[EXOFFI FREELANCE] Pain Killer -(Chapter 5)

Pain Killer Cover 2.jpg

PAIN KILLER Part 5

(Special Part : Kim Jongin’s Pain)

Author : HyeraKim

Main Cast : OC, Kim Jongin (Kai)

Additional Cast : Find it by yourself!

Genre : Hurt/Comfort, Angst, Romance, School Life, AU

Ratting : PG

Length : Chaptered

Disclaimer : The PLOT own by HyeraKim. NO PLAGIARISM!!! Cast own by their parents and God. OC create by me and my friend.

A/N : Part ini akan banyak bercerita tentang kisah persahabatan KaiHun. Jadi buat penggemar couple Chanyeol-Hyeri *kalo ada* maapin yaa.. ^^ Warning for TYPO’s. ^^

HAPPY READING!!

PLEASE LEAVE A COMMENT!!

You cut back my pain like a Pain Killer

@Pain_Killer@

© 2016

Part 5 >>>

Tak ada seorangpun yang tidak mengenal Kim Jongin. Pria yang nyaris sempurna. Ya hanya nyaris saja karena pada dasarnya nobody’s perfect, kan? Dia Tampan? Ya, tidak diragukan lagi. Berkharisma? Tentu saja, setiap langkah yang diambilnya membuat seluruh orang yang berada disekitarnya akan terkesima. Pintar? Jawabannya ya. Kim Jongin adalah nama yang tak pernah turun dari puncak top three diseluruh sekolah pada daftar nilai setiap semester, dia lebih dari pintar mungkin dia terlahir dengan otak super encer. Prestasi lain? Bukan Kim Jongin jika dia tak dapat memanfaatkan setiap kesempatan yang dia miliki untuk mempelajari hal-hal baru, sebut saja ekskul basket, dance, radio school, sepak bola, dia merupakan bagian dari mereka. Jongin adalah idola diseluruh penjuru Seungri Middle School. Tak hanya siswa bahkan para guru juga mengidolakannya. Semuanya tentu didukung dengan finansial keluarganya yang melimpah ruah. Ayahnya bernama Kim Woobin, sama halnya dengan Jongin pria itu sangat populer dikalangan pebisnis Korea. Siapapun jika kau seorang pengusaha di Negeri Ginseng itu kau pasti akan menghalalkan segala cara agar dapat bekerja sama dengan pengusaha hotel, resort dan property paling berpengaruh di Korea itu, MYUNGHWA GROUP. Sedangkan Jongin sendiri merupakan putra tunggal Kim Woobin, yang dapat dipastikan akan mewarisi seluruh asset MYUNGHWA yang tak akan habis tujuh turunan. Jongin bahkan sudah menjadi owner dari beberapa asset perusahaan. Di usianya yang baru menginjak 15, dia sudah menjadi pangeran yang didambakan seluruh pengusaha di Korea untuk dijadikan calon suami bagi anak perempuan mereka.

Kim Jongin sendiri memiliki kepribadian yang luar biasa menyenangkan, ramah, supel dan hangat. Dan memiliki sopan santun yang baik. Kim Woobin mendidiknya dengan luar biasa baik meski kenyataannya Presdir Kim itu adalah single parent. Seperti saat ini, Jongin sudah berdiri dengan setelan tuxedo yang sangat pas ditubuhnya. The perfect Jongin. Berjalan di red carpet bak artis ternama, mendapat sorotan kamera yang berkelap-kelip karena tak berhenti mengambil gambar. Kim Jongin putra tunggal MYUNGHWA Group bagai asset berharga suatu Negara, malam ini dialah pangerannya di pesta anniversary MYUNGHWA.

Oh Sehun, sahabat Jongin sudah melambaikan tangannya saat Jongin baru saja memasuki ballroom hotel Myunghwa ini. Sehun si kulit porselen dengan setelah tuxedo abu-abunya menghampiri Jongin.

“What’s up?”

“Good..”

Mereka saling merangkul lalu berjalan beriringan menuju tengah ruangan.

“Oh my god, Kim Jongin is hot..”

“Aku sangat menginginkan dia jadi menantuku..”

“Kim Jongin.. itu Kim Jongin..”

“Eomma.. itu Jongin, aku ingin jadi pacarnya Eomma!!”

