Rooftop Romance (Chapter 14) – Shaekiran

rooftop-romance-2nd-cover

Rooftop Romance

A Story By Shaekiran

 

Main Cast

Wendy (RV), Chanyeol, Sehun (EXO)

 

Other Cast

Baekhyun (EXO), Kim Saeron, Irene (RV), Taeil, Taeyong (NCT), Jinwoo (WINNER), and others.

Genres

Romance? Family? Frienship? AU?

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Nama cast disini hanya minjam dari nama-nama member boy band dan girl band korea. Happy reading!

Previous Chapter

Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 | [NOW] Chapter 14 |

“Apa yang kau lakukan?!”

 

 

 

-Chapter 14-

 

 

Ya! Bagaimana kau bisa ada di sini ?!”

 

“Wae? Kau merindukanku Son Wendy?”

 

 

 

Author’s POV

 

Gadis bersurai coklat itu terdiam di tempat, seakan membeku saat seorang lelaki yang berpredikat sebagai siswa baru itu tiba-tiba saja memeluknya erat, bahkan sambil mengelus puncak kepalanya pelan yang akhirnya diikuti suara riuh dari teman-teman sekelasnya yang lain. Pertanyaan lelaki itu beberapa detik yang lalu sekakan berngiang di telinga si gadis, “Apa kau merindukanku Son Wendy?”. Rindu?

 

“Kalau iya, aku juga merindukanmu. Bahkan sangat merindukanmu Wendy-ah.”, bisik lelaki itu cepat sebelum akhirnya melepaskan pelukannya pada Wendy sambil tersenyum tipis sementara gadis yang dimaksud masih memantung di tempat.

 

Ya! Kenapa kau tidak menjawabku eoh?”, bagaikan hanya ada mereka berdua di ruangan itu, si lelaki murid baru kini mencubit kedua pipi Wendy sambil memasang ekspresi gemas. Bagaikan magnet, akhirnya Wendy tersadar dari keadaan patungnya, lalu sekon selanjutnya dia sudah menghempaskan tangan lelaki itu keras.

 

“Apa yang kau lakukan Lee Taeyong?!”, pekiknya dengan nada marah. Lelaki yang ternyata bernama Taeyong itu hanya tersenyum simpul tanpa membalas amukan Wendy, malahan kini dia sudah berjalan kembali ke depan kelas, kembali meninggalkan Wendy yang melongo di tempat.

 

Taeyong yang sudah sampai di depan kelas lantas tersenyum lagi, kemudian membungkukkan badannya 90 derajat.

 

Anyeonghaseyo, Lee Taeyong imnida.”, ucap lelaki berparas tampan itu sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Wendy, membuat seisi kelas makin dipenuhi tanda tanya sementara Wendy sendiri sudah merasa jantungnya melompat keluar.

 

“Mati aku!”, batin gadis itu sambil duduk lagi di bangkunya, menekuk wajahnya dalam-dalam.

 

AhUmm..Taeyong dan Taeil, kalian bisa duduk sekarang.”, interupsi Cho ssaem yang sepertinya sudah sadar dari kebingungannya selama beberapa menit. Kedua lelaki itu mengangguk, kemudian berjalan 2 langkah ke depan sebelum akhirnya bertatapan satu sama lain.

 

“Anu ssaem, kami harus duduk dimana?”, Tanya Taeil polos. Mendengar itu Cho ssaem langsung mengedarkan pandangannya ke sudut kelas, dimana di sisi kiri ada meja Wendy yang masih kosong satu dan di sudut kanan ada meja Sehun yang juga kosong satu.

 

“Terserah kalian, yang penting kalian masing-masing menepati satu dari 2 bangku kosong itu.”, putus Cho ssaem bijak kemudian duduk di meja guru.

 

“Kalau begitu aku akan duduk di semeja dengan Wendy.”, ucap Taeyong kemudian sambil berjalan ke arah meja gadis yang dia maksud, sebelum akhirnya dia merasakan sebuah tangan menahan lengannya dengan paksa sehingga langkahnya otomatis terhenti. Taeyong menatap Taeil yang menahannya itu jengah, seakan mengibarkan bendera permusuhan.

