[EXOFFI FREELANCE] Don’t Stop The Love Now

unduhan-2

Best Luck – Hanstory

 

Cast :

Kim Jongdae

Jung Chaeyeon

Kim Jongin

Genre : Romance

Rating : Pg -17

 

‘Jika itu bukan kau, mungkinkah perasaan ini akan tetap sama ?’

***

 

“Sunbae !”

 

Teriakan melengking dari suara yang sudah tak asing lagi di telinga Jongdae membuat pria itu sontak menoleh. Siapa lagi selama ini yang selalu memanggilnya ‘sunbae’ jika bukan gadis yang sedang berlari riang kearahnya ini. Rambutnya yang panjang, lurus dan sedikit kecokelatan itu yang dibiarkan tergerai itu bergoyang seirama dengan langkah kakinya. Senyumannya yang lebar dan ceria selalu ia tampilkan dihadapan Jongdae. Membuat seluruh dunia Jongdae teralihkan padanya.

 

“Pergilah dulu, nanti aku menyusul.” Ucap Jongdae pada Minseok yang sedari tadi sedang mengobrol dengannya.

 

Pria itu mengangguk mengerti akan keberadaan gadis yang selama ini dekat dengan Jondae. Lalu berlalu meninggalkan mereka berdua setelah menyapa gadis itu sebentar.

 

“Ada apa kau kesini, Chaeyeon ?” Tanya Jongdae.

 

Gadis bernama Jung Chaeyeon itu tak langsung menjawabnya. Ia mengambil posisi untuk duduk berhadapan dengan Jongdae dan menyeruput minuman yang ada dihadapannya. Yang ia yakini milik sunbae-nya itu.

 

“Aku belum terlambat kan ? kau belum tampil ? oh ya ampun, ada apa dengan Seoul hari ini. Kenapa macetnya parah sekali !” Gerutu Chaeyeon sambil mengumpulkan rambutnya dalam satu genggaman dan mengikatnya seperti ekor kuda.

 

Jongdae terkekeh, sifat cerewet gadis dihadapannya ini membuatnya gemas.

 

“Tidak. Belum. Dan mana Jongin ? kenapa kau datang sendirian ?”

 

“Anak itu.. dia sedang menghadap dosen. Mengurusi skripsinya.”

 

Senyuman tipis tampak samar di wajah Jongdae. Mengingat masa-masa kuliahnya yang begitu menyenangkan pada awalnya, namun harus berakhir memilukan. Jongdae memang lulus dengan nilai terbaik, bahkan ia mendapatkan penghargaan untuk itu. Namun nyatanya perasaan cintanya sama sekali tidak mendapatkan penghargaan seperti nilai kelulusannya.

 

Jongdae menyukai Chaeyeon. Tidak. Dia sangat mencintai adik kelasnya itu. Jongdae sudah mengenal Chaeyeon sejak pertama kali gadis manis itu menjadi mahasiswa baru di Universitas yang sama dengannya. Saat masa orientasi, Jongdae yang kebetulan adalah wakil ketua mahasiswa harus dihadapkan dengan gadis berperawakan kecil bernama Jung Chaeyeon yang kebetulan datang terlambat dihari pertamanya mengikuti orientasi. Awalnya Chaeyeon merasa gugup dan takut saat berhadapan dengan Jongdae, dia sudah bersiap menerima hukuman dari senior yang sedang menatapnya datar itu. Tapi dugaannya salah besar. Tiba-tiba saja Jongdae menariknya jauh dari lapangan dan membawa Chaeyeon ke kantin.

 

Chaeyeon yang kebingungan bertambah mengernyitkan keningnya saat tiba-tiba Jongdae merubah raut wajah dingin nya menjadi ramah, dan bahkan pria itu tersenyum lebar. Menarik kursi dan sedikit memaksa agar Chaeyeon duduk disana, Jongdae bertanya makanan apa yang ingin dipesan oleh gadis itu. Entah sadar atau tidak, bibir mungil Chaeyeon mengumamkan sebuah nama makanan dan dibalas kekehan kecil oleh Jongdae.

 

Sejak saat itu keduanya menjadi dekat. Terlalu dekat menurut orang-orang yang melihat mereka dan berpikiran bahwa kedua orang itu hanyalah sebatas ‘sunbae dan hoobae’. Mereka tidak akan berpikiran seperti itu.

Sampai datang saat dimana Jongdae ingin mengungkapkan perasaannya pada Chaeyeon. Ia ingin mengatakan bahwa ia sudah mencintai gadis itu sejak lama. Perasaan yang tumbuh seiring waktu yang mereka lalui bersama-sama. Perasaan yang sudah tak bisa lagi dipendam terlalu lama oleh Jongdae. Ia sudah mempersiapkan segalanya. Kejutan sederhana dengan cokelat dan bunga. Namun perasaan yang sudah amat mendalam itu harus ia kubur dalam-dalam setelah Chaeyeon dengan wajah cerianya mengatakan bahwa ia sudah menjalin hubungan dengan Kim Jongin. Yang notabenenya adalah adik kandung Kim Jongdae. Kata-kata yang sudah di rangkai sedemikian rupa nyatanya harus tersangkut di tenggorokan. Sulit untuk di keluarkan, sulit untuk di telan.

 

Jongdae tahu selain dirinya, Chaeyeon juga dekat dengan Jongin yang juga satu kampus dengannya. Mereka hanya beda fakultas saja. Namun Jongdae tidak menyangka, kedekatan Chaeyeon dan Jongin yang awalnya tidak dikhawatirkan olehnya malah membuatnya kehilangan seseorang yang dicintainya.

 

Dia bukannya tidak ingin memperjuangkan Chaeyeon. Demi Tuhan Jongdae akan merebut Chaeyeon jika yang menjadi kekasihnya bukan adik kandungnya sendiri. Ia terlalu menyayangi Jongin, dan menurutnya lebih baik ia yang mengalah daripada harus merusak hubungan persaudaraannya dengan Jongin.

 

Toh sampai saat ini, hubungan mereka bertiga tetap baik-baik saja. Dan itu sudah lebih dari cukup bagi Jongdae.

 

“Sunbae.” Panggil Chaeyeon menyadarkan Jongdae dari serpihan kisah masa lalu nya.

 

“Sampai kapan kau akan memanggilku sunbae ? aku ini sudah bukan sunbae-mu sejak satu tahun yang lalu.” Jongdae berujar sambil mengacak poni rambut Chaeyeon gemas.

 

“Tidak. Kau tetap sunbae-ku. Sampai kapanpun, kau sunbae-ku. Jangan harap aku akan memanggilmu ‘oppa’, sunbae.” Jawaban yang sama yang selalu dilontarkan Chaeyeon ketika Jongdae memprotesnya karena ia masih saja memanggilnya sunbae.

 

Entahlah. Seperti sudah menjadi sebuah kebiasaan untuknya memanggil Jongdae dengan sebutan ‘sunbae’. Ya.. sunbae yang menghukumnya dengan cara mentratirnya makan dikatin saat ia terlambat datang dihari pertamanya orientasi.

 

“Baiklah terserah kau saja.” Ujar Jongdae menyerah. Tak akan ada habisnya jika beradu argumen dengan Chaeyeon. Wanita selalu benar. Dan Jongdae selalu mengingat pepatah itu.

 

“Ku dengar kau akan membawakan lagu baru hari ini. Benarkah ?” Chaeyeon bertanya dengan antusias.

 

Bisa dibilang gadis itu adalah fangirl yang mengidolakan Jongdae yang kini menjadi seorang penyanyi solo yang sangat terkenal di Korea. Saat Jongdae pertama kali masuk ke dapur rekaman, Chaeyeon mengatakan bahwa dirinya akan menjadi fans pertama Jongdae, bahkan sebelum pria itu benar-benar debut.

 

Gadis itu menepati janjinya sampai sekarang. Chaeyeon tak pernah melewatkan satupun penampilan Jongdae dimanapun tempat Jongdae bernyanyi. Entah itu acara besar, acara biasa dan acara-acara yang tidak diliput oleh televisi sekalipun. Chaeyeon tidak akan melewatkan satupun kesempatan itu meskipun ia bisa bertemu dengan Jongdae kapan saja, berbeda dengan fans-fans Jongdae lainnya yang harus bersusah payah untuk bisa melihat aksi panggung sang idola.

