My Cinderella Chapter 9 [Who Will You Choose?] – HyeKim

mycinderellacover

My Cinderella Chapter 9

└ Who Will You Choose? ┘

A fanfiction Written by HyeKim ©2016

Starring With : Hyerim (OC) as Oh Hyerim || Luhan as Xi Luhan || Victoria f(x) as Victoria Song  || Changmin TVXQ as Shim Changmin || Yuri SNSD as Kwon Yuri || L INFINITE as Kim Myungsoo

Genre : Romance, Comedy, School life, Friendship || Rating : PG-15 || Lenght : Multi Chapter

Summary :

Bagi Luhan, Hyerim adalah Cinderella dalam hidupnya. Cinderella yang terlahir dari keluarga berada, mempunyai ibu dan sudara tiri yang menyayanginya. Tapi, Sang Cinderella merasa kesepian. Apakah bisa perbedaan antara Luhan dan Hyerim menyatukan keduanya dalam hubungan cinta?

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.


“Pilih dia atau aku?”


PREVIOUS : 

Teaser || Chapter 1 The Rich Girl] ||  Chapter 2 [Be Her (boy)friend] || Chapter 3 [I’ll Protect you || Chapter 4 [What’s Wrong With Her?]  || Chapter 5 [Perfect Guy For Her] || Chapter 6 [Love and Friendship] || Chapter 7 [Behind Story of Cinderella] || Chapter 8 [Sound of Heart] || (NOW) Chapter 9 [Who Will You Choose?]

HAPPY READING

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

 

Hyerim benar-benar sudah dilanda rasa bosan. Angin malam terus menggelitik kulit putih bersihnya. Tangannya terangkat memeluk kedua lengannya. Kepalanya tertoleh ke kanan dan ke kiri, tak ingin melewatkan bila sosok Luhan hadir di hadapannya. Sambil mengerucutkan bibirnya, Hyerim berjalan menjauhi taman di depan gang Luhan. Matanya seketika melebar melihat sebuah kedai kecil di pinggir jalan.

“Kedai soju?” gumam Hyerim kemudian menyunggingkan senyum tipis dengan raut cerah walau setitik. “Tak masalah juga aku minum sambil menunggu Luhan.” Hyerim pun langsung menggeret langkah menuju kedai yang masih ramai tersebut.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Ketika bus berhenti di halte jurusan rumahnya, Luhan langsung meloncat turun dan berlari masuk menyusuri gang rumahnya. Dirinya tahu Hyerim pasti masih terjaga maka saat Luhan membuka pintu rumahnya, lelaki itu langsung berseru memanggil nama Hyerim namun tak ada jawaban. Ketika mengedarkan pandangan ke segala penjuru pun, sosok Hyerim tak berhasil ia temukan.

“Di mana dia?” rasa khawatir mulai menyapa Luhan, ia pun segera menarik kaki keluar rumah untuk mencari gadis itu tak lupa dengan ponsel yang terus menghubunginya ke nomor Hyerim. “Ayolah Hyerim, angkat,” gumam Luhan sambil mengemut ujung jempolnya, Luhan sudah berada di pinggir jalan dekat gang rumahnya.

Ketika masih mencari signal keberadaan Hyerim serta sambungan yang tak terhubung pada nomor gadis Oh itu, netra Luhan seketika terjatuh pada kedai yang berjarak beberapa meter di sampingnya. Banyak beberapa pria tua yang masih setia minum di sana, namun yang menarik Luhan untuk memperhatikan kedai itu adalah sosok perempuan bersurai hitam panjang yang sedang menuangkan botol soju ke gelas mini di depannya. Kaki Luhan tanpa sadar sudah mendekat ke kedai tersebut, matanya langsung melebar ketika menyadari siapa sesungguhnya sosok tersebut.

“Oh Hyerim?” pekik Luhan yang langsung berlari masuk kedai dan menghampiri tempat duduk Hyerim, tampak gadis itu sudah kehilangan setengah kesadarannya akibat efek alkohol yang merajalela ditubuhnya.

 

“Hmmm… kamu siapa?” Hyerim bertanya dengan mata setengah terpejam ketika Luhan duduk di sampingnya dan menyentuh pundaknya. “Ah wajahmu cukup tampan juga,” gumam Hyerim sambil menangkup wajah Luhan dan menariknya untuk mendekat kewajahnya.

Pujian Hyerim dengan keadaan setengah sadar itu sukses menciptakan getaran dihati Luhan. Lelaki tersebut membatu seketika ketika Hyerim meraba permukaan wajahnya dengan manik mata polosnya, lalu gadis ini pun tertawa tanpa suara membuat Luhan mengerjap diiringi bola mata berkedip-kedip beberapa kali. Beberapa detik selanjutnya, kepala Hyerim sempoyongan dan jatuh dibahu Luhan.

“Oh ya Tuhan,” Luhan mendesah frustasi.

Setelah membayar uang minum Hyerim, Luhan pun menggendong Hyerim dengan gaya bridal menuju rumahnya. Tak disangka, tubuh Hyerim yang kelihatan mungil ternyata sangatlah berat ketika digendong Luhan detik ini. Beberapa kali Luhan membenarkan posisi gendongannya dan menghembuskan napas kelewat lelah.

“Oh Hyerim, kenapa kamu jadi begini?” Luhan menggerutu sambil menatap putus asa Hyerim. Gadis itu tampak sudah terlelap dengan tangan melingkar dileher Luhan serta wajah mendekap kedada bidang Luhan.

 

Akhirnya perjuangan Luhan membuahkan hasil. Dirinya langsung berjalan cepat memasuki rumahnya lalu menghela napas berat kembali. Hanya kamarnya yang berjarak dekat ruang tamu sementara kamar adiknya berada di sisi belakang dan Luhan merasa tak sanggup bila membawa tubuh Hyerim menuju kamar adiknya. Tak ada pilihan lain, Luhan membawa tubuh Hyerim ke dalam kamarnya dan dirinya akan tidur di ruang tamu.

“Akhirnya,” Luhan menghela napas lega ketika berhasil membaringkan tubuh Hyerim di ranjang kamarnya. Luhan menatap paras manis Hyerim dengan senyum lelah kemudian dirinya berniat melepaskan alas kaki gadis ini.

Ya! Jangan sentuh aku!” teriakan Hyerim membuat Luhan terlonjak kaget. Dengan mata melebar dan sudah jatuh terjembab di lantai, Luhan memperhatikan gerak-gerik Hyerim yang sudah duduk di atas ranjang dan menatap Luhan tajam. “Ah dasar pria cabul! Kau juga membawaku ke kamarmu? Kau memanfaatkan aku yang mabuk ya? Cepat mengaku!” Hyerim berteriak sambil menunjuk Luhan dengan tatapan menghunusnya.

Luhan jadi kelabakan dengan teriakan Hyerim, dirinya takut adik atau ibunya atau mungkin tetangganya bangun dan menemukan hal ini. Maka kesalah pahaman akan terjadi dan itu akan sangat gawat. Luhan melangkah perlahan untuk duduk di atas ranjang dan tepat di sebelah Hyerim disertai telunjuk didepan mulut dan hidungnya agar gadis tersebut tidak berisik.

“Kumohon jangan berisik, Hyerim-ah,” Luhan berbisik sambil mendesiskan kata ‘Sstt’ agar Hyerim diam. Namun respon gadis itu malah menatapnya dengan napas menderu dan tatapan marah.

“Kau pasti penguntit! Dasar kau pria cabul!” Hyerim berteriak dahsyat kembali dan kali ini memukuli kepala Luhan membuat lelaki itu berusaha menyingkirkan tangan Hyerim sambil mengaduh kesakitan.

