[EXOFFI FREELANCE] DRAFT (Chapter 20)

newposterdrafttt

Tittle: DRAFT
by Tyar
Chapter | School life, Friendship, Romance | T
Cast
Sehun – Irene – Kai – Seulgi – With SM Artists.
Disclaimer: Cerita ini murni terlahir dari otak tyar yang rada geser.
#Beberapa plot terinspirasi dari potongan-potongan drama korea dan anime.

Find my another story – [https://nakashinaka.wordpress.com/]

Enjoy^

List: [Prolog | Chapter 1 – Chapter 19]

-20-

Sehun menupu dagu dengan tangan kanannya sembari menatap kalender yang tergantung di salah satu sudut apartemennya. Tersisa kurang lebih 3 bulan lagi menuju UAS semester 2, atau lebih tepatnya kenaikan kelas. Sehun bertanya pada dirinya sendiri, hasil nilai 3 bulan lalu adalah peringkat kedua. Sampai kapan dia harus begini? Bukan hasil yang menjadi masalah baginya. Namun berpura-pura dan menahan semua skill nya dalam belajar adalah penyiksaan secara tidak langsung. Kadang-kadang, Sehun rindu juga kehidupan sekolahnya sebelum dia dan Kai berteman dengan Irene. Menjadi siswa teladan nomor 1 yang disukai semua guru, diperebutkan murid-murid perempuan, dan bersikap tak peduli pada semua hal. Kemudian sedikit demi sedikit, berubah semenjak Irene masuk ke kehidupannya. Atau, semenjak dirinya masuk ke kehidupan Irene?

Entahlah. Sehun harus melakukan sesuatu. Tidak bisa dipungkiri, ambisi untuk lulus dengan nilai sempurna masih bersarang dalam dirinya. Masih menjadi salah satu target yang harus ia raih di masa SMA. Sehun berdecak, si Junmyeon-Junmyeon itu benar-benar gila tahta. Halus tapi picik. Ingin sekali Sehun memelintir tangan lelaki itu satu kali saja.

Di waktu yang bersamaan, Sehun harus membuat nilai Irene dan Kai terus naik.

“Arrhh.” Gerutunya gemas.

Tiba-tiba ponselnya bergetar tanda pesan masuk. Dia pun meraihnya kemudian membuka isi pesan itu. Tertera nama kontak cewek sinting disana.

“Sehun-ah kau sedang apa?”

Sehun menarik sebelah ujung bibirnya, mencibir.

“Sedang mencari bagaimana cara membunuhmu.”

Tak lama kemudian, sebuah balasan kembali menyahut.

“Itu artinya kau sedang memikirkanku.”

“Jangan bergurau. Kau yang bertanya padaku lebih dulu adalah fakta bahwa kau merindukanku. Mengaku saja.”

Jawaban Sehun berhasil membuat Irene tersipu. Merasa tertangkap basah tapi kemudian ia tetap membalas dengan biasa.

“Ayahku akan kembali hari senin dari Hongkong. Kakak tiri sinting ku tidak pulang sejak semalam. Dan ibu tiriku masih ada di Busan. Hari minggu menginap di apartemenmu mungkin ide yang bagus?”

“Enyah kau. Bukankah kau bilang kemarin itu yang terakhir kalinya? Dasar labil.”

“Hehe. Ajak Kai juga. Anggap saja kita akan kemping?”

“Enyah kau dasar kecoa.”

“Apa?!! Beraninya kau bilang aku kecoa? Lihat saja Oh Sehun, aku akan membunuhmu!”

“Tidak, setelah aku membunuhmu duluan.”

Dan percakapan itu terus berlanjut sampai malam. Sehun diam-diam tersenyum, meski isi pesan-pesan mereka kebanyakan perdebatan dan saling hina. Begitu juga dengan Irene, rasa sepinya hilang ketika membaca balasan-balasan Sehun. Senyum dan tawa terus mengembang di bibirnya.

XxxxX

Minggu berjalan seperti biasanya, sesuai harapan Sehun. Bekerja paruh waktu sampai sore. Setelah itu membaca buku seperti biasa sambil ditemani Kai yang hanya sibuk mengunyah cemilan dan bermain game.

“Irene mungkin menyukaimu makanya dia bersikap aneh.” Tiba-tiba Kai menyahut, tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. Mulutnya masih di penuhi dengan cemilan.

“Aku juga menyukainya, tapi tetap bersikap biasa saja.” Sedikit ambigu, memang. Sehun sejujurnya merasa ada yang aneh dengan isi kalimatnya. Namun dia menghiraukan itu, malas berpikir lebih jauh. “Lagipula, kau tau Irene sudah bersikap seperti biasa. Kenapa baru membicarakannya sekarang?”

Kai memutar bola matanya dengan cepat dan mengerang gemas, “Maksudku mungkin Irene jatuh cinta padamu, Sehun. Itu yang aku ingin bicarakan. Aku baru mengingatnya, Irene jatuh cinta mungkin bukanlah seusatu yang mustahil. Begitu juga denganmu. Garis batas antara suka dan jatuh cinta itu setipis sehelai rambut dibelah tujuh.”

“Tidak usah berlebihan,” respon Sehun santai. “Irene tidak mungkin jatuh cinta. Membedakan cara bagaimana bersikap pada perempuan dan laki-laki saja dia nyaris tidak bisa.”

Kai berdecak, melirik Sehun yang masih santai membaca bukunya. “Tapi ingat, Hun. Irene tetaplah seorang perempuan. Dan kau seorang laki-laki. Umur 17 itu usia yang wajar untuk merasakan cinta.”

“Dia juga menyukaimu, Kai. Dia juga berteman denganmu.” Sehun masih sangat santai di posisi duduknya, konsentrasi membacanya sama sekali tak terganggu.

“Tapi aku dengan Irene beda, Sehun. Kita sama-sama tau kalau aku sangat menyukai Seulgi. Lagipula, dia lebih sering bersamamu.”