Kasak-kusuk beberapa orang yang dilintasi Jongin dan Sehun membuat Sehun sedikit risih. Tidak disekolah, diluar sekolah bahkan di party perusahaan seperti ini selalu Kim Jongin. Sebenarnya Oh Sehun tak kalah kaya raya dari Jongin, OHSE Financial. Perusahaan yang menjadi donator paling berpengaruh dan memimpin berbagai asosiasi pendidikan di Korea Selatan. OHSE Financial juga memperlopori didirikannya OHSE School, yang terdiri dari OHSE Elementary School, OHSE Middle School dan OHSE High School. Untuk sementara ini OHSE High School yang sudah berjalan dan hasilnya, sekolah itu menjadi gudang calon ahli masa depan. Selama masa percobaan lima tahun OHSE telah membuktikan bahwa OHSE High School merupakan sekolah paling bergengsi di Korea Selatan dengan seleksi masuk tingkat A.

Tapi nyatanya itu tak berpengaruh sebanyak pengaruh MYUNGHWA pada Kim Jongin. Oh Sehun tetaplah menjadi nomor dua, tak jarang malah dia tersisih jauh dari Jongin. Seperti saat ini, hanya satu bintang yang bercahaya disana. Kim Jongin. Menjadi yang nomor dua membuat Sehun terkadang merasa sangat membenci Jongin, Kenapa harus Jongin? Apa bagusnya Jongin? Sehun punya kulit lebih putih, keluarganya ada pada bidang finansial yang berarti memiliki banyak uang menumpuk di bank. Lalu kenapa harus Jongin yang nomor satu? Bahkan dirinya tak mengerti Jongin yang jarang belajarpun selalu mendapat pringkat pertama disekolah, sedangkan dirinya yang terkadang mengikuti bimbingan belajar demi menggeser nama Jongin pada papan pengumuman masih saja dia tak menjawab soal sesempurna Jongin. Terkadang Sehun berpikir dunia ini tak adil karena selalu semuanya ada pada Jongin bukan dirinya, bahkan orangtuanya sendiri terkadang lebih mengagungkan nama Kim Jongin dibandingkan dirinya yang merupakan putra mereka.

Sehun muak dengan Kim Jongin, sejak pesta malam itu dia bersumpah tak ingin bertemu dengan wajah Jongin lagi. Hatinya terlalu sakit karena semua orang mengagungkan nama Jongin yang menurutnya itu sangat berlebihan. Ibunya, ayahnya, kakaknya, tak bisakah seseorang berada disampingnya dan memberitahunya bahwa Oh Sehun juga mengagumkan. Perjuangan kerasnya bahkan lebih keras dari siapapun untuk menjadi lebih baik dari Jongin namun seperti sudah digariskan oleh takdir bahwa dirinya tak dapat menandingi seorang Kim Jongin kecuali dengan satu cara. Satu cara picik yang akan membuatnya mengalahkan seluruh pencapaian sukses Kim Jongin. Dan cara itu terhitung sangat nista, menjatuhkan nama Kim Jongin dengan licik.

Hari itu disekolah Sehun menemui kelompok yang selama ini menjadi sekelompok orang yang notabene membenci Kim Jongin. Kelompok yang dipimpin oleh seorang senior dikelas tiga bernama Kim Jae Hyuk. Jae Hyuk pernah berada diposisi Jongin sebelum pria itu merebut tahtanya sebagai Pangeran Sekolah. Sehun yakin Jae Hyuk sangat ingin menjatuhkan Jongin, Sehun tinggal meminta mereka untuk membuat martabat Kim Jongin jatuh dengan cara licik yang sudah direncanakan matang-matang. Hari itu Jaehyuk memancing Jongin menuju sebuah ruangan dimana disana seorang gadis ditempatkan lalu mengunci pintu ruangan itu, sedangkan gadis itu ditugaskan untuk menggoda Kim Jongin. Jongin terlalu kuat untuk digoda sehingga gadis itu sendiri yang memaksa Jongin menyentuhnya, ia membuka kancing bajunya sendiri hingga menampakkan bagian tubuh depan atasnya. Demi apapun Jongin hanya menutup matanya saat itu namun gadis itu memaksa dan menarik tengkuk Jongin dan meraup bibir tebal Jongin tanpa persetujuan Jongin, tentu saja Jongin langsung mendorong gadis itu kelantai. Disaat yang bersamaan pintu berderit terbuka nampak seorang pria paruh baya dari sana, setelah melihat gadis yang meringkuk dilantai dengan pakaian compang camping dan Jongin diruangan yang sama membuat pria itu langsung menyeret Jongin begitu saja.