 

Wae? Kau mau duduk dengan yeoja? Open your eyes bro..”, kata Taeyong kemudian dengan nada tak suka. Mendengar namanya kembali di sebut, gadis yang sedang menekuk wajahnya itu otomatis mendongakkan kepalanya, kemudian menatap pertengkaran kecil yang terjadi di depan kelas.

 

Open your eyes? Seharusnya kau yang harus membuka matamu Tuan Lee Taeyong yang terhormat, dia itu nonaku dan kau tidak boleh mengganggunya.”, jawab Taeil kemudian tak kalah sengit, membuat Taeyong lantas menghempaskan tangan Taeil yang menahan tangannya begitu saja.

 

Come on, kau tidak tau siapa aku? Nona? Kau itu hanya seorang..”

 

“Tentu saja aku tau siapa anda Tuan Lee, siapa yang tidak mengenal putra tunggal Taehan Corp, eoh? Tapi satu yang harus anda ingat, aku Moon Taeil, orang yang sudah mematahkan tangan pesuruh yang kau perintahkan untuk memata-matai Nona Son karena tau dia sedang berada di Korea.”, sinis Taeil kemudian sambil menatap Taeyong yang berdiri di depannya dengan tajam. Lelaki bermarga Lee itu lantas tersenyum miring, balas menatap Taeil sengit.

 

“Jadi kau yang katanya bodyguard pribadi Wendy selama di Korea? Wow, aku tidak tau kalau kau semuda ini, atau jangan-jangan kau memalsukan tahun kelahiranmu agar bisa sekelas dengan Wendy?”, terka Taeyong tak mau kalah. Wendy yang menjadi objek perdebatan pun hanya bisa melengos, sementara seisi kelas kini sudah memasang ekspresi super kebingunngan. Sejak kapan Seunghwan, yang sekarang disebut Wendy punya bodyguard? Seumuran pula?

 

“Kau pasti tau karena kau tentunya juga menyelidiki profilku Tuan Muda Lee.”, telak lelaki bermarga Moon langsung. “Ah, satu lagi. Nona Son lebih suka dipanggil Seunghwan daripada dipanggil Wendy saat berada di Korea. Pesuruhmu tidak melaporkan itu, eoh? Atau kau yang pura-pura tidak tau?”, ledek Taeil sambil tersenyum miring sementara Taeyong kini sudah mengepalkan tangannya kesal.

 

“Kau! Memangnya apa hakmu mengaturku eoh? Kau tidak tau kalau aku dan Wendy..”

 

STOP!”, Pekik Wendy yang sudah jengah dari mejanya, gadis itu menatap kedua lelaki yang sedari tadi memperebutkan bangku di sebelahnya itu bergantian.

 

“Kalian berdua, seharusnya aku yang bertanya kenapa kalian ada di sekolahku dan parahnya ada di kelasku!”, pekik gadis itu dengan suara melengking keras. Taeil maupun Taeyong hanya bisa diam dengan wajah cengo, sementara Wendy sudah berdiri dari duduknya sambil menenteng tasnya ke arah meja Sehun.

 

Ya! Son Wendy, kau tidak mau sebangku denganku eoh? Bukankah dulu kita sebangku di Kanada?”, Tanya Taeyong tak terima saat Wendy dengan santai duduk di bangku kosong sebelah Sehun yang kini menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Kaget mungkin?

 

“Jangan memanggilku seperti itu!”, teriak Wendy kemudian sambil berjalan ke depan kelas. Gadis itu menarik nafasnya kasar, kemudian menatap 2 lelaki astral yang tiba-tiba muncul di kelasnya itu dengan pandangan seakan ingin memakannya hidup-hidup.

 

Ssaem, aku ijin ke toilet.”, pamit gadis yang langsung keluar kelas tanpa perlu repot-repot mendengar jawaban dari Kyuhyun wali kelasnya itu.