“Hyerim, berhenti!” seru Luhan namun Hyerim terus memukulinya dengan mengatainya penguntit dan cabul.

Luhan pun jadi kewelahan dan untungnya Luhan akhirnya bisa meraih tangan Hyerim dan mecekalnya kuat. Keduanya berpandangan dengan napas Hyerim yang tersenggal namun terlihat masih marah pada Luhan. Dalam hati Luhan mengumpat akan Hyerim yang mabuk karena alkohol detik ini membuat gadis bermarga Oh ini tidak mengingatnya.

“Mau apa kau cabul?!” teriak Hyerim berhasil membuat Luhan memejamkan mata dengan gendang telinga berdenging. Dan saat itu juga Luhan mendengar suara berisik dari luar, hal itu membuat Luhan dilanda panik akan tetangganya yang mendengar teriakan Hyerim lalu berniat melihat apa yang terjadi.

“Hyerim, kumohon diam,” bisik Luhan sambil menatap Hyerim dengan sorot tajam tanda memohon.

“Dan setelah itu kau bebas melakukan apapun padaku? Tentu tidak!” seru Hyerim membuat Luhan memejamkan mata sesaat serta dilanda frustasi. Dirinya tanpa sadar meremas tangan Hyerim yang ia cekal, membuat gadis itu memekik dan berteriak. “Dasar cabul! Lepaskan tanganmu!” Luhan pun mencengkram erat tangannya dan menatapnya tajam.

“Diam dan jangan berteriak, atau aku yang akan mendiamkanmu!” ucap Luhan tajam tapi tak menggentarkan pertahanan Hyerim yang makin menatapnya menyalang.

“Kalau kau ingin melecehkanku, aku tidak akan─” Hyerim kembali berteriak namun langsung teredam ketika tangannya tertarik membuat tubuhnya ikut tertarik juga, detik itu juga Luhan mencium bibir ranum Hyerim dan gadis itu tampak melebarkan matanya.

Hyerim meronta dalam ciuman tersebut sampai memukul bahu Luhan beberapa kali. Namun Luhan malah menekan bibirnya untuk memperdalam ciuman keduanya, Luhan mulai memiringkan kepala dan melumat bibir Hyerim. Dengan pengaruh efek alkohol juga, Hyerim membalas ciuman Luhan hingga tanpa disadari Luhan sudah mendorong tubuh Hyerim hingga berbaring di ranjang. Luhan menahan tubuhnya menggunakan kedua tangan yang ia taruh dikedua sisi kepala Hyerim agar tidak menindih tubuh gadis itu. Ciuman tersebut terus berlanjut dengan Hyerim yang balas melumat lembut bibir Luhan sampai finalnya Luhan menjauhkan wajahnya membuat tautan keduanya terlepas.

Setelah itu, Luhan menatapi wajah Hyerim dan Hyerim pun melakukan timbal balik yang sama dengan napas keduanya yang tersenggal-senggal. Acara saling menatap itu berusaha Luhan hentikan dengan menelan ludahnya gugup, dirinya lelaki normal yang pasti dikeluti perasaan membuncah dengan posisinya sekarang bersama Hyerim. Namun gadis itu hanya menatapnya seakan tak terjadi apapun.

“Selamat malam, tidurlah yang nyenyak,” ujar Luhan dengan raut gugupnya dan jantung yang berdetak keras. Lalu dirinya mengecup perlahan mata Hyerim yang langsung memejamkan mata ketika Luhan melakukannya.

Setelah itu, Luhan langsung beranjak dari posisinya dan berjalan keluar kamar. Hyerim memandangi punggung lelaki itu hingga pandangan matanya memudar dan kepalanya mulai pusing bukan kepalang akibat soju yang banyak ia konsumsi. Setelah itu, Hyerim pun langsung menjelajahi bunga tidurnya.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Pagi menyapa Hyerim yang langsung terbangun ketika seberkas cahaya menyerobot masuk mengenai matanya. Kepalanya berat luar biasa akibat alkohol yang ia konsumsi semalam, Hyerim pun mulai mendudukan badannya di atas ranjang dan merenggangkan otot kepala ke kanan serta kiri. Tangannya terangkat memegang sisi kepalanya lalu mendesah ketika kepalanya malah berdenyut sakit.

“Akh, kenapa aku tidak ingat apapun,” keluh Hyerim dengan mata terpejam namun ketika kornea matanya terbuka, sekelebat bayangan merasuki kepalanya membuat mata Hyerim melebar seketika dengan mulut terbuka. “Luhan… dia…” gumam Hyerim tak sanggup melanjutkan ucapannya sambil memandang ke sekitar lalu dengan langkah tergesa keluar dari kamar.

“Oh, Hyerim? Sudah bangun? Luhan sudah berangkat pagi-pagi sekali,” suara Ibu Luhan langsung menyapa Hyerim ketika tiba di ruang tengah dengan kelimpungan.

“Dia sudah berangkat? Kenapa meninggalkanku?” desah Hyerim.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Hari ini sekolah berjalan layaknya hari-hari biasanya, namun Luhan merasa dirinya cukup kesepian. Ketika Hyerim menampakan batang hidung memasuki kelas, sejak itulah acara menjauhi gadis itu Luhan mulai. Dirinya terlalu malu atas apa yang telah ia lakukan pada sahabatnya itu. Di sisi lain, Jonghyun dan Joohyun malah asyik bermain gitar di bawah rindangnya pohon maple di halaman belakang sekolah. Sementara Yuri, setelah pengakuannya itu, Luhan jadi dibuat bimbang oleh gadis itu.

Detik ini Luhan putuskan untuk duduk di bawah rindangnya pohon cemara di pinggir lapangan. Melepaskan penatnya akan dua gadis yang terus bergentayangan dibenaknya. Ketika Luhan masih nyaman-nyamannya memperhatikan anak sekolahnya bermain voli, langkah kaki gusar memasuki indera pendengarannya.

Ya! Lelaki cabul!” Luhan langsung tersentak mendengar teriakan tersebut dengan suara khas yang sudah terekam jelas diotaknya. Kepala Luhan tertoleh dan langsung disuguhkan Hyerim yang mengatur napasnya yang tampak sehabis lari marathon.

“KAU GILA MELAKUKAN ITU DI KAMARMU HAH?!” Hyerim berteriak membuat Luhan terlonjak hampir terjatuh dari duduk nyamannya. Efek teriakan dahsyat tadi ialah semua pasang mata menatap keduanya penasaran.

“Me…lakukan…apa?” balas Luhan sedikit gugup dan malu. Sungguh ciuman tadi malam itu diluar kendalinya karena Hyerim terus berteriak dan mengatakan dirinya seakan ingin memperkosa gadis manis yang ada di hadapannya sekarang.

Hyerim membuang napas sambil menatap Luhan tajam. “Kamu kira aku ingin mengatakannya? Tentu tidak, itu memalukan.”

“Kamu harus tahu, aku melakukannya karena kamu tidak bisa diam. Alkohol sialan yang membuatmu mabuk itu menyebabkan kamu tidak mengingatku tahu.” Luhan balas menatap Hyerim walau terselimuti rasa malu.

Hyerim menghembuskan napasnya yang tersenggal, lalu dengan langkah lebar mendekati Luhan yang reflek berdiri. Keduanya bertatapan dengan Hyerim yang sedikit mendongakan kepala agar netranya resmi bersibobrok dengan netra milik Luhan. Hari ini perasaan Hyerim kacau balau karena ciuman tadi malam.

“Kamu memanfaatkan aku yang mabuk dan melakukannya. Maka aku akan membalasnya sekarang,” balas Hyerim mengakibatkan Luhan tersentak dan berusaha mencerna masuk perkataan gadis ini.

