.

Yes. I’m not die?” Kuraba tubuhku dari kepala, tangan hingga kaki. Aku baik-baik saja. Tidak ada luka yang terlalu serius.

God with everyone here miss.

Thank you, you save my live.

No. God save your live.

Yes, thank you.

You’re welcome.

Kutinggalkan pak tua baik hati tersebut dan berlari keluar dari gereja. Tiba-tiba hatiku mencelos saat ternyata yang kulihat langit telah berubah gelap sepenuhnya. Hari telah berubah malam sepenuhnya.

“Oh tidak! Kompetisinya?”

 

 

Thank you.” Kuucapkan terima kasih pada seorang pengemudi van yang memberiku tumpangan ke hotel.

Dengan bertelanjang kaki dan penampilan acak-acakkan, kulangkahkan kaki memasuki lobi. Beruntung keadaan sangat sepi, tidak seperti biasanya. Jam berapa sekarang?

“Shian?” Rasanya antara senang dan ingin menangis saat terlihat rombonganku yang kelelahan berada pada salah satu sudut lobi. Bahkan Baekhyun pun ada di sini.

“Jungkook?”

“Kau kemana saja?” Aku cukup terkejut saat bukanlah nada khawatir yang keluar dari mulut Jungkook.

“Aku bisa jelaskan pada kalian.” Air mataku pecah lagi saat kurasakan tatapan dingin dan menyudutkan dari orang-orang di sekitarku. Apa mereka marah padaku?

“Baiklah coba jelaskan!” Air mataku semakin menetes tanpa jeda saat tatapan tajam Jungkook menyapu mataku. Tidak pernah Jungkook bersikap seperti ini padaku sebelumnya.

“Sebenarnya ini bukan kesalahanku sepenuhnya. Aku-..”

“Ya benar, Jung Shian memang tidak pernah berbuat salah sedikitpun. Jadi berarti ini adalah kesalahan kami, bukan kesalahan Shian.”

“Bukan begitu maksudku.”

“Dan karena kesalahan kami bukan kesalahan Shian, membuat tim kami harus didiskualifikasi dari kompetisi ini.”

“Didiskualifikasi?”

“Sudahlah sebaiknya kalian kembali ke kamar. Kalian pasti lelah telah menunggu Shian sampai selarut ini.”

“Jungkook-aa apa maksudmu didiskualifikasi? Kenapa kita didiskualifikasi?”

“Karena kesalahan kami Shian, kau puas?”

“Aku minta maaf Jungkook-aa. Kumohon dengarlah dulu penjelasanku.”

“Shian aku benar-benar lelah. Aku harus kembali ke kamar.” Satu persatu anggota tim menuju kamarnya masing-masing dan meninggalkanku yang masih mematung di lobi. Mereka bahkan tidak menoleh sekalipun.

Apa yang telah kulakukan? Kenapa semua jadi seperti ini? Dan sekarang semua orang membenciku.

“Aku hampir mati beberapa menit yang lalu dan sekarang timku didiskualifikasi?”

“Jangan terlalu menyesalinya Shian!”

“Baekhyun ssi?” Aku tidak sadar kalau Baekhyun masih di sini. Mengapa dia tidak kembali ke kamarnya?

“Aku bisa memakluminya.”

“Aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan apa? Seorang wanita membohongimu bahwa ibunya akan segera melahirkan dan dengan bodohnya kau percaya begitu saja. Dan setelah tersadar, kau mendapati dirimu di sebuah loteng di gereja?” Seketika mataku terbelalak mendengar penuturan Baekhyun. Bagaimana dia?

Mwo? Bagaimana kau tahu?”

“Hidup bukanlah sebuah hal yang berada di bawah tangan dan kakimu Shian. Kau tidak bisa selalu mengendalikannya sesuai kehendakmu. Kau tidak pernah belajar dan sekarang kau mendapatkan sebuah pelajaran. Jadi perhatikan langkahmu barangkali musuhmu memasang ranjau di bawahnya.”

“Jadi? Kau brengsek Byun Baekhyun!” Kukepalkan tanganku dan dengan cepat bangkit mengarahkan tinjuku ke wajah Baekhyun.

“Aku brengsek, dan kau bodoh Jung Shian.” Dengan satu tangannya Baekhyun menahan tinjuku yang hanya beberapa senti dari wajahnya.