Sehun tak menyahut kali ini. Terlihat semakin tenggelam dalam bacaannya. Namun sebenarnya, pikiran Sehun menjadi terganggu. Menegur dirinya sendiri di dalam hati, bahwa perkataan Kai ada benarnya juga. Irene tetaplah seorang perempuan, dan dirinya seorang laki-laki. Mengenai apakah Irene benar jatuh cinta padanya atau tidak, Sehun tidak mau tau. Atau mengenai apakah dirinya jatuh cinta pada Irene atau tidak, dia juga tidak mau tau dan mencari tau. Pada dasarnya, Sehun peka terhadap perasaannya sendiri. Kai benar, 17 adalah usia yang wajar untuk mengenal cinta. Dia tau betul, bahwa Irene adalah satu-satunya gadis yang paling spesial selama ini, selain ibunya tentu saja. Sehun juga tidak cukup bodoh untuk menyadari bahwa pertemanan antara dirinya dengan Irene terkadang tampak tak wajar. Namun sekali lagi, dia tidak ingin mencari tau. Itu bisa saja akan menjadi hal yang akan merusak semuanya.

XxxxX

Senin masih berjalan sama. Datar bagi Sehun dan membosankan bagi Irene. Sementara Kai, menikmati seperti biasa. Berjalan santai di tiap-tiap koridor yang di lewatinya, meskipun orang-orang tengah hangat membicarakan dirinya dan Seulgi yang semakin dekat. Karna itu sebuah kebenaran, Kai jadi tak peduli.

Kini ketiganya menghabiskan jam istirahat kedua dengan duduk di salah satu meja perpustakaan. Berkutat dengan masing-masing buku dan catatannya. Kai berdiri, berniat mencari buku lain yang dibutuhkannya.

Sedangkan Irene duduk kaku dikursinya. Alih-alih serius dengan pekerjaannya, sejak tadi ia malah terus memandangi Sehun yang duduk di depannya. Jemari Irene memainkan pulpen dengan gemas. Matanya terus tertuju pada lelaki di depannya yang tenggelam dalam teori-teori pelajaran yang begitu membingungkan bagi Irene.

Matanya terus saja terpaku pada sosok Sehun di hadapannya. Memperhatikan wajah Sehun yang serius, dengan poni lebat yang sempurna menutup dahi. Pundaknya yang lebar semakin mengesankan ketegapan tubuh Sehun. Entah sejak kapan, Irene jadi begitu menyukai ekspresinya yang selalu datar. Tatapan matanya yang dingin tapi juga tegas. Perkataan orang-orang selama ini boleh jadi memang tak meleset sedikitpun, wajah Sehun tampak sempurna. Seperti sebuah pahatan tanpa cacat. Semakin hari, tak dapat Irene pungkiri kalau Sehun semakin menawan dimatanya. Dia tidak lagi melihat lelaki itu sebagai sebatas teman, lebih dari itu. Irene melihat Sehun sebagai seorang laki-laki yang dia sukai. Entah sejak kapan, dirinya mengagumi apa saja yang ada pada Sehun. Mengakui perasaan hatinya yang tak lagi bisa dibohongi, nampaknya bukan sesuatu yang salah juga, menurutnya. Biarlah perasaan itu tumbuh sebagaimana mestinya. Irene lelah jika harus menghindar.

Jemarinya yang menggenggam pulpen pun mendekat ke arah tangan kanan Sehun, lalu mengetuk-ngetukkan pulpen itu di lengannya. Aktivitas menulis Sehun jadi terhenti, lelaki itu lantas mendongak menatap Irene.

We?” tanyanya datar. Gadis itu mengerjap, membalas tatapan Sehun dengan melas.

“Aku bosan.” Balas Irene manja.

Sehun diam, masih menatap Irene datar. Dia kemudian meraih tangan Irene lembut, membuat gadis itu sedikit tersentak untuk beberapa detik. Dengan santai, tangan Sehun membawanya kembali ke atas buku catatan Irene, mengembalikan tangan gadis itu ke posisi semula.

“Aku tauuu.” Bisik Sehun. Kemudian fokusnya kembali ke materi yang sedang ia dalami.

Irene menghembuskan nafas sebal, sambil memajukan bibirnya seperti anak kecil. Dia pun berdiri dari tempat duduknya hendak meninggalkan meja.

“Kau mau kemana?” sahut Sehun tanpa menoleh sedikitpun.

“Aku mau ke kantin, haus!”

Tanpa menunggu jawaban, gadis itu segera berlalu dari hadapan Sehun yang kali ini memandangi Irene sampai menghilang dari pandangannya.

Irene berjalan gontai menyusuri koridor sekolah menuju kantin untuk membeli sesuatu yang dapat menyegarkannya. Sesekali jemarinya menggaruk belakang leher dengan gelisah. Mengingat momen kecil dua menit lalu. Ketika sebuah sentuhan hangat menyentuh tangannya dengan perlahan, menimbulkan sensasi tersendiri bagi Irene. Dia merinding mengingat itu, entah kenapa.

Selang beberapa menit kemudian, tiba-tiba saja seluruh penjuru sekolah, termasuk Irene dan Sehun, sama-sama mendengar sebuah suara yang sangat familiar lewat speaker yang tesebar di setiap sudut koridor dan ruangan.

“Panggilan untuk Oh Sehun dan Bae Irene, datanglah ke kantor Kepala Sekolah sekarang.”

Di posisinya masing-masing, Sehun dan Irene diam. Terpaku di tempat setelah mendengar panggilan itu. Keduanya sama-sama mencoba mengingat kesalahan apa yang sudah mereka lakukan sampai lagi-lagi keduanya harus pergi ke kantor kepala sekolah.