Namun sebelum otaknya memprediksikan, Hyerim dengan cepat menarik kerah baju Luhan membuat lelaki itu sedikit membungkuk. Dan dengan gerakan langsung, Hyerim mencium bibir Luhan. Semua orang di sana membuka mulut hingga rasanya rahang mereka semua nyaris copot dengan adegan berani Hyerim dan percakapan ambigu keduanya. Setelah kesadarannya kembali, Luhan langsung mendorong tubuh Hyerim membuat tautan tadi terlepas.

“Apa-apaan kamu ini?!” pekik Luhan tak terima sambil mengusap kasar bibirnya dengan telapak tangan serta tatapan tajam pada Hyerim.

Hyerim tampak mendengus dengan tangan terlipat didepan dada, lalu dirinya membalas ucapan Luhan. “Yak! Mengaku saja malam itu di kamarmu, kamu melakukannya padaku untuk pertama kalinya kan? Kenapa saat aku menyerangmu lagi kamu harus marah?”

Hyerim terus saja berteriak padahal Luhan sudah malu karena banyak sekali orang-orang di sekitar lapangan. Tapi gadis itu malah memutar badan dengan cuek lalu mulai berjalan menjauh. “Itu pembalasanku atas perlakuanmu padaku di kamarmu.” Hyerim berujar sambil melambai tanpa berbalik.

Sepeninggalan Hyerim, Luhan mendesah frustasi sambil melirik sekitar yang menatapnya penuh minat. Kemudian dirinya menggumam sambil berkacak pinggang. “Gadis itu sinting atau bagaimana melakukan hal seperti tadi?”

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Oh Hyerim!” teriakan memekikan indera itu nyaris membuat jantung Hyerim copot. Saat ini Hyerim sedang mencuci tangannya di wastafel kamar mandi sekolah, dirinya langsung melongokan kepala ke pintu masuk kamar mandi akibat teriakan Joohyun tadi.

Tampak gadis Seo itu mengatur napas dengan satu tangan dipinggangnya. Lalu dirinya menatap Hyerim yang tampak bingung. “Kamu… mencium Luhan di lapangan tadi?” tanya Joohyun dan dalam hati berharap bahwa desas-desus yang ia dengar salah.

Namun harapan itu pupus sudah dengan anggukan Hyerim diiringi wajah polosnya. “Iya, kenapa?”

Ya Tuhan, gadis ini malah balas bertanya membuat Joohyun tak habis pikir. Sambil memijit pelipisnya yang mendadak pening dengan kepala menunduk, Joohyun pun lantas berkata. “Kamu akan mendapatkan masalah, Hye.” kemudian Joohyun menatap Hyerim prihatin.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Malam menyapa Hyerim yang termenung di balkon rumahnya, angin malam menyisir kulit putih bersihnya membuat Hyerim memeluk lengannya sendiri lantaran kedinginan. Dirinya menghembuskan napas seraya menekuk lutut dan melipat tangan diatasnya diiringi dagunya yang bertumpu. Hyerim resah, entah kenapa.

“Hyerim-ah,” panggilan suara milik Victoria itu membuat Hyerim menoleh ke belakang dan tampak Victoria tersenyum ke arahnya lalu berjalan masuk serta ikut duduk di dipan sama halnya dengan Hyerim. “Tidak dingin?” pertanyaan Victoria malah direspon bola mata memutar malas dari Hyerim namun dirinya hanya menampilkan senyum tipis.

“Memikirkan Luhan ya?” Victoria tersenyum ketika menanyakannya apalagi ketika Hyerim salah tingkah dan menggaruk-garuk belakang kepalanya sambil sedikit menunduk. Victoria pun geleng-geleng lalu berkata. “Kamu benar-benar ya. Mana bisa dirimu mencium seorang lelaki seperti itu?”

Hyerim mengangkat kepalanya dengan binar mata takut-takut dan raut gugup. “Aku hanya membalasnya!” ucap Hyerim nyaris berseru.

Hyerim tampak menggerak-gerakan kepala gugup sementara Victoria menatapnya dalam penuh arti. “Kamu menyukainya?” tembak Victoria mengakibatkan Hyerim menatapnya dengan mata melebar. Lagi, Victoria hanya tersenyum. “Kamu pasti sangat menyukainya.”

Membatulah Hyerim tatkala Victoria menfrasakan hal tersebut. Bola matanya jatuh memandang dipan yang ia duduki, seketika sekelebat bayangan Luhan dan dirinya bermunculan diotak Hyerim. Keduanya tertawa, beradu argumen, dan melakukan hal lainnya bersama-sama. Sejak itu pula Hyerim mulai melupakan perasannya pada Changmin, seakan lenyap tak berbekas disisi mana pun relung hatinya. Malam ini Hyerim menyadari akan sesuatu. Ya, dirinya menyukai Luhan.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Luhan benar-benar dibuat frustasi akan tingkah Hyerim di lapangan belakang sekolah tadi. Gadis itu seenaknya mencium Luhan dan berteriak-teriak layaknya orang kesetanan, yang mendengar frasa yang diserukan oleh Hyerim pasti akan salah paham apa yang terjadi diantara keduanya.

‘Tring!’

Getaran ponselnya membuat Luhan mengalihkan intensinya pada benda tersebut dan membuka inbox pesan yang tertera ID kontak Yuri. Luhan menghembuskan napas sejenak sebelum membuka isi pesan tersebut.

‘Ayo kita bertemu di taman biasa, ada yang ingin kubicarakan’

Luhan menghela napasnya sejenak lalu memasukan ponsel kesakunya tanpa membalas pesan Yuri, setelah itu dirinya mengambil jaket yang tergantung di belakang pintu kamarnya. Dengan bermodal izin ada teman yang ingin menemuinya pada Sang Ibu, Luhan pun berangkat ke tempat yang dimaksud oleh Yuri.

Nuna.” Luhan memanggil sebutan tersebut tatkala menyapai tujuannya yakni sebuah taman dengan beragam permainan serta dikelilingi pohon bunga sakura.

Tampak di salah satu ayunan di sana yang Yuri duduki, gadis tersebut kelihatan asyik memainkan kelopak bunga sakura yang jatuh kepahanya. “Eoh? Luhan-ah?” Yuri mengangkat pandangan kepada Luhan dengan senyum merekah. “Wasseo? (kau sudah datang)” Luhan tak menyahut dan memilih duduk di ayunan tepat di sebelah Yuri.

Tak ada yang buka suara, bahkan Yuri yang mengajak bertemupun tampak asyik dengan dunianya sendiri akan kelopak bunga yang singgah diroknya. Luhan memandangnya dari samping penuh arti, merasa diperhatikan, Yuri menengokan kepalanya dan detik itu pula senyum cerahnya luntur.

“Katanya ada yang ingin nuna bicarakan,” ujar Luhan akhirnya dan tampak Yuri menelan ludahnya sebentar dengan pandangan mata menerawang ke bawah.

Maja, (benar)” Yuri bergumam membuat dahi Luhan berkerut. Seperkian detiknya, Yuri mengangkat kepala menatap Luhan dengan bola mata berkilat. “Benar, kamu mencintainya.”

Dahi Luhan tambah berkerut bingung dengan tatapan bertanya-tanya, sementara Yuri seakan menatapnya dengan tatapan penuh luka serta tersenyum paksa. “Hyerim…” nama itu tersebut dari bibir Yuri menyebabkan Luhan menegang seketika. “Kamu menyukainya kan?” tanya Yuri dengan tatapan dalam dan Luhan pun membatu seketika.

Nuna…” Luhan berusaha mengeluarkan suatu perkataan namun tercekat dikerongkongannya dan Yuri tampak menghela napasnya.

