[EXOFFI FREELANCE] My Strong Daddy (Chapter 2)

my-strong-daddy-2

[EXOFFI FREELANCE] MY STRONG DADDY#2 – (CHAPTERED)

Tittle        : My Strong Daddy #2

Author        : Angestita

Length        : Chaptered

Genre        : Family, romance and angst

Rating        : PG – 13

Main cast    : Oh Sehun (EXO) – Leo William – Kim Na Na(OC)

Support cast    : Irene Bae (Red Verlvet)

Summary    : Leo ingin bertemu dengan ibunya tetapi tidak dapat dikabulkan oleh Sehun akhirnya dia jatuh sakit. Untung saja ada Kim Na Na –guru TKnya- yang datang menjenguk Leo.

Disclaimer    : FF ini murni dari pikiranku aku tidak mencontoh karya orang lain jadi aku harap kalian tidak melakukan hal yang sama. Apabila ada kesamaan alur, tokoh dan tempat kejadian itu mutlak unsur ketidaksengajaan. Cerita ini adalah FanFiction. Bukan cerita nyata dan tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan idol. Karya ini dibuat untuk menghibur. Aku berharap kalian berkenan meninggalkan jejak. Terimakasih atas waktu yang kalian berikan untuk membaca karya ini.

Author’s Note    : FF ini di harapkan dapat menjelaskan lebih detail kejadian yang sebenarnya tentang Irene dan Sehun. Maaf atas ketidaknyamanan pembaca di FF bagian pertama. Terimakasih atas komentar yang anda tinggalkan di chapter pertama. Selamat menikmati.

Satu minggu sudah Sehun tinggal di Seoul. Tetapi rencana yang dia susun baik-baik selama minggu pertama mereka tinggal di Seoul hancur. Leo, putra tunggalnya jatuh sakit karena tidak bisa bertemu dengan Irene. Entah apa yang terjadi hingga membuat putra tunggal Oh Sehun itu setelah pulang sekolah ngotot sekali meminta bertemu ibu kandungnya. Sesuatu yang jelas tidak bisa Sehun turuti. Mana mungkinkan Sehun meminta wanita itu datang kesini? Demi semua harta yang dia miliki, Sehun tak akan mampu menolak takdir Tuhan. Membawa Irene ke hadapan putra mereka adalah  mustahil.

Maka dengan berat hati Sehun dengan keras membantah permintaan anaknya itu. Sehun sadar tindakannya membuat Leo semakin sedih. Dia tahu sedekat apapun ia dan Leo, ikatan batin Irene dan putranya lebih erat. Sehun tak mungkin memutuskan benang tak kasat mata itu sekalipun dia sangat ingin melakukannya.  Leo menangis semalaman dan tak mau makan. Sehun awalnya membiarkan kelakuan anaknya, berfikir itu hanya akan bertahan hingga satu malam saja.

Walau sesungguhnya tak mudah hati Sehun melakukan itu. Tapi Sehun juga tak bisa berbuat apa-apa karena langkahnya pun sudah terbentur oleh dinding kenyataan. Sehun tak bisa berbuat apa-apa. Nasehat yang dia ucapkan pun tak berdampak banyak. Leo keras kepala. Tetap meminta bertemu dengan ibunya.  Sehun putus asa sama seperti yang Leo rasakan ketika papanya tak dapat mewujudkan keinginannya.

Pagi buta, Sehun bangun ketika mendengar suara muntahan dari atas kasurnya. Ya, siapa lagi yang melakukan itu jika bukan Leo. Putranya tiba-tiba muntah-muntah, banyak sekali hingga selimut abu-abunya basah kuyup. Sehun benar-benar kacau. Dia mencoba menenangkan Leo namun anak laki-lakinya menolak bantuannya dengan cara yang kasar. Dia menendang Sehun. Membuat Sehun semakin terpukul.

