[EXOFFI FREELANCE] Sederhana (Oneshot)

sederhana

 

Sederhana

For CHEN BIRTHDAY PROJECT

Genre: Fluff, sad

Rated: T

Length: Oneshoot

Cast(s): Kim Jongdae, Jung Aeri

Author: @kindlychan

Synopsis: Jung Aeri merasa hubungannya dengan kekasihnya, Jongdae, sangat membosankan. Terutama karena kekasihnya yang harusnya bersikap perhatian malah lebih datar daripada sebuah tripleks.

‘Hari ini, harus putus!’

 

 

 

 

 

 

 

 

Namaku Jung Aeri. Wanita paling sial sedunia.

Pacarku, Kim Jongdae, adalah pria paling sederhana yang pernah kukenal. ‘Sederhana’ di sini bukan berarti suatu hal yang bagus. Jongdae tak pernah menghamburkan uang untuk sekadar kesenangan, kadang bahkan ia enggan membeli sesuatu di kantin. Pelit? Mungkin juga.

 

Tepat empat bulan yang lalu, seperti dirasuki suatu roh, dengan beraninya aku menyatakan ‘aku menyukaimu’ pada pria es itu seusai sekolah. Saat itu hujan dan dia menutupi kepala kami dengan jaket yang dia ambil dari tubuhku. Itu aneh. Tapi aku menyukainya. Entah kasihan atau apa, kami telah bertahan selama empat bulan. Bukan suatu hal yang mudah dijalani, berpacaran dengan orang yang bahkan tak pernah mengirimimu pesan terlebih dahulu, menyetujui ajakkanmu pergi, menyapamu di koridor bahkan tak pernah membalas pernyataan cintamu.

Sekadar hal kecil yang membuatku bertahan, Jongdae selalu menempelkan memo kecil berwarna kuning di mejaku, pengingat makan siang. Tak pernahkah kau bayangkan betapa sialnya diriku?

 

Bagaimana bisa ada orang yang hanya menjawab “Kau ingin putus? Baiklah” saat kekasihnya bertanya hanya untuk ‘pancingan?’ Atau jawaban penolakan seperti “Untuk apa pergi ke pusat perbelanjaan disaat ada banyak novel bagus di perpustakaan? Untuk apa makan di kafe? Kue beras Bibi Nam jauh lebih enak” atau bahkan saat kutanya kado apa yang diinginkannya sebagai hadiah ulang tahun, dia menjawab “Barang baru itu kan tidak harus selalu baru. Kau telah buta akan arti baru, Aeri,” dan ia akan melanjutkan percakapan kami dengan berbicara hal panjang dan tidak penting bagiku.

 

Kami tak pernah terlibat suatu pertengkaran yang serius, kecuali sekali ketika aku melihatnya tertawa dengan si kapten cheers sekolah, Lee Minsae. Yah, Jongdae jarang tertawa karenaku. Jika aku mencoba melontarkan lelucon, ia hanya bertanggap, “Kau itu terlalu kekanakkan, Aeri,” dan aku –yang menghindari pertengkaran– seraya menjawab “Kuanggap itu sebagai pujian. Terima kasih, aku juga mencintaimu,” walau aku tahu bahwa ia hanya akan menanggapi dengan senyuman, bukan balasan cinta.

 

Aku mungkin sudah gila.

Jongdae hanya cinta kumpulan novelnya. Hal yang biasa dianggap sampah bagi banyak orang. Entah apa serunya membalikkan berlembar-lembar tulisan hitam tanpa gambar. Tetap saja aku mencoba mengerti. Sekali waktu, aku mencetak sendiri novel yang kubuat susah payah tentang kami berjudul “Kim Jongdae, Pacarku!” tentu saja khusus untuknya.

“Jongdae-ya! Tebak apa!” berseri, aku menyembunyikan novel karanganku di balik punggungku. Ia hanya tersenyum. “Aku mencetak novel! Yah, memang tak seperti novel biasa yang kau baca, sih… tapi, kuharap kau menyukainya!” ujarku seraya menyerahkan novel bersampul biru itu.

