[EXOFFI FACEBOOK] NamjaChingu

11227772_781522688631784_345793137210070474_n

 

Title: NamjaChingu

Author: Sridewi

Cast: Jung Yeoja (OC), Kim Jong In (EXO), Other

Genre: Romance /?/ (Niatawalnyamaudibuat romance comedy tapigagal total :D)

Rate: T

Length: Oneshot

 

Warning typo bertebaran, ceritaabal-abal bin absurd, tapiiniaslihasilpemikiranotaksengklekku😀

 

Happy Reading …

Di siang yang terik ini ku lihat seorang nenek tua dengan tongkat ditangannya hendak menyebrang jalan yang cukup ramai mobil berlalu lalang. Sepertinya nenek itu buta? Terlihat dari caranya meraba-raba jalan dengan tongkatnya saat menyeberang.

 

GAWAT!

 

Sebuah mobil truk dari arah kananku melaju dengan kencang. Tanpa berpikir-pikir lagi aku langsung berlari ke arah nenek tua itu untuk menyelamatkannya.

 

BRUK.

 

Aku terjatuh, begitu juga nenek tua itu. Aku bernapas lega saat menyadari aku berada di pinggir trotoar. Aku berhasil menyelamatkan nenek tua itu. Syukurlah…

 

Aku segera berdiri, kemudian membantu nenek tua itu berdiri.

 

“Nenek gak papa? Apa ada yang terluka atau terasa sakit?” tanyaku khawatir

 

Nenek itu menggeleng seraya tersenyum.

 

Benar. Aku tak menemukan luka pada tubuh nenek itu. Aku tersenyum dan bernapas lega untuk yang kedua kalinya karena nenek yang aku tolong itu tidak terluka. Tapi…, kenapa aku merasakan sakit pada lututku? Astaga… rupanya lututku terluka. Mungkin kerna mengenai batu ketika aku terjatuh tadi. Tapi tak apa, aku bisa mengobatinya. Lagi pula ini hanya luka lecet. Tinggal aku kasih obat merah atau handsaplas pun sehari dua hari sudah sembuh.

 

“Terima kasih ya Cu karna sudah menolong nenek.” Kata nenek itu kemudian.

 

“Iya sama-sama, Nek.” Balasku dengan tulus.

 

“Semoga apa yang kamu inginkan bisa kamu dapatkan.” Nenek itu mengusap lembut pundakku. Aku tersenyum. Astaga sentuhan lembut nenek itu membuatku teringat sosok nenekku yang berada di Busan.

 

“Aminn, Nek.” Aku mengamini ucapan nenek itu.

 

“Nenek mau kemana?” tanyaku.

 

“Nenek mau pulang ke rumah.” Jawab nenek itu.

 

“Rumah nenek di mana?” tanyaku lagi.

 

“Rumah nenek tidak jauh dari sini, Cu. Rumah nenek ada di gang itu.” nenek itu menunjuk sebuah gang yang tidak besar, tidak pula kecil. Pokoknya mobil bisa masuk ke gang tersebut.

 

Ah, aku tahu gang itu. Gang itu merupakan gang komplek perumahan yang rumah-rumahnya sangat mewah. Tunggu, apakah nenek itu orang kaya? Kuperhatikan cara nenek itu berpakaian dan perhiasan yang melekat di tubuhnya, kurasa nenek itu benar orang kaya. Tapi jika kaya kenapa nenek ini pergi sendirian dan tidak dikawal oleh seorang bodyguard? Bagaimana jika nenek itu di jambret atau di begal? Seperti di negara Indonesia yang tengah marak aksi pembegalan. Tapi apakah di Korea ada begal seperti di negara Indonesia? Eum.. kurasa tidak. Tapi aku meyakini kejahatan ada dimana-mana.

 

“Mau ku antar pulang, Nek?” aku menawarkan diri dengan tulus.

 

Nenek itu menggeleng. “Tidak usah,Cu. Nenek bisa pulang sendiri.”

 

“Yang benar, Nek?” aku sedikit tak yakin.