Sehari berselang kepala kedisiplinan sekolah menjatuhkan hukuman skorsing selama tiga minggu kepada Jongin, mengingat MYUNGHWA juga merupakan salah satu investor yang penting disekolah ini, mereka tak bisa mengambil keputusan mengeluarkan Jongin begitu saja. Jongin terpaksa menerima kesalahan yang tak dia lakoni, gadis itu dengan airmata buayanya membuat kesaksian palsu, belum lagi rekaman CCTV pada koridor menuju ruangan itu menunjukkan bahwa dirinya berjalan dengan kedua kakinya menuju ruang itu, entah kenapa rekaman tidak menunjukkan bahwa ada orang lain yang saat itu jelas-jelas mengunci pintu ruangan. Jongin mendapat tamparan keras dari ayahnya setibanya Kim Woobin dirumah setelah menghadiri pertemuan disekolah Jongin. Hukuman berupa dikurung dirumah tanpa boleh menginjakkan kaki keluar rumah diterimanya, seluruh benda-benda pentingnya juga tersita membuat Jongin hanya bisa diam dirumahnya. Ia tak tahu dan tak pernah tahu kenapa hal ini terjadi padanya. Sesuatu yang tak pernah ia kira dapat terjadi.

====

“Hei.. itu Jongin..”

“Dia tidak dikeluarkan? Daebak! Pengaruh Myunghwa memang hebat..”

“Itu Jongin kan? Astaga ketampanan dan kepandaiannya benar-benar tercium busuk sekarang..”

“Jongin benar-benar pria brengsek, iyakan?”

“Astaga itu Jongin, aku bersumpah tak akan menjadi fans nya lagi..”

Jongin menghentikan langkahnya detik itu, semua orang menatapnya dengan tatapan jijik. Belum lagi mereka menggumamkan kalimat-kalimat yang membuat Jongin merasa seakan tengah ditekan benda berat. Ia tak menyangka mendapat hal seperti ini. Seorang murid pria melintas dari arah berlawanan. Jongin tersenyum dan memanggilnya. Sehun, pria itu Sehun. Dia berhenti lalu dengan wajah datar dan terkesan dingin dia berbalik dan menatap Jongin.

“Sehun..”

Jongin hendak menghampirinya namun Sehun kembali berbalik dan berjalan menjauh. Sehun? Bagaimana mungkin dia membenciku? Batin Jongin. Ia masih mendengar suara-suara yang membicarakannya. Hatinya sakit. Lagi-lagi dia mendapat hukuman karena kesalahan yang tidak dia lakoni. Semuanya membencinya sekarang. Semua orang yang pernah mengerubunginya demi dapat sekedar menyentuh tangannya atau memberi makanan ringan, coklat atau hadiah simple lainnya. Kini semuanya berbalik membencinya, menggunjingnya, mengoloknya. Tidak ada fans lagi. Bahkan Sehun sahabatnya kini terlihat begitu membencinya.

Hari itu Jongin merasa kepalanya berdenyut-denyut karena setiap ia melangkah semua orang mengoloknya. Melempar kalimat-kalimat yang membuatnya merasakan sesak dan sakit yang bahkan terasa pada sekujur tubuhnya. Jongin bersumpah dia tidak melakukan apapun, tapi semua orang tak akan mempercayainya. Sekali tertancap bekasnya tak akan hilang. Ia memasuki ruang kesehatan dan memilih untuk tidur. Baru saja dia membuka pintu seorang guru dan dokter diruang itu langsung melempar tatapan benci padanya. Bahkan guru perempuan yang dulunya selalu mencari perhatian Jongin itu kini sudah beranjak dari tempat duduknya dan angkat kaki dari ruangan itu, jangan lupakan tatapan jijiknya. Dokter jaga di ruang kesehatan itu juga nampak cuek, tanpa ada sapaan ramah seperti biasanya. Jongin yang masih berdiri didepan pintu merasakan sesuatu yang bergemuruh dalam dadanya. Haruskah selalu seperti ini? Belum genap sehari saja Jongin rasanya mau pingsan karena terus saja diolok-olok bagaimana dengan hari-hari berikutnya?

Jongin tidak jadi memasuki ruang kesehatan ia berjalan dengan wajah tertunduk total. Berat rasanya mengangkat kepalanya barang sedikit saja. Hingga tatapan matanya tertuju pada berpasang-pasang sepatu yang berhenti didepannya. Belum sempat Jongin melihat kedepan tubuhnya sudah tersungkur kelantai karena dipukul dengan benda keras tepat dipunggungnya. Ia mengerang sejenak dan dengan gerakan tertatih dia berusaha berdiri namun sebuah tendangan keras pada punggungnya membuatnya kembali tersungkur. Berikutnya dia sudah terseret saat mereka yang tidak tahu siapa sudah menariknya dengan kasar.