Brengsek! Dia yang mangatur semua ini. Bagaimana aku bahkan tidak menyadarinya sedikitpun. Dan bagaimana bisa si keparat Byun Baekhyun mengorbankan tim ini hanya demi menyakitiku?

“Aku akan membunuhmu Baekhyun! Kau bajingan tengik datang dan menghancurkan hidupku.” Kukerjapkan mata berkali-kali berharap air mataku tak lagi tumpah saat Baekhyun menatap mataku tajam. Aku tidak ingin terlihat lemah di depannya.

“Kita lihat siapa yang akan membunuh siapa Shian.”

“Aku pasti akan membunuhmu dengan tanganku sendiri Byun Baekhyun.” Dengan tanganku yang lain, kucoba meninju wajah tipuannya untuk yang kedua kali.

“Kau tidak akan bisa menyentuhku barang seujung rambutpun. Kau bukan tandinganku jalang sialan!” Lagi-lagi Baekhyun berhasil menahannya. Dengan kuat Baekhyun melempar tanganku yang membuatku hampir terhuyung ke belakang.

“Apa salahku padamu?”

Baekhyun tak menjawab. Ia masih tak bergeming dan mulai beranjak dari tempatnya. Sebelum memasuki lift, aku bisa melihat Baekhyun melirik ke arahku dengan sebuah seringaian. Dia benar-benar perwujudan nyata dari seorang iblis yang terjebak di tubuh malaikat.

Fuck you!” Aku merasa tidak berdaya sedikitpun. Aku merasa diperlakukan sangat jahat olehnya tanpa kuketahui kesalahanku sebenarnya.

Yeah, fuck me.” Perlahan kulihat Baekhyun menghilang sepenuhnya. Aku benar-benar merasa kacau dan tak peduli berapa kali kukerjapkan mata ini, air mataku jatuh juga.

 

 

Which one is the best here?

Chateau mouton-rothschild jerobo 1922, miss.

I want it, please.” Kupejamkan mata sambil memijit-mijit keningku berusaha sedikit mengurangi rasa sakit di kepalaku. Ini adalah hari yang sangat buruk dan bersandar di meja bar seorang diri setelah berendam air hangat tidak cukup membantu adalah hal yang kulakukan sekarang. Kulirik jam dinding di depanku, pukul dua dini hari.

Here is miss.”

Thank you.” Kuteguk habis wine dalam gelas kaca yang ada di depanku dan gelas-gelas berikutnya. Aku berharap bisa segera mabuk agar masalah di kepalaku bisa hilang setidaknya sementara. Rasa frustasi, marah dan sedih bercampur ketika bosku sendiri sekaligus adik kekasihku berusaha menghancurkan hidupku.

Hei, hei Shian. Are you okay?

Who are you?

I’m Releigh. You don’t remember?

I’m sorry, i’m just..

You drunk of course. C’mon i’ll take you back to your room. C’mon.

Thank you.

Aku teringat Releigh, dia pria Jerman di lift. Dengan kedua tangannya, ia lantas menopang tubuhku dan memapahku perlahan.

Here we go. Come in.” Releigh membuka pintu kamar dan  menuntunku masuk. Tapi tunggu…

How you can open this door? I still have my key card on the pocket.

Yes, cause it’s my room.

Why you take me here? I want go back to my room.” Dengan langkah gontai, kucoba menyeret kakiku keluar dari sini.

Hey hey wait wait. You can stay here for a while and then i’ll take you to your room.” Hendak meraih kenop pintu, namun tiba-tiba tubuh Releigh menghalangiku.

No. I want go back now.” Kucoba menggesernya namun sia-sia. Bahkan ketika dalam keadaan sadar aku takkan bisa melawan tubuh besarnya apalagi saat mabuk.

Yeah i’ll take you back later.” Dengan kedua tangannya, pria yang baru kukenal tadi pagi tersebut mencengkeram lenganku.

No. I wanna go back now, just let me go.”

Namun bukannya melepaskanku, Releigh justru mendorong tubuhku ke ranjangnya dan dengan cepat ia menindih tubuhku.

What are you?” Aku sontak berontak tapi lagi-lagi percuma mengingat beban di atasku adalah seseorang yang jauh lebih kuat dariku.

Slow down, of course a beautiful Korean girl like you know what i’m doing. It’s not your first time right?

No Releigh, just let me go now. Help me…” Kucoba berteriak sebelum akhirnya bibir Releigh mencium bibirku rakus. Kudorong dadanya yang semakin mendesak padaku.

