[EXOFFI FREELANCE] Café Latte (Chapter 3)

photogrid_1473564360429

Café Latte

Tittle            : Café Latte (Chapter 3)

Author        : Dancinglee_710117

Main Cast        :

  • All EXO member
  • Ji Hae Young (OC)
  • Park Misun (OC)
  • Jung Jae Rim (OC)
  • Rae In Sung (OC)
  • Tae Kyura (OC)
  • Jo Na Ri (OC)
  • Moon Hyera (OC)
  • Lee Minyeo (OC)
  • Go Muyeol (OC)
  • Lee Haeri (OC)

Genre        : Drama, Slice Of Life,  Comedy (a little bit), Romance and other

Rating        : T

Length        : Chapter

~Happy Reading~

-Eat Well Rest Well-

Suasana di café berubah drastis. Tidak ada yang berani tertawa atau bahkan tersenyum meski ada yang lucu. Walau begitu, di hadapan pelanggan mereka bersikap sebaik mungkin meski tanpa senyuman dan sikap ramah seperti biasa. Mereka hanya bisa diam, bingung, dan masih tak meyakini apa yang telah mereka lihat serta dengar tadi pagi.

Jam menunjukkan pukul dua belas tepat tengah hari. Haeri membalik tulisan ‘buka’ menjadi ‘tutup’ setelah Sehun beramah tamah dengan pelanggan terakhir sebelum jam istirahat makan siang mulai. Kyungsoo dan Hae Young keluar dari dapur dengan langkah perlahan. Keadaan masih belum membaik, Suho masih berada di café, memandangi Misun yang sibuk sendiri tanpa memperhatikan lainnya, apalagi Suho.

“Hae Young!”

Hae Young yang tadinya sibuk memperhatikan pasangan Misun-Suho diam-diam tersentak kaget oleh panggilan Baekhyun. Ia mendengus kesal setelah menoleh sambil bertanya ‘apa?’ tanpa suara. Baekhyun menarik belakang kerah Hae Young selayaknya memperlakukan kucing jalanan.

“Ikut aku istirahat makan siang.” katanya santai, “Kalau yang lain mau ikut juga tak apa.” Imbuhnya tanpa melihat kepada siapa dia bicara.

Anehnya, Hae Young tidak meronta atau protes diperlakukan begitu. Matanya terus memperhatikan Suho-Misun yang masih melakukan aksi ‘saling diam’. Melihat kesempatan emas untuk pergi dari suasana kaku, Haeri berdehem lantas bertanya pada Sehun dan Jae Rim di dekatnya lewat tatapan mata. Keduanya mengangguk setuju lalu mengikuti jejak Baekhyun dan Hae Young.

Na Ri menghela nafas. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Dirinya sedang tak berminat untuk keluar, tapi terus berada di café malah menyesakkan. Setidaknya ia harus memberi waktu bagi Misun dan Suho untuk berduaan kemudian menyelesaikan masalah pagi tadi. Ia melirik Kyungsoo, pria itu melongo sambil mengelap piring kecil di meja bartender. Gadis itu punya ide.

“Kyungsoo-ya!” panggilnya dan Kyungsoo menoleh. “Tuan barista ada di lantai dua kan?”

Kyungsoo mengangguk.

“Ayo kita ke atas, memberinya bantuan dan mengenalkannya tentang seisi café!”

Lagi-lagi Kyungsoo mengangguk dan tersenyum antusias. Setidaknya ada hal lain untuk dilakukan selain melihat pasangan kekasih yang sedang perang dingin. Akhirnya mereka berjalan menuju tangga, melewati tempat Misun serta Suho saling berdiam diri dengan Suho terus memperhatikan kekasihnya.

***

Di café lain, Haeri, Sehun serta Jae Rim sibuk mengobrol santai mengenai hal apapun yang bisa mereka bahas. Apalagi soal kejadian saat café baru buka beberapa jam.

“Woaah! Aku masih sangat kesal pada wanita itu!” keluh Haeri seraya menyandar pada kursinya. “Sampai keputusan Misun yang mendadak seperti itu!”

Sehun meneguk bubble tea dengan cepat hingga tersisa setengahnya.