 

Nenek itu mengangguk seraya tersenyum meyakinkanku. Astaga baru ku sadari ternyata senyuman nenek itu manis juga. Pasti ketika muda nenek itu sangat cantik. Walau kulitnya tidak kencang lagi, aura kecantikannya tetap terpancar.

 

“Ya sudah, nenek pulang dulu ya, Cu?!” nenek itu mulai menggerakkan tongkatnya, meraba-raba jalan sambil mengambil langkah pergi.

 

Ku pandangi kepergiannya yang semakin menjauh itu, untuk memastikan bahwa nenek itu baik-baik saja. Hingga nenek itu memasuki gang barulah ku melepas pandangan darinya.

 

Ketika aku menoleh aku mendapati seseorang yang tidak aku kenal dengan pakaian yang begitu asing ada di depanku, bahkan menatapku. Aku terkesiap-nyaris terjungkat karna begitu kagetnya.

 

“Ka-kau siapa?” tanyaku terbata dengan rasa takut. Penampilannya memang tidak begitu seram, tapi… kumis dan jenggotnya sangat lebat.

 

“Aku Gatot Kaca.” Jawabnya singkat sambil mengusap-usap jenggot di dagunya.

 

What? Gatot Kaca? Nama yang aneh. Sangat aneh bahkan.

 

“Kau dari mana?” tanyaku cepat.

 

“Sebenarnya aku berasal dari India, tapi sekarang aku menetap di Indonesia.” Jelasnya.

 

Mulutku hanya membentuk huruf “O”.

 

“Kenapa kau bisa ada disini? Jarak Indonesia ke Korea kan sangat jauh, kenapa kau cepat sekali? Apa kau punya kekuatan?” aku menatapnya, meminta penjelasan.

 

Dia menjentikkan jemarinya. “Tepat. Ya, aku punya kekuatan.”

 

“Lalu… apa tujuanmu datang kemari?” aku bertanya lagi.

 

“Aku akan datang kepada siapa saja yang berbuat kebaikan kepada orang lain dengan tulus. Dan tujuanku datang untuk memberinya satu permintaan dan aku akan mengabulkannya.” Jelasnya.

 

“Jadi?” aku memiringkan kepalaku.

 

“Mintalah satu permintaan. Maka aku akan mengabulkannya.” Ujar pria bernama Gatot Kaca itu.

 

“Benarkah?” mataku berbinar. “Kau serius?”

 

“Tentu saja.” Tandas Gatot kaca.

 

“Kalau begitu aku ingin… “ aku menggantung ucapanku sejenak, menggigit bibirku untuk menimbang-nimbang apa yang aku inginkan. “Aku ingin punya pacar. Aku bosan 2 tahun jomblo terus.” Kataku kemudian, sambil memandang Gatot Kaca.

 

Ku lihat Gatot Kaca tengah berpikir untuk mengabulkan keinginanku. “Bisa, kan?” tanyaku memastikan. Aku takut keinginanku terlalu aneh untuk dikabulkan oleh seseorang bernama Gatot Kaca itu.

 

“Tentu saja. Kau ingin pacar yang seperti apa?” setelah lama terdiam, akhirnya Gatot Kaca itu bertanya padaku seperti apa pacar yang aku inginkan.

 

“Eum… aku ingin pacar yang kaya, baik, tidak pelit, tinggi, setia, sayang dan cinta banget sama aku, yang nggak nyakitin aku.” aku menyebutkan kriteria pacar yang aku inginkan. “Trus good looking, gak ganteng gak papa yang penting manis, gak mancung juga gak papa yang penting gak pesek-pesek banget, lalu kulitnya gak putih juga gak papa yang penting jangan hitam banget kaya orang Negro, gak sekeren mantan aku, Kris, juga gak papa yang penting gak malu-maluin kalo di ajak jalan-jalan.” Lanjutku.

 

“Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu. Tunggu lima menit setelah aku pergi, makan pacar impianmu akan datang.” Kata Gatot Kaca sebelum ia pergi menghilang.

