[EXOFFI FREELANCE] HATER X FAN (Chapter 7)

hxf

Tittle : HATER X FAN

Author : Choco(L)ate

Main Cast : Krystal Jung | Kim Jongin (Kai) | Park Chanyeol | Bae Irene

Genre : Drama, Sad, Romance, AU

Rating : PG 15+

Length : Chaptered

Disclaimer : This is my story. Don’t be Plagiarism!

Really nice poster Art by Kak IRISH @ Poster Channel

 

 

[Teaser] [Ch1] [Ch2] [Ch3] [Ch4] [Ch5] [Ch6]

 

 

 

#Chapter 7

 

Sebelumnya, aku mau bilang kalau chapter ini sengaja aku fokusin sama Kaistal moment. Ati-ati mual di tengah chapter😄 Happy reading~

 

Bersandar di kursi pesawat lalu terpejam rasanya cukup nyaman. Mungkin tidur dalam perjalanan Jeju-Seoul bisa membuat letihnya hilang walaupun hanya sedikit. Krystal berkali-kali berucap syukur karna pemotretan di pulau Jeju pada akhirnya selesai dalam waktu seminggu. Tinggal menunggu proses pemotretan di studio dan selesai. Ya, selesai. Paling tidak ia tidak akan melihat Kai berkeliaran di kantornya.

 

Krystal sedikit menekan-nekan pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening setelah nama itu terlintas di otaknya. Oh bayangkan saja, satu bulan ini begitu banyak masalah yang datang dan membuat Krystal pusing setengah mati. Terutama karna pria itu, Kim-sinting-Kai. Krystal berharap ia bisa mencekik atau mendorongnya jatuh dari gedung seratus meter.

 

‘Kim Kai si perusak rencana’ sepertinya cocok untuk sebutan pria tak waras itu. Dua minggu yang lalu Krystal, Luhan dan juga perusahaan bahkan dibuat kelimpungan olehnya. Masih ingat bagaimana keras kepalanya ia tentang penandatanganan kontrak? Mengancam? Bahkan ia telah mengikuti rapat direksi. Tapi hasilnya adalah G-A-G-A-L.

 

Pemotretan-perjalanan ke Jeju-mencetak majalah-dan persiapan lainnya yang diperhitungkan akan rampung dalam waktu tiga minggu sepertinya hanya angan kosong. Dan penyebabnya adalah pria sinting tak tahu diri yang tiba-tiba saja mengaku dirinya sakit dan menghilang selama satu minggu. Dan selama itu pula semua pekerjaan menjadi molor. Yang artinya waktu launching produk musim panas ini semakin dekat dan waktu yang mereka punya semakin sedikit. Kim Kai sialan!

 

Krystal jelas saja kesal setengah mati karna ia yakin alasan pria itu tidak benar-benar serius. Selama seminggu pula Luhan tak henti-hentinya menghubungi pria itu meski hasilnya nihil. Dan yang lebih mengejutkan adalah pria itu muncul setelah Krystal mengirim sebuah pesan ancaman di hari ke tujuh.

 

Aku sama sekali tidak masalah jika besok harus pergi ke Jeju bersama model lain. I’m serious!

 

Dan itu memang ampuh. Karna esoknya pria itu benar-benar datang ke kantor. Ya, datang. Dengan sebuah koper besar, kaos putih yang dibalut kemeja lengan panjang biru muda bermotif bunga, celana pendek selutut, sepatu kets dan tak lupa topi hitamnya. Astaga, rahang Krystal bahkan hampir jatuh saat itu.

 

“Ah! Akhirnya aku akan kembali menghirup udara segar Jeju! Kau ikut kan, nona presdir?” Ujarnya saat satu tangannya ia kantongi.

 

Krystal menatap pria itu sarkastik. Bagaimana tidak, ia datang ke ruangannya tanpa permisi, dengan kostum dan kopernya lalu berbicara seolah mereka akan pergi berlibur.

 

“Kita bukan berlibur atau pergi ke Hawaii. Hanya pemotretan. Kerja.” Ujarnya penuh penekanan. “What’s wrong with your outfit, huh?”

 

“Kau ikut atau tidak?” Kai mengulangi ucapannya tak mengindahkan pertanyaan Krystal.

 

Alih-alih menjawab, Krystal juga kembali melayangkan pertanyaan.

“Jadi, kemana kau selama seminggu? Sedang melakukan rencana? Mengulur-ulur waktu agar perusahaanku merugi? Aku yakin sakit yang kau maksud pasti di bagian otak.” Ujarnya ketus, menatap Kai tajam dengan tangan terlipat di depan dada.

 

“Wow wow, astaga.. nona Jung, pikiranmu itu jahat sekali.” Ujarnya dengan ekspresi tak bersalah. “Mari kita lupakan seminggu kebelakang, bukankah hari ini kita akan pergi?” Lanjutnya dengan cengiran lebar.