“Aku juga tidak percaya dengan keputusan Misun. Apa ada roh gila yang sedang merasukinya?, aku takut dengan hubungan mereka!” balas Jae Rim mengaduk ice cream coklatnya.

Sehun bertopang dagu, “Memang sudah seberapa jauh hubungan Misun noona dengan Suho hyung?” ia bertanya. Penasaran karena Haeri dan Jae Rim seolah tak rela jika pasangan Misun-Suho harus berakhir.

“Sangat serius!” tegas Haeri.

“Bahkan mereka berencana untuk menikah.” Imbuh Jae Rim seraya menyuapkan sesendok ice cream.

“Ah begitu rupanya, pantas mereka sampai berani berciuman di café waktu itu.”

Haeri dan Jae Rim menoleh kompak. Sehun menatap keduanya bergantian dengan bingung.

“Apa katamu?”

“Mereka…berciuman.” Jawab Sehun agak takut dengan tatapan keduanya.

“HAH?!”

Jae Rim tertawa sementara Haeri melongo tidak percaya kalau kedua orang itu berani melakukannya di café.

“Kapan? Dan bagaimana kau bisa tahu?”

“Saat itu hari pertama pembukaan café. Aku hendak menyapa Hae Young noona yang berdiri di depan pintu café, tapi urung saat melihat ekspresi kagetnya. Ketika aku teliti lagi, ternyata mereka melakukan ‘itu’ di counter kue.”

Jae Rim terbahak mendengarnya, sampai-sampai pengunjung café melihat ke arahnya. Tapi tak ada satupun dari ketiga orang dalam satu meja itu peduli.

“Omong-omong, kemana Baekhyun dan Hae Young?” tanya Haeri saat sadar mereka hanya bertiga padahal keluar dari Our’s Café berlima.

“Sepertinya ke kedai di ujung jalan, tempat biasa Hae Young noona menungguku.” Jawab Sehun lalu menghabiskan minumannya. Ia berdiri dan memesan bubble tea lagi. Beberapa pasang mata terus memperhatikannya, maklum, pria tinggi, putih dan tampan dengan balutan seragam kerja ala maid, pria itu sangat mempesona seperti model majalah ternama.

“Jika kita bisa dapatkan satu lagi pegawai pria dengan level seperti Sehun, café akan berubah nama jadi ‘Flower Boys Café’ dan para pelanggan berubah jadi fangirl lalu pegawai pria punya sasaeng fans yang menyeramkan!” canda Haeri.

Jae Rim terkekeh, “Lalu bagaimana dengan nasib kita juga para pegawai wanita?. Terbengkalai begitu?” kemudian dia dan Haeri tertawa sampai terbungkuk-bungkuk. Mengundang perhatian seisi café namun tak ada yang protes.

Sehun datang membawa nampan berisi satu bubble tea serta beberapa pudding dan mini cheese tart.

“Banyak sekali yang kau pesan?” tanya Jae Rim seraya menolong Sehun memindahkan kue tersebut di meja.

Haeri mengambil satu mini cheese tart. “Aku minta satu!” kemudian memakannya tanpa menunggu persetujuan Sehun.

“Ini gratis. Mereka memberikanku bonus yang terlalu banyak, ambil saja kalau mau.” Sehun malah menawarkannya. Jae Rim menoleh kearah counter dan mendapati pegawai wanita tengah memperhatikan mereka. Dari tatapan memuja saat melihat Sehun lalu berganti iri bahkan dengki padanya dan Haeri.

Tapi Haeri tidak sadar. “Sehun!, boleh minta lagi?” dan anggukan dari Sehun melebarkan senyum Haeri.

“Apa Baekhyun hyung pacaran dengan Hae Young noona?”

Haeri tersedak kue dan Jae Rim melotot hebat kemudian tertawa bersamaan.

“Tidak mungkin!” kata Jae Rim. “Setahuku, dia belum pernah berpacaran sampai sekarang. Kami sahabat baiknya, dia jelas akan bercerita jika punya kekasih, itu jelas membanggakannya sebab cintanya selalu bertepuk sebelah tangan akhir-akhir ini.” Jae Rim menyuapkan pudding ke mulutnya. “Lagipula, cara Hae Young memperlakukan Baekhyun sangat kasar, begitu pula sebaliknya. Mana mungkin mereka pacaran! Konyol sekali pemikiranmu!”

