[EXOFFI FREELANCE] Missing You (Oneshot)

tumblr_n60m3mmufg1sloq73o1_500

Main cast    : Kim Jongdae

                    Ahn Hyeri

Other Cast  : Do Kyungsoo

                    Ahn Minseok

Genre        : Romance, sad, angst

Rating       : PG-15

Saat sinar matahari menusuk indera penglihatanku, saat itu pula aku menyadari bahwa hari ini adalah hari baru−tanpa kehadiranmu. Aktivitas biasa yang kulakukan tidak terasa indah seperti dulu. Jika dulu aku merasa bercermin adalah bagian penting dari hidupku, sekarang bercermin hanya membuang waktuku, membuatku memutar kembali memori yang seharusnya aku lupakan.

***

Aku berjalan pelan, menunduk bahkan menabrak beberapa orang yang sedang asyik berbincang di sepanjang lorong kelas. Aku sudah tidak peduli dengan teriakan mereka yang memakiku.

“Jongdae-yah!” Suara itu? Suara yang sangat ingin ku dengar. Suara yang ku rindukan dan yang ku yakini mampu mengubah keadaan burukku ini menjadi lebih baik. Aku menyapu pandanganku kesegala arah. Aku tahu, orang akan menganggapku sakit bahkan gila tapi inilah kebenarannya. Aku tak sanggup melepasnnya.

Aku berlari, terus berlari hingga lututku terasa nyeri. ‘Ia tak ada? Kemana dia?’ hanya kata itu yang terus batinku ucapkan.

“Jongdae!! Jongdae! Sadarlah!” Seseorang sepertinya menggoyahkanku, seakan memaksaku untuk segera keluar dari pikiranku sendiri.

“Sadarlah!! Kau terus mencarinya? Ahn Hyeri tidak ada disini!” Aku menatap seseorang dihadapanku. Hyeri? Ahn Hyeri tidak pergi! Dia berada disini tadi. Dia memanggil namaku dengan lembut seperti biasa. Aku mengepalkan tanganku erat lalu menarik kerah bajunya, “Jangan pernah berkata seperti itu, Kyungsoo-yah! Aku yakin dia ada disini!” aku menggenggam erat kerah bajunya, namun ia hanya menatapku tanpa berniat melawanku.

“Jongdae-yah, itu semua hanya delusi-mu saja! Sekarang, kau harus istirahat. Wajahmu begitu pucat”

***

Aku terbaring dalam ruang kesehatan. Aku yakin, kondisi begitu buruk sampai membuat guru harus membawa dokter sebanyak dua kali untukku hari ini. “Jongdae-ssi, kau harus kembali menjalani pemeriksaan lanjutan. Untuk sekarang, berhenti memikirkan masalahmu itu dan fokuslah pada kesehatanmu” Ucap sang dokter dan tentu saja membuatku teringat sesuatu. Hyeri.

Yah, benar. Dua hari setelah kejadian itu, membuat kondisiku benar-benar down. Aku menjalani beberapa kali terapi untuk melepas rasa bersalah yang menghantuiku. Dokter sering kali menasehatiku agar aku tak berusaha mengingat kejadian ‘itu’. Kejadian, yang benar-benar membuatku terpukul.

Selepas sang dokter pergi, aku kembali menunduk dan terisak pelan. Aku merasa bebanku sungguh berat, padahal aku sama sekali tidak memiliki masalah dengan buruknya kondisi tubuhku. Dadaku rasanya sakit sekali, napasku sesak, aku bahkan tidak sanggup mengeluarkan sedikit suaraku hanya untuk bergumam. Perih, tentu saja. Ini menyakitkan. Aku terus menahannya hingga aku merasa duniaku mulai gelap.

***

Aku dan Hyeri adalah teman kecil yang bahagia. Kedua orang tua kami bersahabat sejak SMA dan tentu saja hubungan mereka menurun kepada kami−anak-anaknya. Setelah menginjakkan kaki kebangku SMA, aku mulai sadar, perasaan ingin melindungi dan menyayangi Hyeri bukan sekedar perasaan biasa. Perasaan ini bahkan aneh dan kupikir sangat gila karena aku melakukan hal-hal yang spontan. Seperti saat liburan dimana aku dan Hyeri bermain di pinggir danau.

