[EXOFFI FREELANCE] Lucid dream (Chapter 1)

received_562532303953461

Lucid Dream (Chapter 1)

  • Author    : Paradisa Cardova (@zhayrapiverz)
  • Cast        : Sehun and OC
  • Length    : Chapter
  • Genre        : Fantasy, Romance, AU
  • Beautiful cover by: Aiina Art
  • Disclaimer    : FF ini saia post di fb pribadi (Zayy Cardova) dan banyak tempat dengan nama Author yang sama. Semua yang saya posting adalah karya original otak saya yaudelah Happy reading *bow

Mimpi itu ada batasnya, Ryu Se Rin. Kau terlalu lama terjebak dalam mimpimu, belum menyadari bila bahaya mengancammu kapan ‘pun kau menutup mata.

Ryu Se Rin menyuSehun saat-saat kelopak lentiknya menutup, merasa relax dan terhenti sejenak dari segala rutinitas penatnya. Aktifitas tidur merupakan salah satu hobi yang sering gadis berperawakan mungil ini lakukan. Sebenarnya cukup aneh dengan mengatakan hobi ‘Tidur’. Bukankah Ryu Se Rin terlihat seperti seorang pemalas yang lebih memilih hidup di alam mimpinya?

Kenyataan-Nya memanglah demikian karena Ryu Se Rin memang seorang Lucider yang memiliki kemampuan Lucid Dream semenjak berumur tiga belas atau tiga belas, delapan tahun lalu kala Ryu Se Rin menginjak bangku sekolah menengah pertama. Awal dari kisah kelamnya di dunia nyata membuka halaman pertama.

Lucid Dream adalah keadaan dimana seseorang mampu mengendalikan mimpi tidurnya sendiri dan orang tersebut sadar bila dirinya sedang bermimpi. Mimpi seorang Lucider lebih jernih dari mimpi biasanya, beberapa orang menyebutnya Dream Yoga. Di dalam mimmpi seorang Lucid Dream, sebenarnya sebagian dari otak bekerja aktif sehingga kelima indera kita seolah masih bisa bekerja di dalam mimpi. Seperti yang dialami Ryu Se Rin maupun para pengendali mimpi, mereka seolah mampu melihat, mengecap, membau, merasakan, dan mendengar.

Hal itu terjadi karena otak kita menipu dengan mengirimkan informasi yang sebenarnya telah kita rasakan sebelumnya. Pada awalnya Ryu Se Rin tidak berniat mengasah kemampuan alami yang di anugerahkan-Nya, namun ia semakin tertarik ‘bermain’ di alam mimpi karena ia sadar betul bila Ryu Se Rin tidak memiliki banyak ruang aktif di dunia sadar-Nya.

Diketahui bahwa Lucid dream tentunya mampu memberikan dampak positif maupun negatif. Dengan dampak positif seperti, kemampuan merasakan sesuatu yang seolah nyata di alam mimpi, melayang dan merasakan hal-hal fantasi menakjubkan yang mungkin tidak bisa kau rasakan di dunia nyata. Namun adanya Lucid dream juga mampu membuat seseorang lebih menyuSehun dunia mimpinya, merasa bila kehidupan real-Nya lebih membosankan dan lebih menyuSehun kesenangan di dunia mimpi.

Ryu Se Rin tak pernah puas akan dunia real-Nya yang selalu menyakitkan. Lebih banyak menghabiskan waktu dengan menulis buku harian, menyendiri, menangis dan terasingkan di dunia nyata delapan tahun lalu. Itulah yang membuat Ryu Se Rin akhirnya lebih menyuSehun dunia mimpi. Dunia nyata baginya sangat tragis dan kelam, semuanya hanya terlihat hitam bagi Ryu Se Rin.

Di alam mimpi, Ryu Se Rin mampu menjelajahi tiap ruang, waktu, tempat-tempat menakjubkan yang tak pernah Ryu Se Rin pijaki, bertemu banyak orang-orang baru yang sangat ramah, merasakan perasaan senang, bahagia yang semu di dunia mimpi. Setidaknya, dunia mimpi tempat yang tidak cukup buruk dengan keindahannya. Di dunia itu segala halnya berwarna, tidak hanya abu-abu, hitam, dan putih.

