[EXOFFI FREELANCE] Saranghae Mr.Oh – (Chapter 1)

161508-saranghae-mr-oh.png

SARANGHAE MR. OH

[] CHAPTERED [] T [] OH SEHUN [] JUNG NAMI [] BYUN BAEKHYUN [] ROMANCE [] SCHOOL LIFE []

[STORY BY JASONB]

|| This is my work. The cast is my mine. Sorry for typo’s. Don’t copy without my permission. Don’t judge me. Any art or story is my mine. I don’t plagiarize property of others people. ||

.

.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Mungkin itu pepatah paling pas untuk seorang Jung Nami, gadis dengan segala tingkah barbar-nya.

.

.

.

Nami Side

Sudah berapa jam aku di sini? Satu sisi aku merasa gembira sebab terbebas dari pelajaran membosankan di kelas. Tapi sepertinya salah satu dari jutaan hati nurani merasa resah. Sekarang aku bahkan berada dalam delima tingkat dewa. Jebal, hanya hari ini. Aku hanya ingin merefresh otak ini sejenak, tidak lama.

Suara suttlecock beradu dengan jaring raket mengisi ruangan latihan siang ini. Menemaniku dengan suara khasnya yang dikenal semua orang. Setiap mendengarnya, bagian dari neuronku seakan mengintruksiku untuk lebih keras lagi memukulnya hingga tenaga ini habis dan bulir bening dari kulit ini mengucur deras.

Kulirik sekilas papan angka di atas sana, satu poin lagi maka aku akan mengalahkan musuh sekaligus rekanku. Aku menyeringai, sebuah umpan yang malah membuatnya jatuh dalam kubangan-pikirku. Segera aku mengambil ancang-ancang, lalu sedikit mengudara untuk melakukan smash mematikan yang ku kuasai.

Satu, dua, dan bam! Aku berhasil. Detik berikutnya pendaratan sempurna dariku. Argh…ada apa dengan kakiku? Sekon selanjutnya rasa sakit mulai menjalar sampai relung hatiku. Aku tak dapat menahanya. Aku roboh seketika.

Jisoo, ia berlari ke arahku. Raut wajahnya benar-benar menunjukan kepanikan.

“Kau tak apa?”

Gadis itu sedikit menekan area sakit di kakiku. Aku menggigit bibirku pelan berusaha menahan rintihan menyakitkan yang hendak keluar tanpa kuinginkan.

“Sepertinya aku harus panggil pelatih.” ucapnya tanpa bisa kutolak.

Disinilah aku sekarang dengan pelatih – yang lebih pantas kupanggil saem – sebuah ruangan bernuansa serba putih. Di depanku duduk seorang dokter tengah menimbang-nimbang kalimat yang tepat untuk menjelaskan keadaan kakiku saat ini.

Dokter pria itu menghela nafasnya, cukup panjang dan berat. Batinku mengatakan sesuatu yang buruk – yang tak pernah aku inginkan – akan terjadi.

“Sendimu bergeser bahkan sedikit saja kau terlambat, mungkin tulang-tulangmu akan bergesekan secara langsung.”

Aku menghela nafas, cukup lega. Setidaknya kecelakan kecil tadi tak jadi penghambatku ikut olimpiade. Ingin rasanya aku selonjoran lega.

“Kakimu butuh istirahat untuk menyembuhkan cederanya.”

“Bagaimana dengan olimpiade-nya, dokter?”

Dokter di depanku menunduk membuatku mawas diri. Rasanya aku tidak ingin mendengar penuturan selanjutnya. Ia lantas mendongak pelan, raut wajahnya sedikit berubah – benar-benar membingungkan diriku.

“Cedera Nami sudah masuk tingkat akhir, akan sangat lama untuk mengobatinya. Sekitar enam bulan untuknya istirahat dan juga perawatan. Jangan pernah melakukan latihan ataupun segala hal yang bertumpu pada kakimu.”

Aku terbelalak tak percaya, ingin sekali kulayangkan protes keras pada dokter di depanku ini.

“Tidak bisakah aku ikut olimpiade tahun ini?”

Pria di depanku hanya menggeleng pelan. Ingin rasanya aku mengumpat keras. Oh! Olimpiade tahun ini adalah tujuanku.

“Pelatih, bagaimana bisa aku tidak ikut olimpiade!” protesku keras saat kami – aku dan pelatih – keluar dari ruangan tadi.

“Turuti saja kata dokter, lagi pula sudah saatnya kau istirahat.”

