[EXOFFI FREELANCE] Regret – (Chapter 11)

byunpelvis.jpg

Poster by : https://dirtykindi.wordpress.com

Author : ByunPelvis

 

Cast : Byun Baekhyun // Lee Kyungra (OC/You) // Kim Jong In.

Other cast : Kim Minji,Member EXO lainnya.

Genre : Hurt // Romance // Angst.

Rating : 17+.

Leght : Chapter

Disclaimer : Cerita murni dari pemikiran saya. No copy, no paste .Maaf untuk typo yang bertebaran ^^.

 

“Nareul seuchyeo jinagado dwae niga nal da ijeosseunikka.

Geudaeyeo nareul barabwajwoyo yeojeonhi geudaedo nareul saranghanayo?”

*

“Kau mengabaikanku, kau melupakanku, tak apa. Sayang, lihatlah aku
Apakah kamu masih mencintaiku?”

*

(Ost Scarlet Heart Ryeo: For You)

 

Chapter 11

Kyungra merasa berada dalam sebuah ruangan yang seluruhnya putih, ia ingin menangis karena hanya sendirian disana. Lama ia berjalan menyusuri tempat itu tapi yang ditemukan masih sama saja yaitu jalan tak berujung.

Saat sudah merasa frustasi ia terduduk dan menangis sejadi-jadinya. Airmatanya jatuh menetesi lantai putih, suara tangisnya menggema di dinding pucat itu. Kyungra sangat ketakutan.

Sampai sebuah suara terdengar menyerukan namanya.

“eomma?”

Kyungra berdiri tegak setelah melihat seseorang yang sudah sangat lama meninggalkannya kini berdiri tepat dihadapannya. Kyungra berusaha menyentuh sosok ibunya tapi tidak bisa. Semakin ia berusaha menggapai tangan sang ibu maka semakin hilang bayangan itu.

“Khajima! Eomma bogoshipeoso”

Kyungra bisa melihat senyum itu, senyum hangat yang dulu selalu diberikan untuknya. Gadis itu tau ini sebuah mimpi, jika bisa ia tak ingin bangun dan memilih disana bersama sang Ibu.

“eomma bawa aku bersamamu. Aku mohon!” Kyungra terisak lagi, sebuah tangan terulur mengusap rambutnya. Itu adalah tangan ibunya.

“Sayang, bangunlah. Jangan sia-siakan orang yang tulus mencintaimu. Mereka terus menangis karena tak ingin kehilanganmu nak”

Kyungra menggeleng, ia menyalahkan ucapan ibunya. Tentang orang yang tulus mencintaintainya hanya omong kosong. Kyungra tak pernah merasa dicintai seseorang sedalam itu.

“tidak eomma. Mereka menyakitiku.”

“mereka terus menangis. Dengarlah suara pilu itu!”

Kyungra mengerutkan dahinya, ia tak tau maksud kata-kata ibunya. Saat hendak bertanya lagi bayangan itu semakin menghilang. Kyungra terus berteriak memanggil sang ibu.

Nihil, ibunya benar-benar sudah menghilang. Kyungra kembali meringkuk disudut tembok putih itu.

“tidak, aku tidak mau kembali.”

Perlahan sebuah suara terdengar lagi, Kyungra mengangkat wajahnya. Ia mengedarkan pandangannya kesegala arah tapi tak menemukan siapapun.

Kyungra mengenali suara itu, suara yang sejujurnya sangat dirindukannya. Kyungra berjalan mencari asal suara, saat jauh melangkah tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang mengejutkan.

Sebuah mobil melaju tepat didepannya, Kyungra tak bisa bergerak dan cahaya silau dari sorot lampu itu menyilaukan matanya. Semakin silau sampai tak ada lagi yang bisa dilihatnya.

*

*

Tangan kurus itu perlahan bergerak dan suara pendeteksi jantung berirama di pendengarannya.Mata yang selama ini ditutupnya perlahan dibuka. Sangat berat tapi ia terus berusaha membuka matanya.

“Kyungra-ya?” sebuah suara menyeruak ditelinganya.

Perlahan kelopak itu terbuka sempurna, yang pertama tertangkap dipandangannya adalah langit-langit berwarna putih. Kyungra berhasil sadar setelah hampir empat bulan mengalami masa koma.