 

Sudah sepatutnya Jongdae ekstra bersyukur karena Tuhan mempertemukannya dengan gadis istimewa seperti Chaeyeon. Meskipun kini gadis itu sudah menjadi milik adiknya.

 

“Apa judul lagunya sunbae ?” Tanya Chaeyeon. Ia berharap ia adalah orang pertama—selain agensi yang menaungi Jongdae—yang mengetahui judul lagu baru Jongdae yang selama ini Jongdae rahasiakan.

 

“Tidak akan kuberitahu.” Sahut Jongdae dengan senyuman menggoda.

 

Bibir mungil Chaeyeon mengerucut lucu. Warna cherry alaminya begitu manis saat dilihat. Bibir itu yang selalu menghiasi wajah Chaeyeon yang disukai oleh Jongdae. Bagaimana bentuknya saat melengkung ke atas, ke bawah atau mengerucut seperti sekarang, selalu saja membuat Jongdae gemas. Membuatnya berharap bahwa dari bibir tipis itu akan mengeluarkan kata-kata bahwa yang Chaeyeon cintai selama ini adalah dirinya, bukan adiknya. Tapi itu adalah hal yang mustahil bagi takdirnya sekarang.

 

“Yak! Sunbae kau jahat sekali.” Protes Chaeyeon.

 

“Aku tidak jahat. Aku ingatkan, sekarang aku ini adalah Chen bukan Jongdae. Chen hanya memiliki fans yang memanggilnya ‘oppa’ bukan ‘sunbae’. Dan tadi kau bertanya padaku sebagai hoobae Jongdae bukan sebagai fans Chen. Jadi aku tidak akan menjawabnya.” Tolak Jongdae. Entah kenapa wajah menggemaskan Chaeyeon membuatnya ingin sekali menggoda gadis itu sebentar.

 

“Ahh.. kau ini benar-benar sunbae yang picik.” Dengus Chaeyeon.

 

Bukannya ia tidak mau memanggil Jongdae dengan panggilan oppa, hanya saja lidahnya sangat tidak cocok memanggil Jongdae seperti itu. Sampai kapanpun Jongdae tetap sunbaenya. Dan itu tidak akan berubah sampai kapanpun.

 

“Jika kau bertanya pada Chen oppa maka aku akan menjawabnya, tapi jangan harap kau mendapatkan jawaban dari Jongdae sunbae-mu.” Goda Jongdae yang sedari tadi menahan tawanya.

 

Chaeyeon diam sejenak. Menimang apakah ia harus memaksakan lidahnya untuk mengucapkan kata ‘oppa’ pada Jongdae atau merelakan informasi yang menurutnya berharga mengenai lagu baru milik Jongdae.

 

Pria itu tahu, Chaeyeon selalu antusias dengan semua lagu-lagu ciptaannya. Tak jarang Chaeyeon meminta Jongdae untuk menyanyikan beberapa lagu ciptaannya yang memang sengaja tidak ia masukkan ke dapur rekaman. Menulis lagu adalah hobinya. Semua bait dalam lirik lagunya adalah cuharan hatinya sendiri. Dan Jongdae hanya ingin Chaeyeon saja yang mengetahui isi hatinya meski gadis itu tidak menyadarinya. Chaeyeon lah yang menjadi inspirasi dari semua lagu-lagu ciptaan Jongdae.

 

“ Kau menyebalkan, sunbae.” Chaeyeon menyerah. Dan Jongdae mendesah kecewa. Ia sangat ingin Chaeyeon memanggilnya oppa karena rasanya pasti akan sangat berbeda dibandingkan mendengarnya memanggil dirinya sunbae.

 

Jongdae menatap Chaeyeon yang sedang sibuk dengan cermin kecilnya. Memoleskan sedikit bedak pada wajah cantiknya agar terlihat lebih fresh. Tak lupa bibir cherry alaminya ia poles dengan liptint tipis agar tetap terlihat natural. Diam-diam Jongdae tersenyum mengamati malaikat cantik dihadapannya ini. Rasanya ingin sekali menarik Chaeyeon dalam dekapannya saat ini juga.

 

Ping!

 

Sebuah pesan masuk terpampang dilayar handphone Chaeyeon. Gadis itu menaruh alat-alat make up nya kedalam tas dan seperti biasa, gadis itu selalu membukanya dengan antusias.

 

Wajah cerianya hanya bertahan beberapa detik saja, setelah itu digantikan oleh wajah kesalnya.

 

“Ada apa ?” Tanya Jongdae yang melihat perubahan wajah Chaeyeon yang begitu drastis.

 

“Adikmu.. menyebalkan sekali orang itu.” Dengus Chaeyeon, di letakkan handphonenya dengan sedikit kasar. “Dia membatalkan janjinya yang akan datang kesini melihat penampilanmu.” Lanjutnya. Wajah kesalnya terlihat menggemaskan dimata Jongdae.

 

“Memangnya dia mau kemana ?”

 

“Seperti biasa. Berkumpul dengan klub dance nya. Dan.. entah kenapa aku rasa akhir-akhir ini Jongin mencoba menghindariku, sunbae.” Ungkap Chaeyeon. Wajah kesalnya bahkan sudah berubah menjadi murung.

 

Jongdae beranjak memutari meja yang hanya untuk dua orang itu. Menarik sebuah kursi dan mengambil posisi di samping Chaeyeon. Merengkuh pundak gadis itu lembut dan sedikit mendorongnya agar menempel pada dada bidangnya.

 

“Dia tidak menghindarimu, Yeon. Kau tahu sendiri kan sebentar lagi Jongin harus pergi ke Tokyo dome untuk mengikuti event disana. Dia hanya sibuk, jangan khawatir dan jangan berpikiran macam-macam.” Jongdae mengusap-usap pundak Chaeyeon lembut. Menyalurkan ketenangan pada hati Chaeyeon yang mendadak gundah.

 

Sampai kapanpun Jongdae tidak ingin melihat Chaeyeon murung, menangis apalagi terluka. Tidak. Karena dia amat sangat mencintai Chaeyeon sampai saat ini.

 

“Jongin tidak akan meninggalkanmu. Dia.. mencintaimu.” Bisik Jongdae lirih.

 

Mengingat bahwa selama ini ia amat sangat menderita karena perasaannya pada Chaeyeon yang tak pernah pudar, meskipun sebenarnya ia sangat ingin menghilangkan perasaan itu. Membuat dirinya terlihat menyedihkan. Jongdae tidak mau mengkhianati Jongin dengan masih menyimpan perasaan pada kekasih adiknya itu. Tapi rasanya, melupakan Chaeyeon tak semudah mencintainya yang hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja. Jam terus berputar, hari terus bergulir, musim terus berganti, namun apalah daya seorang Jongdae jika hanya Tuhan yang bisa menghapuskan perasaannya pada Chaeyeon. Jongdae hanyalah seorang manusia lemah yang hanya bisa mengharapkan agar dirinya tidak hilang kendali dan berusaha merebut Chaeyeon dari Jongin. Sekali lagi, Jongdae menegaskan hatinya untuk tidak mengusik kebahagiaan adiknya dan juga gadis yang dicintainya.

 

***

 

Jongdae sudah bersiap diatas panggung dengan microfon dan juga gitar putih pemberian Chaeyeon. Seluruh penonton disana didominasi oleh orang-orang penting dari berbagai macam perusahaan mengingat acara kali ini adalah acara formal yang diadakan oleh salah satu perusahaan besar. Suatu kehormatan bagi Jongdae yang diminta menjadi guesstar dalam acara itu.

 

Selain para pengusaha dan juga keluarganya, di sana juga hadir beberapa orang fans fanatik Jongdae yang memang di perbolehkan menonton namun dengan jumlah yang terbatas. Chaeyeon duduk dibangku paling depan, tak peduli dengan kesinisan yang di tujukan oleh beberapa fans Jongdae yang mencibir tak suka pada Chaeyeon. Kedekatan Jongdae dengan Chaeyeon memang bukan sebuah rahasia lagi dan hal itu tentunya membuat iri semua fans fanatik Jongdae.

