[EXOFFI FREELANCE] Since The Very First Time (2/3)

since-the-very-first-time-sestal-hunstal

Title: Since The Very First Time

Author: nchuhae

Main Cast: Oh Sehun, Jung Soojung

Support Cast: Kim Jongin, Do Kyungsoo, Yoon Bomi, Son Naeun

Genre: Romance, highschool!AU, slight!horror

Length: Threeshots

Rating: PG-13

***

“Kau pasti mau ke perpustakaan lagi,” tebak Kyungsoo. Dia memasukkan sebutir stroberi yang menjadi penutup sajian makan siang mereka kali ini sembari melayangkan seulas senyum nakal ke arah sahabatnya.

Salah tingkah, Sehun menatap Kyungsoo yang tengah asyik mengunyah stroberinya. Padahal Sehun baru membuka mulut, belum sempat mengucapkan sepatah kata pun, tapi sahabatnya itu sudah mendahuluinya berbicara. Tidak ada yang salah, sebenarnya, karena tebakan Kyungsoo barusan justru mempermudah Sehun berpamitan.

Sejak kejadian siang itu, Sehun jadi pengunjung tetap perpustakaan. Dia selalu menghabiskan makanannya lebih cepat daripada biasa agar bisa menggunakan sisa waktu istirahat makan siangnya untuk mengunjungi ruangan penuh buku yang terletak tidak seberapa jauh dari kelasnya. Terkadang, Sehun malah begitu saja melewatkan makan siangnya demi bisa lebih lama berada di tempat itu.

Sehun belum pernah bercerita kepada siapapun perihal gadis yang waktu itu dilihatnya tampak begitu khusyuk dengan bacaan di tangan. Kedua sahabatnya juga tidak pernah ada yang bertanya. Sehun menduga bahwa Jongin sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Sedangkan Kyungsoo yang sepertinya cukup peka untuk bisa mendeteksi bahwa kelakuan Sehun ada hubungannya dengan seorang gadis, memilih untuk tidak banyak bicara sebelum Sehun sendiri yang berinisiatif untuk memberi tahu.

“Kalau kau berniat memperbaiki nilaimu dengan belajar lebih rajin di perpustakaan, kuberitahu saja, kau sudah terlambat,” ujar Jongin, cuek. Pria itu baru saja senandaskan nasi yang tersaji di piring makan siangnya dan kini tengah menenggak likuid dari dalam botol air mineral yang tadi dibelinya. Selepas menandaskan minumannya, pria itu berujar lagi, “Kita ini siswa yang sudah tidak tertolong. Satu-satunya cara agar kita bisa kuliah adalah dengan mencari universitas swasta yang tes masuknya tidak begitu rumit.”

Ucapan Jongin disambut pelototan dari Naeun, anggukan setuju oleh Kyungsoo, serta tawa dari Bomi. Di antara mereka, Jongin memang yang paling pesimis untuk urusan kuliah. Meski Naeun sudah berulang kali menyemangatinya dan sampai saat ini masih mempertahankan impian untuk bisa kuliah bersama kekasihnya itu di salah satu universitas kenamaan, Jongin seolah masih tidak tertarik untuk menginjakkan kaki di bangku kuliah. Sejak awal tujuan utamanya adalah ikut wajib militer seusai menyelesaikan pelajarannya di SMA. Setelah itu, dia berharap bisa membangun karier di bidang militer. Kyungsoo juga tidak jauh berbeda. Meski di antara mereka semua dia yang paling pandai dan paling kaya, urusan kuliah tidak pernah menjadi prioritasnya. Kyungsoo justru berencana melakukan perjalanan ke beberapa tempat terkenal dunia setelah sekolahnya berakhir nanti. Pria itu berharap, di ujung perjalanan itu dia bisa menemukan apa yang benar-benar ingin ia lakukan dengan hidupnya. Dan berhubung pemandangan seperti ini bukan yang pertama kalinya terjadi di antara mereka, Bomi hanya bisa tergelak setiap kali pembicaraan perihal kuliah mengemuka. Selain karena dia juga bukan tipe gadis yang mengutamakan edukasi—Bomi pernah berkata ia hendak menjadi aktris selepas sekolah nanti—menurutnya adegan di mana Jongin mendapat pelototan mengancam dari Naeun selalu tampak menghibur.

