[Vignette] AYAH – D.O.ssy

ayah2

 

AYAH

.

Presented by D.O.ssy

Casts Do Kyungsoo (EXO) | Genre Sad, Family | Rating PG 13 | Length Vignette

Poster by Xchee @ Poster Channel

Fanfic ini terinspirasi dari iklan Thailand Silence of Love.

http://chocolate46.wordpress.com/

.

.

Kyungsoo benci Ayah.

.

.

“Berhenti di sini saja!” sentak Kyungsoo untuk kali ketiga, akan tetapi yang membonceng tak kunjung menghentikan kayuhannya pada sepeda tua. Kyungsoo tahu jarak sekolahnya masih ada 300 meter lagi, hanya saja ia tidak ingin teman-teman menjumpai dirinya diantar sang ayah lagi.

 

Iya, ayahnya. Ayah kandungnya sendiri.

 

Lantaran Kyungsoo terlalu malu. Menjadi sasaran bully setiap hari, karena ayah yang pincang dan bisu. Ayah yang pekerjaannya hanya penjual mainan dari kayu. Ayah yang tidak bisa membelikan Kyungsoo baju seragam baru. Ayah yang cuma tamatan pendidikan dasar. Ayah yang tak dapat membantu Kyungsoo mengerjakan tugas matematika. Ayah yang tak mampu berbicara dan paham atas segala ketakutan, juga harapan yang Kyungsoo punya.

 

“BERHENTI, KYUNGSOO BILANG!” Kali ini Kyungsoo beranjak. Nekat melompat dari jok belakang dan berlari. Tak lagi berniat menengok ataupun memedulikan laki-laki paruh baya yang berusaha mengejar dan memanggil-manggil namanya, walau ia tak berdaya.

 

“Kyungsoo benci Ayah.”

 

Itu yang Kyungsoo berkali-kali dengungkan dalam hati.

 

“Kenapa? Kenapa Kyungsoo tidak punya ayah seperti orang lain? Kyungsoo sudah tidak punya ibu. Kenapa Tuhan tidak memberi Kyungsoo ayah yang sempurna?”

.

.

Kyungsoo berhenti melangkah sejenak, lantas mengepalkan tangannya kuat-kuat, mendapati bangku miliknya yang penuh coretan dan sampah bertebaran.

 

MUTE-CRIPPLED DAD.

 

―tercetak besar-besar dan tebal di sana.

 

Ia menghela napas, mencoba menenangkan diri ketika sayup-sayup terdengar tawa cekikikan Sehun dan kawan-kawan dari deretan bangku paling belakang. Sekali lagi, Kyungsoo berupaya untuk sabar, ia sudah terbiasa dengan ini. Kendati sesungguhnya ia sangat marah, namun apa daya. Kyungsoo hanya orang kecil yang lemah, jika dibandingkan dengan Sehun si anak pemilik yayasan yang kaya raya dan punya kuasa.

.

.

Kyungsoo duduk sendirian di kantin, menghabiskan bekal nasi dan sayuran. Tanpa daging, ayam atau ikan. Netranya menangkap Sehun dan yang lainnya di seberang, yang mengobrol bersama-sama membahas ponsel keluaran terbaru, sesekali melirik remeh ke arah Kyungsoo.

 

Bagaimanapun, Kyungsoo tidak mampu berbuat apapun selain tetap bertahan dengan semua cemoohan itu, bila ia ingin terus bersekolah dengan beasiswa di SMP nomor wahid di Ansan ini.

 

Kyungsoo kembali ke kelas, dan betapa terkejutnya ia saat melihat papan tulis―

 

KAKINYA PENDEK SEBELAH.

BICARANYA GAGU.

OTAKNYA TERGANGGU.

AYAHNYA SIAPA ITU?

 

Kyungsoo menunduk. Wajahnya memerah menahan amarah. Giginya bergemeletukkan. Dadanya naik turun pertanda emosinya yang siap meledak. Kyungsoo tak peduli lagi dengan siapa ia akan berhadapan nanti, sebab yang ada di pikirannya sekarang hanyalah keinginan untuk memukul jatuh Sehun yang telah keterlaluan mempermalukannya.

 

“SIALAN KAU, SEHUN!”

.

.

Deras hujan dan langit kelabu menemani Kyungsoo sore itu. Ia meringkuk di toilet seorang diri sambil merintih kesakitan. Sekolah telah sepi, bel pulang sudah berbunyi satu jam yang lalu. Kyungsoo menghapus jejak air mata berkali-kali, namun rasa pedih di punggungnya semakin menjadi. Siang tadi ia berkelahi dengan Sehun. Akibatnya luka memar karena dihantam penggaris kayu oleh Sang Wali Kelas mesti ia terima sebagai ganjaran.