Di usia Ryu Se Rin yang menginjak tiga puluh tahun, ia tumbuh menjadi seorang melankolis sempurna yang menuangkan segala kreatifitasnya di dunia tulis menulis. Ia seorang Author dunia maya semenjak tiga setengah tahun lalu.

Seorang melankolis sempurna selalu berkeinginan melakukan segala hal dengan cara yang benar. Membutuhkan kestabilan, ketenangan, kepekaan, dukungan sekaligus empati, menyuSehun keindahan dan hal-hal berbau seni, keteraturan, dan serius terhadap tujuan. Seorang melankolis sempurna adalah pribadi introvert yang mendalam, tenang dan penuh pikiran kebalikan dari kaun Sanguis yang ekstrovert.

Aristoteles mengatakan, “Semua orang  jenius punya watak melankolis”. Ryu Se Rin tahu bila orang-orang melankolis sempurna biasanya menjadi penulis, pelukis, pencipta lagu, sastrawan karena mereka dilahirkan dengan potesi jenius yang bila dikembangkan dengan benar akan menghasilkan sesuatu yang monumental.

Ryu Se Rin sebagai melankolis sempurna banyak menulis dari kisah mimpinya sendiri, mimpi yang terkadang ia bubuhi pelengkap agar semuanya sempurna dan lebih hidup. Terkadang menjadi melankolis menjadi kebanggaan tersendiri baginya.

    Ryu Se Rin mengidolakan Sang Maestro Michelangelo, sebelum dia memahat patung klasiknya Moses, David dan Pieta, Michelangelo sampai melakukan penelitian intensif mengenai tubuh manusia. Ryu Se Rin mengingat bagaimana kejeniusan sekaligus ketelitian Michelangelo hingga Sang master tersebut pergi ke kamar mayat demi mempelajari otot dan urat. Hasilnya, patung manusia buatan Michelangelo dilindungi dan dihormati sampai hari ini dan menjadi benda langka tentunya. Sang Maestro Michelangelo berwatak melankolis sempurna sama seperti Ryu Se Rin, dan ia sangat bangga akan hal ini.

Kembali ke alam mimpi, Suatu hari Ryu Se Rin mengalami sebuah kejadian yang tak mampu ia definisikan dengan perasaan. Ryu Se Rin merasakan kebahagiaan, ketegangan, perasaan meletup sekaligus ketakutan akibat mimpi itu. Cukup fantasi memang, karena ia bermimpi bertemu seorang Incubus disuatu malam. Yang benar saja, Incubus?

Berbicara mengenai mahluk legenda kuno, Incubus sejenis mahluk dalam cerita-cerita legenda berwujud pria rupawan yang mendapatkan energi atau vitalitas dengan melakukan kegiatan seksual kepada seorang atau lebih wanita di dalam mimpinya. Incubus berbeda dengan dewa ataupun malaikat karena ia jenis yang berbeda.

Ya. Ryu Se Rin masih tidak mengerti mengapa mimpi aneh itu mengalaminya. Pasalnya, disini Ryu Se Rin sungguh menikah dengan Incubus berwajah bak malaikat itu. Oh astaga! Pikiran Ryu Se Rin masih sangat kusut bila memikirkan mimpinya, terlalu sukar untuk menarik benang merah mimpi tersebut sekalipun ia memiliki kemampuan Lucid dream.

Mimpi malam tadi terasa lebih nyata dari semua mimpi yang pernah dimimpikan Ryu Se Rin, seolah ia benar hidup disuatu tempat bersama sekumpulan klan Incubus dan Succubus, hidup berdampingan di dalamnya dengan damai, tenang dan bahagia. Apakah itu cukup mengerikan bagi manusia normal?