Suaranya seperti tertahan ditenggorokan saat ia hendak bicara. Penglihatanyya juga masih berat. Ia bertanya-tanya ‘mungkinkah aku masih ada ditempat itu?’.

Yang Kyungra maksud adalah tempat serba putih yang ada dimimpinya. Perlahan Kyungra menoleh dan yang didapatinya adalah sosok nyata seseorang.

“Kyungra kau sadar? Syukurlah.”

Dialah Jong In, Kyungra sangat yakin walau pandangannya belum begitu jelas. Lama Kyungra seperti itu sampai dokter dan perawat masuk untuk memeriksanya. Dokter tersenyum pada Jong In , menandakan sesuatu yang baik.

“dokter, mengapa Kyungra hanya diam?”

“jangan khawatir! Dia seperti ini karena efek sadar dari koma. Aku yakin secepatnya Kyungra-ssi akan membaik.”

Jong In mengangguk mengerti, namja itu kembali serius mendengarkan tentang apa yang dokter katakan. Setelah selesai menerangkan dokter spesialis syaraf itu meninggalkan ruang rawat.

“Kyungra ini aku. Kau mengingatku kan?”

Tak ada suara, hanya kedipan yang Kyungra berikan.Perlahan tangannya terangkat untuk menyentuh wajah Jong In. Tau apa yang akan dilakukan oleh Kyungra, kini Jong In meraih tangan itu dan menggenggamnya.

Kyungra benar, ini bukanlah mimpi itu.

.

.

Sudah lebih dari lima jam Kyungra hanya terdiam walaupun sadar. Jong In masih setia menungguinya.Kyungsoo dan Bibi Do juga berkunjung untuk melihat perkembangan Kyungra. Mereka semua bahagia, vonis dokter tentang Kyungra yang mungkin tak bisa bertahan lama tak benar.

“Jong In-ah, sepertinya ibuku sangat lelah. Eum aku akan mengantarnya pulang terlebih dahulu. Bisakah kau menemani Kyungra sampai aku kembali kemari?” Do Kyungsoo, atau sepupu Kyungra itu tidak tega melihat ibunya tertidur disamping ranjang Kyungra.

“baiklah, Hyung kau antar saja Do Ajhuma. Beliau juga harus beristirahat. Lagi pula Kyungra sudah pulih”

“gomawo Jong In-ah. Maaf terus merepotkanmu.”

“gwemchana, aku menyayangi Kyungra. Aku rela terus menjaganya.” Ucap Kai.

Kyungsoo mendekat pada ibunya dan meminta beliau untuk bangun. Walau sebenarnya masih ingin menjaga keponakannya tapi wanita paruh baya itu juga mendengarkan kata-kata putranya. Pada akhirnya bibi Do menyetujui ajakan Kyungsoo untuk beristirahat dirumah.

“Jong In-ah. Tunggu sebentar. Kau boleh pulang setelah aku kemari lagi”

“baiklah Hyung. Hati-hati dijalan ajhuma. Sampai jumpa.”

Bibi Do mengucapkan terimakasih dan melangkahkan kakinya meninggalkan ruang rawat.

“J-jong In-ah.”

“ne? naya”

Walau suara itu sangat lirih tapi Jong In bisa dengan jelas mendengarnya. Namja itu senang perkembangan Kyungra bertambah dalam beberapa jam. Ia yakin besok Kyungra akan pulih total.

KYUNGRA POV.

Aku merasa sendi tulangku tak bisa digerakan, kepalaku juga sangat sakit. Eoh dan ada apa denganku? Mengapa sangat sulit untuk bicara?

Awalnya aku takut tapi setelah mendengar penuturan dokter tadi aku tak khawatir. Ternyata ini efek karena aku barusaja sadar dari koma.Walau sangat sulit aku berusaha membuat pergerakan kecil.

Yang kulihat pertama kali saat sadar tadi adalah Kim Jong In, aku senang mempunyai teman yang baik sepertinya. Dia tulus mencintai dan menjagaku, sepertinya benar apa kata eomma. Seseorang menungguku untuk kembali sadar.