 

“Wendy, Son Wendy-”

 

“Mau kemana kau?”, tahan Taeil yang sekarang tengah menahan pergelangan tangan Taeyong yang nampaknya ingin mengikuti Wendy itu.

 

Mwo? Lepaskan aku!”

 

 

“Kenapa manusia itu ada di sini?!”, teriak Wendy kesal sambil menendang kaleng cola -yang tergeletak begitu saja di atap sekolah – hingga melambung ntah kemana.

 

Gadis itu kemudian mengumpat sekasar-kasar yang dia bisa. Berteriak sekesal mungkin hingga dia sendiri mulai terbatuk karena berteriak terlalu keras. “Ah, sial.”, umpatnya lagi sambil duduk di pinggir atap, menatap kosong ke arah perumahan yang nampak dengan jelas dari atap sekolahnya sambil mengelus-elus lehernya yang sakit.

 

Wendy menghembuskan nafasnya kasar. Lagi-lagi dia harus berurusan dengan Taeyong, teman masa kecil yang ntah kenapa selalu menerornya sejak dulu, mengganggunya, menghinannya, mengejeknya dan bahkan mengerjainya. Wendy masih ingat dengan jelas bagaimana Taeyong selalu tertawa menyeringai tiap kali usahanya berhasil membuat Wendy naik pitam atau bahkan menangis. Parahnya, satu alasan yang tidak bisa gadis itu terima saat dia bertanya pada Taeyong kenapa lelaki itu selalu menjadikan dirinya bahan bully-an di sekolah.

 

“Kau kan milikku, jadi terserahku kan?”

 

Saat itu Wendy kecil benar-benar bergidik ngeri. Milikku katanya? Mulai dari itulah gadis bermarga Son itu menghindari Taeyong yang baginya mirip psikopat yang menjadikan dia target psiko-nya. Wendy masih ingat bagaimana bersyukurnya dia saat Taeyong yang merangkap sebagai teman sekelas sekaligus teman sebangkunya –Taeyoung me-lem tas Wendy di bangku sebelahnya saat hari pertama masuk sekolah- itu menyatakan pindah sekolah. Tidak hanya itu, Taeyong bahkan pindah ke Korea, jadi tidak ada kemungkinan Wendy diganggu oleh lelaki chaebol itu selama berada di Kanada. Tapi sekarang? Taeyong kembali, masih dengan seringai dan kefanatikannya akan sosok seorang Wendy.

 

Aish, aku seharusnya tidak datang ke Korea! Kenapa aku bisa lupa kalau-”

 

“Kau cabut dari kelas?”, Wendy langsung membalikkan kepalanya, kemudian mendapati sosok Chanyeol yang berdiri sambil memasukkan tangan ke dalam kedua kantong celana seragamnya.

 

“Ka…kau sen..diri sun..sunbae?”, elak Wendy tergagap kemudian berdiri dari duduknya. Chanyeol hanya memutar bola matanya sebentar, kemudian menganggkat bahunya ringan.

 

“Jam kosong.”, jawab lelaki itu singkat. Bohong, buktinya sekarang Lee-ssaem sedang mengajar pertidaksamaan nilai mutlak di kelasnya dengan super bersemangat.

 

Ah, kalo begitu aku kembali ke kelas dulu.”, pamit Wendy kemudian segera berlari ke arah pintu keluar, lalu menuruni tangga dengan tergesa-gesa. “Kenapa Chanyeol bisa di atas sana?!”, batin gadis itu sambil terus berlari ke kelasnya. “Uh, semoga saja Cho ssaem tidak bertanya aneh-aneh dan hanya menganggapku lama di toilet.”, batinnya lagi sambil melirik jam di tangan kirinya, ternyata sudah setengah jam dia berdiam diri di atap, mana mungkin guru bermarga Cho itu tidak curiga kan?

 

“Ah, dia takut padaku rupanya.”, batin Chanyeol sambil menatap kepergian Wendy yang tergesa-gesa itu. Orang buta pun tau kalau sekarang gadis bermarga Son itu tengah menghindari Chanyeol. Lelaki itu tersenyum sekilas, lalu duduk di tempat yang Wendy duduki tadi. Tangannya mengeluarkan sebuah rubrik yang masih acak-acakan dari kantong celananya, kemudian mulai mengotak-atik benda kubus itu.

