[EXOFFI FREELANCE] Brother(s); Learn About The Feel – (Chapter 5)

cover 5.jpg

BROTHER(S); Learn About The Feel

Originally by Delza Algiwity

Love; incest, family, romance.

Cast: Park Daelja (OC); Kim Jongin (EXO), Park Chanyeol (EXO); Byun Baekhyun (EXO); Oh Sehun (EXO); Do Kyungsoo (EXO); Kim Myungsoo (INFINITE)

[Contain Harsh-Words; R-17; typo(s)]

“Dan adapun orang yang menganggap dosa itu indah. Salah satunya aku, yang melakukan berbagai hal yang tidak masuk akal dengan kakak kandung ku sendiri.”

Author POV

Canggung. Setelah percakapan ringan namun memiliki efek besar tersebut, tak ada satupun dari mereka yang berbicara. Daelja yang gugup, takut, cemas hanya bisa menundukkan kepalanya sembari memainkan kukunya. Sedangkan pria disampingnya, tidak sekalipun melirik Daelja. Hanya fokus ke jalanan di depannya. Entah kenapa, fakta bahwa Daelja ingin tahu mengenai seorang pria membuatnya panas. Apakah ia cemburu? Cemburu terhadap adiknya sendiri? Atau mungkin hanya rasa khawatir seorang kakak yang berlebihan pada adiknya? Namun, entah apapun alasannya, perasaannya kali ini sudah salah.

Alunan musik Ed Sheeran – Photograph menemani kecanggungan mereka. Daelja sedikit berterima kasih pada musik yang terputar. Karena setidaknya, tidak terlalu canggung. Tapi ia melupakan sesuatu. Sehun kini menjadi teman sekamarnya. Jika mereka sedang berbaikan, tentu saja itu menyenangkan karena Daelja akan melewati malam yang hangat di dalam dekapan tubuh Sehun. Namun, bagaimana untuk malam ini? Akankah mereka tidur dengan punggung yang saling berhadapan? Memikirkan hal itu, membuat Daelja ingin menangis. Ia tak pernah membayangkan kakaknya akan mendiaminya.

Dengan yakin, ia bersuara, “Sehun oppa…”

Ucapnya dengan pelan, namun tak ada jawaban. Karena tidak jauh beda dengan Daelja, Sehun pun sedang berkutat dengan pikirannya sendiri. Hatinya terasa panas, ia tidak terima. Tapi, ia juga tidak terima dengan perasaannya itu. Mengapa ia harus merasakan hal itu? Harusnya ‘kan wajar bagi gadis remaja seperti Daelja untuk mempunyai lelaki yang dikagumi. Oh, Sehun yakin. Dia merasakan hal ini hanya karena ia takut lelaki itu bukan lelaki baik untuk Daelja. Ya, setidaknya alasan itulah yang wajar.

“Sehun-ie oppa….” Daelja bersuara lagi. Kali ini panggilannya terdengar berbeda; guna untuk menarik perhatian kakaknya. Tapi, sekali lagi, hasilnya nihil.

Tangannya mulai terangkat menarik-narik baju Sehun. Bibirnya ia majukan, ia sangat sedih melihat kakak yang selalu memanjakannya, kini mendiaminya, “Oppa… sungguh, itu bukan siapa-siapa. Akan aku ceritakan detailnya… oppa, bicaralah.”

Sehun menghela napas, membuat Daelja menatapnya dengan berbinar; berharap pria itu akan menoleh padanya dan tersenyum lembut serta mengelus kepalanya, ah! Atau mungkin mengecup dahinya.

Namun, harapan hanyalah harapan. Sehun tetap mengacuhkannya yang membuat Daelja menjadi jenuh. Ia memberanikan dirinya untuk mengecup pipi kanan Sehun.

Dan, ya! Berhasil. Tubuh pria itu menegang. Tak percaya adik manisnya berani melakukan itu hanya karena dicueki. Ia segera menoleh ke Daelja yang ternyata belum kembali ke posisi semulanya; membuat bibirnya saling bertemu.

