Xing Boarden [Chapter 5]

xingb-morschek96

Xing Boarden by. morschek96

Dark-Crime, Romance, Mystery || PG-16

Lee Junghwa & Lu Han

Lee Minji, EXO members and etc.

Credit BabyChanie @ArtZone 

PRE : [prolog][1][2][3][4][password]

Sing to me the song of the stars. Of your galaxy dancing and laughing and laughing again.“
***

Go Minyoung si staf Tata Usaha memandang keluar lagi. Dinas pantauan cuaca memperkirakan adanya badai salju yang sangat lebat yang akan turun dua hari ke depan. Itu artinya isolasi. Sekolah memiliki generator pembangkit listrik dan pengeruk salju, tapi meski begitu, jalanan akan berbahaya atau bahkan tidak bisa dilewati selama badai berlangsung. Tidak adanya akses keluar masuk pasti menghalangi penyelidikan.

Mengherankan mengapa Lee Junghwa tetap mau menerima pekerjaan di Xing Boarden, meskipun banyak kejadian janggal yang terjadi.

Luhan mendekati Guru Go, duduk disebuah bangku dekat perapian. Ia menengadah saat guru berusia 30 tahunan itu angkat bicara, “ Ada kabar tentang Xiumin?”.

Yang menjadi lawan bicara menggelengkan kepala, “Aku bisa tahu lebih banyak jika anak itu selamat dari masa-masa kritisnya. Operasinya telah berlangsung dan kini sedang ditempatkan di ruang ICU.”

Minyoung mengangguk, masih dengan tatapan khawatir ia bertanya, “Bagaimana kalau kau membantuku?”

“Seperti apa?”

“Ada guru baru yang akan datang dan aku belum mewawancarainya. Bisakah kau menjemputnya di dermaga?”

“Kau akhirnya menerima seseorang?” tanya Luhan, jelas terkejut. “Kau membawa seseorang ke sarang lebah ini?”

Go Minyoung mengangkat bahunya, “Dia sedang dalam perjalanan kemari, meski sudah kuperingatkan bahwa terjadi sebuah kecelakaan.”

“Sebuah kecelakaan?” Luhan mengerutkan dahinya, “Entahlah, itu sama saja dengan menutupi kebenaran, bukan?”

“Aku tidak bisa bicara apa-apa sebelum dia mengerti kejadian sebenarnya.”

“Kau tidak mau kehilangan guru baru itu,” kata Luhan, tatapannya menuduh. “Kalau aku menjemputnya, akan kukatakan yang sebenarnya.”

Menjadi kalimat terakhir sebelum Luhan meninggalkan tempat itu.

.

.

***

Senja menjelang di pemandangan bersalju ketika sorotan lampu dermaga mengenai tanda bertuliskan AKADEMI XING BOARDEN dengan huruf tebal. Sebuah palang arah jalan menunjukkan untuk berbelok kiri ke jalanan yang sebagian besar tertutup pohon-pohon cemara, pinus yang berbatang besar.

“Ini saatnya.” Bisik Junghwa. Ia hanya harus menunggu pihak sekolah menjempunya di tempat ini. Saat ponselnya berbunyi, Junghwa langsung menekan tombol hijau tanpa membaca siapa penelponnya. Berharap suara guru Go Minyoung yang menyapanya di ujung sana. “Yeoboseyo?”

“Eonni.” Suara Minji berbisik pada sambungan telepon yang buruk. “Kau harus mengeluarkanku dari sini! Tempat ini seperti film horror..!”

Junghwa dengan segera merasa lega. Adiknya masih hidup dan baik-baik saja, “Minji!”. Ia mengelus dada, “A-aku sempat khawatir. Kupikir…. maksudku. Guru Go menghubungiku, aku tahu telah terjadi kecelakaan.”

“Kecelakaan? Apa eonni gila? Itu bukan kecelakaan. Tidak!” Minji berbicara dengan cepat, suaranya terdengar gelisah. “Jika guru itu mengatakan kecelakaan, dia berbohong.”