 

Rasa-rasanya Krystal ingin mencakar wajah itu. Waktu seminggu bahkan sangat berharga dan pria itu mengatakan lupakan? Krystal semakin geram menatap pria di hadapan mejanya itu.

 

“Baiklah baiklah, jangan melotot seperti itu. Ada keperluan mendadak yang sangat mendesak, jadi aku harus segera menyelesaikannya.” Ujarnya seraya mengendikan bahu. “Puas? Jadi, kau ikut atau tidak nona presdir?”

 

Terserah apapun itu alasannya. Waktu seminggu berharganya sudah terbuang sia-sia. Terus meladeni pria sinting itu juga semakin membuat Krystal semakin kesal saja. Ia memutar bola matanya malas.

 

“Tidak. Jadi sebaiknya kau cepat keluar dari sini.” Ujarnya kesal lalu kembali membereskan beberapa dokumen di atas mejanya.

 

Kai terus mengedarkan pandangannya hingga matanya menangkap benda berukuran persegi panjang di dekat sofa-sebuah koper. Ia tersenyum miring lalu kembali menatap Krystal.

 

“Baiklah, sampai bertemu di pesawat. Awas kopermu tertinggal.” Lalu pria itu melangkah keluar, meninggalkan Krystal yang menggeram kesal di tempatnya.

 

Dan rasanya ia ingin segera mencekik Luhan karna berhasil membuatnya ikut pergi ke Jeju. Awalnya ia benar-benar tidak ingin pergi, bukankah staff dan pegawai lainnya sudah cukup? Ditambah ada Luhan, itu lebih dari cukup. Tapi pria itu terus mengatakan jika ini penting untuk pengalaman pertamanya. Karna nanti ia juga akan butuh untuk pembahasan di rapat selanjutnya, bla bla bla. Oke, Krystal ikut. Ugh! Sialan sekali.

 

Dan belum! Itu hanya awalnya. Penderitaanya bahkan berlanjut hingga ia sampai di Jeju. Ditambah, pria sinting bernama Kai itu terus mengganggunya. Ya, setiap hari kepalanya terasa sakit dan hampir meledak.

 

Seperti di hari pertama, AC di kamar Krystal ternyata bermasalah. Ia menunggu di lobi hotel saat ACnya sedang di perbaiki. Lalu tiba-tiba seseorang duduk di hadapannya, menampakkan diri seraya tersenyum. Mengerikan.

 

“Ku dengar ACnya bermasalah?”

 

“Hmm” Krystal kembali fokus pada ponselnya.

 

“Kau menunggu dari tadi?”

 

“Hmm”

 

“Apa selama itu?”

 

Krystal menghela nafasnya kasar. “Iya” Jawabnya ketus

 

Kai hanya mengangguk-angguk. “Kalau kau mau, aku tidak keberatan berbagi kamar denganmu” Ujarnya santai dengan senyum andalannya. Menyeringai.

 

Krystal benar-benar kesal, sepertinya ia harus menyentuhkan wajah mesum pria itu pada tembok hingga berdarah. “My ass!” Desisnya lalu beranjak pergi meninggalkan Kai yang terkekeh di tempatnya.

 

Atau saat mereka sedang makan malam. Kai membuat Krystal tersandung dan menumpahkan makanannya. Membuat semua yang ada di tangan gadis itu hancur begitu saja saat menyentuh lantai. Menjadikan Krystal pusat perhatian. Ia tidak jatuh, karna Kai menahan lengannya. Dengan wajah terkejut bercampur kesal ia menatap Kai nyalang.

 

“Ups, kau harus melangkah dengan hati-hati nona presdir” Ujarnya santai lalu tersenyum. Dan ekspresi tak berdosa pria itu membuat Krystal ingin menghancurkan saja wajahnya.

 

Atau di hari berikutnya, saat mereka melakukan pemotretan di pantai. Krystal hanya menyaksikan pemotretan dari bibir pantai, duduk di atas kursi lipat. Ia melepas sepatu untuk merasakan lembutnya pasir pantai tanpa ada niatan sedikitpun untuk menyentuh air laut. Hingga saat waktu break, Kai yang hanya menggunakan celana pendek tanpa atasan menghampirinya.

 

Jujur, itu membuat Krystal gugup tapi ia mencoba menetralkan ekspresinya. Ayolah, ini pertama kalinya seorang Kim Kai melakukan pemotretan setengah telanjang. Mengekspose bahu, lengan, juga otot perutnya yang terlihat samar-samar. Tck! Dan sialnya ini juga pertama kalinya ia melihat tubuh bagian atas yang seperti itu.

 

“Air laut tidak akan membuat kulitmu melepuh.” Ujar pria itu tiba-tiba.