“Tolong…jebal.

Hey hey don’t scream, don’t scream…

“Tolong…ttol-” Kurasakan bibir pria itu kembali melumat bibirku dan tangannya mencoba melepas gaun tidurku.

“Tolong…” Aku berteriak lagi ketika bibirku mulai terbebas darinya yang kini tengah menjamah leherku. Lagi-lagi aku tak berdaya, lagi-lagi air mataku jatuh.

“Bangun kau brengsek!” Entah apa yang terjadi, namun pria di atasku tiba-tiba saja jatuh terpelenting ke belakang.

“BAEKHYUN???”

 

 

Aku masih mengingat jelas bagaiman tubuh Baekhyun yang lebih kecil dari pria Jerman itu menghajar wajahnya babak belur. Aku masih tidak percaya, Baekhyun menyelamatkanku? Mengapa ia tak membiarkan Releigh melakukannya padaku? Bukankah hal tersebut akan melengkapi penderitaanku hari ini? Bukankah itu yang membuatnya senang?

Ya! Minumlah.” Kuterima segelas air putih yang Baekhyun berikan barusan.

“Aku membawamu ke sini agar kau merasa lebih tenang.” Sambungnya. Maksud Baekhyun ke sini adalah ke rooftop hotel. Pemandangannya memang indah dengan sebuah kolam renang yang bergemercik. Tapi aku tidak boleh tertipu lagi kali ini. Meski Baekhyun telah menyelamatkan hidupku dari Releigh, bukan berarti dia akan menyelamatkanku dari dirinya sendiri.

Gomawo… telah menyelamatkanku.” Aku sedikit ragu. Baekhyun tak menjawab. Ia justru menatapku dengan tatapan tajam dan dingin andalannya.

“Aku sebaiknya kembali ke kamar Baekhyun ssi. Sekali lagi terima kasih.” Perlahan aku bangkit dan melangkahkan kaki meninggalkan Baekhyun.

Aku tersentak saat tangan Baekhyun tiba-tiba saja menahan lenganku dan menarikku dalam pelukannya. Perlahan tanganku mencoba mendorong tubuh Baekhyun menjauh. Aku masih takut kalau kalau Baekhyun akan menjatuhkanku setelahnya. Tidak ada yang tahu apa yang ada di pikiran pria ini.

Namun dugaanku salah besar, ia malah semakin mengeratkan pelukkannya dan menyenderkan kepalanya di bahuku. Aku masih tak bergeming, masih terkejut dengan perlakuan Baekhyun. Bahkan perlahan ia memejamkan matanya lantas menempelkan hidungnya di ceruk leherku.

Aku yang sedikit terkejut, reflek menarik diriku dari pelukannya yang membuat Baekhyun kembali membuka mata. Lagi lagi Baekhyun menatapku dengan tatapan dinginnya. Aku benci tatapan itu.

“Aku permisi.” Akhirnya aku memutuskan benar-benar kembali ke kamar kali ini. Namun untuk yang kedua kali Baekhyun menarik lenganku bahkan menempelkan bibirnya di bibirku

Aku mematung seketika saat bibir hangat Baekhyun dengan lembut dan telaten melumat bibirku. Sangat berbeda dengan ciumannya di ruanganku waktu itu. Dan entah mengapa kali ini aku tak berniat menolaknya sedikitpun. Ciumannya terlampau nyaman dan memabukkan.

“Aku membencimu Byun Baekhyun.” Ucapku di sela ciuman kami.

“Aku juga membencimu Jung Shian.”

TBC

 

 

9 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] YOU CAN’T BLAME ME (Chapter 3)

  1. Ini baekyun kenapa jahat bgt sma shian apa sbenarnya dia suka sama shian tapi nunjukin dgn cara yg beda. di tunggu lanjutan nya thor jngan lama2 yah fighting 💪💪

    • thank u udah nyempetin baca n coment^^
      baek ada.alasan kok ntar ch 4 semuanya akan jd lebih jelas tentang siapa baekhyun dan keluarga kandungnya ups keceplosan haha

  2. awww… baekhyun aku juga membencimu;)
    so sweet bgt thor pas bagian akhirnya beneran ngga ketebak bakal sesweet itu padahal pas di awal awal udah kesel bgt sama si byun
    tp bagaimana dengan sehun? duh kasian jg

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s