“Mungkin kamu akan mengataiku bodoh tapi cinta datang tidak menentu. Ketika hatimu memilih lari dariku, saat itu juga aku mulai menoleh padamu,” kata Yuri dengan senyum pahit dan Luhan memandangnya dengan bola mata melebar. “Lu, aku ingin mengajukan satu pertanyaan padamu,” Yuri menatap Luhan lekat begitupun sebaliknya, gadis Kwon itu menarik napas lalu menghembuskannya. Kemudian dirinya mulai menanyakan sesuatu yang membuat Luhan diambang kelinglungan.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Hyerim berjalan memasuki gerbang sekolahnya seperti biasa, dirinya mencoba bersikap rileks akan kejadian kemarin yang sangat otaknya tak bisa kendalikan. Hyerim bersenandung ria seakan tak terjadi apapun walau banyak yang menatapnya sedari ia melangkahkan kaki masuk. Hyerim pun berusaha mengabaikan tatapan orang lain hingga ketika dirinya berbelok ke arah kelasnya, sebuah ember penuh air melayang padanya membuat mulut Hyerim terbuka lebar.

‘Byur!’

Mata Hyerim reflek terpejam ketika guyuran air dingin itu membasahi seluruh tubuhnya, tawa licik di sekitarnya terdengar disertai tepuk tangan seakan menyambut sebuah kemenangan olimpiade. Hyerim perlahan membuka kelopak matanya dan mendapati Seungah bersama temannya yang lain tertawa puas, Hyerim memicingkan mata menatap gerombolan itu.

Ya! Berani-beraninya kau!” seru Hyerim sambil menunjuk Seungah terang-terangan dengan napas terpenggal. Yang ditunjuk tampak berkacak pinggang dengan dagu terangkat angkuh.

“Masih saja melawanku padahal dirimu tahu dosa apa yang telah kau perbuat,” ujar Seungah dengan nada tajam. Dahi Hyerim berkerut, dosa? Memangnya Hyerim melakukan apa. Melihat kebingungan terpatri diparas Hyerim, Seungah berdecak dengan gelengan mendramatisir. “Kau ini bebal juga ya? Sudah mendekati seorang pria dan mengekorinya, kemudian menginap di rumahnya lalu kalian melakukan yang tidak-tidak. Apalagi pria itu adalah pria yang sudah tidak memiliki harta berharga lagi, sungguh murahan sekali kau Oh Hyerim.”

Hyerim mengeratkan pegangan pada tas punggungnya ketika mendengar ucapan pedas dari mulut Seungah, dirinya menatap gadis itu seakan berapi-api. Namun Seungah malah menampilkan senyum meringis remeh pada Hyerim.

“Kau tidak tahu apa-apa, jadi cukuplah diam!” Hyerim berseru dengan air wajah menahan amarah yang meledak. Seungah meresponnya dengan tawa mengejek.

“Oh begitu? Kau secara terang-terangan mengatakan bahwa kau ini melakukan sesuatu untuk pertama kalinya di kamar Luhan lalu kau menciumnya. Kau ini putri pemilik sekolah, tapi sikapmu tak layak seperti ini. Lebih baik kau enyah saja dari sini daripada membuat nama keluargamu malu,”

Hyerim sudah menggepalkan tangan kanannya. Baiklah, memang semuanya kecerobohannya yang berteriak-teriak dan main mencium Luhan kemarin. Dan akhirnya terjadi kesalah pahaman seperti ini. Kamar, pertama kali, dan paling parah Hyerim mengatakan kata cabul. Sudah pasti fantasi orang lain sudah kemana-mana padahal dirinya dan Luhan hanya berciuman.

“Jaekyung,” Seungah tampak berbisik pada salah satu antek-anteknya.

Jaekyung mengangguk dan memberikan sesuatu pada Seungah. Ketika gadis itu berbalik, mata Hyerim melebar. Telur? Oh jangan bilang Seungah akan menyerang Hyerim dengan telur busuk? Bukannya memalukan bila putri pemilik sekolah dibully habis-habisan seperti ini? Tapi Hyerim tidak bisa menghentikannya tatkala banyak sorot mata yang menatapnya tajam.

“Rasakan ini sampah,” lidah tajam Seungah kembali beraksi disertai tangannya melayang melemparkan telur tersebut.

‘Plok!’

Lemparan tersebut mengenai ujung poni Hyerim dan langsung meluber ke mana-mana dengan bau menyengat yang khas sekali. Hyerim memejamkan mata dengan tangan yang mengepal namun bergetar kuat apalagi dengan tawa puas dan tepuk tangan meriah, bukan hanya dari Seungah dan kawanannya namun dari murid-murid Shinhwa yang ada di sana.

“Ada apa ini?” mata Hyerim langsung terbuka ketika mengenali suara itu. Dan benar, Yuri tampak menyerobot masuk dan berdiri di samping Seungah dan kawanannya yang tampak gugup. Yuri menatap Hyerim kemudian menganga. “Apa yang kalian lakukan pada putri pemilik sekolah?” teriakan Yuri hampir pecah dengan menatap Seungah yang menunduk bersama kawannya yang lain.

Su…su…sunbae, Hyerim itu sudah membuat nama baik Luhan tercemar. Sunbae kan sangat dekat dengan Luhan, pasti tidak mau nama Luhan tercemar. Jadi… lebih baik habisi saja dirinya,” Jaekyung bersuara sambil melirik Hyerim dengan ujung matanya. Tubuh Hyerim bergetar ketika Jaekyung berusaha menjilat Yuri untuk menyerangnya.

“Iya, Yuri-ah lebih baik habisi dia. Kita malu mempunyai putri pemilik sekolah sepertinya,” sahutan salah satu seniornya membuat Hyerim jadi tambah gugup. Tampak Yuri yang menggerak-gerakan bola mata bingung. Dan Seungah menatap Hyerim dengan wajah terjahatnya disertai senyum miringnya.

Sunbae, gadis ini pantas mendapatkannya,” ucap Seungah dengan menatap Yuri seakan ingin menembus pertahanan gadis itu.

Nan ahniya… (aku tidak)” seketika suara Hyerim yang bergetar dan serak terdengar. Bola matanya berkaca-kaca ketika semua mata menatapnya. “Aku tidak seperti yang kalian pikirkan.”

Seungah tampak mendengus mendengarnya. “Dasar gadis tidak tahu malu!” teriak Seungah lalu mulai melemparkan telurnya, disaat bersamaan Hyerim memejamkan mata dengan air mata mengalir.

Namun bukannya serangan telur busuk yang ia terima, tapi Hyerim merasakan tubuhnya berputar. Oh mungkin salah satu anak murid ada yang ingin menjatuhkan tubuhnya hingga menciptakan luka. Tapi bukannya terjatuh secara tragis, dekapan hangatlah yang Hyerim terima. Aroma tubuh yang merengkuhnya sangat familiar membuatnya langsung tahu siapa gerangan pemilik tangan kekar yang mendekapnya. Dan benar, ketika Hyerim membuka matanya dan mengadahkan kepala ke atas, wajah Luhan lah yang didapatinya. Hyerim dapat merasakan telur tadi mengenai jas lelaki tersebut.

Luhan menatap Hyerim dengan wajah khawatir dan lantas bertanya. “Kamu tak apa?” tapi Hyerim malahan bengong dengan kejadian secepat kilat tadi. Luhan pun kembali menatap murid-murid yang ada di sana, semuanya tampak bungkam termasuk Yuri. Gadis itu tampak menatapnya nanar namun Luhan tidak peduli.

“Hyerim-ah, lebih baik kita temui Jonghyun dan Joohyun,” ajak Luhan yang langsung membawa Hyerim untuk pergi masih dengan merangkul bahu gadis itu yang masih setia cengo.

“Hey Xi Luhan! Jangan bawa Oh Hyerim pergi begitu saja!” terikan kesal Seungah terdengar membuat Luhan berhenti melangkah begitupula Hyerim.