Sehun, di lain sisi, dengan mengikuti kemauan orang tuanya, jelas harus menjadi seorang mahasiswa selepas sekolah nanti. Orang tuanya tidak peduli di mana, yang jelas ia harus mengambil kuliah manajemen bisnis agar bisa mewarisi bisnis restoran yang sudah tiga generasi menghidupi keluarganya. Tapi itu bukan alasan bagi pria tersebut untuk rutin mengunjungi perpustakaan. Ah, Sehun bahkan tidak pernah belajar di sana. Yang ia lakukan hanya duduk di salah satu sudut sambil menunggu kemunculan seorang gadis yang telah mencuri perhatiannya sejak pertama kali mereka bertemu dulu.

Sehun tidak pernah lagi bertemu dengan gadis itu. Dua minggu berturut-turut dia rutin mengunjungi perpustakaan, tapi tak pernah sekali pun dia melihat sosok feminin itu. Sehun bahkan pernah dengan sengaja mencari tahu buku dengan genre serupa seperti yang dibaca gadis itu di pertemuan pertama mereka, menunggu di dekat rak yang menyajikan buku romansa klasik, berharap suatu hari gadis itu akan muncul di hadapannya untuk mengambil salah satu dari sekian banyak buku yang tersaji di rak tersebut.

Gadis itu tidak pernah muncul. Akibatnya, Sehun kebingungan karena ada sebuah rasa rindu aneh yang melingkupi hatinya dan pria itu tidak tahu bagaimana mengenyahkan perasaan asing itu.

“Banyak pengunjung berambut panjang dan berwajah cantik yang datang ke sini,” ujar pegawai perpustakaan ketika Sehun yang sudah putus asa menunggu gadisnya memutuskan bertanya. Wanita paruh baya itu terkekeh pelan melihat bagaimana wajah penuh harap Sehun berubah kecewa karena pertanyaannya tidak bisa mendapat jawaban yang memuaskan. Sembari mengulas senyum keibuan, penjaga perpustakaan tersebut lanjut berujar, “Berikan ciri yang lebih spesifik, dengan begitu mungkin aku bisa membantu.”

“Apa kau bisa memberitahuku siapa saja yang pernah meminjam buku berjudul Persuasion?”

“Persuasion karya Jane Austen?”

“Huh?” Sehun bertanya, bingung.

Wanita itu terkekeh lagi. Memangnya apa yang ia harapkan? Sehun tidak tampak seperti pria yang akan mengenali seorang penulis yang lahir berabad-abad lalu itu. Ada beberapa buku berjudul sama yang disediakan perpustakaan sekolah itu. Wanita tersebut bertanya untuk mempersempit lingkup pencariannya, tapi setelah melihat ekspresi pemuda di depannya, ia merasa harus mencari sedikit lebih lama.

“Waktu peminjamannya?”

“Um, sekitar dua minggu lalu.” Sehun menjawab ragu. Dia lalu mengecek kalender kecil yang dipasang di atas meja kerja wanita di depannya, kemudian menambahkan, “Tanggal 18 Agustus.”

Wanita itu menunduk, tampak melakukan sesuatu dengan komputer di depannya. Sekitar dua menit kemudian, dia kembali menatap Sehun. Senyum yang tersemat di wajah yang mulai menua itu seolah memberitahu Sehun bahwa pencariannya akan segera berakhir.

“Namanya Oh Hayoung, siswa kelas 2-4.”

Sehun langsung membungkuk untuk mengungkapkan terima kasihnya. Setelah itu, dia berlari menuju kelas 2-4, mencari seorang gadis bernama Oh Hayoung.

***

“Jadi, siapa gadis ini?”

Sehun menoleh, mendapati Bomi sedang duduk di sampingnya sembari mengunyah keripik kentang. Sehun tidak tahu sejak kapan gadis itu ada di sana. Pria itu berpikir, sepertinya dia memang terlalu banyak melamun belakangan ini.