Incubus mahluk yang sangat tampan dengan kulit bersih bak pualam, badan tegap kokoh nan menjulang, rambut pirang yang menguar aroma manis dan lembut saat disentuh, tatapan mata tajam nan dalam yang mampu melumpuhkan siapapun, suara berat dan sedikit serak yang nampak seksi, dan sederet kesempurnaan ragawi lainnya. Mereka sangatlah tampan bila disandingkan dengan pria-pria pada umumnya.

Ryu Se Rin tidak cukup kata-kata untuk melukiskan betapa sempurnanya sosok Incubus yang saat ini menjadi suaminya –di dunia mimpi tentu saja. Ryu Se Rin bisa dibilang terlena karena rupa tampan mahluk legenda yang menyambangi mimpinya di suatu malam.

Mimpi itu –jika Ryu Se Rin bisa berharap, semoga dapat terulang lagi dan ia sungguh tidak ingin kembali di dunia nyata ini. Hidup bersama Incubus, memiliki seorang anak dan hidup bahagia sepertinya tidak terlihat buruk. Lagi pula, di dunia nyata takkan ada yang akan melirik Ryu Se Rin sedikitpun. Ia merasa bila dirinya kurang menarik dan memikat. Hanya Incubus-lah yang nampak tulus apa adanya mencintai Ryu Se Rin. Oh astaga, pipi tirus Ryu Se Rin merona malu tiap membayangkan hal itu.

“Ini masih pagi dan kau melamun lagi Ryu Se Rin. Astaga, ada apa denganmu hari ini?” Sani menepuk-nepuk bahu Serin yang mengerjap. Timbul kerutan halus di dahi Sani perihal sikap aneh sahabat karibnya pagi ini. Biasanya Se Rin memang pendiam, namun untuk melamun, Sani tidak yakin mampu menghitung berapa kali Ryu Se Rin melamun -hal itu jarang terjadi seingat Sani.

“Oh? A-aku baik-baik saja Sani. Ya..aku sehat kok”

Sani mendecakkan lidah “Kau harus menceritakan keluh kesahmu itu, jangan memikul bebanmu sendiri nona Serin!”

