[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Secret Love

myhome_20

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Secret Love – KimDo
Cast : Kim Jongdae (EXO), Jung Raein (OC)
Genre : romance
Rating : G

Halte sepi saat Jung Raein baru saja membelokkan langkahnya menuju halte tersebut. Cuaca malam ini sangat dingin, ditambah jalanan yang mulai sepi. Raein sendiri ragu akan mendapatkan bus setelah ini.

Di halte sana, hanya terdapat satu orang. Seorang pria, dengan tas besar yang bersandar di kaki kursi yang didudukinya. Pria itu memakai kemeja kotak-kotak biru hitam dengan lengan yang ditekuk, dan bawahan jeans biru tua. Sangat terlihat seperti anak kuliahan, sama seperti Raein. Bedanya, Raein tidak membawa tas sebesar itu.

Sejenak gadis itu merasa ragu untuk menunggu di halte tersebut. Daerah ini memang sering sepi, ditambah lagi ini sudah hampir larut malam dan Raein adalah seorang gadis. Bagaimana jika pria itu menyakitinya?

Tiba-tiba Raein merinding, memikirkannya saja sudah cukup membuat Raein bergidik.

Haruskah ia putar balik? Atau menunggu di halte tersebut?

Raein memutar otak. Langkahnya ia perlambat, dan menatap pria itu dengan ragu. Raein tidak dapat melihat wajahnya, karena penerangan jalan tidak mendukungnya untuk melihat wajah pria itu dengan jelas. Namun entah kenapa, Raein merasa pernah melihatnya.

Perlahan gadis itu mendekat. Yah, dirinya sudah memutuskan untuk menunggu di halte ini meskipun sedikit merasa ragu. Raein duduk disudut terjauh dari pria itu, mencoba bersikap tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan bahwa ia sedang takut saat ini.

Sejauh ini aman. Pria itu masih tetap pada posisinya dan sesekali menghela napas lelah. Sedangkan Raein sesekali melirik-lirik kearah pria itu, dan lagi-lagi dirinya merasa pernah bertemu dengannya.

Pria itu… postur tubuhnya… Raein masih ingat betul bagaimana bentuk tubuh pria itu. Dengan badannya yang tidak terlalu kekar, serta bagaimana caranya berpakaian, Raein hapal betul meskipun 5 tahun telah berlalu.

Pria itu menoleh. Padanya.

Sontak Raein memalingkan wajah dengan salah tingkah. Pipinya memanas dan ia yakin sudah memerah sekarang. Pria itu melihatnya? Jung Raein sedang memperhatikannya? Lalu apa yang akan dilakukannya?

Seketika Raein panik sendiri. Ia dengan pemikiran konyolnya.

Pria itu mengernyit, yah Raein mengira begitu karena ia tidak dapat wajahnya, lalu berdiri dan berjalan menghampiri tempat Raein duduk. Raein kembali panik. Dan akhirnya gadis itu memutuskan untuk berdiri dan kabur sebelum pria itu melakukan sesuatu padanya.

Namun sebelum ia kabur, suara pria itu berhasil menghentikannya. Bahkan suaranya terdengar sama, hanya saja sedikit serak dari yang terakhir didengarnya.

“Tunggu dulu.”

Raein berdiri mematung ditempatnya, tanpa membalikkan badan ataupun membalas ucapan pria itu. Jantungnya berdetak kencang, darahnya berdesir dan seketika ia pening. Pria itu memutar tubuh Raein, agar berhadapan langsung dengannya.

Wajahnya masih tak terlihat. Dia mungkin bisa melihat Raein, namun tidak dengan gadis itu. Raein mengernyit. “Siapa kau?”

Pria itu terkekeh. Oh bahkan suara kekehannya masih sama. “Jung Raein? Ini kau?”

“Kau mengenalku? Kau siapa?” tanya Raein sambil mengambil sedikit langkah kebelakang, membuat cengkraman halus pria itu dibahunya terlepas.

Pria itu tetap terkekeh yang terus membuat Jung Raein semakin mengerutkan dahinya. Sebenarnya siapa orang ini? Kenapa dia bisa mengenal Raein? Lagi-lagi Raein beragumentasi sendiri.

“Kau tidak mengingatku?” pria itu balas bertanya, yang dibalas gelengan kepala dari Raein. Wajahnya masih tidak terlihat, bagaimana bisa Raein mengenalinya?

Orang itu melangkah mendekat, membuat wajahnya yang sedari tadi tidak terlihat menjadi terkena pantulan cahaya lampu penerangan jalan yang remang-remang.

Raein tersentak. Gadis itu memundurkan langkahnya tidak percaya karena tebakannya benar.