 

Krystal memutar bola matanya malas.”Apa aku mengatakan sesuatu?”

 

“Kalau begitu bergabung dengan yang lain. Kau tampak tidak bersahabat dengan staff dan kru”

 

Oh astaga sejak kapan Kai mulai menceramahinya? Ia menatap Kai skeptis lalu bangkit.

“Sudah hampir selesai kan? Aku lebih baik menunggu di hotel” Setelahnya ia melengos pergi menjinjing sepatunya. Tapi tiba-tiba Kai merebut sebelah sepatunya hingga Krystal menoleh kaget dengan gerakan yang tiba-tiba seperti itu.

 

“Kalau begitu pergilah.” Ujar Kai santai. Setelahnya ia melepar jauh sepatu Krystal hingga menyentuh ombak laut.

 

“Yaaa!” Krystal benar-benar terkejut dengan apa yang Kai lakukan. Tapi pria itu langsung pergi meninggalkannya. Lagi-lagi membuatnya meggeram kesal.

 

Oh, atau jangan lupakan saat pemotretan di kolam renang. Saat Krystal sedang membicarakan rapat berikutnya dengan Luhan, tiba-tiba Kai memanggilnya. Berkali-kali. Dan berkali-kali pula Krystal mengabaikan seruan ‘Nona presdir!’ Hingga beberapa pegawai menatapnya dengan tatapan ‘apa kau tuli?’. Hingga dengan sangat terpaksa ia melangkah kesal menghampiri Kai yang masih di dalam air, meletakan tangannya di tepian kolam.

 

“Apa? Apa? Ada apa?” Tanya Krystal ketus.

 

“Tolong ambilkan aku handuk” Jawabnya santai dengan cengiran lebar.

 

Krystal mengernyit. Jadi pria sinting itu berteriak-teriak memanggil namanya hanya untuk mengambilkan handuk? Di saat banyak orang didekatnya yang bisa ia mintai tolong? Ya Tuhan, rasanya Krystal ingin menenggelamkan pria itu hingga tubuhnya mengapung tak bernyawa.

 

“Aku akan mencekik managermu jika aku bertemu dengannya di Seoul!” Ia lalu melangkah menuju Luhan yang menerima handuk dari staff.

 

“Ambilkan dua! Aku butuh dua!” Teriak Kai yang membuat Krystal semakin menggeram kesal. Ia mengambil paksa handuk di tangan Luhan, tapi hanya satu. Persetan dengan perintah menyebalkan itu. Lalu kembali menghampiri Kai. Krystal melemparkannya lalu berbalik untuk pergi. Tapi lagi-lagi suara pria itu menahannya.

 

“Apa lagi?” Krystal menatap Kai kesal. Pria itu tidak menjawab, melainkan mengulurkan satu tangannya masih dengan memperlihatkan deretan giginya. Tanpa pikir panjang Krystal kembali menghampirinya dan meraih tangan pria itu. Berpikir jika Kai meminta bantuannya untuk naik.

 

Tapi bukan Kim Kai namanya jika tidak membuat Krystal kesal. Alih-alih untuk membantu tubuhnya naik, Kai malah menarik lengan Krystal hingga gadis itu jatuh ke kolam renang. Membuat Luhan dan staff lain terkejut.

 

Dengan keadaan kesal Krystal mati-matian mengatur nafasnya seraya menatap Kai yang tengah tertawa dengan kesal. “Ya! Apa yang kau lakukan?!”

 

Kai tak mengindahkan kalimat Krystal, yang ia lakukan malah meletakan handuk ke kepala gadis itu. Masih tertawa geli ia berucap “Sudah kubilang aku membutuhkan dua handuk.” Setelahnya ia naik lalu meninggalkan gadis itu tanpa memperdulikan Krystal yang terus mengumpat di dalam kolam renang.

 

Kejadian di pantai membuat Krystal kesal hingga pemotretan berikut-berikutnya di Bungee Artpia dan air terjun Cheonjiyeon, ia tidak ingin ikut. Belum lagi saat ia jatuh di kolam dan membuatnya demam di musim panas. Kim Kai benar-benar sialan.

 

Dan embel-embel menyebalkan tentang pesan-pesan masuk yang dikirimkan pria sinting itu padanya setiap malam. Seperti ‘Apakah ini nona presdir?’ Atau ‘ Oh aku baru sadar jika ID Jstal adalah nona presdir’ atau ‘kau sudah tidur?’. Membuatnya ingin mematahkan ponselnya menjadi dua bagian.

 

Tapi ia ingat sesuatu, dulu juga ia melakukan ini pada pria itu. Ya, saat ia masih menggilainya. Mengirim pesan-pesan tak berguna atau sekedar mengucapkan selamat malam. Jadi, apa seperti ini rasanya? Ugh! Benar-benar menjengkelkan.

