[EXOFFI FREELANCE] 12.30 (Oneshot)

12-30

12.30

Tittle                : 12.30

Author             : Angestita

Length             : Oneshot

Genre              : Angst

Rating             : PG – 13

Main cast         : Oh Sehun (EXO) – Baek Su Min (OC)

Summary         : Sehun berusaha mati-matian mencuri waktu agar dapat bertemu dengan pujaan hatinya. Namun saat Tuhan memberikan kesempatan itu, bunga yang tumbuh mekar di hatinya mendadak layu dan berguguran.

Disclaimer       : Karya ini adalah karya yang sederhana tetapi murni dari pikiranku. Aku tidak mencontoh karya milik orang lain. Aku berharap kalian dapat melakukannya juga. Jika ada kesamaan alur dan tokoh mutlak unsure ketidak sengajaan. Aku berharap kalian bersedia meninggalkan jejak. Terimakasih atas waktu yang kalian luangkan untuk membaca karyaku. Semoga kalian dapat menikmatinya.

Author’s note  : Aku merekomendasikan kepada kalian untuk terlebih dahulu membaca cerita dengan judul 07.30 yang di post minggu lalu pada tanggal 15 September 2016 di EXOFFI agar dapat mengikuti alur cerita dengan baik. Terimakasih atas perhatiannya.

“She don’t love me – Artificial love (EXO).”

12.15 – 1 Gwanak-ro, Gwanak-gu, Seoul.

Sehun merasa menyesal harus datang sebagai pembicara di acara seminar yang universitas terkemuka itu adakan. Keinginan untuk bertemu dengan pujaan hatinya mulai meragu termakan waktu. Ini adalah jam makan siang, seharusnya mahasiswa sudah menyelesaikan kelasnya tetapi kenyataan itu sepertinya tidak berlaku untuk kelas yang wanita itu ambil. Tak ada tanda-tanda wanita pujaannya akan berada di kantin itu padahal Sehun sudah lama menunggunya.

Pria bermata hitam tajam itu terlihat memutar pandangan matanya, menelusuri ruangan luas nan padat itu dengan tatapan berharap. Berharap wanita bersurai hitam itu ada disana. Di salah satu pintu kantin tengah mencarinya. Tetapi setelah matanya menelusuri dengan detail setiap sudut ruangan itu tak kunjung juga pujaan hatinya menampakkan batang hidungnya. Seolah wanita yang baru di temuinya pagi tadi hilang tertelan lautan manusia.

Pria itu mendesah sedih, tangannya enggan meraih sendok dan garpu yang sudah tertata rapi di hadapannya lagi. Ini yang membuat Sehun merasa sedih,  ketika jarak di antara mereka tak terbentang cukup jauh pertemuan seolah tak memberikan mereka kesempatan. Membuat hatinya kembali menunggu pagi yang akan datang -sepuluh jam lagi. Menguji kesetiaan hatinya yang mendamba wanita itu. Sehun pernah merasa lelah namun rasa itu memudar detik berikutnya ketika ingatannya kembali ke kenangan yang sudah dia buat tentang masa-masa yang mereka lalui setiap pagi. Ketika wanita itu menyajikan sarapan pagi untuknya. Walau kenangan itu sederhana di mata orang lain bagi Sehun, kenangan itu bermakna.

Sehun sudah tenggelam terlalu dalam mencintai Su Min dan tak ingin segera mengakhiri penyelamannya. Memutuskan berhenti sama saja tindakan membunuh dirinya sendiri. Begitu lah Sehun jika dirinya terlanjur basah maka dia tak tanggung-tanggung untuk menyelam hingga titik terdalam. Sekalipun itu menaruhkan hati dan nyawanya.

Pria itu menikmati keributan yang anak-anak muda buat di depannya tanpa berniat untuk larut dalam aktivitas itu. Pria itu memilihkan menyibukkan diri dengan pikirannya sendiri. Pikiran tentang sang pujaan hati yang tak kunjung tiba. Selama yang pria itu dengar dan tahu Su Min adalah pribadi yang sederhana dan tertutup. Di kampus saja dia hanya dekat dengan seorang wanita. Seorang wanita yang menyukainya setengah mati –kata orang.