XxxxX

Pria tinggi menjulang dengan kacamata hitam dan jaket kulit itu, keluar dari gedung apartemen dengan santai. Seseorang dari dalam sana mengatakan, tak ada satupun orang dewasa yang pernah masuk ke dalam apartemen milik anak SMA itu. Ya, anak SMA bernama Oh Sehun yang tengah di untitnya. Alih-alih mengikuti apa saja aktivitas Irene, pria bermarga Wu itu lebih tertarik pada Oh Sehun. Seorang anak SMA tinggal sendiri di apartemen adalah hal yang rancu baginya. Lebih tepatnya, bagi siapapun yang mengetahuinya. Dan itulah penyebab yang membuat Kris mengumpulkan data-data cctv yang tergantung dekat pintu apartemen Sehun, juga data cctv yang ada di sekitar gedung apartemen, termasuk yang ada di pintu masuk gedung. Cara apapun Kris lakukan dengan halus dan cerdik demi mendapatkan semua data itu dengan mudah tanpa dipersulit.

Dan ketika dia mendapat data itu satu-persatu, apa yang terekam lewat cctv itu membuat Kris tersenyum miring. “Anak jaman sekarang, sudah tau caranya bersenang-senang rupanya.” Tuduhnya asal.

Setelah memberi kabar pada atasannya, bahwa pekerjaannya sudah selesai. Sebuah panggilan masuk segera tiba ke ponsel Kris.

Ye, sajang-nim?” mulutnya yang tengah asik mengunyah permen karet, menyahut asal.

“Apa saja yang kau temukan tentang anakku?”

Kris menyeringai di balik ponsel, “Aku tidak begitu tertarik dengan anakmu, sajangnim. Setelah ini aku akan mengirim semuanya segera. Kau pasti tidak akan menyangka.”

“Maksudmu?” tanya Ketua Bae mulai bimbang.

“Bocah bernama Oh Sehun itu,” kedua alis Kris terangkat, mulutnya kembali mengunyah dengan malas. “Sungguh diluar dugaan.”

XxxxX

‘Plak!’

Appa!

Sebuah tamparan keras dengan mulus mendarat di pipi Sehun. Mengejutkan Kepala Sekolah dan Irene yang juga berada di sana dengan ekspresi tegang. Irene segera berseru ketika melihat adegan tiba-tiba barusan. Sementara Sehun seketika membeku ditempat, diam dalam posisinya setelah mendapat tamparan. Sedikit demi sedikit muncul perasaan terhina dalam dirinya. Seorang ahjussi ternama telah menyakiti sebagian wajahnya tanpa permisi, menginjak harga dirinya sebelum tau apa masalah yang sudah terjadi.

Sajangnim, tolong tenangkan dirimu.” Tegur Kepala Sekolah.

“Lancang sekali kau membawa anakku ke apartemenmu dan membiarkannya menginap!”

Appa!” Irene kembali berseru, mendekati ayahnya dengan cepat. Menghadap langsung dengan air muka tegang. Ujung matanya mulai berair, ketakutan. “Ini bukan kesalahan Sehun. Ini kesalahanku!”

Namun ayahnya tak menggubris pembelaan Irene, “Kepala Sekolah, bagaimana bisa kau mengizinkan seorang anak SMA memiliki apartemennya sendiri? Tidakkah dia memiliki wali?” suara itu semakin menakutkan di telinga Irene. Kepala Sekolah mengerjap, merasa tersudut dengan kalimat yang tertuduh untuknya. Ayah Irene benar, bisa-bisanya dia mengizinkan hal itu terjadi. Dan hal yang membuatnya amat menyesal adalah, dia telah lalai mengawasi anak didiknya sendiri. Terlebih mengawasi Oh Sehun, siswa kebanggaannya yang sering diperlakukan spesial.

Appa, jebal!” suara Irene mulai bergetar, air matanya benar-benar akan jatuh bila dia mengedip sekali saja. “Ini salahku. Aku yang memaksa untuk menginap. Bukan Sehun. Lagipula, kami cuma berteman. Ini hanya menginap di rumah teman seperti biasa, appa.”

Tuan Bae menatap anaknya kesal, “Aku kecewa padamu, Bae Irene. Kau sudah membohongiku sampai hari ini.” Kemudian kembali menghadap Sehun. “Dan kau! Bisa-bisanya kau tetap membiarkan Irene tinggal? Harusnya kau usir saja dia. Kalian tidak seharusnya berada di apartemen tanpa orang dewasa. Itu mempermalukanku sebagai ayahnya.”

Bisa dipastikan, ayah Irene benar-benar sudah naik darah kali ini. Emosinya membludak, membuncah menyesaki dada pria paruh baya itu. Sehun mengatupkan rahangnya, kedua tangannya mengepal. Sebuah emosi yang telah lama terkubur dalam dirinya, seakan kembali bangkit dengan perlahan. Emosi yang berbeda dengan emosi ketika dia melabrak Kim Junmyeon karna telah menyimpan data-data cctv tentangnya. Ya, mungkin orang itu lagi si biang keroknya.

Ahjusii.” Sahutnya pelan, berusaha menetralkan suaranya agar tetap terdengar sopan. “Aku mengaku salah. Aku tau ini bukanlah tindakan yang seharusnya. Aku mengaku bahwa ini kesalahanku telah mengizinkan anakmu tinggal di rumahku. Tapi, percayalah pada apa yang dikatakan anak kandungmu sendiri. Tak ada yang kami lakukan, selain berteman dengan baik.”

“Berteman, katamu? Bagaimana bisa seorang perempuan dan seorang laki-laki berteman dengan wajar?”

“Irene bahkan tidak pernah menganggapku seorang laki-laki.” Sehun masih bersikeras membela. Berusaha memberi keyakinan pada ayah Irene. “Kau tidak mengenal dengan baik seperti apa anakmu sendiri, sajangnim.”

Entah darimana kalimat itu muncul dalam benak Sehun, dan meluncur begitu saja dari bibirnya. Membuat ayah Irene tersinggung, dan mengangkat kembali tangannya, nyaris menampar lagi. Namun kali ini Irene berhasil mencegahnya, menangkap lengan ayahnya dengan cepat.

Appa, percayalah padaku. Tidak ada hal yang tidak wajar di antara kami. Saat di sekolah, ataupun di apartemen Sehun.”