Tanpa berbalik, Luhan pun menyahut. “Dia punyaku, mau aku membawanya ke ujung dunia pun tidak ada urusannya denganmu. Karena dia punyaku.” Hyerim menatap Luhan tanpa berkedip dan pria itu menatapnya balik sambil tersenyum manis kemudian membawa Hyerim berjalan pergi kembali.

Di belakang Luhan dan Hyerim yang tampak makin menjauh, tampaklah Seungah yang mengerang kesal dengan napas memburu. “Kau kira Hyerim itu barang? Oh ya, dia barang yang seenaknya bisa kau pakai kan? Ah dasar lelaki berotak kriminal!”

Seungah sudah berteriak-teriak layaknya kesetanan. Murid yang lain tampak bingung ingin bagaimana melihat kejadian tadi namun karena rumor ‘Hyerim dan Luhan melakukan sesuatu pada malam hari di kamar untuk pertama kalinya’, sebagian besar dari mereka menyetujui ucapan pedas Seungah. Di kuruman para murid tersebut, hanya Yuri yang menyaksikan punggung keduanya menjauh dengan tatapan sesak.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Apa kamu kedinginan? Kita sepertinya harus bolos jam pertama dan kedua,” ucap Luhan pada Hyerim.

Keduanya sedang berjalan di jalan setapak di taman belakang sekolah dan beberapa menit yang lalu bell masuk sudah berbunyi. Hyerim tampak bergeming dan mencengkram erat jas Luhan yang tersampirkan ditubuhnya oleh pria tersebut beberapa menit lalu. Hatinya seketika kacau dan tak menyangka Luhan akan datang disaat genting seperti tadi.

“Hey kalian!” seruan Luhan membuat Hyerim mendongak dan akhirnya mendapati kedua orang yang mereka cari di bawah pohon maple dan hendak pergi. “Temani kita bolos,” ujar Luhan sambil melambaikan tangannya dan tercetak jelas raut bingung Joohyun juga Jonghyun. Luhan pun kembali mengajak Hyerim berjalan mendekati keduanya.

Saat Hyerim juga Luhan sudah sampai di hadapan keduanya, wajah Joohyun yang semula bingung langsung berubah menjadi terkejut disertai kedua tangan membekap mulutnya. “Hyerim-ah, wae irrae? (kenapa kamu begini)” Joohyun langsung menghampiri Hyerim dan menariknya hingga duduk di bawah bangku taman yang berada di bawah pohon maple.

Luhan hanya menatap Hyerim yang tampak jiwanya sedang melayang ke langit ketujuh, sementara Joohyun tampak terus menanyainya dengan khawatir dan mengecek seluruh tubuhnya, takut-takut sebuah luka tergores ditubuh Hyerim. Ketika itulah Jonghyun berjalan mendekat kepada Luhan lalu merangkulnya.

“Luhan, aku ingin bertanya,” bisik Jonghyun sambil melirik-lirik ke arah belakang di mana terdapat Hyerim dan Joohyun. Luhan mengalihkan intensinya pada Jonghyun dengan alis terangkat bingung. “Sini, sini.” Jonghyun berbisik lagi sambil menarik Luhan menjauh.

“Apa?” Luhan nyaris berseru dengan menatap Jonghyun jengkel.

Merasa sudah menjaga jarak dengan kedua gadis tadi, cengiran Jonghyun pun dilihatkan olehnya membuat Luhan mengira pria ini terkena penyakit jiwa karena bertingkah aneh. Lalu Jonghyun pun mendekatkan wajah ketelinga Luhan dan Luhan langsung mencodongkannya agar mendekat kemulut Jonghyun lantaran penasaran.

“Ketika kamu melakukannya dengan Hyerim, kalian kuat berapa lama?” Luhan membuka mulut dengan mata melebar dan tampak Jonghyun kembali menatapnya dengan wajah tanpa dosa.

“Kau gila?” pekik Luhan tertahan dengan wajah marah yang tertahan juga. Jonghyun menggaruk tenguknya gugup. “Kau kira aku cabul melakukannya pada Hyerim?” Luhan geram dan menendang tulang kering Jonghyun yang langsung mengaduh kesakitan.

Di lain sisi, Hyerim sedang menerima perlakuan Joohyun yang mengelap bekas telur dirambutnya serta wajahnya yang tersiram air menggunakan sapu tangan milik Joohyun. Gadis bermarga Seo itu menatap Hyerim khawatir sementara Hyerim tampak kosong saat ini. Setelah terasa cukup, Joohyun berjongkok di hadapan Hyerim dan meraih tangannya. Hyerim menatapnya lalu Joohyun melayangkan binar bola mata khawatir.

“Kamu tak apa?” pertanyaan tulus itu membuat dada Hyerim sesak tak kepalang serta membuatnya ingin menangis dan itulah yang dilakukannya, lantas Joohyun pun makin khawatir dan mengeratkan pegangannya pada tangan Hyerim. “Hyerim-ah, ada apa? Kamu bisa menceritakannya padaku.”

Hyerim menunduk dengan buliran air mata yang terus berjatuhan dan Joohyun menenangkannya dengan mengelus lembut tangan Hyerim. “Kenapa mereka seperti ini? Aku… aku…” ucapan Hyerim tersendat dan terdengar serak, Joohyun langsung menariknya kepelukannya lalu mengelus-elus punggung Hyerim yang makin terisak.

“Rumor tetaplah rumor, layaknya api yang membara yang bisa membuat seseorang terbakar habis…” Joohyun mengumam tepat ditelinga kanan Hyerim dan Hyerim tampak meredakan sedikit tangisannya. “Tapi…” Joohyun menggantungkan kalimatnya lalu melonggarkan pelukannya untuk menatap Hyerim lekat. “… kamu sungguh melakukan sesuatu di kamar Luhan?” tanya Joohyun lambat-lambat.

Hyerim menghela napasnya, tak ada salahnya menjelaskan apa yang terjadi pada Joohyun. Hyerim pun butuh sandaran untuk semua ini. Mata Hyerim melirik sekitar taman dan tidak menemukan Luhan juga Jonghyun yang tadi memutuskan pergi menuju kantin, mungkin membeli beberapa cemilan dan minuman. Lalu netra Hyerim kembali menatap Joohyun yang seakan menunggu jawabannya dan terlihat jelas dipancaran obsidian miliknya.

“Aku hanya…” Hyerim mulai buka suara dan Joohyun memasang telinga lebih jernih. “Aku hanya berciuman dengannya,” lanjut Hyerim kemudian menggigit bibir bawahnya dan Joohyun pun membulatkan matanya. “Uri cheokisseu, (ciuman pertama kita)” Hyerim menggerakan jari tangannya yang digenggam Joohyun dengan resah.

Keterkejutan Joohyun belum sembuh lalu dirinya bertanya lagi. “Cheotppoppo? (ciuman pertama dipipi)” Hyerim menunduk dan mengoyang-goyangkan badannya peganti gelengan kepala. Joohyun membuang napas dan mengalihkan kepala ke arah lain sambil memasang raut jengkel. “Dasar Xi Luhan! Sudah kutebak dia akan seperti ini. Jinjja byuntae sarami, aish seikkia. (benar-benar orang cabul, aih brengsek)”

Melihat kemarahan Joohyun menyebabkan senyum simpul terpatri dicurva bibir Hyerim. Ternyata selama ini masih ada yang mau peduli dengan dirinya walau sikapnya kentara sangat dingin sekali. Hyerim lalu mengelus tangan Joohyun yang masih setia megenggamnya, Joohyun pun lantas kembali menatapnya.