 

Di hari terakhir, Luhan mendatangi kamarnya dan meminta agar Krystal turut andil di tempat sekaligus hari terakhir pemotretan jika ia tak ingin staff dan seluruh pegawai membicarakannya terus menerus. Jadi dengan terpaksa, ia ikut. Tempat terakhir pemotretan, Yeomiji botanical garden.

 

Ia mengenakan skirt dress sebatas paha bercorak strip berwarna merah dan putih. Dengan heels hitam bertali sampai betis. Ia sedikit bersyukur karna pemotretan hari ini cukup serius dan memakan banyak waktu hingga sepertinya tidak ada celah bagi Kai untuk mengganggunya. Bagus sekali.

 

Ia melihat ke sekeliling dan matanya tertuju pada barisan tanaman hijau tinggi membentuk pagar. Lucu, pikirnya. Ia tersenyum lalu menghampiri tempat itu. Krystal mengarahkan kamera ponselnya, itu tempat bagus untuk mengambil gambar tapi sayang sekali ia melihat Luhan sedang sibuk berbicara dengan staff. Dengan berat hati ia menurunkan kembali ponselnya. Tapi suara seseorang yang tidak ingin ia dengar berhasil membuatnya terkejut.

 

“Background yang bagus untuk berfoto. Mau mencoba?”

 

Krystal menghela nafas, ia jadi ingat hari-hari kemarin dan kembali merasa kesal. Ia berbalik menghadap pria menyebalkan itu. “Tidak, terima kasih”

 

Saat Krystal melangkah Kai mengambil ponsel gadis itu dengan gerakan cepat. Membuat Krystal menatapnya tajam. Sebelum gadis itu berucap Kai sudah mendahuluinya. “Cepat berdiri disana. Paling tidak kau harus membawa kenangan bagus” Ujarnya seraya mengarahkan kamera ponselnya ke arah tanaman itu.

 

Krystal mendengus. Kenangan bagus apanya? Hanya sebuah foto. Tapi mungkin kali ini ia sedikit membenarkan kalimat Kai. Yaa, Paling tidak ada hal bagus yang ia bawa dari Jeju.

 

Krystal lantas melangkah dan mulai berpose. Menolehkan wajahnya ke arah lain seolah ia melihat objek lain. Berpose bak model yang sedang melakukan photoshoot.

 

“Hana.. Dul.. Set” Terdengar suara Kai lalu diikuti bunyi ‘Klik’

 

Krystal menatap Kai yang tengah tersenyum aneh menatap layar ponselnya, membuat ia penasaran.

“Apa posenya terlihat aneh?” Ia menghampiri Kai.

 

“Tidak, sangat bagus” Ia menunjukan hasilnya. Setelah melihatnya, Krystal menatap Kai kesal. Yang layarnya tampilkan bukan fotonya melainkan foto selca dari pria itu. Sialan, ia di tipu.

 

“Sudah ku duga.” Desis Krystal kesal. Membuat Kai tertawa terbahak-bahak. Tepat saat ia akan merebut ponselnya, Kai mengangkat tangannya ke atas hingga Krystal tak bisa menjangkau ponselnya. “Berikan!”

 

Tapi Kai tetap menjauhkan tangannya. “Akan ku ulangi lagi”

 

“Ulangi apa? Menipuku? Cepat berikan!”

 

Sebelum Krystal kembali akan meraih ponselnya Kai terlebih dahulu mendorong bahu gadis itu menjauh. “Aku serius. Cepat berpose.”

 

Meskipun kesal Krystal tetap melangkah ke tempatnya tadi. Walau bagaimanapun ia ingin berfoto. Ia kembali berdiri menghadap Kai, menatap kamera lebih tepatnya.

 

“Wajahmu. Astaga apa kau akan berpose dengan wajah jelek itu?” Kai terus berkomentar membuat Krystal lagi-lagi mengumpat kesal.

 

Ia menghela nafas lalu mencoba merileks-kan wajahnya. Krystal menyembunyikan kedua tangannya di belakang tubuh, lalu sedikit bersandar pada daun-daun di belakangnya. “Aku akan mencekikmu jika kali ini kau bohong”

 

“Tck! Iya. Cepat. Hana.. Dul..-”

 

Krystal memiringkan kepalanya ke samping kanan, wajahnya ia biarkan tanpa ekspresi menatap lurus ke depan.

 

“Set.” ‘Klik’

fx-krystal-krystal-jung-favim-com-2746472

Setelahnya Kai memandangi hasil gambarnya, diam tanpa ekspresi. Lalu bergantian menatap Krystal seraya tersenyum.

 

 

Krystal yang keheranan dengan ekspresi itu mendengus kasar seraya mendekati Kai lalu mengambil ponselnya paksa.