Ryu Se Rin menggeleng, “Sungguh Sani, aku baik-baik saja, I’m Ok.” Ryu Se Rin tersenyum kecil, berusaha melenyapkan keraguan di mata Sani, sobatnya. Ia hanya tak ingin menceritakan mimpi anehnya secara gamblang karena Ryu Se Rin belum sanggup membaginya ke Sani, “Oh! Sani, teman-teman sudah berbaris di lapangan. Mari kita kesana!” Se Rin menggiring bahu Sani menuju teman-teman yang telah berkumpul kesana. “Kita tidak boleh terlambat!”

~~~

Seorang pria berjubah hitam berjalan menghampiri Ryu Se Rin yang terdiam disuatu sudut Old City, bersandar diantara dinding-dinding tinggi kokoh bergaya klasik khas era-era kolonial eropa, menggosok-gosokkan telapak tangannya. Pria itu menyeringai setibanya ia dihadapan Ryu Se Rin yang masih terdiam, menatap penuh ke arahnya.

‘Dia bodoh sekali ‘kan?’ cela suara telepathy yang tak bisa Se Rin dengar

‘Kami para Incubus memang terlahir dengan wajah tampan bak malaikat. Tentu saja gadis ini terjerat tanpa kau perlu berusaha keras Sehun.’

‘Hell yeah, aku akan menghabisinya malam ini’

‘Wah, kau terlihat sangat menakutkan.’

“Ryu Se Rin!”

Pria rupawan yang diketahui Ryu Se Rin sebagai Incubus bernama Sehun tersenyum kecil sebelum menggiringnya ke suatu tempat yang lebih hangat karena udara luar malam ini berhembus sangat kencang dan dingin. Menghabiskan malam panjang dan membuatnya terasa singkat dengan kesenangan semu yang sebetulnya tidak benar-benar nyata.

Impian Ryu Se Rin tercapai karena ia bertemu Sehun lagi. Kali ini ia takkan pernah berpikir kembali ke dunia nyata karena hanya disinilah ada seorang pria yang sungguh mampu memikat hatinya, mencintai Ryu Se Rin apa adanya bahkan memberikan senyuman terbaik hanya untuk dirinya. Ya, Ryu Se Rin sudah memantapkan hatinya untuk tinggal disini selama-lamanya dan hidup bahagia dengan Sehun, suaminya.

Ryu Se Rin malam itu sungguh terjerat akan pesona memikat seorang Incubus hingga tanpa sadar hari telah bergulir semenjak peristiwa itu dan Ryu Se Rin pada akhirnya melahirkan seorang bayi mungil cantik, buah hatinya dengan Incubus bernama Sehun yang notabene Ayah dari buah hati mereka.

Kejadian aneh, menyenangkan, mengharukan sekaligus menakutkan itu terjadi dalam waktu yang begitu singkat dalam satu mimpi. Buah hati Serin dan Sehun tumbuh begitu cepat hingga bayi jelita itu beranjak usia sekitar tujuh tahunan.  Wah, hebat sekali bukan?

Semenjak Ryu Se Rin memiliki seorang suami dan buah hati nan menggemaskan, ia semakin lupa untuk terbangun dari mimpinya lagi. Seolah melupakan eksistensi dunia nyata dan lupa bila semua yang terjadi ini tidak benar-benar terjadi secara nyata.

Apakah Sehun memang nyata? Apakah buah hati yang Ryu Se Rin beri nama Emily juga nyata? Apakah ia sudah menikah secara sah dan benar-benar menikmati kehidupannya saat ini? Apakah semua kebahagiaan ini benar-benar Ryu Se Rin alami dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan? Terlalu banyak hipotesis ‘Apakah?’ yang memenuhi pikirannya.

Semakin kusutnya pikiran Ryu Se Rin membuatnya tak mampu berpikir jernih. Antara mimpi dan kenyataan, ia mulai berpikir bila semua ini palsu dan tidak benar-benar ia rasakan dengan hatinya. Hati Ryu Se Rin terlalu polos, murni dan tidak muluk-muluk, seharusnya ia mendengarkan hati kecilnya yang berteriak bila apa yang Ryu Se Rin lakukan semakin tidak benar dan ia harus berhenti sebelum bahaya mengancamnya.

Ya, harus berhenti sekarang atau Ryu Se Rin tidak bisa kembali ke dunia nyata lagi. Oh itu sangat menakutkan! Ryu Se Rin harusnya merindukan ketiga orang tua yang berada di rumah, Ryu Se Rin harusnya merindukan teman-teman yang membuat ia kesal, marah dan tertawa sekaligus, Ryu Se Rin harusnya merindukan sosial media tempat ia berbagi aktifitas, Ryu Se Rin harusnya rindu menulis. Semua hal-hal kecil yang biasa ia lakukan di dunia nyata, membuat rasa rindu  Ryu Se Rin seharusnya semakin besar dan tak terbendung lagi.

Hingga suatu malam ia merasa Jetlag. Ryu Se Rin merindukan dunia nyata, dunia sebagai rumah dari segala kisah yang benar-benar terjadi secara alamiah. Tersadar bila Ryu Se Rin tidak benar-benar menginginkan dirinya terjebak di dunia mimpi dengan permainan emosional sementara yang akan segera menghilang dan lenyap.  Ryu Se Rin harus mempercayainya.

Berdiri disuatu ujung jurang dengan pandangan kosong menerawang. Angin senja membuat rambut Ryu Se Rin terurai diterpa angin. Entah mengapa ia rindu kehidupan di dunia nyata. Lagi-lagi Ryu Se Rin merindukan dunia sadar-nya lagi, entah yang keberapa kali. Ia ingin pulang.

Dunia sadar yang menurut Ryu Se Rin dipenuhi kesedihan, tangisan, kekangan dan lembar-lembar kelabu kehidupan, Serin merindukan semua rasa menyakitkan itu, baru menyadari bila ia terbentuk dari banyak air mata kesedihan dan dari air mata yang mengalir itulah kebahagiaan Serin datang.

Walaupun di dunia mimpi Ryu Se Rin lebih sering tertawa, bahagia, dan merasakan cinta dari orang-orang disekitar terutama rasa cinta pada Sehun dan putrinya Emily. Walaupun setiap hari Ryu Se Rin selalu disuguhi sesuatu yang tak pernah ia jumpai, rasakan dan lakukan di dunia nyata.

Pada harfiahnya, Ryu Se Rin ‘pun akan menemukan dirinya kembali dan mulai berpikir bila ia tidak seharusnya ‘bermain’ terlalu lama di alam mimpi.