 

Besok ia ditemani orang tua, harus menghadap Kepala Sekolah, mempertanggungjawabkan perbuatannya pada anak pemilik yayasan yang luar biasa manja itu. Cih, apa-apaan? Kyungsoo cuma memukul pipi Sehun saja, dan Kyungsoo yakin itu tidak seberapa ketimbang hukuman yang ia peroleh. Kemungkinan terburuk, beasiswanya akan dicabut, yang sama saja artinya dengan Kyungsoo harus keluar dari sekolah ini lantaran ayahnya tidak mampu membiayai kebutuhan sekolahnya yang selangit.

 

“AARRGH!!”

 

PRAANG!

 

Pecahan kaca berhamburan ke lantai. Kyungsoo meremas ‘Surat Panggilan Orang Tua’ di antara jemarinya yang berdarah sembari tertatih-tatih keluar dari gedung sekolah, setelah meninju salah satu cermin westafel sebagai bentuk peralihan amarah. Hujan kian deras, udara semakin dingin. Ia tidak membawa payung ataupun jaket. Dan seketika, Kyungsoo disambut oleh cipratan air yang mengenai tubuhnya. Mobil pemilik yayasan melaju dengan cukup kencang di depannya. Ia dapat menemukan Sehun yang memandang sinis padanya dari dalam mobil.

 

Kyungsoo tertawa sakit, tidak puaskah Sehun melihat penderitaannya? Sebegitu tegakah ia menindas orang-orang lemah sepertinya?

 

“Kenapa Tuhan tidak adil?”

 

Tak lama, lelaki kecil itu segera berbalik, bersembunyi di balik tembok kala irisnya mendapati sosok sang ayah yang menunggunya di depan gerbang utama sekolah, berteduh di bawah pohon rindang. Padahal Kyungsoo berulang-kali melarang ayah untuk menjemputnya, namun pria itu tetap bersikukuh. Kyungsoo tak habis pikir mengenai seprotektif apa ayah padanya, sementara mengurus diri sendiri saja tidak bisa! Apa susahnya mengizinkan Kyungsoo mengendarai sepeda sendirian? Tak perlu diantar jemput semacam ini.

 

Maka akhirnya, Kyungsoo pergi lewat gerbang belakang.

.

.

Waktu menunjukkan nyaris pukul sepuluh malam ketika Kyungsoo menginjakkan kaki di rumahnya, di pinggiran kota Ansan yang kumuh. Ayah menunggu di ruang tengah. Pria itu menggebrak meja, menyeret langkahnya mendekati anak semata wayangnya. Memandang Kyungsoo dengan ratusan makna tersirat dalam satu sorotan matanya. Marah, cemas dan takut, bercampur aduk menjadi satu. Ia mengeluarkan serangkaian kata emosi dengan gerakkan bibir dan tangan, yang Kyungsoo sendiri malas untuk pahami. Tapi laki-laki berusia dua belas tahun itu malah mendelikkan mata seolah apa yang coba disampaikan ayah tak penting sama sekali baginya.

 

“CUKUP YAH! KYUNGSOO LELAH DENGAN SEMUA YANG TERJADI HARI INI. KALAU TIDAK BISA BICARA, YA SUDAH DIAM SAJA! AYAH TAHU, KYUNGSOO DAPAT MASALAH DI SEKOLAH, DAN SEMUA INI GARA-GARA AYAH! KALAU AYAH TIDAK CACAT DAN TIDAK MISKIN, KYUNGSOO TIDAK AKAN DIEJEK TEMAN-TEMAN!”

 

Kyungsoo melengos, masuk ke kamar lantas membanting pintu keras-keras. Ia memendamkan wajah pada bantal guna meredam raung tangisnya.

 

“Semua ini gara-gara Ayah! Kyungsoo benci Ayah!”

 

Mungkin pada waktu itu, Kyungsoo tak tahu bahwasanya ayah pun menangis di balik pintu.

.

***

.

“Kenapa kemari?” Kyungsoo berang. Tak tahan dengan lirikkan siswa-siswi yang melintas di dekatnya seraya berbisik-bisik. “Kyungsoo sudah pernah bilang ‘kan, Kyungsoo tidak ingin lihat Ayah masuk ke sekolah ini!”

 

Ayah merogoh sakunya, mengeluarkan secarik kertas lecek bertuliskan ‘Surat Panggilan Orang Tua.’