“Jangan bilang itu wajahmu lagi.” Tapi setelah melihatnya beberapa detik ia tersenyum. Hasilnya menakjubkan.

 

“Tidak buruk” Ujar gadis itu menatap Kai dengan sebelah alisnya yang terangkat, lalu kembali fokus pada layar ponsel.

 

Entah apa yang membuat Kai tiba-tiba saja ikut tersenyum. Ini pertama kalinya ia melihat Krystal tersenyum karna dirinya. Ada perasaan aneh yang membuat perutnya tergelitik. Rasanya ini lebih menyenangkan dibanding membuat gadis itu kesal.

 

Sebelum Kai kembali berucap, seorang staff sudah menyerukan namanya, pertanda waktu breaknya sudah habis. Tidak ada alasan untuknya pamit pada Krystal bukan? Ia juga bingung, sehingga ia langsung melangkah pergi.

 

 

Tanpa sadar dibalik matanya yang terpejam Krystal tersenyum. Bahkan tanpa sadar ia sedikit mengeluarkan tawanya yang terdengar hambar. Dan oh-apa dia tertawa karna mengingat beberapa memori dengan si sialan Kim Kai? Yang merusak rencana-rencananya? Ugh! Seketika ia kembali merasa marah.

 

Karna pria itu waktunya berkurang banyak, jadwal pekerjaan di kantor berantakan, ia dibuat malu, sepatunya yang terbawa ombak, jatuh ke kolam renang, demam, dan hal menyebalkan lainnya. Tenggorokannya jadi terasa sakit ingin mengumpat keras-keras.

 

“Sekertaris Lu, kau punya air?” Ujarnya tanpa sedikitpun bergerak atau membuka matanya. Tapi tak ada jawaban. “Ada atau tid-” Saat ia menoleh ke kursi sebelah, matanya membulat. Ia terkejut, seingatnya yang tadi menempati kursi itu sekertarisnya, bukan si menyebalkan Kim Kai.

 

“Dia ada di seberang jika kau mencarinya” Kai menunjuk Luhan dengan dagunya lalu menatap datar Krystal yang masih syok.

 

“Lalu apa yang kau lakukan disini?” Suara Krystal sedikit melengking. Kai hanya tersenyum miring seperti biasanya.

“Hanya duduk. Aku juga berada di kelas VIP”

 

Krystal menghela nafas kasar. Ia memiringkan tubuhnya menghadap Kai. “Kau suka sekali membuatku naik pitam. Sebaiknya kau pindah ke tempat lain.”

 

“Tidak” Balas Kai lalu kembali fokus pada majalah yang sedari tadi berada di tangannya.

 

“Jika kau tidak mau pindah, aku akan mencekik-”

 

“Kalau begitu lakukan. Cepat lakukan” Potong pria itu dengan gerakan seolah memberikan lehernya.

 

“Bukan lehermu. Tapi leher pacarmu!” Ujar Krystal membenarkan. Tapi jawaban itu malah membuat dahi Kai mengerut bingung.

 

“Bae Irene. Dia pacarmu kan? Aku tidak akan mencekikmu. Sepertinya mencekiknya lebih mudah” Ujar Krystal seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Tidak, ini tidak serius. Hanya sebuah gertakan.

 

“Coba saja. Dan aku akan menghancurkan tubuhmu” Balas Kai dengan tatapan sengit.

 

Krystal tersenyum miring. “Oh ya ampun, mengerikan.” Krystal kembali membenarkan posisi duduknya. “Tenang saja, aku tidak sejahat itu.” Ia tersenyum kecut.

“Paling tidak karna aku tahu, jika seseorang yang aku sayangi terluka, aku juga merasa hancur.” Lirih Krystal. Tak bisa dipungkiri tiba-tiba saja pikirannya melayang pada sang ayah.

 

Kai dapat melihat raut wajah Krystal yang berubah signifikan. Kalimatnya juga terasa sedikit menggores sesuatu dalam dadanya. Itu seperti sebuah sindiran halus tanpa disadari.

 

Pikiran Krystal jadi berkelana tak karuan kemana-mana. Entah mengapa reaksi Kai yang seperti tadi mengingatkannya pada perkara yang sedang melibatkan mereka. Ayahnya dan Kai. Hingga sebuah pertanyaan dalam otaknya muncul dan begitu saja terucap tanpa bisa ia cegah.

“Apa.. ayahku pernah melakukan sesuatu, padamu?” Ujarnya hati-hati.

 

Kai termenung di tempatnya beberapa saat, melihat manik Krystal yang menatapnya penuh harap. Tapi ia segera membuang pandangannya ke depan. “Bukankah aku pernah bilang? Tanyakan itu jika ayahmu-”

 

“Baiklah, aku tahu.” Potong Krystal, membuang pandangannya ke luar jendela.