 

Aku menyapu pandangan ke sekelilingku sambil menanti pacar baru pemberian  dari Gatot Kaca.  Ketika aku tengah menikmati bunga cherry blossom yang berjatuhan, tiba-tiba ku rasakan sebuah tangan menepuk pelan pundakku.

 

Aku terkesiap sembari menoleh.

 

“Hai chagiya.” Desis seseorang yang menepuk pundakku dengan senyum terukir di wajahnya.

 

“Hah? Cha-“ aku tak melanjutkan ucapanku saat tiba-tiba aku teringat ucapan Gatot Kaca beberapa menit yang lalu. ‘Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu. Tunggu lima menit setelah aku pergi, makan pacar impianmu akan datang.’

Apa pria ini yang gatot kaca kirimkan untuk menjadi pacarku? Hem… tampan juga. Tubuhnya juga tinggi. Tapi… ya kulitnya tidak seputih orang Korea pada umumnya, hidungnya juga tak semancung Kris, mantanku. Hehe… tapi tak apa pacar kiriman dari Gatot Kaca bisa dibilang keren kok. Aku suka. Aku suka.

 

“Hai…” akhirnya aku membalas sapaannya dengan senyum tak tak kalah manis darinya.

 

“Ayo kita pulang.” Ia menggenggam tanganku sambil menuju mobil lamborghini berwarna putih. Apakah mobil itu miliknya? Jika iya, berarti dia kaya? Waaa…

 

“Eum… apa ini mobilmu?” Ck. Pertanyaan macam apa ini? kenapa pertanyaan ini lolos dari mulutku. Bukannya aku tak yakin dengan kekasih baruku, aku hanya ingin memastikan bahwa pacar baru kiriman dari Gatot Kaca benar-benar kaya.

 

“Tentu saja chagiya. Ayo masuk!” ia membukakan pintunya untukku. Dan menuntunku masuk ke dalamnya.

 

Argh.. dia romantis sekali.

 

  • ●●

 

Weekend ini, Kai, kekasih baruku-hehe… mengajakku pergi ke suatu tempat. Ya secara tidak langsung dia mengajakku kencan? Mungkin ini merupakan kencan pertamaku dengan dia setelah kami jadian satu minggu yang lalu.

 

Lotte World adalah tujuan kami. Dan tahukah? Sekarang kami memakai baju couple berwarna biru muda yang dibagian depannya, tepatnya di bagian dada terdapat gambar hati berwarna merah, sedangkan dibagian belakangnya tertulis nama kami. Di bajuku tertulis nama “Kim Jongin”, pun di bajunya tertulis namaku “Jung Yeoja”. Romantis bukan? Dua hari yang lalu Jongin memberikannya padaku.

 

“Mau es krim?” tanyanya saat melintasi pedagang es krim di sekitar Lotte World.

 

Aku mengangguk. Dia pun segera membelikannya untukku. Tak menunggu lama, Jongin pun datang dengan dua buah es krim rasa cokelat. Satu untukku dan tentu saja yang satunya lagi untuknya.

 

“Oppa, apa kau mencintaiku?” tanyaku  sambil menjilati es krim cokelatku.

 

“Tentu saja.” Tandasnya tanpa menatapku.

 

“Apa buktinya?” kali ini aku menatapnya dengan sedikit mendongak, karna sosoknya yang lebih tinggi dariku. Dia menghentikan langkahnya, kemudian menghadap ke arahku, dan…

 

CUP

 

Dia mengecup pipiku.

 

“Ya, apa yang kau lakukan, huh?” protesku sambil mengusap-usap pipiku yang tadi dicium olehnya.

 

“Menciummu.” Jawabnya singkat tanpa merasa bersalah.

 

“Ya, aku bilang kan apa buktinya jika kau mencintaiku? Aku tidak memintamu untuk menciumku.” Sengitku sambil memanyunkan bibirku kesal.

 

Dia terkekeh. “Tapi menciummu adalah bukti cintaku padamu, Yeoja-ah.” Jongin mencubit pipiku gemas.