 

Cepat, Kyungsoo rebut kertas itu dari tangan ayah tanpa melepaskan tatapan nyalang. “Kyungsoo bisa urus sendiri, Ayah pulang saja sana!”

 

Pria berusia 40 tahunan itu menggeleng seiring senyum tipisnya. Mengusap puncak kepala Kyungsoo yang amat ia sayangi, lalu menggerakkan tangan dan bibirnya. Berusaha memberitahukan sesuatu dengan bahasa isyarat lagi.

 

Ia menggenggam tangan putranya, namun langsung Kyungsoo tepis sambil membentak kasar, “CUKUP, YAH!”

 

Kyungsoo gelisah, menahan malu yang teramat sangat tatkala ia sadari telah banyak pasang mata yang memerhatikan mereka berdua. Terlebih, begitu Kyungsoo menemukan Sehun di ujung koridor yang tersenyum melecehkan dan menyilangkan lengan depan dada, ingin Kyungsoo kabur saat itu juga.

 

“KALAU AYAH TIDAK MAU PERGI, BIAR KYUNGSOO YANG PERGI! KYUNGSOO TIDAK TAHAN LAGI!”

 

Laki-laki kecil itu berlari sekuat tenaga sembari menghapus kasar lelehan air mata, mengabaikan seluruh ledekkan yang terlontar dari murid-murid yang ia lalui sepanjang lorong menuju gerbang depan. Sekali lagi, meninggalkan sang ayah yang terpincang-pincang berupaya mengejar dirinya.

 

“Tuhan, kenapa Kyungsoo tidak terlahir jadi orang yang beruntung?”

 

Ia terus melangkahkan kaki melewati gerbang tanpa berhenti, menembus kerumunan orang di trotoar tanpa menengok ke belakang lagi, menyebrangi jalanan tanpa berpikir lampu hijau belum mati.

 

Barangkali Kyungsoo masih terlalu kecil untuk mengerti apa arti keberuntungan, ataupun keadilan Tuhan. Sebab pada hakikatnya, semua makhluk di alam semesta Tuhan berikan keberuntungan masing-masing yang bahkan mungkin tak pernah kita sadari, begitu pula Kyungsoo saat ini.

 

TIIINN TIIIIN TIIIINNNN

.

***

.

Malam itu, Kyungsoo tersadar seorang diri di sebuah ruangan yang sepi. Ia berusaha bangkit, tapi sekujur tubuhnya sakit sekali, terlebih kepalanya yang berdenyut-denyut nyeri. Bayangan mengerikan tiba-tiba merasuki, kala Kyungsoo coba mengingat-ingat apa yang terakhir kali terjadi. Si lelaki kecil meremas selimut yang menaungi tubuhnya. Selaput kaca dari mata menetes tanpa ia sadari dan untuk pertama kali ia merasa sendiri di dunia ini. Ia gemetar, ia takut.

 

“Ayah ….” lirihnya. Tenggorokannya terasa begitu perih. “Ayah ….”

 

Kyungsoo menyibak selimut dan menarik selang infus, kakinya yang masih lemah berusaha menopang tubuhnya yang lemas untuk bangun dari tempat tidur. Ia memegangi barang-barang sekitar agar tidak terjatuh. Pandangannya sedikit kabur, namun tidak ia pedulikan. Ia keluar dari kamar.

 

“Kyungsoo?” Seorang wanita berpakaian putih menangkap badannya yang limbung. “Kenapa di sini? Kau masih lemah, belum boleh banyak bergerak.”

 

“Ayah … Ayah mana?” Suara Kyungsoo bergetar.

 

“Nanti biar Suster panggilkan Ayahmu, tapi kau harus kembali ke kamar, ya?”

.

.

Kyungsoo tak kuasa membendung air mata menyaksikan sang ayah yang tersenyum hangat padanya, dengan mata berbalutkan perban putih. Ia membungkam mulutnya dengan tangan agar isakkannya tak dapat terdengar ayah.

 

“Kyungsoo tak apa? Bagian mana yang sakit?” Melalui gerakkan bibirnya, itu yang pertama kali ditanyakan pria yang duduk di kursi roda sesampainya di samping brankar sang anak.

 

“Kyungsoo baik-baik saja.” Kyungsoo mengatur suaranya agar tak bergetar, supaya ayah tidak perlu cemas.

 

“Syukurlah.”