Suara benda-benda keras terdengar ketika tubuh Jongin menubruk tumpukan meja di ruangan gelap dan pengap ini. Ia tak tahu apa-apa lagi kecuali seluruh tubuhnya yang terasa sakit. Tendangan dan pukulan-pukulan sudah mendarat diseluruh bagian tubuhnya menyisakan lebam-lebam dibeberapa bagian dan juga diwajahnya. Jongin yang bukan golongan anak yang menguasai bela diri dengan baik, ia hanya mampu pasrah saat menerima pukulan-pukulan yang tiada habisnya. Darah yang anyir sudah ia muntahkan berkali-kali saat mereka yang entah siapa itu memukul bagian perutnya berkali-kali tanpa ampun. Jongin tak dapat melihat jelas siapa orang-orang itu, mereka semua memakai masker hitam. Jongin juga tak mendengar apapun karena mereka menghajarnya tanpa bersuara. Hingga suara decitan pintu terdengar. Jongin yang memang sudah terkapar dilantai dengan tatapannya yang samar dapat melihat dua orang pria yang masuk ke gudang. Sehun dan satu lagi Jongin tak kenal. Dia sempat bersyukur dalam hati karena Sehun datang tapi nyatanya tidak untuk menolongnya. Sehun jelas-jelas melihat dirinya yang terkapar dengan tubuh penuh luka, bahkan pria itu menatapnya sangat lama dan tatapan mereka bertemu. Tapi Sehun sangat cuek dengan tatapan dinginnya.

Ia sempat bertanya pada dirinya sendiri. Apa salahnya hingga Sehun berubah seperti itu? Apa hanya karena kesalahan konyol yang nyatanya tak pernah ia lakukan itu? Kenapa harus Sehun yang ikut membencinya? Kenapa? Detik berikutnya tubuhnya kembali tertarik keatas, pria yang datang bersama Sehun yang menarik kerah seragamnya.

“Semoga kau tak lupa denganku, Jongin yang malang, asal kau tahu aku dan teman- oh tidak mantan temanmu itu yang merobohkan reputasimu..”

Suara tawa mengerikan terdengar dari semua orang kecuali Sehun dan Jongin. Jongin masih melirik Sehun sebentar, namun..

BRAKK..

BUKK

“AAkkhh..”

“AAkkhh..”

SIAL. Kai memimpikan itu lagi setelah sekian lama. Dadanya naik-turun, napasnya tersengal. Keringat dingin mengucur deras membasahi kaos tanpa lengan yang ia kenakan. Ia memegangi kepalanya yang mulai berdenyut nyeri. Shit.. kenapa kepalanya harus sakit? Berikutnya terdengar ketukan dari pintu.

“Tuan muda.. Anda baik-baik saja?”

Entah bagaimana itu menjadi suara bibi Song. Memang benar kalau bibi Song bekerja 24 jam di mansion megah ini. Kai sedikit memijit pelipisnya lalu menurunkan kakinya memijak lantai. Ia meraih air minum yang selalu ada dimeja nakasnya setiap ia bangun tidur. Bibi Song selalu mengantarnya setiap malam. Oh ia ingat, mungkin Bibi Song baru saja mengantar air minum.

PRAAK..

Shit. Tangannya bergetar terlalu hebat hingga membuatnya gagal meraih gelas itu. Ia mengusap wajahnya dan meremas rambutnya yang basah dengan keringat. Yang benar saja tubuhnya masih bergetar, jantungnya berdegup dengan kerasnya.

“Astaga Tuan Muda…”

Itu Bibi Song. Bibi Song langsung menghampiri Jongin,

“Tuan Muda apa anda sakit?”

“Bi.. aku-aku takut.. aku-aku bermimpi lagi..”

Bibi Song sedikit terkejut mendengar pengakuan Kai. Mimpi yang dimaksud Kai, lebih tepatnya itu adalah ingatan. Ingatan yang saat itu pernah dihapus namun tak sampai setahun Kai kembali teringat dan merasa terpuruk setiap malam karena tak dapat tertidur. Bibi Song mendekat dan duduk disamping Kai, ia mengelus lembut surai kecoklatan milik Kai sembari melantunkan kata-kata untuk menenangkan tuan mudanya itu. Bibi Song adalah satu-satunya sandaran yang Kai miliki setelah ayahnya berubah menjadi dingin. Dia memang memiliki Baekhyun namun tidak mungkin kan Baekhyun memeluknya dan menenangkan tidurnya. Tidakkah itu terdengar aneh? Lagipula Bibi Song sudah terbiasa melakukan ini sejak Kai masih kecil mengingat Kai sudah ditinggal oleh ibunya semenjak kecil.

“Tenanglah Jongin..”

“..mereka tak akan memukulmu lagi..”

“..mereka tak akan menyiksamu lagi..”

“..mereka sudah pergi..”

“..mereka hanya masa lalu..”

“..mereka tak akan pernah kembali..”

