[EXOFFI FREELANCE] My Strong Daddy #1

my-strong-daddy

Tittle                : My Strong Daddy

Author             : Angestita

Length             : Chaptered

Genre              : Family, romance dan drama

Main cast        : Sehun (EXO) – Leo William Recipon (Ulzzang Kid) – Kim Na Na (OC)

Disclaimer       : Cerita ini hanya fanfiction bukan cerita nyata dan tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan sang idola. Cerita ini murni dari pemikiranku dan bukan hasil dari mencontoh karya orang lain. Aku berharap kalian dapat melakukan hal yang sama. Apabila ada kesamaan nama, tempat maupun alur cerita itu mutlak ketidak sengajaan. Aku berharap kalian berkenan meninggalkan jejak. Terimakasih atas waktu yang kalian luangkan untuk membaca karya ini. Semoga kalian dapat menikmatinya.

Summary         : Leo adalah putra tunggal dari Oh Sehun dan almarhum istrinya –Irene Bae. Setelah Leo berumur 6 tahun Sehun membawanya pulang dan mensekolahkan dia di TK yang menjadi tempat bekerja Na Na. Disanalah semua cerita di mulai…

Sehun mengeratkan gendongannya ketika udara dingin menyambut kedatangan mereka. Langkahnya terhenti ketika dia merasakan gerakan kecil di gendongannya. Leo terlihat kian merekatkan dirinya ke dada bidang Sehun. Terlihat sekali dia tengah kedinginan. Sehun membenarkan letak syal yang tadi dia lilitkan. Pria itu baru melanjutkan langkahnya lagi ketika Leo sudah kembali terlelap.

Di luar bandara sudah menunggu supir pribadi keluarga Oh. Pria berbaju hitam itu segera membukakan pintu untuk tuannya ketika Sehun sudah dekat. Sehun tersenyum tipis kepada pria yang usianya dua puluh tahun lebih tua darinya itu sebagai ucapan terimakasih. Tadi di perjalanan dia berharap semoga sopir jemputan yang ibunya kirim tidak datang terlambat. Kasihan Leo jika harus menunggu terlalu lama dalam kondisi udara yang dingin pula.

Sehun melepaskan gendongannya dengan hati-hati dan membaringkan tubuh kecil putranya di samping dia duduk. Pria itu membiarkan paha kokohnya sebagai bantal untuk si kecil tidur. Sehun menghembuskan nafasnya pelan ketika akhirnya dia dapat sedikit beristirahat. Jujur lengannya sedikit pegal menggendong tubuh si kecil tadi. Seharusnya dia membangunkan Leo tadi agar dia dapat berjalan sendiri tetapi hati nurani Sehun tak setega itu. Melihat wajah polos Leo niat apapun untuk menyingkirkan bocah ini leleh seperti es di bawah sinar matahari.

Tidak seharusnya dia membuang anak kandungnya sendiri ‘kan? Sekali pun itu bukan anak yang dia harapkan. Memikirkan itu membuat Sehun teringat akan tujuannya pulang ke Seoul. Seoul adalah kota kelahiran Leo. Sehun membawa Leo pulang ke tempatnya. Tempat dimana anak laki-lakinya akan menghabiskan masa anak-anaknya disana. Tempat yang harus Leo tahu. Bukan dalam bentuk cerita ataupun dongeng namun dalam bentuk yang lebih nyata.

Dalam doa pria beranak satu itu, ia menginginkan Leo tumbuh dengan apa adanya. Bukan dengan kebohongan atau kamuflase yang dia buat. Dia ingin putranya mengenal dirinya sendiri dengan baik. Walau itu tidak sempurna seperti kebanyakan orang. Di Jenewa, Leo cukup hidup dengan kasih sayang ibu kandung dan ayah tirinya. Tetapi di Seoul dia harus cukup hidup dengan kasih sayang Sehun dan kakek-neneknya.