Seandainya wanita yang menyukainya setengah mati itu adalah Su Min apakah perjuangan hatinya akan berujung dengan kemenangan? Kemenangan memiliki wanita itu dengan pengertian yang sebenarnya. Tapi bukankah kenyataan tak selalu semanis harapan? Selalu ada rasa pahit yang tertinggal. Rasa yang mau tidak mau dia cecap dan nikmati rasanya. Mungkin hatinya sudah tak mampu membedakan rasa pahit itu dengan rasa manis. Karena menurutnya rasa pahit serasa dengan rasa manis.

Sekilas matanya yang tanpa sengaja melirik pantulan dirinya di layar ponsel, dapat melihat dengan jelas gurat sedih itu di wajahnya. Gurat yang menemaninya ketika menunggu waktu pertemuan mereka. Gurat wajah yang menemani malam-malamnya selama ini. Gurat wajah sendu, putus asa sekaligus berharap. Gurat yang kadang tak mudah orang dapatkan ketika bertemu dengan dirinya. Gurat wajah yang menjadi titik kelemahannya. Karena gurat itu menyimpulkan perasaannya yang terdalam kepada sang pujaan hati.

Lima belas menit berlalu dan wajah cantik dengan rambut hitam itu terlihat memasuki kantin. Mata pria itu mengikuti arah pandang sang gadis yang masih mencari tempat untuk dia duduki.  Di belakangnya mengekor seorang wanita berambut pirang dengan penampilan yang modis. Sehun berusaha untuk terlihat di mata wanita pujaannya namun niat itu tak terbalas. Wanita itu tak mengetahui ke beradaannya dan memilih duduk memunggunginya. Sehun menelan rasa sedih itu lagi. Lagi-lagi kesabarannya di uji.

Dalam diam itu, pandangannya tak berniat berpaling dari punggung rapuh itu. Dia ingin merengkuh punggung itu ke dalam pelukannya. Melindungi wanita itu dari bahaya apapun. Menjaganya dan memberikan banyak kasih sayang yang mungkin tak pernah dia dapatkan dari kedua orang tua wanita itu yang lebih dahulu meninggal dunia. Sehun bersedia melimpahi kebahagian wanita itu dengan seluruh hidupnya tanpa sisa. Dan pria bersurai hitam itu sangat yakin dengan keputusannya.

Sehun menikmati setiap gerakan yang wanita itu buat walau masih dalam posisi yang sama –memunggunginya. Samar-samar dia dapat mendengar tawa renyah wanita itu. Yang pria itu kenal Su Min jarang sekali tertawa ketika sedang bekerja di rumahnya. Hanya senyum lebar yang dia tampakkan. Dan ketika Sehun di beri Tuhan sebuah kesempatan untuk melihat tawa lepas itu hatinya seperti tersiram es. Menyejukkan dan terasa damai.

Namun pria itu lantas sadar akan sesuatu. Su Min yang tidak pernah tertawa lepas selama bekerja di rumahnya membuatnya tersadar akan sebuah fakta. Fakta yang melelehkan kesejukkan itu. Entah itu nyata atau memang berasal dari pendapatnya, menurut Sehun wanita yang sudah bekerja di rumahnya selama kurang lebih tiga tahun itu sepertinya tertekan. Tertekan dengan peraturan yang berlaku di rumah itu. Tertekan dengan bosnya –Bibi Jung. Sebuah harapan melayang pelan dari bibir tipisnya semoga selama wanita pujaan hatinya itu bekerja di rumahnya dia sama sekali tak tertekan dengan keberadaannya. Semoga pria itu tak takut dengan dirinya. Semoga saja.

Suasana kantin mulai lebih ramai dari sebelumnya. Ruangan luas itu sedikit terasa sesak ketika segerombol mahasiswa mulai membuat aksi untuk menarik salah seorang wanita. Sehun memandang rendah ke arah sekumpulan laki-laki beranjak dewasa itu yang mulai memulai orasinya mendapatkan hati sang pujaan hati. Terlalu frontal dan norak –tidak sesuai kriterianya. Sangat memalukan di lakukan oleh mahasiswa SNU. Jika Sehun sedang dalam tahap ‘tidak berbaik hati’ dia pasti akan mengeluarkan mahasiswa itu dari kampusnya. Sayangnya hati Sehun tengah mekar-mekarnya akibat dari bertemu dengan pujaan hatinya yang  membuatnya enggan membantai pemuda itu.