“Oh ya? Selamat,” jawabnya, melempar senyum.

Memang, kan. Sudah kuperkirakan. Ia memang takkan bilang apapun kecuali selamat dan senyum.

Maksudku, apa susahnya, sih? Aku tidak minta pria yang tampan. Tidak yang kaya, yang setiap hari menraktirmu di kantin dan harus mengantarmu pergi kemanapun kau pergi dengan mobil mewah. Aku hanya minta yang pengertian –apa aku salah?

 

Sepertinya, hari ini aku benar-benar harus mengakhirinya.

Aku datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Kelas dimulai satu jam dari sekarang, dan tentu saja sangat mudah menemukan Jongdae dengan setumpuk novelnya karena hanya ia satu-satunya orang yang sudah duduk di kelas.

“Kim Jongdae, kita perlu bicara,” ujarku tanpa basa-basi.

“Oh, Aeri? Kau datang lebih pagi dari biasanya? Ngomong-ngomong, selamat pagi,” sambutnya dengan senyuman hangat.

 

“Aku lelah, Jongdae,” senyumnya perlahan memudar.  “Kau ini sebenarnya serius dengan kita atau tidak? Tidakkah kau mendengar pembicaraan seisi sekolah tentang kita? Jongdae-ya, menurutmu ini main-main? Kau tidak pernah mengirimiku pesan terlebih dulu, menyapaku di koridor, menyetujui ajakkanku untuk pergi. Kau bahkan tidak pernah membalas setiap ‘aku mencintaimu’ yang aku ungkapkan! Sadarkah? Hubungan macam apa ini? Bahkan saat aku mencetak novelku untukmu, menyingkirkan kefokusanku untuk serius belajar kedokteran sementara kau hanya membalasnya dengan ‘selamat!’ Apakah itu yang namanya pacaran untukmu? Dan satu lagi, kau tak perlu menempel memo di mejaku untuk mengingatkanku makan siang karena tentu saja AKU AKAN MENGINGATNYA! Kau pikir aku punya penyakit alzheimer akut? Ah, Kenapa jadi seperti ini, sih? Hidupku rasanya tergantung padamu, Jongdae! Argh, sudahlah. Kupikir kita memang tak ditakdirkan bersama,” aku melangkah ke luar kelas. Haruskah aku menunggu? Kakiku tak ingin beranjak. Baiklah, lima detik kurasa tidak masalah.

 

1… 2… 3… 4… 5… 6… 7…

Enam puluh. Enam puluh detik sudah kuhitung, tapi Jongdae kedengaran sama sekali tidak beranjak. Ayolah, Aeri. Kau bebas! Kau harusnya senang sekarang!

 

 

 

Pukul tiga sore. Satu jam lagi pelajaran akan berakhir.  Aku berfirasat telah melupakan sesuatu… sesuatu yang penting. Tapi apa?

Kuputuskan untuk membereskan mejaku. Toh sedikit lagi pulang. Ketika hendak memasukkan buku sejarah, secarik kertas memo menyembul diantara buku sejarah dan buku biologi. Sedikit terlipat, disembunyikan mungkin.

 

 

       Jangan lupa makan siang.

                                 -Jongdae

 

Dan entah mengapa secara tiba-tiba, dadaku terasa begitu sesak.

Benar, aku melupakan makan siangku.

 

Bel pulang berbunyi ketika arlojiku menunjukkan angka empat. Rasa lapar kuhiraukan begitu saja. Di luar sedang hujan deras disertai dinginnya yang menusuk kulit.

‘Dia’ pasti tidak bisa pulang. Dengan perasaan yang meluap, aku berlari keluar kelas sekitar sepuluh detik setelah Jongdae pergi, jadi aku hanya bisa melihat sisi sampingnya dari kejauhan. Ia tidak terlihat tersenyum seperti biasanya… karenaku?