 

Kai menatap Krystal lewat ekor matanya. Ia sadar gadis itu menyeka air mata yang hampir lolos lalu kembali terpejam. Kai sendiri merasa jika suasana berubah menjadi tegang dan terasa aneh. Niat awalnya mengambil tempat Luhan saat pria itu ke toilet adalah kembali membuat gadis bermarga Jung itu kesal. Tapi sekarang.. Masa bodo. Ia tidak mau ambil pusing.

 

“Ngomong-ngomong, Irene bukan pacarku. Aku hanya menyukainya.” Dan entah dorongan dari mana, dengan mudahnya ia berkata seperti itu.

 

Krystal menoleh. “I see. Kau begitu mengkhawatirkannya” Jawabnya asal.

 

Kai menyadari jika Krystal tak terlalu mempersoalkan masalah yang sebelumnya.

 

“Tentu saja, aku harus. Karna dia berbeda. Selain cantik dan pintar, ia memiliki senyum yang sangat menawan. Dia selalu berbicara lembut, tatapannya yang teduh. Dan, dia pandai memasak.” Kai berbicara seolah menerawang bagaimana berartinya sosok Irene untuknya. “Ia juga memiliki tubuh yang-”

 

“Shut up! Aku tidak mau dengar kelanjutannya. sesukamu. Aku ingin tidur. Dan jangan lakukan apapun padaku atau aku akan menjatuhkanmu dari pesawat” Potong Krystal, lalu ia menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata.

 

“Aku bahkan belum selesai bicara. Dasar mesum.” Dan kalimat itu berhasil membuat mata Krystal kembali terbuka lebar, menatap Kai tajam.

 

“Yaa! Kau-”

 

“Nona, di mohon tidak membuat kegaduhan saat dalam penerbangan.” Teguran seorang pramugari membuat Krystal terpaksa kembali menelan ucapannya. Kai tersenyum menang melihat bagaimana ekspresi gadis itu yang kembali menghadap ke jendela pesawat. Mati-matian menahan emosinya.

 

Entahlah, ada sensasi tersendiri untuk Kai saat membuat Krystal marah. Membuatnya berfikir jika bermain-main dengan seorang anti-fan lebih menyenangkan. Ia tersenyum miring.

 

 

Rasanya Krystal akan mati kebosanan karna sudah beberapa hari ini ia terus mendengar suara ‘klik’ dari kamera. Ah, dan jangan lupakan orang menyebalkan yang menjadi model itu. Ia benar-benar ingin mencekik sekertarisnya saja karna terus mengingatkan jika semua kegiatan pemotretan harus ia jadikan topik di rapat selanjutnya. Sehingga dengan berat hati ia terpaksa berdiri di tempat itu sekarang.

 

Tanpa Krystal akui pun Kinerja Kai memang sangat bagus. Ya, karna dulu ia pernah menjadi salah satu maniak pria itu-oh krystal bergidik mengingat yang satu ini-ia tahu jika Kai cukup berbakat.

 

Pose demi pose Krystal perhatikan, hingga tak sengaja Kai menoleh dan pandangan mereka bertemu. Krystal tetap dalam ekspresi datarnya namun entah mengapa tiba-tiba ia melihat pria itu menyeringai. Krystal mengerutkan alisnya bingung, tapi sedetik kemudian kebingungan itu terjawab saat tiba-tiba pria sinting itu membuka bajunya. Ya, ia membuka bajunya tiba-tiba tapi dengan gerakan perlahan. Kembali memperlihatkan warna kulit kecoklatan-yang katanya eksotis,juga otot perutnya yang samar.

 

Krystal bersumpah jika saja ia masih menggilai pria itu, mungkin ia akan teriak kegirangan. Syukurlah ia sudah tidak menjadi bagian dari mereka sehingga tidak perlu repot-repot membuat tenggorokannya sakit.

 

Krystal sebenarnya agak terkehut, tapi buru-buru ia menetralkan ekspresinya dan berniat untuk pergi saja. Berdiri disini dan terus melihat Kai yang bertelanjang dada membuat ia merasa jadi gadis cabul. Tapi langkahnya terhenti saat matanya menangkap siluet wanita berparas cantik berbalut pantcoat dress berwarna hitam-Irene-yang tengah berbicara dengan salah seorang staff.

 

Krystal jadi mengingat bagaimana pertama dan terakhir kali mereka bertemu. Ia berniat meminta maaf atas perlakuannya yang sangat kasar waktu itu. Tapi selalu tidak menemukan waktu yang tepat. Jadi, inikah saatnya?

 

Krystal sedikit ragu, tapi perlahan ia tetap menghampiri Irene. Lalu berdehem canggung sebelum ia melancarkan aksinya.