~~~

Sehun cukup lama menatap dengan pandangan sulit diartikan pada sesosok gadis yang diam tak berkutik sejak bermenit-menit sebelumnya. Ia cukup peka bila Ryu Se Rin mulai menganggap semua ini delusi, hanya sebuah aliran kisah semu yang palsu dan tak nyata. Sehun rupanya cukup khawatir akan perubahan sikap Ryu Se Rin yang mulai gelisah dan akan benar-benar takut bila gadisnya terbangun dari mimpi ini. Kisah yang dibuat Sehun tak cukup nyata untuk membuat Ryu Se Rin melupakan darimana asalnya. Ironis.

‘Kau mulai gila Sehun. Kau menggilai gadis itu, kau tahu?’

Sehun hanya terdiam, mengabaikan telephaty sepupu Succubusnya, Tiffany.

‘Kau lihat bagaimana Incubus terkuat dunia ini bahkan bisa takluk dengan mangsa buruannya, seorang wanita. Sehun –dia terlihat melankolis.’ Ungkap suara telephaty lain, Incubus sobat karib Sehun, Jonathan.

“Aku tidak benar-benar menganggapnya mangsaku, kau Bajingan!”

‘Pangeran Sehun, Kau benar-benar jatuh cinta rupanya. Hahaha ini sangat menarik’

“Sialan kau!” Sehun menggeram. Ia marah, kesal, mengumpat dalam hati namun disatu sisi –sudut terkecil direlung raganya, Sehun menyetujui hal itu dan membenarkannya. Oh ya, Sehun tidak ingin menjadi munafik sehingga ia cukup menyetujui segala pernyataan sobatnya di dalam hati dan dalam diam.

Namun dimenit selanjutnya Sehun tersentak saat sepasang netra madu yang keteduhannya membuat Sehun candu, sudah menatapnya dalam diam, seolah bertanya ‘Mengapa kau berbicara sendiri?’

Waktu seolah terhenti begitu saja, helaan napas hanya tercekat hingga tenggorokan saja dan suara-suara telephaty yang mencela tak dihiraukan Sehun lagi, merasa seolah berada di ruang hampa angkasa, dan dirinya terjebak diantara dimensi itu.

“Sudah berapa lama ada disitu?” Ryu Se Rin membuka konversasi diantara mereka. Suaranya masih lembut dan tenang seperti biasa –hanya kerutan halus di dahi Ryu Se Rin yang menandakan kebingungannya.

“Kau sungguh akan pergi.”

Dahi Serin mengernyit. Pertanyaan Sehun lebih terdengar sebagai pernyataan di telinganya. Ryu Se Rin terdiam, tak berniad menjawab, lagi pula itu urusannya bukan?

Sehun menghela, ia turun dari atas dahan pohon Mahoni yang ia duduki dan mendarat tepat di depan Ryu Se Rin yang tak bergeming “Kau sungguh akan pergi?”