Perlahan-lahan napas Kai yang tersengal-sengal mulai teratur. Tubuhnya tak lagi gemetar hebat seperti sebelumnya. Perlahan rasa takutnya hilang terganti dengan perasaan nyaman dan terlindungi. Tepukan telapak tangan halus milik Bibi Song mengingatkannya dengan sosok sang ibu. Ibunya yang saat itu pergi entah kemana tanpa kembali. Tak seorangpun yang memberinya penjelasan kemana ibunya pergi. Baik bibi Song maupun Kim Woobin ayahnya tak pernah mau mengatakan kejujuran. Dan itu menjadi salah satu alasan kenapa Kai bersikap acuh dengan ayahnya sendiri.

Jauh diambang pintu kamar Kai, Kim Woobin berada disana. Melihat bagaimana rapuhnya Kim Jongin. Terbelenggu dengan rasa bersalah membuatnya merasa tersiksa. Ia ingin memeluk putranya, seandainya bisa ia ingin menjadi pengganti Bibi Song untuk menenangkan ketidak tenangan yang sesekali membuat Kim Jongin ketakutan. Saat itu, saat dimana ia menemukan Kai terkulai tak berdaya disebuah gang dekat sekolahnya Woobin benar-benar marah kepada siapapun yang telah memperlakukan putranya dengan tidak adil. Ia menggunakan kekuasaannya untuk menguak informasi dan semuanya terungkap. Woobin sendiri masih memendam kebencian pada anak itu.

A Week after Jongin’s Incindent

Presdir Oh berlutuh serendah-rendahnya dihadapan Woobin. Kaki tangan Kim Woobin menyelidiki secara diam-diam tentang insiden bullying yang diterima Kim Jongin, putra semata wayangnya. Semua bukti dan saksi menunjukkan bahwa dalang dari semua yang diterima Jongin, mulai dari kasus pelecehan seksual hingga pengeroyokan. Terkelupas semuanya hanya dalam waktu dua hari. Ya.. sebesar itulah kuasa Kim Woobin. Memang bukan anak itu yang menjadi pelaku namun dia menjadi dalang dari semuanya. Dialah yang membuat hidup Jongin rusak, Oh Sehun. Oh Sehun yang merupakan putra Presdir Oh dari OHSE Finansial. Woobin tak ingin melakukan hal yang sama dengan Sehun, menghancurkan kehidupan seseorang sama sekali bukan gayanya. Namun ia tak tahan setiap kali melihat Jongin yang tubuhnya hancur. Hampir seluruh bagian tubuhnya dibalut perban, kaki, tangan dan wajahnya, semua yang dapat terlihat hanya perban putih yang melilit bagian-bagian itu. Bahkan Jongin sendiri hampir selalu kehilangan kesadaran, lukanya terlalu parah. Psikiater pun juga menyatakan bahwa bukan hanya tubuhnya tapi jiwanya juga merasa tidak aman. Woobin hampir menangis saat pertama kali menemukan Jongin berada di gang yang kotor dengan tubuh penuh luka dan darah yang mengalir dari belakang kepalanya. Tubuhnya bahkan begitu dingin, seolah nyawanya hendak keluar, jika terlambat sedikit saja nyawa pewaris Group sebesar MYUNGHWA itu akan melayang begitu saja. Beruntung Woobin memiliki banyak penjaga yang bekerja untuknya, hingga sore ketika ia mendapat laporan dari seorang anak yang menyatakan Kim Jongin menghilang ia tak perlu waktu lama untuk menemukan putranya.

“Presdir Oh.. jika kau ingin Oh Sehun selamat, jual OHSE SCHOOL padaku!!”

“Tapi..”

“Jika kau menolak, aku akan menuntut secara hukum!!”

“Tidak.. baiklah.. OHSE SCHOOL memang proyek terbesar kami, tapi Sehun lebih berharga dari OHSE bagiku..”

“Berharga? Benarkah kau tahu seberapa berharganya seorang anak?”

Kim Woobin berbalik menatap tajam Presdir Oh yang masih setia tertunduk.

“Jika kau tahu maka seharusnya kau didik Sehun dengan baik. Aku sangat ingin kau merasakan seperti apa penderitaan melihat putra yang sangat kau sayangi terpuruk karena ulah orang yang sudah dianggapnya sahabat, tapi aku bukan orang seperti itu..”

Matanya memerah menahan seluruh emosi dan kesedihan disaat bersamaan. Kim Woobin kembali berbalik, dia terlalu enggan memandang Presdir Oh.

“Kepemilikan OHSE SCHOOL hanya kita berdua yang tahu!!”