Haeri menatap Sehun jahil, “Kenapa? Kau suka pada Hae Young?” berharap Sehun jadi salah tingkah dan dia bisa menggodanya.

“Tidak.” kata Sehun tenang, berlawanan dengan apa yang Haeri harapkan. “Belum, mungkin.”

Justru Haeri yang dibuat salah tingkah dengan senyuman Sehun. Ia terdiam dan fokus dengan kuenya.

“Kalau Jae Rim noona dan Haeri noona, apa ada yang sedang kalian sukai?” Sehun bertanya balik. Keduanya semakin terdiam seolah pertanyaan Sehun adalah harga mati untuk mereka.

***

“Haaah.” Helaan nafas Baekhyun nampaknya mengganggu acara makan Hae Young, tapi dia tidak peduli dan mengacuhkan tatapan tajam dari gadis di depannya tersebut. “Membosankan sekali disini… denganmu.” Katanya pedas. Senyuman miring terulas, membuat Hae Young semakin kesal dan menggenggam sumpit lebih erat.

“Bagaimana kabar Chanyeol?”

Mendengar pertanyaan Baekhyun, Hae Young langsung menaruh sumpit lantas menatap Baekhyun tajam.

“Kenapa tanya padaku?, kau kan sahabatnya?”

“Kami tak sedekat itu sampai bisa disebut sahabat.”

“Terserah.”

Baekhyun mengambil alih sumpit Hae Young kemudian mengambil sepotong bulgogi. Ia menyodorkan daging tersebut ke mulut Hae Young, hendak menyuapkannya pada gadis tersebut. Namun Hae Young hanya diam, dan memundurkan kepala, bingung dengan sikap Baekhyun yang tak ayal sanggup membuatnya sedikit salah tingkah.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Hae Young ketus.

“Membantumu makan?, apa ada yang salah?”

Hae Young tertawa, “Apa beberapa tahun berlalu bisa menjadikan Byun Baekhyun sebagai seorang casanova?” guraunya.

Baekhyun mengangkat bahu acuh, tidak ingin bulgogi di tangannya sia-sia, maka dengan cepat dia memasukkan daging itu ke mulutnya. Hae Young tersenyum remeh dan merampas sumpitnya kembali.

“Oi! Baekhyun!”

Baekhyun yang sedang minum menaikkan sebelah alis sebagai tanggapan atas panggilan dari Hae Young. Kemudian menaruh gelas kosong tepat di sampingnya seraya menunggu apa yang akan gadis itu katakan. Beberapa puluh detik berlalu sampai akhirnya Hae Young membuka mulut.

“Apa kau baik-baik saja?”

“Huh?”

Baekhyun agaknya tak mengerti. Hae Young berdehem untuk meyakinkan diri apa dia akan kembali bertanya atau melewatkan ini begitu saja. Tapi meninggalkan separuh perkerjaan yang sudah terlanjur dikerjakan bukanlah gayanya.

“Maksudku… tentang mantan kekasihmu itu, -maaf bertanya seperti ini- apa kau masih mencintainya?”

Baekhyun diam, dan Hae Young tidak bisa mengartikan ekspresi wajah pria tersebut. Yang dia takutkan adalah jika Baekhyun marah karena pertanyaannya. Dia sangat mengerti bagaimana keadaan pria itu namun perasaan ingin tahu serta kasihan menghujani Hae Young.

“Beberapa hari kita bertemu setelah sekian lama, dalam satu tempat, dan waktu yang cukup panjang, membuatku semakin melihat banyak perbedaan tentangmu dari yang dulu. Bukan bermaksud sok ingin tahu, tapi sungguh, kau banyak berubah.”

Baekhyun mengalihkan muka, tanpa mengatakan apapun, terdiam selama beberapa menit dan Hae Young tidak protes atau menginterupsi. Keheningan mereka terpecah oleh seruan Haeri, Jae Rim dan Sehun yang tiba-tiba sudah berada di pintu masuk kedai.

