[EXOFFI FREELANCE] Miracles in December (Chapter 9)

20160924225101

Title           : Miracles In December (Chapter 9)

Author       : Kim Hazzel

Length       : Chapter

Genre         : Romance, Friendship, Brothership, Sad.

Rating        : Teen

Main Cast :

  • Oh Sehun
  • Xi Luhan
  • Lee Stella (OC)
  • Choi Ah Ri (OC)

 

Additional Cast :

  • Member EXO
  • David Lee

 

Summary :

 

Aku tak tahu apa yang terjadi di masa lalu. Tapi, kurasa aku harus berada di dekatmu.

 

Desclaimer          : Hello readers semua. Ini ff buatan author sendiri. Hasil karya author 100%. Don’t copy without my permission.

 

^^Hello guys. Ini lanjutin ff author yang sebelumnya. Semoga bisa sesuai selera readers semuanya. Typo bertebaran. Don’t bash. Don’t be silent readers. Tinggalkan jejak setelah membaca. Terima Kasih^^

 

 

SELAMAT MEMBACA ^^

***

[Chapter 9]

Stella sampai di Rumahnya dengan keadaan yang sangat melelahkan. Wajahnya yang penuh dengan pertanyaan. David yang juga baru sampai itu melihat adik kesayangannya itu pulang tanpa semangat pun menghampirinya.

“Apakah banyak pasien di Rumah Sakitmu?”

Stella hanya menggeleng.

“Hem.. apakah kau belum mendapat gaji?”

Menggeleng lagi.

“Lalu, apakah kau putus dengan Luhan?” Stella langsung menatap kakaknya tajam.

“Tentu saja tidak. Oppa aneh-aneh saja.” katanya lalu menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga. “Aku hanya ingin mengingat secepatnya. Aku merasa itu adalah sangat penting.” katanya yang tiba-tiba menangis.

David yang melihat itu lantas menghampiri adiknya lalu mengusap punggungnya, “Kau akan mengingatnya jika kau berusaha keras.”

“Tidak. Oppa tahu sendiri kalau aku begitu keras mengingat, kepaplaku serasa akan pecah.”

“Kalau begitu tak usah mengingatnya.”

“Oppa!!”

David menghela napas panjang lalu duduk di depan adiknya, “Jika kau mengkhawatirkan orang yang menunggumu. Aku rasa dia pasti akan mengerti.”

“Maksud oppa Oh Sehun?”

“Kau sudah mengingatnya?”

“Tidak. Dia adalah pasienku. Bukankah oppa tahu dia sedang sakit?”

David menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Ah ya aku tahu.” katanya lalu beralih menuju kamarnya. Stella hanya menghela napas.

“Ini..” kata David sambil menyerahkan buku note kecil yang sudah usang. Stella pun menerimanya.

“Apa ini?” katanya sambil membalikkan buku itu.

“Itu diarymu waktu kau berumur 6 tahun.” Stella masih mendengarkan penjelasan kakaknya dengan cermat. “Bacalah. Siapa tahu kau akan mmengingat sesuatu atau mengurangi rasa bersalahmu sedikit.” tambahnya.

“Terima Kasih oppa.” ia pun beranjak, “Aku akan membacanya sekarang juga.” tambahnya lalu melesat menuju kamarnya. David yang melihat kepergian adiknya hanya tersenyum.

Stella melemparkan tasnya ke sembarang tempat lalu segera membuka buku diary kecil itu.

Hari ini aku bertemu dengan anak laki-laki yang sangat menyebalkan. Dia menumpahkan es krimku dengan bolanya.

Stella tersenyum membaca halaman pertama ini. Jelas sekali ditulis oleh anak umur 6 tahun. “Mungkinkah anak ini kau.. Oh Sehun?” ia pun membalikkan lagi halaman selanjutnya.

Hari ini aku pergi ke pesta dengan orang tuaku dan juga kakakku. Dan aku juga bertemu dengan anak laki-laki yang menyebalkan itu. Melihatku, dia langsung meminta maaf lalu dia membelikanku es krim. Dia ternyata baik. Aku senang mengenalmu Oh Sehun.

          Oh Sehun hampir setiap hari main ke rumahku. Dia ternyata sangat menyukai selai nanas. Ih.. apa enaknya??

Hari ini aku dan Sehun bermain lomba sepeda. Dan ternyata aku kalah, jadi aku harus makan roti dengan selai nanas kesukaan Sehun. Tapi, setelah kucoba enak juga. Mulai sekarang selai nanas akan menjadi favoritku. Ah, tidak.. akan menjadi selai nanas favorit kami. Aku dan Sehun

          Aku sangat sebal dengan Sehun. Aku ingin bermain dengannya tapi, banyak sekali gadis kecil yang mengelilinginya. Aku membencimu Oh Sehun!!

Hari ini aku senang sekali. Keluargaku dan keluarga Sehun akan piknik bersama. Tapi, biar saja aku akan mendiamkannya. Salah sendiri mengacuhkanku.