Ayah Irene menggeleng pelan, “Kau tidak mengerti, Irene. Itu tetap saja sebuah kesalahan.”

Kantor Kepala Sekolah lengang beberapa saat.

“Aku percaya kalian tidak melakukan hal yang mencurigakan di sana. Tapi tetap saja, itu adalah kesalahan. Tidak seharusnya kalian seceroboh itu.” Kali ini Kepala Sekolah menyahut, kemudian menatap ketua Bae, dan membungkukkan badannya dengan sempurna.

Sajangnim, sebagai Kepala Sekolah, aku sungguh minta maaf atas kelalaian kami dalam mengawasi mereka.” Tubuhnya kembali berdiri tegak, “setidaknya, untuk saat ini percayalah apa yang Irene katakan. Aku tau mereka seperti apa, sajangnim.

Ayah Irene diam sejenak, “Terima kasih, Kepala Sekolah.” Tangannya kemudian meraih pergelangan tangan Irene, “aku akan membawanya pulang sekarang.”

Tanpa berkata apapun lagi, ayah Irene segera membawa anaknya pergi dari sana. Di saat yang bersamaan, ayah Kai sebagai wali Sehun, datang memasuki ruangan. Menghadap Sehun dan Kepala Sekolah dengan tatapan tanya dan cemas.

Sehun terus saja menunduk sepanjang penjelasan Kepala Sekolah pada Ketua Kim.

“Sejak awal, memberi izin untuk Sehun memiliki apartemen sendiri memanglah bukan pilihan yang bijak.” Ucap Kepala Sekolah menyesal.

Ketua Kim menghela nafas berat, melirik Sehun beberapa detik kemudian menyahut. “Kau benar. Seharusnya aku tidak membiarkannya tinggal sendiri. Kali ini, aku akan menariknya kembali kerumahku. Akan aku pastikan, Sehun akan tinggal bersamaku sampai dia benar-benar sudah dewasa.”

Kepala Sekolah mengangguk, “Terima kasih atas pengertiannya, Kim sajangnim. Tetapi, aku berharap kau tetap membiarkan kami, pihak sekolah, memberi Sehun hukuman. Sesuai aturan yang berlaku.”

Lawan bicaranya mengangguk, “Ya, tentu saja, Kepala Sekolah. Itu sudah menjadi kewajiban bagi sekolah untuk memberinya sanksi.”

Setelah perbincangan penting lainnya, Ketua Kim dan Sehun pun meninggalkan kantor Kepala Sekolah bersama.

Ahjussi, aku sungguh minta maaf.” Ucap Sehun pelan ketika mereka berjalan di koridor yang sudah sepi. Keduanya lalu berhenti, Ketua Kim kini menghadap Sehun lalu menepuk pundaknya dengan hangat.

“Ini hanya masalah waktu. Aku percaya padamu, Sehun. Aku senang kau bisa kembali tinggal bersama kami.”

“Aku sangat malu, sudah merepotkanmu. Dan mengecewakanmu. Aku benar-benar –“

“Sehun-ah. Aku tau ini berat bagimu. Tapi aku harap kali ini kau akan lebih nyaman di rumah kami, dan menjalani hukuman dengan semestinya.” Sebelum berlalu pergi, Ketua Kim meraih kepala Sehun, mengusapnya pelan dan memberinya senyuman. “Sampai jumpa, Sehun-ah.”

XxxxX

Sampai jam pelajaran terakhir, Sehun sama sekali tidak mood kembali masuk ke kelas. Yang dilakukannya hanya diam di ruang latihan dance, duduk di salah satu kursi yang berada disana dengan tatapan kosong. Ini buruk. Sehun yakin, dirinya sama sekali tidak mencari masalah dengan Junmyeon. Tapi kenapa ini tetap terjadi? Bahkan sebelum mendekati UAS.

Sehun benar-benar kehilangan semuanya. Reputasinya yang sudah ternodai, sekarang pasti akan segera hancur, berita ini pasti akan segera menyebar mengudara ke seluruh penjuru sekolah. Sehun si peringkat satu sudah karam. Sehun si siswa teladan dan membanggakan guru-guru kini tak bisa dipercaya lagi oleh orang-orang. Sehun di skors sampai hari UAS datang. Itu adalah waktu yang sangat lama untuk disebut sebuah hukuman. Dia harus mendekam di rumah keluarga Kai. Belajar sendirian dan menghadapi UAS seadanya. Sehun kehilangan semua momen yang dirindukannya selama ini. Dia kehilangan nilai-nilai membanggakannya. Juga kehilangan kepercayaan orang-orang bahkan guru-guru. Dan mungkin, Sehun akan kehilangan Irene. Cepat atau lambat.

Bel terakhir berbunyi nyaring memenuhi setiap koridor sekolah. Sehun segera berdiri dari tempatnya, dan berjalan cepat menuju kelas Junmyeon. Emosinya masih menggebu dalam dada.

Orang-orang yang baru saja menghambur keluar kelas, mulai berbisik-bisik membicarakan Sehun ketika melihatnya melintasi koridor dengan cepat. Setelah sampai di kelas tujuannya, dia mendapati Kai sedang menghadap Junmyeon dengan tatapan marah sekaligus interogasi. Tanpa aba-aba, Sehun segera menarik kerah seragam Junmyeon dengan penuh amarah. Menyeretnya sampai pojok belakang kelas, mendesaknya dengan menekan tubuh lelaki itu ke tembok. Junmyeon meringis, benturan punggung dengan benda keras dibelakangnya cukup membuatnya kesakitan.

“Apa yang kau lakukan, oh?! Kau juga mau menuduhku sudah membocorkannya semuanya, begitu?”

“Lantas itu memang kenyataannya, kan?” desak Sehun semakin menekan tubuh Junmyeon tanpa ampun. “Berengsek! Aku sudah melakukan yang kau mau, mengalah dan memberikan posisi pertama untukmu. Tapi ini balasanmu, eh?!”