Sebelum ketiga orang itu datang dan bertanya macam-macam, Hae Young segera bicara kembali. “Apapun itu, aku lebih suka Baekhyun yang dulu.” Ujarnya lirih namun masih bisa didengar Baekhyun. Wajah seriusnya berubah menjadi senyuman konyol dimana dia tujukan pada ketiga teman-temannya yang langsung bergabung.

“Eoh?, Baekhyun hyung kenapa?”

Pertanyaan Sehun membuat yang lain langsung menoleh pada Baekhyun. Pria itu masih menatap layar televisi yang di letakkan di bagian ujung kiri ruangan. Tapi Hae Young tahu kalau pikirannya sedang tidak tertuju pada benda persegi tersebut. Baekhyun menghela nafas lalu menghadap yang lain. Sebuah senyuman ciri khasnya terulas, membuat ketiga orang itu lega karena merasa pria itu baik-baik saja.

“Kalian sudah makan?, perlu aku traktir tteobokki?” tawar Baekhyun.

Anggukan setuju dari Jae Rim serta Sehun menjadi jawaban. Mengacuhkan kekesalan Haeri karena terlalu kenyang akibat mini cheese tart tadi. Hae Young pura-pura simpati dengan mengusap punggung sahabatnya itu. Baekhyun berdiri hendak memesan tapi tarikan Sehun pada ujung kemejanya membuat gerakannya terhenti.

“Boleh pesan soju juga hyung?”

Mendengar permintaan Sehun, Jae Rim memukulkan sumpit ke kepalanya dengan keras.

“Kita masih harus kerja setelah ini!, kau juga masih sekolah jadi jangan macam-macam!”

Sehun mengusap kepalanya sambil cemberut. Hae Young menjulurkan lidah, meledek pada juniornya tersebut dan tertawa puas setelahnya. Baekhyun tersenyum.

“Satu botol saja ya?”

“YEAY!”

Jae Rim segera bertindak sebagai ibu, “TIDAK BOLEH!.” Tegasnya, lantas beralih pada Baekhyun. “Jika kau macam-macam dan membuat Sehun melanggar aturan, awas saja!” ancamnya dengan nada dan wajah mengerikan.

“Itu berlaku bagi kalian juga!, terutama kau Hae Young!”

Ledekkan Haeri bersama Hae Young terhenti saat Jae Rim menyadarinya. Hae Young protes karena dia dituduh bisa melakukan hal buruk pada Sehun, walau mereka tahu kalau Hae Young suka sekali mengajari hal yang tidak-tidak pada adik kelas, atau orang yang lebih muda darinya, bahkan adik kandung serta saudaranya sendiri.

“Itu masa orientasi! Pembelajaran berharga!” elak Hae Young dari tuduhan.

“Omong kosong!” cibir Jae Rim. “Cepat pesan tteobokki!”

Dengan sedikit dongkol Baekhyun menuruti perintah Jae Rim.

Ajhumma! Pesan tteobokki satu! Porsi besar!” teriaknya dari meja karena malas berdiri.

“Jung Jae Rim! Usia Baekhyun itu lebih tua darimu. Kasar sekali kau bicara seperti itu.” Kata Hae Young memanasi keadaan. Apalagi Baekhyun tidak tahu kalau usia Jae Rim lebih muda darinya.

“Benarkah?” tanya Baekhyun. “Ooh… dasar hoobae tidak sopan!”

“E-eh, mana aku tahu!” Jae Rim gelagapan, namun tidak mau disalahkan. Dia menjadi lebih ketus lagi.

Yang lain tidak mau melanjutkan debat lagi. Apalagi Haeri dan Sehun. Karena, sejak diberikan pertanyaan menjebak -menurut Haeri dan Jae Rim- oleh Sehun, gadis itu bertingkah lain, menjadi lebih kesal dan mudah marah baik dalam hal sepele sekalipun.