Ah iya tentang mimpi itu. Jadi mimpi itu saat aku dalam kondisi koma? Aku merasa terus berada ditempat itu sangat lama, sampai-sampai aku mengira itu tempat aneh.

Bagaimana tidak, aku hanya menemukan ruangan kosong serba putih yang tak berujung. Tadinya kufikir itu surga, tapi setelah tau betapa hampanya tempat itu aku ragu.

Sudahlah, yang penting aku tersadar dan tak berada di tempat mengerikan itu.

Imo dan Kyungsoo oppa juga berada disini, mereka terihat sangat khawatir juga lelah. Aku tak tega, aku ingin menyuruh mereka beristirahat, tapiuntuk bicara saja masih sulit

Jong In lebih lelah kurasa. Namja ini, seperti tak memiliki kegiatan saja. Padahal aku tau waktu luangnya sangatlah berharga, tapi ia malah memilih menjagaku disini.

“Jong…”

Aku berusaha bicara tapi masih sulit. Hanya satu kata yang bisa kukeluarkan.

“Kyungra-ya jangan paksa dirimu untuk bicara.” Ucap namja ini.

“J-jong In-ah.Gomawoyeo”

Walau seperti bisikan tapi aku yakin ia mendengarnya.

.

.

.

“Jon In-ah sebaiknya kau pulang!”

Aku menyuruh namja ini untuk istirahat tapi sangat sulit. Ia bersikeras terus menjagaku. Aku jadi merasa berhutang budi padanya. Aku janji akan membalas semua kebaikan Jong In.

Jong In juga memaksa untuk menyuapiku, padahal aku bisa menggunakan tanganku sendiri untuk makan. Aku sudah bisa bergerak dan bicara normal, ternyata efeknya hanya berlangsung sebentar saja.

“jangan terus menyuruhku pulang. Kau seperti mengusirku saja”

“bukan begitu. Aku hanya kasihan denganmu yang lelah karena terus berada disini.”

Jong In meletakan mangkuk yang isinya sudah kosong itu, walau nafsu makanku sangat buruk tapi aku berusaha menghabiskannya untuk membuatnya lega.

Jong In berubah menatapku dengan pandangan datar.

“kau ini. Aku lebih khawatir dengan keadaanmu. Aku tak bisa meninggalkanmu sendirian.”

“Jong-“

“kau harus minum obatnya agar cepat sembuh.”

Aku memutar bola mataku, namja ini keras kepala juga ternyata. Aku menerima dua butir obat yang ia sodorkan dan meminumnya.Jong In menepuk kepalaku seperti seorang ayah yang bangga pada putrinya.

Rasanya aku merindukan dunia luar, tapi tubuhku masih lemas untuk berjalan. Ada yang aneh, mengapa aku merasa kakiku mati rasa? Sejak tadi berusaha kugerakan tapi tak bisa. Mungkinkah ini hanya berlangsung sementara? Seperti halnya aku yang tadi tak bisa bicara.

“Jong, kakiku terasa aneh.”

Kulihat Jong In hanya diam, aku mengerutkan alisku karena heran. Entah mengapa aku merasa Jong In malah melamun.

“ya Kim Jong In!”

“N-nde?”

Aku menghela nafas, ternyata benar namja ini melamun.

“Jong, bisakah kau mengatakan pada dokter kapan kakiku pulih? Aku ingin sekali keluar ruangan ini.”

“eum i-itu…”

Aku semakin serius menatap Jong In, namja ini terlihat kebingungan mengucapkan sesuatu. Ini memang sangat aneh, disaat tubuhku pulih kini hanya kaki saja yang terasa tak bisa bergerak.

“Kyungra-ya”

“eum?”

Serius sekali namja ini, dan ada apa dengan perubahan ekspresi wajahnya itu?

“waeyo Jong ?”

“mungkin kau akan terkejut mendengar ini.”

Aku semakin tak mengerti dengan Jong In, dia terlihat ragu-ragu dan takut mengucapkan sesuatu.

“kau mau bicara apa? ”

“K-kau divonis lumpuh Kyungra-ya!” ucap Jong In pada akhirnya. Aku terdiam sesaat, rasanya ini seperti candaan ditelingaku.

“m-wo? Y-ya jangan menakutiku seperti itu.”