Sehun melemparkan pandangannya keluar jendela. Matanya jatuh di antara gedung-gedung tinggi pencakar langit yang mereka lalui. Ini bukan menjadi awal untuk Leo saja tetapi juga untuk dirinya sendiri. Setelah lima tahun meninggalkan Seoul dan hidup di Sydney pada akhirnya hatinya ingin pulang. Kembali ke peraduannya di negeri tercinta. Sudah cukup hati Sehun mencari pelapur lara di negeri orang. Dia harus kembali sesuai janji yang diabuat. Dia harus kembali dan memulai kembali renca hidupnya yang sempat tertunda.

Keraguan itu selalu ada dan menari-nari di hatinya, menebarkan ketakutan untuk memulai kehidupan yang lebih baik. Tapi kali ini dia kuatkan hatinya untuk datang kembali ke Seoul. Mengajak putranya bertarung menghadapi kehidupan yang sempat mereka tinggalkan. Sudah cukup mereka berlindung di dalam bayangan. Mereka harus menari di bawah sinar matahari. Mereka harus berani.

Hallo, Seoul apa kabar? Aku kembali dengan jagoanku… mari kita berteman baik… mari kita melupakan masa lalu itu… Seoul, kami akan menaklukkanmu…bisik Sehun dalam hati.

Ini hari pertama dia berangkat kerja dan Leo belajar di sekolah barunya. Tentu ini bukan hal yang berat untuk Sehun. Dia sudah terbiasa. Tetapi semalam dia terpikir tentang putranya. Hari ini hari pertama bocah berumur lima tahun itu bergabung dengan kelompok baru. Sehun tidak terlalu yakin ini akan berjalan lancar. Bahasa Korea tidak dikuasai dengan baik  oleh Leo. Dia takut Leo akan dikucilkan karena tidak bisa berbahasa dengan baik.

Ketakutan itu dia coba control dengan baik. Sehun melebarkan pola pikirnya. Leo anak yang mudah bergaul dengan siapapun sekalipun itu dengan orang yang berasal dari Negara yang berbeda. Dia pernah melihatnya langsung ketika mereka sedang berlibur berdua di Bali maupun di Hawaii. Lagipula, Leo mau tidak mau harus mau bergabung dengan mereka. Sekarang ia tidak hidup di Eropa melainkan di Asia yang mempunyai budaya yang jauh berbeda. Leo pasti bisa.

“Papa.” Leo memanggil Sehun dengan suara yang nyaring. Anak laki-laki itu sudah berdiri di belakangnya dengan baju tidurnya yang kebesaran. Lengan kecil bocah itu sudah terbuka lebar pertanda dia ingin mendapatkan pelukan.

Sehun tertawa kecil, mendekati bocah itu dan menggendongnya. Dia memberikan sebuah kecupan di pipi putih putranya. Kecupan Sehun berbalas ciuman di kening pria itu. Ini adalah tradisi ketika mereka baru bertemu, ketika bangun dan ingin tidur atau saat Sehun ingin pergi. Sehun yang pertama mengajari ini. Awalnya Leo malu-malu membalas perlakuannya namun lama kelamaan anak itu yang sering  meminta pertama kali.

“Anak papa ternyata sudah bangun. Pintar sekali sudah bisa bangun sendiri.” Sehun berkata pelan. “Ayo mandi. Hari ini papa akan mengantar Leo ke sekolah.” Sehun menggendong pria itu menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamar tidurnya.

Saat Leo menginap di rumahnya, ini merupakan ritual wajib yang dia lakukan. Memandikan Leo, menyiapkan makan pagi hingga makan malamnya, menemani bermain hingga membacakan sebuah dongeng dan menemani putranya tidur. Sehun memberikan seluruh perhatiannya untuk putranya. Tidak tanggung-tanggung. Melihat Leo kecil hidup bersamanya adalah hal yang paling berharga.