 

“Ya, Oppa, kau nakal sekali, huh.” Aku balas mencubit pinggangnya.

 

“Appo, chagiya.” Rengeknya, aku justru mencubit pinggang di bagian yang lain. Haha… rasakan kau Kim Jongin, siapa suruh menciumku lalu mencubit pipiku. Itu balasan untukmu.

 

Langkah Jongin berhenti ketika tepat di tempat permainan rolling coaster. Mau tak mau aku menghentikan langkahku juga.

 

Jongin menatapku.” Mau naik?”

 

“Boleh.” Kataku tanpa keberatan. Sebenarnya aku termasuk orang yang mudah pusing dan mual, tapi jika bersama orang yang aku cintai kenapa tidak? Toh jika aku kenapa-kenapa pasti dia akan menolongku.

 

Sebelum rolling coaster itu berjalan, kami terlebih dahulu memakai sabuk pengaman. Ketika rolling coaster itu akan berjalan, Jongin menggenggam tanganku, membuatku menatap ke arahnya dan memberikan ia senyuman termanisku.

 

Kami semua menjerit ketika rolling coaster itu mulai menunjukkan aksinya yang mampu memacu adrenalin.  Namun beberapa detik kemudian aku mendengar jeritan yang terdengar aneh di telingaku. Ternyata itu berasal dari orang di sebelah kananku, siapa lagi kalau bukan kekasihku, Kim Jongin. Jika biasanya orang-orang menjerit dengan kata “AAAAA” tapi yang ku dengar dari Jongin justru “JUNG YEOJA SARANGHAE. NEOMU SARANGHAE.”

 

Aku mendelik ke arahnya, dan dia hanya menunjukkan senyuman konyolnya.  Aku malu, tapi aku bahagia. Dia orang pertama yang melakukan itu padaku.

 

Ketika roalling coaster mulai berhenti, dan semua penumpang melepas sabuk pengamannya masing-masing kemudian beranjak pergi dari bangku roalling coaster, Kai justru menggenggam tanganku, mencegahku untuk membukanya. Aku menatapnya bingung sebagai isyarat pertanyaan “Wae?”

 

Tapi Jongin tidak mengindahkan arti tatapanku. Justru ia memperlihatkan smirk andalannya kemudian memajukan wajahnya ke arahku. Oh, aku tahu maksudnya. Aku pernah melihat adegan seperti ini di drama-drama, pasti Jongin ingin menciumku.

 

CUP

 

Dan benar saja, Jongin kembali menciumku. Untuk kali ini bukan di bagian pipi, tetapi di bi-bir-ku. Dan ini di tempat umum. Astaga… kenapa pacarku yadong sekali? Oh gatot kaca, walaupun kau mengabulkan permintaanku untuk memberikan aku pacar yang kaya, baik, tinggi, good looking, sayang dan cinta sama aku, tapi… kenapa yang berotak mesum? Kenapa?

 

“Karna kau tidak menyebutkan bahwa kau tidak ingin pacar yang berotak mesum.”

 

Astaga, aku seperti mendengar suara Gatot Kaca, tapi aku tak melihat wujudnya.

 

Jika ku pikir-pikir dan ku ingat-ingat, memang benar aku tidak menyebutkan bahwa aku tidak ingin mempunyai pacar yang berotak mesum. Yah, bisa dikatakan ini salahku. Itu artinya aku tidak bisa menyalahkan Gatot Kaca yang telah memberikan pria bernama Kim Jongin sebagai kekasihku.

 

Aku memberikannya tatapan death glare setelah dia melepaskan ciumannya. Dia hanya merespon tatapanku dengan senyuman tanpa dosa, kemudian ia melepaskan sabuk penganku dan menarikku pergi. Setelah berhasil menjauh dari kerumunan orang-orang, Jongin angkat bicara.

 

“Tadi aku romantis, kan?” selorohnya bangga. Aku melengos.

 

Cih, romantis katanya? Yadong iya.