#flashback on

Surai panjangnya menutupi separuh wajah manisnya. Mata sipit dan bibir mungil berwarna merah ceri itu ciri khasnya. Kulit putih berbalut gaun merah magenta selutut dengan pita besar dibagian sampingnya. Sesekali ia akan mengaitkan surai indahnya itu kebelakang daun telinganya.

Saat itu, Hyeri sedang asyik membaca sesuatu melalui handphone nya. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari nya. Melihatnya yang sibuk membaca sambil mengeluh dengan sesuatu yang tertulis disana. Berkali-kali ia memukul dan menunjuk-nunjuk kelayar hanphone nya karena kesal.

Suasana ini benar-benar yang ku inginkan. Tak terasa, sudut bibirku tertarik membentuk kurva yang kupikir pasti aku sangat manis. Hyeri memanggilku pelan dan meminta sesuatu dariku. Ia ingin aku melakukan sebuah hal yang menurutku sedikit aneh. Dia ingin aku dan dirinya melempar sebuah koin ke danau lalu mengucapkan permohonan pada tuhan. Jika koin itu kembali kepada kami, maka tuhan akan mengabulkan do`a kami.

Awalnya aku menolak, karena kupikir sangat mustahil tapi bukan Hyeri jika dia tidak bisa membuatku untuk sukar menolak permintaan konyolnya. Kami berdua sudah memegang koin dan melemparnya bersama-sama.

“Aku berharap, berada di tempat yang penuh kebahagiaan, dimana ada aku dan semua orang yang aku sayangi ikut tersenyum bersamaku” Ucapnya lantang. Mataku menatap lurus kearah wajahnya. Tentu saja kau akan bahagia, aku yang akan membahagiakanmu. Perlahan matanya terbuka dan memandang kearah danau namun nihil tidak ada apapun yang terjadi. Bisa kulihat raut kecewa dari wajahnya. Aku tidak tahu, perasaan apa yang mendorong diriku hingga aku menceburkan diri kedanau hanya untuk satu tujuan, mengabulkan kebahagian yang di inginkan Hyeri. Aku memang bukan tuhan, tapi aku yakin usahaku ini adalah jalan yang diberikan tuhan untuk membahagiakan Hyeri.

Saat aku kembali kepermukaan sambil tersenyum lebar dan berteriak “Hyeri-yah!! Oppa mendapatkan koinnya” seketika itu pula senyum lebarku perlahan mulai berkurang dan hilang, digantikan dengan rasa panik yang luar biasa. Disana, di tepi danau, seseorang mencoba merampok dan bisa kulihat Hyeri dengan sekuat tenaga mempertahankan benda berharga milik kami. Aku segera berenang ke tepi danau namun belum sempat kakiku menginjak rerumputan, suara rintihan terdengar jelas ditelingaku.

Aku menoleh kearah Hyeri, seketika aku tidak dapat merasakan kaki ku. Hyeri, dia tertusuk di tiga tempat ditubuhnya. Pikiranku benar-benar kacau. Tanganku bergetar saat aku melihat kondisinya. Air mataku turun begitu saja. Napasku begitu sesak melihat cairan merah yang mengalir tanpa henti. Aku terus menggerakkan badannya dan berteriak memanggil namanya.

“Hyeri-ah! bangunlah! Kau tidak boleh tidur disini. Kau harus bertahan.” Aku memeluk tubuh mungil Hyeri. “Tenanglah Hyeri-ah, semua akan baik-baik saja” Tolong tuhan, dia baru saja menginginkan kehidupan bahagia. Dia baru saja memohon padamu, mengapa kau begitu kejam padanya? Tolong tuhan! Tolong! Selamatkan dia.

Aku memeluknya erat−sangat erat, berharap dia takkan pernah pergi dariku. Aku tidak bisa berpikir jernih. Pikiranku melayang kemana-mana. Saat orang-orang datang bersama dengan itu suara sirine terdengar jelas melalui indera pendengaran ku. Tuhan, selamatkan dia.

***

Seluruh keluargaku dan keluarga Hyeri berkumpul. Mereka semua menunduk, menunggu seorang dokter keluar dari pintu berlampu merah diatasnya. Kakak laki-laki Hyeri, Ahn Minseok berlari dari ujung lorong dan langsung berdiri dihadapanku.

Buk….