Sehun sudah tak tahan lagi melihat keadaan putranya hingga setelah anak itu menyelesaikan muntahan terakhirnya dengan gerakan sedikit kasar, pria itu membawa tubuh kecil putranya ke rumah sakit sesegera mungkin. Kecemasan semakin memuncak ketika dia dapat merasakan dengan jelas suhu tubuh Leo yang tinggi. Sehun berlari di pagi buta dengan kecemasan tinggi menembus udara dingin, tak terpikirkan lagi olehnya apa Sehun benar mengenakan sandal jepitnya atau tidak. Yang Sehun tahu adalah bagaimana dia dapat membawa Leo ke rumah sakit sesegera mungkin.

Nyawa Sehun terbang satu persatu ketika mendengar penjelasan dokter tentang penyakit yang diterima putranya. Leo mengalami setress yang menyebabkan dia terserang demam tinggi. Sehun terduduk dengan lemas dibangku rumah sakit seorang dingin. Pandangan matanya jatuh ke arah ujung kakinya yang bergetar pelan. Tanpa mampu dia tahan air matanya jatuh, meluncur dengan indah di atas pipi putihnya. Sehun menangis dalam diam. Dia menyesali semua tindakannya.

Menyesali ketidak mampuannya membawa Irene kesisinya.

Menyesali ketidak berdayaannya menenangkan emosi Leo.

Dia menyesal karena tidak bisa mengubah ke dua fakta tersebut.

Bahu Sehun yang awalnya naik turun kemudian mulai tenang. Sehun menghapus jejak air mata di wajahnya. Dia sadar tindakan menyesali perbuatan yang dia lakukan adalah hal yang sia-sia untuk saat ini. Dia butuh solusi cepat untuk kondisi putranya. Otaknya yang sedang lelah berfikir dia paksa untuk bekerja. Kesembuhan Leo adalah hal yang terpenting untuk saat ini.

Pria itu menghentakkan kakinya jengkel ketika tak menemukan satu pun solusi yang masuk ke dalam otaknya. Tanpa sadar jemarinya sudah meremas rambutnya kasar. Sehun ingin berteriak saat itu juga untuk meluapkan semua kekesalannya. Tapi mulutnya kelu, Sehun hanya mampu terduduk dengan lemas. Menunggu putranya tersadar sembari memperbaiki emosinya yang kacau.

Pagi pukul Sepuluh waktu Korea Selatan setelah membersihkan diri, Sehun berakhir di  kantin rumah sakit tanpa minat untuk sarapan sama sekali. Dia sedang sangat lelah dan ingin beristirahat sebentar. Tetapi otaknya tidak mau diajak bekerjasama. Menjelang matahari terbit di langit, Sehun menemukan sebuah ide. Dia harus bertemu dengan psikolog. Konsultasi dengan psikolog adalah solusi yang paling terjangkau saat ini. Saat pikiran itu terlintas di otaknya, Sehun segera menghubungi ibu kandungnya dan menceritakan ke adaan cucunya. Wanita itu sempat marah dengannya namun ia mencoba memahami ke adaan. Nyonya Oh untung saja tak kelewatan. Dia masih punya hati membantu putranya. Terbukti dia sudah membuat janji untuk Sehun agar bertemu dengan psikolog anak.

Di sinilah Sehun berakhir menunggu tamunya. Enam belas menit kemudian, tamu yang dia tunggu sudah datang. Sehun sempat terkejut ketika menyadari tamunya itu. Dia fikir wanita yang akan datang itu adalah wanita berusia tiga puluh tahunan tetapi pikirannya melesat. Tamunya adalah seorang wanita dengan usia yang Sehun taksir sekitar awal empat puluh lima tahun. Sekali pun usianya sudah berkepala empat tetapi wanita itu masih terlihat masih muda.

Awalnya pembicaraan mereka memang terdengar canggung. Namun di menit ke dua puluh, Sehun sudah mulai nyaman dengan pembicaraan mereka. Tanpa sadar dia dengan santai menceritakan kehidupan pribadinya yang terdalam. Sesuatu yang selama ini dia simpan dengan sangat rapi. Dan psikolog itu adalah pendengar yang baik dan tepat.