Pria itu, yang berdiri beberapa langkah didepannya itu, yang tersenyum dibawah rembulan yang enggak untuk menunjukkan diri, adalah orang yang selama ini memenuhi pikirannya.

Kim Jongdae.

Seniornya saat SMA dulu. Seseorang yang pernah mengisi masa indah SMA-nya. Seseorang yang disukainya.

“Hai Jung Raein,” sapa Jongdae riang. Ia tersenyum hingga memperlihatkan eyesmile miliknya. “Lama tak berjumpa.”

Sedangkan Raein masih sibuk mengatur detak jantungnya yang semakin memburu. Mengabaikan sapaan Jongdae, Raein bertanya dengan suara bergetar. “Apa yang kau lakukan disini?

“Apa kabar?”

“Apa yang kau lakukan disini, Kim Jongdae?!”

Jongdae kembali tersenyum, lalu menatap Raein lama. “Yak, kenapa kau pergi tanpa mengatakan apapun, eoh? Kau tahu aku mencarimu kemana-mana!”

“Apa maksudmu?”

“Kau tiba-tiba menghilang hari itu, Jung Raein,” suara Jongdae melemah. Jika sebelumnya ia nyaris berteriak, kali ini suaranya bahkan tidak dapat didengar dengan baik oleh Raein. “Tiba-tiba aku tidak bisa melihatmu dimana-mana. Aku juga tidak tahu bagaimana harus menghubungimu ataupun mencarimu. Hariku sepi, lokerku kosong, dan tidak ada yang mengintipku dari balik pohon itu lagi.”

Jongdae menunduk, menyembunyikan raut wajah sedihnya yang begitu kentara. “Setelah lulus, aku mencarimu kemana-mana,” tak lama ia mendongak, menatap kembali Raein yang bingung, kemudian tersenyum. “Syukurlah aku bisa menemukanmu disini. Padahal rencananya, aku akan melupakanmu jika tidak bisa menemukan dirimu hari ini.”

Raein masih bungkam. Ia balik menatap Jongdae dengan perasaan campur aduk. Kapan terakhir kali dirinya melihat Kim Jongdae? Itu pasti sudah lama sekali. Hingga tanpa sadar, Jung Raein begitu merindukan sosok dihadapannya ini.

Perlahan Jongdae bergerak maju, mengikis jarak diantara mereka dan menarik bahu Raein mendekat. Dipeluknya gadis itu dengan segala rasa yang ia miliki. Begitu pula dengan Raein yang mencoba untuk tidak memberontak. Ia memejamkan matanya dan berusaha meresapi kata demi kata yang meluncur dari bibir pria itu.

“Jung Raein, dengarkan aku,” bisik Jongdae sambil mengelus lembut rambut Raein yang membuat gadis itu bergetar. “Aku tahu selama ini kau yang selalu memperhatikanku. Aku juga tahu selama ini dirimulah yang menaruh surat-surat manis itu kedalam lokermu. Kau juga sering, mengintipku dari balik pohon besar didekat halaman belakang sekolah. Jujur, aku menghargai usahamu. Namun sepertinya kau harus lebih banyak belajar untuk menjadi seorang secret admirer yang baik.” nada bicara Jongdae otomatis berubah. Ia terkekeh yang dibalas dengusan pelan dari Raein.

“Tidak tidak, aku bercanda,” katanya terkekeh. Jongdae mengeratkan pelukannya dan tersenyum senang. “Senang rasanya bisa memelukmu seperti ini, kuharap suatu saat nanti aku dapat memelukmu sesuka hatiku.”

Perkataan Jongdae barusan sukses membuat pipi Raein memanas. Sebagai bentuk salah tingkah, Raein semakin menenggelamkan wajahnya didada Jongdae. “Lalu?”

“Lalu apa?”

“Jawabanmu.”

“Jawaban apa?”

Jongdae melonggarkan pelukannya, memberi jarak bagi dirinya untuk menatap Raein. Ia mencubit gemas pipi Raein yang membuat Raein mengaduh. “Kau masih saja polos,” kekehnya. “Jangan bilang kau tidak peka dengan semua perkataanku?”

“Apa?”

Jongdae mendengus, namun buru-buru merubah ekspresi wajahnya. “Aku menyukaimu, bodoh!”

Raein tertegun. Ia menatap mata Jongdae yang sangat menyiratkan sebuah ketulusan. Matanya berkedip-kedip tak percaya.

Lagi-lagi Jongdae mendengus. “Kau tidak percaya?”

“Lagipula untuk apa aku bersusah payah mencarimu ketika kau menghilang jika aku tidak memiliki rasa apapun padamu? Aku menyukaimu, mencintaimu.” putus Jongdae dengan mantap. Lalu, ia kembali mendekap Raein. “So, be mine?”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s