 

“Apa dia marah padaku?”

 

 

Wendy berjalan gontai keluar kelas. Hari ini benar-benar melelahkan baginya. Dia menarik nafasnya perlahan, kemudian menghembuskan nafasnya kasar. Cho ssaem benar-beanr marah tadi, lalu memberikan 50 Soal matematika tingkat Olimpiade sebagai PR, khusus untuk Wendy seorang yang harus dikumpul besok pagi. Siapa yang tidak berang?

 

Belum ada 2 detik gadis itu menarik nafas untuk mencerahkan otakknya, nyatanya kini 2 manusia bertitle murid baru itu sudah ada di dekatnya dengan ekspresi yang bisa membuat gadis Son itu bergidik ngeri. Taeil dengan wajah datar sekaligus mata setajam elang menatap gadis itu dari ujung kepala hingga ujung sepatu hitam yang dia pakai. Satu kata, mengintimidasi. Belum lagi tatapan misterius Taeyong si tukang bully-nya yang kini menyeringai kecil. Demi Tuhan, mimpi apa Wendy kemarin malam sehingga dia bisa bertemu dengaan 2 makhluk astral ini?

 

“Wendy-ah, kau mau pulang?”, Tanya Taeyong dengan nada manja yang semakin membuat Wendy ngeri saja. Bulu kuduknya mulai berdiri, merinding menghadapi Taeyoung setelah sekian tahun tidak melihat batang hidung lelaki bermarga Lee itu lagi.

 

“Dasar bodoh! Sekarang masih jam istirahat ke-2 dan kau bilang pulang? Kalau mau cabut, cabut sendiri sana!”, tolak Wendy ketus, kemudian berjalan meninggalkan kedua manusia itu. Taeyong nampak tak terima, lantas dia mulai mengekor di belakang Wendy yang semakin jengah dengan tingkahnya.

 

“Wendy-ah..”, rengek Taeyong lagi. Wendy menghentikan langkahnya, kemudian menatap lelaki di sebelahnya itu dengan tatapan mengintimidasi yang paling dia punya. “Jangan memanggilku seperti itu bodoh!”, pekikknya keras, kemudian berjalan dengan langkah super cepat meninggalkan Taeyong yang nampaknya belum menyerah.

 

“Son Wendy! Tunggu, tunggu a…”

 

Mwo? Kenapa kau menahanku lagi?!”, Tanya Taeyong kesal kemudian karena Taeil yang sedari tadi hanya diam kini sudah menahan pergelangan tangannya saat lelaki itu ingin mengejar Wendy yang nampaknya kesal setengah mati.

 

“Seperti kita harus bicara, Tuan Muda Lee.”, kata Taeil singkat, namun jelas dan lugas. Masih dengan gaya bicaranya yang sama. Mengintimidasi. Taeyong menatap teman sebangkunya itu dengan pandangan praduga. Dia menghela nafasnya pelan, kemudian mengikuti langkah Taeil yang kini berjalan santai di depannya.

 

“Sebenarnya apa yang mau kau bicarakan?”, Tanya Taeyong sesampainya mereka di atap sekolah. Dia memasukkan tangannya ke saku, kemudian menatap Taeil dengan pandangan memicing, tak kalah mengintimidasi dengan tatapan Taeil sedari tadi.

 

“Ku harap kau tidak mengganggu nona Wendy lagi.”, jawab Taeil cepat. Taeyong hanya menyeringai, menertawai perintah Taeil barusan.

 

“Tidak mengganggu Wendy lagi katanya? Cih, mitos.”, batin lelaki Lee itu dalam diam. Dia lantas menatap Taeyoung lagi. “Kalau aku tidak mau, bagaimana?”, tantangnya yang kini membuat Taeil mulai menggertakkan gigi, mengepalkan tangannya dengan erat.