Sehun pindah ke luar Negeri. Tidak.. aku tak akan punya teman. Aku tak mau dia meninggalkanku. Jangan pergi Oh Sehun.. Aku janji akan membelikanmu es krim setiap hari.

Hari ini hari kepergian Sehun. Aku tidak mau melihatnya. Tapi, dia menghampiriku dan memberiku kalung yang indah agar aku tidak sedih. Dia berjanji akan segera kembali untukku. Aku akan menunggumu temanku.

Stella membalikkan lagi selanjutnya tapi, tak ada tulisan lagi. Ia terjatuh lunglai dan menangis. “Bagaimana aku tak bisa mengenali dia? Aku jahat sekali. Bagaimana aku melupakan dia sahabatku.” katanya sambil menangis dan memeluk bukunya erat.

Drrt Drrt Drrt..

Ia mengambil ponselnya lalu membuka pesan Ah Ri.

Sehun tak sadarkan diri. Kau tak kesini untuk melihat temanmu?

Ia segera menghapus air matanya lalu mengambil kunci mobilnya dan menuju Rumah Sakit. Sesampainya di Rumah Sakit ia langsung menuju ruangan Sehun. Air matanya tak henti-hentinya jatuh. Ia membuka pintu itu pelan.

Ia melihat semua member EXO, Ah Ri dan juga Luhan menatapnya dengan bingung.

“Stella.. ada apa denganmu?” tanya Luhan ketika mendapati Stella menangis. Namun, gadis itu hanya diam dan melihat Sehun yang telah sadar dan kini tengah melihatnya dengan tatapan… sedih dan terluka?

Melihat itu, Stella langsung menangis sekencang-kencangnya. Semua orang pun terkejut dengannya. “Stella kau kenapa? Apa ada yang menyakitimu?” tanya Kai. Luhan yang melihatnya hanya diam saja sambil memeluk gadis itu.

Sehun dan Ah Ri hanya melihat mereka dengan tatapan terluka. Lalu membuangkan muka. Stella yang melihat Sehun membuang muka pun semakin menangis. Luhan semakin memeluknya, namun gadis itu hanya melihat ke satu titik. OH SEHUN!!

“Kenapa… kau.. ti..dak bilang kepadaku?” semua orang memandang Stella bingung. Begitu juga dengan Luhan yang melepaskan pelukannya. Gadis itu pun berjalan menuju Sehun.

“Kenapa kau diam saja?” tanyanya pada Sehun, namun laki-laki itu tak mengerti apa yang dikatakan gadis itu. Banyak sekali pertanyaan dikepalanya. Apakah gadis ini mengingatnya atau…

Melihat Sehun yang diam saja, membuatnya semakin menangis. Ia terduduk di kursi sambil menutup mukanya. “Mianhae.. mianhae.. Aku tak bisa mengingatmu.. maafkan aku.. Aku..”

“Kau mengingatnya?” Sehun akhirnya membuka suaranya. Stella semakin menangis sambil menggelengkan kepalanya. Ia mengusap air matanya kasar.

“Aku tahu dari ini.” katanya sambil mengacungkan buku diary yang tadi dibacanya.

Sehun kaget melihat Stella menemukan buku itu. Ia tahu, itu adalah diary Stella pertama. “Bagaimana kau menemukannya?”

“Apakah itu penting sekarang? Yang penting sekarang aku tahu kalau kau sahabatku sejak kecil. Apa maksudmu tidak memberitahuku!!” teriak Stella.

“Hya.. memangnya jika aku memberitahumu kau akan langsung ingat? Tidak kan.”

“Tapi.. aku akan tahu.”

Sehun menghela napas kasar, “Memangnya tau sama ingat itu sama. Makanya lindungi baik-baik kepalamu ini.” katanya sambil memukul kepala Stella.

Semua orang disana hanya menatap mereka berdua lucu. Setidaknya satu kenangan sudah muncul. “Hya Oh Sehun. kau mau mati?”

“Wah.. lihat siapa yang bicara. Kau ini dokter dan kau membunuh pasienmu? dasar gadis gila.”

Stella bangkit dari duduknya hendak memukul Sehun, namun laki-laki itu lebih tangkas. Ia menarik tangan gadis itu dan ia pun jatuh dalam pelukan Sehun. Aku merindukanmu Stella, batinnya.

“Aku juga merindukanmu Oh Sehun.” balas Stella. Sehun terenyak ternyata tadi ia telah mengatakannya. Ia lalu khawatir dengan Luhan. Ia mencari hyungnya itu namun, tak juga ketemu. Ia menghela napas lega lalu melihat kearah teman-temannya yang sedang tersenyum lebar padanya.

 

***

Kai menghampiri Luhan yang duduk di kafetaria. Ia tahu suasana hati hyungnya itu sedang buruk.

“Apa yang kau lakukan disini hyung?”

“Sedang berfikir.”