Kalau sudah begini, aku tahu satu-satunya tempat yang mungkin saja ia kunjungi. Si perpustakaan dengan sejuta ilmunya yang membosankan.

 

Kau tak perlu mengingatkanku untuk makan siang karena tentu saja aku akan mengingatnya!

Sial. Kata-kata itu benar-benar masih membekas di kepalaku. Setengah lari, sepatuku mencipratkan genangan-genangan air hujan yang terus menetes. Seberapa kumalnya kakiku sekarang? Tapi aku tak peduli. Untungnya pacarku itu sangat sederhana. Kotor atau tidak, perasaannya akan terus sama terhadapku, bukan? Ah, aku jadi ingin cepat-cepat bertemu dengan Jongdae.

Tersenyum seperti orang bodoh, aku baru saja ingat.

Apakah aku dan dia… masih pacaran?

 

Sampai di depan perpustakaan, Song Seonsaengnim yang terlalu peduli pada penampilannya mengejutkanku dan mencegatku untuk masuk ke dalam.

“Mencari apa, Aeri? Perpustakaannya baru saja di tutup lebih pagi. Penjaga perpustakaan tua itu tahu saja aku sedang asyik memoles bedak. Aih, jadi belum rata, ya? Jawab jujur, Aeri-ya! Astaga, wajahku! Bedaknya baru dua lapis! Aduh, toiletnya ke kanan atau ke kiri, sih?” ujarnya berbicara sendiri, sambil membuka kaca make-upnya dan berjalan ke arah toilet yang salah.

Ia pakai bedak berapa lapis, sebenarnya?

 

Yah, Aeri! SADARLAH! KAU SEDANG MENCARI JONGDAE!

Berarti ‘dia’ tidak ada di perpustakaan. Hatiku jadi makin cemas, jantungpun terasa berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya. Perasaanku makin meluap, kucari di seluruh penjuru sekolah, dan menemukannya di sudut balkon sekolah, kedinginan terbius derasnya hujan.

 

 

“Err… Jongdae?” panggilku. Ia menoleh. Kuharap hujannya bertahan lama.

“Oh, h-hei, Aeri? A-aku, maksudku, mungkin tadi aku lupa bilang, aku—”

Aku sedikit menunduk. Merasa sudah keterlaluan, aku membiarkannya bicara sampai selesai.

 

“M-maaf,” lirihnya. Aku terdiam di sebelahnya. Menatap kelabunya langit serta petir-petirnya yang menyambar.

Zeus sepertinya sedang marah padaku.

 

Kami sama-sama terdiam, sebelum ia memecah keheningan yang membuncah diantara kami.

“Kalau aku adalah matahari, kau tidak boleh menjadi bunga matahari yang selalu bergantung padaku kemanapun kupergi. Kau haruslah jadi langit. Tempat aku bernaung, tinggal, menyerap kehangatan, dan hidup bahagia dibawah pengawasanmu.

Sadar atau tidak, aku benar-benar mencintaimu lebih dari apa yang kelihatannya selama ini, meski yang kelihatan hanya sebatas catatan kecil di meja. Rasanya sangat sulit untuk diungkapkan, bagiku. Karena kau adalah yang pertama. Biarpun kau adalah orang yang keras kepala, dingin dan kadang menyebalkan, aku benar-benar bersyukur karena kau sangat peduli padaku.

Kupikir, ‘pacaran’ di pandangan orang lain hanyalah sebuah kesenangan belaka, tapi kau bisa menerimaku apa adanya dan sebenarnya… aku tidak tahu kalau ucapan selamat sama sekali tidak berarti bagimu. Aku yakin, suatu saat, kau pasti berhasil menjadi dokter yang handal. Dan ya, menurutku, inilah ‘pacaran.’ Aku tahu kita memang punya sejuta perbedaan, tapi sebetulnya aku malah berharap perbedaan itulah yang menyatukan kita.