Sebuah pukulan mendarat dirahangku. Rasa perihnya tak aku pedulikan. “Jika sampai terjadi sesuatu dengan adikku, aku tidak akan memaafkanmu!” aku mengerti rasa sakit yang dirasakannya. Dia pasti lebih menderita dibanding denganku. Aku menerima semua perlakuan ini karena aku pantas mendapatkannya. Tatapan tajamnya sangat menusuk, namun pikiranku hanya tertuju pada Hyeri, apa dia akan baik-baik saja?

Ibu Hyeri datang dan memelukku erat. Aku semakin terisak dan menyalahkan diriku yang tak mampu menjaga Hyeri. Perasaanku bernar-benar hancur. Aku merasa sudah tak sanggup lagi untuk hidup.

#flashback off

“Jongdae-yah! bangunlah” ku dengar suara Kyungsoo memanggilku. Terus memanggilku. Hingga aku membuka mataku dan mendapati langit-langit yang berwarna putih. Teringat kembali memori yang ingin ku lupakan itu membuatku semakin dihantui oleh rasa bersalah. Kenapa aku harus masuk ke danau saat itu? Jika saja aku tetap di tepian bersama Hyeri, ia tak mungkin celaka! Aku mengutuk diriku yang tak mampu menjaganya. Kyungsoo menepuk bahuku, merangkulku, membuatku semakin terisak dan menangis.

3 bulan kemudian,

Hari ini, aku datang padamu−Hyeri-ah, bersama dengan sahabat-sahabat kita, kedua orang tuamu di rumahmu. Aku tidak lagi bersedih Hyeri-ah. Tidak lagi dan tidak akan pernah. Aku datang kemari mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Do`a ku agar kau selalu bahagia. Aku sungguh takkan menangis lagi. Kau sudah mengisi bagian hatiku yang kosong, aku benar-benar mengucapkan terima kasih. Terima kasih telah menemani hari-hariku. Namun, sejujurnya rasa bersalahku padamu begitu besar. Aku mulai berpikir lagi, apa kau mau memaafkanku? Aku harap jawabanmu, iya.

Meskipun aku berusaha meyakinkan diri, namun semua tak sama seperti dulu. Kau tahu? Setiap malam ku tetap sama, seperti saat kau belum meninggalkanku. Hatiku memberontak! Mengapa semua ini terjadi padamu? Sulit menjalani hidup tanpa kehadiranmu. Dengarkan aku, Hyeri-ah! setiap malam yang ku lalui, aku merasa kehilanganmu. Meskipun kau tidak di sampingku lagi. Meskipun aku tak mampu melihatmu sekarang, hatiku takkan berubah. Aku masih berharap kau kembali padaku, karena aku yakin, hatiku masih ada dalam dirimu.

***

Ini tempat yang pernah kita datangi dulu bukan? Danau seluas lapangan sepak bola dengan bunga kuning setia melengkapi keindahan disini. Aku berdiri disini, di ujung jembatan kayu mini, tempat dimana setiap perahu akan menepi. Aku berteriak keras memanggil namamu

“Hyeri-ah!!!”

Hyeri-ah! aku akan datang padamu. Kau tahu, aku kesepian tanpamu. Kita sudah bersama sejak kecil dan aku rasa aku tak sanggup bila tak bertemu denganmu.

Byur…

Aku sengaja melepas semua energi ku, agar aku bisa bertemu denganmu. Hyeri-ah! Apa kau baik-baik saja disana? Aku harap kau tak bersedih melihat kondisiku. Kau selalu datang dalam mimpi disetiap malamku.  Kau ingat Hyeri-ah, kebiasaanmu adalah selalu menangis dibalik rintik hujan. Aku selalu memayungi dirimu dengan segenap hatiku karena aku khawatir padamu. Kau tahu bagaimana aku tidak bisa dengan mudah melupakanmu hanya karena aku tak bisa melihatmu. Setiap waktu aku kesulitan tanpamu. Aku terus mengosongkan tempatmu sehingga aku bisa melupakanmu, tapi semuanya hanya terisi dengan keputusasaan. Bayanganmu dari sebelumnya masih ada dalam diriku dan tidak butuh waktu yang lama, sampai kita bertemu lagi di tempat dimana tidak akan ada lagi kata selamat tinggal.

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Missing You (Oneshot)

  1. Nangis? Ini.. Duh ceritanya nyesek banget, sedih, nangis juga 😭😭😭😭😭

    Duh jongdae oppa gx ada cara lain apa selain bunuh diri? 😭

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s