 

“Kau ingin bermain-main denganku, Tuan muda?”

 

 

“Son Wendy?”, kali ini giliran Sehun yang menyapa Wendy yang tengah duduk lunglai di ujung kantin, bangku paling ujung sehingga kau tidak bisa melihat siapa yang keluar masuk kantin ataupun sebaliknya. Gadis itu mengangkat kepalanya yang sedari tadi telungkup di atas meja. Dia tersenyum masam.

 

“Oh, Hai Hun.”, sapa Wendy kemudian. Sehun nampak tersenyum cerah, kemudian menimang-nimang. “Boleh aku duduk di sini? Bangku yang lain sudah penuh soalnya.”, kata lelaki yang tengah memegang nampan makan siang itu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Wendy nampak berdiri, kemudian mendongakkan kepalanya melihat keadaan kantin sekarang. Dan benar saja, kantin memang tengah padat. Wajar, ini jam makan siang.

 

Arraseo. Duduklah. Tak usah sungkan.”, kata Wendy kemudian. Sehun lantas tersenyum sumringah, kemudian duduk di bangku depan Wendy. Hanya mereka berdua, di ujung kantin.

 

“Kau yakin? Bagaimana kalau pacarmu marah?”, lanjut Sehun sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutnya. Wendy yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk bubur di nampannya lantas terkaget-kaget dengan pertanyaan teman sebangkunya yang baru itu.

 

“Maksudmu Chanyeol sunbae?”, Tanya Wendy seakan memastikan telingaya tidak salah dengar. Dan bagaikan Chanyeol memiliki umur yang sangat panjang, kini lelaki Park itu sudah berdiri di meja sebelah Wendy sambil membawa nampan berisi kari ayam dan segelas jus lemon yang nampak menggiurkan kalau saja Wendy tidak dalam mood yang buruk.

 

“Kenapa dengan aku?”, interupsi Chanyeol yang kini semakin membuat gadis itu berdenyit kaget dan hampir saja jatuh terjungkal ke belakang.

 

“Cha..Chanyeol sunbae. Ter..ter..ternyata kau disini.”, sapa Wendy gugup. Chanyeol nampak menatap gadis itu sebentar, kemudian beralih menatap Sehun yang duduk di depan Wendy.

 

“Siapa?”, Tanya Chanyeol sambil duduk di sebelah Wendy. Gadis itu meneguk salivanya sebentar, kemudian mulai memikirkan kata yang tepat. Tunggu, kenapa dia gugup seperti ini? Seperti orang yang baru saja ketahuan selingkuh saja.

 

“Teman sebangkuku.”, jawab Wendy cepat. Chanyeol lantas mengalihkan pandangannya ke aah Sehun lagi. Lelaki bermarga Oh itu nampak tersenyum sungkan.

 

Anyeonghaseyo Sunbae. Aku Oh Sehun, teman sebangku Seunghwan.”, kata Sehun kemudian memperkenalkan diri dengan hormat. Bagaimanapun juga Chanyeol adalah sunbae-nya, belum lagi lelaki Park itu adalah senior yang berpengaruh, bahkan sangat berpengaruh di sekolah ini. Juara Umum, mantan Ketua Osis dan juga muris berprestasi di dalam segala bidang. Siapa yang tidak segan?

 

“Ah, ternyata namamu Sehun. Hmm, bukannya kau hoobae yang sering menemui Irene?”, Tanya Chanyeol lagi, sekedar basa-basi karena seingatnya lelaki bernama Sehun itu memang sering bolak balik kelasnya untuk menemui Irene. Sehun nampak meng-iya-kan dengan gugup.

 

“Sepertinya kau dekat dengan Irene.”, lanjut Chanyeol lagi yang hanya disambut anggukan kepala hingga senyuman kecil dari bibir Sehun. “Dekat? Mungkin. Andai saja Irene tidak menyukaimu sunbae.”, batin Sehun dalam diam sambil memandangi sunbae yang sebenarnya kurang dia sukai itu. Ingat apa panggilan Sehun padanya? Playboy cap kapak tumpul? Tsk, Hoobae yang kurang ajar kan?