 

Jongin membalikkan tubuhku menghadapnya. “Yang tadi juga merupakan bukti cintaku padamu. Menciummu di tengah keramaian. Haha.” Jongin tertawa bangga. Aku hanya mencibir.

 

“Chagiya, apa kau marah padaku?” Jongin menangkup pipiku dengan tangannya. Ia sedikit menundukkan kepalanya untuk menatapku. Aku menggeleng lalu melepaskan tangannya dari pipiku.

 

“Aku tidak marah, aku hanya kesal. Kau membuatku malu Oppa.”

 

“Mian.” Desisnya, menyesali. “Aku hanya ingin membuktikan rasa cintaku padamu. Aku tidak tahu harus bagaimana untuk membuktikan rasa cintaku padamu selain menciummu.” Lanjutnya dengan lirih.

 

Aku masih bergeming.

 

“Di satu sisi kau malu, tapi di sisi lain kau bahagia, kan chagi?” ia mulai menggodaku.  Aku menepis tanganku di udara.

 

Ya benar, aku malu tapi aku bahagia.

 

“Oppa.” Aku menggenggam kedua tangannya.

 

“Mm?” Jongin menatapku lembut.

 

“Cukup kau slalu disampingku, dan tanpa menyakitiku. Ku anggap itu adalah bukti cintamu padaku.” seruku sembari tersenyum tipis padanya. Kemudian aku sedikit berjinjit, mengecup keningnya singkat.

 

“Saranghae.” Jongin memelukku. Dapat ku rasakan aroma tubuhnya yang ku sukai.  Davidoff Coolwater, memberikan kesan yang begitu maskulin pada sosok Jongin.

 

Setelah melakukan adegan-adegan seperti dalam film-film, dan drama-drama, kami melanjutkan perjalanan untuk mencoba wahana lainnya. Setelah puas mencoba wahana permainan, kami pergi ke tempat makan untuk mengisi perut kami yang sudah minta di isi. Sambil menunggu pesanan datang, aku dan Jongin berselfie ria. Di foto pertama kami saling tatap. Di foto kedua aku berekspresi cemberut, sementara Jongin tersenyum dengan tangannya mencubit pipiku. Di foto ketiga kami sama-sama menjulurkan lidah kami. Dan di foto selanjutnya Jongin memelukku dari samping, sementara aku meliriknya. Setelah cukup dengan foto yang kami ambil, Jongin memilih satu foto terbaik untuk di upload di akun sosial media yang baru dia buat beberapa hari lalu. Instagram. Jongin menuliskan teks di foto tersebut, “With yeoja cihingu. Saranghae.”

 

Beberapa menit kemudian sudah ada yang memberi komentar di foto kami yang Jongin upload tadi.

 

“Hei, Kkamjong itu pacarmu?”

 

“Kyaaa… Jongin, akhirnya kau mempunyai yeoja chingu. Chukkaeyo~”

 

“Mereka siapa, Oppa? Chingu mu?”Jongin mengiyakan.

 

“Mereka temanku. Ini Oh Sehun.” Jongin menunjuk komentar pertama. “Dan ini Park Chanyeol.” Dia menunjuk komentar kedua. Aku mengangguk mengerti. Dan setelah itu pesananpun datang.

 

Setelah selesai makan, Jongin mengajakku nonton ke bioskop yang letakkan masih di kawasan Lotte World. Ya… aku senang menonton, tapi… tahukan? Jongin mengajakku nonton film horor. H.O.R.O.R. HOROR. Aku pikir ia akan mengajakku nonton film romance, tarnyata tidak. Agak kecewa sih, tapi tidak apalah sekali-kali.

 

“AAAAA” Jeritkku sambil menghambur memeluk Jongin yang berada di sebelahku, saat tokoh hantu dalam film horor tersebut mucul secara tiba-tiba.

 

Ku dengar Jongin terkekeh senang karna di peluk olehku.

 

“Ya Oppa, kau senang huh?” singutkusambil melepas pelukan padanya.