Reflex, Sehun menginjak rem dengan tiba-tiba. Untung saja, jalanan sedang sepi sehingga tidak akan ada bunyi klakson atau makian dari pengemudi lainnya. Mobil yang berhenti secara tiba-tiba tidak membuat keduanya kehilangan keseimbangan. Tangan Daelja kini memeluk leher Sehun. Bibir mereka masih saling menempel. Tidak ada pergerakan lain, hanya menempel.

Sehun masih tidak percaya dengan ini. Ingin rasanya menjauhkan tubuhnya secepat mungkin. Tapi, tubuhnya menolak. Sama dengan Daelja, ia masih mempertahankan posisinya. Mempertemukan tatapan masing-masing. Daelja memandang Sehun dengan manja, sementara Sehun memandang Daelja dengan terkejut.

Beberapa detik berlalu, Sehun bergerak. Ia memegang tangan Daelja yang melingkar pada lehernya dan mulai menjauhkan kepalanya secara perlahan-lahan. Tetapi, lagi-lagi gadis polos itu menarik kepala Sehun dan mengembalikan posisinya seperti semula. Bahkan Daelja, entah mendapat ajaran dari mana, mulai menggerakkan bibirnya. Mengajak bibir Sehun untuk bermain.

Kucing bila diberi ikan tentu saja akan tergiur.

Sama halnya dengan Sehun. Apa yang harus ia lakukan? Melepas diri, tapi ia tak bisa memungkiri bahwa ia senang dengan perlakuan adiknya. Tapi, bukankah ini salah? Pertanyaan-pertanyaan itu terus terlintas di pikiran Sehun saat ia mulai menerima ajakan bermain Daelja.

Mereka memisahkan diri beberapa saat kemudian. Mereka benar-benar membutuhkan oksigen. Jantung Sehun berdetak dengan tidak beraturan. Beda dengan Daelja, yang menganggap ini bukan apa-apa. Bahkan, wajahnya terlihat biasa-biasa saja. Ia masih memasang wajah yang Demi Tuhan, ingin dilahap oleh Sehun.

“Aku akan menjelaskannya semua, oppa. Jadi jangan mendiami ku seperti itu, ya? Atau aku akan menangis.” Ucap Daelja. Tangannya kembali terangkat untuk menarik tubuh Sehun untuk mendekat. Namun, tanpa ditarik pun, Sehun sudah mendekat dan megecup dahi Daelja.

“Maaf. Tolong, jelaskan semuanya padaku. Aku sangat terganggu dengan itu.” Dan suara klakson pun terdengar. Sehun segera tersadar dan kembali menjalankan mobilnya menuju rumah.

Gadis itu tersenyum lebar, ia mengucapkan terima kasih pada kakaknya dan mulai untuk menjelaskan semuanya.

“Namanya Zhang Yixing, teman kelasku yang tidak pernah sekalipun aku sadari. Sebelum aku mendengar gosip tentangnya. Perempuan di kelasku selalu membicarakannya, oppa. Katanya dia sangat mahir dalam menari dan bermain alat musik. Dan, ya, aku tertarik.” Daelja menyengir polos, sedangkan Sehun hanya mengangguk, “Aku mulai melihat-lihat instagramnya dan wow! Ia tidak kalah dari Jongin oppa! Cara dia memetik gitar pun terlihat keren, oppa. Aku bahkan pernah menonton videonya yang sedang bernyanyi! Suaranya—“

“Ekhem.” Sehun gerah dengan semua pujian yang adiknya lontarkan. Merasa bersalah, Daelja terdiam dan meminta maaf sebelum melanjutkan penjelasannya, “Hm, ya jadi begitu. Dan semalam aku ingin menonton videonya yang sedang bermain piano. Tapi, kehadiranmu lebih menarik dibandingkan video itu.” Lanjut Daelja yang berhasil membuat Sehun tersenyum.

“Kau tahu, Daelja-ya. Memanjakan matamu dengan tarian di dalam video itu tidak mengasyikkan. Aku dan Jongin bisa menari untukmu. Tepat di depan matamu. Secara langsung, tanpa melihat layar. Kau bisa mendengar Kyungsoo dan Baekhyun bernyanyi, diiringi dengan gitar Chanyeol.” Tangan Sehun menggenggam milik Daelja, “Kau mempunyai segalanya. Jangan berpaling ke pria lain.” Daelja mengangguk mengerti. Kakaknya benar, ia mempunyai segalanya. Tak ada alasan yang tepat buat dirinya untuk mengagumi Yixing padahal kakaknya lebih luar biasa.

