[CHEN BIRTHDAY PROJECT] The Second Chance

myhome_25

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] The Second Chance by Nanoonakim

Character: Kim Jong Dae (EXO), Lee Ji Hyun (Ocs) | Genre: Romance, Fluff | Length: Oneshot | Point of view: Author | Rating: PG-17

[Notes] Inspired by BEAST-On Rainy Days dan EXO-My Answer

Summary: “Hujan datang bersama dengan semua kenangan yang pernah ada. Namun, saat hujan itu berhenti kau harus siap dengan segala kemungkinan.”

——›››——

08.00 KST.

Seoul diguyur hujan seharian. Namun tidak seperti biasanya, cuaca hari ini benar-benar hangat. Walaupun hujan tidak berhenti sedari tadi malam.

Jongdae membenamkan tubuhnya ke dalam selimut. Hari ini dia tidak ingin melakukan apapun kecuali merebahkan tubuhnya di kasur. Berdiam diri di kamar dan juga mendengarkan lagu-lagu yang sedang menggambarkan perasaannya.

Sesangi eoduwojigo

[Saat dunia menjadi gelap]
joyonghi biga naerimyeon

[Dan hujan turun dengan tenang]
Yeojeonhi geudaero

[Semuanya masih..]
oneuldo eogimeobsi nan

[Walaupun hari ini, tanpa ragu-ragu]
beoseonajil motane

[Aku tidak dapat keluar dari semua ini]
neoui saenggak aneseo

[Aku tidak dapat berhenti memikirkanmu]

Ije

[Sekarang..]
kkeuchiraneun geol aljiman

[Aku tahu bahwa ini adalah akhir]
miryeoniran geol aljiman

[Aku tahu bahwa ini semua hanya suatu kebodohan]

ije anil geol aljiman

[Sekarang aku tahu bahwa ini tidak benar]
geukkajit jajonsime neol japji motaetdeon naega

[Aku hanya kecewa pada diri ini yang]
jogeum aswiul ppuninikka

[Tidak bisa meraih mu karena harga diri itu]

Dia benar-benar menghayati bait tiap bait lirik lagu On Rainy Days yang dinyanyikan oleh BEAST— salah satu boygrup asal Korea.

Beep! Beep! Beep!

Tiba-tiba handphone Jongdae berbunyi tanda panggilan masuk.

“Nde. Nuguya?”

“Kau sudah tidak menyimpan nomorku?” tanya seseorang di seberang sana.

“Tidak. Aku masih menyimpannya. Dan namamu masih tertulis “Uri Jihyun”. Aku hanya meyakinkan kalau ini benar-benar kau.” Suara Jongdae semakin pelan.

Jihyun terdiam sejenak. Mungkin dia merasakan getir yang sama dengan Jongdae.

geukkajit jajonsime neol japji motaetdeon naega

[Aku hanya kecewa pada diri ini yang]
jogeum aswiul ppuninikka

[tidak bisa meraih mu karena harga diri itu]

Tiba-tiba bait dari lagu tadi mengalun di telinga Jongdae. Lagu yang membuat dirinya selalu mengingat perasaan itu. Lagu yang berhasil memberanikan dirinya untuk meminta Jihyun kembali padanya.

“Baiklah. Maaf kalau aku mengganggumu…” belum selesai Jihyun berbicara, Jongdae langsung memotongnya.

“Tidak. Kau tidak mengangguku saat ini. Aku sedang senggang.” Dia menggeser posisi tidurnya dengan meninggikan bantal.

“Emm….” Jihyun bergumam pelan. Gadis itu terengar ragu untuk mengungkapkan kalimatnya.

“Ada apa?” tanya Jongdae pelan.

“Em… Aku bingung. Harus memulainya darimana..” jawab Jihyun.

“Katakanlah. Aku akan mendengarkanmu.” Jongdae mengira-ngira apa yang akan dikatakan Jihyun. Namun beberapa saat kemudian, dia tersadar. Dia teringat dengan janji itu. Janji yang Jihyun katakan dan gadis itu akan menepatinya hari ini. Ya, hari Sabtu. Dua hari setelah Jongdae meminta Jihyun untuk menjadi kekasihnya lagi.

“Baiklah..” Jihyun mempersiapkan hal ini matang-matang sedari tadi malam. Tidak mungkin kalau dia tiba-tiba membatalkan semuanya.

“Emm.. Janji itu… ” ujar Jihyun kemudian.

“Itu.. Aku tidak memaksamu untuk menjawabnya. ”

“Tidak. Ini semua harus diselesaikan. Kita tidak bisa seperti ini terus.” Jihyun menahan emosinya. “Bisakah malam ini kau temui aku di Vionetta Cafe?”

“Baik. Aku akan datang.” Jongdae mematikan handphone dan melemparnya ke kasur. Namun, dia tetap diam. Tak berniat untuk beranjak dari tempat itu. Beberapa kali dia menghembuskan napas berat. Perasaannya benar-benar tidak karuan. Jihyun berhasil merobohkan pertahanan dirinya.

Dengan earphone yang masih melekat di telinganya, dia mencoba memejamkan mata untuk menenangkan diri. Dia ingin saat bangun nanti semuanya akan kembali seperti semula, atau setidaknya tidak harus seperti ini.

——››——›——

Gadis di depannya kini menghela napas panjang. Akhirnya tiba waktu gadis itu untuk bicara.

Jongdae bahkan tidak menatap mata Jihyun. Padahal sedari tadi dia sibuk menebak apa yang akan Jihyun katakan.

