Ada Apa Dengan Luhan? – Joongie

aadl

Ada Apa Dengan Luhan?

Vignette by Joongie © 2016

Oh Sehun & Xi Luhan as Main Cast + all member EXO

Friendship, Comedy

.

.

Apa yang salah denganku sampai kau menghindariku, Xi Luhan?

Tampan, semampai, memesona, juga berpostur atletis, pemuda itu adalah Oh Sehun dan oh… tentunya, itu aku yang mematut diri pada spion sejak setengah jam lalu. Ini kan, malam minggu—yang dikeramatkan para jomblo—jadi wajar kalau lelaki limited edition sepertiku untuk bersolek. Semprot sana, semprot sini, sisir kanan, poles pomade, lalu sisir ke belakang ala manusia kekinian.

Rambut klimis, style bad boy, serta tampang sok cuek—yang kubuat-buat—serasa memupuk percaya diri ke level tertinggi. Sesempurna mungkin kulenggokkan diri bak peragawan, ketika menuju kesebelas rekan seasramaku yang sudah lebih dulu datang. Alasannya simpel, karena kafe ini bukan cuma milik para JoJoBa—Jomblo Jomblo Bapuk—seperti kami, melainkan ada gadis-gadis bening berkaki jerapah nan bertebaran. Maka, tebar pesona itu mutlak hukumnya.

“Nah, ini dia si anak bawang!” seru Chanyeol sambil membelit leherku, lantas menjentik jambul yang setengah mati kutata. “Oi, Ohse, perlu berapa lama bagimu berdandan, huh? Mau buat kami tua di sini karena menunggumu, ya?”

“Eh, Chan. Memangnya kau tidak tahu, apa? Sebelum sisirnya patah, dia tidak akan berhenti menyisir rambutnya yang seperti ijuk itu,” timpa Xiumin yang dengan sengaja memancing tawa sekomplotan jomblo tua di sini dengan ledekannya.

Begitulah resiko jadi yang termuda, bully itu makanan sehari-hari. Jadi, sambil memberengut kuisi bangku kosong, persis di sebelah Yifan—satu-satunya tempatku berlindung selain Tuhan—yang selalu tersenyum menyambutku, juga menepuk-nepuk bahu ini bila aksi pem–bully­–an semakin menjadi-jadi. And… that is why I call him, “Emak”. Sesuai dengan sifatnya yang seakan jadi penengah dan tahu caranya membujuk anak bungsu.

“Mak, minumanku sudah dipesan? Matcha latte, kan?”

Yifan mengangguk dua kali, lalu menyodorkan apa yang kuminta.

“Apa kalian sudah dengar gosip dari kampus wanita Sodam?” cetus Baekhyun si comel, persis sewaktu buih latte menyentuh filtrumku. “Tahu, kan soal Jang Ji Hyun yang kuceritakan beberapa waktu lalu, yang body–nya seperti gitar Spanyol? Katanya dia sedang mengandung dan tepergok beberapa kali ke motel. Dan kalian tahu bersama siapa?”

“Siapa?” Suho, Tao, dan Lay serentak bereaksi.

Baekhyun memicingkan mata, mengundang setiap kepala untuk merapat, lalu bersuara dengan dramatis, “Pak Ricardo yang juga mengisi kelas di kampus kita!”

What the f@#k! Maksudmu dosen sok killer yang sering mengerjai aku dan Lay mati-matian?” Kai nyaris akan melompat dari kursinya saking antusiasnya, sekon berikutnya gelegar tawanya terdengar. “Mampus! Lihat, kan? Sudah kubilang ada yang tidak beres dari si buncit itu. Dia selalu curi-curi pandang pada rok Yoon Hee yang tersingkap saat quiz minggu lalu.”

“Bukannya kau juga sama?” sahut Lay mematahkan cakap besar si biang mesum, yang langsung direspons desisan sebal oleh Kai.

“Sudah-sudah, jangan terlalu dihayati begitu, nanti kualat,” komentar Yifan sambil menuntun Kai yang nyaris serupa orang kesetanan itu agar duduk kembali. “Biar bagaimanapun dia tetap orangtua yang patutnya dihormati. Lagi pula gosip hanyalah sekedar gosip sampai kita melihat faktanya sendiri.”

Once again, that is why we call him, “Emak”.

“Ya, ya, ya, kalau Emak sudah bicara, kita sebaiknya diam dan mendengarkan. Kalian paham kan, anak-anak?” celetuk Tao yang mimik mukanya tidak sinkron dengan apa yang dicelotehkan, malah terkesan menyiratkan bila Yifan adalah makhluk nyinyir.