Suara Sehun menaik, membentak orang yang ada dihadapannya dengan penuh dendam. Kai masih berdiri di posisinya dengan tatapan tak percaya. Itu amarah pertama Sehun semenjak orang tuanya meninggal. Kai segera mendekat, sebelum Sehun berbuat sesuatu diluar kendalinya.

“Aku mungkin memang sangat membencimu, Oh Sehun. Aku tidak bisa membiarkanmu terus berada di posisi pertama. Tapi dengar, kali ini bukan aku. Bukan aku yang melakukannya, Oh Sehun! Kau bisa tanyakan sendiri pada Kepala Sekolah.”

“Omong kosong!” tangan Sehun melayang, nyaris mengenai wajah mulus lawan bicaranya. Sampai Kai berhasil mencegah, menahan kepalan tangan Sehun di udara.

“Ini tidak menyelesaikan apa-apa, Sehun.” Seru Kai menegur sahabatnya.

“Ini mungkin memang sangat menguntungkan bagiku. Tapi sekali lagi aku katakan pada kalian berdua, bahwa bukan aku yang melaporkannya. Jika aku memang melakukannya, untuk apa aku berpura-pura tidak tau apa-apa, oh? Aku tidak takut padamu, Oh Sehun.”

Kalimat panjang Junmyeon cukup lamban tercerna dalam otak Sehun, beberapa saat kemudian dia pun melepaskan cengkramannya dengan kasar. Dengan sisa nafas yang memburu, Sehun hanya menatap Junmyeon dengan dingin. Emosinya tampak kembali surut, tapi justru hatinya masih panas begejolak penuh kesal. Sehun pun segera pergi, berlalu meninggalkan kelas itu dengan cepat.

XxxxX

Irene ketakutan. Dia tau mungkin ini akan terjadi. Tapi Irene tidak menyangka ayahnya akan memata-matainya dan menjadi orang yang pertama tau soal ini. Gadis itu kini berdiri di belakang ayahnya, menunduk ketakutan. Ini adalah kemarahan ayah yang paling menyeramkan baginya.

“Aku sangat kecewa! Seharusnya aku memeriksanya sejak awal.” Irene masih diam di posisinya, tidak tertarik menjawab apalagi membela diri. “Kau membuatku malu. Seharusnya aku menarikmu dari sekolah itu sejak dulu. Kau membuatku menyesal karna telah membiarkanmu dan mengikuti apa maumu. Apa kau ingin aku mengirimmu ke Amerika saat ini juga, oh?”

Mata Irene membulat, “Tidak, appa. Jangan. Aku sungguh minta maaf, aku menyesal. Kumohon percayalah padaku.”

“Setelah kebohongan yang kau lakukan? Kau ingin aku percaya padamu?” Ayahnya berbalik, menghadap Irene yang masih menunduk bercucuran air mata.

“Kau tidak pernah memperhatikanku. Kau benar-benar tidak mengenal seperti apa anakmu ini.”

“Kau yang tidak mengerti, Irene.”

“Apa yang harus aku mengerti, appa?!”

Ayahnya menghela nafas berat, “pergilah ke kamarmu. Mulai besok, kau tidak akan ada di sekolah itu lagi.”

Tapi Irene tetaplah Irene, meski begitu yang dilakukannya bukanlah pergi ke kamar namun berjalan cepat keluar rumah, melintasi halaman depan yang luas dan melewati pagar begitu saja. Sekitar 1 jam kemudian, gadis itu pun sampai di kawasan apartemen dimana Sehun tinggal. Tanpa ragu dia berlari memasuki lift, menyusuri koridor dengan cepat dan segera menerobos masuk ke dalam apartemen milik Sehun.

“Irene?” Kai adalah orang pertama yang ditemuinya ketika baru saja beberapa langkah memasuki tempat itu. Irene tak membalas, selain menatap Kai beberapa detik.

Namun tiba-tiba langkahnya terjeda kala ia sampai di ruang utama apartemen itu, ruangan yang penuh kenangan tentang kebersamaan mereka bertiga setahun ini, nyaris bersih dari barang-barang Sehun. Hanya rak dan nakas kosong, juga sofa panjang dan sebuah meja di pusatnya yang tersisa. Ketika pandangannya beralih ke arah pintu kamar, langkahnya pun berlanjut mencari sang pemilik.

“Sehun?!”

Irene mendapati lelaki itu tengah duduk membelakanginya, sibuk mengepak barang-barang. Terdapat beberapa kardus macam-macam ukuran yang tersebar di dalam kamar itu. Irene ingin mendekat, namun Sehun tak memberi balasan, masih berkutat dengan pekerjaannya.

“Kau akan meninggalkan tempat ini?” tanya Irene pelan.

Sehun tak menoleh sedikit pun, hanya bergumam memberi jawaban.

“Aku minta maaf.” Suara Irene sangat menyesal.

“Darimana ayahmu tau?” tanya Sehun, tak menghiraukan permintaan maaf Irene.

“Ayah memata-matai kita.”

“Sudah kuduga,” tangan Sehun menghentikan aktivitasnya, namun masih enggan menghadap lawan bicaranya. “Seharusnya sejak awal aku tidak membiarkanmu datang kemari. Atau seharusnya sejak awal kita tidak pernah berteman.”

“A-apa?” kalimat yang baru saja di dengar Irene cukup menohok dadanya. “Kau menyesal berteman denganku, Oh Sehun?”

“Hidupku berjalan normal sebelum kau menjadi teman kami. Keberadaanmu membuat semuanya mulai berubah. Hidupku yang berat nyatanya jadi makin susah. Kau sama sekali tidak memberiku keuntungan selama ini.” Sehun menoleh sedikit, melirik Irene yang masih berdiri beberapa langkah dibelakangnya.

Gadis itu hampir menganga, namun kemudian ia menelan ludah. Rasa kesal mulai muncul dalam dirinya. Mendengar Sehun berkata seperti itu, benar-benar manyayat hatinya. Melukainya hingga ke dalam-dalam.