—-

Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Tepat saat mereka sampai di rumah, Kyungsoo menahan jalan Daelja dan mengingatkannya tentang belajar untuk ujian besok. Dengan malas, Daelja berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.

Tidak butuh waktu yang lama untuk Daelja membersihkan tubuhnya. Kini, ia sudah lengkap dengan balutan piyama. Walau belum waktunya untuk beristirahat, Daelja ingin memakainya agar jika ia ngantuk, tidak perlu mengganti pakaiannya lagi.

Kamarnya diketuk, suara Jongin terdengar dari luar. Sangat lembut, “Waktunya makan malam.” Daelja membukakan pintu untuk Jongin dan menarik kakak tertuanya itu untuk masuk.

“Oppa, aku rindu padamu!” Gadis itu merentangkan kedua tangannya; meminta Jongin untuk merengkuh tubuhnya yang dikabulkan dengan cepat. Jongin terkekeh melihat kelakuan gadis kecilnya itu. Ia menepuk pelan kepala Daelja, “Kenapa bisa rindu? Kamar kita hanya berjarak beberapa langkah.”

“Tetap saja, aku merindukanmu! Mungkin karena aku menghabiskan waktu ku bersama Sehun oppa…” Daelja semakin mengeratkan pelukannya; menghirup aroma maskulin dari tubuh Jongin.

“Ya, dan kau mengabaikan ku dirumah.” Jongin terkekeh lagi, “Ayo kita makan malam.” Dan setelah itu, mereka pergi ke ruang makan.

Disana Chanyeol, Baekhyun, Kyungsoo dan Sehun sudah menempati kursinya masing-masing. Sedangkan tersisa dua kursi yang kosong utuk Daelja dan Jongin. Sesaat setelah mereka memasuki ruang makan, mata Baekhyun berbinar. Ia menatap Daelja dengan senang, “My honey~~~~!!” Suara melengkingnya membuat Chanyeol kesal. Pria jangkung itu menjitak kepala Baekhyun yang dibalas dengan ringisan.

“Silahkan duduk, Daelja ku yang tersayang~” Kyungsoo menggelengkan kepalanya dan beralih menatap Daelja yang tersenyum mendengar sambutan dari kakak-kakaknya itu.

“Ayo.” Jongin menyuruh Daelja duduk, kemudian mereka memulai makan malam mereka dengan tenang.

“Makan ini,” Kyungsoo menaruh udang yang tergulung sayuran di piring Daelja. Gadis itu tersenyum dan mengangguk. Sedangkan Baekhyun yang melihat Kyungsoo memberikan Daelja sayuran hanya memandangnya dengan tatapan jijik. Ya, Baekhyun tidak suka sayuran.

Daelja melahap pemberian Kyungsoo dengan senang hati. Kyungsoo memang begitu, selalu peduli pada kesehatan saudara-saudaranya. Kecuali, Baekhyun. Kyungsoo menyerah untuk memperhatikan Baekhyun, yang selalu menolak untuk mengonsumsi sayuran. Katanya itu menjijikkan dan tidak enak untuk ditelan.

Kemudian, Kyungsoo menaruh wortel rebus di piring Daelja, “Ini juga.” Gadis itu lagi-lagi tersenyum, mengangguk dan segera melahap pemberian Kyungsoo.

“Hentikan itu, Kyungsoo.” Baekhyun memandang horror ke arah Kyungsoo. Chanyeol tertawa, Sehun pun begitu. “Ini baik untuk kesehatan. Aku ingin Daelja sehat, tidak seperti kau. Tidak bergizi.” Kyungsoo menyahut dengan acuh. Sedangkan Baekhyun memandang Kyungsoo dengan kesal.

“Sayuran itu enak, Baekhyun oppa. Kau harus mencobanya, agar tubuhmu juga sehat.” Daelja mengedipkan sebelah matanya ke arah Baekhyun, kemudian mengambil udang yang tergulung sayuran dan mengarahkannya ke Baekhyun.