“Kau pembohong Sehun. Aku tidak percaya padamu. Kau tidak benar-benar ada, semua ini hanya mimpi ‘kan? Kau –semuanya ini hanya ilusi saja bukan? Aku … Aku-“

“Kau menganggap  Emily –anakmu itu hanya ilusi saja dan apa yang ada di depanmu juga? ” Suara Sehun meninggi, wajahnya memerah hingga terlihat begitu menyeramkan. Jemarinya mengepal kuat, berusaha menahan luapan emosi agar tidak menyakiti Ryu Se Rin. Karena bila Sehun tidak menahan semua emosi itu, Ryu Se Rin akan terluka, kesakitan, dan menderita karena sifat sadistic dari dalam diri Sehun. Sifat alamiah yang tak akan pernah hilang dari setiap mahluk Incubus maupun Succubus diseluruh dunia

Se Rin mengangguk “Ya, aku baru sadar bila semua hanya mimpi …”

“Bagaimana bisa kau mengatakan semua ini hanya mimpi bila kau merasakan semua kesakitan proses persalinan Ryu Se Rin? Menurutmu, semua kesakitan itu hanya karanganku semata –kau sudah gila huh?”

Ryu Se Rin terdiam. Suaranya kelu dan tak sanggup ia utarakan. Semua perkataan Sehun ada benarnya dan semua raa sakit itu sungguh dialami Ryu Se Rin –bahkan sangat mengerikan hanya untuk membayangkan betapa sakitnya proses itu. Oh Ryu Se Rin memang sudah gila, Sehun benar

“Apa kau sudah melupakan kenangan yang kita buat bersama Ryu Se Rin? Atau, kau menyuSehun pria lain dan hendak berpaling dariku. Benar?” Sehun mencengkeram bahu gadisnya, meremasnya pelan “Kau –apa yang sungguhnya ada di pikiranmu saat ini Ryu Se Rin? Bukankah kau menginginkan ini semua sejak awal?”

“Sehun …”

“Kau mengajariku banyak hal dan aku mulai terpengaruh denganmu karena kupikir itu hal yang baik untuk aku ikuti, dan sekarang kau akan pergi? Kau pengecut Ryu Se Rin! Kau menyakitiku dan Emily!”

Ryu Se Rin terisak, ia menggeleng “Tidak, bukan begitu maksudku. Aku hanya … hanya saja aku …”

“Hanya apa? Saat ini kau sudah membuatku kesal Ryu Se Rin. Kau pengkhianat, kau munafik, kau menjilat ludahmu sendiri!”

Ryu Se Rin menepis jemari Sehun yang bertengger di bahunya. Sungguh ia sangat kecewa pada perkataan Sehun yang begitu menyakitinya, tapi Ryu Se Rin tak bisa berbohong bila ia seperti apa yang dikatakan Sehun tadi –pengkhianat, munafik, dan menjilat ludah sendiri “Sehun kumohon izinkan aku kembali!”

“Tidak Ryu Se Rin!” Teriak Sehun, ia menarik tangan Ryu Se Rin yang hendak berlari menghindarinya “Tidak semudah itu kau keluar dari sini. Kau hanya akan menjadi buruan klan Werewolf, Vampire atau binatang buas. Kau akan mati disini jika tidak menurut padaku!”

Ryu Se Rin menepis tangan Sehun dan kembali berlari sekuat tenaga. Melewati hutan hujan dengan pepohonan tinggi nan besar yang terbentang di depannya, sedangkan Sehun hanya tertawa-tawa seolah menikmati permainan ini. Sehun sengaja tidak berlari terlalu cepat agar ia bisa menilai sejauh mana kemampuan Ryu Se Rin dalam berlari. Sehun sangat paham bila Ryu Se Rin tidak bisa berlari terlalu jauh karena ia akan kesulitan bernapas dan dadanya menjadi sesak.

    “Wah ini menyenangkan!”

    Sedang Ryu Se Rin merasakan tungSehun kakinya perih dan memberat. Napas- napasNya mulai tidak stabil dan pendek-pendek, pandangan mata ‘pun mulai memburam “Aku harus kuat. Tuhan, kumohon berikan aku kekuatan. Kumohon ….” doa-Nya dalam hati

    “Ryu Se Rin apa kau masih kuat berlari?” suara berat Sehun terdengar tak jauh darinya. “Hentikan Ryu Se Rin! Kau bisa mati kelelahan, jangan keras kepala!”

    ‘Aku Ryu Se Rin. Tidak akan berhenti. Aku harus kuat.’