Pandangan Bomi lekat pada lapangan, di mana Kyungsoo dan Jongin, serta beberapa siswa lain tengah bermain sepak bola. Biasanya Sehun juga akan ikut bergabung bersama teman-temannya, tapi sore itu ia merasa kehilangan semangat untuk melakukan apapun. Kalau bukan karena Jongin yang dengan keras kepala memintanya untuk tetap tinggal, Sehun pasti sudah berada di rumahnya untuk tidur.

“Kau tidak bersama Naeun,” Sehun berujar pelan. Memang sudah menjadi rahasia umum bahwa Bomi dan Naeun selalu bersama ke mana pun. Bahkan, Naeun akhirnya menjalin hubungan dengan Jongin pun berkat Bomi yang mati-matian menjodohkan sahabatnya itu dengan sahabat Kyungsoo. Alasannya sederhana, agar mereka bisa melakukan kencan ganda suatu hari nanti.

“Ada pelajaran tambahan. Kau tahu sendiri bagaimana dia bersikeras ingin masuk Universitas Seoul,” beritahu Bomi. Mulut gadis itu masih terlihat mengunyah keripik sementara pandangannya masih tetap lekat pada apa yang tersaji di lapangan. Matanya terlihat membulat dan tak lama kemudian dia bangkit demi meloncat-loncat kegirangan setelah Jongin melesatkan sebuah tendangan yang membawa bola di kakinya bersarang di gawang lawan. Mengikuti arah pandang Bomi, Sehun menoleh ke lapangan dan ikut bertepuk tangan sebagai ungkapan dukungan bagi sahabatnya. Di sana, Jongin tampak menikmati gol yang baru saja dicetaknya. Pria itu berselebrasi dengan melambai-lambai penuh semangat ke arah bangku penonton yang hanya diisi oleh Sehun dan Bomi.

Setelah permainan berlanjut, Bomi menatap Sehun lagi. “Kau belum menjawab pertanyaanku,” katanya.

Sehun mengerjap. Tampangnya terlihat seperti orang bodoh ketika dia berujar pendek, “Huh?”

Bomi hanya tertawa melihat kelakuan pria di depannya. “Gadis yang membuatmu melamun seperti tadi, Oh Sehun. Siapa dia?”

“Bagaimana kau tahu?”

“Kenapa kau heran begitu?”

“Kyungsoo yang bilang?”

Bomi menggeleng. “Aku tidak sebodoh itu hingga tidak menyadari bahwa perubahan sikapmu disebabkan oleh seorang gadis.”

“Jongin dan Naeun tidak sadar.”

“Naeun tahu. Justru dialah yang pertama kali mengemukakan ide bahwa sikapmu berubah. Kalau Jongin, jangan heran kalau sampai sekarang dia masih belum menyadari apa-apa. Kau tahu kan, dia benar-benar bodoh,” sahut Bomi sembari terkekeh pelan. “Jadi, siapa gadis ini?”

“Aku tidak tahu namanya.” Sehun memulai penjelasan. Dia mengembuskan napas panjang, merutuki ketololannya yang waktu itu hanya bisa mematung saat pertama kali bertemu dengan gadis itu di perpustakaan. “Aku juga tidak tahu dia siswa kelas berapa.”

“Kalian bertemu di mana? Siapa tahu aku bisa membantumu mencarinya. Kenalanku cukup banyak. Mungkin kita bisa meminta bantuan mereka.”

“Di perpustakaan. Di hari yang sama ketika Jongin dan Kyungsoo membolos karena kelelahan bermain game.”

“Sudah mencoba mencari tahu lewat petugas perpustakaan?”

“Sudah.”

“Lalu?”

Namanya bukan Oh Hayoung, rutuk Sehun dalam hati, teringat kembali hal yang dialaminya tadi siang. Padahal tadi dia sudah dengan begitu bersemangat berlari di sepanjang koridor demi menemui Oh Hayoung, berpikir bahwa akhirnya dia bisa bertemu lagi dengan gadis yang selama dua minggu ini membuatnya resah karena alasan yang begitu tidak masuk akal. Oh Hayoung memang cantik. Rambutnya lurus dan memanjang sampai ke punggung, persis seperti gadis yang waktu itu dilihat Sehun. Terlebih lagi, dia adalah satu-satunya orang yang meminjam buku berjudul Persuasion di hari di mana Sehun bertemu dengan gadisnya. Tapi Hayoung bukan gadis itu.