“Hey, kau mau apa?!” kepala pria itu spontan bergerak ke belakang saat sumpit yang dipegang Daelja berada di depan mulutnya. “Buka mulutmu, oppa.” Perintahnya yang membuat Baekhyun segera menggelengkan kepalanya.

Chanyeol tertawa dengan keras melihat ekspresi Baekhyun yang seperti melihat hantu. Sehun pun begitu, sedangkan Kyungsoo memperhatikan mereka dalam diam. “Cepat! Atau aku tidak akan berbicara padamu,” Baekhyun kembali menggelengkan kepalanya dengan tegas, “Selamanya!”

Dan itu berhasil membuat Baekhyun terdiam. Dengan perasaan tak rela, ia membuka mulutnya. Dan udang itu ia kunyah dengan cepat. Daelja, Kyungsoo, dan Jongin menatapnya tidak percaya. Sedangkan Chanyeol dan Sehun tetap tertawa.

“Bagaimana rasanya?” Kali ini Jongin yang bertanya, “Tidak terlalu buruk. Karena yang buruk hanyalah ancaman Daelja tadi. oh, my honey~ bagaimana kau bisa setega itu mengancamku?”

Gadis itu tertawa kemudian kembali menyumpit sayuran, Baekhyun yang melihat itu memandangnya dengan horror, “Tidak lagi, honey.

“Memangnya kenapa? Ini kan enak. Belajarlah, oppa. Biasakan dirimu, coba saja sayuran ini kau celupkan di saus,” ia mencelupkan sayuran itu ke saus, kemudian mengarahkannya kembali ke mulut Baekhyun, “Cobalah.”

Lagi, dengan perasaan tak rela, Baekhyun membuka mulutnya. “Hm, ya, tidak ada rasanya.” Pria itu berkomentar sembari berpose layaknya seorang juri di ajang pencarian bakat masak.

—-

Kini Daelja berada di kamar Kyungsoo dan Baekhyun. Pria yang anti sayuran itu terpaksa harus mengungsi di kamar Daelja. Karena, kata Kyungsoo, mereka tidak akan berkonsentrasi bila ada Baekhyun di ruangan itu. Jadi, mereka hanya berdua di dalam kamar.

“Ne, Kyungsoo-ya, kau bisa memperlihatkan jawabanmu besok padaku. Aku tidak sanggup belajar pelajaran rumit ini.” Kegiatan belajar mereka belum mulai, namun Daelja sudah menyerah. Kyungsoo hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Itu akan membuatmu terus bergantung padaku. Bagaimana kalau kau menghadapi sebuah ujian saat aku tidak ada? Mau jawab apa kau?” Kyungsoo memutar kedua bola matanya.

“Bagaimana bisa kau tidak ada? Kita serumah, dan kita sekelas, bodoh!” Daelja mencubit pelan lengan Kyungsoo, “Yak! Bagaimana jika aku sudah meninggal? huh? Kita tidak akan sekelas, bahkan serumah. Karena aku sudah mendapatkan tempat yang layak—“

“Kyungsoo-ya!!! Kau ini berkata apa!!” potong Daelja saat perkataan Kyungsoo sudah terlewat aneh, “Ya, ‘kan siapa yang tahu. Ajal orang sudah diatur. Bisa saja saat ini aku sudah—“ Daelja memeluk tubuh Kyungsoo dengan erat. Entah kenapa, perasaannya tiba-tiba aneh mendengar perkataan Kyungsoo. Sepertinya, Kyungsoo akan jauh darinya..dan dia tidak ingin itu terjadi. Makanya, ia memeluk Kyungsoo dengan erat.

“Hentikan omong kosongmu itu, Kyungsoo! Kau ini.. hanya karena aku malas belajar, perkataanmu jadi aneh begitu. Kau tidak akan kemana-mana, noona mu ini akan menjagamu.” Tangan Daelja terangkat mengelus punggung Kyungsoo dengan lembut. Membuat pria dengan ketinggian sedang itu merasa nyaman. Ia bahkan merasakan detak jantungnya yang mulai tidak beraturan. Kenapa ia bisa merasakan hal seperti itu? Ini tidak seperti Kyungsoo yang biasanya.