Di sinilah aku, terdampar dalam keseruan menjomblo saat melihat Yifan yang berang mengeplak kepala Tao dengan telapaknya yang lebar hingga terpekik. Sampai netraku berserobok pandang dengan Luhan yang langsung buru-buru menatap plafon menghindari sorotku. Dia teman sekamarku yang sudah seminggu ini aneh perangainya.

Setiap bersua denganku, dia akan menegang dan gugup. Atau semisal aku tiba-tiba bergabung dalam keasyikannya bercengkerama dengan anak-anak—seperti saat ini—tawanya spontan menyengap, lalu pura-pura mengabaikanku. Hell yeah, benar-benar merusak mood, bukan? Aku tahu dia pendiam, tapi kalau begini sikapnya seakan mengundang perkelahian.

“Aku ke toilet dulu.” Luhan bangkit, senyumnya kikuk ketika setiap pasang mata menyorotnya—terutama aku nan amat bernafsu mengunyah kepalanya. “Perutku melilit. Eum, yah, aku akan segera kembali.”

“Ya, ya, kami tahu. Pergilah dan lampiaskan semuanya sampai tuntas, Kawan,” tukas Chen sambil menjepit hidungnya, antisipasi jikalau bau tak sedap mulai mencemari udara.

Dan setelah peredaran Luhan menghilang dari pantauan, aku segera mengambil alih atensi mereka dengan cetusan, “Apa kalian merasa ada yang aneh dengan sikap Luhan akhir-akhir ini?”

“Aneh bagaimana?” Chanyeol yang duduk mengangkang di kursi paling sudut menyahut, “Menurutku biasa saja, dia masih Luhan yang irit bicara. Kalau dia mendadak melakukan harlem shake sampai kejang-kejang di sini, baru aneh namanya.”

“Kau bisa serius tidak, sih? Maksudku, apa hanya sikapnya padaku yang berubah? Akhir-akhir ini dia terus menghindariku dan cara dia melihatku—” Kujedakan sejenak guna melebarkan mata sipitku sebagai improvisasi. “—begini, seperti melihat setan! Dia juga selalu berangkat duluan dan tidur lebih awal. Parah, kan? Aku benar-benar dijadikan makhluk halus.”

Sepenuhnya kusadari, bila penekanan tiap kata dalam ceritaku barusan terkesan menghasut. Tapi—ah, peduli setan! Toh, aku sudah terlanjur kesal dan curhat umum ini bisa dianggap penyaluran emosi. Jadi, sekarang aku menunggu respons sepuluh manusia di sini setelah aku—secara terang-terangan—mengumpat Luhan di depan mereka.

“Entah kenapa, menurutku kalian malah mirip pasangan suami–istri yang pisah ranjang. Sudahlah Hun, sana bujuk istrimu yang sedang merajuk itu, lalu berbaikan dan hidup harmonis lagi,” seloroh Xiumin lagi-lagi, yang segera kubalas dengan melemparkan bantal sofa bertubi-tubi.

“Istri, gundulmu!”

“Jadi, kenapa tidak kautanyakan langsung padanya?” saran Yifan yang kembali mendinginkan suasana, serta membuatku berpikir ulang.

Benar juga, aku terus berspekulasi tanpa terpikir untuk menanyakannya.

“Berikan aku kopi,” titahku kepada Kyungsoo yang sigap menyerahkan segelas americano milik Chen. “Biar aku selesaikan semua ini secara jantan.”

“Perlu tambahan sianida?” tawar Kyungsoo menggenapi, pemuda bertampang polos dan genius ini benar-benar sesuatu. Sampai sering kali membuat kami bergidik meneguk ludah atas usulnya.

“Tidak, tidak usah. Kan sudah kubilang, akan kulakukan secara jantan!”

—♥♥♥—

“Se—Hun?”

Tercetak jelas ekspresi kelabakan di wajah Luhan sewaktu mendapatiku yang bersandar di dinding lorong dengan santainya. Sejujurnya, berpose sambil menyesap kopi begini membuatku merasa jadi agen rahasia seperti di film-film Barat. Mungkin akan lebih perfek kalau kopi ini diganti dengan rokok dan kukenakan kacamata hitam.

Aaah—apa yang kukhayalkan? Fokus Oh Sehun!

“Kau sengaja menghindariku, kan?” Dengan tatapan mengintimidasi, kuderapkan langkah merapat, lantas memepet Luhan sampai tersudut. “Kenapa kau terus-terusan menghindar? Memangnya aku ini virus mematikan?”