Sehun bercerita dengan runtut pertemuannya dengan Irene. Tentang perjodohan yang kedua orang tua mereka buat, kehidupan pernikahan mereka yang tak berjalan buruk, bagaimana mereka menghabiskan waktu berdua, bagaimana Sehun berakhir mencintai Irene setengah mati hingga mereka membuat Leo. Sehun menceritakan itu dengan gamblang seolah sedang menceritakan tentang sebuah film yang baru dia tonton. Nyonya Shin samasekali tidak berkomentar selama Sehun berbicara.

Pria beranak satu itu juga menceritakan kejadian malam itu. Cerita yang bahkan tak di ketahui oleh orang lain. Awalnya suara Sehun terdengar bergetar namun lama kelamaan nadanya kembali tenang dan teratur. “Aku pulang kerja tetapi dia tak di rumah. Aku mencarinya kemana-mana tetapi tak ada. Dia tak menerima telefonku. Kedua orang tuanya juga tak tahu dimana dia berada. Semalam itu aku mencari dia keseluruh tempat di Seoul. Tapi dia tak ada. Hingga paginya aku mendapat sebuah e-mail dari dia. Bukan sapaan atau permintaan maaf. E-mail itu berisi sebuah surat perceraian yang harus aku tanda tangani. Aku marah saat itu. Aku tak terima diperlakukan seperti itu.” Sehun menjeda sedikit panjang.

Dia menarik nafas panjang sebelum memulai ceritanya lagi, “Dia tidak membalas e-mailku. Tapi aku tak menyerah, aku mencarinya, aku ingin mendengar secara langsung alasan dia memperlakukanku seperti itu. Dan akhirnya aku menemukan dia bersama seorang pria. Aku ingin marah namun harga diriku terlalu tinggi, aku membiarkan dia menceritakan semua yang terjadi. Dari penjelasan itu aku tahu bahwa dia dan pria sialan itu diam-diam sudah berpacaran selama dua tahun terakhir. Aku manusia yang mempunyai batas kemampuan. Emosi itu meledak tak tertahankan hingga aku tanpa sadar menyetujui perceraian kita. Aku bahkan sempat melukainya hingga membuat dia mengalami pendarahan.

Jujur saat itu aku berfikir aku hanya ingin melenyapkan dia juga anak kita. Aku tak sudi memiliki ikatan batin lagi dengan wanita jalang itu. Aku pergi tanpa tanggung jawab setelah melukainya. Aku hanya ingin pergi dari wanita itu. Hingga aku memutuskan untuk pergi ke Sydney dan memulai kehidupan yang lebih baik disana. Aku sedang di bandara menunggu pesawat ketika aku mendengar kabar bahwa dia terpaksa melahirkan anak kita padahal usianya baru delapan bulan. Aku tak tahu apa yang membuat aku datang ke rumah sakit itu. Aku tak ingin tapi hatiku mendorong otakku untuk melakukan itu.

Di rumah sakit itu aku bertemu dengan sebuah jalan yang Tuhan kirimkan padaku. Anak yang awalnya ingin aku bunuh itu adalah obat yang aku cari. Sumpah, aku menyesal melakukan itu. Tapi apa daya kesalahanku  membuat aku  kalah di persidangan. Aku tidak punya hak asuh atas Leo. Aku berjuang setengah mati mendapatkan hak asuh atas anakku hingga akhirnya kami sepakat membuat sebuah perjanjian.  Kami membuat perjanjian itu satu jam sebelum keberangkatan mereka ke Jenewa.

Dalam perjanjian itu aku membiarkan Leo tetap dalam asuhan ibu dan ayah tirinya. Tetapi aku diberi kelonggaran untuk bertemu putraku satu tahun dua kali. Awalnya  aku tidak mempermasalahkan itu. Aku menikmati waktu pertemuan kita yang amat sangat sebentar. Dia tidak mengizinkan aku melihat putra kita lebih dari dua jam. Aku tidak mempermasalahkannya tapi ketika menginjak usia Leo yang ketiga tahun aku merasa perjanjian itu tidak adil lagi. Leo lengket sekali denganku. Dia tidak ingin lepas dariku ketika aku ingin pulang,

Untung lah wanita itu setuju memperbarui perjanjian kita. Aku diizinkan membawa Leo menginap di rumahku  di Sydney walau hanya sekitar satu minggu saja dalam  satu tahun. Selebihnya perjanjian awal yang berlaku. Aku menikmati masa-masa itu. Ketika usia Leo menginjak lima tahun, dia membuat sebuah perjanjian baru. Wanita itu mengizinkan aku membawa Leo lebih dari satu minggu itu saja karena dia sedang hamil anaknya dengan pria itu.