“Tapi olimpiade adalah impianku!”

Pelatih malah mengusap rambutnya kasar, “Terserah kau saja, kau punya waktu dua hari untuk menggatakanya.” lalu beralun pergi meninggalkan tubuhku yang mematung di tengah lorong.

Dering ponsel di saku celanaku mengintruksi tubuh ini – bangkit dari lamunan sesaat – agar tersadar. Senyum ceria terlihat di sudut bibirku alasannya sederhana, hanya karena seorang yang kurindukan – Byun Baekhyun – si siswa terpintar seantero sekolah yang pendiam.

Segera aku menempelkan benda tipis itu pada runguku.

Beakhyun-ah, aku merindukanmu.” ucapku kubuat semanja mungkin.

“Ada yang harus kubicarakan denganmu, pergilah ke atap sekolah saat jam istirahat nanti.” ujar Baekhyun di ujung percakapan telepon kami.

Aku mendengus pelan, “Baiklah. Satu senyuman paling manis darimu nanti bisa mengobati rasa rinduku, Baekhyun.”

“Aku tidak bisa berjanji padamu, aku tengah terburu-buru.”

Seketika senyum ceria miliku pudar berganti dengan kabut hitam di hatiku. Bola mataku menatap jengah, “Baiklah, aku tutup teleponya.” ujarku lalu menutup telepon secara sepihak. Mood yang harusnya membaik malah semakin buruk karena Baekhyun.

.

.

.

Baekhyun Side

Aku berdiri dengan separuh jiwaku yang berkelana entah kemana. Keremas pelan jemariku yang bertautan, masa bodoh dengan tatapan bingung para siswa yang lewat di depanku. Dalam hati, aku berharap nilaiku akan baik-baik saja. Sangat sulit menampakan wajah setenang mungkin sementara perasaan ini selalu berlawanan.

Saem baru saja keluar dari ruang guru. Netra hitam miliku menelisir pada kertas putih di tanganya. Itu hasil ulangannya, pikirku. Buru-buru kuubah raut resah diwajahku setenang mungkin.

“Nilaimu turun di ulangan kali ini, Baekhyun. Apa yang kau pikirkan?”

Belum sempat raut wajahku kembali keadaan netral, ucapan saem membuatku menciut dan kembali resah.

“Ada lima soal yang salah, sepertinya kau kurang teliti.” lanjutnya lantas mengulurkan kertas ulanganku. Netraku menatap tidak percaya pada nilai yang tertera di paling atas kertas.

Ayahku pasti marah jika seperti ini. Sejenak aku berfikir kesalahan – secra langsung maupun tidak langsung – yang kubuat. Sudah berada hampir di tingkat akhir dan haruskah semua yang telah kuimpikan hancur karena nilaiku turun?

Jika seperti ini, maka harus ada yang kukorbankan. Pertama, pergaulan dengan beberapa orang dan kedua…ah, aku benar-benar tidak bisa memilih yang kedua. Tapi, yang kedua ini mungkin akan berefek paling besar pada nilaiku – mengakhiri hubunganku dengan Nami.

Aku benar-benat dibuat pusing sekarang. Jika kutimbang-timbang, efek keduanya sangatlah besar pada perubahan nilaiku di semester berikutnya. Lepas dari segala hal dan hanya fokus pada pelajaran akan membuat nilaiku naik lagi. Tapi, meninggalkan keduanya juga sangat sulit.

Berhadapan dengan fakta paling memuakan, aku menyerah kali ini. Jemariku menarik benda tipis dari saku celana. Membuat satu panggilan pada Nami. Cukup lama, ia tak menjawabnya – aku berharap demikian – sayangnya pada detik terakhir suara lembutnya menyapa runguku – membuatku jatuh dalam candunya.

“Beakhyun-ah, aku merindukanmu.” ucapnya benar-benar manja.

“Ada yang harus kubicarakan denganmu, pergilah ke atap sekolah saat jam istirahat nanti.”

Entah angin apa yang baru saja lewat, nada bicaraku terdengar begitu datar.

Ia mendengus dari balik sana, “Baiklah. Satu senyuman paling manis darimu nanti bisa mengobati rasa rinduku, Baekhyun.”

“Aku tidak bisa berjanji padamu, aku tengah terburu-buru.”

“Baiklah, aku tutup teleponya.”

Oh Tuhan, aku merasa bersalah sekarang. Sekarang bagaimana aku menjelaskannya? Gadis itu pasti…ah, aku bingung menjelaskanya. Rasanya seperti enam bulan yang lalu, saat diriku seperti anak culun yang berkacamata dengan tumpukan buku di depan dadanya. Haruskah aku kembali pada masa itu?

