[EXOFFI FREELANCE] Since The Very First Time (Chapter 1)

since-the-very-first-time-sestal-hunstal.png

Title: Since The Very First Time

Author: nchuhae

Main Cast: Oh Sehun, Jung Soojung

Support Cast: Kim Jongin, Do Kyungsoo, Yoon Bomi, Son Naeun

Genre: Romance, highschool!AU, slight!horror

Length: Threeshots

Rating: PG-13

***

Bagi Oh Sehun, jatuh cinta bisa terjadi hanya dalam hitungan detik.

***

Ada sebuah cerita yang beredar di antara siswa SMA Kirin. Cerita itu tersebar dari mulut ke mulut, dari senior ke junior, hingga kemudian tidak ada lagi yang tahu pasti dari mana cerita tersebut berasal, juga apakah cerita tersebut nyata adanya.

Oh Sehun, tanpa mengetahui keberadaan cerita itu, memasuki ruang perpustakaan sambil berusaha menahan keinginannya untuk menguap. Pria yang kini berada di tahun terakhirnya sebagai siswa sekolah itu baru saja memutuskan untuk membolos di jam pelajaran ketiga karena sudah tidak lagi sanggup menahan kantuk.

Sepanjang akhir pekan, dia dan dua orang sahabatnya tidak sempat tidur karena terlalu asyik bermain game online. Jongin dan Kyungsoo sepakat untuk tidak masuk sekolah hari ini. Kyungsoo berpikir bahwa membolos sehari tidak akan terlalu mempengaruhi nilai mereka di akhir semester nanti. Jongin menyetujui gagasan tersebut dan berkata bahwa tidur jauh lebih berguna dibanding mengikuti serentetan pelajaran yang hanya bisa membuat kepalanya pusing. Sehun juga sebetulnya ingin bergabung dengan kedua sahabatnya, tapi setelah dia ingat bahwa dua hari lalu wali kelasnya mengancam akan melayangkan surat pemberitahuan kepada orang tua Sehun karena sudah terlalu sering membolos, pria itu akhirnya meraih seragamnya dan beranjak dengan terkantuk-kantuk ke sekolah yang hanya berjarak dua pemberhentian bus dari tempat tinggal Kyungsoo—tempatnya semalam menginap.

Sehun berpikir segelas kopi yang tadi dibelinya dalam perjalanan menuju sekolah sudah cukup untuk membuat matanya tetap terbuka, setidaknya sampai bel pertanda jam pulang berbunyi. Sayangnya, selepas makan siang, kantuk semakin membabi-buta menyerangnya. Memasuki jam pelajaran ketiga, dia sudah menyerah. Beralasan hendak ke kamar mandi, Sehun meminta izin kepada guru matematika yang saat itu sedang sangat bersemangat menjelaskan di depan kelas.

Sebelum sampai ke perpustakaan, Sehun sempat melangkah ke atap gedung sekolah, berpikir bahwa tempat itu adalah yang paling pas untuknya memejamkan mata. Di hari-hari lain, Sehun bersama kedua orang temannya sering menjadikan tempat itu sebagai tujuan pelarian utama setiap kali mereka bosan dengan suasana kelas. Kadang Bomi dan Naeun, kekasih Kyungsoo dan Jongin, juga bergabung bersama mereka, turut meramaikan suasana. Niat itu akhirnya ia batalkan setelah mendapati ada sepasang siswa tengah asyik bermesraan di sana. Sehun tidak pernah gemar menyaksikan kemesraan orang lain, apalagi di saat kantuk sedang menderanya.

Pegawai perpustakaan—seorang wanita paruh baya bertubuh gempal dengan raut wajah lembut—yang saat itu sedang asyik menyusun buku-buku yang baru saja dikembalikan oleh para siswa memerhatikan Sehun melangkah dari balik kacamata berlensa tebal yang ia kenakan. Sehun hanya melemparkan seulas senyum bersahabat kepada wanita itu, tanpa suara memberitahukan bahwa ia datang untuk menumpang tidur. Wanita itu tidak berkata apa-apa, hanya kepalanya yang menggeleng pelan, seolah sudah sangat paham dengan kelakuan sebagian siswa yang datang ke tempat kerjanya bukan untuk membaca buku, melainkan untuk mencari ketenangan agar bisa tidur siang dengan nyenyak.

Ruang seukuran satu lapangan futsal itu tampak sepi. Ada beberapa siswa lain yang juga terlihat sedang berada di ruangan tersebut, tapi tidak ada satu pun yang di antara mereka yang berbincang dengan teman di sampingnya. Semuanya asyik menekuni buku di dalam genggaman masing-masing. Sehun mengenali beberapa dari mereka sebagai siswa dengan peringkat atas di sekolah, jenis siswa membosankan yang mendedikasikan semua waktu untuk belajar dan melakukan kegiatan demi memperbaiki spesifikasi untuk pendaftaran di universitas nanti. Ia jadi menduga guru yang seharusnya mengajar di kelas mereka sedang berhalangan hadir, karena itu mereka berinisatif untuk belajar mandiri di perpustakaan.