“Dari mana aku harus memulai?” gumam gadis itu, terdengar sedikit frustasi.

Jongdae terdiam. Ia tahu, dan sudah menyiapkan diri untuk segala kemungkinan.

Jihyun menarik napas sekali lagi sebelum berkata, “Mungkin kita…” dia menggantungkan kalimatnya. “Kita tidak bisa kembali seperti dulu…”

Rahang Jongdae mengeras. Sebisa mungkin dia menyembunyikan perubahan ekspresinya. Ia memang sudah siap mendengar hal terburuk, namun ternyata rasanya akan sesakit ini.

Kalimat singkat, jelas, dan cukup tajam untuk mengoyak hati Jongdae, mencabiknya menjadi serpihan-serpihan kecil.

“Maaf.. Aku tidak bermaksud..”

“Tidak apa-apa.” Jongdae mengalihkan pandangannya. Dia harap kata maaf itu bisa sedikit mengurangi rasa sakitnya. Namun pada kenyataannya kata maaf itu hanya menambah rasa sakit di hatinya.

Tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Samar-samar Jongdae melihat cahaya terang di hadapannya. Dia tersadar dan segera bangun. Dia menatap tubuhnya yang penuh dengan keringat dingin. Ternyata semua itu hanya mimpi.

Jongdae mengambil handphone di meja dekat kasur. Lima jam lagi sebelum waktu pertemuannya dengan Jihyun. Dia kembali merebahkan tubuhnya di kasur.

Lambat laun matanya mulai terpejam. Dia tidak tahu kenapa matanya tidak bisa berkompromi dengannya saat ini. Yang dia tahu hanya cahaya itu yang menuntunnya menuju kegelapan.

——››——›——

Jongdae terdiam kaku menunggu jawaban dari gadis di hadapannya. Dia tidak sabar dan ingin segera mendengarnya. Dia menatap lekat Jihyun sambil berharap.

Jihyun menarik napas sekali lagi sebelum berkata, “Mungkin kita…” dia menggantungkan kalimatnya. “Kita tidak bisa kembali seperti dulu… Maaf.”

Dejavu. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Samar-samar Jongdae melihat cahaya terang di hadapannya. Dia tersadar dan segera bangun lagi. Entah kenapa mimpi itu terus menghantuinya. Atau mimpi itu adalah pertanda untuknya? Berbagai pertanyaan berkelebat di pikiran lelaki itu. Apapun yang akan terjadi nanti, dia pasti akan menghadapinya.

Dengan langkah berat Jongdae beranjak dari kasur. Dia melirik jam abu-abu di dinding kamarnya. Masih ada waktu satu jam lagi sebelum pertemuan. Namun dia memiih untuk bersiap-siap terlebih dahulu.

——››——›——

Beberapa menit kemudian Jihyun sudah sampai di Vionetta Cafe. Jongdae yang lebih dulu datang, melambaikan tangannya pada Jihyun.

Jongdae memilih duduk di pojok dekat jendela. Tempat yang nyaman dari cafe ini.

Jihyun melambaikan tangannya kepada pelayan. “Aku pesan segelas cokelat hangat. Dan kau?”

“Aku nanti saja.” Jawab Jongdae. Dia tersenyum kecil.

“Baiklah. Itu saja. Kalau aku ingin memesan seuatu, aku akan memanggilmu lagi.” Ujar Jihyun pada pelayan itu.

Jongdae meghempaskan tubuhnya dengan ke sandaran kursi. Gadis di depannya kini menghela napas panjang. Akhirnya tiba waktu gadis itu untuk bicara.

Jongdae bahkan tidak menatap mata Jihyun. Padahal sedari tadi dia sibuk menebak apa yang akan Jihyun katakan.

“Dari mana aku harus memulai?” gumam gadis itu, terdengar sedikit frustasi.

Jongdae terkesima melihat adegan barusan. Ini sama persis seperti mimpinya tadi siang. Bahkan mimpi itu terjadi dua kali. Apakah mimpi itu benar-benar pertanda?

Dia menegakkan tubuhnya, ia tahu, dan sudah menyiapkan diri untuk segala kemungkinan.

Jihyun menarik napas sekali lagi sebelum berkata, “Mungkin kita…” dia menggantungkan kalimatnya. “Kita bisa kembali seperti dulu…”

Jongdae terkejut mendengar jawaban Jihyun. “Kau bisa mengulanginya?”

Jihyun tersenyum kecil. Tiba-tiba ia beranjak dari tempat duduknya. “Ini. Kau pahami sendiri. Arasseo? Aku menunggu di luar.”

Jongdae mengambil secarik kertas yang diberikan oleh Jihyun dan membacanya.

“Aku harap perasaan itu masih sama. Apakah yang aku katakan belum terlambat untuk kita memulainya dari awal lagi? ”

Kalimat singkat, jelas, dan cukup memberikan efek yang sangat besar bagi Jongdae. Dia tersenyum lebar dan bergegas mengikuti Jihyun keluar. Dia tidak mau berlama-lama disini, karena seseorang sedang menantinya di luar sana. Sepertinya, sesampainya di rumah nanti, dia harus mengganti lagu faforitnya. Mungkin lagu EXO-My Answer yang menggambarkan perasaannya saat ini.

The answer is you

My answer is you

nae modeungeol da boyeojwo bwasseo

You are my everything neomu hwaksinhaeseo

“Hujan datang bersama dengan semua kenangan yang pernah ada. Namun, saat hujan itu berhenti kau harus siap dengan segala kemungkinan.”
End.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s