Tapi aku harus berterima kasih pada Nami – gadis barbar dengan segala tingkahnya – yang telah mengubahku dari seorang pria yang dianggap culun oleh teman-temanya.

.

.

.

Author Side

Nami menyeret langkah malasnya, menapaki setiap anak tangga. Ia terlambat – ia tahu, dan pasti Baekhyun tengah berdecak kesal dengan segala logat lucunya – yang menurut Nami bisa membuanya tertawa keras.

Aneh memang, mendadak seorang Nami membayangkan kesalnya Baekhyun yang selama ini tak pernah memperlihatkan ekspresi – yang bahkan datar – apapun padanya.

Netranya menatap sosok pria tinggi yang membelakanginya. Ia melipat tanganya di depan dadanya – sebuah kebiasaan yang bisa membius begitu dalam Nami – seperti tengah memikirkan sesuatu.

Nami berjinjit pelan menghampirinya, senyum manis itu hampir bercampur dengan tawa kerasnya. Jemari lentiknya menutup rapat manik hitam menggoda itu dalam sekejap.

“Coba tebak siapa aku?” ujarnya mengubah fibrasi suaranya.

Baekhyun berdecak, “Jangan mencoba untuk membuatku tertawa.”

Getaran kecil seolah tersengat listrik mendadak mengelilingi Nami, dengan jemarinya yang bergetar ia menjauh dari manik hitam itu.

Baekhyun berbalik, manik gelapnya menatap bersalah pada Nami. Gadis itu menunduk, tak berani menatapnya.

“Kau tak pernah mengatakan ini sebelumnya, Baekhyun-ah.” ucapnya pelan.

Baekhyun menghela nafas panjang, ia mendekati gadis itu menghapus jarak keduanya lantas menariknya dalam pelukan sayang – yang Nami rindukan – agar gadisnya lebih merasa tenang.

“Maafkan aku, aku berada dalam keadaan yang buruk saat ini.” ucapnya sembari mengelus pelan surai hitam gadisnya.

Baekhyun melepas pelukanya membuat gadisnya kini menatapnya. Ia mensejajarkan tubuhnya menatap manik hitam berkilauan yang sudah membuatnya jatuh dalam candu tanpa penawar.

“Aku akan berkata serius kali ini, aku harap kau mengerti keadaanku. Dan setelahnya kau boleh protes padaku.”

Setelahnya ia menarik nafas paling panjang.

“Kita…akhiri saja hubungan ini. Aku lelah dan jenuh.”

Tak ada hujan tak ada angin tiba-tiba petir paling menakutkan menyambar Nami di siang yang panas ini. Netra gadis itu menatap protes bercampur sendu secara bersamaan pada Baekhyun.

Ya, selalu ada kata lelah dan jenuh dalam sebuah hubungan, dan Nami percaya itu. Ada kalanya seorang pria merasakan hal itu, saat manik hitam itu mulai melirik bunga lain, saat itu juga pria itu merasa lelah dan jenuh pada hubuhnganya.

Nami bisa menerima ucapan Baekhyun, namun yang masih membuatnya bertanya hanya satu – apa alasannya.

“Apa…apa alasannya?” suara gadis itu sedikit bergetar, memperlihatkan kesenduannya yang kental. Bahkan netranya telah dipenuhi kabut tipis nan menyakitkan.

“Nilaiku turun semester ini, ibuku mungkin akan marah jika tahu.”

Hati seorang Nami berteriak keras mengutarakan ptotes keras pada pria didepannya. Ingin ia mengumpat pada pria ini, bahkan menghajarnya jika saja kakinya tak cidera.

Kabut tipis yang sempat singgah mendadak hilang, berganti dengan tatapan jengah darinya.

Ia mendengus, “Kau hanya memikirkan nilaimu tapi sedetikpun kau tak pernah memikirkan diriku.” senyum miringnya muncul, “Apa kau tahu aku baru saja kecelakaan saat latihan? Mungkinkah kau pernah berpikir berapa kali aku mengalaminya? Apakah kau pernah sekalipun memperlihatkan perhatian padaku?”

Kini suaranya mulai berubah, “Aku hanya butuh keberdaan dan perhatianmu, Baekhyun-ah. Aku tak butuh yang lain. Aku memaklumi segala usahamu untuk menaikan nilaimu, apa aku pernah sekali saja protes padamu saat kau terus-terusan berhadapan dengan buku-bukumu?”