 

“Aniya..” ia mengelek. Aku mengerling jengah. Aku sangat tahu seperti apa kekasihku yang bernama Kim Jongin ini. Dia… nappeun namja, yadong namja.

 

Setelah film selesai kami memutuskan untuk pulang karna tak terasa hari sudah sore. Aku sangat senang hari ini. Kencan pertama bersama Kim Jongin sungguh menyenangkan. Akan kupastikan hari ini akan menjadi bagian dari hidupku yang takkan terlupakan.

 

Jujur, cukup lama sendiri, dengan berstatus jomblo, yang setiap malam minggu selalu merasa gegana (gelisah, galau, merana) membuatku lupa bagaimana rasanya dicintai dan lupa bagaimana rasanya berkencan. Tapi setelah dia, Kim Jongin, hadir dalam kehidupanku, membuatku merasakan lagi bagaimana rasanya dicintai dan berkencan dengan orang yang dicintai.

 

“Kau senang, hm?” Jongin melirikku sekilas tanpa berhenti dari kegiatan menyetirnya.

 

Aku tersenyum sambil menatap wajah tampannya. “Ne, aku senang. Sangat senang. Gomawo.” Ia menggenggam tanganku dengan sebelah tangannya, bibirnya dibiarkan melengkung membentuk senyuman yang begitu manis dimataku.

 

Karna kelelahan, di perjalan aku tertidur. Hingga pada akhirnya aku tersebangun saat merasakan Jongin mengguncang tubuhku pelan.

 

“Eungghh.” Aku melenguh sambil membuka mataku perlahan. “Sudah sampai?” kataku kemudian saat sosok kekasihku nampak jelas dalam pandanganku.

 

Yang ku tanya hanya mengangguk sambil menunjukkan senyumannya.

 

Argh… senyumannya kenapa manis sekali? Membuatku ingin merasakannya. Eh? Loh? Kenapa aku berkata seperti itu? Kenapa tiba-tiba otakku agak sedikit mesum? Cepat sekali virus yadong dari kekasihku menyebar, seperti flue saja. Ck.

 

“Tapi… kita di mana?” aku mengernyit saat melihat sebuah rumah mewah dengan desain klasik di depan mataku.

 

“Rumahku.” Jawab Jongin singkat.

 

Aku memicingkan mataku penuh curiga. Kalau-kalau kekasihku yang berotak mesum itu ingin berbuat macam-macam denganku di rumahnya yang terbilang sangat mewah itu.

 

“Tidak seperti yang kau pikirkan, chagiya.” Ia mengusak pelan rambutku yang seolah tahu isi hatiku.

 

“Aku hanya ingin mengenalkanmu dengan nenekku. Tahukah? Aku sudah menceritkan tentangmu dengan nenekku, dan dia sangat penasaran denganmu. Makanya aku mengajakmu kemari.” Jelasnya, mulutku membentuk huruf ‘O’.

 

Aku memperhatikan dengan seksama bentuk bangunan rumah Jongin yang mewah dan megah itu. Jika sudah melihat rumahnya yang seperti ini, aku jadi semakin yakin kalau pacarku benar-benar kaya.

 

“Halmeoni.” Seru Jongin sambil mencari sosok neneknya.

 

“Jongin?” ku lihat seorang nenek keluar dari salah satu ruangan dengan sebuah tongkat di tangannya.

 

Loh? Nenek itu kan… nenek yang aku tolong seminggu yang lalu. Mungkinkah… neneknya Jongin?

 

Jongin membimbing langkah nenek itu untuk menuju ke arahku. Aku masih mengernyit karna masih tidak percaya bahwa nenek yang pernah ku tolong adalah neneknya kekasihku. Oh… jika sudah begini aku jadi merasa bahwa dunia sangatlah sempit, tak seluas yang terlihat oleh mata.

 

“Nenek?” pekikku terkejut  saat nenek itu sudah ada di hadapanku.

 

“Loh? Kalian saling kenal?” Jongin menatap kami bergantian.