 

Jemari panjang milik Jongdae mulai menekan dan memetik senar sehingga menimbulkan alunan musik yang membuat semua orang terpana. Suasana menjadi hening. Semua terfokus hanya pada Jongdae yang tengah menghayati musik buatannya sendiri. Hanya ada suara petikan gitar putih dari atas panggung diruangan yang sangat luas ini.

 

‘Bagaimana pun aku benar-benar menyukaimu.

Kau memelukku ketika aku diam-diam tersenyum, sayang.

Aku menunggu untuk hari ini, karena kau sungguh manis.’

 

Suara lembut Jongdae mulai menggema diruangan itu. Bulu kuduk Chaeyeon meremang mendengar suara Jongdae. Meski bukan pertama kali Chaeyeon mendengar Jongdae bernyanyi, tapi entah kenapa seolah lagu ini memiliki makna yang mendalam bagi seorang Jongdae. Ditambah lagi pria itu begitu menghayati tiap lirik yang dilantunkannya.

 

‘Lihat aku. Aku akan melindungimu, sayang.

Aku bermimpi setiap hari.

Memegang tanganmu dan terbang selamanya.

Kekasihku, aku merindukanmu.

Ini takdir, kau tidak dapat menghindarinya.

Setiap hari aku begitu beruntung.

Aku ingin mengakui didalam hatiku yang tersembunyi, aku mencintaimu.

Aku sangat mencintaimu sampai aku bisa mempertaruhkan segalanya.

Aku berjanji bahwa aku akan selalu peduli padamu.

 

Bahkan jika waktu terlewati dan semuanya berubah,

Bahkan jika dunia berakhir, cintaku..

Kau keberuntunganku, aku tak dapat menghindarinya.

Setiap hari aku sangat beruntung.

Aku ingin mengakui di dalam hatiku yang tersembunyi, aku mencintaimu.’

 

Riuh bergemuruh suara tepukan tangan terdengar menggema di telinga Jongdae saat pria itu mengakhiri petikan gitarnya. Semuanya bersorak, bahkan ada yang menitikan air mata karena Jongdae menyanyikannya dengan penuh penghayatan.

 

Chaeyeon tersenyum tipis. Hatinya bergetar dan jantungnya tiba-tiba berdebar keras. Mengapa lagu Jongdae yang tadi begitu menyentuhnya ? Jongdae memang sangat ahli menciptakan lagu-lagu romantis, namun untuk yang satu ini Chaeyeon merasa Jongdae sedang berusaha mengungkapkan isi hatinya pada seseorang.

 

“Chen oppa !! saranghae !!” Teriak fans-fans fanaik Jongdae histeris.

 

Jongdae tersenyum kearah fans-fans yang meneriakinya. Membungkukkan sedikit badannya untuk memberi hormat dan mengucapkan terimakasih. Lalu menggulirkan bola matanya kearah Chaeyeon yang masih mematung. Mata mereka bertemu, membuat aliran darahnya terasa berhenti sehingga ia merasa tak ada oksigen yang masuk kedalam paru-parunya.

 

Kenapa Chaeyeon terlihat begitu cantik hari ini. Padahal sedari tadi ia sudah memandanginya sampai puas. Degupan di dadanya semakin keras dan tidak terkendali.

 

Oh ya ampun Jongdae, jika seperti ini terus kau benar-benar bisa gila karena gadis itu.

 

“Chaeyeon.. kau mendengarnya ? lagu itu untukmu, Jung Chaeyeon.” Batin Jongdae yang masih memandang Chaeyeon penuh.

 

***

 

Setelah selesai dari pekerjaannya dan mengantar Chaeyeon pulang, Jongdae bergegas pulang kerumahnya untuk beristirahat dan menghilangkan semua penat yang seolah melekat di seluruh tubuhnya.

 

Kim Jongdae, yang awalnya hanya seorang vokalis grup band di sekolah menengahnya kini telah bersinar menjadi bintang besar yang di gilai banyak kaum wanita. Suara lembut nya yang mempunyai ciri khas membuat siapapun yang mendengarnya akan terkesima dan terpukau.

 

Di bangku kuliah, Jongdae membentuk sebuah band lagi. Band itu berjalan cukup baik bahkan sempat mengikuti beberapa perlombaan besar  dan menyumbangkan banyak piala untuk kampusnya. Namun sayang, band itu hanya bertahan selama dua tahun. Setelah itu, Jongdae sendirian mengikuti lomba-lomba accoustic ditemani dengan gitar putih kesayangannya. Gitar yang diberikan Chaeyeon sebagai kado ulang tahun saat Chaeyeon pertama kali ikut serta merayakan ulang tahun Jongdae bersama keluarganya. Hingga akhirnya ada seseorang dari salah satu agensi besar di Seoul menawarkan Jongdae untuk melantunkan suara emasnya di dapur rekaman milik mereka dan Jongdae pun menerimanya dengan senang hati.

 

Dan seperti inilah ia sekarang. Kerja kerasnya membuahkan hasil dan sekarang ia menjadi penyanyi terkenal dikalangan anak muda. Bahkan fans yang di dominasi oleh wanita itu pun kebanyakan adalah remaja yang baru akan beranjak dewasa.

 

Terkadang Jongdae mentertawakan dirinya sendiri jika mengingat hal itu. Ia digilai oleh ratusan wanita sementara ia sendiri hanya menggilai satu wanita dan itu adalah Jung Chaeyeon.

 

“Kau sudah pulang hyung, bagaimana penampilanmu ?” Tanya seseorang dengan suara bass yang sedikit serak.

 

Jongdae menghentikan langkahnya, sedikit terkejut karena ia pikir tidak ada siapa-siapa di rumah ini. Ternyata dibalik sofa yang menghadap televisi ada adiknya yang sedang berselonjor malas.

 

Jongin mengubah posisinya menjadi duduk, rambutnya acak-acakkan dan mulutnya menganga lebar khas orang bangun tidur. Matanya mengerjap mencoba menatap Jongdae yang masih tampak samar-samar dipenglihatannya.

 

“Kau.. bukankah kau sedang berkumpul dengan klub mu ?” Jongdae mengernyit heran tanpa berpindah dari posisinya yang sudah berdiri di anak tangga yang pertama.

 

Berbeda dengan Jongdae yang berkecimpung didunia tarik suara. Jongin juga mewarisi darah seni dari sang kakek, bukan sebagai penyanyi melainkan tubuhnya yang mampu menari secara smoothy juga digilai banyak wanita. Siapapun yang melihat aksi panggung Jongin yang sedang meliuk-liukkan tubuh atletis nya di atas panggung, dapat dipastikan orang itu akan menjerit histeris bahkan sampai menangis terpesona. Apalagi jika Jongin mengekspose perut enam kotaknya yang membuatnya terlihat semakin seksi. Jongin sendiri tak kalah tenar dari sang kakak.

 

Tak hanya berbeda kemampuan, Jongdae dan Jongin pun memiliki sifat yang berbeda. Jika Jongin adalah pria yang cuek, seenaknya dan labil maka Jongdae adalah pria yang dewasa, lembut, dan juga tegas.

 

“Ah tidak, itu hanya alibiku saja. Hari ini aku sangat lelah hyung, maaf aku tidak melihat penampilanmu dipanggung.” Ungkap Jongin dengan nada menyesal.

 

“Tapi seharusnya kau bersyukur aku tidak datang hyung. Jika fans mu melihatku disana, kemungkinan besar yang mereka teriakkan adalah KAI OPPA AAAA KAI OPPA SARANGHAE !! Bukannya CHEN OPPA… YAA CHEN OPPA NIKAHI AKU JEBAL. Hahahahaha” Canda Jongin sambil menirukan suara fangirl yang sering meneriakkan nama panggung mereka.

 

Jongdae tidak tertawa. Jika saja ia tidak teringat pada Chaeyeon mungkin Jongdae sudah tertawa terbahak mendengar humor jenaka dari sang adik. Nyatanya, Jongdae sangat geram sekarang karena merasa Jongin sudah membohongi Chaeyeon yang tadi jelas-jelas amat sangat mengharapkan kehadiran Jongin.