“Berbohong apa? Apa yang kau bicarakan?” Junghwa melihat sekitar, setidaknya tidak ada yang tahu bahwa ia sedang menelpon adiknya yang berada di dalam sekolah itu.

“Oh, aku mengerti. Mereka menutupi kebenaran dari keluarga murid. Menyatakan itu kecelakaan supaya para orang tua tidak panik. Omong kosong! Eomma mungkin sudah percaya juga.”

“Tunggu— bicaralah pelan-pelan.” Ucap Junghwa mencoba memahami situasi.

“Oh Tuhan, polisi berada disini dua hari ini. Dan apa kau tahu korbannya? Teman sekamarku. Yuju, dibunuh di ruang penyimpanan olahraga.”

“Dibunuh? T-tapi…” Junghwa kalap. “Tenanglah, oke?”

“Tidak bisa eonni. Orang-orang akan mati!”

“Dengar, dengar… aku sedang berusaha mengeluarkanmu.”

“Kalau begitu berusahalah lebih cepat.” Sambungan mulai memburuk, dan suara Minji diujung sana terdengar semakin tidak jelas.

“Minji? Kau dengar aku?”

“Eonni? Kau— apa?”


“Dengarkan aku. Minji kau bisa dengar aku? Aku akan berada disekolah itu sebentar lagi, jadi jangan bongkar penyamaranku, mengerti?”

“Apa yang kau bicarakan? Penyamaran apa?”

“Sekolah itu menerimaku sebagai guru. Jadi aku akan tiba dissana satu jam lagi, kurasa. Mungkin dua jam lagi.”

“Apa? Disini? Mengapa mendadak sekali?”

“Hanya ini satu-satunya cara Minji-ya.”

“Tidak, tidak.. kau hanya harus mengeluarkanku dari sini. Mengapa kau juga harus terjerumus disini!” Minji menggeram frustasi.

“Sekarang kurasa kita tidak punya pilihan lain. Jadi ketika kau melihatku, diam saja, oke? pura-pura tidak saling mengenal.”

“Baiklah.. baiklah.. Tapi bergeraklah lebih cepat. Detektif-detektif itu membuatku semakin takut. Menanyaiku dan menuduhku karena aku orang terakhir yang melihat Yuju hidup atau semacamnya… aku tidak mengerti. Apakah aku jadi tersangka?”

“Kenapa kau jadi tersangka?”

“Entahlah. Hanya karena dia teman sekamarku. Aku bisa bilang banyak hal-hal aneh di tempat ini.”

“Lalu dengan ponsel? Kukira ponsel dilarang di sekolah itu.”

“Memang. Ini milik Yuju yang ia berikan padaku, ponsel ini tidak terlalu bagus. Ia dapat dari pasar gelap atau semacamnya.”

Pasar gelap? Junghwa tidak mengerti. Mengapa bisa ada pasar gelap di sebuah sekolah. “Mengapa memberikannya padamu?”

“Kurasa ia punya yang lebih bagus dari ini… sudahlah, eonni ada yang datang—.”

Sambungan terputus.

Hari sudah mulai sore dan suhu mulai beranjak turun. Bisa dipastikan kini temperature telah dibawah 0 derajat celcius. Junghwa mulai mengambil jaket tebal dari dalam tasnya, memasukkan lengannya kedalam saku jaket tersebut.

Ia memandang kearah suara mesin mobil dan melihat lampu depan mobil yang tertuju lurus kearahnya. Sebuah mobil Jeep tua berhenti disamping Junghwa, ia menoleh untuk melihat si pengemudi— dan kemudian jantungnya lemas. Sosok pengemudi itu nampaknya tak asing. Rasanya waktu telah berhenti untuk beberapa detik saat ia memandangi sosoknya menembus salju yang beterbangan.

Tidak mungkin.

Luhan.

Namun, jantungnya berdegup kencang, denyut nadinya naik, dan urat sarafnya menegang. Junghwa mencoba berkedip beberapa kali. Mencoba meyakinkan.

Luhan masih terlihat sama dari dua tahun yang lalu. Tatapapan mata hangat dan bibir tipisnya, Junghwa masih ingat bagaimana cara lelaki itu memperlakukannya, menyentuhnya, membuatnya mendesah halus.