Ah, tapi, aku tidak berharap hal yang lebih. Maksudku, kau punya impian. Dan harapan. Aku haruslah menjadi tembok diantaramu dan cita-citamu, bukan? Orang seperti aku. Yang hanya suka baca novel dan mengetik puisi. Bukan yang main basket. Yang pakai skuter, bukan mobil mewah. Yang lebih suka mengajak pacarnya ke toko buku daripada pusat perbelanjaan. Yah, walaupun begitu, aku ingin kau mendengarkan ini:

Aku tak pernah dekat dengan wanita manapun sedekat aku denganmu, tidak Lee Minsae, atau siapapun. Terima kasih untuk empat bulan yang mengesankan, untuk mengorbankan jaketmu demi melindungi dirimu sendiri dan juga aku dari rintik hujan, meskipun sebenarnya aku tidak perlu melakukan hal itu, kan? Memalukan untuk hari pertama. Seperti bukan laki-laki. Ah, dan aku masih ingat betul. Kau bilang waktu itu cuacanya dingin, jadi aku harus menggenggam tanganmu erat-erat. Tapi kubantah dan kubilang mataharinya masih bersinar cerah. Kupikir kau akan bersikeras, tapi ternyata kau mengalah. Yah, aku ingin kau tahu sebenarnya waktu itu memang aneh untukku menggenggam tangan orang yang tak biasa kugenggam, tapi sekarang, aku sangat senang menggenggam tanganmu.

Aaah, ingin bilang apalagi, ya? Rumit digambarkan dengan kata-kata, sih! Oh, iya. Terima kasih untuk tak pernah melakukan hal-hal yang tak kusukai. Aku ingin mengenal duniamu lebih dalam sebenarnya, kalau kau tidak keberatan. Aku hanya benar-benar mencintaimu karena Tuhan. Bukan karena harta atau yang semacamnya seperti apa yang dibicarakan seisi sekolah. Kau sangat baik, terima kasih karena kau tak pernah menyerah untukku. Kau pasti akan mendapatkan apa yang lebih baik. Jika memang kau ingin pu—“

 

“Tentu saja tidak! Apa yang lebih baik itu sudah maksimal dalam dirimu! Orang macam apa yang berani memutuskan pacarnya yang begitu baik? Demi Tuhan, Aeri! Aku bodoh sekali! Calon dokter macam apa aku ini,” Jongdae mulai tersenyum lagi. “Lagipula kupikir ada sebuah buku yang bilang bahwa cinta tak perlu mengatakan maaf? Sebentar, judulnya….”

Irreplaceable, halaman empat puluh lima,” ujar kami bersamaan.

“Kau baca itu?”

“Kau yang menyuruhku? Yah, lumayan. Termasuk dalam deretan best of the best yang pernah kubaca,” aku tersenyum.

Jongdae menunduk lagi dan keadaan berubah hening, lagi.

Tapi tunggu, memikirkan ‘pidato’nya yang panjang tadi, apa dia baru saja bilang ‘aku mencintaimu?’ Rasanya seperti mimpi. Apa ini rasa yang orang banyak bilang terharu? Kupu-kupu terbang di perut? Entahlah, aku bahkan tidak menyangka orang sepertinya bisa ingat secara detail peristiwa yang terjadi empat bulan belakangan.

Bagaimana ya… kalau kubiarkan airmata ini menetes, rasanya tidak kelihatan seperti wanita yang kuat.

 

“Yah. Kalau kau kenal seseorang yang bernama Jongdae dari keluarga Kim, tolong sampaikan padanya. Jangan menerima pernyataan cinta dari wanita yang nantinya hanya akan membuatnya menyesal. Jangan mau pacaran dengannya karena nantinya wanita itu akan meminta banyak hal dan itu hanya akan berujung sakit hati. Jangan mau mengambil jaket baunya lagi. Jangan meneteskan airmata karena sikapnya yang egois dan tidak tahu diri ini. Andai saja ia bisa mengulang, bilang padanya untuk mencari cinta pertama yang lebih baik. Andai saja ia bisa mengulang…”

“Jongdae bilang andai saja ia bisa mengulang, ia akan memulainya lagi dengan senang hati dari awal. Memperbanyak sapaan di koridor dan ia akan membalas tiap ‘aku mencintaimu’ yang keluar dari bibir pacarnya itu,” Jongdae menyimpulkan senyum tipis. “Ngomong-ngomong, novelmu adalah yang terbaik, Aeri! Aku baca,”

Aku tersigap. “Kalau dilihat-lihat memang terlalu konyol, betapa kekanakannya seorang wanita SMA merengek pada pacarnya untuk disapa ditengah koridor,” tawaku. “Ngomong-ngomong juga, terima kasih. Kau membacanya juga?”