 

“Aku pernah menolong nenekmu menyebrang  jalan seminggu yang lalu.” Ceritaku.

 

“Lho, benarkah ini kau, Cu?” nenek Jongin meraba sosokku.

 

Aku tersenyum, walaupun aku yakin nenek itu tak dapat melihat senyumanku. Tapi aku yakin nenek itu dapat merasakannya. “Iya nek, ini aku.” desisku.

 

“Astaga, rupanya gadis yang telah menolongku adalah kekasih cucuku, Jongin, yang tampan ini.” Jongin menyeringai saat mendengar neneknya memujinya tampan.

 

“Kau tahu? Di hari setelah kau menolong nenek, Jongin selalu menceritakan tentangmu. Katanya pacarnya sangat cantik dan ia sangat sayang sekali pada gadisnya.” Jongin menunduk malu karna ucapan neneknya tersebut. Bagaimana tidak, Jongin kan malu kalau dia ketahuan suka menceritakan tentangku  pada neneknya. Haha… ketahuan kau Kim Jongin.

 

Aku mengerling nakal padanya. Jongin justru semakin menundukkan wajahnya.

 

“Jangan percaya dengan nenekku, dia berbohong chagiya.” Kilah Jongin berusaha menutupi kenyataan bahwa ia selalu menceritakan tentangku pada neneknya.

 

“Ya apanya berbohong, kau memang selalu menceritakan tentang kekasihmu padaku.” nenek Jongin membela diri.

 

Melihat kelakuan mereka berdua aku hanya bisa terkekeh sambil menggelengkan kepala. Dan kau tahu setelah pertengkaran kecil antara cucu dan nenek tersebut? Nenek Jongin menyuruhku menginap, dengan alasan nenek Jongin kurang enak badan. Jadi meminta aku untuk merawatnya, karna kalau Jongin katanya kurang bisa merawatnya. Ya aku tidak keberatan kalau hanya untuk sekedar merawat nenek yang sedang kurang sehat. Yang membuatku sedikit keberatan bagaimana jika nanti neneknya sudah tertidur, Jongin mencuri-curi kesempatan untuk mengajakku berduaan lalu dia melakukan hal-hal aneh yang… yang… tidak seharusnya anak muda lakukan sebelum menikah? Aish… kenapa lagi-lagi aku berprasangka buruk pada kekasihku yang tampan, manis, dan… eum seksi. Ya perlu ku akui Jongin seksi.

 

“Chagiya, kemari!” Jongin melambaikan tangannya di ambang pintu menyuruhku keluar dari kamar nenek. Kebetulan nenek baru saja tertidur. Tuh kan benar apa dugaanku, pasti dia akan mencuri-curi kesempatan untuk mengajakku berduaan.

 

Aku beranjak menghampirinya di ambang pintu. Tapi tenang, aku tidak sebodoh itu. Ketika aku sudah sampai di ambang pintu sebelah tanganku memegang kenop pintu. Beberapa detik saat Jongin ingin menarikku keluar, aku langsung menutup pintu itu lalu menguncinya.

 

Hah, aku bernapas lega. Aku selamat darinya.

 

“Chagiya, ayo buka pintunya. Temani aku! aku kesepian.” Rengeknya dari balik pintu.

 

Aku terkikik geli mendengarnya.  Haha… maafkan aku kekasihku.

 

-THE END-

 

Haha😀

Gimana?Gimanaceritanya?

 

RCL ya! Wkwkwk😀 (karnaitumerupakanpenyemangatkuuntukmenulis) J

Sebelumnyaterimakasihbanyak yang udahbaca, like, dankomen. :*

One thought on “[EXOFFI FACEBOOK] NamjaChingu

  1. Bikin envy banget kalo dapetin kai dgn cara itu. Nyebut kriteria, langsung muncul di depan mata. Daebak! 👍👍👍👍👍
    Aku ngerasa aneh sm neneknya. Neneknya beneran buta gk sih? Kok dia bisa nunjuk gang jalan rumahnya? It’s okay kalo neneknya udah hafal jalan.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s