“Sehun aku tau sebagian besar adalah kesalahanku. Tapi kenapa kau bicara seolah-olah seluruh kesalahan ada pada diriku?” pekik Irene tak habis pikir. Sehun tak menyahut sama sekali.

“Jika kau memang menyesal, lalu kenapa kau tak mengatakannya sejak dulu, eh? Kau lupa? Kau yang bilang sendiri bahwa kau senang berteman denganku. Selama hampir setahun ini, kau begitu menikmati pertemanan kita. Kau bahkan melakukan banyak hal yang tak kuminta. Itu? Yang kau sebut menyesal, oh?” Irene menarik nafas sebelum meneruskan, “Aku tau kau memang orang yang bisa melakukan segala hal sendiri. Semua baik-baik saja tanpa aku. Aku tau aku memang sama sekali tak berguna bagimu. Tapi –”

“Pergilah.” Potong Sehun. Irene tak membalas, satu kata pendek itu berhasil menyentil dirinya. “Pergi dariku!” Sehun menoleh lagi, kali ini benar-benar membalas tatapan Irene dengan matanya yang lebih dingin dari sebelumnya. Nafasnya terdengar mulai bergemuruh menahan kesal. Sementara Irene masih terpaku di tempat. Merasa tertampar dengan pengusiran langsung dari mulut Sehun. Sebagai perempuan yang tengah menyimpan perasaan lebih terhadapnya, itu sangatlah menyakitkan. Ujung matanya kembali berair.

Geurae. Kau tak perlu khawatir. Mulai besok, aku tak akan ada lagi disana. Mulai besok, aku tak akan mengganggumu lagi. Mulai besok, semuanya berakhir.” Tanpa menunggu respon, Irene bergerak segera berbalik namun ia berhenti sejenak, “oh, ya. Dan satu lagi, aku harap kehidupanmu kembali normal seperti yang kau mau.” Gadis itu pun berlalu dari sana. Berjalan cepat meninggalkan apartemen dengan perasan campur aduk.

“Kupikir kau terlalu keras padanya, Sehun. Aku tau bukan itu yang kau rasakan sebenarnya.” Sahut Kai di ambang pintu.

Tiba-tiba suara petir berdentum kencang diluar sana. Matanya menoleh ke jendela kamar, mendung kini sudah menyelimuti langit sore di atas sana. Tak sampai 10 menit, hujanpun mulai terdengar menderu. Mengisi keheningan kamar Sehun yang temaram.

Dia masih membisu. Mengingat lagi masa-masa singkat pertemanannya bersama Irene. Benar, dia menikmati semuanya selama ini. Melakukan banyak hal untuk Irene. Merelakan peringkat pertamanya turun adalah pilihannya. Membuang banyak waktu demi mengajari Irene pun adalah keputusannya, meski pada awalnya hanya sebuah keterpaksaan. Semua potongan-potongan memori mengenai dirinya yang faktanya begitu peduli pada Irene selama ini, mulai berputar dalam benaknya. Kenyataannya, pertemanan mereka memanglah tidak wajar.

Kau sangat menyenangkan, Irene. Berteman denganmu adalah hal yang paling berharga seperti aku berteman dengan Kai. Lebih dari itu, kau sangat spesial.

Sehun memejamkan mata, meremas dahinya dengan perasaan menyesal. Emosi mungkin sudah menariknya cukup jauh. Jelas-jelas, dirinya memang menganggap Irene spesial. Dan tidak pernah merasa menyesal, semenyusahkan apapun pertemanan ini bagi Sehun.

Lelaki itu berdiri. Bingung harus melakukan apa. Sedangkan suara hujan di luar semakin menderu keras. Sebuah ingatan penting pun lagi-lagi muncul, ingatan ketika dirinya berhasil tersenyum untuk pertama kalinya. Dan itu terjadi gara-gara Irene. Gadis itulah penyebabnya. Mungkin memang Irene lah penyembuhnya.

XxxxX

Sudah berapa menit Irene hanya berjalan gontai dibawah hujan? Dia tidak mau mencari tau. Sejak tadi, kakinya terus melangkah pelan. Sekujur tubuhnya sudah basah kuyup dan kedinginan. Namun Irene tak peduli. Air matanya terus turun, menyatu dengan derasnya hujan yang membasahi wajah.

Irene sungguh menyesal. Jika dirinya memang harus berpisah dengan Sehun, seharusnya bukan begini perpisahan itu terjadi. Seharusnya semua tidak berakhir menyedihkan. Ini kali pertama Irene merasakan bagaimana sakitnya patah hati. Dalam sudut pandang sahabat, ataupun dalam sudut pandang seorang gadis yang menyukai Sehun, ini sama-sama menyakitkan. Namun Sehun mungkin memang benar. Mungkin dibalik semua itu, Sehun sebenarnya memang sangat kesusahan berteman dengannya. Irene masih sangat bisa mengingat, betapa merepotkannya dirinya selama ini. Membuat peringkat turun, membuat Sehun merasakan bagaimana menjadi bad student sepertinya. Demi membantu peringkatnya menaik dan menaik. Itu pastilah menyusahkan. Dan apa yang sudah ia lakukan untuk Sehun? Irene rasa, tidak ada. Ya, Sehun benar, tak ada satupun keuntungan yang Sehun dapatkan dari pertemanan ini. Selain mendatangkan masalah. Kini, Irene benar-benar semakin merasa bersalah. Juga tak berguna.

“Irene,” tiba-tiba sebuah suara berat menyebut namanya dengan lemah. Bersaing dengan deru hujan yang memenuhi jalanan. Gadis itu menghentikan langkahnya, terkejut. Kemudian mengangkat kepala. Semakin terkejut ketika ia mendapati Sehun tengah berdiri tiga langkah di hadapannya dengan tubuh kebasahan.

Keduanya diam sejenak. Saling bertukar pandangan. Dada Sehun turun naik, nafasnya berhembus cepat. Dari apartemen, dia berlari sekencang mungkin, menerpa hujan demi menemukan Irene.