Tanpa balik memandangku, Luhan menjawab dengan suara yang nyaris seperti angin kentut, “A–aku tidak mengerti apa yang kaubicarakan.” Kemudian meremas perutnya sambil meringis. “Aduh, perutku mulas lagi, mungkin aku diare. Bi–bisa beri aku jalan, Sehun?”

“Oi, Xi Luhan! Kuulang sekali lagi. Kau punya masalah denganku? Kau tidak senang sekamar denganku? Kalau iya, bilang! Jangan seenaknya membuatku risih dengan sikapmu yang mengasingkanku begini!”

Plok! Gelas kertas berisi kopi yang sedari tadi kupegang, sengaja kujatuhkan sebagai bentuk gertakan, juga menunjukkan kalau aku tidak sedang main-main. Jadilah kedua tanganku kutumpukan ke dinding, menjebaknya dalam kuasaku utuh. Ya, meski aku tahu posisi ini memang menjijikkan jika dilakukan dua pejantan tanggung.

“Astaga! Sehun! Luhan!” laungan bariton Suho menggempur gendang telingaku dalam sekejap—yang juga entah dari mana munculnya manusia ini. “Aku tahu kalian lelah menjomblo sejak lahir, tapi ini sungguh tidak benar. Adam itu ditakdirkan bersama Hawa, bukannya main serong begini.”

“Hei, ini tidak seper—”

“Sudah, jangan banyak bicara. Lebih baik temui Emak dan yang lain dulu, biar kalian dibimbing kembali ke jalan yang benar!” tegas Suho sambil menepuk-nepuk bokong kami agar bergerak maju, seperti peternak menggiring bebek.

Oh, ayolah, ini menjatuhkan pasaranku.

“Emak! Kau tahu apa yang mereka lakukan tadi?” ujar Suho kepada Yifan yang terheran melihat kami yang diperlakukan bak maling sendal. “Mereka nyaris berci—hmp!

Beruntungnya Luhan bertindak gesit, menjelit dan membekap mulut Suho sebelum bicara macam-macam. “Bercin, maksudnya bersin. Haha, Suho kau tidak cocok cadel begitu.”

“Ya ampun, Suho. Sepertinya kau terlalu banyak menonton ‘Pororo’ sampai bicaramu jadi sok imut begitu,” imbuhku sembari merangkul Suho dengan amat–sangat–erat.

“Kalian kenapa? Berangkulan bertiga seperti trio maho saja,” repet Kai yang baru saja kembali membawa botol cola kosong yang dipukul-pukulkannya ke tangan bagai preman. “Aku sudah dapat botolnya, jadi mau main ‘truth or dare’ , kan?”

Dan kami bertiga berpandangan satu sama lain, lekas berjauhan, serta memasang raut jijik. Pokoknya, saat pulang nanti kupastikan untuk keramas dua kali dan berdoa agar Tuhan menyucikan diriku kembali.

—♥♥♥—

Kami, para JoJoBa berkumpul mengelilingi meja seakan sedang melakukan malam keakraban di depan api unggun. Xiumin, bertindak sebagai yang tertua memutar botol kaca itu dengan semangat Super Saiyan 4.  Botol itu mulanya berputar kencang, namun semakin lambat dan lambat, paradoksal akan debar jantung tiap-tiap dari kami nan mulai harap-harap cemas. Percayalah, jika kau laki-laki dan memainkan permainan ini, kalau memilih “truth” maka aibmu akan dibongkar habis-habisan, sebaliknya bila memilih “dare” siapkan mentalmu untuk dapat aib baru.

Dag… dig… dug… dan siapa nyana malah tertuju pada Luhan.

Truth or dare?” tanya kami serempak.

Seribu persen aku yakin, saat ini pori-pori Luhan tengah memproduksi keringat dingin yang membongkah seukuran bulir jagung. “Um, kupikir truth saja,” jawabnya ragu.

Habislah kau, Luhan.

“Aku duluan!” seru Lay yang langsung merangkak memepet Luhan. “Jawab dengan jujur, apa kebiasaan yang sering kaulakukan diam-diam saat di kamar mandi?”

Lay dan Kai, dua berandalan berotak mesum itu saling melirik satu sama lain, kemudian terkikik oleh isyarat yang hanya dimengerti oleh keduanya.

“Um…” Luhan memandang berkeliling, menahan muntahan aib di ujung lidahnya selama beberapa saat. “Mencium bau keringatku sendiri di pakaian kotor sebelum kucuci.”

“Ewh, jorok!” tukas Chen si maniak kebersihan.

Sewaktu suasana berangsur kondusif, sekarang giliranku menyerang. “Boleh aku yang bertanya selanjutnya?”