Jong In berdiri dan membawa tubuhkuku kepelukannya, aku tak tau ini benar atau salah. Kenapa Jong In berubah sedih seperti ini?

“ya Jong In-ah”

“maafkan aku Kyungra. Aku tak bisa menjagamu”

“hei sudahlah. Aku tidak ada mood untuk bercanda. Kenapa kau menyebalkan sekali?”

Aku terus menganggap ini sebuah lelucon, Jong In sangat sering bercanda jadi mungkin ini salah satunya. Aku melepas pelukannya dan menyibakan selimut yang menutupi separuh badanku.

Terlihat kakiku baik-baik saja. Kedua kakiku utuh dan tak bengkak sama sekali, tapi mengapa tak bisa digerakan.

Mungkinkah benar?

Tidak… ini tidak mungkin.

“Kyungra..”

“Kakiku kenapa Jong In-ah? Kenapa masih tak bisa digerakan?”

Jong In diam, dia ingin memeluku lagi tapi aku mendorongnya.

“benarkah aku lumpuh? K-kau hanya bercanda kan Jong? Iyakan?”

Namja ini menggeleng lemah, aku beralih pada tombil merah yang ada diatas ranjang ini. Kutekan berkali-kali sampai Jong In menahan tanganku.

“Kyungra apa yang kau lakukan?”

“aku ingin bertanya sendiri pada dokter .”

Jong In menarik bahuku, memeluku erat seperti tadi. Aku memberontak dan mulai menangis. Sungguh ini sulit dipercaya.

“Andwe! Ini tidak mungkin”

“aku janji akan menjagamu Kyung. Aku yang akan menjadi kakimu”.

“diam! Kau bicara apa? aku memiliki kaki sendiri. Jangan bicara jika aku-”

“kau tidak bisa berjalan lagi Kyung.”

Author POV

“TIDAK! JANGAN BICARA SEPERTI ITU!”

Kyungra berbicara dengan nada tinggi, bahkan mendorong Jong In hingga mundur. Gelas yang ada disampingnya beradu dengan lantai karena gadis itu membantingnya. Nafas Kyungra naik turun menahan sesak didalam dadanya.

Kyungra berusaha bangkit dan turun tapi Jong In menghalanginya .

“lepaskan! Aku ingin berjalan”

Lagi, Kyungra mendorong Jong In dan alhasil tubuh gadis itu limbung.

“akhh”

“Kyungra!”

Darah aegar mengalir dari telapak tangan Kyungra karena tak segaja menekan pecahan gelas yang tadi dibantingnya. Tapi rasa perih sayatan tak sebanding dengan sakit hatinya saat ini. Mengetahui kenyataan kakinya tidak berfungsi cukup mematikan kerja tubuhnya.

“Tidak! Kenapa kakiku tak bisa bergerak? Hiksss…. WAEE?”

Kyungra terus berusaha bangkit dan memberontak. Jong In bernafas lega karena dokter dan beberapa suster masuk membantunya.

Kyungra masih terus berteriak dan melawan saat suster mengangkatnya. Kedua tangannya ditahan dan ia tak berhenti memberontak. Sampai dokter menyuntikan sebuah cairan bius untuknya agar bisa tenang.

“lepaskan aku!”

Jong In ingin menangis melihat Kyungra seperti itu. Ini pertama kalinya ia melihat Kyungra histeris,marah,dan bersikap kasar padanya.

Tubuh Kyungra mulai lemas, gadis itu tak memiliki tenaga untuk memberontak maupun berteriak. Suster juga memperban tangan Kyungra yang terluka.

“dia hanya syok. Aku mohon tetaplah disampingnya untuk memberi semangat. Aku yakin perlahan Kyungra-ssi akan mengerti.”

“terimakasih dokter Xi.”

“eum dia akan tertidur karena obat.Jaga gadis ini.”

Jong In mengangguk dan mendekat pada Kyungra. Ia sudah mengira Kyungra akan seperti ini.

“maafkan aku Kyung”

.

.

.

Kyungra menatap kosong jendela yang ada dikamar rawatnya. Malam semakin larut, ia merasa kegelapan itu sama seperti hidupnya saat ini.