====

The Incident Day – An hour after

Sehun meremas tangannya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih. Dia mengabaikan pelajaran. Pikirannya kacau. Dia tidak menyangka bahwa ternyata jauh didalam dirinya Sehun masih sangat peduli dengan Jongin. Pandangannya benar-benar tidak fokus pada satu titik, ia berkali-kali menatap tas hitam yang tergantung pada bangku disisi kanannya. Bangku Kim Jongin. Barang-barangnya berupa sebuah buku tulis dan satu bolpoint masih berada diatas meja. Saat dia melirik pada laci Jongin, ponselnya juga ada disana. Pria itu sangat ceroboh dan selalu meninggalkan benda berharga begitu saja. Jongin tak akan dapat meminta pertolongan dari siapapun. Sehun semakin panik. Ia berdiri tak menghiraukan seorang guru didepan kelas itu berteriak-teriak kepadanya. Ia mengambil tas Jongin menggantungkannya dipundaknya lalu memasukkan buku dan bolpoint kedalam tas. Berikutnya ia meraih ponsel dilaci Jongin lalu melenggang keluar kelas begitu saja. Ia sudah tak peduli apapun lagi bahkan jika setelah ini ia akan dikeluarkan. Berlebihan memang. Ia yang memakai tas hitam Jongin berlari kesana-kemari menaiki tangga hingga sampai diatap, berlari memeriksa seluruh gudang disekolah, mengobrak-abrik seluruh toilet pria maupun wanita, tak peduli semua orang menganggapnya aneh. Ia masih berlarian dengan panik, ruang kesehatan, perpustakaan, bahkan dia memeriksa ruang guru dan kepala sekolah. Ruang olahraga, lapangan belakang hingga lapangan parkir dan halaman depan, nihil ia tak menemukan Jongin dimanapun. Frustasi karena gagal menemukan Jongin, Sehun tanpa pikir panjang mencari kontak diponsel Jongin, menekan icon hijau pada kontak ber ID ‘DAD’. Ya.. Presdir Kim, Kim Woobin yang begitu otoriter dan berkuasa.

Sehun beruntung saat itu bukan Presdir Kim yang mengangkat panggilannya melainkan seorang bawahannya yang bernama Jacob. Sehun tak lagi kembali kekelas dan memilih untuk duduk di halte dekat sekolah. Setelah sekitar 30 menit ia dapat melihat beberapa van hitam berhenti disekitar sekolah. Teakhir ia melihat sebuah Maserati hitam memasuki halaman sekolah. Yang ia lihat berikutnya adalah beberapa orang dengan tuxedo hitam menyisir seluruh lingkungan sekolah diluar maupun didalam. Tiba-tiba Sehun merasa bergetar. Tiba-tiba Sehun merasa takut. Bagaimana jika mereka menemukan bukti bahwa dia yang membuat Jongin menghilang? Bagaimana jika mereka semua pada akhirnya akan menghukum Sehun? Bagaimana jika? Bagaimana. Bagaimana dan Bagaimana. Sehun yang merasa takut akhirnya menghentikan taxi dan menaikinya untuk pulang kerumah.

A Weeks Later

Nyonya Oh merasa sedih melihat putra bungsunya yang tak mau berpindah dari ranjangnya tujuh hari terakhir. Berkali-kali dia bertanya tentang Kim Jongin. Bagaimana keadaannya? Dimana dia sekarang? Apakah dia marah padanya? Apakah dia membencinya? Sehun kalut. Sehun panik sampai tak dapat tidur nyenyak tapi disisi lain dia juga takut. Banyak sekali ketakutan yang menghantuinya. Bahkan semalam dia bermimpi Jongin tertawa melihatnya berada didalam penjara dan disiksa oleh narapidana lain. Sehun tak dapat memikirkan apapun tentang hal lain kecuali ketakutannya pada Kim Jongin.

“Sehun sayang, ayo makan.. ibu suapi ya?”

Sehun menggeleng keras sambil memeluki lututnya yang berada dibalik selimut. Wajahnya pucat karena hanya makan sangat sedikit setiap harinya. Siapapun selalu gagal merajuknya untuk makan. Nyonya Oh sempat menelpon kerumah Jongin dan bertanya tentang Jongin namun jawaban yang diperolehnya adalah Kim Jongin sedang tidak berada dirumah. Bisa apa Nyonya Oh kalau Jongin tidak dapat ditemui sedangkan putranya terus menggumamkan nama Jongin dalam tidurnya.

“Sehun kalau kau tidak makan kau tidak akan sembuh nak..”

Nyonya Oh sudah menangis sekarang. Airmatanya sudah hampir kering karena setiap kali melihat Sehun selalu menangis. Oh Junghwa, kakak Sehun sudah kewalahan sendiri melihat keadaan ibu dan adiknya sedangkan Presdir Oh sibuk bekerja. Saat ini Junghwa duduk ditepi ranjang Sehun berusaha membujuk Sehun untuk makan sama seperti yang dilakukan ibunya.