Ia mengangguk. “Lagipula bukan salahmu, kok. Harusnya kau bilang dari awal! Mana ada orang didunia ini yang berpacaran namun tak pernah bertukar sapa di koridor?  Yaampun, Aeri, jangan-jangan pacarmu itu abnormal! Dan orang mana yang bahkan tidak menelepon atau memberikan pacarnya pesan singkat terlebih dahulu?Aeri-yah, pacarmu benar-benar kuno. Apa dia tidak mengerti cara memulai berbagai panggilan di ponselnya? Putuskan saja dia! Kenapa kau masih mencintainya?” Jongdae menatapku, penuh cibiran.

“Dua hal. Karena Tuhan, dan kesederhanaan,” jelasku. Pandangan kami bertemu dan sesaat dua garis bibirku tertarik untuk tersenyum. “Maaf tak bisa menghindari pertengkaran kita,” sesalku.

“Kupikir baru saja kau menegaskan bahwa cinta tak perlu berkata maaf, Nyonya Kim?” ia tertawa. Kali ini, bukan tertawa garing karena lelucon kekanakan.

“Haruskah kubuat sequel novelnya?” tanyaku, memikirkan judul novel yang bagus untuk novel selanjutnya.

Jongdae mengangguk. “Karakter sebelumnya kurang memenuhi batas kesederhanaan!”

“Ayeee, kapten!”

“Yah, Aeri, ayo pergi ke kafe merayakan terbitnya novelmu yang belum sempat kita rayakan!” ajaknya.

“Untuk apa? Kue beras Bibi Nam sepertinya lebih enak,” balasku. Bibi Nam adalah pemilik kios kue beras diujung jalan sekolah.

“Kalau begitu, ayo ke kios Bibi Nam!” ujarnya seraya menarik tanganku.

“Jongdaeeeee, Tapi hujann,”

“Kalau begitu, kita hujan-hujanan bersama. Dengan begitu kita akan terserang flu bersama. Lalu kita akan membolos sekolah bersama, pergi ke dokter bersama, dirawat di rumah sakit bersama. Dan… mengikuti pelajaran tambahan bersama! Ah, manisnya!” serunya.

“Kau ini!” aku memukul pelan tangannya. Ternyata Jongdae bisa romantis juga.

“Kupikir satu jaket cukup untuk berdua. Kali ini jaketku. Cepatlah sebelum hujannya bertambah deras, aku tahu kau telah melewatkan makan siangku!” ujarnya seraya melepas jaket yang ia kenakan. Kali ini, diriku hangat dalam dekapannya agar tidak terpisah lagi.

 

Sederhana sekali, bukan?

Sepertinya harus kuralat ucapanku.

Namaku Jung Aeri, dan aku adalah wanita paling beruntung sedunia.

 

Bahagia itu sederhana.

Cukup melihat orang lain bahagia,

Rasanya tuntutan bahagia kita sendiri sudah terpenuhi.

Atau coba saja berduaan dengan kekasihmu di bawah deru hujan, dan lihat senyumnya.

Dan kesederhanaan ini justru membuat segalanya lebih sempurna.

Kesederhanaan itu bukanlah sesuatu yang kita peroleh;

Melainkan sesuatu yang kita lakukan untuk membuat orang lain bahagia.

Ada satu hal yang membuatku lebih bahagia dari apapun,

‘Dunianya,’                                                                               -@kindlychan-

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Sederhana (Oneshot)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s