Tak ada yang bisa dilakukannya selain duduk bertumpu pada punggung ranjang. Kyungra merasa hidupnya semakin menyedihkan. Ia merasa tak ada arti untuknya melanjutkan hidupnya.

Yang dilakukannya sedari tadi hanya menagis,menagis,dan menangis. Jika seperti itu ia lebih memilih ikut ibunya. Bersama kedua orang tuanya Kyungra merasa akan lebih bahagia.

“eomma,Appa.”

Satu tetes krystal bening berhasil lolos dengan mudahnya. Kyungra menangis tersedu-sedu, ia bebas mengeluarkan emosinya. Tadi gadis itu memaksa Jong In untuk pulang walau sangat sulit, ia sedang ingin sendiri.

Sebenarnya memang sangat menakutkan meninggalkan seseorang yang sedang terpuruk hanya sendirian. Bisa saja Kyungra melakukan hal yang berbahaya nantinya.

Tapi tadi gadis itu berjanji tak akan melakukan hal buruk. Dan akhirnya Jong In menyerah, dengan separuh hati nama itu pergi meninggalkan Kyungra.

“aku benar-benar menjadi sampah” ucapnya pilu. Kyungra memilih berbaring dan memejamkan matanya. Berharap jika tidur dan saat bangun nati semua itu hanyalah mimpi.

.

.

Sudah satu jam Kyungra hanya memejamkan matanya, tapi ia tak bisa sama sekali. Samar-samar ia mendengar suara knop pintu dibuka. Kyungra memasang kembali tabung oksigenya dan pura-pura tertidur.

Tadi ia sempat diberitahu oleh suster, katanya hampir setiap tengah malam ada yang selalu mengunjunginya. Kyungra penasaran dan tentu saja ingin tau siapa orang itu.

Langkah kaki itu semakin terdengar, rasanya Kyungra ingin langsung membuka matanya.

“Kyungra-ya! Aku datang lebih awal dari biasanya. Huh aku sangat ceroboh karena meninggalkan ponselku.”

‘Baekhyun?’ dalam hatinya.

Kyungra mengenal suara merdu itu. Detak jantungnya berdetak 2x lipat lebih cepat. Dalam hati kecilnya tersimpan rasa rindu yang teramat dengan pria itu.

“mungkin bukan hilang disini”

Ucap Baekhyun setelah diam beberapa saat. Kyungra merasa tak bisa menahan perasaannya. Dadanya bergemuruh, masih sama seperti pertama kali ia melihat pria itu.

“Aku berharap menjadi orang pertama yang kau lihat saat sadar nanti. Kyungra-ya, aku memiliki banyak lagu yang kutulis khusus untukmu. Saat bangun nanti kau harus mendengarnya! Aratchi?.”

Kyungra menyadari sesuatu, ia ingat dalam mimpinya pernah mendengar sebuah lagu. Lagu yang menurutnya memiliki alunan yang indah.

Beberapa detik setelahnya ia merasa benda lembut dan hangat mendarat dikeningnya. Ini sebuah kecupan yang singkat namun berefek luar biasa. Tangan Kyungra terkepal dibalik selimutnya.

“Saranghae Kyungra-ya. Tunggu sebentar eoh! Aku akan bertanya pada suster.”

Kyungra tidak sanggup untuk menahan perasaannya. Rasa rindu itu menggerogoti hatinya. Ia membuka matanya dan menoleh pada sosok yang sudah berbalik. Tangannya terulur mencekal lengan Baekhyun.

“Kau!”

Baekhyun sempat mematung, selang beberapa detik barulah ia menoleh dan menatap Kyungra. Namja itu terpaku karena gadis yang ditunggunya sudah membuka matanya. Baekhyun senang sampai rasanya ingin menangis bahagia.

“Kyungra? “

Kyungra mengeratkan cengkramannya, tatapan sendunya berubah tajam. Tiba-tiba perasaan marah bersarang dihatinya.

Baekhyun mendekat hendak memeluknya tapi Kyungra menghindar dengan memalingkan wajah. Bahkan ia membaringkan tubuhnya membelakangi Baekhyun.

“Pergi! Jangan muncul dihadapanku lagi!”