    Diantara pepohonan tinggi nan lebat, Ryu Se Rin melihat sebuah celah dibalik pohon saat ia melintasinya. Celah tersebut tidak terlalu mencolok dari luar karena ia tertutupi semak-semak pillow yang tingginya hampir tiga meter, tempat persembunyian sementara yang cukup untuk menampungnya. Lagi pula, kaki Ryu Se Rin sudah sangat sakit dan sulit digerakkan.

    Akhirnya gadis itu meringkuk disana dengan harap cemas. Bibirnya tak henti bergetar. Dilihatnya sepanjang mata kaki terdapat luka yang cukup besar karena ia beberapa kali terkilir perakaran pohon tua yang muncul diatas permukaan –akar tersebut cukup tajam, menyerupai duri. Ryu Se Rin meringis menahan sakit. Ia tak mampu lagi berlari akibat rasa sakit ini dan ia sudah menahannya sejak tadi.

“Ryu Se Rin kau dimana?” suara teriakan Sehun menggema diselasar hutan. “Ryu Se Rin ayo pulang, Emily pasti mencarimu, dia pasti kelaparan. Ayo Ryu Se Rin, jangan kekanakan begini!”

Ryu Se Rin melihat keadaan diluar dari celah-celah semak, mendapati sosok Sehun yang berjalan melewati persembunyiannya tanpa curiga sedikitpun. “Phuft … cepat pergi!” bisiknya disertai kelegaan.

Sst..sst..sst..sst

Namun Ryu Se Rin tiba-tiba merinding karena suara aneh itu terus mengusiknya. “Itu suara apa?” Ia mengusap tengkuknya yang meremang.

Sst..sst..sst..sst

Celah berukuran sekitar tiga meter ini agaknya menjorok ke dalam dan sinar matahari tak mampu menembus celah persembunyiannya. Ryu Se Rin semakin merasakan ketidak nyamanan saat benda licin melesak begitu cepat melewati punggungnya. Berusaha untuk mengetahui binatang atau mahluk atau apapun yang membuatnya takut sekaligus penasaran, Ryu Se Rin memantapkan hatinya melihat keadaan sekitar celah walaupun sungguh ia tak bisa optimal.

Ketika melihat di langit-langit celah tersebut, Ryu Se Rin memekik ketakutan karena mereka berjumlah sangat banyak, mengerikan dan berwarna hampir serupa dengan gelapnya celah bila tidak terdapat dua titik putih yang menandai mata atau ekor mahluk tersebut. Ryu Se Rin tidak bisa mendefiniskan mahluk tersebut di dalam kegelapan.

Degupan  jantung Ryu Se Rin semakin tak terkendali, ia menahan napas dan berusaha keluar dari celah tersebut jika saja salah satu dari mahluk aneh tersebut tiak terjatuh tepat diatas luka yang menganga, di kaki Ryu Se Rin, “Aarrghhhhhh …”  jeritnya “Tolong aku ….” ia mencoba keluar dari celah tersebut dengan bantuan kedua tangan

Kakinya ia gerak-gerakkan ke segala arah agar binatang yang mirip lintah atau apalah itu segera menyingkir dari atas kakinya “Aahh …” Ia melenguh kesakitan saat ternyata lintah darat atau sebangsanya tersebut seakan menghisap darah dari luka Ryu Se Rin yang menganga, rasanya sangat perih hingg ia tak henti meringis.

Belum selesai ia melepas binatang mengerikan penghisap darah itu, binatang-binatang serupa yang bersembunyi di celah pohon tersebut juga keluar darisana. Mereka seolah tertarik dengan bau darah Ryu Se Rin yang menguar dari lukanya. Oh ini sungguh buruk. Ia kelabakan meninggalkan tempat tersebut dan malah terjebak di semak-semak pillow yang memang memagari persembunyian binatang itu.