 

Drtt..drtt…

 

“Ah, yeoboseyo?”, Chanyeol nampak menganggkat telfon yang baru saja masuk ke telephone genggamnya. Nampak lelaki itu mulai berbincang dengan si penelfon di seberang sana.

 

“Sekarang?”, tanyanya kemudian sambil melirik Wendy yang asyik menundukkan kepala dalam diam. Chanyeol mendengus. “Baiklah, aku ke sana sekarang.”, tutupnya kemudian sambil mematikan sambungan telephone itu.

 

Hmm, sepertinya aku harus pergi. Ada yang kurang beres di klub basket.”, terangnya kemudian sambil menganggkat nampan yang belum dia sentuh sama sekali. Sehun nampak tersenyum terpaksa, sama seperti Wendy yang masih akward dengan kehadiran Chanyeol karena nyatanya mereka memang masih bertengkar.

 

“Kalau begitu aku duluan.”, pamitnya lalu segera berlalu dari 2 manusia yang hanya diam itu. Chanyeol segera berjalan menuju tempat nampan kotor, kemudian meletakkan nampannya di sana. Selesai dengan nampan, lelaki tinggi itu langsung keluar dari kantin. Dia sangat bersyukur kapten basket yang baru -Ten- menelfonnya barusan karena ada masalah dengan formasi team. Dia meringis sendiri, kenapa rasanya sulit duduk di sebelah Wendy setelah semua yang gadis itu lakukan selama beberapa hari ini? Membuatnya ingin segera keluar dan berjalan sejauh mungkin dari Wendy yang kini nampaknya mulai berubah. Ntahlah, Chanyeol sendiri bingung dengan sikapnya sekarang.

 

“Sepertinya pacarmu marah.”, kata Sehun memecah keheningan selepas kepergian Chanyeol. Wendy nampak tersenyum masam.

 

“Sebenarnya kami bertengkar baru-baru ini dan kami belum baikan.”, jawab Wendy jujur. Sehun nampak kaget sebentar, lalu langsung menetralkan ekspresinya lagi.

 

“Bertengkar? Kenapa?”, selidik Sehun lagi. Wendy nampak terkejut, kemudian hanya tersenyum masam seakan berkata kalau itu rahasia.

 

Ah, maaf. Sepertinya aku kelewatan.”, kata Sehun lagi. Wendy hanya tersenyum –lagi-, kemudian mulai menyuapkan buburnya yang sudah dingin ke dalam mulut. Sehun ternyata tidak seburuk yang dia pikirkan. Dia enak di ajak bicara dan lelaki yang cukup sopan pula. Wendy jadi berpikir, darimana Sooyoung, Seulgi dan anak kelasnya yang lain menyimpulkan kalau Sehun adalah anak pendiam dan tidak mau bergaul? Buktinya sekarang Sehun berbincang dengan santai.

 

Berbeda dengan Wendy yang mulai nampak santai dengan kehadiran Sehun. Lelaki bermarga Oh di depannya kini memandangi Wendy dalam diam. Dia mulai membatin sendiri, meyadari kebodohan Wendy selama ini.

 

“Cih, jadi ini yang katanya dia bukan Wendy calon tunanganku? Buktinya 2 murid baru itu memanggilnya dengan nama Wendy, lengkap dengan panggilan nona pula. Lagipula untuk apa bohong padahal sudah jelas-jelas aku melihat fotonya dari appa? Tsk, sepertinya aku harus mencari tau lebih tentang 2 murid baru yang nampaknya kenal baik dengan gadis ini. Lagipula hubungannya dengan Chanyeol si playboy itu juga nampak aneh, ada yang janggal.”

 

Sehun mulai berspekulasi sendiri, kemudian tersenyum miring. Seakan-akan sudah ada rencana matang yang sudah dia siapkan sebagai kejutan untuk gadis pembohong di depannya.