Sehun berjalan menyusuri koridor sempit yang diapit rak buku tinggi di kedua sisi, mencari lokasi tidur yang paling aman dari gangguan orang-orang. Pilihannya kemudian jatuh kepada sebuah meja panjang di sudut ruangan. Meja tersebut tampak sedikit berdebu, menandakan bahwa bagian perpustakaan yang satu itu memang jarang didatangi orang. Ada enam buah kursi di dekat meja tersebut, tiga di masing-masing sisi. Sehun menarik empat di antaranya, menyejajarkannya demi menjadikan benda itu sebagai alas tidur.

Sehun mengubah nada dering telepon genggamnya ke mode getar agar benda itu tidak menimbulkan suara gaduh yang bisa membuatnya ditegur petugas perpustakaan. Bukan berarti dia begitu yakin bahwa akan ada yang menghubunginya nanti. Kyungsoo dan Jongin mungkin masih terlelap dalam mimpi indahnya saat ini, sedangkan orang tua Sehun terlalu sibuk untuk menelepon anaknya sendiri. Pria itu hanya berjaga-jaga. Terbangun karena dering telepon adalah hal yang tidak terlalu digemarinya.

Setelah memasukkan benda pintar itu ke dalam saku, Sehun merebahkan tubuhnya di atas kursi yang tadi sudah ia susun. Pria itu memejamkan mata dan terlelap tidak lama kemudian.

***

Sehun terbangun sekitar dua jam kemudian dengan punggung yang pegal karena posisi tidur yang tidak terlalu bagus, namun mata dan wajahnya sudah tampak jauh lebih segar dibanding sebelumnya. Satu jam bukan waktu yang sepadan untuk menebus delapan jam yang semalam seharusnya ia habiskan dengan tidur, tapi Sehun tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.

Dia meraih telepon genggam dalam saku seragamnya untuk melihat waktu. Sehun berencana untuk langsung ke kantin setelah ini. Sudah menjadi semacam kebiasaan baginya untuk langsung makan setelah tidur. Jika setelah itu waktu masih memungkinkan, dia berencana mengikuti pelajaran terakhir. Sehun bukan penggemar sains, tapi berhubung itu diajarkan oleh wali kelasnya, Sehun merasa cukup bijak jika dia memilih untuk memunculkan batang hidungnya.

Di layar telepon genggamnya ada dua pesan, masing-masing dari Naeun dan Bomi.

Aku tidak melihat Jongin di kelas hari ini. Teleponnya juga tidak aktif. Aku khawatir dia sakit karena sejak semalam kabarnya juga tidak terdengar. Kalau kalian bersama-sama sekarang, tolong beritahu bahwa Kim Seonsaengnim masih memberinya waktu sampai besok pagi untuk mengumpulkan tugas review jurnal seni musik.

Aku mengajak Naeun bertaruh bahwa kalian bertiga pasti membolos lagi hari ini, jadi beritahu aku, siapa di antara kami yang menang?

Sebuah senyum terbit di wajah Sehun setelah membaca dua pesan itu. Bomi yang selalu berujar lugas dan Naeun yang gemar berbicara panjang-lebar. Kedua gadis itu, meski memiliki karakter yang berbeda, selalu kompak dalam urusan memperhatikan pasangan mereka masing-masing. Tentu saja, perhatian itu muncul bukan dalam bentuk dan kadar yang sama. Naeun jelas lebih unggul dalam hal ini. Sehun berani bertaruh, gadis itu pasti sudah bersusah payah membujuk guru seni musik mereka agar memberi kelonggaran waktu bagi Jongin untuk mengumpulkan tugasnya.

Kalau boleh jujur, terkadang timbul rasa iri di hati Sehun setiap kali melihat kedua sahabatnya memperoleh perhatian bahkan dalam bentuk sekecil itu. Orang tua Sehun tidak peduli apa yang dia lakukan di sekolah. Selama tidak memperoleh panggilan dari wali kelas, mereka akan selalu menganggap anaknya baik-baik saja. Sehun kadang bertanya-tanya, jika dalam sehari dia tidak masuk sekolah, apakah ada yang diam-diam mencari atau bahkan mencemaskan dirinya?

Rasa iri itu kadang juga berkembang sedikit lebih besar saat melihat Kyungsoo dan Jongin bercanda mesra dengan kekasih mereka, terlebih lagi jika itu dilakukan saat sedang berkumpul bersama seperti yang biasa mereka lakukan di akhir pekan.

Tapi, sejauh ini Sehun belum berniat mengikuti jejak kedua sahabatnya dan menjalin kedekatan dengan lawan jenis. Kyungsoo sudah pernah mengajaknya ikut kencan buta. Jongin bahkan dengan lancang sudah diam-diam meminta Naeun dan Bomi untuk mencarikan calon pacar potensial untuk Sehun, namun pria itu selalu menolak. Sebut saja dirinya kepalang romantis, tapi Sehun percaya bahwa jika dia memang harus dekat dengan seorang gadis, maka itu akan diawali dengan hati yang jatuh secepat pergerakan jarum detik di jam analog. Dan sejauh ini hal tersebut belum pernah terjadi.