***

Kelima pegawai café baru –Our’s Café, berjalan bersama untuk kembali bekerja setelah menghabiskan waktu istirahat makan siang mereka. Baekhyun dan Sehun, pegawai pria café tersebut, berjalan di depan sementara pegawai wanita -Jae Rim, Hae Young dan Haeri mengekor di belakang. Beberapa meter lagi mereka sampai. Menimbulkan rasa penasaran bagaimana keadaan café setelahnya.

Baekhyun dan Sehun berhenti tepat di depan pintu café. Keduanya saling lirik, kemudian beralih menatap tiga gadis di belakang mereka. Haeri terbatuk sambil memalingkan muka, Hae Young menatap tanah, dan Jae Rim melihat lurus kedepan seraya meneguk ludah gusar. Baekhyun mendorong dahi Hae Young dengan telunjuk agar gadis itu mendongak.

“Kau yang buka!” titahnya yang langsung mundur ke belakang para gadis bersama Sehun.

Hae Young melotot, “KENAPA AKU?!” serunya tidak terima.

Noona kan pemberani.” Jawab Sehun enteng.

“Tidak, aku tidak bisa!. Oi Haeri! Kau saja!”

Haeri menggeleng keras dan menyodorkan tinjunya di depan wajah Hae Young. Gadis itu paham meski terpaksa. Dia beralih pada Jae Rim, namun baru menatap, sahabatnya tersebut malah memberinya tatapan sadis yang pernah dia lihat dari Jung Jae Rim.

“Aku bersumpah akan mengutuk kalian di kehidupan berikutnya!” ujar Hae Young menahan emosi.

“Jangan khawatir!, aku tidak percaya adanya reinkarnasi!” timpal Baekhyun dengan nada meledek.

“Kami Juga!” dan yang lain mengikutinya.

Hae Young tak acuh. Tangannya terulur memegang gagang pintu. Setelah menguatkan diri, dia mendorong pintu tersebut perlahan sampai bunyi bel masuk terdengar. Di lantai satu, tepatnya di meja bartender, ada Kyungsoo, Minseok serta Na Ri yang menatap mereka penuh tanya. Terang saja, kedatangan anggota café itu sudah diketahui, tapi malah tak segera masuk padahal waktu istirahat sudah terlewat lima belas menit dari ketentuan.

“Kalian terlambat!” sambut Na Ri dengan keluhannya. Dia paham kalau mereka tak nyaman karena ketegangan suasana café akibat insiden Misun-Suho, tapi jika mereka bertindak sesukanya, ia takut kalau hal itu akan memperkeruh suasana.

Hae Young masuk seraya tertawa canggung. “Maaf!, jalanan macet!” bohongnya.

“Memang kalian kemana sampai terjebak macet?. Setahuku, hanya Sehun yang membawa motor tapi aku tak mendengar suara mesin. Lalu, mana muat satu motor mengangkut lima orang sekaligus?. Dan lagi, sejauh mana kalian pergi sampai terlambat lima belas menit?” analisis Kyungsoo membuatnya dihujani tatapan malas oleh setiap orang yang mendengarnya. Tapi dia tidak paham, karena itu dengan santainya Kyungsoo menyeruput kopi Americano buatan Minseok.

Baekhyun memakai apron hitamnya yang tergeletak di pinggir meja kasir lantas menuju tempatnya.

Hyung!, buatkan aku bubble tea ya!” seru Sehun dari balik pintu kamar mandi yang letaknya di samping kiri tangga menuju lantai dua. Baekhyun mengangkat jempolnya keatas kemudian membuatkan pesanan juniornya itu sementara Sehun berganti kemeja setelah tahu ada noda lipstick di bagian bahunya.

“Wanita-wanita tadi sungguh gila!” ujar Haeri seraya duduk di sebelah Minseok.

“Kenapa?” respon Minseok yang mendengarnya. Haeri menoleh kaget karena tak menyangka pria itu mendengar juga apa yang dia akan dia bahas dengan Jae Rim. Ia terdiam, sementara Minseok terus menatapnya untuk mendapat jawaban. Mata pria itu berkedip pelan, memandang Haeri dengan wajah polosnya.

“Hoi!” panggil Jae Rim seraya menyenggol lengan Haeri agar gadis itu sadar dari lamunannya.