“Tidak apa-apa, lagipula aku menyukainya,” ucap Hyerim dengan senyum tipis. Lagi, Joohyun memasang mimik terkejut dengan mulut terbuka.

“Kamu… menyukai… Luhan?” tanya Joohyun lambat-lambat dan Hyerim mengangguk perlahan dengan malu-malu sambil menunduk.

“Joohyun-ah, Hyerim-ah, kita membawa minuman dan cemilan. Ayo kita nikmati acara membolos ini,” tiba-tiba sosok Luhan dan Jonghyun datang. Perkataan Jonghyun tadi dibalas teriakan dan jitakan didahi Jonghyun oleh Joohyun karena dirinya merasa Jonghyun sangat bersyukur Hyerim tertindas menyebabkan mereka berempat bolos.

“Hyerim, sudah baikan? Aku bawakan roti,” Luhan mendekati Hyerim dan duduk di sampingnya. Hyerim mengangguk perlahan dan meraih roti yang Luhan sodorkan. Luhan tersenyum menahan tawa melihat gestur Hyerim. “Kenapa hari ini kamu kelihatan pemalu sekali?” gumam Luhan dan Hyerim yang sedang mengunyah rotinya langsung menatapnya dengan kelabakan.

“Ti…tidak apa-apa,”

Hyerim membalikan badan memunggungi Luhan dan kembali menyantap rotinya. Luhan hanya tersenyum tipis dan membuka bungkus rotinya. Sementara Joohyun dan Jonghyun, entah kenapa malah ribut sekali hari ini. Tanpa semuanya ketahui, sosok Myungsoo di balik tiang tembok koridor memperhatikan keempatnya dengan mata elangnya terutama pada sosok Luhan dan Hyerim. Dirinya menyunggingkan seringaian kemudian memilih pergi.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Tidak seperti biasanya, hari ini Hyerim dijemput menggunakan mobil yang dikendarai supir pribadinya. Selama perjalanan Hyerim tersenyum-senyum sendiri layaknya orang kasmaran, diam-diam Si Supir memperhatikan dari kaca tengah dengan herannya ketika majikannya menatap keluar jendela sambil tersenyum-senyum dan terkekeh tanpa suara didetik berikutnya.

“Nona…” tiba-tiba supir Hyerim memanggil dengan nada canggung sukses membuat Hyerim menatapnya dengan bola mata bertanya. “Tuan Muda Myungsoo ingin bertemu denganmu hari ini.” Hyerim langsung mencebikan bibir dengan raut terkesalnya mendengar hal tersebut.

“Aku tidak mau bertemu dengannya,” balas Hyerim sinis, tampak Si Supir menelan ludah mendengarnya.

“Tapi… Tuan Muda sudah menunggu di dekat gerbang rumah anda,” mata Hyerim membulat mendengarnya dan gesturnya berubah resah seketika.

“Berhenti!” Hyerim berseru pada akhirnya membuat BMW hybrid i8 berwarna hitam tersebut berhenti melaju, tanpa diduga Hyerim membuka kunci pintu dengan sembarangan dan membuka pintu tersebut. Setelah itu dirinya lari keluar tak mempedulikan teriakan supirnya.

Ketika merasa supirnya tak bisa lagi mengejarnya dan dirinya sudah berjarak sangat jauh dengan mobilnya tadi, Hyerim berhenti sambil membungkuk dan memegang lututnya. Napasnya terpenggal-penggal karena lari dahsyatnya beberapa menit yang lalu. Hyerim perlahan mengangkat wajahnya ketika merasa energinya sudah kembali lagi, namun dirinya hampir terkapar jatuh di tanah bila tidak bisa menahan bobot tubuhnya saat mendapati sosok di hadapannya.

“Aku sudah menduga kamu akan lari,” Myungsoo memajukan wajah hingga berjarak beberapa jengkal didepan wajah Hyerim. Hyerim tampak salah tingkah dan gugup. “Aku tak habis pikir denganmu. Sudah kubilang jauhi pria itu namun masih saja mau bersamanya. Lihat? Karena ulahmu menghindariku malam itu, maka terjadilah bencana seperti ini.”

Hyerim merasa napasnya memburu dan dirinya mengalihkan wajah agar tidak menatap wajah Myungsoo langsung. Satu tangannya mencengkram ujung roknya gugup sementara Myungsoo makin mengikis jarak yang ada diantaranya dan Hyerim. Keduanya sedang berada di gang sepi membuat Myungsoo bisa seenaknya melakukan apapun pada gadis di depannya ini.

“Aku menyukainya,” ucap Hyerim tanpa menatap Myungsoo dan pria itu tampak mendecih mendengar frasa itu. “Aku tidak peduli apa kata orang lain asalkan aku bersamanya,”

Myungsoo mendengus keras lantaran kesal, dengan kasar dirinya menarik pergelangan tangan kanan Hyerim dan menariknya hingga Hyerim menatapnya takut-takut disebabkan pancaran kemarahan tercetak jelas dibola mata Myungsoo.

Myungsoo menyunggingkan senyum miring lalu tambah mendekati Hyerim, dan Hyerim secara langsung menggeser kaki ke belakang dengan raut waspadanya. “Kamu tidak ada pilihan lain untuk memilihku sekarang…” ujar Myungsoo dan Hyerim menatapnya dengan tatapan seakan menantang. Dan Myungsoo malah menampilkan senyum licik. “Karena asal kamu tahu, ayahmu telah mengetahui kekacauan yang kamu perbuat dengan pria itu. Maka kamu akan berakhir denganku bagaimanapun juga.”

Tubuh Hyerim terasa lemas mendengar untaian kata-kata Myungsoo barusan sementara lelaki itu tersenyum puas dan melepaskan cekalannya pada Hyerim. Tampak Hyerim syok akan fakta tadi. Ayahnya mengetahuinya, lalu apa mungkin…

“Kita akan bertunangan secepatnya.”

Bingo! Hyerim sudah menduganya dan dirinya meremas kuat ujung rok seragamnya dengan perasaan kalut.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Pilih dia atau aku?” pertanyaan Yuri membuat Luhan membeku, dirinya paham bahwa yang ditanyakan Yuri adalah antara memilihnya atau Hyerim.

“Nuna…” Luhan akhirnya sanggup menjawab walau tercekat. “Aku baru saja bisa mengatakan bahwa aku menyukaimu tapi…” Luhan menghela napasnya. “Dilain sisi, aku selalu memikirkan Hyerim. Gadis itu selalu bersamaku bahkan lebih banyak mengalami rasa sakit dibandingkan aku, aku… belum tahu jawabannya.” Yuri tampak tersenyum miris mendengarnya lalu mengangguk.

“Aku tahu apa jawabanmu, aku hanya ingin memastikannya,” jawab Yuri sambil menerawang ke bebatuan hitam-putih yang berjejer rapi di tanah taman bermain dan tampak diatur tempatnya menjadi enak dipandang. Luhan mengerutkan alis bingung mendengar jawaban Yuri. “Lu, aku tahu kamu pasti menyukainya.”

Luhan kembali menghela napas berat tatkala Yuri menunduk dengan mengatakan hal itu menggunakan nada bergetar. “Nuna, aku belum bi─”

“Arrata, (aku tahu)” Yuri memotong lalu menatap Luhan dengan tatapan mirisnya. “Kembalilah besok malam untuk jawaban pasti darimu,”

 

Luhan termenung mengingat percakapannya dengan Yuri. Senja menayap kota Seoul sekarang maka waktu untuk menemui Yuri tinggal beberapa jam kedepan lagi dan Luhan harus menemuinya tanpa tangan kosong namun harus dengan jawaban pasti akan hatinya berlabuh saat ini. Luhan tak sadar akan sosok ibunya yang memasuki kamarnya serta menatap heran dirinya yang menatap keluar jendela yang memancarkan warna oranye dari matahari terbenam.