 

“Apa kau sedang menghindari Yeon, Kim Jongin ?” Jongdae masih bergeming di tempatnya. Tak berniat beranjak dari tempatnya.

 

Jongin menghentikan tawanya. Menatap Jongdae dengan alis yang terangkat sebelah. Dilihat dari tatapan sang kakak, sepertinya Jongdae sedang serius sekarang. Suasana pun berubah menjadi sedikit menegang. Apalagi tadi Jongdae sudah memanggil nama lengkapnya, itu tandanya Jongdae sedang menahan emosinya. Bahkan Jongin bisa melihat dengan jelas bagaimana kedua tangan Jongdae bergetar karena dikepal terlalu kuat. Jongin yakin, kini buku-buku jari tangan Jongdae berubah memutih. Namun Jongin tak berniat untuk menyahuti Jongdae.

 

“Aku ragu, kau ingat bahwa hari ini adalah perayaan hari jadi kalian yang ke 18 bulan.” Lanjut Jongdae. Dari nadanya terdengar seperti menyindir Jongin.

 

“Dia memberitahumu ?” Jongin tersenyum kecut.

 

“Tidak. Yeon bahkan tidak mengucapkan apapun padaku. Kalian sudah merayakannya selama 17 bulan terakhir dan.. Kim Jongin-ssi, aku tidak tahu bahwa sekarang kau pelupa yang handal.”

 

Kekehan kecil lolos keluar dari bibir tebal Jongin. Membuat Jongdae mengernyit dan mengendurkan kepalan tangannya.

 

“Kau benar-benar pengingat yang baik hyung. Kau ingat tanggal anniversary-ku padahal aku sendiri tidak pernah ingat jika Chaeyeon tidak mengucapkannya padaku duluan. Dan hari ini Chaeyeon belum mengucapkannya, jadi aku tidak ingat.”

 

“Jongin, kau..” Jongdae mengeram tertahan. Berusaha agar emosinya tak meluap dan meninju adiknya.

 

“Tak usah memaksakan diri hyung. Aku tahu bahwa—“

 

Kening Jongdae mengernyit karena Jongin menggantungkan ucapannya. Jongin tahu apa ? apa yang Jongin ketahui sekarang ? yang jelas bukan perihal perasaan nya pada Chaeyeon kan ? jangan sampai Jongin menyadari hal itu karena itu akan merusak semuanya.

 

“Kau tahu apa Jongin ?” Tanya Jongdae ketika Jongin sudah berada dihadapannya.

 

Jongin mengalihkan pandangannya. Menghela nafasnya pelan dan kembali menatap Jongdae dengan sedikit tersenyum.

 

“Tidak. Bukan apa-apa hyung.” Jawabnya. “Aku akan pergi ke kamar.”

 

Setelah mengucapkan hal itu, Jongin langsung menaiki anak tangga dengan cepat dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat.

 

Jongdae semakin dibuat bingung, sikap yang tadi bukanlah sikap yang biasa Jongin tunjukan padanya. Ia merasa Jongin sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Tiba-tiba rasa takut melanda hatinya. Ia takut Jongin benar-benar mengetahui perasaannya yang terpendam pada Chaeyeon, dan itu bisa membuat hubungan Jongin dan Chaeyeon memburuk.

 

Tapi ia juga tidak yakin Jongin menyadarinya, mengingat bagaimana selama ini ia sudah menutupi perasaannya dengan sangat rapi. Bahkan siapapun tidak akan bisa menduganya meskipun mereka melihat sorot mata Jongdae terhadap Chaeyeon. Jongdae benar-benar bisa menutupinya dengan baik.

 

Dan, jika diingat-ingat lagi ia juga tidak bisa memungkiri jika Jongin benar mengetahuinya. Bagaimanapun juga ia dan Jongin memiliki ikatan darah. Dan mereka memiliki ikatan batin yang kuat. Jongdae bisa dengan cepat melihat perubahan kecil pada diri Jongin, begitu juga sebaliknya.

 

Kepala Jongdae berdenyut memikirkan semua ini. Disatu sisi ia benar-benar mencintai Chaeyeon dan ingin mengungkapkannya saja pada gadis itu dan adiknya, namun disisi lain ia tidak bisa melihat kedua orang yang disayanginya menderita karena dirinya.

 

Tuhan, apa yang harus ku lakukan !

 

***

 

Jongin menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Menyelipkan salah satu tangannya kebelakang kepala untuk dijadikan bantalan. Menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih bersih. Pikirannya menerawang pada kejadian beberapa hari yang lalu, saat ia akan mengajak Jongdae keluar untuk mencari makan malam.

 

Jongin masuk begitu saja kedalam kamar Jongdae yang tidak terkunci, ia mendengar suara gemercik air dari kamar mandi kakaknya. Ia pun memutuskan untuk menunggu kakaknya selesai mandi di dalam kamar Jongdae.

 

Pria itu menyentuh gitar putih yang tergeletak diatas ranjang. Ingatannya masih berfungsi dengan sangat baik bagaimana antusiasnya Chaeyeon yang memintanya untuk menemaninya mencarikan hadiah untuk ulang tahun Jongdae. Saat itu mereka masih belum menjadi sepasang kekasih.

Mereka mengelilingi mall sepanjang hari, dan Chaeyeon tak henti-hentinya mengoceh tentang barang apa yang seharusnya ia berikan pada Jongdae hingga akhirnya gadis itu jatuh cinta pada sebuah gitar putih di toko alat-alat musik.

 

Jujur saja Jongin kesal saat itu. Chaeyeon yang antusias mencari kado untuk sunbae ‘kesayangannya’ itu justru tidak mau repot-repot ketika Jongin yang berulang tahun. Gadis itu hanya memberikan sebuah blackforest dengan lilin untuknya. Dan itu pun ia berikan lewat sehari dari ulang tahun Jongin. Chaeyeon berulang kali meminta maaf karena lupa pada ulang tahun Jongin. Tapi jika itu Jongdae, Chaeyeon bahkan sudah mencarikannya kado sejak dua minggu sebelum Jongdae berulang tahun.

 

Jongin pernah berpikir bahwa Chaeyeon menyukai kakaknya. Mengingat bagaimana gadis itu selalu memprioritaskan Jongdae ketimbang dirinya. Tapi hari itu, ia terkejut luar biasa saat Chaeyeon tiba-tiba menghampirinya, tiba-tiba mencium bibirnya dan tiba-tiba mengatakan bahwa gadis itu mencintainya.

 

Awalnya Jongin ingin menolak Chaeyeon karena ia takut Jongdae memiliki perasaan lebih pada adik kelas kesayangannya itu. Namun melihat sikap Jongdae yang memperlakukan Chaeyeon selayaknya teman dan adik kelas, juga Jongdae yang tidak pernah bercerita apakah ia memiliki perasaan lebih pada Chaeyeon atau tidak maka Jongin memutuskan untuk menerima Chaeyeon. Tidak bisa dipungkiri bahwa ia pun sangat mencintai gadis itu, meskipun yang menjadi prioritas Chaeyeon adalah Jongdae.

 

Tangan Jongin beralih pada sebuah buku yang tergeletak disamping gitar. Ia yakin itu adalah buku berisikan lagu-lagu ciptaan Jongdae yang disukai oleh Chaeyeon. Jongin membuka satu persatu lembaran kertas yang sudah dinodai oleh kata-kata romantis buatan Jongdae, juga beberapa not balok yang tergambar disana. Sampai ketika di Jongin membuka halaman terakhir, kedua matanya membola sempurna.

 

‘Lagu untukmu, Jung Chaeyeon.’

 

Dan semua kata-kata yang tersusun rapi disana membuat dadanya terasa sesak.

 

Kakaknya, yang selama ini tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia menyukai Chaeyeon sama sekali ternyata diam-diam memendam perasaannya pada gadis yang kini menjadi kekasihnya itu. Ia marah! Amat marah. Tidak rela karena kakaknya sendiri menyimpan perasaan pada Chaeyeon. Katakanlah dia egois, tapi Chaeyeon adalah miliknya dan ia tidak akan membiarkan siapapun mengambil Chaeyeon darinya.