Aku  tak masalah dan menikmati waktu berdua kami dengan baik. Hingga aku mendengar kabar bahwa dia meninggal ketika melahirkan anak mereka. Aku kaget tapi siapa aku? Aku hanya bisa datang seorang diri ke acara pemakamannya. Mana mungkinkan aku membawa Leo bersama? Aku juga tak memberitahu anak itu tentang kebenaran ini. Aku takut itu akan merusak tumbuh kembangnya. Setelah aku pulang dari Jenewa aku memutuskan untuk membawa Leo kembali ke Seoul dan memulai kehidupan baru kami.

Aku menyekolahkan dia di taman kanak-kanak, seharusnya ini menjadi hari ke limanya disekolah baru. Tetapi dari kemarin sepulang sekolah dia ngotot meminta bertemu dengan ibunya. Aku sudah membujuknya mati-matian tetapi Leo menolak semua yang aku tawarkan. Dia menangis sepanjang malam hingga akhirnya dia jatuh sakit. Sumpah, aku tak berniat membohongi putraku. Aku hanya tidak ingin dia merasa sedih. Selama ini dia sudah cukup hidup dengan kedua orang tua yang berpisah. Aku  tidak sampai hati mengatakan yang sebenarnya.”

Sehun menghela nafas pelan, matanya berkaca-kaca ketika pikirannya melayang membanyangkan apa yang akan terjadi jika Leo tahu ibunya sudah meninggal. Sudah cukup melihat Leo menangis semalaman dia tidak ingin melihat anak kesayangannya menangis sepanjang malam. Oh Tuhan, apa yang harus dia perbuat untuk merubah kenyataan itu?

Nyonya Shin tersenyum lembut terlihat bahwa dia turut merasa bersedih dengan apa yang sedang Sehun alami. “Memang tidak mudah membuat anak-anak menerima kenyataan. Tetapi alangkah baik apabila dia diajarkan untuk menerima keadaan yang sebenarnya. Hidup tanpa seorang ibu memang tidak mudah. Tetapi tidak berarti tidak bisa. Anak-anak seusia Leo jiwanya masih sangat rapuh. Dalam menerima kenyataan memang sangat sulit apalagi dia sudah terbiasa hidup dengan adanya seorang ibu. Saranku, sampaikan kenyataan itu dengan perlahan-lahan sesuai dengan perkembangan usianya.

Sulit memang, apalagi sekarang keinginan Leo adalah bertemu ibunya. Menurutku tindakan yang tepat untuk saat ini adalah membuat dunia baru untuk Leo. Kita butuh sesuatu yang setidaknya dapat membuat perhatiannya teralihkan. Nanti ketika kondisi dia sudah membaik tidak masalah kamu ajak dia pergi liburan. Leo butuh liburan untuk menenangkan emosinya. Untuk yang ke depan, sering-sering bacakan cerita yang bersangkutan tentang keadaan ini. Leo bisa saja menjadi rindu dengan ibunya, tetapi setelah nanti berjalannya waktu dia akan terbiasa. Dari situ kita bisa menjelaskan keadaan yang sebenarnya.”

Sehun tampak berfikir, “Aku tidak tahu apa yang akan membuat Leo tertarik. Tetapi nanti aku akan pikirkan. Terimakasih atas sarannya. Sepertinya aku harus kembali. Aku ingin berjumpa dengan anakku.” Sehun mengeluarkan dompetnya. Dia menarik beberapa lembar uang won dan meletakkannya di meja. “Terimakasih atas waktu yang anda luangkan untukku. Sampai berjumpa lain waktu.” Sehun sudah bangkit dan hendak berjalan menjauhi tempat itu ketika sebuah tarikan di tangan kirinya menahan langkah kakinya.