“Tidak ada petunjuk.”

Bomi terkekeh lagi. Ekspresi putus asa Sehun entah mengapa begitu lucu baginya. Dia menyenggol pelan bahu pria itu seraya tersenyum dengan mata menyipit jenaka. “Uri Sehunnie benar-benar sedang dilanda cinta, huh?”

“Sehun jatuh cinta?!”

Jongin yang entah sejak kapan berada di bangku penonton langsung berseru takjub mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan Bomi. Dia mengambil posisi duduk di antara Sehun dan Bomi, memaksa kedua temannya menggeser posisi mereka agar Jongin dengan tubuh besarnya bisa muat berada di antara Sehun dan Bomi. Jongin menatap kedua orang di sisinya bergantian, menunggu penjelasan.

Sehun melempar pandangan ke arah lapangan yang sudah sepi demi menghindari tatapan menuntut dari sahabatnya. Permainan tampaknya sudah berakhir tanpa ia sadari. Kyungsoo, dengan rambut dan pakaian yang basah karena keringat terlihat berjalan ke pinggir lapangan untuk menghampiri ketiga temannya.

Ya, Do Kyungsoo, apa kau tahu bahwa sahabat kita ini sedang jatuh cinta?” ujar Jongin sembari mengaitkan lengannya ke leher Sehun. Di wajah pria berkulit eksotis itu, tampak sebuah cengiran lebar yang sebenarnya tidak tepat waktu.

Kyungsoo menatap Sehun, seolah meminta persetujuan. Dia tahu bahwa ada alasan mengapa sebelumnya Sehun tidak pernah terang-terangan mengakui perihal keberadaan seorang gadis yang telah mencuri perhatiannya, karena itu dia berhati-hati dalam berbicara.

“Aku tahu.” Kyungsoo menjawab pendek setelah mendapat anggukan pelan dari Sehun. Dia duduk di samping Bomi, dengan santai meraih keripik yang sedari tadi dipegang kekasihnya itu, lalu menambahkan, “Naeun dan Bomi juga sepertinya sudah tahu.”

Jongin refleks melepaskan kaitan lengannya di leher Sehun dan menatap Bomi ingin tahu. Gadis itu hanya menyeringai melihat Jongin yang seperti sudah siap melontarkan protes. “Bagaimana mungkin kalian tidak memberitahuku?”

Kyungsoo mengedikkan bahunya. “Karena tampaknya Sehun belum ingin membahas masalah ini.”

“Kenapa?” tanya Jongin. Nadanya mendesak. Lalu, karena Sehun yang seharusnya menjawab pertanyaan itu tidak juga bersuara, ekspresi Jongin berubah dramatis. Pelan-pelan, dia bertanya lagi, “Kau tidak sedang jatuh cinta pada Naeun atau Bomi, kan? Kau tahu, semacam cinta terlarang seperti di film-film.”

Sehun dan Kyungsoo hanya mengembuskan napas panjang untuk menjawab hipotesis tak beralasan Jongin. Jalan pikiran sahabat mereka yang satu itu memang terkadang terlalu dipengaruhi oleh film yang ditontonnya. Bomilah yang kemudian berinisiatif menjitak kepala Jongin, berharap tindakan itu bisa sedikit memperbaiki frekuensi otak pria tersebut.

Jongin mengaduh dengan dramatis, seolah pukulan Bomi barusan sebegitu kerasnya. Bibir pria itu mengerucut manja, sementara tangannya bergerak mengelus kepalanya.

“Jangan berlebihan, Kim Jongin,” komentar Kyungsoo.

“Jadi siapa gadis istimewa ini?” tanya Jongin lagi. Tangannya sudah turun dari kepala. Urusan dramatisasinya terpaksa ia hentikan karena sepertinya, sekarang bukan waktu yang tepat.

Sehun akhirnya bercerita. Dia mengulangi apa yang tadi diberitahukannya kepada Bomi. Dan seperti yang Sehun duga sebelumnya, Jongin melonjak ketika cerita itu berakhir, setengah kaget setengah girang.