 

Kenyataan itulah yang membuat Jongin harus menghindari Chaeyeon akhir-akhir ini. Ia sendiri tak tahu kenapa ia melakukan hal itu, mengingat Chaeyeon yang selalu mengutamakan Jongdae dan kenyataan bahwa Jongdae memiliki perasaan lebih pada Chaeyeon membuatnya merasa seperti orang ketiga diantara mereka. Padahal disini ia adalah kekasih Chaeyeon.

 

Jongin beranjak dan duduk di tepian ranjang. Kepalanya mendadak pening memikirkan semua itu. Bagaimana bisa ia tidak menyadari perasaan kakaknya pada kekasihnya padahal selama ini ia selalu bisa melihat perubahan-perubahan kecil pada diri Jongdae. Sungguh, pikirannya sangat kacau hari ini.

 

“Dari kapan kau memiliki perasaan itu, hyung.” Jongin bergumam pada dirinya sendiri.

 

Jongin meraih handphonenya. Mencari kontak Chaeyeon disana dan menelponnya. Tak butuh waktu lama, gadis diseberang sana sudah menjawab panggilannya.

 

‘Jongin, ada apa ? tumben sekali menelponku saat sedang berkumpul dengan klubmu.’ Suara Chaeyeon terdengar seperti orang bingung. Jongin merasa bersalah pada Chaeyeon karena sudah membohonginya dengan alasan pergi ke klub dancenya sehingga tidak bisa menemui Chaeyeon dan menyaksikan penampilan Jongdae bersama-sama.

 

“Aku.. Chaeyeon..”

 

‘Yak Kim Jongin ada apa ? suaramu terdengar aneh. Kau sedang sakit ?’

 

“Tidak Chaeyeon, aku sehat.”

 

‘Benarkah ? nada suaramu membuatku khawatir.’

 

Hening. Tak ada sahutan lagi dari Jongin selama beberapa detik. Chaeyeon pun tak berbicara seperti menunggu Jongin yang menurutnya ingin mengatakan sesuatu.

 

“Chaeyeon.” Jongin kembali bersuara.

 

‘Ya, Kim Jongin. Ada apa ? oh ya ampun, dari tadi aku bertanya padamu ada apa dan kau tidak menjawabnya.’

 

“Besok.. bisakah kau datang ke klub ? tim ku mengadakan battle dengan kampus lain.”

 

‘Jongin, kau tidak sakitkan ? tidak biasanya kau memintaku untuk melihat penampilanmu. Biasanya kau yang melarangku datang.’

 

“Memangnya salah jika aku meminta kekasihku untuk melihat penampilanku ?”

 

Chaeyeon terdiam. Dan kali ini Jongin yang menunggunya berbicara. Terdengar helaan nafas berat dari seberang sana.

 

‘Aku sudah berjanji pada Jongdae sunbae untuk melihat penampilannya besok, Jong.’

 

Menutup matanya rapat-rapat, Jongin mengusap wajahnya dan mendesah kasar. Baru kali ini emosinya tersulut hanya karena Chaeyeon lagi-lagi memprioritaskan Jongdae.

 

“KENAPA HARUS KIM JONGDAE ? AKU INI KEKASIHMU, JUNG CHAEYEON !” Tanpa sadar ia berteriak ada Chaeyeon. Jongin yakin, gadis itu tengah terkejut sekarang.

 

‘J-Jongin.. kenapa kau sangat marah ? apa kau sedang bertengkar dengan Jongdae sunbae ? kau baru saja berteriak padaku, Jongin.’ Suara Chaeyeon terdengar lirih.

 

“Ya ampun Chaeyeon. Demi Tuhan, maafkan aku.” Sesal Jongin mendengar Chaeyeon sedikit terisak. Ia mencoba kembali memelankan suaranya.

 

“Aku mohon Chaeyeon, datanglah padaku besok.” Pinta Jongin.

 

‘Tapi aku sudah berjanji, Jong.’

 

Jongin mendesah frustasi.

 

“Chaeyeon.” Panggilnya lirih. “Aku mohon, aku ingin kau melihatku sekali ini saja.” Ucapnya parau, nyaris tak terdengar.

 

***

 

Jongdae menarik nafasnya panjang. Ia baru saja turun dari panggung namun tidak menemukan sosok Chaeyeon sepanjang penampilannya. Kemarin gadis itu berjanji akan datang dan menyaksikan penampilan Jongdae. Chaeyeon bukan orang yang suka ingkar janji, ketidak hadiran Chaeyeon yang tanpa kabar membuat Jongdae khawatir. Ia sudah mencoba menghubungi Chaeyeon, tapi tak ada jawaban dari gadis itu.

 

“Sunbae!”

 

Suara itu membuat Jongdae sontak menoleh dan mengembangkan senyumannya selebar mungkin. Ia tahu Chaeyeon tidak mengingkari janjinya, meskipun ia sedikit—terlambat ?

 

“Kau baru datang Yeon ?” Tanya Jongdae melihat peluh disekitar dahi Chaeyeon yang membuat poni nya terlihat lepek.

 

“Maafkan aku sunbae, aku hanya melihatmu sebentar tadi dan dosen Kang menelponku cukup lama.” Tutur Chaeyeon tidak ingin Jongdae salah paham karena tiba-tiba saja ia menghilang.

 

“Tak apa, kau ada disini pun aku sudah merasa lega.” Ucap Jongdae seraya menepuk pelan puncak kepala Chaeyeon.

 

“Kau tidak datang bersama Jongin ?” Tanya Jongdae lagi.

 

“Tidak, dia.. OH YA AMPUN SUNBAE ! KIM JONGIN !” Tiba-tiba Chaeyeon berteriak, membuat Jongdae berjengit kaget.

 

“Ada apa Yeon ?”

 

Wajah Chaeyeon memanas, ia melirik alroji nya dan memang sudah sangat terlambat jika ia berlari sekarang ke tempat dimana Jongin mengadakan battle. Demi Tuhan, kemarin ia berjanji pada Jongin untuk melihat penampilannya. Dan ia melupakannya dengan datang ke tempat Jongdae. Chaeyeon tidak sanggup membayangkan bagaimana kecewanya Jongin.

 

“Sunbae, aku.. harus pergi. Jongin memintaku datang untuk melihat battle dancenya.” Jelas Chaeyeon tergesa.

 

“Tenanglah Yeon, aku akan mengantarmu.” Jongdae mencoba menengangkan gadis itu.

 

Chaeyeon mengangguk dan berlari terlebih dahulu ke mobil Jongdae. Sementara pria itu merasa sedikit sesak di dadanya, melihat bagaimana paniknya Chaeyeon yang takut membuat Jongin kecewa. Memang benar Jongdae sudah sering melihat mereka berduaan, bermesraan dan bahkan saling mengkhawatirkan satu sama lain dihadapannya. Tapi kali ini, seperti ada perasaan tidak rela melihat Chaeyeon yang merasa bersalah pada Jongin. Rasanya ia hanya ingin Chaeyeon mempriotaskannya saja.

 

Tapi itu benar-benar egois Kim Jongdae.

 

***

 

Sesampainya di aula kampus—tempat dimana Jongin mengadakan battle—Chaeyeon segera berlari menghampiri teman-teman Jongin yang sedang beristirahat sambil mengobrol. Ia tak melihat sosok Jongin disana dan itu membuatnya khawatir. Jongdae sendiri bisa menangkap bagaimana khawatirnya seorang Chaeyeon pada adiknya itu. Dan ia hanya bisa terdiam, memendam rasa sakitnya seperti biasa.

 

“Park Chanyeol, dimana Jongin ?” Tanya Chaeyeon pada salah satu teman Jongin yang ia kenal.

 

Pria berperawakan jangkung seperti raksasa itu menoleh karena posisinya sedang memunggungi Chaeyeon. Matanya menyipit, menatap Chaeyeon tak suka apalagi melihat gadis itu datang bersama Jongdae.

 

“Untuk apa kau datang ?”

 

“Uh ?”