Nyonya Shin memandang pria tampan itu dengan tatapan penuh kelembutan. “Kamu juga harus menemukan pengganti ibu untuk Leo. Dalam beberapa tahun kedepan itu menjadi kebutuhan yang penting untuk anakmu. Kamu akan sadar nanti…”

Ketika tangan itu terlepas dari pergelangan tangan Sehun. Dia melanjutkan langkah tanpa mempedulikan saran itu. Yang Sehun pikirkan hanya bagaimana membuat Leo melupakan Irene. Sehun tidak ingin kematian Irene menghapus masa depan Leo. Leo masih terlalu muda untuk kehilangan harapannya. Sehun yakin dia bisa membesarkan Leo seorang diri tanpa bantuan sosok wanita pendamping. Untuk urusan pernikahan dia tidak ada niatan untuk melakukannya lagi. Sudahlah biarkan hatinya ikut terbawa oleh mantan istrinya ke dalam kubur.  Sehun tidak ingin jatuh kedalam penyesalan yang sama. Merasa sakit hanya untuk sekali dan tak ingin lagi.

Langkah kaki pria itu terhenti di depan sebuah pintu bercat putih bersih. Disana tertulis nama Oh Eun Soo –nama korea Leo.  Baru sedikit pintu terbuka, gerakan Sehun kembali terhenti ketika mendengar suara putranya tertawa dan seorang wanita yang terdengar familiar. Mata tajam Sehun mencoba mengintip dengan siapa putranya di dalam. Pandangan matanya terhenti ke arah seorang wanita berkemeja putih yang duduk di atas tempat tidur. Leo berada dalam pangkuan wanita itu. Anaknya terlihat sedang memegang sebuah tablet tipis. Sehun tidak tahu apa yang tengah mereka tonton tetapi melihat kebersamaan keduanya, hatinya mendadak lebih tenang.

Sehun menghela nafas lega ketika Leo tertawa keras untuk sekali lagi. Dia pikir Leo masih menangis dan murung ketika Sehun tinggal. Tetapi yang dia lihat sekarang adalah sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang terasa menentramkan gejolak hatinya. Sehun terhanyut dalam kebisuan itu hingga tak sadar dia masih berdiri di ambang pintu dengan senyum lebar layaknya orang bodoh. Ternyata ibu guru itu tak hanya mampu mengajari anaknya bernyanyi tetapi mampu membuatnya sembuh dari keterpurukan. Sehun tak menyesal mengenal Na Na, dia bersyukur dapat bertemu dengan pemilik senyum bidadari itu.

“Na Na… Kim Na Na… kenapa masih ada orang seperti dirimu di dunia ini, hmm?”

To Be Countinued

22 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] My Strong Daddy (Chapter 2)

  1. Ohh jadi leo beneran anak hunrene, kirain anak irene sm namja lain. Tp kenyataan irene udah meninggal bikin lega ckck ya kan seengganya ga ada penghalang buat nana sm sehun hehehe

    Nextnya ditunggu eonn😄

  2. Ohh jadi itu alesannya,maknya sehun benci banget sama irene, karena irene selingkuh dan ninggalin sehun gitu aja. Kasian leo, diumur yang masih kecil ini hidupnya harus terpisah dari kedua orang tuanya, dan sekarang ibunya sendiri udah meninggal dunia karna melahirkan

  3. Eohh., terjawab sudah rasa penasaran ku knapa sehun dan irene kek gitu..😃
    Sekarang aku malah penasaran sama kelanjutannya..

    Next juseyoo

  4. ohhh..ternyata kek gtu ceritanya sehun irene di masa lalu…deuhh sehun cnta bngt ya sma irene…
    semangat ya hun…kalo susah ngurus leo, bilang aku aja…hahahahaha

    ohya ada yg kurang keknya…ceritanya kurang ada percakapan antar cast..banyak author pov hehe

  5. Owh… jadi ceritanya Irene selingkuh trus meninggal… ya kasian jg sih Leo nya… semoga Sehun membuka hatinya buat wanita lain

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s