“Seharusnya waktu itu aku tidak membolos!” seru Jongin. Pria itu menepukkan kedua tangannya lantaran gemas. Dalam benaknya, timbul pengandaian. Jika saja ia ikut dengan Sehun, dia pasti bisa melihat seperti apa penampakan gadis yang membuat sahabatnya itu bercerita sambil tersenyum getir layaknya orang bodoh.

“Dan aku berpikir bahwa cinta pada pandangan pertama hanyalah bualan para pujangga,” kata Kyungsoo. Dia menyunggingkan sebuah senyum yang miring sebelah di wajahnya—yang kadang kala Sehun artikan sebagai seringaian nakal. Meski sudah lama mengetahui bahwa Sehun sedang menyukai seseorang, tapi detail cerita yang sebenarnya baru Kyungsoo ketahui sore ini.

“Tapi, Sehun-ah,” ujar Jongin lagi, “apa kau yakin yang kau lihat itu bukan hantu penjaga perpustakaan? Kau pasti pernah mendengar, kan, bahwa di perpustakaan sekolah kita pernah ada gadis yang bunuh diri lalu arwahnya mendiami tempat itu sampai sekarang?”

Sehun mengembuskan napas panjang sekali lagi, Bomi menjitak kepala Jongin dengan lebih keras dibanding sebelumnya, sedangkan Kyungsoo memutar bola mata di sampingnya.

“Tidak ada hantu di dunia ini, Kim Jongin.” Kyungsoo berujar malas, seolah sudah sangat jenuh dengan Jongin dan jalan pikirannya yang tidak beda jauh dari opera sabun murahan yang bisa didapati setiap malam di televisi.

“Cerita seperti itu ada di setiap sekolah,” imbuh Bomi.

Jongin hanya mengedikkan bahu, cuek. “Aku kan hanya mengutarakan pendapatku,” tukas pria itu. “Ah, seandainya Naeun ada di sini, dia pasti akan mendukung ucapanku.”

“Dia tidak akan melakukan itu!” Sehun, Kyungsoo, dan Bomi berujar gemas dalam satu ketukan.

***

Gadis itu muncul lagi. Di tempat yang sama, dengan wajah pucat yang sama, dan dengan tangan menggenggam buku berbeda—tapi sepertinya masih dalam genre yang sama. Kali ini, bukunya lebih tebal. Sampulnya berwarna kuning pudar dan ada gambar sepasang kekasih, berpakaian khas bangsawan Inggris abad ke-18, saling menumpukan kening di sana. Sehun membaca tulisan bersambung yang diyakininya merupakan judul dari buku tersebut. Sense and Sensibility, eja Sehun tanpa suara. Di bawahnya, terdapat nama seorang pengarang wanita—nama yang sama seperti yang mengarang novel yang dibaca gadis itu di pertemuan pertama mereka.

Sehun jadi berkesimpulan bahwa gadis itu adalah seorang penggemar dari penulis bernama Jane Austen. Dalam benaknya, ia berjanji akan mencari tahu lebih banyak tentang pengarang itu saat sudah sampai di rumah nanti. Pengetahuan akan penulis itu mungkin akan menjadi bahan obrolan yang menarik antara dia dengan gadisnya suatu hari nanti. Membayangkan itu saja sudah membuat Sehun tersipu malu.

Pria delapan belas tahun itu duduk di seberang gadis idamannya, masih dalam meja yang sama. Dalam hatinya, Sehun bersorak penuh kegembiraan. Tidak salah dia memutuskan menolak ajakan teman-temannya untuk ke taman hiburan dan malah mengunjungi perpustakaan di akhir minggu seperti hari ini.

Sehun juga baru tahu fakta bahwa perpustakaan sekolah Kirin adalah satu di antara sedikit fasilitas di sekolah yang tetap dibuka saat akhir pekan. Dia memperoleh informasi itu dari Naeun yang semalam mengiriminya pesan singkat, berniat membesarkan hatinya agar kecewa karena tidak juga berhasil menemukan gadisnya. Naeun bilang, tempat itu tetap dibuka sampai sore agar siswa yang ingin belajar bisa punya ruang untuk didatangi, jadi kalau Sehun ingin mencoba peruntungannya sekali lagi, dia bisa datang ke sana.