 

Pertanyaan Chanyeol membuat hatinya menohok. Untuk apa katanya ? jelas saja ia datang untuk bertemu dengan Jongin. Meskipun ia tahu, ia sudah sangat terlambat untuk melihat penampilan Jongin.

 

Tiba-tiba saja Jongdae menarik baju di bagian dada Chanyeol, membuat pria jangkung itu seketika berdiri karena tenaga Jongdae yang begitu besar dan ia belum siap menerima serangan. Jongdae melotot kearahnya. Chaeyeon hanya menatapnya ngeri, tidak biasanya Jongdae sekasar itu pada orang lain.

 

“Jaga cara bicaramu, sialan !” Geram Jongdae yang tak suka akan nada bicara Chanyeol pada Chaeyeon. Apalagi tatapan matanya yang terlihat sinis pada gadis itu.

 

“Lepaskan aku ! kau pikir aku takut padamu hanya karena kau lebih tua dariku ? apa yang harus kutakutkan dari seorang kakak yang mencoba merampas kebahagiaan adiknya ?” Chanyeol menatap Jongdae tajam.

 

Mendengar ucapan Chanyeol, perlahan cengkraman Jongdae pada kaos pria itu mengendur. Jongdae tak mengerti apa yang diucapkan oleh Chanyeol. Merampas kebahagiaan Jongin katanya ? kapan ia melakukan itu ? justru selama ini ia membiarkan Jongin bahagia bersama seseorang yang dicintainya.

 

Tatapan Jongdae beralih pada Chaeyeon yang menatapnya dengan penuh tanda tanya. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya. Mengatakan pada Chaeyeon bahwa itu bukan apa-apa melalui bahasa isyarat.

 

“Sudahlah Chan jangan membuat keributan.” Seorang pria lagi yang ada disana mencoba meleraikan mereka berdua.

 

“Jongin ada diruang kesehatan bersama Sehun, hyung.” Kata pria yang melerainya tadi.

 

“Di ruang kesehatan ?” Pekik Chaeyeon kaget.

 

Jongdae bisa melihat bagaimana reaksi Chaeyeon saat ini. Hatinya kembali teriris melihat Chaeyeon yang hampir menangis karena mengkhawatirkan Jongin. Tangannya hendak terulur untuk menyentuh Chaeyeon dan memberinya ketenangan, tapi belum sampai menyentuhnya gadis itu sudah terlebih dulu berlari kearah ruang kesehatan.

 

Sepenting itukah Jongin bagi Chaeyeon ?

 

Jongdae mengejar Chaeyeon yang sudah menghilang dari pandangannya. Pintu ruang kesehatan terbuka, Jongdae yakin Chaeyeon sudah berada didalam. Pria itu pun memutuskan untuk masuk kesana, melihat keadaan adiknya.

 

Dan pemandangan didalam sana benar-benar membuat Jongdae mematung dan berdiri diambang pintu. Chaeyeon sedang bersimpuh dilantai, ditatap penuh kebencian oleh Jongin yang sedang terduduk di atas ranjang ruang kesehatan dengan kaki yang di perban. Sementara satu pria lagi yang Jongdae ketahui bernama Sehun hanya terdiam menatap kedua orang itu bergantian.

 

Isakan yang lolos dari bibir mungil Chaeyeon menyadarkannya. Segera saja Jongdae menghampiri Chaeyeon dan mencoba membantunya berdiri, tapi Chaeyeon tetap bertahan dalam posisi itu.

 

“Apa yang kau lakukan, Kim Jongin !” Jongdae mengeram tertahan. Hatinya begitu menceos melihat gadis yang dicintainya menangis seperti ini.

 

“Aku tidak melakukan apa-apa, tiba-tiba dia datang, menangis dan bersimpuh dilantai. Jika kau tidak percaya padaku kau bisa bertanya pada Sehun.” Sahut Jongin. Ia melipat kedua tangannya didepan dada dan menatap Chaeyeon seolah-olah kehadiran gadis itu sama sekali tidak berarti baginya.

 

“Yeon bangunlah.” Lirih Jongdae, berusaha membuat Chaeyeon berdiri tapi gadis itu menolak.

 

“Aku mohon, maafkan aku Jongin-ah.” Suara parau Chaeyeon terdengar menyakitkan ditelinga Jongdae.

 

“Kau membuatku kecewa, nona Jung.” Ujar Jongin pelan, dingin namun menusuk.

 

“Kau mengerti kan nona Jung, kecewa dan marah adalah dua hal yang berbeda. Aku tidak marah padamu, tapi aku sangat kecewa padamu.” Lanjut Jongin.

 

Jongdae tidak mengerti dengan situasi ini. Kenapa Chaeyeon sangat merasa bersalah dan kenapa Jongin merasa begitu kecewa. Jongdae benar-benar tidak mengerti. Jika masalahnya hanya karena Chaeyeon tidak datang untuk menyaksikan penampilan battle Jongin, bukankah dari dulu Jongin selalu melarang Chaeyeon untuk datang ke tempat pertunjukannya karena tak mau Chaeyeon menjadi bahan godaan pria-pria pedofil disana. Tapi kenapa semuanya menjadi serumit ini ? ada apa dengan sikap adiknya yang tiba-tiba berubah ?

 

“Apa yang harus kulakukan agar kau mau memaafkanku, Jongin ?” Suara Chaeyeon mengintrupsi Jongdae untuk kembali pada situasi sulit ini.

 

Jongin terdiam. Matanya mengarah pada Jongdae yang menatapnya menanti jawaban. Dari sorot matanya Jongdae merasa Jongin seolah ingin menjauhkan dirinya dari Chaeyeon. Tidak. Jangan. Jangan sampai Jongin meminta hal itu pada Chaeyeon karena sampai kapan pun Jongdae tidak bisa menjauhi Chaeyeon.

 

Jongin menghela nafasnya pelan. Menurunkan kedua kakinya agar terjuntai di tepian ranjang. Sedikit meringis akibat cedera di kaki kanannya.

 

“Aku hanya memintamu datang dan sekali saja melihat penampilanku. Tapi lagi-lagi kau memprioritaskan Jongdae hyung. Kau tidak pernah mengingkari janjimu pada Jongdae hyung, tapi kau mengingkari janji pertamamu padaku, Chaeyeon. Aku kecewa.” Lirih Jongin.

 

Ungkapan itu membuat Jongdae tersentak. Jadi selama ini Jongin cemburu karena Chaeyeon selalu mengutamakan dirinya ketimbang Jongin yang nyatanya adalah kekasihnya sendiri. Dan dengan bodohnya Jongdae tidak menyadari hal itu dan malah cemburu pada Chaeyeon yang bisa dimiliki oleh adiknya. Jika diingat-ingat lagi selama ini memang Chaeyeon selalu mengutamakan dirinya ketimbang Jongin. Chaeyeon tidak pernah absen untuk datang menyaksikan penampilan Jongdae di panggung, tapi gadis itu bahkan tidak pernah menemani Jongin latihan meskipun sesekali Jongin memintanya. Chaeyeon memberikan sebuah kado gitar putih pada hari ulang tahunnya, tapi ia hanya memberikan sebuah blackforest pada Jongin yang jelas-jelas tidak suka dengan makanan manis. Itupun ia berikan setelah ulang tahun Jongin yang terlewat satu hari. Saat mengalami kesulitan, Chaeyeon selalu mencari Jongdae bukan Jongin. Dan kenapa Jongdae sama sekali tidak menyadari bahwa Jongin merasa cemburu dengan semua itu ?

 

“Jongin, maafkan aku. Ini semua salahku.” Sesal Jongdae. Ia menyesal karena tidak menyadari bahwa selama ini Jongin juga tersakiti karena dirinya. Ia pikir selama ini hanya dirinyalah yang tersakiti karena harus memendam perasaan cintanya pada Chaeyeon.

 

“Sudahlah hyung. Aku tahu kau begitu berarti dimana Chaeyeon ketimbang aku yang berstatus sebagai kekasihnya.”

 

“Tidak!” Elak Chaeyeon. “Tidak seperti itu Jongin, sungguh. Kau begitu berarti untukku. Hanya saja, karena kau tidak biasanya memintaku datang jadi aku..”