Ryu Se Rin selain menahan sakit di kedua kakinya, ia mencari ranting atau apapun yang bisa ia gunakan sebagai alat pertahanan diri dari serangan lintah yang jumlahnya sangat banyak. Sungguh! Ia sudah membuat keributan besar di sarang tersebut dengan bersembunyi di dalamnya tanpa permisi. “Kau benar-benar membuat masalah Ryu Se Rin!”

Ranting yang cukup tajam ia genggam erat dan berhasil melepaskan seekor lintah yang sempat hinggap di kakinya dengan susah payah karena lintah tersebut memiliki daya isap tinggi. “Lintah sialan …” umpatnya sembari menampis lintah-lintah yang berdatangan ke arahnya. Tangan Ryu Se Rin mulai kebas dan kakikya benar-benar tidak selamat akibat rasa perih tersebut. Namun ia tak ingin menyerah, tidak akan dan ia harus bisa melarikan diri dari tempat ini.

Melarikan diri?

Ckckck … bagaimana bisa bila berdiri saja Ryu Se Rin tidak sanggup? Seandainya ia tidak melarikan diri dari Sehun, Seandainya ia tidak berniad pergi dari sini, Seandainya ia tidak bersembunyi di celah itu, Seandainya ia tidak melarikan diri dan menerima takdir, seandainya Sehun menolongnya, dan banyak kata harapan ‘Seandainya’ yang terus berputar dipikiran Ryu Se Rin. Oh sungguh ia berharap Sehun akan datang menyelamatkannya dari tragedi ini dan membebaskan Ryu Se Rin dari para lintah sialan yang terus berdatangan menyerangnya.

Namun Ryu Se Rin  tidak bisa teruss bergantung pada Sehun. Disaat seperti ini Ryu Se Rin harus tetap bersemangat, pantang menyerah dan ia tidak boleh mengeluh. Hidupnya tidak akan berakhir karena darahnya dihisap oleh para lintah ‘kan?  Walaupun rasanya ia tak mampu lagi menangkis dan menggenggam ranting dengan tanganya sendiri. Walaupun rasanya ia tak mampu bergerak akibat rasa sakit yang terasa begitu nyata ini. Terlalu banyak kata perandaian di dalam pikiran Ryu Se Rin.

Apakah Ryu Se Rin masih bisa bertahan?

Apakah Ryu Se Rin masih bisa hidup setelah ini?

Apakah Ryu Se Rin bisa kembali ke dunia nyata sementara ia tengah berjuang sekaligus sekarat?

Keajaiban. Ryu Se Rin membutuhkan keajaiban sekarang juga!



Cuap-cuap author:

    Yuhuu kali ini kau dateng dengan kisah vantasy romance yang keknya dan jatuhnya tetep mainstream. Huhuhu tolong hargain Zaira yang berusaha menyajikan konflik berbeda di part-part selanjutnya yaak.

    Oh ya selama nulis aku belum sekalipun perkenalin diri, aku line 96 dan mulai nulis sekitar pertengahan 2014. Mungkin part-part ke depan akan aku proteck jadi jangan ada yang jadi ghostreader ya.

    Untuk medapatkan pw, follow twitter aku @zhayrapivers trus direct massage aja sambil tulis ID kalian di kolom komentar. Kalau aku lama bales lewat twitter, bisa lewat messenger fb ya ID ku Zayy Cardova. Gomawo chingu

8 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Lucid dream (Chapter 1)

  1. Haloo kak salam kenal yaa^^
    Waah alur ceritanya baguss aku sukaa menarik yaa jadi ceritanya disini ryu se rin seorang lucid dream toh
    Ihh yang terakhir aku bcanya merinding lintah? Uhh
    Ditunggu yaa kak next chapternya

  2. Annyeong eonie😄
    Ide ceritanya bagus eonn, tp menurut aku part yg awal sehun-serin alurnya kecepetan eonn, yg awalnya serin jd mangsanya sehun, tp jadinya mereka nikah x_x

    Nextnya ditunggu eonn😄 keep writing~

    • keknya sengaj bikin gitu deh hhaha. ntar di part 2zaira jelasin kok:)
      yuhuu sipp..
      jangan lupa baca karyaku yang lain yah:)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s