Otaknya seakan bersuara untuk segera melepaskan pelukannya dengan Daelja. Tapi hatinya berkata untuk tetap seperti itu beberapa menit lagi. Dan tubuhnya berkata untuk tetap seperti itu selamanya. Kyungsoo merasa dirinya sudah gila. Inikah yang saudara-saudaranya rasakan? Kehangatan ini kah yang selalu Daelja berikan pada mereka? Sehingga mereka bertindak melewati batas wajar? Mengapa Kyungsoo baru merasakan kehangatan ini? Ah, dia terlambat.

Daelja melepaskan pelukannya. Tangannya beralih menangkup kedua pipi Kyungsoo yang tembam. Ia menatap Kyungsoo dengan lembut, “Aigoo adikku yang tampan dan imut. Ayo, ajari kakakmu ini Matematika.”

Kyungsoo memutar kedua bola matanya, ia melepaskan tangan Daelja dari wajahnya, “Jangan sok tua hanya karena kau lahir beberapa menit setelah aku. Bahkan disini, aku yang selalu menjagamu.”

Gadis itu terkekeh, “Kalau begitu mulai sekarang aku juga akan menjagamu! Mari saling menjaga, ne?” Daelja mengacungkan jari kelingkingnya ke hadapan Kyungsoo. Saat jari mereka saling bertautan, Daelja tersenyum senang dan mengecup pipi Kyungsoo yang sukses membuat pria itu membeku di tempatnya.

Selamat datang di jebakan Daelja, Kyungsoo yang manis!

“Perhatikan ini,” Kyungsoo berdehem sebelum mulai untuk menjelaskan matematika pada Daelja. Ujung pensilnya ia arahkan ke sebuah contoh soal di buku cetak mereka. Gadis itu merapatkan tubuhnya ke tubuh Kyungsoo. Bukan bermaksud apa-apa, hanya saja ia ingin memperhatikan penjelasan Kyungsoo dengan jelas. Agar pria itu tidak meninggal!

Beberapa detik berlalu, Kyungsoo tak kunjung memulai penjelasannya. Ia benar-benar mati kutu jika Daelja seperti itu. Ia bahkan bisa merasakan napas Daelja, “Jangan terlalu dekat. Aroma napasmu bisa kucium.”

“Terus kenapa? Ini kan agar kau tidak berbicara tentang hal yang aneh lagi. Jadi aku ingin memperhatikanmu dengan jelas. Dan kenapa dengan aroma napasku? Memangnya bau?” Daelja berujar tanpa henti, memperhatikan Kyungsoo yang tidak menanggapinya.

Tidak mendapat tanggapan, gadis itu kembali merapatkan tubuhnya. Kini, Kyungsoo benar-benar memulai penjelasannya.

Beberapa menit berlalu, Kyungsoo tidak tahan dengan Daelja. “Kau ini bodoh atau bagaimana? Aku sudah menjelaskan ini sebanyak 5 kali dan kau masih saja salah! Ulangi.”

Daelja mengangguk dengan semangat, ia kembali mengerjakan soal yang sudah ia ulang entah untuk ke berapa kalinya, “x nya bukan ditaruh disitu!!” Kyungsoo melempar pensil yang ia genggam. Sungguh ia sangat lelah mengajari Daelja yang memang tidak memiliki dasar apapun tentang matematika.

Melihat Kyungsoo dengan amarahnya yang membara, membuat Daelja teringat dengan apa yang ia lakukan pada Sehun saat pria itu sedang mendiaminya. Mungkin cara itu yang cocok.

Tanpa berkata apapun lagi, Daelja menarik tubuh Kyungsoo untuk mendekat dan segera menempelkan bibirnya ke bibir Kyungsoo. Tentu saja, pria itu sangat terkejut. Matanya membulat, memandang Daelja tak percaya. Tapi, jauh di lubuk hatinya, ia merasakan sesuatu yang aneh pada perutnya. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang, mengingat ini pertama kalinya bagi Kyungsoo, tentu saja bukan hal aneh jika ia merasa seperti itu.