“Kamu ini kenapa? Berkelahi dengan Hyerim? Ah dasar anak muda, berpacaran namun sering kali bertengkar,” suara ibunya membuat Luhan terkejut dan membalikan badan dengan air wajah kagetnya. Sang Ibunda tampak tersenyum tipis kemudian mendekatinya. “Ada apa dengan putraku ini?” tanya Ibu sambil mengelus bahu Luhan disertai senyum lembut nan meneduhkannya.

 

Eomma, cinta itu seperti apa?” Luhan bertanya sambil menggaruk belakang lehernya. Mendengar pertanyaan putra sulungnya membuat Yohyun terkekeh geli.

“Cinta datang dari rasa nyaman, sepertinya itu defenisi cinta untuk seorang lelaki,”

Luhan tampak bepikir untuk pertanyaan selanjutnya yang berkeliaran diotaknya dengan dahi mengerut. “Kalau perempuan?” Luhan menatap Yohyun penasaran, wanita paruh baya itu tampak menggumam.

“Perempuan sih mudah sekali jatuh cinta. Mereka selalu memakai hati akan urusan apapun. Perempuan akan merasa nyaman dan terlindungi bila bersama orang yang ia cintai. Mungkin kamu sebagai pria akan merasakan perasaan untuk melindungi seorang perempuan ketika jatuh cinta padanya.”

Jawaban ibunya masih klise karena Luhan selalu ingin melindungi Yuri begitupula Hyerim. Menjaga keduanya agar tidak terluka sedikitpun. “Tapi aku selalu ingin menjaga kedua wanita yang berbeda,” mimik Luhan yang bingung terlihat jelas.

“Hanya dirimu yang tahu jawabannya, Lu. Wanita mana yang selalu ingin kamu genggam dan bersama dengannya. Wanita mana yang sering membuatmu tersenyum serta ada dikala sedihmu. Wanita mana yang membuat kinerja tubuhmu kaku seketika, wanita mana…” Yohyun mengelus rambut Luhan dengan seuntas senyuman dan Luhan menatapnya penasaran karena ucapan yang Yohyun tunda. “Wanita mana yang membuat hari-harimu lebih berharga,” lanjut Yohyun dan Luhan tampak melebarkan sedikit netranya. Sekarang, dirinya tahu tempat hatinya berlabuh dan tak akan ragu lagi ketika menemui Yuri.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Pemandangan Hyerim yang belari menuju rumahnya dan memasukinya layaknya pelari marathon terlihat seusai pertemuannya dengan Myungsoo. Keringat mulai keluar dari tubuhnya, ayahnya tahu dan ini sebuah malapetaka baginya. Ketika Hyerim sampai di pintu ruang kerja ayahnya, dirinya tak berhenti berlari dan membiarkan pintunya menjelbak terbuka. Sang Ayah terkejut dan mengangkat kepalanya yang langsung menyambut pemandangan Hyerim yang acak-acakan sehabis berlari dan tampak mengatur napas.

“Ayah…” panggil Hyerim lemas karena tenaganya terkuras habis. Ayahnya pun tampak menatapnya penasaran akan frasa yang ingin Hyerim sampaikan. Hembusan napas panjang Hyerim keluarkan ketika rasa lelahnya mulai menurun. “Aku tidak mau bertunangan dengan Myungsoo,” lanjut Hyerim.

Oh Daejun yang merupakan ayah kandung Hyerim tampak menegakan posisi tubuhnya lalu berdehem dengan suara agak keras, setelah itu kembali menatap putrinya lekat. Hyerim menegakan tubuhnya dan melayangkan tatapan terhadap ayahnya.

“Bertunanganlah dengannya, Hyerim-ah. Untuk membersihkan nama baikmu dan bilang gossip yang beredar itu hanya kesalahpahaman.” Tuan Oh menjawab dengan nada lembut membuat Hyerim jadi kalut sendiri akan sikap ayahnya. Hyerim menggigit bibir bawahnya serta memejamkan mata sejenak seakan menghilangkan penat dikepalanya.

“Yah, tapi tidak dengan Myung─”

“Lalu kamu akan bertunangan dengan putra mendiang pemilik Xi Curse Bussines?” bentakan Tuan Oh keluar menyebabkan Hyerim tersentak kaget, raut tegas dan tatapan yang tegas terlihat dari ayahnya. “Maka dari itu berita yang beredar kamu benarkan? Kamu tidur dengan pria itu?” bentakan Sang Ayah masih berlanjut membuat Hyerim tergetar menahan tangis.

“Ayah…” lirih Hyerim lalu dirinya langsung berbalik dan meninggalkan ruangan ayahnya dengan tangisan yang mulai pecah namun isakan yang nyaris keluar Hyerim tahan sekuat tenaga.

Oh Daejun menatap punggung putrinya nanar lalu menghembuskan napas berat sambil memijit pelipisnya, dilayar laptop yang menyala di hadapannya terpampang situs Shinhwa SHS yang menampilkan foto ciuman Hyerim dan Luhan di lapangan belakang sekolah serta tulisan yang mengatakan bahwa keduanya melalui satu malam di kamar Luhan. Ternyata Changmin menyaksikan adegan itu dengan bola mata terpancar miris menatap adik serta ayah tirinya.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Bulan pun tampak dengan berbagai bintang menemaninya. Singkatnya, malam menyapa kota Seoul diiringi angin yang berhembus lembut dan sisa warna kejinga-jingaan diufuk barat menghilang total. Luhan meminta izin pada ibunya walau adiknya meminta Luhan tinggal untuk membantunya mengerjakan tugas namun Luhan tetap memilih pergi, membatalkan juga mengingkari janji adalah hal yang buruk. Bila dirinya lelaki sejati, Luhan harus menetapi janjinya, begitulah kata mendiang ayahnya.

Berbekal jaket hangatnya karena musim dingin mulai memasuki bulan keduanya, Luhan tak terasa akan waktu yang ia lalui. Saat itu dirinya baru menginjaki semester pertama di Shinhwa, dirinya datang terlambat hingga menabrak seorang gadis lalu menyebabkan gadis itu terluka serta membuat sepedahnya penyok. Namun Luhan melalaikan tugas untuk membantunya dan main pergi. Sampai di sekolah, kejutan lain terjadi ketika gadis yang ia tabrak adalah murid sekolahnya bahkan harus sekelas dengannya. Hari itu Luhan mengikuti orientasi hingga ketika sedang sibuk menghitung kacang, sosok gadis itu muncul lagi dan membuat keributan dengannya. Merasa bersalah, Luhan mengajukan maaf dan ganti rugi namun Sang Gadis malah mau berteman dengannya dan setelah itu Luhan terus diekori oleh sosok gadis itu. Sosok gadis yang berusaha ceria namun memendam sebuah luka, gadis tegar yang berusaha menciptakan sebuah senyuman, gadis yang senantiasa memahami dan terus bersama dengannya. Gadis yang entah kapan main masuk kehatinya dan mendempak posisi gadis lain yang sangat berarti tadinya. Oh Hyerim, itulah nama gadisnya, bukan, lebih tepatnya belum menjadi gadisnya.

Saat itu di musim semi atau lebih tepatnya penghujung musim semi dan memasuki musim gugur. Luhan bertemu dengan Hyerim. Beradu argumen, tertawa, berkeluh kesah, berkelahi. Keduanya melakukan itu semua bahkan dari situlah Luhan ingin selalu menjaga Hyerim yang seketika ia temukan menangis akan perasaan luka yang  dirinya pendam. Sudah empat bulan terlalui dengan kenangan bersama Hyerim. Luhan benar-benar menikmati setiap momen berharga bersama gadis tersebut.

‘Krit!’