 

Kyungsoo menggigit bibir bawahnya. Sekuat tenaga menahan tangisnya agar tak pecah. “Yah, kenapa Ayah melakukan ini? Kenapa Ayah mendonorkan mata Ayah untuk Kyungsoo? Kenapa?”

 

Tak sedikit pun pria bermarga Do memudarkan senyumnya. “Karena Ayah menyayangimu, Nak.” Tangannya mencari tangan kecil Kyungsoo, lantas menggenggamnya erat-erat. Dan di situlah Kyungsoo sadar, tangan ayah begitu kasar dan penuh bekas luka. Hasil jerih payah membuat setiap mainan kayu untuk dijual demi membiayai hidup mereka berdua.

 

“Delapan tahun yang lalu saat ulang tahun Kyungsoo yang keempat, Ayah membelikan Kyungsoo sepeda roda tiga. Ayah senang sekali melihat Kyungsoo bermain dengan ceria.” Ayah mulai berprosa, Kyungsoo memerhatikan dengan setia. “Tapi Ayah sungguh ceroboh. Ayah membiarkan Kyungsoo bermain sendirian, hingga waktu itu Kyungsoo hampir tertabrak mobil di jalanan.”

 

“Beruntung, Ayah bisa berlari menyelamatkan Kyungsoo, meski harus mengorbankan kaki dan suara Ayah. Tidak apa-apa, asal Kyungsoo baik-baik saja.”

 

Kendati menyembunyikan suara, tangan Kyungsoo bergetar hebat di genggaman ayah.

 

“Hari ini Ayah takut sekali …. Ayah takut kehilangan orang yang Ayah cintai untuk kedua kalinya, setelah ibumu.” Ayah menunduk, mengecup tangan mungil Kyungsoo berkali-kali. “Maafkan Ayah, Nak. Maaf Ayah tidak bisa mengejar Kyungsoo yang lari ke jalanan sampai Kyungsoo tertabrak mobil seperti ini. Maaf Ayah cuma orang miskin yang tidak mampu membelikan Kyungsoo baju baru. Maaf Ayah selalu melarang Kyungsoo naik sepeda. Maaf Ayah tidak sempurna seperti ayah-ayah yang lain.”

 

Walau berusaha terlihat tegar, kala itu Kyungsoo tahu ayah menangis dalam diam. Namun yang Kyungsoo tak pernah tahu, di tiap hari di mana Kyungsoo menangis, ayah pun turut menangis.

 

“Tapi ayah mencintaimu, Nak. Kyungsoo satu-satunya milik ayah yang paling berharga. Ayah berjanji akan melindungi Kyungsoo. Selamanya.”

 

Dan detik ini, Kyungsoo akhirnya mengerti. Bahwasanya, justru, anugrah terbesar yang Tuhan turunkan untuknya adalah … ayahnya.

 

“Yah ….” Kyungsoo bangkit, memeluk sang ayah untuk pertama kali. Saling menumpahkan seluruh emosi di hati. “Maafkan Kyungsoo, Yah. Kyungsoo sayang Ayah.”

.

.

END

.

.

Mind to review?🙂

Salam, D.O.ssy

16 thoughts on “[Vignette] AYAH – D.O.ssy

  1. Ping-balik: I STAN EXO | Ann's Planet

  2. resek si author;-) .. sukses banget bikin nangis😥
    jadi keinget sama ayah yg udah bahagia di rumah TUHAN😥 AYAH aku rindu😥 😥

  3. Ikut berlinangberlinang air mata dah bacanya. Ini ceritanya ngena banget rasanya kayak di tusuk jarum deh. Aku juga pernah mikir kayak gitu karena jadi anak broken home itu gaenak ada beberapa kalimat yang pernah juga aku lontarkan.

  4. Tisu please, baju ane udah basah gegara nangis..😭😭😭
    Hiks, nyentuh banget. Mana ane lagi jauh dari bapak ane (*ceritanya ldr-an), kan jadinya baper, ngerasa itu si kyungsoo ane sendiri.😭😭😭 /plakk/ kok curhat?
    Hiks…😭😭😭😭

  5. Tisu mana tisuu., 😭😭😭😭😭😭

    “Maafkan Ayah, Nak. Maaf Ayah tidak bisa mengejar Kyungsoo yang lari ke jalanan sampai Kyungsoo tertabrak mobil seperti ini. Maaf Ayah cuma orang miskin yang tidak mampu membelikan Kyungsoo baju baru. Maaf Ayah selalu melarang Kyungsoo naik sepeda. Maaf Ayah tidak sempurna seperti ayah-ayah yang lain.” demi apa kata” yg ini buat aku nangis makin derasss..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s