 

“Bisa bicara sebentar? Atau kau sedang sibuk?” Oh ya tuhan ini benar-benar bukan gaya Krystal.

 

Irene sedikit terkesiap saat menyadari siapa yang menyapanya. Ia dan sedikit membungkuk, lalu ia tersenyum cerah. “Ah, Presdir.. Kebetulan aku tidak begitu sibuk. Apa ada yang bisa ku bantu?”

 

“Ah, tidak usah seformal itu, aku bukan presdir sungguhan. Dan aku masih sembilan belas” Katanya tertawa hambar seraya mengibas-ngibaskan tangannya di udara.

 

Irene kembali tersenyum menanggapi itu. “Itu bukan alasan. Karna ini di kantor dan nona adalah atasanku”

 

“Ah.. Ya, aku mengerti.” Krystal hanya mengangguk-angguk setuju.

 

“Jadi, apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan?” Lagi-lagi Irene tersenyum.

 

Ah benar, apa tujuannya tadi? Mengapa ia jadi secanggung ini? Bukankah tujuan awalnya untuk meminta maaf? Ya, minta maaf. Itu bukan gayanya, jadi ini memang agak aneh untuk Krystal.

 

“Eh, iya. Emm.. ngomong-ngomong.. Aku minta maaf untuk yang waktu itu.” Ia tak menatap Irene, justru menatap kakinya di bawah yang ia mainkan di atas lantai.

 

“Tidak perlu di pikirkan. Harusnya aku yang minta maaf. Itu pasti sangat mengejutkan dan membuatmu marah, aku mengerti.” Jelasnya dengan intonasi yang begitu tenang.

 

Krystal menatap Irene, melihat bagaimana cara bicara gadis itu. Bukankah reaksinya sangat dewasa? Jika ia yang berada di posisi itu, mungkin ia akan menjadikan ini kesempatan pembalasan. Ah, dan jangan lupakan wajah cantiknya itu. Pantas saja Kai melindunginya-saat hampir saja Krystal melempar kontrak ke wajah seindah itu, tentu saja Kai tidak akan rela segorespun ada luka disana.

 

“Tapi aku benar-benar merasa buruk, sikapku sangat kekanakan. Sama sekali tak mencerminkan sedikitpun kedewasaan dalam menanggapi masalah yang justru aku sendiri tidak tahu apa. Aku hanya mengikuti emosiku waktu itu. Aku menyesal.”

 

Krystal Jung, ini benar-benar bukan gayamu. Dan dari mana anak cengeng sepertimu mendapat kalimat pengakuan semacam itu? Mungkin setelah ini ia akan berlari ke toilet karna mual.

 

Irene kembali memperlihatkan senyum anggunnya. “Aku sangat menghargai permintaan sekaligus pengakuanmu. Itu sangat keren di usiamu. Kau sembilan belas bukan?”

 

Krystal hanya mengangguk lemah. Meskipun sebenarnya ia ingin tertawa hingga perutnya meledak. Keren? Padahal sepertinya ia merasa dirasuki arwah lain.

 

Irene tersenyum lalu netranya beralih pada seseorang yang masih sibuk dengan pose dan kamera di hadapannya. “Seseorang kadang tidak ingin mengakui kesalahan yang ia lakukan dengan alasan yang sangat egois. Lebih mementingkan perasaannya tanpa memperdulikan ada atau bahkan banyak yang terluka karenanya.” Ia kembali memandang Krystal. “Dan sikapmu benar-benar keren, menurutku”

 

Baiklah, pertanyaan satu itu berhasil membuat tawanya meledak. “Astaga kau benar-benar pandai memuji orang. Aku jadi tahu alasan mengapa seseorang begitu memujamu.” Entah mengapa tiba-tiba ia mengingat semua pujian si sialan itu tentang perempuan cantik ini.

 

“Seseorang?” Irene nampak bingung.

 

Krystal menunjuk Kai dengan rahangnya. “Dia sangat mengagumi semua yang ada pada dirimu”

 

Irene tertawa hambar. “Sayangnya aku hanya menganggap dia sebagai adikku. Dulu aku juga tinggal di panti asuhan yang sama dengannya jika kau bertanya mengapa.”

 

Raut wajah Krystal berubah terkejut. Ia baru mengetahui fakta yang satu itu. “Ah.. Maaf, aku tidak tahu”

 

Lagi-lagi-lagi dan lagi, begitu mudah untuk gadis cantik itu tersenyum. “Tidak apa-apa, aku sama sekali tidak keberatan dengan topik itu. Tapi sepertinya aku harus segera kembali ke ruanganku. Ini masih jam kerja. Tidak masalah kan?”

 

“Ah, tentu. Maaf mengganggu waktumu”

 

Irene membungkuk lalu beranjak pergi.