 

—-

 

Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi nyaring. Nampak beberapa orang bahkan seluruh murid di kelas X A itu bersorak riang dalam hati sambil menggerak-gerakkan badannya yang pegal karena pelajaran Kimia yang membosankan dari Kim ssaem. Beberapa detik setelah bel berbunyi, guru bermarga Kim itu langsung mengakhiri pelajaran kemudian pergi dari dalam kelas. Sepetinya gutu itupun bosan mengajar di kelas X A karena sepanjang pelajaran 72% siswanya tertidur. Tsk.

 

Wendy berjalan gontai keluar kelas. Dia menyeret tasnya malas, kemudian berjalan terseok-seok di koridor. Yang dia inginkan sekarang hanya tempat tidur kamarnya. Jujur, selain mengantuk, gadis itu juga baru merasakan efek rolling-nya tadi pagi. Sekarang badannya serasa remuk dan bisa patah seketika, sakit.

 

Berbeda dengan Wendy yang ingin langsung pulang, gadis-gadis di kelasnya kini malah sudah bersemangat mengerumuni meja sudut yang langsung bersampingan dengan koridor, mantan meja Wendy beberapa jam yang lalu.

 

“Taeyong-ah, ayo jalan-jalan.”

 

“Murid baru harus jalan dengan teman baru kan?”


“Taeil-ah, kau juga. Ayo karoke.”

 

“Ani, ani. Taman bermain sepertinya lebih seru.”

 

“Kajjja, kita pergi.”

 

Taeil nampak jengah dengan tingkah murid perempuan di kelasnya itu. Dia nampak menghentakkan kakinya, kemudian berdiri dengan wajah sangar. “Maaf, aku masih ada pekerjaan.”, pamitnya lalu segera pergi dari kelas. Baginya laporan untuk Tuan Son jauh lebih penting daripada menanggapi teman sekelasnya yang centil itu.

 

Sama dengan langkah Taeil yang baru saja keluar dari kelas, kini Taeyong juga berdiri dari duduknya, kemudian tersenyum manis. “Maaf cantik, tapi aku ada urusan sebentar. Mungkin lain kali kita bisa pergi bersama. Arraseo?”, kata Taeyong sambil mengedipkan matanya lalu berjalan keluar kelas. Percayalah, besok pasti kalian mendengar nama baru Taeyong sebagi 2nd Chanyeol yang memang terkenal playboy. Cantik? Ukh, Taeyoung sendiri bergidik ngeri mengingat sepatah kata yang baru keluar dari mulutnya itu.

 

Taeyong berjalan secepat yang dia bisa. Tanpa dia sadari sekarang dia ternyata malah sudah dalam posisi berlari. Tak lama kemudian dia bisa menangkap sosok Wendy, gadis yang dia cari sedari tadi sedang menyebrang jalan . Lelaki itu tersenyum, lalu langsung menyebrang jalan mengejar gadis itu

 

“Wendy.”, panggilnya cepat sesampainya dia di seberang jalan. Yang dipanggil langsung memalingkan kepalanya. Detik selanjutnya Wendy yang tadi berjalan lambat kini sudah berjalan super cepat, hendak menghindari Taeyong. Melihat aksi kabur Wendy, Taeyoung tentu tidak tinggal diam. Lelaki itu segera berlari mengejar Wendy yang kini bergerak semakin cepat.

 

“Kenapa kau berlari seperti ini?!”, pekik Taeyoung setelah beberapa menit kemudian dia sukses menangkap Wendy. Gadis itu nampak kesal, berusaha melepaskan cengkeraman tangan Taeyong di tangan kanannya.

 

“Lepaskan aku Lee Taeyong!”, pekik Wendy tak kalah keras hingga beberapa pejalan kaki lain nampak memperhatikan mereka. Namun apadaya, para pejalan kaki itu tidak menaruh curiga sama sekali. Mereka hanya merasa Taeyong yang tengah menarik paksa Wendy itu sebagai pasangan kekasih yang tengah bertengkar. Padahal nyatanya?

 

“Lepaskan aku!”, titah Wendy lagi. Namun Taeyong sama sekali tidak menggubris teriakan gadis bermarga Son itu, malahan semakin mempererat cengkeramannya.