Kyungra menguatkan hatinya untuk mengatakan itu. Sebenarnya ia sangat merindukan pria yang ada dibelakang punggungnya itu. Tapi lagi-lagi kejadian yang lalu membuatnya sadar.

Baekhyun merasa hatinya ditimpa beban ribuan ton. Ketakutannya kini benar-benar terjadi.

“tidak. Aku akan tetap disini.”

Baekhyun mengambil kursi dan duduk tepat disamping Kyungra. Tak apa walau hanya punggung Kyungra yang ditatapnya.

Dibalik itu Kyungra memejamkan matanya, ia menahan segala perasaan aneh dalam hatinya. Karena tidak tahan gadis itu berbalik menatap baekhyun.

“pergi sebelum aku memanggil dokter untuk mengusirmu!”

“apa salah aku kemari sebagai pengunjung?”

Kyungra mendengus dan beralih pada tombol merah yang berfungsi memanggil dokter. Saat hendak mencapai tombol itu Baekhyun menahan tangannya.

“Kyungra-ya hajima!”

Kyungra berusaha melepas genggaman Baekhyun yang sangat erat itu tapi usahanya gagal dan Baekhyun malah merengkuhnya kedalam pelukan.

“aku sangat khawatir, aku merindukanmu,dan aku sangat takut kehilanganmu” tutur Baekhyun. Kyungra entah mengapa tidak berusaha melepas pelukan itu.

Baekhyun terisak, Kyungra terkejut dan hanya diam. Lagi dan lagi Baekhyun menagis di hadapannya. Ia tak pernah tau hati Baekhyun serapuh ini. Dibalik sifat ceria dan seenaknya milik Baekhyun tersimpan hati kecil yang rapuh seperti dirinya.

Tapi Kyungra tak boleh goyah, sekuat hati ia melepas pelukan Baekhyun.

“kau sudah melihatku kan? Kalau begitu pergi!”

“aku tidak akan pergi lagi. Aku-“

“Kau senag melihatku seperti ini? atau kau masih ingin melanjutkan permainanmu?”

Baekhyun menggeleng , namja itu lelah terus menghadapi perasangka buruk Kyungra. Tangannya terulur menggenggam tangan gadis itu tapi lagi-lagi ditepis.

Baekhyun mengusap wajahnya dan menghela nafas berat.

“lihatlah aku! aku tak bisa apa-apa sekarang. Aku lumpuh!”

Baekhyun tak kaget dengan apa yang Kyungra katakan, karena ia sudah mendengar tentang itu terlebih dulu.

“aku tau”

“apa kalian merayakannya? Kalian bahagia saat aku menderita iya kan?”

“kau salah. Bahkan aku tak memiliki daya untuk tersenyum”

Kyungra tertawa hambar, kata-kata Baekhyun tak bisa dipercaya. Gadis itu sudah terlanjur kecewa sejak awal. Sekali ia dibohongi maka akan sulit untuknya percaya kembali.

“apa sebaiknya aku mati saja?”

Baekhyun semakin mendekat saat Kyungra meraih sebuah pisau buah dinakas. Namja itu khawatir Kyungra benar-benar nekat. Jalan satu-satunya adalah merebut pisau itu dari tangan Kyungra.

“jangan lakukan itu Kyungra-ya.”

“wae? Tak ada gunanya aku hidup jika hanya disakiti. Ada baiknya nadi ini putus.”

Baekhyun nekat dan mencekal kedua tangan Kyungra. Ia tau jika seperti itu justru berbahaya, tapi ia terus berusaha agar Kyunra melepas benda tajam itu.

Kyungra semakin menguatkan tenaganya untuk melepas diri dari Baekhyun. Pisau itu tak kunjung lepas dan …

“akhhh”

Kyungra melepas pisau ditangannya, matanya membulat melihat darah mengucur keluar.

‘clek’

“Kyungra-ya!” tiba-tiba Kyungsoo dan Jong In datang. Mereka cukup terkejut melihat apa yang terjadi.

.

.TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Regret – (Chapter 11)

  1. Ya tuhan ya tuhan apa ini… kenapa semakin tegang suasananya.
    Entah kenapa rada kurang enak aja ya kalo nanti misalnya kyungra sama jongin huhu..
    Ditunggu next chapternyaa..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s