Tapi—

Luhan sudah keluar dari hidupnya. Benar kan?

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Junghwa dari balik jendela.

Luhan menoleh ke segala arah, memastikan tidak ada orang lain yang mendengarkan percakapan mereka. “Itu juga yang mau kutanyakan padamu.” Bisik Luhan.

“Kau pasti tahu aku disini,” ujar Junghwa sedikit terbata. “Guru Go… pasti meminta untuk menemuiku.”

“Memang benar. Dan dia telah mengejutkanku bahwa kaulah guru Bahasa Inggris yang baru.”

“Lucu bukan?” kata Junghwa sinis, suaranya terdengar dingin, sedingin angin yang berhembus turun dari sisi pegunungan.

..

..

..

Dalam perjalanan Junghwa masih mencoba memahami bahwa ia dan Luhan akan bekerja di sekolah yang sama. Salju mulai turun dengan lebat sekarang, kepingan es itu menutupi jalan.

“Baiklah, karena kita akan menghadapinya bersama, bagaimana kita akan memainkan peran masing-masing?” Ucap Junghwa memecah keheningan.

“Jadi ini kesepakatannya, kau tidak mengenalku, ini pertama kalinya kita bertemu.” Alis Luhan menyatu terlihat serius. “Sejauh ini Minji belum mengenaliku, aku hanya takut jika ia mengenaliku lalu melaporkannya.”

“Percayalah Minji bukanlah gadis ember seperti itu. Dia akan memilih pura-pura tidak tahu daripada melakukan hal semacam itu, terlalu membuang waktu katanya.”

“Itu bagus. Dan lebih bagus lagi jika kau mengundurkan diri dari pekerjaanmu.” Ucap Luhan saat berbelok ke sebuah tikungan tajam.

“Mengundurkan diri? Aku bahkan belum mulai.”

“Bagus, dengan begitu kau tidak akan terlibat.”

“Tapi aku ingin terlibat.” Junghwa sedikit mengeraskan suaranya, merasa kesal.

“Ini berbahaya!”

Junghwa menghembuskan napasnya kasar. “Berapa lama lagi?” ia mencoba mengalihkan topic.

“Kita hampir sampai.”

Masa lalu, seperti iblis yang keji, masih menghantui mereka. Junghwa tidak membohongi dirinya. Beberapa masalah belum selesai diantara mereka. Luhan meninggalkannya pada saat-saat terburuk dalam hidupnya. Sang ayah meninggal dan ibunya kehilangan pekerjaannya.

Tapi kau yang mengusirnya, ingat? Kau mengatakan tidak mau melihatnya lagi. Lelaki ini hanya menghormati keputusanmu.

.

.

***

Malam kian tiba, suhu udara semakin turun. Namun tidak bagi Luhan, temperature udara disekitarnya malah terasa memanas. Ia melihat di sebuah bangunan kandang kuda itu dengan tatapan dingin. “Jadi, kau meninggalkan anak kuda kedinginan di luar sendirian?” Memandang Wang Lin Ge si petugas peternakan dengan tatapan menuduh.

Letak kandang kuda bersebelahan tak jauh dengan gedung olah raga yang menjadi tanggung jawabnya. Hal ini membuatnya harus menjadi ekstra hati-hati mengingat kejadian Yuju dan Xiumin di tempat ini.

“Tidak.” Lin Ge menggeleng, rahangnya menegang.

“Kau yang diberi wewenang.”

“Semua kuda sudah berada di dalam ketika aku dan anak TA bernama Lay menutup istal tadi sore.”

“Aku akan menanyainya nanti.” Luhan melihat sekitar, tatapannya tertuju pada beberapa anak TA termasuk Lay yang keluar dari cafetaria.

“Tapi sudah kuhitung semua tadi, dan tidak ada yang tertinggal.”

“Lalu apa ini? Kuda ini keluar sendiri? — atau ada seseorang yang mengeluarkannya?”

“Siapa tahu?” ucap si petugas peternakan mengendikkan bahunya, berjalan melewati Luhan.