Tiba-tiba saja, tangis Irene semakin keras. Merengek seperti anak kecil, seperti kebiasaannya. “Sehun-ah, mianhaaee.”

Meski hujan masih turun dengan deras, namun Sehun masih bisa menemukan buliran-buliran air mata Irene yang jatuh. Tanpa diminta, gadis itu pun mendekat, mengikis jarak diantara keduanya dan berdiri tepat dihadapan Sehun dengan tatapan menyesal.

“Ini juga kesalahanku. Maaf, karna sudah kasar padamu, Irene.” Bisik Sehun. Lawan bicaranya hanya mengangguk samar, masih menangis dan semakin merengek kencang.

Dengan perlahan, kepalanya semakin dekat hingga menyentuh dada bidang Sehun. Kemudian menarik sedikit baju lelaki itu, menenggelamkan kepalanya di sana dan menangis sebanyak yang ia mau.

Merespon itu, tangan kanan Sehun lambat laun naik. Menyentuh pundak Irene, mendekap gadis itu dengan erat. Di bawah derasnya guyuran hujan. Di bawah pekatnya langit mendung. Hanya tangisan Irene yang menyaingi deru hujan yang terdengar di telinga Sehun saat ini.

“Aku tidak pernah menyesal berteman denganmu, Bae Irene.”

XxxxX

Kai melipat kedua tangannya didada, menunggu Sehun di ambang pintu kamar. Sahabatnya itu kini duduk di meja belajar, membelakanginya. Tengah menatap sebuah foto candid memalukan yang diambil Krystal saat mereka sedang berlatih di kelas dance. Kai tau saat ini Sehun kembali merasa tidak nyaman karna harus tinggal di rumahnya, meskipun keluarganya sudah menganggap Sehun seperti keluarga sendiri sejak dulu. Kai juga paham betul bagaimana perasaan sahabatnya itu saat ini. Mulai besok, tak ada lagi hari sekolah bagi Sehun untuk beberapa bulan kemudian. Skors terlama yang pernah Kai ketahui. Dia juga sangat tau, Sehun sedih kini Irene berada cukup jauh dari Seoul, melanjutkan sekolah di sebuah SMA asrama di luar kota. Kai juga merasakannya. Mulai besok, dia akan menghadapi hari-hari sekolah tanpa kedua sahabatnya. Itu pasti akan sangat membosankan.

Sehun kemudian memasukkan foto di genggamannya ke dalam sebuah kardus kecil dan menyimpannya di ujung meja. Selesai. Untuk saat ini, Sehun baru saja selesai merapihkan barang-barang pentingnya di rak buku dan meja belajar barunya. Lelaki itu pun berbalik, menyusul langkah kaki Kai yang sudah mendahuluinya untuk turun ke meja makan di lantai 1.

Sehun diam sejenak sebelum ia benar-benar sampai. Dia menatap meja makan yang cukup luas itu dengan ragu. Kedua orang tua Kai menolah, menyambut Sehun dengan senyuman hangat.

“Kenapa kau berdiri disitu, Sehun?” tegur ibu Kai.

Sehun pun melanjutkan langkahnya, kemudian membungkukkan tubuhnya di hadapan mereka. “Maaf, karna sudah banyak merepotkan keluarga ini.”

Aigoo. Jangan seperti itu, Sehun-ah. Ayo duduklah.” Ucap tuan Kim.

Masih dengan ragu dan merasa canggung, Sehun pun segera duduk di samping sahabatnya. Menunduk menatap meja makan, tanpa berani memandang kedua orang tua Kai yang duduk di hadapannya. Sehun tau, sejak hari itu, sejak dimana ia kehilangan keluarga tercintanya. Orang tua Kai tanpa ragu menampung dirinya, mangasuhnya dan bertanggung jawab atas dirinya. Seakan dirinya termasuk dari bagian keluarga ini. Meskipun Kai adalah sahabatnya sejak kecil, dan orang tua mereka juga saling akrab berteman. Namun smenjak itu, Sehun kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa dirinya adalah anak sebatang kara yang di tampung keluarga Kim ini. Setiap hari dirinya selalu merasa telah merepotkan, dan semua kebaikan yang sudah ia terima hanya membuat Sehun semakin terbebani. Mendapatkan apartemen tetap adalah bebannya yang paling terakhir. Dan kini, ia harus kembali kesini. Semakin merepotkan karna dirinya yang tidak akan bersekolah sampai tahun ajaran baru dimulai. Beruntung, nilai-nilainya selama ini yang kebanyakan berada di atas rata-rata membuat kepala sekolah menjanjikan naik kelas bagi Sehun.

“Senang bisa menerimamu kembali di keluarga ini, Sehun.” Ujar nyonya Kim.

Ne, kamsahamnida.” Gumam Sehun nyaris tak terdengar.

<<to be continued>>

(gak) penting:

Yeaay! Akhirnya sampai juga di bagian ini /elap ingus/. Gak nyangka draft sampe chap 20 masih belum tamat juga wkwk. Cerita di chapter ini sudah tercipta di otakku sejak dahulu kala, makanya jadi chapter yang paling aku suka sejauh ini. Huahahahahahh. Aku seneng draft udah sampe sini. Meskipun makin absurd pfftt. Aku merasa alurnya belum kembali lurus ke jalan yang benar wkwk. Tapi gapapa, draft bakal tetep terus lanjut kok hoho. Thanks a lot buat para power-readers yang selalu dan masih setia sampai chapter ini /loh kok jadi kaya kata-kata terakhir kalo Ffnya udah tamat sih. Lol/. Tapi bener deh, aku bersyukur draft masih ada yang nungguin dan komenin tiap chapter. Buat kamu-kamu kamensiders kuh juga makasih udah menjadi pembaca setia /INI MULAI KEPEDEAN SIH WKWKWKWK/

Well, ff Philosophy of Love ku, gak akan di update dulu di exoffi walaupun udah punya chapter baru, aku bakal lanjut update kalo draft udah tamat. Oke, see ya ;3;

38 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] DRAFT (Chapter 20)

  1. gue juga suka chapter ini thir😀
    demi apa sehun irene pelukan?!
    gue sukaaa, gue juga dapet feel nya
    kalo stelah kjadian ini mereka masih blm sadar itu mgkn sdikit kterlaluan, smngat ya thor!