“Sehun, bagaimana kau mencari Jongin kalau kau sesakit ini? Demammu tak akan turun kalau hanya diobati, kau juga harus makan..”

Ini adalah nasehat kesekian yang sudah Junghwa lontarkan. Namun seperti tuli, Sehun tak menggubris. Dia hanya memeluki lututnya sambil menatap keluar jendela dengan pandangan yang begitu kosong. Junghwa beralih hendak keluar dari kamar adiknya ini namun belum sampai kakinya menjamah pintu ibunya memekik keras. Junghwa langsung berbalik dan menghampiri Sehun yang pingsan lagi. Pingsan ini sudah hampir setiap hari karena Sehun memang tak mau makan dan hanya menggantungkan hidup dari selang infuse. Dia juga perlu makanan dari luar jika ingin sembuh dan kembali bugar. Tidak seperti sekarang, pipinya yang memang tirus terlihat semakin kurus, cekungan dikelopak matanya yang menghitam terlihat mengenaskan. Tubuhnya sangat lemas. Dia seperti berniat bunuh diri perlahan-lahan. Junghwa membenarkan posisi tidur Sehun lalu menarik selimutnya sebatas dada. Sedangkan ibundanya sudah memanggil perawat yang beberapa hari terakhir menjaga Sehun dirumahnya.

Setelah sekitar tiga puluh menit Sehun terbangun. Saat ia membuka mata pertama kali yang dilihatnya adalah ayahnya yang duduk ditepi ranjangnya sambil menggenggam tangannya. Matanya terlihat sayu, keningnya berkerut seperti ada masalah yang ditanggungnya. Dengan suara yang teramat lirih Sehun memanggilnya, membuat pria empat puluh tahunan itu tersenyum sedikit. Tangannya yang bebas lalu merapikan poni Sehun yang berantakan. Rambut coklat terang milik putranya itu terlihat kusam karena sudah tak terawatt selama seminggu lamanya.

“Nak.. dengarkan ayah..”

Sehun terdiam, dengan pandangannya yang sedikit berkunang-kunang ia menatap wajah sang ayah.

“Kim Jongin baik-baik saja..”

Sehun langsung mengerjapkan matanya terlihat excited mendengar kalimat itu dari ayahnya. Kalau saja ia punya tenaga, pasti ia sudah terduduk antusias namun sayang menggerakkan tangannya saja rasanya ia tak mampu.

“Ayah tidak sedang membohongimu.. aku bertemu dengan Presdir Kim dan dia mengatakan padaku bahwa Kim Jongin akan segera pulih..”

Berkata aku tidak berbohong sangat bulshit disini. Nyatanya Presdir Kim menghardiknya dan mengancam agar putranya Oh Sehun tak lagi mencoba untuk dekat dengan Jongin. Presdir Kim bahkan mati-matian menahan emosi saat mengancam ayah Sehun.

“Tapi nak.. setelah dia sembuh nanti.. kau tak perlu menjenguknya atau mendatanginya.. Presdir Kim melarang putranya bergaul diluar mulai sekarang. Dia akan menerima home schooling jadi kau tak perlu menemuinya lagi.”

Kata-kata itu membuat Sehun menelan cairan pekat yang tiba-tiba kini mengendap dibagian dadanya membuatnya sesak seketika.

“Apa dia membenciku?” Tanya Sehun dengan sisa tenaga yang dia miliki.

Ayahnya menggeleng. “Jongin tidak akan membencimu.. tapi Presdir Kim sedang membuat putranya sembuh dari trauma jadi beliau menghapus sebagian ingatan Kim Jongin..”

Pengakuan ayah Sehun kali ini memang benar. Itu yang Kim Woobin pesankan padanya untuk dikatakan pada Sehun. Kim Woobin benar-benar tidak ingin merusak siapapun dia hanya ingin melindungi putranya. Itu saja.

====

@Pain_Killer@

Sehun tak tahu kenapa saat ia bertemu Jongin, pria itu mengenalinya. Jika menurut sepengetahuannya Jongin sudah menghapus ingatan tentangnya lalu kenapa Jongin begitu membencinya saat bertemu. Sehun sempat mengira-ngira kalau Jongin mungkin membencinya karena ayahnya menceritakan kepadanya kalau Oh Sehun adalah pria jahat. Namun saat itu, ketika Sehun memancing Jongin untuk mengingat masa lalu yang terjadi adalah pria itu langsung meninju rahang Sehun dan mengeluarkan kata-kata yang jelas membuat Sehun menyimpulkan bahwa Jongin tidak pernah menghapus ingatannya. Sehun frustasi semalaman karena ucapan kakaknya terngiang seperti lebah atau nyamuk apapun itu binatang kecil yang suka terbang dan mendengung.