Luhan sedikit mengenal seorang anak TA senior yang bernama Lay. Kalau boleh mengungkit, anak itu berasal dari negara yang sama dengan Luhan, China.

Dibanding dengan siswa berkebangsaan asing lain, Lay adalah anak yang cukup cuek. Ketika anak TA lain seperti Yamazaki dari Jepang atau Tao dari China lebih sering menghubungi keluarganya di luar negeri saat akhir pekan menggunakan telepon di ruang guru, Lay malah lebih sering tertangkap sedang diam-diam merokok di tempat-tempat sepi.

Luhan mendekat ke arah Lay yang sedang duduk bersama teman-temannya. “Lay, bisa ikut aku sebentar?”

Lay berkedip dua kali sebelum meng-iyakan dan berdiri berjalan di belakang Luhan.

“Aku ingin bertanya tentang keadaan istal (kandang kuda).”

“Waeyo sanjangnim?”

“Aku barusaja menemukan seekor anak kuda yang tertinggal di luar, apa kau yakin sudah mengikat mereka semua dan mengunci pintunya?” ini bukanlah sebuah pertanyaan yang bagus, mengingat kunci pintu istal hanyalah sebuah balok kayu yang digunakan untuk menahan pintunya.

“Tentu saja, saya dan petugas Wang yang bertugas hari ini.” Lay sedikit menaikkan nada suaranya, merasa telah tertuduh.

“Hmm. Katakanlah aku mempercayaimu. Anak kuda itu sudah dikurung sebelum jam malam yaitu pukul 7. Itu berarti ada seseorang datang kemudian mengeluarkannya, atau anak kuda itu keluar ketika seseorang masuk ke istal.” Luhan berspekulasi sendiri. Sejenak Luhan melihat Lay yang berkedip cepat, namun Luhan mengabaikannya. “Dengar nak, istal sangat dekat dengan gedung olah raga dimana kejadian Yuju terjadi. Kau tahu tentang Xiumin dan Yuju pacaran?”

“Tidak.” Penyangkalan yang sangat cepat. “Xiumin menggoda semua gadis, ingin mencumbui mereka. Dia tak peduli siapa mereka, kurasa Yuju tidak terlalu istimewa bagi Xiumin. Dan— anak kuda itu tidak kutinggal di luar, oke? Ya ampun, siapa yang peduli.” Lay berkata cepat, dan seperti dugaan Luhan, anak ini sangat cuek untuk urusan apapun.

“Aku peduli. Aku menganggap kejadian ini serius. Dan kondisi di sini menunjukkan bahwa seseorang bermain-main dengan binatang. Di dekat istal terdapat gedung olah raga yang malah digunakan sebagai sebuah motel untuk berhubungan intim, dan yang kemarin ini mungkin bukan yang pertama kalinya.”

“Aku tidak tahu tentang itu.” Elak Lay sekali lagi.

“Tidak?” Luhan mencondongkan badannya ke depan. “Kurasa bagian dari tugasmu sebagai TA untuk membantu guru dan mengatur anak-anak yang lebih muda. Maksudku— kau salah satu TA terbaik, di garis depan keamanan sekolah.”

“Benarkah?” mata Lay menyipit, menatap Luhan tajam. “Kau tahu, dan ayahku adalah seorang pengacara. Kantor penasihat hukum besar di Daegu. Dan dia tidak akan suka melihat kau menggangguku.”

Luhan mendecih ringan, anak ini sangat mudah tersulut emosi rupanya. “Jangan menipu dirimu Lay, ayahmu mengirimmu kemari karena… kau terlibat banyak masalah. Apa itu? Obat terlarang? Shabu?”

“Aku tidak menggunakan obat jalanan.”

“Oh ya baiklah, kalau begitu pil Vicodin, Percocet, OxyContin. Apapun itu, kau bakan mencuri uang dari ibumu untuk mendapatkan semua itu.”

“Aku sudah bersih dari obat-obat itu sekarang.”