Gadis itu menjauhkan tubuhnya dari tubuh Kyungsoo, dan tersenyum lebar. “Bagaimana perasaan mu sekarang? Sudah tidak marah kan?”

Yang Daelja tahu dari Baekhyun, meredakan emosi seseorang itu paling ampuh memakai cara ini. Tapi, cara ini hanya berlaku untuk saudara-saudaranya. Tidak pada ayahnya, apalagi teman-temannya. Jadi, jangan salahkan Daelja jika ia melakukan hal itu.

“Ini pertama kalinya….” Kyungsoo berbicara dengan pelan, memandang Daelja dengan tidak percaya; masih sama seperti tadi. “Hm? Pertama kalinya apa?”

“Ah, lupakan.” Ia beranjak dari tempat duduknya. Memasuki toilet; membasuh wajahnya agar ia bisa berpikiran jernih seperti sebelumnya. Karena saat ini, jantungnya benar-benar seperti sedang berlomba. Inikah perasaan lainnya yang dinikmati oleh saudara-saudaranya? Lagi-lagi ia terlambat. Sudah sejauh mana yang saudaranya rasakan? Apakah ada perasaan aneh namun memabukkan yang lainnya? Kyungsoo ingin merasakannya, secepatnya.

Setelah membasuh wajahnya, Kyungsoo hendak kembali. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Daelja yang menggerakkan pensilnya. Wajahnya terlihat serius. Sepertinya ia sedang mengerjakan soal yang sedari tadi gagal ia selesaikan. Kyungsoo yang melihat itu, tersenyum. Dia tidak beranjak dari tempatnya, lebih memilih untuk memperhatikan gadis itu dari pintu toilet.

“Sepertinya ini jawaban yang benar!!!!! Yak! Kyungsoo-ya~~! Apa kau masih lama di dalam?” Daelja berteriak dengan antusias, ia yakin pada jawabannya kali ini.

Mendengar namanya dipanggil, pria itu segera melangkah ke tempat Daelja. Namun, alih-alih memeriksa jawabannya, Kyungsoo malah menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Katanya ia sudah lelah mengajari Daelja dan ia yakin kali ini jawaban Daelja pun salah, jadi ia tidak mau memeriksanya dan memilih untuk tidur.

Daelja mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Ia mengikuti Kyungsoo, menaiki kasur dan mengguncang tubuh mungil tapi kekar itu. “Lihat dulu jawabanku, jebal!” namun tak ada tanda-tanda darinya akan memeriksa jawaban Daelja.

Gadis itu marah, ia melayangkan cubitan kecil di tubuh Kyungsoo. Dan, sukses! Kyungsoo meringis dan segera bangkit dari tidurnya. Ia mencubit hidung Daelja sebelum memeriksa jawabannya. Dan, ajaibnya, jawabannya kali ini memang benar.

“Ya, ini sudah benar. Baiklah, belajar selesai. Kembali ke kamarmu dan tidurlah.” Daelja berteriak senang, kemudian memeluk Kyungsoo sebelum kembali ke kamarnya.

Namun sepertinya keadaan memaksakan Daelja untuk terus bersama Kyungsoo. Karena sekarang, kakak tampan dan kakak cerewetnya sudah tidur dengan pulas. Ia tidak keberatan. Malah, ia merasa senang akan tidur dengan Kyungsoo. Karena jujur, ia juga merasakan apa yang dirasakan oleh Kyungsoo saat bibir mereka bertemu. Pasalnya, ini merupakan pertama kalinya bagi Daelja melakukan hal seperti itu, bersama Kyungsoo. Dan tidak bisa ia pungkiri, bibir Kyungsoo jauh lebih lembut dibandingkan dengan milik kakak-kakaknya yang lain.

“Kyungsoo-ya, Sehun oppa dan Baekhyun oppa sudah tidur..” gadis itu menepuk lengan Kyungsoo dengan pelan, “Bangunkan Baekhyun hyung dan tidurlah.”

Lagi-lagi Daelja mengerucutkan bibirnya. Apakah Kyungsoo menolaknya untuk tidur bersama?