“Terkadang seseorang harus mengelabuhi semua orang dengan cara menyembunyikan jati dirinya demi melindungi jiwanya yang rapuh..”

“Orang yang tidak tahu akan menganggap dia berubah, tapi orang-orang itu tidak tahu jika dia sedang melindungi dirinya sendiri..”

“Jiwa manusia itu rentan Sehun.. bahkan dirimu dan juga diriku, kita memiliki kerentanan masing-masing yang tak selalu diketahui banyak orang.”

“Hanya dirimu sendiri yang bisa memahami seperti apakah jiwamu..”

Sehun harus mengakui bahwa otaknya yang encer terkadang beku. Dia menyadari bahwa otak encer tak berguna disaat seperti ini. Sehun lalu berpikir, apakah dia tidak punya kepekaan terhadap sekitar? Bagaimana mungkin hal semacam apa yang dikatakan kakak lelakinya itu sama sekali tak terpikir oleh otaknya. Seperti dia stuck disana saat mendengar itu. Seperti dia takjub karena baru mengerti tentang dunia. Apakah IQ nya mulai turun?

Sehun menghembuskan helaan napas kesekian kalinya pagi ini. Saat ia mengecek ponselnya, benda pintar itu menunjukkan angka pukul tujuh pagi dan Sehun, untuk ukuran seseorang yang semalam mabuk dia insomnia. Sejak fajar belum terlihat dia sudah terjaga, memikirkan kembali setiap permasalahan yang terkadang tak Sehun pahami. Permasalahan itu dimulai darinya, ya ia mengakui itu. Kemudian hancurnya Kim Jongin, dan sekali lagi itu karenanya, Sehun juga menyadari itu. Masalah lain yang membuatnya bingung akan dirinya sendiri adalah bagaimana bisa Sehun merasa dia tidak pantas dimaafkan dan ingin terus dihajar oleh Jongin. Mungkin ini adalah alasan kenapa seorang Oh Sehun suka sekali membuat masalah dengan Kim Jongin karena pada akhirnya Jongin akan menghajarnya dan Sehun merasa ketagihan dengan pukulan Jongin. Dia terlalu merasa pantas menerima setiap tinju dari Jongin. Sejujurnya dia senang jika Jongin bersedia membunuhnya, karena Sehun ingin terbebas dari semua pikiran menyakitkannya.

Merusak seseorang membuatnya merasa lebih rusak dari orang yang dia rusak. Apalagi Sehun adalah seorang pria yang mudah putus asa dan sangat naif. Sifat naifnya itu kemudian membuatnya melukai dirinya sendiri. Alasan kenapa Sehun terpuruk sebulan setelah menghancurkan Kim Jongin tiga tahun lalu adalah karena Sehun pria naif semacam itu. Dia akan berpikiran pendek, melakukannya lalu menyesal. Mungkin dia sudah mulai bodoh. Tidak. Dia bodoh sejak mengikuti insting jahatnya tiga tahun lalu. Dia merusak kehidupan seseorang dan dia merasa seperti bosan hidup. Seperti halnya seseorang yang tanpa sengaja membunuh orang lain, maka yang dirasakan orang itu selanjutnya adalah merasa ingin mati. Dan itulah yang Sehun rasakan. Breaking someone just as killing someone.

<<< Part 5 Cut

Next Part Preview

“..MEMANG APA PEDULIMU!!!”

Chanyeol terkejut sekali lagi, teriakan Hyeri terlalu keras dan membuatnya mundur satu langkah seiring dengan tangannya yang melepas cengkeramannya. Hyeri kembali berbalik, kali ini Chanyeol membiarkannya. Baru beberapa langkah ia jatuh tersimpuh, detik berikutnya terdengar isakan yang semakin lama semakin keras. Untung saja ini sudah larut jadi tak ada siapapun ditaman itu.

“Nappeun nom.. Saekkiya.. F**k You Oppa… F**k You oppa!!”

Rentetetan kata umpatan ia teriakkan seiring dengan isakannya yang makin histeris. Makin pilu isakan itu terdengar semakin sakit ulu hati Chanyeol yang mendengarnya. Pertama kali baginya melihat gadis menangis separah itu. Perlahan ia berjalan mendekat dan berjongkok dihadapan gadis itu. Ia menangkupkan kedua tangannya pada wajah mungil yang penuh air mata itu, ibu jarinya ia gerakkan untuk menghapus airmata yang jatuh dari pelupuk mata Hyeri. Sedangkan isakan terus keluar dari bibir gadis itu.

“Jangan menangis..”

@Pain_Killer@

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s