“Airnya nggak boleh dingin-dingin ya. Nanti Leo sakit.” Tutur pria itu lembut. Leo sudah bermain air di dalam bath up. Bocah itu senang sekali jika sudah bertemu air. Apalagi jika ditemani bebek karet warna-warni seperti itu. Akan sangat repot meminta Leo beranjak dari tempatnya nanti. Tetapi Sehun tidak pernah mengeluh dengan sabar dia membujuk putra kesayangannya beranjak dari tempat itu. Jiwa kebapakannya keluar begitu saja jika berhadapan dengan Leo. Emosi yang Sehun miliki seolah tak bernyali untuk keluar. Leo adalah penakluknya.

Anak itu memukul-mukul air ketika Sehun sedang mencuci rambutnya. Membuat percikan air itu mengenai baju Sehun. Sehun sudah mandi tetapi jika begini ceritanya dia akan berganti baju lagi. Itu termasuk menambah pekerjaan karena nanti Sehun sendiri yang akan mencuci baju-baju itu. Tetapi begitu lah Sehun tidak pernah mengeluh dengan perbuatan putranya.

Setelah membersihkan tubuh Leo dan membiarkan anak itu berendam sebentar. Sehun mengangkat tubuh mungil itu keluar dari bath up. Ada keributan kecil namun Sehun berhasil menenangkan keadaan seperti biasa lagi. Leo dengan sedikit cemberut memakai seragam sekolahnya. Sehun mencium bibir tipis putranya.

“Leo jangan cemberut nanti teman-temannya takut terus nggak mau deh mainan sama Leo. Memangnya Leo mau main sendirian?” Sehun berkata sembari berlutut di hadapan putranya. Dia tengah memakaikan putranya sepatu.

Leo menggeleng, “Kata bunda anak bunda anak baik. Leo kan anak bunda. Berarti Leo anak baik. Kalau anak baik kata bunda pasti punya teman. Leo pasti punya banyak teman karena Leo anak baik.” Bela bocah itu dengan suara bergetar –dia ingin menangis.

Sehun tersenyum sendu ketika mendengar Leo memanggil Irene dengan panggilan mulia itu. Dia ingin sekali berteriak saat itu juga di hadapan putranya bahwa wanita cantik itu tidak pantas dipanggil bunda. Dia bukan seorang ibu. Dia bukan seorang wanita. Tetapi kenyataannya Sehun hanya mampu menelan ludah dan memandang putranya dengan sayang. “Nah kalau seperti itu, mulai sekarang Leo harus menurut dengan papa kan Leo anak baik seperti yang bunda bilang.” Lidah Sehun kelu ketika harus memanggil mantan istrinya itu dengan sebutan bunda. Hati nuraninya menolak mentah-mentah memanggil Irene bunda. Tetapi dia masih waras dengan tidak membiarkan itu terjadi di depan Leo.

Setelah Sehun memakaikan semua baju Leo,  Sehun menata sarapan untuk anak laki-lakinya sebelum meninggalkan anak itu untuk berganti baju dengan pakian kerja. Sehun kembali tepat ketika Leo menghabiskan sarapannya. Ia sedikit merasa jengkel ketika melihat Leo memakan sarapannya dengan berantakan. Namun dengan telaten pria berumur dua puluh enam tahun itu membersihkan  baju putranya yang sedikit terkena bubur. Dia juga merapikan meja makan sebelum meninggalkan  rumah itu.

Sehun tertawa kecil ketika mendengar Leo bernyanyi dengan riang. Bibir tipisnya juga ikut melantunkan lagu yang sama. Sehun merasa kekesalannya tadi hilang sudah. Leo adalah  obatnya. Sehun memutar kemudinya menuju sebuah gerbang yang masih terbuka. Di luar gerbang sudah ada satpam yang menjaga pintu itu. Sehun masuk kedalam lingkungan sekolah dimana tempat putranya akan menghabiskan waktu disana.