Sehun tidak tahu bahwa siang itu, di sebuah sudut sepi gedung perpustakaan, dia akhirnya akan menemukan apa yang selama ini dicarinya.

Sehun mengetik pesan balasan untuk Bomi dan Naeun sekaligus. Dia yakin mereka pasti sedang bersama saat ini.

Kau kalah. Yang membolos cuma kekasihmu dan Jongin, aku datang ke sekolah. Omong-omong, beritahu Naeun agar jangan cemas. Jongin bukannya sakit, hanya sedang kelelahan akibat bermain game semalam suntuk.

Setelah memperoleh pemberitahuan bahwa pesannya sudah terkirim, Sehun mengembalikan telepon genggamnya ke dalam saku. Berdiri, pria itu bersiap meninggalkan perpustakaan demi menuju kantin.

Gerakan Sehun terhenti ketika dia menyadari ada sosok lain yang saat itu berada di dekatnya, terlihat sedang asyik membaca sebuah buku tak seberapa tebal yang dikenali Sehun sebagai roman karya seorang penulis kenamaan dari Inggris. Sehun bukannya penggemar sastra. Dia bahkan bisa dengan mudah tertidur hanya dengan membaca cerita fiksi sepanjang sekian ratus kata. Terima kasih kepada Naeun yang beberapa hari lalu memperkenalkan bacaan terbarunya kepada Sehun dan teman-teman mereka yang lain hingga pria itu tahu buku seperti apa yang tengah dibaca oleh gadis di depannya.

Sehun tertegun di tempatnya, bukan karena fakta bahwa gadis di depannya membaca buku yang sama seperti yang dibaca Naeun, tapi karena ada sesuatu dari gadis itu yang membuat Sehun seolah lupa untuk mengedipkan mata. Dalam diam, dia memperhatikan sosok feminin itu perlahan menggerakkan tangan kanan demi menyentuh anak rambutnya yang terjatuh, kemudian menyelipkannya di balik kuping agar helaian sepekat malam itu tidak menghalangi kegiatan membacanya. Pendar cahaya yang berasal dari jendela di balik punggung gadis itu menjadi latar belakang yang entah mengapa begitu pas untuk menghadirkan potret seorang gadis penikmat cerita cinta klasik.

Mendadak, Sehun merasa jantungnya memompa darah terlalu cepat. Dia berdeham untuk mengalihkan kesadarannya akan denyut yang tidak normal itu, tapi secepat suara dehamannya menghilang, secepat itu pula suara degup jantungnya kembali terdengar.

Gadis di depannya nampak terlalu larut dalam bacaannya hingga tak sedikit pun bergeming mendengar dehaman Sehun yang sebenarnya agak mengganggu. Alih-alih menoleh, dia lebih memilih menggerakkan tangannya sekali lagi, kali ini untuk membalik halaman dari buku yang dibacanya.

Sehun berdiri selama beberapa lama lagi di tempatnya, menunggu gadis itu mendongak agar dia bisa melihat lebih jelas bagaimana wajahnya. Sebenarnya, sekadar melihat rambut panjang dan seulas senyum tipis yang sesekali muncul di wajah gadis itu saja sudah lebih dari cukup untuk membuat Sehun meloncat pada kesimpulan bahwa gadis di depannya ini cantik. Seragam pas badan yang membalut kulit pucat gadis itu juga telah menjelaskan betapa dia menjaga tubuhnya agar tetap dalam proporsi yang ideal. Oh, bukannya Sehun keberatan dengan gadis berpenampilan sederhana dan bertubuh tidak proporsional, tapi jika yang dirasakannya benar adalah ketertarikan seorang pria kepada lawan jenisnya, maka wajar ‘kan jika Sehun berharap semua berlangsung seklise drama remaja di televisi, di mana seorang cinta pertama selalu merupakan sosok yang menarik secara fisik dan kepribadian?

Suara nyaring bel pertanda jam pelajaran terakhir sudah dimulailah yang akhirnya menarik Sehun dari labirin pikirannya. Dia tidak ingat kapan lamunannya jadi begitu larut hingga tak menyadari bahwa gadis di depannya sudah tidak ada lagi. Seingat Sehun, dia sama sekali belum memejamkan mata maupun menggeser arah pandangnya dari gadis itu.

Sehun mengembuskan napas, mendadak jadi kesal pada dirinya sendiri yang sempat-sempatnya melamun. Padahal tadi dia jelas sedang memperhatikan gadis itu, menunggunya mengalihkan pandangan dari buku yang dibacanya. Dan lebih bodoh lagi, Sehun berpikir, bagaimana mungkin tadi dia lupa mencuri pandang ke arah papan nama gadis itu? Sekarang bagaimana dia mencari tahu gadis itu siswa kelas berapa? Bagaimana mereka akan bertemu lagi?

to be continued…

Author’s Note:

  • Cerita ini dipublish juga di blog pribadi penulis dengan judul dan cast yang sama.
  • Credit for the beautiful poster goes to PutrisafirA255 from IndoFanfictionsArts.

2 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Since The Very First Time (Chapter 1)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s