Keriuhan dalam gerombolan kami spontan lenyap.

“Jadi, Xi Luhan, coba jawab aku. Kau punya dendam pribadi terhadapku, ya? Kenapa menghindariku sampai segitunya? Memangnya kau anggap aku ini apa?” Kusuarakan tanya itu dengan elegan, selayaknya perempuan yang meminta kejelasan hubungan setelah sekian lama digantung.

Luhan menggeleng cepat.

“Cuma gelengan? Suaramu mana?”

“Sebenarnya, aku tidak punya masalah denganmu. Hanya saja…”

“Hanya apa?!”

Yifan mulai mengusap-usap dadaku, menyadari vokalku yang meninggi beberapa oktaf. Sementara Tao dan Kyungsoo bersiap jadi tameng, kalau-kalau aku menggila, lalu menerkam dan menggerogoti kepala Luhan sampai keropos.

“Han, kuharap kau tidak akan mengatakan yang aneh-aneh,” sela Suho, menatap koleganya penuh harap, juga merinding oleh atmosfer yang membara.

Akan tetapi, apa yang dilakukan Luhan sungguh mencengangkan. Dia bangkit mengitari meja, lalu menghampiriku dan berlutut tanpa berani menampakkan wajah. “Jujur setiap kali aku melihatmu—apalagi saat kau tersenyum—aku jadi merasa bersalah. Hun, ampuni aku. Sebenarnya… seminggu yang lalu tanpa sengaja aku menjatuhkan sikat gigimu ke lobang kloset, lalu buru-buru meletakkannya kembali tanpa mencucinya saat kau masuk.”

Apa?

“Super sekali!” tandas Baekhyun menirukan aksen motivator kawakan sambil berdiri dan menggeleng-geleng takjub. Semuanya syok, terutama aku yang mendadak merasa prosesor di kepalaku jadi macet.

Sikat gigiku…

Jatuh…

Ke kloset

Yang biasa digunakan untuk pup

Tanpa dicuci kembali…

Berarti selama ini aku…

DUAR! Otakku rasanya bagaikan roket yang lepas landas dari tempurungnya.

“XI LUHAN! KAU @#$%^*!”

—Fin—

Pukpuk Sehun sian sikat giginya nyemplung ke weseh😄

Okay, ditunggu feedbacknya, jangan biasakan jadi silent reader dan beritahu aku kalau kalian menemukan typo❤

23 thoughts on “Ada Apa Dengan Luhan? – Joongie

  1. Njir_-! Pecah! Gua gulung2 sendiri setelah liat kebenarannya!!!! Gak nyangka endingnya bakalan kyk gitu, gua kirain apaan….. eh ternyata…
    Hahahaha…. pecah dah!!! 100 buat si author!!!

  2. apa ini ak-ak-aku gak nyangka ceritanya kek gini super lucu wkwk #TertawaDiAtasPenderitaanaSehun
    aku kirain luhan sk sm sehun aku udah mikir kemana-mana juga dan ternyata luhan punya dosa ke sehun makannya dia gak bs lihat sehun apalagi tersenyum kkkkk. …. suka ah……ffnya…aku reader br di ff ini salam kenal dan ijin baca ya….

    • Seneng bisa bikin kamu ketawa, aku malah sempat mikir ini garing hahaha
      Hai, salam kenal juga ya, aku juga admin baru di sini😉
      Kamu selalu dipersilakan untuk baca karya di sini kok❤

  3. Dari awal baca gue suka diksi ama gaya penulisannya gak bosenin rapi terus ngalir, tambah lagi ending nista gini njir kaya matahin tebakan gue dariawal kalau Luhan naksir Sehun makanya salting 😂
    Good job thor gue setuju kalau dibikin series, just saran 😊

  4. bhahahakk hasyu emang sialan dasar kampret jin tomang dasar keset wese cenayang dasar emg anak buah jamban sooman wkwkwkk
    #sembahjambansooman
    btw ane geli sendiri sama laily disini otakny pervert whahaha ngakak weh biasany pan icing le to the mot wkakaka

  5. HAHAHA gokill😀 kirain luhan suka sm sehun, taunyaaa? Wkwk ternodai mulutmu dgn sikat gigi itu hun hahahaha😀 knp cerita ini gak dibuat series kak? Suka dgn ceritanya, sukses!😉

    • Jiakaka semoga ga ada efek sampingnya ya ama Sehun😄
      Sebenarnya ini series dan untuk uji coba aja diterbitkan satu aja dulu mau liat pasarannya gimana haha, jadi ada 12 cerita tentang masing” member😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s