“Aku mencintaimu, Baek Su Min. Mau kah kamu menjadi pacarku?”

Sehun membanting pelan sendok yang dia gunakan untuk makan di atas permukaan meja membuat suara bedebam lembut. Namun tindakannya itu tak bisa mengalihkan perhatian orang-orang  yang terfokus dengan pria gila itu. Beberapa orang mulai bersuara meminta pujaan hatinya untuk menerima permintaan gila sang pria yang tak tahu malu menembak wanita di depan umum. Melupakan sopan santun dan etika yang seharusnya dia gunakan.

Untuk dua menit kedepan masih tak terlihat tanda-tanda sang wanita akan menerima pria itu. Wajah wanita itu terlihat sedikit gundah walau masih berbalut raut datarnya, membuat orang-orang yang berada di sekitar mereka menunggu dengan hati berdebar dan perasaan penasaran. Sehun tak berhenti berdoa semoga saja pujaan hatinya menolak tawaran pria itu. Suasana semakin panas di menit ketiga ketika orang-orang yang mulai bersorak lebih banyak agar wanita itu bersedia menerima tawaran dari pria itu. Mengikis kesabaran yang Sehun miliki.

Di menit ke empat masih tidak ada tanda-tanda wanita itu akan menerima atau menolak permintaan sang pria. Sehun sudah berdiri dari duduknya. Gerakan yang pelan namun mampu membuat sekretarisnya berdiri kaget. Pria itu melangkah dengan pelan menuju meja wanita itu berniat menghampiri pujaan hatinya dan membawa wanita cantik itu keluar dari kantin.

Di menit ke lima sebuah suara lembut itu terdengar lepas dari bibir tipis Su Min. Mengantarkan jutaan pisau tajam  ke hati Sehun. Membuat pria tampan itu terpaku di tempatnya berdiri. Merusak medan tempat Sehun berpijak saat itu.

“…aku menerimamu.”

Jantung Sehun berhenti berdetak detik itu juga. Udara di tempatnya berdiri seperti tersedot menjauh darinya. Pria itu merasa sesak yang menghimpit paru-parunya. Merasa perih yang menjalari perasaannya. Sehun ingin jatuh pingsan saat itu juga berharap ingatan itu hilang dari otaknya. Berharap kejadian itu tak pernah terjadi. Mana mungkin wanita yang Sehun cintai setengah mati selama tiga tahun terakhir ini memutuskan pilihannya dengan seorang pria labil seperti dia. Sehun merasa kecewa dan terhina.

Sorak sorai di kantin itu kian menjadi ketika Su Min telah menyelesaikan ucapannya. Seperti menertawakan seorang Oh Sehun yang kalah dalam pertarungan memperebutkan seorang wanita dengan pemuda norak seperti pria itu. Ketika sorak sorai itu kian menjadi, Sehun melanjutkan langkahnya meninggalkan kantin itu tanpa mau menoleh lagi. Meninggalkan jam makan siangnya yang belum selesai. Meninggalkan pujaan hatinya… meninggalkan separuh nyawanya disana…

Sehun pergi tanpa ingin kembali. Pergi dengan hati yang layu. Seharusnya pria itu sudah melamar Su Min sebagai istrinya dari dulu sehingga kejadian ini tak mungkin terjadi. Seharusnya dia tak perlu memilih-milih waktu agar Su Min aman dari jangkuan musuh gelapnya. Seharusnya pria itu berani bertindak selayaknya pria yang tertarik dengan wanita bukan hanya cukup memandang Su Min menyajikan sarapannya atau jika bertemu di tengah jalan. Seharusnya dia memberikan kepastian…

Sehun merasa kesal, sedih dan kecewa. Kesal karena terlambat bertindak untuk mendapatkan hati pujaannya. Sedih karena merasa terkalahkan bahkan sebelum pria itu berperang. Kecewa karena tidak bisa merubah fakta itu.

Hati pria itu berguguran… meninggalkan kesepian yang  panjang…. Meninggalkan hatinya bersama kebahagiaan wanita itu…

 

2 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] 12.30 (Oneshot)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s