 

“Jadi kau lupa pada janjimu padaku, begitu ?” Jongin memotong. Terlihat Chaeyeon mengangguk lemah.

 

“Sehun, bantu aku pergi dari sini.” Ucap Jongin pada temannya yang sedari tadi diam.

 

“Aku saja.” Serobot Chaeyeon yang entah dari kapan sudah beranjak dari lantai dan berada disamping Jongin.

 

“Tidak Chaeyeon-ssi, kau tidak akan kuat menopang tubuh Kai. Kakinya terkilir karena tidak fokus saat battle tadi. Dan kata dokter, cederanya cukup parah.” Jelas Sehun.

 

“Kau tidak perlu menjelaskan padanya Oh-bodoh-Sehun. Kau membuatku terlihat ingin dikasihani oleh orang ini.” Dengus Jongin seraya mengaitkan salah satu tangannya di leher Sehun. Pria bersurai pirang itu terkekeh melihat ekspresi kesal Jongin.

 

‘Orang ini’.. Jongin baru saja menyebut Chaeyeon ‘orang ini’. Terdengar seperti seseorang yang tidak berarti lagi dihati Jongin. Chaeyeon hanya mampu menutup mulutnya agar isakannya tidak terdengar, membiarkan Jongin pergi meninggalkan dirinya dengan bantuan Sehun.

 

Jongdae mendekati Chaeyeon. Merengkuh gadis itu lembut dan meremas pundaknya pelan, mencoba memberinya kekuatan. Dan tiba-tiba saja Chaeyeon berhambur memeluknya. Terisak didada bidangnya untuk menyamarkan suara tangisnya. Jongdae mendekapnya erat. Begitu terluka melihat Chaeyeon menangis seperti ini.

 

***

 

Bugh..

 

Bugh..

 

Bugh..

 

“Kau ini bodoh atau apa !” Teriak Jongin setelah puas memukuli Jongdae dengan tinjuannya.

 

Jongdae tersungkur di jauh dari ranjang Jongin. Membiarkan pria yang menjadi adiknya itu memukulinya sampai puas. Salahkan Jongdae yang menyulut emosi Jongin dengan memarahinya karena sudah membuat Chaeyeon menangis. Jongdae menyalahkan Jongin sepenuhnya, padahal ia tahu Jongin tidak bersalah disini. Hanya saja sikap Jongin begitu keterlaluan sampai membuat Chaeyeon yang jarang menangis itu tampak begitu menyedihkan dihadapannya.

 

“Apa maksudmu mengatai aku bodoh !” Jongdae balas berteriak. Sedari tadi ia menahan emosinya agar tidak tersulut dan membuat keadaan semakin rumit. Namun tatapan penuh kebencian dari Jongin membuatnya tidak bisa mengontrol emosinya lagi.

 

Susah payah Jongin berjalan menghampiri Jongdae yang sudah babak belur akibat perbuatannya. Menarik kerah kakak lelakinya itu dan menekan punggung Jongdae ke dinding.

 

“Aku sebenarnya tidak suka mengatakan hal ini. Tapi.. DEMI TUHAN KIM JONGDAE, KAU MENCINTAI KEKASIHKU !” Jongin kembali berteriak. Membuat mata sipit milik Jongdae membola sempurna.

 

“B-bagaimana bisa kau mengatakan hal itu, Jongin ?” Jongdae mengelak. Bagaimanapun ia mencintai Chaeyeon, jika itu harus menyakiti saudaranya sendiri ia lebih baik kehilangan gadis tercintanya.

 

“Kau pikir aku bodoh ? Kim Jongdae. Kau juga mencintai kekasihku kan ? Katakan dengan jujur !” Jongin semakin menekan dada Jongdae sehingga punggung Jongdae semakin terhimpit diantara dinding dan tekanan tangan Jongin.

 

“Apa yang kau bicarakan, bodoh!”

 

“Ck. Kau pengecut ! katakan saja jika kau mencintai Jung Chaeyeon ! jika kau tidak mengatakannya maka aku tidak akan melepaskannya untukmu.”

 

“Jongin sadarlah !”

 

“Kau yang sadar, sialan !”

 

Jongin melemparkan tubuh Jongdae begitu saja sehingga sekali lagi Jongdae tersungkur jauh. Setelah itu Jongdae melihat adiknya hanya berdiri mematung dengan ekspresi terkejut. Ia pun melihat kearah pintu kamar Jongin, dan Chaeyeon berdiri disana. Entah sejak kapan.

 

Tubuhnya terlihat kaku dan wajahnya datar seperti patung Budha. Kemungkinan besar Chaeyeon sudah banyak mendengar percakapan mereka. Termasuk tentang Jongdae yang menyukainya.

 

Ya Tuhan. Jongdae harap bumi menelannya saat ini juga ketimbang harus melihat wajah Chaeyeon yang kini mengetahui perasaannya. Ia tidak siap jika Chaeyeon membencinya kelak.

 

“Yeon, jangan dengarkan Jongin. Dia hanya marah.” Jongdae mencoba menjelaskan. Tapi Chaeyeon tetap mematung seperti batu.

 

“Syukurlah kau datang, Jung. Kau harus tahu bahwa sunbae yang selama ini kau utamakan entah sejak kapan diam-diam menyukaimu.” Ujar Jongin dengan nada sinis.

 

Jongdae menoleh kearah Jongin tak percaya. Pria itu malah menjelaskan permasalahan mereka pada Chaeyeon. Tapi Jongdae juga tidak lagi mengelak untuk mengatakan bahwa hal itu tidak benar. Mungkin sudah saatnya Chaeyeon mengetahui semuanya, siap tak siap ia harus menerima kenyataan jika Chaeyeon berubah membencinya setelah mengetahui semuanya.

 

“Sunbae.. apa itu benar ?” Chaeyeon bersuara. Terdengar parau.

 

Jongdae diam. Ia tak bisa menjawab iya ataupun berbohong dengan menjawab tidak.

 

“Jawablah Kim Jongdae, jangan menjadi seorang pengecut. Karena keluarga Kim tidak mewarisi darah pengecut.” Desis Jongin.

 

Helaan nafas berat dikeluarkan oleh Jongdae. “Maafkan aku Yeon.. itu memang benar.”

 

Dan Jongin tersenyum kecut mendengar hal itu. Sementara tubuh Chaeyeon membeku ditempat.

 

“Aku.. aku mencintai Jongin, sunbae. Maafkan aku.”

 

DEG!

 

Rasanya lebih sakit mendengar Chaeyeon mengatakan hal itu saat ini ketimbang saat Jongdae mendengar bahwa Chaeyeon resmi menjalin hubungan dengan Jongin. Hatinya bukan hanya tertusuk, melainkan seperti teriris, terbelah menjadi potongan-potongan kecil. Rasanya hancur ketika ia memikirkan bahwa tak akan ada lagi kesempatan untuk mendapatkan Chaeyeon. Tak ada tempat baginya dihati Chaeyeon. Tidak ada karena hatinya sudah dipenuhi oleh Kim Jongin.

 

“Aku tidak bodoh, Jung Chaeyeon.” Suara Jongin memecahkan keheningan dikamar itu.

 

“Apa.. apa maksudmu Jongin. Aku mencintaimu, dan kau tidak percaya ?” Marah Chaeyeon.

 

“Bagaimana aku akan percaya jika yang selalu kau utamakan adalah hyungku !” Balas Jongin sengit. Chaeyeon terdiam.

 

Benarkan dirinya mencintai Jongin ? tapi kenapa rasanya lebih nyaman saat ia berada disekitar Jongdae. Tidak! Dia hanya mencintai Jongin. Hanya Jongin.

 

“Itu tidak bisa membuktikan bahwa Yeon mencintaiku, Jongin. Jangan berlebihan dan kita akhiri saja semua ini.” Sela Jongdae.

 

“Benarkah ? akan kubuktikan bahwa kau tidak mencintaiku Chaeyeon. Kau benar-benar menyakiti hatiku.”