Pria itu tak segan menggendong putranya hingga masuk ke dalam sekolah. Beberapa wali murid juga ikut datang mengantar anaknya di hari pertama sekolah mereka. Kedatangan mereka disambut dengan hangat oleh pihak sekolah. Sehun tak menyangka disana dia bertemu dengan teman smanya yang telah lama tak dia temui. Mereka sempat terjebak obrolan ringan.

Temannya itu bernama Kim Jongin. Ia datang dengan istrinya kalau tidak salah namanya Soo Jung. Sehun mendapat undangan pernikahan mereka namun saat itu Sehun sedang di luar negri jadi tidak bisa menghadiri acara itu. Jongin dan Soo Jung memang sengaja datang berdua karena ingin menyemangati hari pertama putrinya belajar di sekolah itu.

Sehun sempat merasa iri dan sedih karena tidak bisa memberikan kelengkapan untuk putranya. Tidak hanya pasangan keluarga Kim itu saja yang datang berdua tapi banyak juga anak-anak lainnya yang datang bersama kedua orang tuanya. Sehun sempat takut Leo rewel dan tak ingin sekolah tetapi jagoannya itu sudah asyik dengan teman-teman barunya. Sehun bersyukur untuk dua hal. Pertama karena Leo tidak rewel meminta bertemu ibunya dan yang kedua anaknya dapat bergabung dengan anak-anak lain walaupun bahasa koreanya tidak terlalu bagus.

Sebelum anak-anak di izinkan masuk kelas, kepala sekolah itu memberikan salam perkenalan terlebih dahulu. Sehun tidak terlalu focus dengan apa yang sedang  wanita seumuran ibunya itu katakana. Dia hanya focus melihat Leo yang sedang berbicara dalam bahasa korea dengan salah seorang wanita. Dia tidak bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas namun melihat putranya dapat tertawa dia yakin Leo nyaman dengan wanita itu.

Sehun baru dapat melihat wajah cantik itu ketika dia memperkenalkan dirinya. Wanita itu tampil sederhana. Namun senyum lebarnya yang membuat dia terlihat berbeda dengan yang lainnya. Sehun dapat merasakan wanita itu tersenyum dengan tulus. Terlihat sekali dia pantas menjadi guru taman kanak-kanak. Sehun mendadak merasa lega meninggalkan Leo di tempat itu.

Sebelum anak-anak masuk sekolah, orang tua diberi kesempatan untuk memeluk putra-putrinya. Sehun tersenyum lebar ketika Leo mencium keningnya. “Anak papa baik-baik disini ya. Nanti setelah pulang kerja papa jemput. Jangan rewel. Patuh dengan ucapan ibu guru, okey?” Leo mengangguk, setuju dengan ucapan ayahnya.

Saat itu lah seorang wanita sudah menunggu Leo untuk masuk ke dalam kelasnya. Wanita itu adalah Kim Na Na.  Guru yang menurut Sehun memiliki senyum paling tulus. “Terimakasih sudah memberikan kepercayaan kepada kami. Tetapi anak-anak sudah harus masuk ke dalam kelas.” Tegur wanita itu ramah dan sopan. Sehun bangkit dari berlututnya tersenyum tipis ke arah guru itu.

“Aku titip putraku. Dia tidak begitu baik berbahasa korea Mrs. Nana. Aku harap anda dapat bersabar dengannya.” Sehun tidak tahu kenapa dia berbicara seperti itu. Ucapannya spontan keluar.

Nana tersenyum penuh pengertian, “Banyak anak yang tidak bisa berbahasa korea dengan baik. Anda tidak perlu khawatir, aku akan mengajarinya dengan sabar.”

“Terimakasih atas pengertiannya.” Sehun berkata dengan perasaan benar-benar lega.

“Sama-sama Pak…?” Na Na menggantungkan  ucapannya bingung harus memanggil Sehun dengan apa. Dia tidak mengenal pria itu.

“Sehun. Oh Sehun.” Sehun mengucapkan namanya.