Kai menghela napas panjang. Mungkin ini saat yang tepat. Ia bisa melihat bagaimana tatapan Sehun dan Stella tadi. Mereka berdua sama-sama sangat membutuhkan. Dan dia rasa Luhan berhak mengetahuinya. “Ada yang ingin kubicarakan tentang..”

“Sehun dan Stella kan?” tebak Luhan

“Ya. Apakah kau ingat tentang cinta pertama Sehun?” Luhan hanya mengangguk sambil meneguk sodanya. “Dia adalah Stella.” tambah Kai.

“Aku tahu.”

“Kau tahu? Sejak kapan?”

“Sejak aku menemukan Sehun pingsan.” Luhan pun menceritakan ia yang hendak mengunjungi Sehun. Namun, ia melihat Sehun pingsan dengan buku diary yang sedang terjatuh dan air matanya yang belum mengering. Ia lantas memeriksa Sehun.

Saat ia hendak keluar, ia penasaran dengan buku yang tergeletak di laci. Ia pun mengambilnya dan membaca halaman per halaman. Ia membaca bagaimana kesedihan Sehun ketika kehilangan Stella. Dan bagaimana Sehun mencintai Stella. Ia lalu menutup buku itu kasar dan keluar dengan perasaan marah.

“Kau tak apa hyung?” tanyai Kai yang melihat Luhan sangat emosi.

“Tentu saja tidak. Aku sakit hati dan marah.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

Luhan menegak habis minuman sodanya lalu berdiri, “Aku tak akan membiarkannya. Aku harus menyelesaikan sekarang juga.”

Kai hanya mendesah pelan mendengar hal itu. Ia pun memejamkan matanya dan menyerahkan semuanya pada takdir.

 

***

Stella mengupaskan jeruk untuk Sehun. “Aaa…” kata laki-laki itu.

“Makan saja sendiri. Kau sudah bukan anak kecil lagi.”

“Dasar,” kata Sehun yang membuat Stella tersenyum. Entah kenapa sekarang perasaannya jauh lebih lega. “Kenapa tadi kau menangis seperti itu? Kau tak tahu Luhan hyung sangat khawatir?”

“Kau itu bodoh sekali. Tentu saja aku menangis karenamu bodoh.”

Sehun tersedak mendengar Stella. Reflek Stella mengambilkan minum untuknya, “Aku?”

“Tentu saja. Aku merasa bersalah karena harus melihatmu mengingat semua kenangan kita sendirian.”

Sehun langsung mengangkat wajah Stella lalu tersenyum. “Tak apa. Bukankah kau sekarang sudah tahu? Ya.. walaupun kau belum mengingatnya.”

Stella meletakkan jeruk di meja lalu memegang tangan Sehun, “Aku tak tahu apa yang terjadi di masa lalu. Tapi, kurasa aku harus berada di dekatmu. Kurasa itulah yang paling benar.”

Sehun hanya diam saja. Kini belahan jiwanya telah berada di depan matanya. Akan baik jika ia segera meraihnya. Namun, ia juga teringat bagaimana wajah khawatir Luhan. Ia pun melepaskan tangan dari Stella, “Kau tentu saja di dekatku. Kau kan sahabatku. Tapi, jangan sering-sering karena itu sangat mengganggu.”

“Apa?” kata Stella lalu disambut tawa dari Sehun. Mereka pun tertawa bersama tanpa menyadari adanya Ah Ri dan Kai yang melihat mereka dengan senyum diluar ruangan.

“Kuharap mereka segera kembali bersama.” kata Kai.

“Kurasa itu sedikit susah. Kau tahu, Stella sedang bersama Luhan sekarang.”

Kai melihat ke arah Ah Ri. Lalu melihat sahabatnya itu dengan teliti,

“Lalu kau? Kau baik-baik saja?”

“Apa maksudmu?”

“Ayolah.. aku mengenalmu bukan hanya beberapa hari yang lalu. Aku tahu kau menyukai Luhan hyung.”

“Apakah sangat jelas?”

“Tentu saja. Hanya orang buta yang tak bisa melihat tatapanmu padanya setiap kali melihatnya.”

Ah Ri menghela napas panjang lalu menghadap ke arah Kai, “Andai saja kau benar. Sayang dia tak akan pernah tahu. Dan aku tak akan memberitahunya. Melihatnya bahagia itu sudah cukup.”

“Kau dan Sehun sama-sama bodoh.”

“Aku tahu, karena itulah aku memahaminya.” katanya lalu pergi namun berhenti lagi dan melihat Kai, “Kau tenang saja. Aku akan baik-baik saja.” tambahnya. Kai yang melihat kepergian temannya hanya menggelengkan kepalanya. Kenapa cinta begitu rumit? Tinggal mengatakannya, apakah itu susah? Dan kenapa juga harus ada ada pengorbanan? Ia benar-benar tak mengerti dan tak mau mengerti.

 

***

TBC. Nantikan chap selanjutnya. Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca. Terima Kasih ^^

 

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Miracles in December (Chapter 9)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s