Seperti kata Naeun, perpustakaan ini memang benar-benar buka. Meski tidak seramai biasanya, tapi menjelang ujian pertengahan semester seperti ini, Sehun rasa tidak mengherankan jika di setiap lorong pasti ada saja siswa yang sedang memilih buku atau duduk bersandar di rak sambil membaca. Setelah mendapat senyum yang seolah berkata kau-pasti-datang-karena-gadis-itu dari penjaga perpustakaan, Sehun memilih untuk langsung melenggang ke sudut di mana ia bertemu gadis itu pertama kali.

Gadis itu mengenakan seragam hari ini, sesuatu yang menurut Sehun agak aneh karena pengunjung lain lebih memilih mengenakan pakaian kasual berupa celana bahan dan kemeja. Sehun bahkan dengan santainya memakai jeans dan baju kaos putih polos yang ia lapisi dengan kemeja kotak-kotak berwarna biru. Sehun tidak ingin berpikir terlalu jauh. Pria itu cukup puas dengan dugaan bahwa gadis itu mengenakan seragam hanya karena ingin tampak rapi. Di atas segalanya, tempat ini memang berada dalam kawasan sekolah, jadi wajar saja jika seorang siswa datang dengan seragam melekat di badannya.

Sehun tidak ingin mengulangi kebodohannya saat pertemuan pertama mereka. Segera setelah mendaratkan tubuhnya di atas bangku, ia langsung mengarahkan pandangan ke papan nama yang dikenakan gadis itu. Pria itu tersenyum setelah berhasil membaca huruf-huruf yang merangkai nama gadis itu. Tanpa sadar, ia menggerakkan telunjuknya di atas permukaan meja, mengikuti tarikan abjad yang sepertinya akan terus membayangi dirinya sampai berhari-hari kemudian.

Beberapa menit berselang, Sehun memutuskan membuka buku yang tadi secara asal ia sambar dari salah satu rak yang dilaluinya. Sehun tidak punya niat untuk membaca buku yang membahas kiat-kiat beternak sapi tersebut, tapi sesekali ia tetap memelototinya seolah pembahasan di dalam sana sangat menarik minat. Bagi Sehun, ekspresi serius gadis di dekatnya jelas lebih menarik untuk diperhatikan, tapi jika ia terang-terangan memandangi gadis itu, Sehun mungkin akan meninggalkan kesan pertama yang buruk. Sehun berniat untuk sedikit menjaga jarak agar sosok feminin tersebut tidak merasa terganggu dengan keberadaannya.

Ketika Sehun berniat mencuri pandang untuk yang kesekian kalinya, gadis itu sudah tidak lagi tampak. Dengan sedikit terlalu tergesa-gesa, pria itu melonjak dari bangku yang didudukinya dan berlari di sepanjang lorong perpustakaan, berharap masih bisa menemukan gadis itu.

Tapi, sepertinya semua skenario yang sudah ia rancang sepanjang dua jam belakangan tidak akan terlaksana hari ini. Tidak akan ada perkenalan. Tidak akan ada ajakan minum kopi. Tidak akan ada perjalanan mengantar gadis itu pulang ke rumahnya. Karena gadis itu tidak tampak di mana pun.

Sehun mendesah kesal. Dia merutuki kobodohan yang lagi-lagi membuatnya melewatkan kesempatan untuk mendekati gadis itu. Tapi setidaknya kekesalannya kali ini tidak sama seperti dua minggu lalu. Dulu dia membiarkan gadis itu berlalu tanpa mengetahui apa-apa tentangnya. Sekarang, setidaknya dia sudah tahu nama gadis itu.

to be continued…

Author’s Note:

  • Cerita ini dipublish juga di blog pribadi penulis dengan judul dan cast yang sama.
  • Credit for the beautiful poster goes to PutrisafirA255 from IndoFanfictionsArts.
  • Comments will be really appreciated.

 

4 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Since The Very First Time (2/3)

  1. jangan bilang kalo jung soojung itu gk nyata seperti kata kai…
    oh my God..bener” bikin merinding..tapi perjuangan sehun bisa membuahkan hasil…padahal cuma bisa tau namanya doang udah seneng gitu yaa…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s