“Bersih, tapi memancing perkelahian dengan murid baru. Menyerang anak perempuan. Tidak cerdas. Lay, kau terlalu memaksa. Kwanghee sanjanngnim mungkin belum memutuskan apa hukumanmu, tapi aku akan selalu mengawasimu. Tugasmu akan dipindahkan dari istal ke pelayanan pembersian jalan dari salju selama tiga bulan, mengingat musim sekarang ini.”

“Aku hanya main-main. Gadis itu yang jadi gila..!” seru Lay.

“Mengingat yang kudengar, kau bersikap sangat buruk menyangkut kematian Yuju.”

“Hanya mencoba mencairkan suasana.”

“Baiklah, kau boleh pergi.” Ucap Luhan, dan dengan segera Lay meninggalkan tempat itu.

.

.

***

Di dalam sebuah ruangan, Junghwa menata barang-barangnya ke dalam lemari berukuran sedang. Kamar di asrama staf ini tidak terlalu mewah, tapi cukup nyaman. Ada sebuah alat pendingin dan pemanas ruangan yang diletakkan di ujung.

Junghwa menghembuskan napasnya kasar, permainan akan segera dimulai.

“Aku akan membawa adikku keluar bersama dari tempat ini.”

.

.

-TBC-

Author Note :

Anyyoeng! Chapter 5 is up..!😀

Hope you like it guys.. dan di chap ini Junghwa & Luhan udah ketemu. Siapa yang nunggu-nunggu moment mereka? Oke sabar, tunggu chap selanjutnya yah..

Untuk sekali lagi aku mau bilang, kalau ini Cuma FF ya.. jangan anggep serius, dan ada yang beberapa tokoh member EXO yang aku bikin antagonis itu juga maapkeun :-> don’t take it personal.

Jangan lupa tinggalkan komentar atau likenya.. buat SIDER, awas yaa— nanti pasti ada beberapa chap yg aku protect. Dan seperti biasa, aku hanya memberikan password ke reader yg udah setia komen. Siip

 

Regard.

-morschek96

https://morschek96.wordpress.com

16 thoughts on “Xing Boarden [Chapter 5]

  1. Kalau begini aku makim curiga sama lay -_-
    Ahh kenapa mesti dirimu lay wkwkw
    Asikkk luhan-junghwa uda ketemu ditunggu yaa moment merkea berdua tapi aku msh penasaran nih kak sama masalalu mrk kaya gmn kok bs putus? Ditunggu yaa next chapternya^^
    Fighting!!

  2. demi sendal jepit swallow ayang beb akhirny luhan ketemu junghwa yeeey semoga chap selnjutny bnyakin moment mereka ya ehee
    btw si layli jahad kah?aah rada ga tega dia jahad pdhal mukanya polos gtu plis.wkkk gpp lah ini kan cm ff…oke fighting buat chap brikutnya

  3. Aigoo., aku baru baca + baru muncul juga setelah sekian lama karena sakit 😭😭😭😭
    Aku kangenn..

    Ehh., luhan sama junghwa udah keteme tapi masih canggung^^

    Tuhh kan., aku jadi nambah curiga sama Lay oppa deh kak.. Baek oppa gx ada yak..kkkk
    Uhmm., aku bingung mau ngomong apalagi yang jelas ditunggu klanjutanya kak^^

    Next juseyoo😊

  4. Huuuaaa akhirrrnyaa junghwa ma luhan udh ktmuu,,wlaupun msih agak canggung tinggal di tunggu clbknyaa ka author,,kikiki
    Lay oppa bner bner jdi jahat dsni?sdkit gk relaaa tpi lebih gk rela klo kai oppa jdi jahat,,please ka author jngan jdiin kai oppa sbgai orng ya jahat,,
    Smoga doanya junghwa terkabul yaaa biar bisa kluar di sna dengan tenang dan aman
    Di tunggu kelanjutan ceritanya ka authorr,,tetep smangat yaa

    Smoga ajj aq bsa trus trusan komen biar gk jdi sider lgi,,hehehe,,ka uthor nma email q
    yamkim22@gmail.com

  5. oke ini konfliknya udah mulai muncul dan junghwa akhirnya bisa ketemu sm luhan yeaayyyy..
    antusias bgt pokoknya sma ff ini
    ditunggu next chap thor!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s