Na Na sedikit merona ketika pria itu menyadari kekurangannya. “Sama-sama Pak Sehun.” Dia mengulang ucapannya kembali dengan baik. Na Na segera undur diri ketika rasa canggung itu terlihat jelas diantara mereka. Sehun juga sepertinya harus berangkat kerja. Beberapa jam  lagi adalah  jam  masuk kerja untuk orang korea. Saat tubuh Sehun menghilang, tidak hanya Leo saja yang mengamati kepergian Sehun. Diam-diam Na Na tak luput mengamati kepergian pria itu.   Melihat pria itu menghilang sebelum matanya tertuju ke arah putranya. Entah mengapa hatinya terasa bergetar.

Sehun… Oh Sehun…kenapa ada pria setampan dia di dunia ini? Batin Na Na pelan.

To be continued

 

 

 

 

 

 

35 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] My Strong Daddy #1

  1. Haloo kak salam kenal yaa^^
    Waah ceritanya baguss aku sukaa kalau ceritanya tentang duda beginian apalagi ada sehunn biass tercinta wkwkw leo nya gemesin ><
    Tapi aku masih penasaran nih irene mantan istrinya sehun ya? Tapi uda meninggal kan trs leo itu ank kandung mrk berdua apa bkn? Jika iya knp leo sempat tinggal sma ibu dan ayah tiri?
    Ditunggu yaa next chapternya kak hihi

  2. Leo anak dr mantan istri sehun yg udah meninggal?? Tp kya ny sehun benci bgt ,, trus kata ny leo prnah tnggal ama ibu kandung dan ayah tiri??
    Ohh my god trlalu bnyak teka teki
    Ku tunggu chap selanjutny thorr

  3. Yaampun manis kyk gula ya si Leo haha😀 awal yg bagus untuk cerita ini, aku penasaran sm klnjutannya, next nya mungkin bisa tmbh keren ya kak😉

  4. “Tidak seharusnya dia membuang anak kandungnya sendiri ‘kan? Sekali pun itu bukan anak yang dia harapkan.” apa maksudnya ini???

    Astaga.. Aku bner” seneng baca ceritanya, sehun oppa, ya ampun sabar banget dia., jiwa ke bapak annya besar banget 😊😊😊😊
    sama leo juga gemes ihh..

    Next kak dtunggu klanjuyanya^^

  5. Ohhhhhhhhh….. Aku gemes liat leonyaaaa, mau cubitttt. Kenapa kok sehun dan irene bisa pisah? Kasian leonya. Dan kayanya sehun benci banget sama irene.

    Di tunggu nextnya yaa eonn

  6. ada mbk..lah ya itu suami saya – Oh Sehun – hahahahaha
    emang apa yg terjadi sama sehun irene..kok leo sampe tinggal sama ibu kandung dan ayah tiri,, apa irene menikah lagi?? tapi apa irene udah meninggal???
    trus kenapa awalnya sehun pengen buang ananknyaa…

    ff ini ngingetin aku sama sifat kebapakan sehun yg dinilai anak tk di starshow360 hahahaha…berasa aja gitu kebapakannya…semangat ya hun!! semangat leo..aku tadinya penasaran siapa leo little ullzang ini trus aku meluncur di google ohh ya ampunnn anak orang ganteng imut sekali…jadi kesengsem kan akunya hahahaha
    semangat juga buat authornya…

    • Hallo…hallo…. Terimakasih sudah mampir di FF ini. Kenapa di sinopsis itu aku tulis Irene meninggal karena emang dia meninggal melahirkan anaknya sendiri sama pria lain. Karena itu juga si Sehun yg awalnya gak dapet hak asuh anak jadi dapetin Leo. Sorry banget kalau di ringkasan FF ini sama ceritanya sulit dipahami. Untuk Sehun membenci Irene penjelasannya akan ada di FF chaptet dua. Maaf… Atas ketidak nyamanannya. Aku masih penulis baru. Aku bakal belajar lagi. Terimakasih sekali lagi atas komentarnya.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s