  2. Iyaya udah chapter 20 ga berasa hihi jgn tamat2 thor wkwk.
    Seneng sama draft karena ceritanya menarik, makanya selalu nunggu2 walaupun aku telat baru baca sekarang huhuhu😢
    Jadi skrg irene-sehun pisah? Tidak thor tidaaaaakk jgn pisahkan mereka. Their puppy love is so sweet. Adegan di bawah ujan bener2 greget ih ampe senyum2 sendiri bacanya hihi. Pokoknya mah ditunggu next chapter kiw🤗

  3. tidaaaaaaaakkkkk!!!!!!! ini chapter paporittt! LOP YU TYAR!!
    ff ini bagus and kece bngt. kisah romancenya gak norak kayak cerita2 kebanyakan.
    ini juga masalahnya makin rumit, aku sampe terhanyut sama ceritanya. apalagi pas kata2 sehun ke irene yg lagi ngemas2 barang itu. Beuh! daebak!
    Fight fight tyar! aku pembaca setiamu. keep writing ya!

  4. Anjayyyy kapter paporitttt
    Dah mulai muncul masalah2 gitu
    Suka bgt anjayyyy
    Lanjuy yakkkk
    Huhuhu masih gemes jg adegan nangisnya irene di bawah guyuran hujan :”
    Semangat terus yak author-nim!!!!

  5. Tidaaaaakkkkkkk!!!!! Ini chapter yang paling paling paling aku sukaa! LOP YU TYARRR!!!
    Ff ini bagus and kece bangett, aku sampe terhanyut sama ceritanya. Apalagi pas kata2nya sehun ke irene waktu dia lagi ngemas2 barang. BEUH!!
    Fight fight tyarr! Aku pembaca setiamu, tetep bikin epep yg castnya sehun yaaa.

  6. Aku suka sama part ini^^
    Aku jadi pengen nangis waktu sehun bilang dia nyesel udah temenan sama irene
    Nextnya cepetan ya thor^^
    Pengen tau banget kelanjutannya

  7. Wah…… akhir nya di-update jg ff nya. *mungkin Author bosen denger nya opening nya gitu terus* 😆
    Tapi bener loh Author, ku selalu cek dan selalu nungguin karya2 Author. Btw ff ini ada niatan untuk di-publish di wattpad kah?
    Terus pernah ada niatan buat bikin ff Hunrene tapi genre nya fantasy? *semacam twilight*

    Btw ku jg suka chapter ini. Apalagi bagian dimana Sehun nge-bentak(?) Irene waktu Irene pergi ke apartemen Sehun disaat Sehun lagi kemas2 barang. Disitu puncak feel nya berasa banget dari keseluruhan chapter ini.
    Tetep dan harus dilanjut ya ff ini. Ditunggu banget. *secepat nya kalo bisa* 😆💪

    • Wjwkwkwkwkkk harap maklum aja ini efek sibuk tambah mentok tambah males sama dengan ngaret 😂
      Ada kok klo udah tamat disini mau di post di wattpad /bocorbocor/
      Hmm aku ada ff fantasi tapi bukan hunrene dan gatau kapan debut /bochorlagibochor/ wkwkwkwkekk thankskii yaaa 😁💕 aku ga bisa janji tp bakal diusahakan /plak/

  8. Sumpahhh….tegang banget baca part ini…kirain irene bakalan pergi gitu aja…eh rupanya Sehun nyusul juga…sedih banget chingu ngeliat mreka ber3 brpisah gitu…
    Aku udah nugguin banget ni ff…
    maybe next chap bisa lebih cepat di post hehe…
    Okey….tetap semangat nulisnya yya chingu, karya kamu bagus kog, aku senang cerita ini bisa narik perhatianku dari awal baca ehh tau2nya udah tbc ajaa….haha ^^

  9. huaaaaaa nangis beneran bacanya, terus pas sehun irene pelukan aaaaa, greget sumpah, itu bapaknya irene minta di hajar kali ya? ngeselin minta ampun

    btw, ini pertama kalinya ngoment di blog *kaga ada yang nanya* , gk tahan kalo gak ngoment soalnya, ceritanya kelewat keren

  10. Jujurr di chapter ini kebawa sm feel :’) aduduuhh jadi ikutan greget dicampur sm sedih :’) kasian sehun sm irenenya :’) btw chap ini pnjg bgt ya wordsnya akuu sukaaa😉 next chap lbh keren ya kak😉 fighting!

  11. Irene benaran pergi? Aaaaa andwaeee hikss
    Feelnya dapet bgt kak aku sedih bacanya rasanya ampe mau nangis ini uda nyampe klimaks ya? Berarti uda mau tamat huhu chapter kali ini benar benar daebaak!
    Ditungguu kakk next chapternyaa^^
    Fighting!!

  12. iya ya udah chap 20 mlah klimaks nya baru muncul…ato ini blm klimaks???? eohh okeee…
    sedih…irene bnrn pergi?? kemana??? kok ya appanya gk mau pikir” dlu..uhhh.sapa yg mau aku marahin???

    lanjut aja..hahaha

  13. Akhirnya… ini chapter klimaks ya huhu nangis akuh bacanya. Aku juga mau bilang makasih buat kak tyar yg tetep konsisten sama ff ini dan enggak maen tamat2in aja tanpa ada penjelasannya huhu… keep writing and fighting kak

  14. Kyaaaaa Tyae ,boleh peluk ga,ya kan Sehun ma iren dah berpelukan,,??? Wqwqqq..seneng bnget DRAFT dateng lagi…huhuuu aku ko ikut sedih ,knp juga harus gtu..seriusan iren pindah ke asrama…waaahhhh….!kasian Sehun..!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s