 

Jongin terseok mendekati Jongdae dan Chaeyeon yang memang berada diambang pintu. Susah payah ia menyeret keduanya keluar dari rumah dan membaa mereka ke tengah-tengah jalan didepan rumahnya. Tidak mengerti dengan apa yang akan diperbuat Jongin, kedua orang itu hanya bisa mematung.

 

Jongin mendorong Jongdae kesebelah kiri dan dirinya disebelah kanan jalan. Sementara Chaeyeon berada ditengah-tengah mereka berdua.

 

Jalanan itu cukup sepi jadi Jongdae tidak berpikiran Jongin ingin mencoba mencelakai mereka bertiga. Tapi tetap saja ia tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh adiknya itu.

 

“Kita lihat kau mencintai siapa, Chaeyeon.” Jongin menyeringai.

 

Membuat Chaeyeon dan Jongdae semakin mengernyit tak mengerti.

 

“Selamatkanlah salah satu dari kami, dan kau tahu untuk siapa hatimu sebenarnya.”

 

Tiba-tiba saja, tanpa Jongdae dan Chaeyeon sadari datang dua buah mobil dari belakang mereka dengan kecepatan dibawah rata-rata. Kedua mobil itu berada tepat dijalur Jongdae dan Jongin berdiri. Semakin dekat laju kedua mobil itu membuat Chaeyeon bingung harus berbuat apa.

 

“KIM JONGIN KAU GILA !” Teriak Jongdae dan berusaha pergi ke tepian. Namun Jongin menarik tangannya sehingga pria itu tetap berada ditempatnya.

 

“Diamlah di tempat, sialan!”

 

Dan kedua mobil itu semakin mendekati tubuh mereka.

 

“Bergeraklah Jung!” Teriak Jongin.

 

Dan..

 

BRUGH..

 

“Aaa.. sshh..”

 

Jongdae mendesis pelan dengan tangannya memeluk tubuh mungil Chaeyeon. Tiba-tiba saja Chaeyeon mendorongnya ke trotoar, membuatnya tidak bisa menjaga keseimbangannya. Tubuh Chaeyeon bergetar di pelukkannya, bajunya terasa basah. Chaeyeon menangis lagi didalam pelukannya. Ia bisa mendengar Chaeyeon bergumam didadanya sambil terisak.

 

“Maafkan aku Jongin.. maafkan aku.” Isaknya terdengar samar.

 

Omong-omong soal Jongin, bagaimana keadaan adiknya itu sekarang. Kedua mobil tadi sangat cepat membuatnya tidak tahu apa yang terjadi setelah Chaeyeon mendorongnya. Jongdae mencoba bangkit, melihat kearah jalan namun tidak ada tanda-tanda bahwa adiknya tertabrak. Lalu matanya menangkap sesosok pria yang sedang berdiri di seberang jalan. Menatap datar kearah dirinya. Jongin baik-baik saja. Bahkan salah satu mobil yang hampir menabrak adiknya itu terparkir tak jauh ditempat Jongin berdiri.

 

Sebenarnya apa yang direncanakan pria itu.

 

“Kau menang hyung.” Ucap Jongin sedikit keras sehingga Jongdae bisa mendengarnya.

 

Setelah itu Jongin masuk kedalam mobil itu dan melesat pergi.

 

Apa-apaan adiknya itu! ide gilanya hampir saja membuat nyawa mereka melayang.

 

“Sssshh.. tenanglah Yeon. Semuanya baik-baik saja, Jongin tak apa. Dia pergi bersama temannya.” Kata Jongdae mengusap lembut punggung Chaeyeon yang masih berada dalam dekapannya. Gadis itu masih saja menggumamkan kata maaf.

 

“Maafkan aku Jongin.. maafkan aku Jongdae sunbae.” Lirihnya.

 

Jongdae melepaskan pelukkannya, menahan kedua bahu Chaeyeon agar menatap kearahnya. Menatap sayu kedua mata indah yang sudah basah karena air mata itu.

 

“Kenapa kau meminta maaf padaku, eoh ? seharusnya aku yang berterimakasih karena kau menyelamatkanku.” Ujar Jongdae.

 

“Maafkan aku.. maafkan aku mencintaimu sunbae.”

 

Jongdae mematung. Ucapan Chaeyeon benar-benar nyata terdengar di kedua telinganya. Chaeyeon mencintainya ? sejak kapan ?

 

“Aku mencintaimu sejak dulu sunbae, sejak pertama kali kau membawa ku kekantin dan menghukumku dengan makan bersama. Aku mencintaimu dalam waktu tiga detik. Maafkan aku yang akhirnya harus memilih menjalin hubungan dengan Jongin saat mengetahui kau akan menyatakan perasaanmu padaku, sunbae. Aku mencintaimu tapi aku tidak siap menjadi kekasihmu, aku tidak siap jika suatu saat nanti kau akan menjadi kenanganku saja jika Tuhan tidak menjodohkan kita. Aku takut kau meninggalkanku. Dan itu juga alasan kenapa sampai sekarang aku memanggilmu ‘sunbae’. Aku tidak mau panggilan ‘oppa’ menggoyahkan hatiku dan membuatku berlari kearah mu, meneriakkan bahwa aku mencintaimu lalu kau membenciku.” Jelas Chaeyeon di sisa tangisnya.

 

Jongdae terhenyak. Merasa semua yang didengarnya seperti sebuah mimpi yang ia harap siapapun tidak akan membangunkannya dari mimpi indahnya ini. Jadi selama ini mereka sama-sama saling mencintai tapi hanya bisa saling memendam satu sama lain.

 

“Aku tidak akan membencimu karena aku sangat mencintaimu, Jung Chaeyeon. Aku sangat mencintaimu sampai rasanya aku bisa gila karena harus melihatmu bermesraan dengan Jongin.” Tutur Jongdae.

 

Kedua ibu jarinya mengusap lembut pipi Chaeyeon, menghapus jejak air mata yang tertinggal disana.

 

“Bertemu denganmu adalah hal terbaik dalam hidupku. Bisa bersama denganmu adalah sebuah keberuntungan. Dan memilikimu adalah sebuah keberuntungan terbaik yang Tuhan berikan padaku.” Ungkap Jongdae.

 

“Jung Chaeyeon. Aku ingin mengakhiri kebodohanku, mulai detik ini aku akan mengutaran perasaanku yang sebenarnya. Aku mencintaimu Jung Chaeyeon. Dengan segala kebodohanku yang memendam semuanya selama ini, aku katakan bahwa aku sangat tergila-gila padamu. Maafkan aku yang tidak mencoba memperjuangkanmu saat kau memutuskan untuk bersama Jongin. Dan Jung Chaeyeon, aku memintamu untuk menjadi kekasihku detik ini juga.” Jongdae menggenggam kedua tangan Chaeyeon lembut. Meremasnya pelan agar Chaeyeon tahu betapa penting dirinya bagi Jongdae dan Jongdae tak ingin kehilangan Chaeyeon untuk yang kedua kalinya.

 

“Aku juga mencintaimu, sunbae.” Sahut Chaeyeon dengan senyuman tipisnya.

 

Jongdae menarik Chaeyeon dan memeluknya erat. Sudah lama ia mendambakan moment seperti ini dan akhirnya hari yang ia tunggu-tunggu pun tiba. Kini ia sudah menggenggam hati Chaeyeon dan ia tidak akan melepaskannya dengan mudah. Terimakasih untuk Kim Jongin yang sudah menyadarkannya bahwa cinta seharusnya diungkapkan. Karena memendam perasaan hanya akan membuat luka yang kecil berangsur-angsur menganga lebar.

 

“Berhentilah memanggilku sunbae. Kau kekasihku sekarang.” Pinta Jongdae yang masih mendekap Chaeyeon.

 

“Baiklah.” Chaeyeon mendorong dada Jongdae pelan. Menatap pria itu dalam-dalam dengan jarak yang begitu dekat.

 

Chaeyeon mendekatkan wajahnya dengan wajah Jongdae, merasakan terpanaan nafas panas diseluruh permukaan kulitnya. Chaeyeon tersenyum, dan sebelum bibirnya menyentuh bibir Jongdae ia bergumam.

 

“Saengil chukka hamnida Chen oppa. Jeongmal saranghae.”

 

-FIN-

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s