Ani. Itu tidak sopan. Aku akan tidur disini.” Tanpa menunggu persetujuan dari Kyungsoo, gadis itu merebahkan dirinya di kasur. Menatap langit-langit kamar Kyungsoo dan Baekhyun dengan senyuman manis. Dia melirik punggung Kyungsoo sebentar,

“Kalau aku bersama Sehun oppa, pasti dia akan memelukku sekarang.”

Tak ada tanggapan dari Kyungsoo.

“Begitu pula dengan Jongin oppa, ia akan merengkuh tubuhku seakan tidak ingin kehilanganku. Dan itu membuatku merasa aman.”

Masih sama, tidak ada tanggapan. Hanya goyangan gelisah dari Kyungsoo. Sebenarnya, jika Daelja memintanya secara langsung untuk memeluknya, mungkin Kyungsoo akan melakukannya.

“Apalagi Chanyeol oppa….aku kadang bosan dipeluk olehnya, tapi tetap saja dia membuatku nyaman.”

Kyungsoo menghela napas. Ia harus menunggu Daelja memintanya secara langsung.

“Bagaimana dengan Baekhyun oppa? Oh tentu saja, dadanya adalah favoritku. Apalagi aroma tubuhnya, membuatku mimpi indah.”

Pria itu tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya dan merentangkan tangannya. Daelja yang melihat itu segera tersenyum senang dan merapatkan tubuhnya ke tubuh Kyungsoo. Menjadikan lengan Kyungsoo sebagai bantalnya.

Kyungsoo hanya tersenyum kikuk. Ia tidak yakin apakah yang ia lakukan sudah benar atau salah? Tapi, persetan dengan pertanyaan yang terus mengganggunya itu. Setidaknya sekarang ia sangat senang dapat merasakan kehangatan tubuh Daelja lagi. Ia merengkuh tubuh Daelja, tidak terlalu erat namun tetap ketat.

“Aroma tubuhmu tidak kalah dari punya Baekhyun oppa.” Daelja menghirup aroma itu berulang kali. Membuat Kyungsoo merasakan panas di wajahnya.

“Tidur sajalah.” Ia berujar singkat, yang dibalas dengan anggukan Daelja. Mereka tidur sambil berbagi kehangatan dan kenyamanan satu sama lain.

 

To Be Continued

 

6 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Brother(s); Learn About The Feel – (Chapter 5)

  1. Wah kyungsoo gak nyangka ya awalnya aku kira dia diantara yang lain normal ternyata sama aja kaya yang lain -_-
    Ditunggu ya kak next chapternya ^^
    Fighting!!

  2. Aku sudah tak bisa berkata kata
    Aku kira kemarin kyungsoo yg cukip normal diantara mereka semua, tp akhirnya dia ikut ikutan juga.. okelah
    Pokoknya aku tunggu next chapternya

  3. Woahhh gak nyangka kyungsoo juga bisa jadi kayak kakak kakaknya yang lain woooo
    Ciee yang telat ngerasain ciuman dari daelja, yang telat rasain dipeluk daelja, yang telat rasaain kehangatan daelja wkwk
    Eh ternyata akhirnya sama kayak kakaknya jatuh cinta sama saudara sendiri, wkwk bukannya kyungsoo punya pacar ya? Gak inget pacar kyung hahaha

  4. Yehett., uhh akhirnya di up juga.,
    di awal chap aku bingung sama keluarga ini, tapi makin kesini jadi seperti candu#Plaakk.. Aku makin suka sama ceritanya..kkkkk

    “Tidak terlalu buruk. Karena yang buruk hanyalah ancaman Daelja tadi. oh, my honey~ bagaimana kau bisa setega itu mengancamku?” huahahaha., baekhyun oppa..kkkk enaknya kalo baekhyun oppa nolak sayur yg ia makan, seharusnya di ancem kek gitu aja..kkkkk

    “Selamat datang di jebakan Daelja, Kyungsoo yang manis!” #EVILSMIRK..Huahaha tapi kok aku ngakak yah..

    Aduh duhh., kyungsoo oppa jadi ikut ikutan sengklek(?) deh ah..

    Next juseyoo^^ ditunggu klanjutanya kak^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s