Ban bus yang ditumpangi Luhan berdecit tanda berhenti, dengan segera Luhan turun karena memang ini halte yang ditujunya. Untung saja salju belum juga turun, kalau ya, mungkin Luhan akan tambah menggigil detik ini bahkan sekarang dirinya sudah mengeratkan jaket yang ia pakai lalu melanjutkan berjalan menuju tempat tujuannya. Taman bermain yang menjadi tempat tujuan Luhan terlihat sepi, Luhan pun memilih duduk di salah satu ayunannya. Lalu dirinya teringat sesuatu dan mengambil ponselnya. Setelah itu Luhan mulai menghubungi nomor Hyerim.

“Hallo?” suara Hyerim yang menyapanya membuat jantung Luhan bertalu-talu layaknya kesetanan. Dirinya meneguk ludah gugup sebelum bicara.

“Hyerim-ah,” panggil Luhan gugup dan di sebrang sana Hyerim tampak berada di balkon rumahnya dan meremas ujung piyamanya, gadis itu ingin mengatakan perjodohannya dengan Myungsoo namun tak sanggup. “A…ku…” Luhan kembali melanjutkan namun bibirnya ia gigit resah, Hyerim tampak masih menunggu penjelasan rinci dari Luhan. Pria itu tampak menghela napasnya berkali-kali sampai akhirnya dirinya merasa sanggup dengan menegakan tubuhnya. “Johahaeyo, nan nongdam ahniya jigeum. Geuronika, nan jinjja geudaeman saranghae, (aku menyukaimu, aku tidak bercanda sekarang. Jadi, aku benar-benar mencintaimu)” Luhan menyunggingkan senyum lega ketika dirinya dapat menyampaikan hal itu.

Namun Hyerim tampak mengerutkan alis serta dahinya bingung karena suara Luhan putus-putus diponselnya. “Jo… mwoya? (aku apa)” tanya Hyerim dengan raut bingung karena signalnya buruk sekali. Luhan tiba-tiba menjadi

gugup lagi dan menelan ludahnya, haruskan ia ulangi?

Luhan berdehem lalu mulai menyampaikan isi hatinya. “Johahae, Hyerim-reul saranghaeyo. (Aku menyukaimu, aku mencintai Hyerim)” senyum ragu Luhan tampilkan ketika Hyerim bergeming dan di ujung sana Hyerim tampak frustasi ketika suara Luhan putus-putus lagi.

“Lu, suaramu tidak jelas,” sahut Hyerim dan suaranya pun sedikit putus-putus dan Luhan mengerang frustasi degan mengacak-acak rambutnya serta menghentakan kaki kanannya putus asa. “Kamu sampaikan apa yang ingin kamu ucapakan dipesan saja ya? Signalku mendadak buruk, mungkin koneksi di Gangnam sedang jelek. Aku tutup ya.” Luhan sudah membuka mulutnya sedikit ketika ada satu kata yang ingin ia ucapkan namun sambungan keburu terputus begitu saja.

Diturunkan ponselnya dan ditatap oleh Luhan ponsel tersebut dengan ringisan sedihnya, mengukapkan dipesan? Luhan merasa tidak sejati sekali mengungkapkan perasaan melalui tulisan. Setidaknya dirinya harus berbicara dan mengajak Hyerim bertemu untuk memastikan. Luhan terus memandangi ponselnya seakan sosok Hyerim akan keluar dari sana lalu memeluknya yang mulai mati kedinginan karena angin malam musim dingin.

‘Kling!’

Layar ponsel Luhan menyala menampilkan lockscreen empat grid foto dirinya dan Hyerim di sebuah photobox, keduanya berpose layaknya sepasang kekasih dan tersenyum manis namun difoto selanjutnya malah keduanya berpose-pose lucu diakhiri Luhan mencubit pipi Hyerim. Namun terkepakuannya akan foto itu langsung bunyar mengingat sebuah pesan masuk, Luhan menggerakan jempolnya untuk mengusap layar ponselnya. Setelah itu penampilan homescreen Luhan adalah foto Hyerim yang tersenyum manis di kursi kelasnya dan Luhan yang memotokannya saat itu. Lagi-lagi Luhan tersenyum sampai tak sadar ponselnya kembali bergetar, langsung saja Luhan membuka inbox SMS dan mendapati nama Hyerim mengirimkan dua pesan padanya.

‘Bukannya ada yang ingin kamu sampaikan?’ [o7.30 PM – From : Oh Hyerim]

‘Aku penasaran apa yang ingin kamu sampaikan karena aku juga ingin menyampaikan sesuatu’ [07.35 PM – From : Oh Hyerim]

Dengan perasaan yakin Luhan mulai menggerakan dua jempolnya mengetikan kata demi kata yang ingin ia sampaikan pada Hyerim, dirinya ingin gadis itu tahu akan perasaannya. Masa bodoh bila Hyerim masih menyukai Changmin. Luhan hanya ingin perasaannya tersalurkan tak seperti dulu ketika dirinya menyukai Yuri, lalu membiarkan gadis itu tidak bisa ia raih sama sekali.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Di balkon rumahnya, Hyerim melipat kedua tangan dengan ponsel terselip disana dan digenggam ditangan kanannya. Hyerim tampak bimbang antara mengutarakan perasaannya pada Luhan atau langsung mengatakan dirinya dijodohkan oleh Myungsoo. Tanpa sadar Hyerim menggigit bibir bawahnya keras dan bingung. Sampai suara ponselnya terdengar menandakan pesan masuk. Dengan buru-buru Hyerim meraih ponselnya dan membuka inbox SMS, matanya melebar melihat sederet hanggul yang Luhan tuliskan. Tanpa pikir dua kali, Hyerim berlari meninggalkan balkon rumahnya bahkan keluar rumahnya.

“Hyerim-ah,” Haera yang merupakan ibu tiri Hyerim memanggil namun tak diidahkan sama sekali oleh Hyerim yang makin berlari tanpa memakai jaket dihawa dingin seperti malam ini.

 

Dan di ayunan taman bermain masih terduduk Luhan yang memandangi ponselnya yang membuka inbox pesannya pada Hyerim, senyum terpatri dibibir Luhan kemudian dirinya memasukan ponsel kesaku jaketnya kembali. Lalu matanya menerawang kelangit malam, tak menyadari Hyerim yang tak membalas pesannya sedang berdesakan di bus dengan bola mata bergerak liar seakan terburu waktu. Hyerim mencengkram tiang bus yang ada di sampingnya. Namun Luhan masih terlarut akan bintang yang bertaburan dilangit, akan tetapi benaknya dipenuhi sosok Hyerim.

“Aku… mencintainya…” Luhan bergumam didalam hati dan perkataan barusan tertuju untuk Hyerim yang sekarang sudah sampai di halte tujuannya kemudian beranjak turun dari bus. Dirinya mengedarkan pandangan ke sekitar.

‘Taman bermain di daerah Insadong blok B’

Hyerim pun langsung berlari ketika mengingat untaian kata barusan. Akankah malam ini keduanya dapat menjalin sebuah hubungan kasih?

─To Be Continued─


Hallo ehehe, mungkin udah pada kabur pembaca FFku ini ahahaha. Tapi lebih baik lanjut dan semoga masih pada inget dan sebelumnya aku ngirim ini sebagai freelance.

Eciyeee yang pada kepo gegara previewnya ambigu wakakakakak. Kayaknya ada wangi-wangi yang mau jadian :v

Intinya sih kalo baca budayakan tinggalin jejak ya🙂

Kenalan lanjut? Visit blogku ajhaaa~~~~

[ http://www.hyekim16world.wordpress.com ]

-HyeKim-

 

 

4 thoughts on “My Cinderella Chapter 9 [Who Will You Choose?] – HyeKim

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s