 

Bruggghhh.

 

Taeyong menghempaskan Wendy ke sudut gang sempit diantara pertokoan di tepi jalan. Wendy nampak bergidik ngeri, belum lagi tangan Taeyong yang mengunci langkahnya sekarang.

 

“Kenapa kau menghindariku?”, Tanya Taeyong to the point. Wendy nampak gugup sekaligus ketakutan karena sikap Taeyong yang masih seperti biasanya, tempramental dan pemaksa.

 

“Jawab aku Son Wendy!”, bentak Taeyong kemudian yang sukses membuat kerja jantung Wendy tidak karuan. Gadis itu mulai mengumpat Taeyong yang seenaknya, kemudian kembali meronta-ronta minta dilepaskan.

 

Bruggghh.

 

Kini tangan Taeyong sudah berada di samping kanan dan kiri kepala Wendy dengan jarak badan yang kurang dari setengah meter, sukses mengunci Wendy sepenuhnya sehingga gadis itu tidak bisa bergerak sama sekali. Kini Wendy bisa mendengar gerak nafas teratur Taeyong yang berbanding terbalik dengan nafasnya yang terpenggal-penggal, nafas yang sangat dia benci.

 

“Karena aku membencimu Lee Taeyong, tak lebih.”, jawab Wendy akhirnya setelah sedari tadi memilih diam. Taeyong nampak kaget sekaligus tak terima dengan jawaban gadis yang hanya berjarak sekian senti darinya itu. Dia semakin mengikis jaraknya dan Wendy, hingga kini ujung sepatu mereka sudah bersentuhan.

 

“Membenciku katamu?”, Tanya Taeyong dengan seringai nakal. Dia menurunkan wajahnya sehingga kini mata nakalnya bertemu langsung dengan mata ketakutan Wendy. Demi Tuhan, maju selangkah lagi dan bibir Taeyong akan menempel sempurna dengan bibir Wendy.

 

“Jawab aku Son Wen…”

 

Brughhhh.

 

Kini sebuah tangan lain sudah bersarang di dinding yang sama , tepat di sebelah tangan Taeyong yang mengunci pergerakan Wendy.

 

“Apa yang kau lakukan?!”, pekik lelaki yang baru datang itu dengan nada marah. Dia menarik kerah baju Taeyong dengan kasar, kemudian menghempaskan lelaki Lee itu ke dinding di depan Wendy.

 

“Siapa kau? Apa hakmu menggangguku, huh?”, pekik Taeyong tak terima, kemudian balas menarik kerah baju lelaki di depannya itu. Mereka saling menatap tak suka, sementara Wendy kini hanya menatap 2 orang lelaki itu dengan pandangan nanar.

 

Brughhhh.

 

 

-To Be Continued-

Curcolan Eki ^^

Biarkan aku bernafas sejenak.

Udah berapa lama epep astral ini gak update? sebulan? Dua bulan? Masih adakah yang nunggu epep yang udah jamuran ini? :v

Maklum, Eki real lifenya lagi sibuk banget sodara, mianhae~

Anggep aja new cover yang tetap jelek ini sebagai hadiah permintaan maaf Eki, wkwk /Plakk/ XD

Ekhm…

Mo bilang apa lagi ya? Bilang kalau kekurang-eksisan Chanyeol di chapter ini gegara Chanyeol udah nikah di real life sama Eki gitu? /PLAKKK/OPEN YOUR EYES EKI!

Ah, sudahlah.

Pokoknya Thanks for reading untuk readers hitam maupun putihnnya Eki (?) (*kalo ada yg baca dan merasa :V)

Salam hangat dari istrinya bang tiang berinisial Park Chanyeol *PLAKKKK/ OPEN YOUR EYES EKI!  (2) XD

 

Cintakuh padamuh ❤

Iklan

91 pemikiran pada “Rooftop Romance (Chapter 14) – Shaekiran

  1. Ping balik: Rooftop Romance (Special Chapter – When it Rains) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s