 

Entah apa yang di pikirkan Krystal, tapi wanita itu benar-benar mengesankan, pikirnya.

 

“Apa yang kalian bicarakan?”

 

Krystal benar-benar terkejut saat suara itu menggema di telinganya. Si sinting Kim Kai. Ternyata pemotretannya sudah selesai. Krystal mendengus.

 

“Pembicaraan perempuan. Puas?” Jawab Krystal skeptis. Sedangkan Kai menatapnya tak percaya.

 

“Kalian membicarakanku?” Kalimat itu membuat Krystal menatap Kai dengan tatapan-ayolah-jangan-menjijikan.

 

“Apa pemotretannya sudah selesai?” Alih-alih menjawab, Krystal lebih fokus pada staff yang mulai merapikan alat-alat. Kai mengangguk membenarkan.

 

“Benarkah?” Ia menatap Kai berbinar. “Akhirnya semua ini berakhir. Baiklah, terima kasih atas kerja kerasmu” Ujar gadis itu yang sama sekali terdengar tidak tulus. Ia hendak melangkah pergi tapi Kai menahan lengannya, membuat gadis itu kembali menoleh.

 

“Apa lagi?”

 

“Traktir.”

 

“Apa?!”

 

“Traktir aku. Karna setelah ini saham perusahaanmu akan kembali naik dengan pesat. Dan kau harus tau jika itu karna aku berada di proyek ini. Jadi kau harus mentraktirku makan”

 

Krystal mendengus tak percaya. “Kau bercanda? Makan saja sendiri. Aku tidak mentraktir selain temanku” Ia melepaskan tangannya lalu beranjak dari tempatnya. Tapi lagi-lagi suara itu kembali terdengar.

 

“Baiklah, ayo kita berteman!”

 

Krystal menoleh lalu menatap Kai skeptis “My ass!” Lalu kembali melanjutkan langkahnya.

 

“Kalau begitu, ayo kita berkencan!”

 

.

 

.

 

.

 

 

-TBC-

 

 

Haaaayy! ^^

Gimana selesai baca chapter ini? Mual? Yep, aku juga😄

 

Sumpah aku nulis ini tanpa mikir. Ngalir aja gitu, jadi maap maap aja kalau chapter ini terkesan aneh dan maksain. Oiya, dan aku menyadari jika di chapter sebelumnya sangat banyak typo. Ya ampun maapkeun aku yang tidak teliti :3

 

Yang baik hati boleh tolong katakan sesuatu? Tolong katakan apapun itu, apa aja lah bebas yang penting berkomentar tentang chapter absurd ini😄 #serius

 

See you next chapter!

25 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] HATER X FAN (Chapter 7)

  1. Ping-balik: [EXOFFI FREELANCE] HATER X FAN (Chapter 8) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Hai kak chocho (L)… aku balik lagi nih, mau ninggalin sedikit jejak berdebu disini hehehe

    Ini kok aku makin gemes aja yah sama tingkah Kai, kan kesian si krystal di godain mulu haha

    Next chap yaa kak, semangat kak chocho 😊

    • Haiii juga frey🙂
      Gaada komentar berdebu, semuanya berharga buat aku😀 /hueeekkkk/

      Aku juga yang nulisnya gerrr.. Haha😄

      Iya, makasiiiiiihhh /peluk/ ditunggu ya dear🙂

    • Kamu nungguin? Yaampun kok aku terhura gitu yaa? :’) /lebay deh minta disiram -_-/
      Kamu juga bilang keren jadi perutku melilit gini yaa?😄 hahahaa
      Makasih paaark /peluk erat/ *lalu beneran di siram sama*

      Oke, ditunggu ya dear😉

  3. Ff nya keren 👍👍👍
    Tp aku bingung, kai itu suka sama irene atau krystal? Mungkin akan ke jwb di chap2 slanjutnya. Semangat nulisnya.
    Banyakin moment mereka ya…

    • Hahahaaaa kamu membuatku tersapu eh tersipu maluu😄 wkwk tapi makasih😀 hehe
      Iya, ikutin terus ya chapter2 depan biar gak bingung😄 hahaa /promosi/ wkwkwk

  4. Waaaaaahh keeeereeeennnn baaaaaaangeeettt. Chapter terkeren sejauh ini. G mual kq tenang aja. Malah pengen nambah lagi. Suka moment mereka. Walaupun krystal nya jutek gitu tp lucu….👍👍👍👍👍

    • Pertama, biarkan aku ngakak dulu /ketawa sampe guling2 dilantai lalu nangis di pojokan karna terharu/ oke ini lebay, tapi kata2mu sangat menyanjungku :’3 whahaa makasiiiiiihhhhh /peluk erat/ *lalu disambit kim Dee

      Thanks dear, tunggu chapter selanjutnya yaa😄 hahaha

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s