“A-ah…” lirih Haeri dengan nafas tercekat, ia tidak tahu kenapa tapi tatapan Minseok mampu membuatnya kaku sementara. “…saat kami istirahat di café sebrang jalan raya, beberapa gadis mendekati Sehun saat kami hendak pulang. Aku bahkan mendapati mereka mencuri kesempatan untuk menciumi punggung Sehun.”

Jae Rim menambahkan, “Saat aku ingin protes, mereka menatap kami tajam lantas mendorong kami keluar. Sehun sempat tersendat di pintu café dan datanglah manajer café itu untuk membantu.”

“Seram sekali…” Kyungsoo bergidik, mengusap kedua lengannya bergantian. Buru-buru dia pergi ke dapur karena seruan Hae Young.

Hyung!, apa kau sudah menata lantai dua?” tanya Baekhyun pada Minseok.

“Belum. Aku masih harus menambahkan beberapa gelas dan kursi.”

“Oh begitu.”

Terdengar suara pintu ruangan yang dibuka dari bagian kiri lantai satu. Ruangan yang khusus diperuntukan manajer, ruangan yang letaknya lebih menjorok dan tidak akan disadari keberadaannya jika mereka tak lebih mendekat. Ruangan yang kali ini sangat ingin dihindari oleh para pegawai Our’s Café.

Haeri berdiri tegak sambil melotot. Buru-buru dia memakai apron dan berjalan menuju pintu masuk untuk berjaga-jaga jika ada pelanggan yang akan datang, begitu juga dengan Jae Rim yang segera menjaga cake counter tanpa banyak komentar. Baekhyun bersikap seperti biasa, dan Minseok meneruskan kegiatan minum kopi-nya.

Suho berjalan ke tengah ruangan dengan ekspresi menyeramkan. Tangan kanannya membawa tas kerja serta beberapa berkas yang tidak dimasukkan kedalam tas tersebut. Pria itu terdiam, menunduk dalam dan tak ada yang berani bicara atau menyapa. Sekitar lima menit kemudian datanglah Misun dari ruangan yang sama. Berbeda dengan Suho yang nampak suram, Misun terlihat lebih angkuh namun tenang.

“Semua!” seru Misun, “Manajer ingin mengatakan sesuatu. Semuanya diharap berkumpul sekarang!”

Haeri, Jae Rim, Baekhyun, Minseok, Na Ri kemudian Hae Young dan Kyungsoo bahkan Sehun yang baru selesai berpakaian langsung bergerak ke tengah ruangan. Mereka berbaris dengan rapi dan berdiri dengan tegak seperti biasa saat ada pengumuman untuk berkumpul. Sayangnya perasaan mereka kali ini tak menentu, apalagi ketakutan serta kecemasan yang mendominasi membuat mereka tak nyaman.

“Pengumuman ap-”

Haeri berhenti bicara saat Suho memandangnya intens. Ia menegak ludah gusar lantas diam menyimak, memutuskan untuk tidak bertanya bahkan mendengus sekalipun.

“Untuk menambah kunjungan pelanggan, apalagi kita adalah café baru, saya sebagai manajer akan menyampaikan acara promosi.” Jelas Suho yang kemudian membuka berkas yang sedari tadi dia bawa. “Kita akan mengadakan acara dengan tema.”

“Acara…tema?” gumam Jae Rim. Hae Young disebelahnya menoleh, khawatir. “Jangan-jangan…”

“Dan tema untuk minggu depan adalah… Drama cafe!”

“HUH?!”

“Masing-masing dari kalian akan memainkan peran dari salah satu drama terkenal. Saya sudah pilihkan jadi dengarkan baik-baik peran untuk kalian.”

Sekali lagi tingkat kecemasan mereka meningkat.

“Drama yang kita gunakan adalah drama ‘Who Are You, School 2015’. Lee Haeri akan menjadi Go Eun Byul sekaligus Lee Eun Bi…”

Haeri semakin membulatkan matanya, tapi tak berani protes.

“…lalu Byun Baekhyun sebagai Han Yi Ahn. Kim Minseok sebagai Gong Tae Kwang, lalu Jung Jae Rim sebagai Cha Song Joo.”