“Sebenarnya aku kau nomorkan berapa?!” ujarnya kesal.

Seakan bisu, mendadak Baekhyun diam seribu bahasa. Wajahnya menunduk menutupi semua rasa bersalahnya.

“Aku bisa menerima alasan lelah dan jenuhnya dirimu jika karena wanita lain. Tapi…untuk nilai, aku tidak bisa menerimanya.”

Baekhyun rasa keberadaannya di sini semakin membuat gadisnya tersiksa. Dengan menyesal ia menyeret langkah panjang meninggalkan sosok Nami di sana yang berbarengan dengan perginya dirinya, bulir bening dari pelupuk mata gadis itu jatuh tak terbendung.

“Byun Baekhyun, kau jahat! Kau membuatku jatuh dalam pesonamu dan sekarang kau menjatuhkanku pada lubang paling dalam! Untuk apa kau membuatku jatuh padamu walau pada akhirnya kau menjatuhkanku dalam perasaan menyakitkan ini?!” teriaknya masih dengan isakan perih darinya.

“Aku berpikir melepasmu adalah cara terbaik, Jung Nami. Karena dengan itu aku akan lebih fokus pada nilai-nilaiku. Aku bodoh jika menyangkut perasaan dan cinta. Aku mohon maafkan aku yang telah menggores luka pada hatimu.”

.

.

.

Melupakan hal menyakitkan itu sulit walau itu untuk seorang Jung Nami yang terkenal dengan tingkah cerianya. Hei, Nami juga seorang wanita yang hatinya juga lembut, yang apabila disakiti akan sangat sulit dan lama untuk mengobatinya.

Namun Nami tak ingin terlalu lama larut dalam kesedihan. Ia ingin menenangkan diri, mungkin dengan melihat lapangan bulutangkis bisa membuatnya tenang. Jadi ia putuskan untuk membawa sebungkus kaleng soda dari kantin.

Langkahnya kembali ceria – seperti tak ada beban – seperti sebelumnya.

“Kudengar Nami eonnie mengalami cidera? Benarkah ?”

“Aku juga baru mendengarnya dari pelatih.”

“Posisinya mungkin akan diubah oleh pelatih.”

“Tentu saja, cideranya cukup parah.”

“Kudengar ia mengembalikan bola tinggimu lalu terpeleset.”

Jisoo tersenyum miring, “Aku sengaja melakukanya. Nami hanya memikirkan poinnya tanpa menggunakan logikanya. Ambisinya terlalu besar, akan sangat mudah bagiku menggeser posisinya.”

Nami terdiam dalam langkahnya, jemarinya mengepal geram. Ingin rasanya ia menjambak rambut gadis menyebalkan itu. Ia menarik nafas panjang, mengatur deru nafasnya yang sudah sangat tersendat-sendat. Kembali ia mengalun langkah memasuki ruang latihan. Netranya menatap senang pada dua sosok yang tengah duduk di samping lapangan.

“Aku bawakan soda untuk kalian,” ia menjulurkan soda di depan tubuh dua gadis di depanya. Tanganya mengambil satu kaleng lalu meneguknya cepat. Seolah ia dapat menebak ekspresi terkejut dari keduanya terlebih dari Jisoo.

.

.

.

“Kenapa kau melakukanya?” tanyanya dengan jemari yang sibuk menata bajunya.

“Apa maksudmu?” Jisoo balik bertanya seolah ia tak mengerti arah pembicaraan Nami.

“Kau membuatku terjatuh hingga cidera, kenapa kau melakukanya? Kupikir kau temanku.”

Jisoo menyeringai, “Teman kau bilang. Kau itu naif atau bodoh? Apakah kau masih dalam mimpi hingga tak bisa membedakan mana yang nyata dan yang tidak. Memangnya di sini ada yang namanya teman?” ia mendekat pada Nami, “Karena yang lemah akan selalu diinjak oleh yang kuat.” bisiknya tepat di telinga Nami lantas menyeret langkah menjauh.

.

.

.

TBC

7 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Saranghae Mr.Oh – (Chapter 1)

  1. Ping-balik: [EXOFFI FREELANCE] Saranghae Mr. Oh (Chapter 2) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Yaaaaa baekhyunn -___- tak segalanya tentang nilai
    Dan ayolahh junggg…
    Jisoo, colok tidak ya colok tidak yaaa
    Ko aku greget eeaaaaaaa.
    Ohsehunn ayo muncullll😊

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s