Ketiga orang yang disebut saling melirik dengan tegang.

“Oh Sehun sebagai Kwon Ki Tae, lalu Jo Na Ri sebagai Lee Shi Jin, dan Do Kyungsoo sebagai Park Min Joon…” Suho membalik lembaran berkasnya lantas melanjutkan, “…Ji Hae Young sebagai Kang So Young dan Park Misun sebagai Jung Min Young.” Ia menutup berkas tersebut dan memasukkannya kedalam tas kerja.

“T-tunggu dulu!” interupsi Hae Young, “Kenapa aku dapat peran antagonis?” tanyanya dengan nada tak terima.

“Kenapa?. Kau harus professional dan tidak pilih-pilih.” Jawab Suho dingin.

“O-oke… tapi, kau-” Hae Young menghentikan kalimat selanjutnya saat sadar kalau dia bicara informal pada Suho dalam suasana tegang. “Maksudku, anda memberikan dua peran sekaligus pada Haeri, dan kami harus memerankan karakter masing-masing dalam waktu satu minggu. Itu terlalu sulit, bukan bermaksud tidak professional, tapi kami bukan ahli dalam bidang akting.”

Sementara Suho memandangnya tanpa ekspresi yang menonjol, Haeri serta pegawai lain yang setuju dengannya menunggu dengan cemas. Bahkan Na Ri memainkan jari-jemarinya tak sabaran.

“Baiklah.” Sesaat mereka bisa bernafas lega. “Akan aku perpanjang waktu menjadi dua minggu. Satu minggu ini kalian berlatih dan akan aku lihat perkembangannya, sisanya kita gunakan untuk dekorasi café dan menyebarkan selebaran.” Kata Suho tegas.

“Dan ingat, tidak ada perubahan peran. Terima kasih.” Lanjutnya tanpa bisa diganggu gugat. Ia kemudian pamit tapi para pegawai masih belum lega sepenuhnya karena keberadaan Misun.

“Mi-Misun-ah…” panggil Jae Rim ragu-ragu. Tangannya terulur untuk sekedar menepuk bahunya pelan, cara menenangkan Misun biasanya. Tapi Misun pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.

“Apa wanita selalu terlihat menyeramkan jika dalam perasaan yang buruk?” tanya Baekhyun, entah pada siapa.

“Aku tidak!” sanggah Hae Young.

Baekhyun tersenyum paksa seraya menghadap gadis di sebelahnya itu. “Ah benar!. Tapi kau kan bukan wanita?” berkat itu dia mendapat injakan keras oleh Hae Young dengan penuh perasaan.

“Bagaimana ini?!” Haeri langsung mengeluh. Ini pertama kalinya melakukan hal-hal yang berhubungan dengan seni peran. Gadis itu mengacak rambutnya asal kemudian membenturkan kepalanya berkali-kali ke meja. “Kenapa juga aku dapat dua peran sekaligus?!. Ya memang Go Eun Byul dan Lee Eun Bi orang yang sama, TAPI DUA KARAKTER YANG BERBEDA!” dia berakhir dengan mencakar kursi.

“Dan aku Kang So Young!, memang wajahku sejahat Kang So Young apa?!” Hae Young menunjuk wajahnya sambil melihat setiap teman-temannya. Tak ada jawaban, hanya anggukan dari Jae Rim yang bisa dijadikan acuan untuknya agar semakin emosi.

“Sebaiknya kita bekerja dengan baik.” Nasehat Kyungsoo, “Aku tidak paham pasti dengan keadaan café sekarang. Tapi suasana hati manajer dan leader Misun akan memburuk jika kita tidak lakukan dengan baik.”

Yang lain setuju dengan perkataan Kyungsoo. Bahkan Haeri dan Hae Young yang sempat depresi merasa agak baikan dengan kalimat Kyungsoo yang menenangkan. Atau malah… memberitahukan sesuatu yang buruk?.

“Kalau begitu…se…mangat?” Hae Young mengepalkan tangan dan mengangkatnya ragu.

“Y-ya, semangat.”

Hari-hari di Our’s Café akan lebih melelahkan lagi setelah ini…

~TBC~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s